Sleep with the Devil

-TaeKook-

.

.

BoysLove inside | M-Preg

Disc: I'm not the Owner of this story.

Author just ReMake it by wearing TaeKook as cast.

So, if you want to Read the original Story, you can visit SanthyAgatha's blog on link below

www. anakcantikspot. blogspot. co. id (Delete Space)

Note: hasil Cerita ini diRemake oleh Dua Author. Dan kami sudah meminta izin kepada pemilik cerita ini (Santhy Agatha) untuk menghindari terjadinya pelanggaran Hak Cipta.

And, if you are still under age or Dislikes BL, pelase just left this page.


.

.

.

Perjalanan itu terasa menyiksa dan panjang. Tubuh Jungkook dilempar begitu saja dengan kasar oleh bodyguard Taehyung ke bagasi dan dikunci dari luar. Jungkook berusaha menendang, berteriak, meronta, tetapi pada akhirnya dia kelelahan dan kehabisan oksigen.

Menyadari bahwa ruang bagasi ini begitu sempit dan pengap dengan asupan oksigen yang makin menipis, Jungkook terdiam. Ia berusaha menenangkan jantungnya yang berdebar keras, campur aduk antara rasa takut dan ingin tahu, akan dibawa kemanakah dirinya?

Cukup lama sekali menunggu, sampai akhirnya mobil itu melambat. Terdengar suara pintu gerbang yang berat dibuka, lalu mobil itu melaju lagi, melambat, dan kemudian berhenti. Suara pintu mobil dibanting. Dan syukurlah, ada gerakan membuka bagasi. Jungkook bersiap melompat dan menyerang siapa saja yang membuka pintu bagasi itu, lalu kabur.

Ah ya Tuhan, semoga semudah itu.

Pintu bagasi terbuka sedikit dan secercah cahaya masuk melalui celah yang hanya dibuka sempit.

"Jungkook .."

itu suara Taehyung dan lelaki itu memanggil namanya. Wajah Jungkook langsung pucat pasi. Lelaki itu sejak awal sudah mengetahui penyamarannya!

"Aku akan membuka pintu bagasi ini .. tapi kau harus berjanji untuk bersikap tenang dan tidak memberontak"

Ada seberkas senyum di suara Taehyung. Kurang ajar. Lelaki itu pasti dari tadi sudah menertawakan kebodohannya!

"Kau ada di rumahku, dan perlu kau tahu, para pengawalku sangat tidak ramah. Kusarankan kau turun dengan sikap penurut dan tenang, demi dirimu sendiri .. karena para pengawalku mungkin akan melukaimu kalau kau bertindak bodoh"

Rumah Taehyung. Jungkook memejamkan matanya frustrasi. Dari informasi yang dia dapatkan, rumah Taehyung yang terletak di atas tanah begitu luas di kawasan elite pinggiran kota.

Rumah itu dipagari dengan pagar tinggi di sekelilingnya dan setiap akses masuk dijaga oleh pengawal-pengawal Taehyung.

Tidak ada seorangpun yang bisa masuk ke area rumah ini tanpa sepengetahuan Taehyung. Begitupun sebaliknya, tidak akan ada orang yang bisa keluar dari rumah ini tanpa seizin Taehyung.

"Bagaimana Jungkook? Apakah kau berjanji untuk bersikap baik, dan aku akan mengeluarkanmu secara manusiawi .. Atau kau memilih bertindak bodoh lalu mungkin aku akan mengikatmu dalam karung dan kusekap di gudang"

suara Taehyung dari luar menyadarkan Jungkook dari lamunannya.

"Kenapa kau membawaku kemari?"

gumam Jungkook penuh keberanian.

Terdengar suara Taehyung terkekeh di luar sana

"Menurutmu kenapa Jungkook? Apa kau pikir aku semudah itu diracuni di tempat umum? Apa kau pikir aku tidak tahu kalau kau selama ini mengendus-endus mencari kesempatan untuk membalaskan dendammu?"

Suara Taehyung terdengar dekat,

"Kau sudah bermain api .. " bisiknya, "Sekarang saatnya kau untuk terbakar."

Pintu bagasi itu terbuka tiba-tiba dan Jungkook belum siap meronta. Lagipula, percuma meronta. Di belakang Taehyung yang berdiri dengan pongahnya, ada beberapa bodyguard dengan tubuh kekar bertampang seperti batu. Dari melihat tampang dan penampilan mereka saja, Jungkook tahu, mereka tidak akan segan-segan melukainya kalau Jungkook berbuat sesuatu yang sekiranya akan mencelakakan majikan mereka.

Taehyung mundur selangkah, lalu mengulurkan tangannya setengah membungkuk

"Silahkan tuan puteri, biarkan aku membantumu keluar"

Gumamnya mengejek.

Jungkook menatap tangan itu lalu menggeram marah. Kurang ajar sekali iblis yang satu ini! Pikirnya

Dengan marah, Jungkook menepiskan tangan Taehyung dan dia berusaha keluar sendiri dari bagasi sempit itu, meskipun sedikit kesulitan karena kaki dan tangannya kaku dilipat diruangan sempit dan menempuh perjalanan entah berapa puluh kilo.

Akhirnya Jungkook berhasil berdiri keluar dari bagasi, dengan sepenuh harga dirinya.

Taehyung mengamati Jungkook dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan melecehkan. lalu senyum muncul lagi di sudut bibirnya

"Mari, silahkan masuk. Selamat datang di rumahku"

setengah memaksa lelaki itu mencengkram lengan Jungkook yang kaku, lalu membawanya masuk ke dalam rumahnya.

Bagian depan ruang tamu Taehyung sangat megah, dengan arsitektur gaya lama yang entah kenapa bisa tampak

modern. Lantai marmernya berkilauan dengan warna gading, dan pilar-pilar besar di ruang tamu dengan warna serupa begitu menjulang tinggi, dipadukan dengan nuansa warna merah dan emas.

Taehyung membawa Jungkook menuju ke sebuah tangga besar melingkar berwarna putih dan sekali lagi setengah menyeretnya menaiki tangga.

Mereka berdua berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna putih

"Kau akan tinggal di kamar ini mulai sekarang"

Gumam Taehyung datar.

Jungkook membelalakkan matanya marah pada Taehyung.

"Atas dasar apa kau memutuskan aku harus tinggal di mana?! Aku mau pulang"

Bibir Taehyung masih menyiratkan senyum, tapi matanya tidak. Mata itu bersinar dengan tatapan tajam dan dingin

"Kau tidak bisa pulang. Sekarang, ini adalah rumahmu ..

Bersamaku"

Dengan cepat lelaki itu merengkuh pundak Jungkook, dan detik itu Jungkook menyadari bahwa lelaki itu akan menciumnya. Secepat mungkin dia memalingkan wajah, mencoba memberontak, hingga bibir Taehyung hanya mendarat di pelipisnya.

Cengkeraman Taehyung di pundaknya makin kuat sehingga terasa menyakitkan

"Aku sudah memutuskan untuk memilikimu. Dan satu-satunya cara agar kau lepas dariku adalah ketika aku memutuskan untuk melepaskanmu, atau ketika kau… Mati"

dengan kalimat penutupnya yang begitu kejam, Taehyung membuka pintu putih itu, dan mendorong Jungkook masuk. Lalu menguncinya dari luar, meninggalkan Jungkook yang menggedor gedor dan menendang-nendang pintu itu dari dalam dengan histeris.

.

.

.

"Menurutmu apakah dia sudah siap untukku?"

Taehyung mengenakan jubah tidurnya, sutera hitam, dan duduk diatas sofa didalam kamarnya. Hidangan lengkap tersedia untuknya di meja. Dengan tenang, lelaki itu menyesap anggurnya, lalu menatap Yoongi, pengawal pribadinya sekaligus orang kepercayaannya yang berdiri di depannya dengan wajah khasnya yang tanpa ekspresi.

"Saya pikir dia sudah siap, bukan untuk menyerah kepada Anda, tetapi siap membunuh anda. Tatapan matanya adalah tatapan pembunuh yang penuh kebencian"

Taehyung tersenyum tipis mendengar jawaban Yoongi itu.

"Ya, tatapan matanya membakar, penuh kebencian."

Taehyung menyesap anggurnya lagi, memejamkan matanya,

"Tapi kau tahu bagaimana aku sangat ingin memilikinya malam ini"

"Ya saya tahu" jawab Yoongi tenang,

"Apakah Anda akan .. Memaksanya?"

"Aku tidak suka memaksanya, kau tentu tahu"

Taehyung terbiasa dikelilingi perempuan maupun pria yang menyerahkan diri padanya. Tidak ada seorangpun yang mampu menolak pesona seorang Kim Taehyung. Dengan rambut hitam legam, yang sedikit menutup kelopak matanya, mata cokelat pucat dan wajah aristrokatnya hampir bisa dikatakan sempurna seperti malaikat .. Kalau saja matanya tidak begitu dingin, tanpa perasaan dan menyimpan kebencian mendalam menakutkan. Taehyung bagaikan iblis yang terperangkap dalam raga malaikat.

"Aku ingin dia menyerahkan dirinya padaku dengan sukarela"

Tentu saja. Gumam Yoongi dalam hati. Kata-kata Taehyung bagaikan perintah baginya.

Obat ini sangat keras, dan tidak bisa digunakan untuk main-main. Yoongi mengamati bubuk putih dalam wadah kecil di depannya. Sangat keras, sekaligus sangat efektif.

Dan kalau pria itu meminumnya, maka pria itu akan menyerah pada Taehyung, dan menyenangkan tuannya.

Dengan gerakan pelan penuh perhitungan, Yoongi mencampurkan bubuk putih tanpa rasa itu ke dalam minuman Jungkook. Obat ini akan membuat siapapun tersiksa, meminta dipuaskan. Kalau tidak ada yang memuaskannya, maka seseorang itu akan merasa seluruh tubuhnya terbakar, kesakitan. Dan Yoongi yakin, Jungkook akan meminta, bahkan memohon-mohon pada tuannya malam ini.

Malam ini pria itu akan menyerah dalam tanganmu, Tuanku.

Yoongi tersenyum dalam hati, menanti apa yang akan terjadi.

.

.

.

Sudah hampir satu jam Jungkook dikurung di dalam kamar ini, kamar mewah bernuansa putih, di karpet, di ranjang, di semua furniture-nya. Kamar ini dibuat khusus, dan Jungkook merasa jijik membayangkan bahwa mungkin kekasih-kekasih Taehyung yang sebelumnya juga ditempatkan di ruangan ini.

Salah seorang pengawal Taehyung yang bertampang paling dingin, setengah jam yang lalu masuk, membawa nampan makanan, kemudian meletakkannya di meja. Lalu tanpa berkata apa-apa pergi dan mengunci kembali pintu itu dari luar.

Dan selama setengah jam yang panjang itu pula, Jungkook mencoba setengah mati untuk tidak melirik pada nampan yang sangat menggoda itu. Perutnya keroncongan, dan dia merasa haus. Dia belum makan dari siang karena terlalu gugup merencanakan pembalasan dendamnya pada Taehyung, dan sekarang dia kena batunya.

Aroma makanan itu terasa begitu menggoda, aroma manis dan gurih masakan yang masih panas.

Mungkin jika aku mengintip makanannya sedikit, apa .. tidak!

Jungkook menghardik dirinya sendiri dalam hati. Dia tidak akan makan, lebih baik dia mati kelaparan daripada harus menyerah pada kekuasaan Taehyung.

Tapi jika hanya minum mungkin tidak apa-apa.

Jungkook melirik haus pada minuman di nampan itu. Sari jeruk segar yang tampak begitu menggoda. Akhirnya Jungkook menyerah. Dia haus sampai terasa mau pingsan, dan dia harus minum, kalau tidak dia mungkin akan benar-benar pingsan. Jungkook tidak boleh pingsan, dia harus mencari cara untuk melarikan diri dari kamar ini, dari rumah ini.

Dengan cepat disambarnya gelas itu, diminumnya langsung berteguk-teguk karena begitu hausnya. Aliran dingin air itu terasa begitu segar ketika membasahi kerongkongannya. Tanpa sadar segelas minuman itu tandas sudah, Jungkook meletakkan gelas itu dengan pelan, sedikit merasa bersalah. Tapi bagaimanapun juga dia tidak menyesal. Dia merasa lebih baik. Sekarang dia bisa memikirkan cara untuk kabur dari rumah ini.

Mata Jungkook berputar ke sekeliling ruangan, mencari cara untuk melarikan diri. Ada jendela besar di ujung sana yang dilapisi gorden berwarna putih, mungkin Jungkook bisa mencari cara keluar dari sini.

Dengan hati-hati Jungkook melangkah ke arah jendela itu untuk memeriksanya, tetapi seketika itu juga hatinya kecewa. Jendela itu sudah dilapisi kaca tebal, dan penuh dengan teralis besi yang sangat kuat. Lagipula Jungkook baru menyadari bahwa dia ada di lantai dua, kalaupun dia bisa membuka jendela itu, dia harus mencari cara agar bisa turun dari lantai dua dengan selamat.

Jungkook mencoba berpikir, dia belum memeriksa kamar mandi yang ada di ujung kamar, mungkin ada jalan keluar dari sana yang lolos dari pengawasan. Dengan cepat dia melangkah ke kamar mandi, tetapi langkahnya terhuyung. Entah kenapa kepalanya terasa pening, dan seluruh tubuhnya menggelenyar ... Kepanasan …

Ada apa ini? Jungkook meraba dahinya sendiri, terasa panas .. Apakah dia demam? Napas Jungkook terengah, semuanya terasa panas .. terasa panas … Jungkook sangat butuh ..

Taehyung membuka pintu kamar tempat Jungkook dikurung dengan pelan. Sudah larut malam, dan Taehyung tidak mengharapkan Jungkook masih bangun.

Kamar itu gelap dan remang-remang, tapi mata Taehyung menangkap nampan makanan yang masih utuh, hanya minumannya yang habis.

Lelaki yang keras kepala.

Geram Taehyung dalam hati, dia pikir dia bisa mengancam Taehyung dengan membiarkan dirinya sendiri kelaparan. Dia tidak tahu bahwa Taehyung akan menggunakan segala cara untuk membuat Jungkokk menyerah padanya.

Gerakan gemerisik di ranjang membuat Taehyung menoleh waspada. Dalam keremangan kamar itu, Taehyung melihat Jungkook terbaring di sana, gelisah. Pria itu belum tidur rupanya, Dan dia tampak … tidak tenang.

Ingin tahu, Taehyung mendekat, dan menemukan Jungkook berbaring disana, dengan tatapan mata tersiksa. Tubuhnya menggeliat di atas ranjang berseprei satin putih itu seperti kepanasan.

"Tolong .. ini panas .."

suara Jungkook mendesah, serak seperti kesakitan. Mengernyitkan keningnya, Taehyung duduk di tepi ranjang, dan menyentuhkan jemarinya ke dahi Jungkook. suhunya normal, dia tidak demam. Kerutan di kening Taehyung makin dalam, lalu kenapa pria ini bilang kalau dia kepanasan?

"Kau mau minum?"

dengan cekatan Taehyung mengambil gelas air dinakas pinggir ranjang

"Sini, aku bantu kau minum."

Taehyung bangkit dan mengangkat tubuh Jungkook, lalu mencoba membuatnya berdiri. Tubuh Jungkook menggayut lemah di lengannya, dan napas pria itu terengah.

"Panas .. Tolong aku .. panas sekali .."

Sekali lagi Jungkook mendesahkan suara itu, suara kepanasan, seperti tersiksa. Taehyung meminumkan air itu kepada Jungkook, dan dengan rakus Jungkook menyerput air itu. Tetapi napasnya tetap terengah, dan dia masih tampak tersiksa oleh rasa panas yang mendera tubuhnya.

Pasti ada sesuatu .. Jangan-jangan ..

Taehyung memundurkan tubuh Jungkook yang bersandar padanya, supaya dia bisa mengamati Jungkook dengan jelas. Wajah Jungkook merona kemerahan, napasnya terengah, dan matanya sedikit tidak fokus, dia selalu mengeluh kepanasan. Jangan-jangan …

Dengan cepat Taehyung membaringkan Jungkook di ranjang, dan melangkah keluar dari kamar bernuansa putih itu, membanting pintunya, dan berteriak,

"Min Yoongi!"

Sekejap, tanpa suara seolah menggunakan sihir, Yoongi muncul di depan Taehyung.

"Ya Tuan"

"Kau campurkan apa di minuman Jungkook?"

Yoongi sedikit membungkukkan tubuhnya, wajahnya tanpa ekspresi

"Saya mencampurkan obat milik saya, Tuan tahu itu obat apa"

Wajah Taehyung mengeras

"Ya. Aku tahu itu obat apa. Dan aku menolak memperalatnya dalam pengaruh obat. Kau melakukan sendiri tanpa meminta izinku, kau tahu kalau aku marah aku bisa menghukummu"

Yoongi tampak tidak terpengaruh dengan kata-kata Taehyung

"Anda memerintahkan saya untuk membuat Jungkook itu menyerah. Dia sangat membenci anda, dan pasti akan berontak mati-matian. Obat itulah satu-satunya cara membuat dia menyerah"

Yoongi menatap mata Taehyung.

"Anda bisa meninggalkan kamar ini kalau anda tidak ingin memanfaatkannya"

"Dia kesakitan, kau tahu itu"

geram Taehyung marah. Yoongi mengangkat bahunya.

"Anda bisa meredakan sakitnya. Dan besok, setelah Anda memilikinya, mungkin dia akan menjadi lebih penurut"

"Berapa banyak obat yang kau berikan padanya?"

"Dosis biasa tuan, tetapi efeknya berbeda-beda tergantung orangnya"

"Jadi ini bisa berlangsung selama berjam-jam atau bisa juga sepanjang malam?"

"Ini bisa berlangsung selama Anda ingin bersenang-senang, Tuan"

Taehyung terdiam. Kata-kata Yoongi terasa begitu menggoda.

Taehyung kembali masuk ke dalam kamar, didorong perasaan yang kuat untuk melihat Jungkook kembali. Jungkook masih menggeliat dan mengerang-erang di atas ranjang. ketika Taehyung duduk di ranjang. Jungkook menatap Taehyung dengan mata berkabut, seolah tidak mengenalinya.

"Aku sakit .. tubuhku .. panas …"

Taehyung tersenyum dengan kelembutan yang aneh. Jungkook benar-benar tidak tahu apa yang terjadi kepada dirinya, bahwa hanya ada satu cara untuk menyembuhkan Jungkook dari kesakitannya. Dan Jungkook membutuhkan Taehyung untuk itu.

Taehyung mencondongkan tubuhnya dan menyapu lembut bibir Jungkook, mendapati mata Jungkook membelalak kaget. Taehyung tidak bisa menahan dirinya untuk tersenyum. Sungguh luar biasa, perpaduan antara kepolosan dan gairah yang kuat, sungguh-sungguh menggodanya.

"Kau tidak menyukainya?"

bisik Taehyung lembut.

Jungkook menatap Taehyung, atau setidaknya mencoba menatap dengan matanya yang sulit fokus

"Aku … apa yang terjadi pada diriku?"

Taehyung mengulurkan jemarinya, dan membelasi pipi Jungkook, membuat tubuh Jungkook bergetar.

"Anak buahku mengambil keputusan sendiri dan mencampurkan obat di minumanmu .."

"Obat? .. Apakah aku diracuni?"

"Itu bukan racun Jungkook, obat itu akan merangsangmu sampai hasratmu tak terkendali. dan kau akan kesakitan jika dirimu tidak dipuaskan"

Jungkook butuh waktu sesaat untuk mencerna, sampai kemudian menyadari arti kata-kata Taehyung. sedikit kesadarannya meneriakkan peringatan akan bahaya. Dan tubuhnya langsung beringsut, susah payah mencoba menjauhi Taehyung.

Tetapi Taehyung merengkuh Jungkook lagi dan berbisik lembut di telinga Jungkook

"Aku bisa membantumu menyembuhkan rasa sakitmu"

sambil berbicara, tangannya yang bebas turun ke dada Jungkook. Jungkook mengerang ketika merasakan jemari Taehyung menyentuhnya, terdengar begitu menderita

"Terlalu sensitif, sayang? Kau membutuhkan pelampiasan dengan segera bukan?"

Tangan Taehyung bergerak ke pusat gairah Jungkook.

"Tidak!"

Jungkook mencoba berteriak dan mencengkeram lengan Taehyung.

"Jangan! Kau tidak boleh melakukannya!"

"Ini satu-satunya cara agar kau tidak kesakitan lagi, Sayang,"

suara Taehyung terdengar sedikit parau

"Biarkan aku membantumu"

Jungkook mengerang ketika denyutan itu meningkat seiring dengan sentuhan Taehyung. Otaknya memberontak atas apa yang dilakukan pria itu dengan jari-jarinya, tapi tubuhnya tak kuasa menolaknya. Jungkook membutuhkan jemari Taehyung itu ...

Ia membutuhkan ..

"Aku akan menolongmu Jungkook. tapi kau juga harus menolongku. Aku juga butuh pelepasan sendiri. Lihat aku Jungkook, lihatlah tubuhku"

Taehyung membuka jubah sutra hitamnya, dan mengekspos tubuh telanjangnya di balik jubah itu. napas Jungkook tercekat ketika melihat bukti gairah Taehyung begitu keras.

"Gunakan diriku Jungkook, biarkan aku merasakan tubuhku ada di dalam dirimu .. dan menyembuhkanmu,"

Kata-kata itu adalah satu-satunya kata yang tidak mirip dengan permintaan yang pernah Taehyung gunakan pada orang-orang dan hanya dia lakukan kepada Jungkook. Taehyung melakukannya karena dia sangat bergairah kepada Jungkook. dia amat sangat bergairah, dan Jungkook tidak dalam kondisi untuk menolak gairahnya.

Tubuh Taehyung sudah menindih Jungkook, dan pria itu menggodanya dengan pinggulnya yang menggeliat dan mengundang. Taehyung menyangga tubuhnya dengan siku, menjaga agar dadanya yang keras tidak menindih tubuh Jungkook. Taehyung menunduk dan mencicipi bibir Jungkook yang begitu menggoda dan menggairahkan. bibir itu begitu manis dan menggoda.

"Tenang sayang, aku mungkin akan sedikit menyakitimu"

Taehyung menahan pinggul Jungkook dengan tangannya, karena pinggul itu bergerak-gerak mendesaknya dengan mengundang. Jungkook sudah sepenuhnya ada di bawah pengaruh obat itu.

"Tapi aku berjanji, setelah rasa sakit itu, kau akan merasakan kenikmatan"

Detik itu juga Taehyung mendesakkan dirinya ke dalam tubuh Jungkook hati-hati. Taehyung menggertakkan giginya, mencoba menahan gairahnya yang begitu kuat, mencoba meredakan dorongan untuk menerjang dan menenggelamkan tubuhnya dalam-dalam ke dasar balutan sutera panas milik Jungkook.

Hati-hati, pria ini masih perjaka.

Taehyung mencoba mengingatkan dirinya lagi. Taehyung mendesak maju, mengklaim apa yang sudah menjadi miliknya.

Jeon Jungkook adalah miliknya!

.

.

.

To be Continued

Aluww~

This is Author Kuk ('ω・') Today is my Birthday, so i fast update *yeay

Untuk chapter sebelumnya adalah jatahnya author Mphi untuk meremake, tp malah ketiduran padahal Deadline dh mesti post hari itu juga :3

Dan untuk chapter ini adalah jatahnya Kukiss (lagi) (´∀) just little note, karena dua author, sehingga mungkin ada beberapa cara penulisan yang berbeda ^^

So, See you again GAY's!❤

Wattpad: mikayuu1288 & littlevkook

p.s: Fighting buat EXAMnya Mphiii, kukii laff yuuu❤❤