Sleep with the Devil

-TaeKook-

.

.

BoysLove inside | M-Preg

Disc: I'm not the Owner of this story.

Author just ReMake it by wearing TaeKook as cast.

So, if you want to Read the original Story, you can visit SanthyAgatha's blog on link below

www. anakcantikspot. blogspot. co. id (Delete Space)

Note: hasil Cerita ini diRemake oleh Dua Author. Dan kami sudah meminta izin kepada pemilik cerita ini (Santhy Agatha) untuk menghindari terjadinya pelanggaran Hak Cipta.

And, if you are still under age or Dislikes BL, pelase just left this page.


.

.

.

"S-sakit .. !"

Jungkook menjerit, berusaha mendorong tubuh Taehyung. Tubuhnya berteriak antara kesakitan dan keinginan untuk dipenuhi gairahnya. Sebutir air mata menetes dari sudut matanya, sisa-sisa dari kesadarannya yang tertinggal.

Taehyung mendesakkan dirinya sedalam mungkin, mengabaikan jeritan kesakitan Jungkook. Ketika akhirnya jeritan Jungkook mereda. Taehyung mengangkat kepalanya, dan mengecup lembut bibir Jungkook yang terbuka dan terengah-engah.

"Setelah ini .. Aku akan mengajarkanmu bagaimana memuaskanku"

ucapan itu menggema di dalam ruangan, bagaikan janji dari sang kegelapan.

Dan Jungkook, sudah benar-benar kehilangan kesadarannya, tubuhnya menggeliat merasakan kenikmatan yang menggelenyar ketika rasa sakit itu akhirnya menghilang. Berganti dengan kenikmatan panas yang membagikan gelenyar menyiksa ke seluruh tubuhnya.

Taehyung merasakan gerakan pinggul Jungkook, merasakan denyutannya yang menggenggam panas tubuhnya, yang tertanam jauh di dalam tubuh Jungkook.

Mendesak dengan berani, menarik Taehyung lebih dan lebih dekat lagi. Taehyung menggertakkan gigi, menahan diri, membiarkan Jungkook menggerakkan pinggulnya, mencari kenikmatannya sendiri dengan sesuka hati.

Dan tidak butuh waktu lama ketika akhirnya pria itu mencapai pemenuhan kepuasannya,

"Oh … Astaga .."

Jungkook memejamkan mata ketika kenikmatan itu meledak dan membanjiri tubuhnya dengan rasa panas yang tak tertahankan.

Dan walaupun Taehyung bisa memperpanjang kenikmatannya sendiri, pemandangan akan orgasme Jungkook dan denyutan Jungkook yang meremas dirinya, jauh di dalam sana, membuatnya tidak bisa menahan diri lagi.

Detik itu pula, Taehyung meledakkan gairahnya bergabung dengan Jungkook dalam gairah yang melemahkan.

Entah apa yang membuat Jungkook terbangun dari tidurnya yang lelap. rasa sakit yang aneh di badannya, ataukah cahaya terang yang mendadak muncul entah dari mana. Jungkook membuka matanya. Sekilas pandangannya terasa kabur, dan dia mencoba untuk memfokuskan dirinya.

Kamar itu, dengan nuansa putih. Kilasan-kilasan ingatan berkelebat di benaknya, dia masih di sekap di sini, di dalam kamar di rumah Taehyung yang jahat.

Dengan panik Jungkook terduduk dari ranjangnya, dan selimutnya melorot hampir jatuh menutupi dadanya. melorot?

Jungkook menundukkan kepalanya, dan menyadari kalau dia telanjang bulat di balik selimutnya. apa yang ..

"Selamat Pagi"

Suara maskulin itu terdengar dekat sekali dan Jungkook menolehkan kepalanya kaget, Pemandangan di hadapannya membuat jantungnya bergejolak. Taehyung ada di sana, di ranjangnya, mereka ada didalam selimut yang sama. Ia melirik kepada selimut Taehyung yang sama saja melorot di pinggulnya, mereka sama-sama telanjang!

Jungkook masih terperangah menatap pemandangan di depannya. Taehyung berbaring dengan angkuhnya, jelas-jelas telanjang bulat di balik selimutnya, dan menatapnya dengan tatapan berhasrat yang memiliki.

Dengan panik Jungkook menarik selimutnya hampir untuk menutupi seluruh dadanya, tetapi gerakannya itu malahan membuat selimut Taehyung melorot dan hampir memperlihatkan kejantanannya.

Dengan malu Jungkook memalingkan kepalanya dan disambut dengan senyuman jahat milik Taehyung.

Keberanian dan kemarahan Jungkook langsung muncul ketika menyadari rasa pedih di antara ke dua pahanya. Lelaki ini memperkosanya! Entah apa yang terjadi semalam, Jungkook tidak ingat sama sekali. Tapi yang pasti, dia sudah dinodai oleh iblis berhati kejam ini.

"Kau sungguh iblis yang tidak bermoral. mengambil keuntungan dari pria yang sangat membencimu!"

desis Jungkook menahan marah, masih tidak mau menatap Taehyung. Taehyung terkekeh mendengar suara geram Jungkook.

"Membenciku?" dengan santai lelaki itu berdiri, tak malu dengan tubuh telanjangnya yang berotot.

"Lihat aku Jungkook, kau meninggalkan tanda-tanda di tubuhku, kau sangat bergairah semalam, seperti Kucing betina yang mencakar di sana sini untuk dipuaskan .. Dan atas gairahmu semalam, aku tidak yakin kalau kau membenciku"

Jungkook melirik sekilas ke tubuh telanjang Taehyung yang berdiri di samping ranjang, wajahnya merah padam karena malu.

Bekas-bekas itu ada, tanda-tanda merah di dada, di pinggul Taehyung, di dekat kejantanannya .. Apakah dia yang melakukannya?

"Ya. Kau yang melakukannya."

Ada senyum di suara Taehyung,

"Dengan sangat bergairah dan lapar. Aku cuma berbaring di sana dan kau menyantapku bulat-bulat, sepanjang malam"

Kelebatan ingatan akan percintaan yang panas muncul di ingatan Jungkook. samar-samar dan tidak jelas. Tapi dia tidak mampu mengingat semuanya. kenapa dia tidak mampu mengingat semuanya?

Jungkook teringat minuman yang di berikan Yoongi semalam, dan rasa muaknya memuncak ketika menyadari ada sesuatu yang dicampurkan di situ. dengan mata menyala-nyala, dikuasai oleh kemarahan yang campur aduk menjadi satu, Jungkook menantang tatapan Taehyung, mencoba tidak mempedulikan ketelanjangan Taehyung.

"Aku selalu mendengar kau jahat dan licik, tapi aku sungguh tak menyangka kau serendah itu, menggunakan obat untuk memaksa pria yang jijik kepadamu supaya mau melayanimu!"

Sepertinya kata-kata Jungkook mengena di hati Taehyung karena rahang lelaki itu tampak mengeras, marah.

Dengan kasar, Taehyung menyambar jubah sutra hitamnya dan mengenakannya. Lalu dengan gerakan tiba-tiba, naik ke atas ranjang dan mencengkeram rahang Jungkook dengan sebelah tangannya.

Cengkeraman itu terasa keras dan menyakitkan sehingga Jungkook mengernyit. Tetapi Jungkook menahan diri untuk tidak mengaduh, dia tidak mau memberikan kepuasan kepada lelaki itu.

"Apapun yang kau katakan, satu hal yang pasti. kau sudah menjadi milikku. Dan seperti yang kubilang, segala sesuatu yang menjadi milik Kim Taehyung tidak akan pernah bisa lepas, kecuali aku melepaskanmu .. atau aku membunuhmu!"

Dengan kasar Taehyung melepaskan cengkeramannya di rahang Jungkook, membuat tubuh Jungkook terdorong lagi ke ranjang. Lalu dengan langkah tegas, Taehyung melangkah keluar kamar sambil membanting pintu di belakangnya.

.

.

.

Jungkook masih termangu di ranjang, lalu kilasan rasa sakit di antara pahanya menyadarkannya.

Noda darah tampak mencolok di seprai putih itu, tampak menertawakannya. Sungguh ironis, keperjakaannya terenggut oleh bajingan berhati iblis yang ingin dibunuhnya.

Tubuh Jungkook gemetar, dipenuhi oleh rasa campur aduk yang menyesakkan ketika dia mencoba berdiri. Noda merah di ranjang itu sangat mengganggunya, hingga dengan kasar Jungkook merenggut seprai itu dan membantingnya ke lantai. Napas Jungkook terengah-engah dan entah kenapa kemudian tubuhnya ambruk ke lantai, menangis penuh emosi.

Ingatannya melayang kepada ayah dan ibunya, kepada dendamnya yang belum terbalaskan, dan kepada nasibnya yang membuatnya terperangkap di sini, dalam cengkeraman musuh besarnya.

Kini dia terpuruk di sini, dalam cengkeraman Taehyung. Dan yang sangat menyakitkan dia tidak berdaya menghadapi lelaki itu.

Jungkook mengusap air matanya tiba-tiba. Tidak! Dia sudah cukup menangis, dia harus melawan, dengan segala cara!

Dengan pelan Jungkook melangkah ke kamar mandi, dia harus mandi dan menghapus semua jejak dan noda yang ditinggalkan Taehyung di tubuhnya.

Taehyung boleh saja menodainya, tetapi bukan berarti lelaki itu memilikinya. Jungkook lelaki bebas, lelaki bebas yang bertekad untuk menghancurkan Kim Taehyung. Tunggu saja, dia hanya belum punya kesempatan.

Jungkook hanya duduk di kursi putih itu putus asa, sebab setelah sekian lama berkeliling ruangan, memeriksa setiap sudut di kamar mandi dan jendela, tetap benar-benar tidak ada celah yang bisa digunakan sebagai jalannya untuk melarikan diri.

Putus asa, Jungkook duduk sambil memeluk lututnya. Kalau begini, bagaimana caranya dia bisa keluar dari rumah ini? Sedangkan keluar dari kamar ini saja dia tidak mampu.

Matanya melirik ke pintu kamar. Pintu yang terkunci itu satu-satunya jalan. Tetapi yang bisa keluar masuk dari pintu itu hanya Taehyung, dan juga seorang lelaki bertampang dingin bernama Yoongi, yang selalu ada disamping Jungkook setiap ada kesempatan.

Lelaki bertampang dingin itu sepertinya ditugaskan untuk mengantarkan makanannya.

Pikiran Jungkook berputar… memang rasanya tidak mungkin, tapi jika tidak dicoba dia tidak akan tahu ..

Seperti sudah diatur, pintu kamar itu terbuka, dan Jungkook langsung terduduk tegak waspada, menanti siapapun yang akan masuk.

Yoongi muncul di sana membawa nampan makanan, wajahnya datar tanpa ekspresi seperti biasa. Dan Jungkook langsung sengaja memasang wajah kesakitan.

"Aku minta tolong .. " rintihnya sesakit mungkin.

Yoongi mengernyit dan mendekat.

"Ada apa tuan?"

"Aku .. aku mau muntah .. tolong aku"

Jungkook meremas perutnya, berusaha semeyakinkan mungkin. Dan sepertinya tidak curiga, lelaki itu mendekat, dan menatap Jungkook.

"Kau mau dibantu ke kamar mandi?"

Jungkook mengangguk lemah.

Dengan tangan kuatnya, Yoongi membantu Jungkook berdiri dan memapah tubuh Jungkook yang lunglai ke kamar mandi. Ketika Yoongi membuka pintu kamar mandi, Jungkook berakting seolah-olah muntahnya akan keluar, hingga Yoongi langsung bergegas membawanya ke kamar mandi.

Di wastafel, Jungkook menundukkan kepalanya seolah-olah akan muntah hebat.

"Handuk .. tolong .."

gumam Jungkook lemah, melirik ke arah lemari handuk yang ada di ujung ruangan kamar mandi. Masih tanpa curiga, Yoongi melangkah ke arah lemari handuk. Saat itulah dengan secepat kilat Jungkook melompat dan berlari ke arah pintu keluar kamar mandi.

Yoongi menyadari kalau dia ditipu, ketika melihat kelebatan langkah cepat Jungkook. Dia berusaha mengejar tapi terlambat, Jungkook yang melompat gesit sudah keluar dari kamar mandi dan membanting pintunya dari luar, lalu menguncinya rapat-rapat.

Dengan napas terengah karena pacuan adrenalin, Jungkook menyandarkan tubuhnya di pintu kamar mandi, memejamkan mata, tak peduli akan gedoran-gedoran marah Yoongi dari dalam.

"Kau tidak akan bisa melarikan diri"

ancam Yoongi, berteriak dari dalam.

"Tuan Taehyung pasti akan menemukanmu, dan aku bersumpah, kalau kau sampai membuat Tuan Taehyung marah, kau akan menyesalinya"

Teriakan-teriakan Yoongi makin keras dibarengi dengan gedoran-gedorannya di pintu. Kata-kata Yoongi sempat membuat hati Jungkook kecut, tapi dia menggelengkan kepalanya, Taehyung memang lelaki kejam, tetapi Jungkook tidak boleh takut. Dia harus berani menantang Taehyung, menunjukkan pada lelaki itu kalau dia bukanlah pria yang bisa ditundukkan dengan begitu mudahnya.

Dengan langkah hati-hati, Jungkook membuka pintu putih yang tak terkunci itu, matanya mengintip sedikit keluar, khawatir kalau-kalau ada penjaga yang menjaga didepan pintu.

Tetapi rupanya Taehyung beranggapan Jungkook terlalu lemah sehingga tidak perlu menempatkan penjaga didepan pintu. Lorong itu kosong. Dengan hati-hati Jungkook melangkah keluar. Suara gedoran-gedoran pintu kamar mandi dan teriakan Yoongi masih terdengar ketika Jungkook keluar, tetapi ketika Jungkook menutup pintu putih besar itu, suara itu lenyap dan menjadi senyap. Rupanya ruangan putih tempatnya dikurung itu kedap suara.

Taehyung melangkah lagi melewati lorong itu. Tidak ada pintu lain di lorong itu, arahnya langsung ke tangga spiral yang besar menuju ke pintu depan.

Dengan hati-hati, Jungkook mengintip dari ujung tangga ke arah bawah. Kosong. Kemanakah para penjaga yang dia lihat kemarin?

Pelan dan waspada, Jungkook melangkah menuruni tangga. Dia sudah berhasil menyeberangi ruangan dan memegang handle pintu besar itu, ketika suara dingin yang mulai dikenalnya terdengar tepat di belakangnya.

"Kau pikir kau akan kemana?"

Terlonjak kaget, Jungkook membalikkan badan dan hampir menabrak dada bidang Taehyung.

Lelaki itu berdiri dekat sekali di belakangnya, dan menekannya ke pintu. tatapannya menyala penuh kemarahan, seperti iblis yang siap membakar musuh-musuhnya.

"Berani sekali kau mempermalukan Yoongi seperti itu, dan berani sekali kau mencoba melarikan diri dari rumahku!"

Tangan besar Taehyung mencengkeram lengan Jungkook dengan kasar lalu menyeret Jungkook yang tidak bersedia.

Jungkook meronta-ronta, mencoba bertahan, tetapi Taehyung tidak peduli, dan tetap menyeret Jungkook dengan kekuatan besarnya. Hingga Jungkook mau tidak mau harus terseret-seret mengikuti daripada tangannya putus.

Taehyung menyeret Jungkook menaiki tangga dan kembali menuju kamar putih tempat Jungkook tadi dikurung. Di sana beberapa pengawal Taehyung berkumpul, dan Yoongi berdiri di sana. Rupanya dia berhasil menghubungi Taehyung dan dibebaskan dari kamar mandi.

Jungkook mengernyit dalam hati, seharusnya tadi dia lebih cepat, atau mungkin dia harus memukul kepala Yoongi dengan sesuatu sehingga lelaki itu pingsan dan tidak bisa menghubungi teman-temannya dengan segera.

Taehyung melepaskan cengkeramannya lalu mendorong Jungkook ke depan dengan kasar

"Kau lihat Yoongi? Pria kecil seperti ini, dan kau pengawalku yang sudah bertahun-tahun lamanya bisa-bisanya dibodohi seperti ini"

Yoongi hanya terdiam, menatap Taehyung dengan muka datar, sepenuhnya mengabaikan keberadaan Jungkook. Hingga Jungkook mengernyit, apakah lelaki ini memang tidak punya ekspresi?

"Dan kau Jungkook" Taehyung melepas jasnya dan menggulung lengan kemejanya.

"Ini adalah peringatan untukmu. Kalau kau membodohi salah satu pegawaiku lagi untuk melarikan diri, kau akan membuang satu nyawa, karena aku akan langsung membunuh pegawaiku."

Tanpa ditanya, Taehyung menghantam Yoongi dengan satu pukulan telak hingga kepala Yoongi mundur ke belakang, darah menetes dari sudut bibirnya.

Jungkook terkesiap mundur dan makin terkesiap ketika Taehyung menghajar Yoongi, lagi dan lagi tanpa perlawanan hingga lelaki itu jatuh berlutut dengan memar dan bibir berdarah yang mengotori kemejanya.

Taehyung mundur satu langkah ketika Yoongi terjatuh, dia menoleh dan menatap Jungkook.

"Kalu lihat itu Jungkook? Setiap kau mencoba melarikan diri, aku bersumpah akan ada nyawa yang berkorban untukmu. Mereka semua yang lengah hingga memberi kesempatan padamu untuk lari, akan kubunuh!"

Dengan kejam Taehyung mengarahkan pukulannya sekali lagi ke arah Yoongi.

Jungkook berteriak, spontan mencengkram lengan Taehyung yang terayun, mencegah Taehyung menghabisi Yoongi.

"Jangan ..! Jangan! Aku yang salah, aku yang salah! Jangan bunuh dia! Aku yang salah" teriaknya panik.

Taehyung terdiam dan mematung, ketika akhirnya dia menatap Jungkook, matanya sedingin es. Lelaki itu tampak amat sangat marah kepada Jungkook.

"Jadi kau mengaku salah.."

Taehyung mundur lagi dan Jungkook merasa lega luar biasa karena lelaki itu tidak jadi melampiaskan kemarahannya kepada Yoongi yang sudah berlutut tak berdaya di lantai.

"Aku hanya ingin keluar dari tempat ini!" teriak Jungkook marah, frustrasi karena Taehyung menggunakan ancaman licik untuk mencegahnya melarikan diri.

"Kau milikku, dan tidak ada milikku yang bisa keluar dari sini tanpa seizinku"

"Atas dasar apa?!" Jungkook berteriak marah. "Aku bukan milik siapa-siapa, apalagi lelaki jahat sepertimu. Aku hanya ingin keluar dari sini, aku muak terhadapmu, muak atas semua yang ada di sini! Aku hanya ingin keluar!"

"Kau mau keluar hah?!"

Taehyung mencengkeram lengan Jungkook lagi, di tempat yang sama hingga Jungkook merasa lengannya memar.

"Mari kita keluar!"

Tak ada yang berani menolong ketika Jungkook berteriak-teriak dalam seretan Taehyung. Sepertinya kemarahan Taehyung adalah hal biasa di rumah ini dan tidak ada satupun yang berani melawan laki-laki itu.

Taehyung membawa Jungkook ke ujung lorong, ke jendela kaca lantai dua yang mengarah langsung ke balkon.

Dengan kasar Taehyung mendorong Jungkook keluar lalu, mendesaknya ke ujung balkon, hingga kepala Jungkook mengarah ke bawah dan menatap ngeri kolam renang yang sangat luas di bawahnya.

Kolam itu tampak sangat bening dan dalam. Jungkook bergidik. Dia tidak bisa berenang, apakah Taehyung akan mendorongnya ke bawah?

Taehyung benar-benar mendesak tubuh Jungkook sampai ke ujung balkon, membuat kepalanya terbungkuk ke bawah. sementara tangannya di kekang oleh Taehyung di belakangnya.

"Kau lihat itu? Salah sedikit saja aku melemparmu ke bawah, kepalamu bisa pecah terkena ubin pinggiran kolam"

napas Taehyung sedikit terengah oleh kemarahan.

"Kau lelaki tak tahu diuntung, harusnya kau bersyukur atas kebaikan hatiku padamu dan keluargamu, hingga kau masih bisa hidup

sampai sekarang .. Tahukah kau kalau aku bisa dengan mudah mencabut nyawamu kapanpun aku mau"

"Tuhan yang berhak mencabut nyawaku, bukan iblis seperti kau."

Jungkook berteriak berusaha menantang meski jantungnya makin berpacu kencang diliputi ketakutan luar biasa.

"Pria yang tidak tahu terima kasih." Taehyung mendorong Jungkook lagi sampai ke ujung

"Ada kata-kata terakhir?"

Jungkook memalingkan kepalanya sehingga tatapan matanya yang penuh kebencian bertemu dengan mata dingin Taehyung.

"Terima kasih karena sudah membebaskanku"

Lalu tubuh Jungkook terlempar, melayang di udara kemudian meluncur ke bawah, ke kolam renang yang dalam itu.

Setidaknya kalau aku mati, aku sudah mencoba membalaskan dendam kita, Ayah ..

Sedetik kemudian, tubuh Jungkook terbanting menembus permukaan kolam lalu tenggelam. Jungkook tidak berusaha menyelamatkan diri, membiarkan tubuhnya makin tenggelam dalam kolam itu.

Matanya menggelap dan memejam, dan entah berapa banyak air kolam yang tertelan olehnya. Napasnya terasa sesak dan paru-parunya terasa mau pecah.

Oh Tuhan … aku akan mati ..

Ketika Jungkook sudah sampai di titik akan kehilangan kesadarannya, terdengar ceburan lain yang tak kalah kerasnya di kolam.

Tak lama kemudian, sebuah lengan yang kuat merengkuhnya dan mengangkat tubuhnya, membawanya ke permukaan. Tubuh lemas Jungkook dibaringkan di lantai di pinggiran kolam, lalu dia merasakan perutnya di tekan dengan ahli hingga aliran air yang tertelan keluar.

Jungkook memuntahkan banyak air dan terbatuk-batuk kesakitan. Paru-parunya masih terasa begitu sakit dan nyeri.

Siapakah penolongnya? Apakah dia memang belum diizinkan mati?

Tangan kuat itu terus menekan hingga seluruh cairan terpompa keluar dari perut Jungkook. Mata Jungkook mulai buram, kesadarannya semakin hilang, ketika suara itu terdengar tenang di atasnya.

"Panggil Dokter"

Itu suara Taehyung. Apakah Taehyung yang menyelamatkannya? Lagipula .. kenapa lelaki itu menyelamatkannya?

.

.

.

To be Continued

Jadwal update kuki usahakan 2X seminggu~ mungkin akan sedikit telat karena mphii harus berkutat dengan buku-buku, sehingga Kuki harus mengambil jatah bagian mphii (TдT)

See you again, BIG THANKS buat Riviewnya, dan maaf kami belum bisa membalas atuatu :") kuki dan mphii sangat terhura walaupun sebenarnya hanya cerita hasil remake. MPHIKUK LAFF KALIAN❤