Sleep with the Devil

-TaeKook-

.

.

BoysLove inside | M-Preg

BTS X SVT

Disc: I'm not the Owner of this story.

Author just ReMake it by wearing TaeKook as cast.

So, if you want to Read the original Story, you can visit SanthyAgatha's blog on link below

www. anakcantikspot. blogspot. co. id (Delete Space)

Note: hasil Cerita ini diRemake oleh Dua Author. Dan kami sudah meminta izin kepada pemilik cerita ini (Santhy Agatha) untuk menghindari terjadinya pelanggaran Hak Cipta.

And, if you are still under age or Dislikes BL, please just left this page.


.

.

.

Taehyung keluar dari kamar mandi dengan masih menyimpan kemarahan. Rambutnya basah kuyup. Dan seluruh pakaiannya yang basah teronggok di lantai. Sebuah gerakan di sudut kamar membuatnya menoleh. Yoongi berdiri di sana, bekas-bekas pukulan Taehyung masih menimbulkan memar-memar di sana sini, tetapi lelaki itu sepertinya sudah diobati.

"Bagaimana dia?"

tanya Taehyung dingin.

"Dokter sedang menanganinya, paru-parunya kemasukan cairan. Anda sendiri Tuan, Anda tidak apa-apa? Terjun dari lantai dua seperti itu hanya untuk menyelamatkannya itu .."

Taehyung melirik pada Yoongi dengan tatapan tajam, lalu meraih handuk untuk mengeringkan rambutnya yang basah.

"Tadinya aku berniat membunuhnya"

"Kalau begitu kenapa Anda menyelamatkannya?"

Taehyung membalikkan tubuhnya dan menatap Yoongi dengan mata menyala-nyala.

"Karena aku memutuskan, belum saatnya dia mati"

mata cokelat Taehyung bagaikan berbinar di kegelapan.

"Dan kau .. Kenapa kau sengaja membiarkannya lolos?"

Yoongi menatap Taehyung, tampak ada keterkejutan di matanya meskipun sekejap kemudian dia langsung memasang wajah datar.

"Saya tidak sengaja membiarkannya lolos"

"Kau pikir aku bodoh?"

suara Taehyung menajam, setajam tatapannya.

"Kau adalah pengawalku paling berpengalaman, tak mungkin kau bisa diperdaya lelaki itu. kecuali kau memang membiarkan dirimu diperdaya"

Yoongi menelan ludahnya.

"Saya ingin membebaskannya, saya takut dia akan membawa masalah untuk kita"

Taehyung melempar handuknya dengan marah ke sofa.

"Dalam dua hari ini kau sudah dua kali mengambil keputusan sendiri dan menentangku. Dengarkan ini baik-baik Yoongi"

suara Taehyung dalam dan mengancam,

"Sekali lagi kau membuat kebodohan yang merepotkanku, bukan hanya pukulan yang kau dapat, aku akan menghabisimu secepat aku bisa"

Suara ancaman itu masih menggema di kegelapan, bagaikan janji Iblis yang memanggil-manggil meminta nyawa.

. . .

Ketika Jungkook terbangun, yang dirasakannya pertama kali adalah rasa sesak di dadanya. Dia menggeliat panik, mencoba menarik napas sekuat-kuatnya, dalam usahanya mencari oksigen sebanyak-banyaknya.

"Tenang, kau sudah ada di daratan, kau bisa bernafas secara normal"

Suara Taehyung membawa Jungkook kembali pada kesadarannya.

Dengan waspada dia menoleh dan mendapati Taehyung sedang duduk di tepi ranjangnya. Jungkook beringsut sejauh mungkin dari Taehyung dan tingkahnya itu memunculkan secercah cahaya geli di mata Taehyung.

"Apakah kau takut padaku setelah kejadian tadi?"

nada gelipun tersamar dalam suara Taehyung.

Kurang ajar, batin Jungkook dalam hati. Dia berjuang meregang nyawa, dan lelaki ini malah duduk disini menertawainya.

Tetapi, apakah benar Taehyung yang terjun ke kolam waktu itu dan menyelamatkannya? Kenapa? Bukankah jelas-jelas dalam kemarahannya Taehyung sudah memutuskan untuk membunuhnya? Kenapa lelaki itu berubah pikiran?

"Ya, aku memang menyelamatkanmu" Taehyung bergumam seolah-olah bisa membaca pikiran Jungkook

"Tetapi itu bukan demi dirimu, itu demi kepuasanku."

Jungkook menatap Taehyung geram,

"Apa maksudmu?"

Dengan tenang lelaki itu melepas dasinya, gerakannya pelan tetapi mengancam hingga tanpa sadar Jungkook bergidik dan beringsut menjauh.

"Aku tidak suka bercinta dengan mayat"

Senyum di bibir Taehyung tampak kejam

"Kau lebih nikmat kalau hidup dan bernafas."

Ketika Jungkook menyadari maksud Taehyung .. sudah terlambat.

Lelaki itu mencengkeram kedua lengannya dengan satu tangan. Kekuatan Jungkook tidak sebanding dengan kekuatan tubuh Taehyung yang besar dan kuat di atasnya.

Dengan mudahnya lelaki itu mengikat kedua pergelangan tangannya dengan ikatan mati yang sangat rapi, lalu menalikannya di kepala ranjang,

"Kau .. Kau mau apa?"

Jungkook mulai panik ketika Taehyung yang setengah duduk di atasnya membuka kancing kemejanya.

Senyum Taehyung tampak penuh kepuasan melihat kondisi Jungkook yang tidak berdaya. Lelaki itu membuka seluruh kancing kemejanya sehingga dada dan perutnya yang berotot terlihat.

Sejenak Jungkook terpana melihat kulit berwarna perungggu yang berkilauan bagai satin itu, tetapi kemudian dia sadar bahwa dia ada dalam kondisi genting. Dengan panik Jungkook mulai meronta dan menendang, sedapat mungkin bergerak untuk melepaskan diri.

Tapi percuma, ikatan Taehyung ke tangannya sangat kuat, dan dalam kondisi terikat seperti itu, Jungkook benar-benar tak berdaya.

"Semalam kau bercinta denganku, panas, dan memabukkan .. Tapi kau mungkin tak bisa mengingat dengan jelas dan aku tak suka itu .."

suara Taehyung merendah, penuh gairah,

"Malam ini, akan kubuat kau mengingat setiap detiknya"

Dalam kondisi terikat dan tak berdaya, Jungkook melihat ketika Taehyung melepas kemejanya dan setengah menindihnya.

Mulutnya sangat dekat dengan bibir Jungkook, hingga napas mereka beradu, Taehyung menundukkan kepalanya, mencium sisi leher Jungkook, membuat Jungkook berjingkat dan berusaha meronta lagi,

"Sshh ... Kau akan menyakiti lenganmu kalau kau meronta-ronta terus seperti itu"

bibir Taehyung merayap dan mendarat di bibir Jungkook. Lelaki itu mengecup sedikit ujung bibir Jungkook, lalu lidahnya menelusup masuk, membuka bibir Jungkook yang lembut. Mencecapnya dan merasakan seluruh tekstur bibir Jungkook yang hangat dan panas.

Lidahnya mengait lidah milik Jungkook dan memainkannya dengan intensitas yang sangat ahli.

Ketika Taehyung melepaskan tautan bibirnya, napas Jungkook terengah engah, ciuman ini adalah ciuman yang paling intens yang pernah di rasakannya.

"Kau menyukainya bukan?"

Taehyung berbisik lembut dengan nafasnya yang panas di telinga Jungkook,

"Aku sangat menyukai bibirmu, dan sensasi kelembutannya di bibirku ..."

tangan Taehyung merayap ke bawah, meraba kulit leher Jungkook,

"Seluruh tubuhmu hangat sayang, seakan menggodaku .."

Jemari Taehyung menyingkap celana Jungkook dan menelusup ke dalam sana, menggoda pusat gairahnya.

"Di sini .. Yang paling panas"

Jungkook menggelinjang, mencoba meronta, tetapi tubuh kuat Taehyung yang setengah menindihnya membuat gerakannya terbatas. Apalagi tangannya yang terikat di atas, membuat lengannya terasa sakit dan pergelangan tangannya ngilu ketika dia menggerak-gerakkannya.

Taehyung melirik ke pergelangan tangan Jungkook yang terikat, dan menyadari bahwa ikatan itu menyakiti Jungkook.

"Jangan bergerak-gerak, atau kau akan mengalami memar-memar ketika ini selesai"

Setetes air mata mengalir di sudut mata Jungkook, dia putus asa dalam usahanya untuk melepaskan diri.

"Jangan lakukan ini, tolong .."

Mata Taehyung sedikit melembut ketika mendengar permohonan Jungkook, tetapi kemudian senyumannya tampak mengeras,

"Aku hanya ingin membuatmu sadar dimanakah tempat kau seharusnya berada Jungkook"

Taehyung membuka kancing kemeja Jungkook satu persatu, membiarkan dada Jungkook terbuka bebas untuknya,

"Ini milikku"

Taehyung menyentuh nipple Jungkook dan menggodanya, menikmati ketika mendengar erangan tersiksa Jungkook.

"Seluruh tubuhmu milikku"

Taehyung mengecup ujung nipple Jungkook, mencecapnya dengan lidahnya. Lalu bibirnya berpindah menelusuri bagian dada Jungkook, menikmatinya dengan bibirnya sehingga meninggalkan jejak-jejak basah dan panas di sana.

Jungkook melengkungkan punggungnya atas sensasi yang menyiksanya tanpa ampun. Dalam kondisi terikat dan tak berdaya, merasakan lelaki iblis itu mencumbunya, dan menyiksanya dengan godaan-godaannya yang sangat ahli, ada perasaan aneh yang menjalar di tubuhnya.

Seperti gelenyar panas yang bergulung-gulung, terasa seperti arus listrik yang mengalir dari jemarinya, dan menjadi semakin panas ketika menyatu di pusat dirinya.

Dan jemari Taehyung menyentuh ke sana, dengan begitu ahli, memainkan Jungkook sesuka hatinya. Tubuh Jungkook meronta tak tahan akan alunan sensasi permainan jemari Taehyung, tapi lengan Taehyung yang kuat menahan tubuhnya.

Kemudian bibir Taehyung mengikuti jemarinya. Jungkook terkesiap merasakan hembusan napas panas di pusat dirinya.

Seketika dia menegakkan tubuhnya dan tertahan oleh ikatan di pergelangan tangannya.

"Jangan!"

teriaknya panik, mencoba merapatkan kaki, mencegah bibir Taehyung menyentuhnya.

Tetapi lengan Taehyung yang kuat menahannya, dan kemudian, Jungkook melengkungkan punggungnya dan mengerang keras merasakan sensasi itu. Sensasi sentuhan bibir dan lidah Taehyung di pusat dirinya, dengan hembusan nafasnya yang panas.

Panas bertemu panas dan dia terbakar. Pandangannya menggelap karena sensasi kenikmatan yang tak tertanggungkan.

"Sshh .. Semua bagian tubuhmu milikku Jungkook, Milikku."

Taehyung mencumbu pusat gairah Jungkook menyatakan kepemilikannya.

Dan ketika Taehyung selesai bermain-main, Jungkook sudah terbaring, lemas, dan tak berdaya dengan nafas terengah-engah dan tubuh membara.

Taehyung menaikkan kembali tubuhnya dan mengecup lembut bibir Jungkook. Dada bidangnya menggesek dada Jungkook, dan Jungkook merasakan kejantanan Taehyung yang begitu keras menyentuh pahanya dengan begitu menggoda seolah mengerti apa yang paling Jungkook inginkan.

Taehyung menempatkan dirinya dengan begitu tepat, seolah telah mengenal setiap jengkal tubuh Jungkook. Dan Jungkook merasakan tubuh Taehyung yang keras dan panas menyatu dengan tubuhnya, memberikan geleyar kenikmatan yang makin menghujam.

"Jungkook .."

Taehyung mengerang merasakan tubuh Jungkook yang panas, halus, dan membungkusnya dengan begitu erat, menggodanya untuk mencapai kepuasan secepat mungkin.

Tapi tidak, malam ini untuk Jungkook. Taehyung ingin Jungkook mengingat setiap detik percintaan mereka malam ini.

Ketika Taehyung bergerak, Jungkook mengerang. Semua ini terlalu nikmat untuk ditanggungnya, dia tak bisa menjangkau kesadarannya lagi, hampir frustasi karena pada akhirnya tubuhnya menyerah dalam pusaran gairah Taehyung.

Taehyung menundukkan kepalanya, lalu mengecup sudut bibir Jungkook dengan posesif, menyatakan kepemilikannya, dan menghujamkan dirinya dalam-dalam.

"Kau milikku, Jungkook. Ingat itu baik-baik"

Sedetik kemudian, Taehyung membawa Jungkook melewati pusaran gelombang semakin dan semakin naik hingga guncangan orgasme menerjang mereka berdua. Menyatukan mereka dalam satu titik kenikmatan.

. . .

Taehyung mengangkat tubuhnya dari Jungkook yang terengah-engah, dengan pikiran masih berkabut karena orgasme.

Dengan lembut jemarinya membuka ikatan tangan Jungkook, Ikatan itu menimbulkan bekas kemerahan di sana. Dan Taehyung mengecup kedua pergelangan tangan Jungkook.

"Kau milikku, ingat itu. Kalau kau mencoba melarikan diri lagi, aku akan menghukummu dengan hukuman yang lebih berat"

Lalu Taehyung bangkit, mengenakan pakaiannya dan menatap Jungkook yang memalingkan wajah darinya, tak mau menatapnya.

"Kuharap kau tidak melupakan malam ini, setiap detiknya."

gumamnya dingin, lalu melangkah pergi meninggalkan Jungkook yang terbaring diam di ranjang.

Setetes air mata mengalir kembali di sudut mata Jungkook. Taehyung benar, Jungkook tidak akan pernah bisa melupakan malam ini, setiap detiknya.

.

.

.

Sudah hampir dua minggu Jungkook dikurung di dalam kamar putih ini, tidak boleh keluar sama sekali. Hari-hari Jungkook dilalui dengan menatap ke luar dari jendela lantai dua ke pekarangan rumah Taehyung.

Jungkook sudah merasa begitu muak dan frustrasi karena bosan. Setelah memaksakan kehendaknya malam itu, Taehyung tidak pernah mengunjungi Jungkook lagi. Mungkin dia sedang bersenang-senang dengan kekasih barunya. Jungkook mencibir, mencoba mengabaikan perasaan seperti tercubit di dadanya. Tetapi kalau memang benar begitu, kenapa Taehyung tidak melepaskannya?

Apakah karena lelaki itu tahu bahwa Jungkook berniat membunuhnya, jadi dia menawan Jungkook di sini karena menganggap Jungkook ancaman yang berbahaya? Kalau begitu kenapa Taehyung tidak membunuhnya sekalian?

Beberapa lama terpaku di jendela, Jungkook menyadari bahwa ada kesibukan yang tidak biasa di luar sana. Beberapa mobil tampak lalu lalang keluar masuk rumah Taehyung yang biasanya lengang. Sehari-hari pemandangan yang didapat Jungkook hanyalah pemandangan pengawal-pengawal Taehyung dan beberapa pelayan yang lewat di halaman depan rumah.

Kali ini Jungkook melihat ada mobil bunga dan mobil cathring. Apakah Taehyung akan mengadakan pesta? Kalau iya, mungkin saja kesempatan Jungkook untuk melarikan diri bisa muncul kembali.

Sedang larut dalam lamunannya, tiba-tiba pintu kamar putih itu terbuka. Jungkook bahkan tidak menolehkan kepalanya sedikitpun. Karena yang masuk ke kamar ini selalu hanya Yoongi yang mengantarkan makanan, dan pelayan yang membersihkan ruangan dan membawakan pakaian ganti untuknya – tentu saja di bawah pengawasan Yoongi.

Jungkook tidak pernah berinteraksi dengan Yoongi lagi setelah kejadian kemarin, dan sepertinya lelaki itu juga tidak berniat untuk mengajaknya berbicara. Lagipula rasa bersalah yang ditanggung Jungkook terlalu besar. Karena dialah Yoongi dihajar oleh Taehyung, bekas-bekas hajaran itu masih ada dan memar-memar di wajah Yoongi dan hidungnya yang patah.

Setiap melihat Yoongi, Jungkook disergap perasaan ngeri dan rasa bersalah yang luar biasa. Taehyung mengancam akan membunuh siapapun yang lengah dan membiarkan Jungkook lolos. Apakah sepadan mengorbankan satu nyawa demi meloloskan diri?

Jungkook memang tidak kenal dengan Yoongi, tetapi kalau mendapatkan kebebasan dengan mengorbankan nyawa orang lain, tetap saja terasa tidak benar baginya.

"Jungkook."

Itu suara Taehyung. Jungkook terlonjak saking kagetnya. Dia menolehkan kepalanya, dan Taehyung-lah yang berdiri di tengah ruangan, lelaki itu tadi sepertinya terdiam, mengamati Jungkook yang sedang melamun sambil memandang Jungkook yang sedang menatap ke luar jendela. Otomatis Jungkook mengepalkan tangannya, reaksi impulsifnya ketika menyadari aura Taehyung yang berkuasa memenuhi ruangan.

Taehyung melirik tangan Jungkook yang terkepal, dan senyum sinis muncul di bibirnya. Lelaki itu menolehkan kepalanya ke belakang dan Jungkook baru menyadari ada orang lain di belakang Taehyung, seorang laki-laki berbadan kecil dan sedikit gemulai.

"Ini Jeonghan"

gumam Taehyung tenang.

"Dia akan mempersiapkanmu untuk nanti malam"

Setelah berkata begitu, Taehyung melangkah mundur, membalikkan tubuhnya dan meninggalkan kamar itu.

Mempersiapkannya untuk apa?

. . .

"Kau sebenarnya cantik sekali, hanya saja kau tidak pandai berdandan."

Jeonghan bergumam dengan suara gemulainya, memoles wajah Jungkook yang masih memejamkan matanya di depan cermin.

"Aku tampan" jawab Jungkook

Jeonghan hanya terkekeh menanggapinya. Kalau Taehyung menyuruhnya didandani, maka dia pasti akan diperbolehkan untuk turun ke pesta yang diadakan Taehyung. Hal itu berarti ada kesempatan baginya untuk melarikan diri dari rumah ini.

"Nah, sudah selesai, coba buka matamu." gumam Jeonghan.

Ada nada puas dalam suaranya, Jungkook membuka matanya pelan-pelan. Dan dia terpana menatap sosok yang balas menatapnya di depan cermin itu. Yang menatapnya bukannya Jungkook, lelaki yang seumur hidupnya sangat jarang bergaya, yang ada di depannya adalah lelaki yang sangat tampan, tapi cantik dalam waktu yang bersamaan. Seperti malaikat dengan riasan yang tidak terlalu tebal tapi sangat pas di semua sisi.

Jeonghan memang perias yang sangat berbakat, dan sangat terkenal, tentunya dengan tarif sekali riasnya yang amat sangat mahal. Jungkook sering sekali mendengar nama perias ini di media sebelumnya, tapi tidak pernah berfikir bahwa dia akan merasakan tangan dingin sang perias berbakat ini. Matanya tampak begitu lebar, kuat, sekaligus rapuh dengan polesan warna cokelat keemasan, dan Jeonghan sedemikian rupa menonjolkan struktur tulang pipinya yang tinggi sehingga tampak menarik dan aristrokat.

Dan bibirnya dipoles tipis, sangat tipis dengan lipstik warna peach dengan nuansa yang membuat bibirnya seolah-olah selalu basah.

Jungkook menyentuh pipinya ragu, dan bayangan malaikat didepannya juga menyentuh pipinya. Mata Jungkook terpaku, masih terpana akan bayangan di depannya.

Jeonghan mendecak kagum melihat hasil karyanya sendiri, kemudian bergumam, mengalihkan perhatian Jungkook.

"Kau paling berbeda dari kekasih-kekasih Tuan Taehyung sebelumnya."

Jeonghan meringis.

"Bukan berarti kau kurang tampan ataupun tidak cantik, tapi kau kurang glamour, kurang mempesona. Kekasih-kekasih Taehyung sebelum-sebelumnya selalu cantik luar biasa, bagaikan dewi, sekalipun mereka adalah seorang pria." terang Jeonghan.

"Ada beberapa yang tampan, tapi sangat jarang, kupikir kau salah satunya." Lanjut Jeonghan.

Jungkook mendengus sinis, apakah Taehyung juga menyuruh perias ini untuk mendandani kekasih-kekasihnya?

Jeonghan sibuk merapikan peralatannya di belakang Jungkook sambil terus bergumam.

"Tapi kau istimewa, harusnya kau bersyukur, Tuan Taehyung tidak pernah menyuruhku mendandani kekasih-kekasihnya yang lain"

gumaman Jeonghan itu telah menjawab pertanyaan Jungkook sebelumnnya.

"Dan yang paling sensasional adalah tuxedo ini, Tuan Taehyung menyuruhku memesannya langsung dari perancangnya di Paris. Pesanan khusus karena diselesaikan hanya dalam waktu 1 minggu, tuxedo ini khusus dibuat untukmu, tiada duanya di dunia ini."

Jeonghan berseru kecil dengan feminim, tampak terpesona dengan sesuatu di tangannya.

"Kau harusnya bersyukur karena Tuan Taehyung memperlakukanmu dengan istimewa"

Jungkook menoleh, ingin tahu apa yang begitu menarik perhatian Jeonghan, dan sekali lagi dia terpesona. Di tangan Jeonghan, tergantung di gantungan baju yang elegan, tuxedo yang luar biasa indahnya.

Tuxedo itu dibuat dari bahan sutera putih dengan kristal kecil menyebar di sepanjang lengannya, memberikan efek kilauan yang menakjubkan. Bawahannya menggunakan celana putih yg senada dengan atasannya. Pakaian itu adalah pakaian terindah yang pernah dilihat oleh Jungkook, dan .. itu untuknya?

"Pakailah tuxedo ini, kau harus siap dalam setengah jam. Tuan Taehyung ingin melihatmu sebelum ke pesta."

gumam Jeonghan, menghamparkan tuxedo putih itu di ranjang lalu melangkah keluar dari kamar.

Kata-kata terakhir Jeonghan sebelum pergi itu menyadarkan Jungkook dari keterpesonaannya akan keindahan tuxedo itu.

Taehyung telah memperlakukannya sama seperti kekasih-kekasihnya, yang bisa diperintah sesuka hati seperti boneka!

Kali ini dia tidak akan membuat Taehyung puas. Jungkook bukan kekasih Taehyung dan dia bukan boneka yang bisa diatur-atur sesukanya, Taehyung harus menyadari itu.

. . .

Taehyung masuk dan Jungkook menunggu dengan penuh antisipasi. Taehyung mengenakan jas hitam legam yang rapi. Rambutnya yang sedikit panjang hingga menyentuh kerah disisir ke belakang, membuatnya tampak seperti iblis tampan yang begitu menggoda.

Lelaki itu melangkah memasuki ruangan dan Jungkook merasakan Taehyung tertegun sejenak menatap wajah Jungkook yang sudah dirias sedemikian cantiknya.

Tetapi kemudian mata Taehyung menatap ke arah Jungkook yang masih mengenakan baju biasa yang selalu digunakannya di kamar itu. Mata Taehyung menggelap seolah ada badai yang akan menerjang di sana.

"Kenapa tidak kau pakai pakaian mahal-mu?" desis Taehyung pelan.

Jungkook mundur selangkah, menyadari intensitas kemarahan dalam suara Taehyung.

Lelaki satu ini mungkin menderita post power sindrome sehingga mudah naik darah kalau keinginannya tidak diikuti. batin Jungkook dalam hati.

"Aku tidak mau"

Jungkook menegakkan dagunya menantang. meski batinnya sedikit kecut.

"Pakaian itu khusus dipesankan untukmu." kali ini suara Taehyung sedikit menggeram, menahan kesabaran.

Jungkook melirik tuxedo indah itu, tuxedo itu luar biasa indahnya, dan Jungkook sudah jatuh cinta pada tuxedo itu sejak pandangan pertama. Tetapi dia tidak boleh mengenakan tuxedo itu, meskipun batinnya berteriak-teriak ingin merasakan tuxedo seindah itu sekali saja.

Tidak! Dia tidak boleh mengenakan tuxedo itu, itu sama saja dengan mengakui penguasaan Taehyung atas dirinya.

"Aku tidak mau memakainya."

Jungkook berhasil mengeraskan suaranya hingga terdengar Lantang.

"Aku bukan bonekamu yang bisa kau perintah-perintah semaumu!"

"Boneka katamu?"

Taehyung melangkah maju dan otomatis Jungkook melangkah mundur.

"Kau pakai baju itu atau aku akan memperkosamu sekarang juga di lantai. Supaya kau tahu bagaimana aku memperlakukan bonekaku!"

Jantung Jungkook berdetak sekejap merasa takut akan ancaman Taehyung. Apakah Taehyung akan melaksanakan ancamannya?

Tetapi melihat mata yang menyala karena marah itu, Jungkook tiba-tiba sadar bahwa Taehyung tidak main-main. Lelaki ini menyimpan iblis di dalam dirinya, dan ketika iblis itu keluar, Taehyung tidak akan segan-segan berbuat kejam. Salah sendiri kau menantang Iblis ini, Jungkook! Jungkook mengutuk dirinya sendiri dalam hati.

"Jungkook, kenakan pakaian ini atau aku akan benar-benar membuatmu menyesal" Taehyung mulai mendesis marah.

Tangannya meraih tuxedo putih itu dan melemparnya dengan sembarangan ke arah Jungkook yang langsung menangkapnya dan memegang tuxedo itu dengan hati-hati.

Taehyung memperlakukan tuxedo semahal dan seindah ini layaknya memperlakukan kain lap. Lelaki iblis ini memang tidak paham keindahan! Tanpa sadar kebencian Jungkook meluap lagi kepada Taehyung, dorongan untuk menantang Taehyung amatlah besar. Meskipun sisi lain dirinya berteriak untuk tidak menantang Taehyung lebih jauh lagi.

Mereka berdua berdiri berhadap-hadapan, udara di antara mereka sangatlah tegang. Senyap dan tanpa suara, hanya dua mata yang saling menatap dan saling menantang.

"Pakai tuxedo itu, Jungkook .."

kali ini Taehyung melangkah mendekat, seolah tak sabar.

Jungkook langsung mundur selangkah lagi, menjauhi Taehyung, jantungnya berdegup kencang. Dia mulai merasa takut,

"Baiklah, aku akan memakainya, kau keluar dulu dari sini!"

teriaknya marah karena dipaksa menyerah, air mata hampir menetes dari matanya.

Tetapi Taehyung tak bergeming, lelaki itu menggertakkan gerahamnya menahan marah.

"Aku tidak akan pergi. Kesempatanmu sudah habis, tadi aku sudah berbaik hati memberikan kesempatan padamu untuk ikut pesta dan memakai tuxedo bagus. Sekarang cepat pakai tuxedo itu"

Taehyung tidak menaikkan suara sama sekali, tapi kemarahan di dalam suaranya menjalar ke udara dan memaksa Jungkook melakukan apa yang diinginkannya.

Dengan menahan air mata, dan menahan malu, Jungkook melepas pakaiannya di depan tatapan Taehyung yang berdiri kaku menatapnya, kemudian mengenakan tuxedo itu. Tuxedo itu luar biasa bagusnya, meluncur pelan membungkus tubuhnya dan terasa sangat pas. Sejenak Jungkook melupakan perasaan frustrasi atas pemaksaan Taehyung dan larut dalam keterpesonaan atas keindahan tuxedo itu di tubuhnya.

Taehyung mengamati Jungkook sejenak dalam balutan tuxedo indah itu. Jungkook tampak seperti malaikat yang diturunkan dari khayangan, luar biasa cantiknya.

"Bagus .." geram Taehyung, lalu dengan gerakan cepat meraih tuxedo itu dan merobeknya dari tubuh Jungkook.

Jungkook terpana ketika Taehyung merobek tuxedo itu di bagian dada.

Tuxedo seindah dan sebagus itu rusak sudah, dengan robekan kain dan benang yang berjuluran, dan kristal-kristalnya jatuh bertebaran dengan suara dentingan pelan di lantai. Mata Jungkook berkaca-kaca, tidak menyangka Taehyung akan sekejam itu, merobek sebuah tuxedo yang sedemikian indahnya demi memamerkan arogansi dan kekuasaannya. Sungguh lelaki yang kejam!

"Kenapa kau tampak ingin menangis?! Kau tidak mau memakai tuxedo ini bukan?"

gumam Taehyung sambil menatap Jungkook tajam.

"Maka kukabulkan permintaanmu"

Dengan gerakan tiba-tiba, Taehyung meraih Taehyung, mencengkeram punggung Jungkook merapat ke arahnya. Jungkook mencoba meronta tapi tak berdaya.

"Mulai sekarang kau harus berfikir ulang kalau mau menantangku. Aku bukan orang baik dan aku tidak segan-segan berbuat kejam."

Bibir Taehyung terasa dekat dengan bibir Jungkook dan napas lelaki itu sedikit terengah. Kepala Taehyung menunduk dan sejenak Jungkook merasa pasti bahwa Taehyung hendak menciumnya. Tetapi entah kenapa leher lelaki itu menjadi kaku dan mengurungkan niatnya.

Taehyung mendorong Jungkook menjauh. Lalu membalikkan tubuhnya ke arah pintu,

"Jeonghan!" suara Taehyung sedikit keras ketika memanggil perias wajah yang gemulai itu.

Pintu terbuka, dan Jeonghan terburu-buru masuk. Lelaki itu terkesiap mendapati kondisi Jungkook yang penuh air mata dengan baju itu – baju eksklusif rancangan designer terkenal, satu-satunya di dunia, yang sangat mahal dan pasti membuat iri semua orang itu – sekarang menjuntai sobek di dada Jungkook dengan kondisi menyedihkan dan tak karuan. Riasan mahal masterpiece untuk wajah Jungkook juga tak karuan karena bekas air mata di wajah Jungkook.

"Bereskan dia"

Taehyung tidak menatap Jungkook lagi, lelaki itu langsung keluar dan membanting pintu di belakangnya dengan marah.

"Kau benar-benar nekat menantang tuan Taehyung seperti itu"

Jeonghan bergumam setengah menggerutu. Dari tadi lelaki gemulai itu memang sibuk menggerutu karena harus memulai dari awal mendandani Jungkook. Apalagi ketika tatapannya terarah pada tuxedo putih yang sekarang teronggok seperti sampah di lantai, Jeonghan akan mendesah secara dramatis, lalu menggerutu lagi dengan kata-kata tidak jelas.

Untunglah Jeonghan membawa tuxedo cadangan. Tuxedo itu cukup bagus meskipun tidak semewah dan seindah tuxedo putih yang sudah dirobek oleh Taehyung. Warnanya merah maron, membungkus tubuh Jungkook dengan sempurna.

"Nah sudah selesai"

Jeonghan meletakkan kuas bibir di meja dan menatap bayangan Jungkook di cermin.

"Lumayanlah, meskipun tidak semewah tadi."

Jungkook tanpa dapat ditahan melirik ke tuxedo putih di lantai itu dan menghembuskan napas sedih. Tetapi bagaimanapun juga, dibalik kekecewaannya ada kepuasan karena setidaknya dia bisa menunjukkan kalau dia bisa melawan Taehyung.

Betapa mengerikannya lelaki itu kalau marah, Jungkook mengernyit. Sejak usahanya yang terakhir kali untuk melarikan diri, penjagaan atas dirinya diperketat. Ada dua orang laki-laki berjas hitam dan berbadan kekar yang berjaga di depan pintunya.

Malam ini adalah pertama kalinya Jungkook diberi kelonggaran, untuk turun, keluar dari kamar ini. Kalau Jungkook cukup waspada, mungkin dia bisa melarikan diri dari rumah ini.

"Nah, pakai sepatu ini"

Jeonghan meletakkan sepatu hitam mahal yang elegan di karpet.

"Lalu aku akan mengantarmu turun, Tuan Taehyung menunggu di bawah, karena pesta sudah dimulai"

.

.

.

Ketika Jungkook menuruni tangga, seketika itu juga hatinya terasa kecut. Semua orang yang hadir di pesta ini berpakaian spektakuler, semuanya pasti tuxedo dan gaun rancangan terbaru dari desainer terkenal.

Para laki-laki berjas tampak berkumpul dan mengobrol di satu sudut dekat perapian, dan para perempuan tampak berkelompok dengan sahabat-sahabatnya menyebar di semua sisi ballroom itu.

Sebuah meja sajian besar di sudut menyajikan berbagai jenis makanan mewah. Bartender di satu sudut sibuk melayani permintaan tamu dan para pelayan berpakaian hitam putih hilir mudik, menawarkan nampan-nampan hidangan dan sampanye yang mengalir tak ada habisnya.

Ketika Jungkook menuruni tangga, semua pandangan tertuju padanya, hingga Jungkook merasakan tangannya berkeringat.

Jungkook mencari-cari Taehyung, tetapi lelaki itu sepertinya tidak ada. Dengan gugup, merasa terasing di keramaian, Jungkook berdiri diam, di sudut dekat jendela, memilih untuk mengamati daripada membaur.

Dia mengernyit ketika menyadari bahwa di setiap akses pintu keluar, semuanya berdiri dua atau tiga orang pengawal Taehyung dengan jas hitam yang serupa dan tampak selalu waspada. Jungkook harus melewati mereka kalau ingin keluar dari tempat ini.

"Itu kekasih Taehyung yang terbaru?"

sebuah suara sinis terdengar, rupanya pemilik suara sengaja supaya Jungkook mendengarnya.

Jungkook menoleh dan mendapati segerombolan perempuan-perempuan cantik tengah berbisik-bisik dan menatapnya dengan tatapan benci. Salah seorang perempuan, yang paling cantik dengan gaun hitamnya yang sangat seksi terang-terangan mengamati Jungkook dengan pandangan meremehkan dari atas ke bawah.

"Aku mendengar Taehyung mengajaknya tinggal bersama, bayangkan! Tidak ada satupun pria yang pernah diajak Taehyung tinggal bersama. Kupikir dia pria yang sempurna! Ternyata dia biasa saja, mungkin Taehyung sedang mabuk saat membawanya tinggal bersama"

"Aku pikir juga begitu"

perempuan di kelompok itu yang bergaun merah muda menyahut dengan suara yang tak kalah sinis.

"Mengingat sejarah kekasih-kekasih Taehyung selalu luar biasa. Tapi lihat dia, dia tampak tak cocok berada di sini, dia pasti bukan seseorang yang berkelas!"

"Bajunya baju lama, rancangan keluaran bulan lalu, dia pasti pria miskin"

suara perempuan lain berambut kemerahan dengan gaun biru muda, berbisik jahat, ikut memanaskan suasana

"Dia mempermalukan Taehyung dengan penampilannya"

"Dia tak pantas bersanding dengan Taehyung, berani bertaruh, sebentar lagi Taehyung pasti muak dan mencampakkannya"

perempuan seksi berbaju hitam itu mengibaskan rambutnya angkuh,

"Begitu melihatku, Taehyung pasti akan menyukaiku dan membuangnya. Yah walaupun Taehyung gay, aku yakin bisa meluruskannya lagi."

Pipi Jungkook memerah mendengar hinaan-hinaan yang dilemparkan terang-terangan kepadanya, Sabar Jungkook, desisnya dalam hati. Perempuan-perempuan jalang itu terbiasa hidup kaya sehingga kadang tak punya sopan santun.

"Menungguku, sayang?"

suara Taehyung terdengar dekat sekali di belakang Jungkook hingga ia terlonjak kaget. Jungkook menoleh dan mendapati Taehyung berdiri santai, sedikit bersandar di jendela di dekatnya. Lelaki itu tampaknya sudah lama berdiri di sana, dia pasti mendengar jelas semua hinaan-hinaan yang dilontarkan kepadanya tadi. Pipi Jungkook makin merona, merasa malu sekaligus terhina.

Taehyung mendekat, dan perempuan-perempuan di gerombolan itu tampak terkesiap dengan ketampanannya. Lelaki itu memang tampan, Jungkook menggumam dalam hati. Merasa kesal karena mau tak mau dia harus mengakui kebenaran yang terpampang di depannya.

Dengan rambut coklat yang sedikit acak-acakan, mata coklat muda yang dalam tapi tajam, bibir tipis yang melengkung jantan, dan tulang pipi tinggi yang membentuk sudut wajahnya sedemikian rupa, diimbangi dengan jas hitam legam yang membungkus tubuh ramping berototnya dengan pas, membuatnya tampak seperti malaikat tampan dengan nuansa jahat yang mempesona.

Taehyung tampaknya tahu sedang diperhatikan dengan terkesima oleh gerombolan perempuan-perempuan muda itu, tetapi dia sama sekali tidak menatap mereka. Matanya terpaku menatap Jungkook, dan senyum miring muncul di bibirnya

"Kau cantik sekali sayang"

Taehyung meraih Jungkook, merangkul pinggang Jungkook dengan lembut, lalu mengecup hidung Jungkook mesra.

"Dari semua orang di ruangan ini, kau yang paling cantik. Yang lainnya cuma sampah"

Taehyung mengucapkan kata-kata itu dengan lantang, yang terdengar langsung oleh gerombolan perempuan itu. Suara terkesiap terdengar dari sana, dan ketika Jungkook menoleh, perempuan-perempuan itu tampak berdiri dengan wajah merah padam, malu luar biasa atas hinaan Taehyung.

Lalu dengan berbagai alasan, mereka membubarkan diri dan berpindah tempat. Taehyung terkekeh, melihat tingkah mereka. Lalu menunduk dan menatap Jungkook, senyumnya langsung hilang

"Jangan coba-coba melarikan diri -dan jangan mencoba meminta tolong pada siapapun di sini, mereka tidak akan bisa menolongmu. Dan kalau sampai aku tahu kau melakukannya, kau akan dihukum" bisiknya dingin.

Sikapnya berubah kaku dan dia melepaskan pelukannya dari Jungkook, dan tanpa kata-kata lagi meninggalkan Jungkook.

Jungkook termangu, masih terpesona oleh pertunjukan sandiwara kasih sayang yang diperagakan Taehyung tadi. Apakah lelaki itu sengaja melakukannya untuk membelanya dari gerombolan perempuan-perempuan jahat itu?

"Sungguh kekasih yang baik"

Jungkook menoleh dan berhadapan dengan seorang lelaki berparas cantik berbaju putih yang tersenyum lembut kepadanya. Mungkin lelaki inilah satu-satunya tamu pesta ini yang mau menyapanya.

"Siapa?" Jungkook mengernyit ketika menyadari komentar lelaki itu barusan.

Lelaki itu tertawa kecil, bahkan tawanya pun terdengar merdu, Jungkook membatin dalam hatinya.

"Kim Taehyung, kekasihmu"

Lelaki itu mengedikkan bahunya ke arah kepergian Taehyung,

"Dia membelamu dengan gagah berani dihadapan perempuan-perempuan menjengkelkan itu – ups"

lelaki itu menutup bibirnya dengan jemarinya yang lentik.

"Aku tidak boleh mengatakannya, tapi mereka memang menjengkelkan bukan? Kalau bukan karena suamiku, aku tidak akan mau menghadiri pesta ini dan berbaur dengan mereka", lelaki itu tertawa lagi.

"Suami?" tanya Jungkook "Kau juga-"

"Kenapa kau terlihat kaget?", tanya Wonwoo, terkikik sebentar.

"Jika pertanyaanmu aku gay, ya. Jawabannya ya. Aku gay, dan memiliki suami yang tampan."

Jelas Wonwoo dengan kerlingan mata saat mengatakan bahwa suaminya tampan.

Jungkook bernafas lega. Dia pikir hanya dia saja yang terjebak dengan pria gay tampan. Ternyata ada juga orang lain yang bernasib sama sepertinya.

Tapi jika dilihat, dia lelaki yang bahagia. Lelaki sempurna yang bahagia. Dengan mata berbinar dang setelan jas mahal berwarna putih yang sederhana tapi indah di saat yang bersamaan. Suaminya pasti sangat mencintainya, Jungkook mengambil kesimpulan dalam hati.

"Ah ya maaf, aku mengoceh ke sana kemari, tetapi lupa memperkenalkan diri"

lelaki itu mengulurkan tangannya dan tersenyum.

"Aku Wonwoo"

Senyum ramah lelaki itu menular, Jungkook membalas uluran tangan Wonwoo dan ikut tersenyum lebar.

"Jungkook" gumamnya memperkenalkan dirinya

"Terima kasih sudah mau menyapaku"

Wonwoo tersenyum lagi, dan menatap ke arah gerombolan perempuan-perempuan tadi yang sekarang sudah saling berpencar dan asyik bergosip satu sama lain,

"Jangan pedulikan mereka, mereka hanya iri padamu"

Jungkook mengernyit,

"Iri padaku? Kenapa?"

"Ah kau pasti tak pernah mendengar dunia luar" Wonwoo tertawa lagi

"Gosip menyebar dengan cepat di dunia elit ini. Kau adalah lelaki yang paling hangat dibicarakan akhir-akhir ini"

"Kenapa?" Jungkook menatap Wonwoo penuh ingin tahu.

"Karena Kim Taehyung taipan paling dingin di sini, mengajakmu tinggal bersamanya di rumahnya"

Wonwoo mengedikkan dagunya.

"Meskipun memiliki banyak kekasih, Taehyung dikenal berprinsip mensterilkan rumahnya dari kehadiran lelaki maupun wanita. Tidak pernah ada satu priapun -selain pengawal- yang bisa tinggal di rumah ini. Bahkan katanya, kekasih-kekasihnya yang dulu belum pernah ada yang menginap di rumah ini, Taehyung lebih memilih menemui kekasih-kekasihnya di hotel miliknya"

Wonwoo menatap Jungkook dan tersenyum,

"Kaulah satu-satunya lelaki yang diajaknya tinggal dirumahnya, dan bahkan tak keluar-keluar sampai sekarang. Mereka semua merasa iri, karena apa yang kau alami adalah impian mereka semua, tinggal bersama dengan bujangan paling diminati di sini"

Jungkook tercenung. Mereka semua tak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Jungkook bukan kekasih Taehyung, dia tinggal di rumah ini bukan sebagai kekasih Taehyung, tetapi lebih seperti tawanan. Dia disekap dan dilecehkan semau Taehyung.

"Apakah kau juga salah satu dari mereka? Mengagumi ketampanan Taehyung?"

Spontan Wonwoo tertawa mendengar pertanyaan Jungkook.

"Tidak, menurutku suamiku yang paling tampan di dunia ini. Aku tidak sempat mengagumi lelaki lain"

Wonwoo tersenyum dan matanya berbinar penuh cinta ketika membayangkan suaminya.

Jungkook memalingkan muka, tiba-tiba merasa sedih menyadari betapa beruntungnya Wonwoo dibandingkan dirinya. Lelaki itu tampak begitu bahagia dan tanpa beban, sedang dirinya, bahkan dia tidak tahu akan dijadikan apa dirinya oleh Taehyung. Mata Jungkook berkaca-kaca ketika membayangkan kegagalan rencananya untuk melukai Taehyung yang malah membuatnya terjebak dalam cengkeraman lelaki iblis itu.

Wonwoo memperhatikan raut kesedihan di wajah Jungkook, dan dahinya berkerut.

"Kenapa Jungkook? Kau sakit?"

Jungkook menatap Wonwoo lagi, lelaki ini baik hati, mungkin saja Wonwoo bisa menolongnya.

"Tolong aku .."

Jungkook berbisik lemah, takut suaranya ketahuan, oleh Taehyung ataupun para pengawalnya yang bertebaran di mana-mana

"Tolong aku keluar dari sini"

Wonwoo mengernyit, jelas-jelas merasa kaget mendengar permintaan Jungkook, matanya menatap penuh tanda tanya.

"Apa Jungkook? Tapi .. Bukankah .."

"Disini kau rupanya, aku mencarimu kemana-mana sayang"

suara yang dalam itu mengalihkan perhatian Wonwoo dari Jungkook.

Jungkook menoleh dan terpesona menatap lelaki yang melingkarkan lengannya di pinggang Wonwoo dengan posesif.

Lelaki itu luar biasa tampan, dengan rambut cokelat yang berpadu nuansa keemasan dan mata sebiru langit. Wonwoo rupanya tidak main-main ketika mengatakan bahwa suaminya luar biasa tampan. Jungkook pun, jika memiliki suami setampan itu, pasti tidak akan mau melirik lelaki lain.

"Mingyu-ya .."

Wonwoo bergumam lembut, pipinya memerah, tampak malu-malu atas kemesraan terang-terangan yang dilakukan Mingyu.

Suami Wonwoo tampak amat sangat mencintai isterinya, Jungkook berkesimpulan dalam hati. Lelaki itu menatap Wonwoo seolah-olah akan melahapnya.

"Kita harus segera pulang. Mari kita berpamitan dulu pada tuan rumah"

"Tapi Mingyu, kita baru sebentar di sini ... Apakah sopan kalau ..."

"Ssshh"

Mingyu menghentikan protes Wonwoo dan menyentuh bibir Wonwoo dengan jemarinya lembut.

"Aku lebih ingin berada di rumah, bersama isteriku" gumamnya penuh arti.

Siapapun mengerti apa maksud kata-kata Mingyu. Bukan hanya Wonwoo, pipi Jungkook pun memerah mendengar nada kepemilikan penuh gairah Mingyu kepada isterinya. Wonwoo menyentuh lengan Mingyu lembut, mengalihkan perhatian Mingyu yang tampaknya tidak bisa lepas dari isterinya kepada Jungkook.

"Ini, kenalkan, Jungkook" gumam Wonwoo lembut.

Jungkook mengulurkan tangannya dengan sopan, dan Mingyu menjabat tangannya, lalu menatapnya dengan tajam. Membuat Jungkook merasa nyalinya sedikit menciut di bawah hujaman tatapan tajam dari mata sebiru langit itu.

"Jungkook yang itu?"

ada tanya dalam suara Mingyu, Wonwoo menyentuh lengan Mingyu lagi, mengingatkannya, lalu menatap Jungkook penuh permintaan maaf.

"Gosip cepat menyebar, bahkan di kalangan mereka, para suami",

gumamnya pada Jungkook, meminta pengertian.

Jungkook tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ada sedikit kekecewaan terbersit di hatinya. Mingyu sepertinya rekan bisnis Taehyung. Kalau begitu, pupus sudah harapannya meminta bantuan kepada Wonwoo.

"Ayo sayang, kita berpamitan"

Mingyu mengangguk pada Jungkook, lalu menarik pinggang isterinya untuk mengikutinya.

"Tunggu sebentar"

Wonwoo mengeluarkan kartu emas kecil dari tasnya.

"ini kartu namaku"

digenggamkannya kartu nama itu di jemari Jungkook.

"Hubungi aku kapan saja kau mau. Aku pikir kita bisa bersahabat"

Dan kemudian, pasangan sempurna itu menjauh dan tenggelam di keramaian pesta. Meninggalkan Jungkook yang masih berdiri terpaku di sana, menggenggam kartu nama itu erat-erat seolah hanya itulah tiket penyelamatannya.

. . .

"Dia meminta tolong kepadaku"

Wonwoo mengernyit sambil merebahkan kepalanya di dada Mingyu. Lelaki itu masih berbaring santai dengan mata terpejam, menikmati saat-saat tenang setelah percintaan mereka yang panas. Mata Mingyu terbuka, menatap Wonwoo penuh ingin tahu.

"Siapa sayang?"

"Jungkook, kekasih Taehyung"

Mingyu tercenung, lalu mengangkat bahunya

"Kurasa kita tidak usah ikut campur dalam urusan Kim Taehyung. Dia rekan bisnis yang luar biasa, dan aku senang perusahaanku menjalin kerjasama dengan perusahaannya, Tetapi dari segi pribadi .."

Mingyu mengusap-usapkan jemarinya di punggung telanjang Wonwoo

"Aku tidak terlalu menyukainya"

"Kenapa?"

Wonwoo menatap Mingyu ingin tahu,

"Yah .. Taehyung terkenal sangat .. kejam. Dia berpenampilan dingin dan kaku, tetapi ketika terusik, dia tak punya ampun. Kadang-kadang aku sedikit tak simpati atas sikap tak berbelas-kasihannya"

"Kalau begitu aku semakin mencemaskan Jungkook."

Wonwoo mengingat permohonan Jungkook tadi kepadanya,

"Dia minta tolong kepadaku untuk membantunya melepaskan diri dari rumah itu. Pandangannya begitu tersiksa, apakah mungkin Taehyung menyanderanya di rumah itu dengan paksa?"

"Mungkin saja"

Mingyu mengecup dahi Wonwoo lembut,

"Tetapi seperti kataku tadi, itu bukan urusan kita"

"Setidaknya maukah kau mencoba berbicara dengan Taehyung? Kau ada pertemuan besok pagi dengannya kan?"

Wonwoo menatap Mingyu penuh permohonan. Ada kecemasan di suaranya, apalagi ketika mengingat betapa Jungkook tampak sangat tersiksa ketika memohon kepadanya tadi.

Mingyu terkekeh, lalu menggulingkan tubuhnya menindih tubuh Wonwoo,

"Baiklah tuan puteri, akan kucoba"

didekatkannya wajahnya ke wajah Wonwoo, menggoda bibir Wonwoo dengan usapan bibirnya yang panas,

"Sekarang bisakah kita menghentikan pembicaraan kita tentang orang lain dan bercinta lagi?"

Wonwoo tidak menolak, bercinta dengan Mingyu selalu menjadi kegiatan yang luar biasa menyenangkan.

.

.

.

To be Continued

Whtsup GAY's?! Aphkabss? It's Mphii, maap baru bisa ambil *jatah* nulis skrg, setelah 2 minggu update-_-

Ini aja lagi nyuri2 waktu di jam kimia yg super duper bohsenn :v

I'm sorry typo bertebaran, mphii khilapp. Thanks buat ripiuu2 nya yg positif2, makasih bnyk. Thanks juga buat kukk yg udh gantiin mphii huhuu~ T_T

Btw ada yg kaget sama MEANIE COUPLE?

Ntah kenapa lagi kepincut sma ni couple, blm lagi pas tau marganya Kim ama Jeon, jadi samaan kan sma vkook 'xD. Tapi tenang.. VKOOK STILL MY OTEPEHH

Yasyudahh doakan saja supaya ep'ep ini bisa terus ada smpe end, kurang typo, dan bisa update sesuai jadwal xD, dan doakan juga mphii yg sedang beralih dari fangurl mnjdi pejuang UK2K17, hikss~ T_T

Yahh pokoknya mphii syg kuki

. . .

!And its me Kuki, situkang edit+post, sebelumnya hellaw again ma'Mphii ❤❤

Disini kuki cmn mau nambahin sedikit catatan. pertama, ada satu Riview yang bertanya kalau 'Siapa nama cast aslinya' nah, diOriginal storynya, cast yang berperan adalah Mikail sebagai Taehyung, dan Lana sebagai Jungkook.

Kedua, mungkin ada beberapa readers yang sempat berfikir 'Kenapa semua castnya bukan full member BTS?' Nah, sebenarnya Mphi dan Kuki satu pendapat sama kalian, tetapi ... karena suatu hal kesalahan sehingga terpaksa kami harus menambah beberapa cast member lain untuk lantjarnya cerita ini *huhu T_T

Dan yg terakhir, ada beberapa kalimat yang MphiKuk kurangi dan tambahin demi kenyamanan ff~~❣

Makaciww semuaa, fast updatee pasti kan yee XD Dan ini bisa dibilang Special Chapter, karena chapter ini adalah 2 BAB sekaligus, jadi panjang kan yee.

see you again in Dua hari kedepan^^❤