Sleep with the Devil

-TaeKook-

.

.

BoysLove inside | M-Preg

BTS X SVT

Disc: I'm not the Owner of this story.

Author just ReMake it by wearing TaeKook as cast.

So, if you want to Read the original Story, you can visit SanthyAgatha's blog on link below

www. anakcantikspot. blogspot. co. id (Delete Space)

Note: hasil Cerita ini diRemake oleh Dua Author. Dan kami sudah meminta izin kepada pemilik cerita ini (Santhy Agatha) untuk menghindari terjadinya pelanggaran Hak Cipta.

And, if you are still under age or Dislikes BL, please just left this page.


.

.

.

Kopi sudah dihidangkan, pertanda meeting santai itu sudah usai. Beberapa lelaki memilih keluar untuk merokok, sedangkan Mingyu duduk diam di ujung sofa, mengamati Taehyung yang masih sibuk mempelajari berkas-berkas di tangannya.

Taehyung bukanlah lelaki yang bisa membaur, lelaki ini penyendiri, dan wataknya yang terkenal membuat orang-orang segan mendekatinya.

Mingyu tidak akrab dengan Taehyung, mereka hanya berbicara tentang bisnis. Dan apabila menyangkut bisnis, Taehyung cukup kooperatif. Kerja sama mereka telah membuahkan banyak keuntungan bagi perusahaan masing-masing.

Mingyu ragu untuk menanyakan perihal Jungkook kepada Taehyung. Rasanya terlalu aneh untuk membahas masalah itu di sini.

Tetapi isterinya – Wonwoo yang cantik – telah berhasil membuatnya berjanji untuk melakukannya. Mingyu berdehem, menarik perhatian Taehyung dari berkas-berkas yang ditelusurinya dengan serius.

"Kami, aku dan isteriku bertemu dengan kekasihmu semalam"

Kepala Taehyung langsung terangkat seperti disentakkan, ia menatap Mingyu dengan waspada.

"Oh ya?"

nada suaranya santai, tetapi ketegangan dalam suara Taehyung tidak bisa menipu Mingyu, ada sesuatu di sini, batin Mingyu dalam hatinya, ada sesuatu yang dirahasiakan Taehyung.

"Yah, dia berkenalan dengan isteriku kemarin, dan berbicara panjang lebar dengannya."

Mingyu berusaha memancing Taehyung dan sepertinya pancingannya kena karena mata Taehyung menyipit dan menatapnya curiga.

"Apakah dia mengatakan sesuatu kepada isterimu?"

Mingyu menatap Taehyung lurus-lurus,

"Dia meminta tolong kepada isteriku untuk diselamatkan, supaya dia bisa keluar dari rumahmu"

Bibir Taehyung mengetat membentuk garis tipis, lalu dia segera berdiri.

"Bilang pada isterimu untuk tidak melakukan apa-apa. Pria itu milikku, dan siapapun tidak akan bisa melepaskannya dari rumahku, kecuali atas seizinku."

Taehyung menatap Mingyu lurus, menimbang-nimbang.

"Aku menghormatimu Mingyu, kau adalah salah satu dari sedikit orang yang aku hormati dan aku tidak ingin hubungan saling menghargai ini rusak. Maaf aku permisi dulu karena ada janji pertemuan dengan pihak lain setelah ini"

Setelah mengangguk kaku, Taehyung melangkah pergi meninggalkan ruangan meeting besar itu.

Mingyu duduk diam dan menyesap kopinya, matanya masih menatap pintu di mana Taehyung menghilang di baliknya.

Tingkah Taehyung mengingatkannya pada dirinya dulu. Senyum muncul dibibir Mingyu. Taehyung mungkin akan mengalami hal yang sama seperti dirinya, kalau dia tidak hati-hati kepada Jungkook.

. . .

Ketika pintu kamarnya dibuka dari luar, Jungkook tidak menyangka kalau Taehyung-lah yang masuk. Lelaki itu telah sepenuhnya mengabaikannya akhir-akhir ini. Jungkook bahkan hampir tidak pernah melihat lelaki itu, kecuali dari pemandangan ketika Taehyung memasuki mobilnya di teras bawah yang kelihatan dari jendela lantai dua tempat Jungkook dikurung.

Dan seperti biasanya, lelaki itu tampak marah. Jungkook mengerutkan alisnya, kenapa lelaki itu tidak pernah sedikitpun tampak ceria dan tersenyum? Kalaupun tersenyum, senyumnya hanyalah senyum jahat dan sinis.

Apakah lelaki itu tidak pernah merasakan bahagia sedikitpun di dalam hatinya?

Tanpa basa basi, Taehyung melempar jasnya ke kursi dan melonggarkan dasinya, lalu menatap Jungkook tajam.

"Apa yang kau katakan kepada Isteri Mingyu?"

Jungkook langsung mengkerut takut. Wonwoo mungkin telah menyampaikan permintaan tolongnya kepada Mingyu, dan Mingyu mengatakannya kepada Taehyung.

Ketika rasa ketakutan menggelayutinya, Jungkook langsung menggelengkan kepalanya mencoba mengembalikan keberaniannya. Diingatnya wajah ayah dan ibunya yang bahagia, lalu tergantikan dengan wajah pucat mereka yang terbaring di peti mati. Kebencian dan kemarahan adalah senjatanya untuk menghadapi Taehyung.

"Aku memang meminta tolong kepada Wonwoo untuk menyelamatkanku"

Jungkook mengangkat dagunya angkuh, menantang Taehyung. Taehyung menggeram marah, matanya menyala.

"Coba saja kalau kau berani, meminta Wonwoo untuk membebaskanmu, dan kalau pria itu berani melakukan sesuatu, aku akan melenyapkan nyawanya."

Taehyung mendesis geram.

"Dan aku tidak pernah main-main dengan perkataanku Jungkook, kebebasanmu akan diganti dengan nyawa orang-orang yang lengah atau orang-orang yang mencoba menyelamatkanmu"

Wajah Jungkook memucat. Apakah Taehyung benar-benar akan melukai Wonwoo? Diingatnya senyum lembut di wajah indah Wonwoo dan kebaikan hati pria itu. Ah ya Tuhan, Wonwoo adalah satu-satunya kesempatannya untuk melepaskan diri. Tetapi jika gantinya Taehyung akan melukai Wonwoo, maka Jungkook tidak punya kesempatan apa-apa lagi.

"Kenapa kau tidak melepaskanku? Aku muak menjadi tawananmu"

Taehyung menyipitkan matanya, mengamati Jungkook dari ujung kepala sampai kaki.

"Terlalu mudah jika aku melepaskanmu, kau pasti akan mencari cara untuk membalaskan dendammu lagi .. dan terlalu mudah pula kalau aku membunuhmu, tubuhmu terlalu nikmat untuk mati sia-sia."

Taehyung melangkah mendekat, dan otomatis Jungkook langsung melangkah mundur.

"Jangan .. jangan mendekat!"

Jungkook tanpa sadar mencengkeram dadanya dengan gerakan melindungi diri. Taehyung sudah pernah memaksakan kehendak kepadanya, memar di tangannya masih terasa nyeri, bekas ikatan dasi yang kejam di pergelangannya.

Taehyung hanya tersenyum meremehkan melihat gerakan Jungkook itu.

"Kau tahu kau tidak bisa menolak kalau aku ingin memaksamu. Apakah kau tidak belajar dari pengalaman bercinta kita kemarin?"

dengan tenang lelaki itu melemparkan dasinya yang sudah dilonggarkan ke lantai, lalu melepas kancing kemejanya, satu demi satu.

Jungkook menatap pemandangan di depannya itu dengan panik.

"K-Kau … kau mau apa?"

"Menurutmu aku mau apa?"

Taehyung melemparkan kemejanya dan berdiri dengan dada telanjang di depan Jungkook. Tubuh lelaki itu luar biasa indah, ramping tapi kuat dengan otot-ototnya yang menyembul, terlihat begitu keras.

"Aku mau mandi."

Taehyung tampak geli melihat keterkejutan Jungkook.

"Dan kau ikut denganku"

Wajah Jungkook memucat dan menatap Taehyung dengan marah.

"Apa-apaan? Kenapa kau mandi disini? Kau … kau kan punya kamar mandi sendiri di kamarmu … i-ini adalah .."

"Ini adalah kamar kekasihku"

Taehyung menyelesaikan kalimat Jungkook dengan tenang.

"Ya. Kau kekasihku Jungkook, kau harus terima itu. Kau ada di sini untuk memuaskan nafsuku"

"Kurang ajar!"

Jungkook menyembur marah, dan didorong akan rasa tersinggungnya atas hinaan Taehyung, Jungkook maju dan mencoba mencakar wajah tampan Taehyung.

Tetapi Taehyung cukup gesit, digenggamnya lengan Jungkook, dan dengan gerakan cepat di telikungnya tangan Jungkook di belakang punggungnya.

"Tidak semudah itu Jungkook, ingat itu, aku laki-laki yang cukup kuat. kalau kau bersikap baik, aku akan bersikap baik kepadamu, tetapi kalau kau menantangku, aku mungkin akan menyakitimu."

Dengan satu tangan masih menelikung Jungkook, Lelaki itu meraih dagu Jungkook dan memaksa mengecup bibirnya dengan panas.

"Ketika aku bilang kau harus mandi denganku, maka kau akan melakukannya"

Taehyung mendorong Jungkook masuk ke kamar mandi dengan nuansa marmer putih itu.

. . .

Taehyung merasa dirinya hampir gila. Dia tidak berhubungan seks dengan siapapun akhir-akhir ini. Karena dia tidak tertarik. Gairahnya terpusat kepada Jungkook, pria ini membuatnya ingin menundukkannya, menaklukkannya, dan mendominasinya dengan posesif.

Taehyung ingin Jungkook tunduk di kakinya, memujanya seperti yang dilakukan banyak orang kepadanya.

Well itu mungkin butuh waktu lama, Taehyung mengernyit melihat ekspresi Jungkook. Pria ini harus selalu dipaksa, harus selalu diikat, dan Taehyung sebenarnya tidak suka menyakiti pria yang akan ditidurinya.

Bukti gairahnya terlihat jelas, dan Jungkook menolak untuk melihatnya, Taehyung mendorong tubuh Jungkook ke pancuran, membiarkan air hangat membasahi mereka berdua.

Ketika Jungkook sekali lagi mencoba memberontak, Taehyung mencengkeram kedua tangannya erat-erat ke dinding dan merapatkan tubuhnya, menempelkan bukti gairahnya ke pusat tubuh Jungkook, membuat wajah Jungkook merah padam,

"Hati-hati Jungkook, aku tidak ingin menyakitimu, aku cuma ingin mandi"

Jungkook mengerjap,

"Mandi?"

Ada sinar geli di mata Taehyung.

"Ya, mandi, kau pikir aku mau apa?"

Pipi Jungkook makin memerah, apalagi ketika matanya tersapu pada kejantanan Taehyung yang mengeras, terlihat jelas laki-laki itu sudah amat sangat terangsang.

Taehyung mengikuti arah tatapan Jungkook dan tersenyum.

"Aku cuma ingin mandi, tetapi sepertinya kau lebih tertarik dengan yang lain"

Jungkook menatap marah ke mata Taehyung, tetapi lelaki itu hanya terkekeh,

"Terserah kau, kau mandi di sini bersamaku. Atau kalau kau lebih memilih menantangku, kita bisa berakhir dengan hubungan seks yang hebat di kamar mandi. Sekarang tolong gosok punggungku dengan sabun."

Taehyung melepaskan celananya, terkekeh lagi ketika Jungkook langsung memalingkan wajahnya, tak mau melihat.

"Ayo, gosok punggungku"

Taehyung membalikkan tubuhnya, membiarkan pundak dan bahunya diterpa air hangat dari shower, yang mengalir menuruni punggung berototnya dan turun ke pantatnya yang kencang.

Jungkook terpana dan mengerjapkan matanya ketika menyadari bahwa matanya terpaku pada keindahan tubuh Taehyung yang berotot dan keras. Ramping tapi jantan, dan semua begitu proposional pada tempatnya, seolah Tuhan menciptakan laki-laki ini sambil tersenyum.

Taehyung menolehkan kepalanya dan menangkap basah Jungkook yang sedang mengamati tubuhnya. Tatapan sensualnya memancar, panas, dan bergairah. Tetapi kemudian dia mendapati mata Jungkook yang berputar ke seluruh penjuru kamar mandi.

Pria ini masih belum menyerah dalam usahanya untuk melukai Taehyung. Taehyung berani bertaruh bahwa Jungkook sedang mencari-cari senjata, sesuatu – mungkin untuk dipukulkan ke kepala Taehyung yang sedang lengah.

"Jungkook .."

suara Taehyung terdengar rendah dan mengancam, meskipun sebenarnya lelaki itu sangat menikmati mengucapkan nama Jungkook lambat-lambat di mulutnya.

"Kalau kau tidak melakukan perintahku dan sibuk mencari cara untuk melakukan – entah rencana apa yang ada di dalam kepalamu yang cantik itu, maka mungkin saja aku akan berubah pikiran dan langsung menyetubuhimu saja"

Jungkook terlonjak, dan langsung meraih sabun cair, lalu mengusapkannya ke punggung Taehyung yang keras dan berotot itu.

Sentuhan itu membuat keduanya sama-sama terkesiap. Taehyung bahkan tidak bisa menahan erangannya, kejantanannya sudah begitu keras. Seperti batu di bawah sana hingga terasa menyakitkan, memprotes untuk dipuaskan.

Sentuhan tangan lembut Jungkook di punggungnya semakin memperburuk keadaan, membuatnya terangsang sampai di tingkat dia tak dapat menanggungnya.

Jungkook mengernyit mendengar suara erangan Taehyung. Dia tidak dapat melihat ekspresi Taehyung sekarang, yang hanya bisa melihat rambut belakang Taehyung yang kecoklatan dan sekarang basah, menempel di tengkuknya.

"Kenapa?"

Jungkook bertanya, pada akhirnya ketika Taehyung mengerang lagi. Jemarinya menggosok lembut bahu dan punggung Taehyung yang sekarang licin karena sabun.

Guyuran air hangat membasahi mereka berdua, membuat kaca-kaca kamar mandi itu berembun karena uapnya.

Taehyung menggertakkan giginya, mencoba menahan gairahnya.

"Tidak apa-apa"

suaranya berupa erangan yang dalam, mencoba menahan dirinya ketika tangan lembut Jungkook yang berlumuran sabun itu menyentuh pinggangnya. Dia ingin merenggut tangan itu, menyentuhkan ke kejantanannya yang sangat menginginkannya, dan kemudian memuaskan dirinya di dalam tubuh Jungkook.

Tetapi dia tidak bisa. Taehyung ingin membuat Jungkook menyerahkan dirinya dengan sukarela. Dua percintaan mereka yang terakhir tidak dilakukan dengan sukarela. Meskipun pada akhirnya Taehyung bisa membuat Jungkook merasakan kenikmatan.

Kim Taehyung, tidak pernah memaksa kekasihnya jatuh ke dalam pelukannya. Para kekasihnyalah yang berebut untuk dipeluk olehnya. Dan itu harus terjadi pada Jungkook. Jungkook-lah yang harus menyerah dalam pelukannya.

Taehyung memejamkan matanya, membayangkan bagaimana nikmatnya nanti ketika Jungkook pada akhirnya menyerah ke dalam pelukannya dan memohon kepadanya.

Taehyung melirik kepada Jungkook, dan … Astaga ! Demi para dewa yang ada di semesta alam ini. Jungkook masih memakai pakaian lengkap, dan yang membuat semuanya lebih buruk.

Pakaian Jungkook adalah baju putih kebesaran dan celana pendek tipis yang juga berwarna putih. Dan ketika baju itu basah kuyup, malahan membuat tubuh Jungkook begitu seksi, tercermin samar-samar di balik pakaian putih yang membuatnya tampak misterius.

Taehyung menggertakkan giginya. Dia tidak tahan lagi bermain-main seperti ini. Ada di dekat Jungkook, telanjang, dan siap seperti ini membuatnya merasa hampir gila.

Pria ini harus menyerah padanya. Harus!

.

.

.

Taehyung memasang jasnya dan menoleh pada Yoongi yang berdiri menungguinya di dekat pintu.

"Bagaimana dengan kasus terakhir itu? Sudah kau bereskan?"

Yoongi mengangkat bahunya.

"Tuan Namjoon memendam kemarahan kepada tuan. Apalagi karena tindakan tuan sudah menggilas habis seluruh perencanaan proyeknya"

Taehyung tersenyum, membayangkan wajah Namjoon, saat ini pasti sedang merah padam karena marah.

"Dia selalu marah kepadaku, sejak awal. Tetapi sampai sekarang dia tidak akan bisa berbuat apa-apa kepadaku. Dia tahu dia akan mati kalau sekali saja dia mencoba membunuhku, lalu gagal."

"Bagaimana kalau dia mencoba dan berhasil?"

Yoongi menyela dengan cepat.

"Tuan Namjoon sangat licik dan bertangan kotor. Dia menggunakan banyak orang untuk mencapai tujuannya, kita tidak boleh meremehkannya dan harus selalu berhati-hati."

Yoongi menatap Taehyung dengan tatapan mata serius.

"Seharusnya tuan menyuruh saya untuk membereskan orang itu dari dulu, supaya dia tidak berani berbuat macam-macam"

Taehyung menggelengkan kepalanya tak peduli,

"Dia tidak akan berani, dan kalaupun dia berani melakukan apapun … aku sendiri yang akan menghabisinya"

Kim Namjoon adalah salah satu musuh bisnis Taehyung. Lelaki itu bersikap munafik karena di depan Taehyung dia selalu bersikap baik dan bersahabat. Tetapi Taehyung tahu kalau lelaki itu menyimpan kebencian yang amat mendalam kepadanya karena bisnisnya semakin terpuruk akibat gilasan ekspansi yang dilakukan Taehyung.

Taehyung sadar dia memang tidak boleh meremehkan Namjoon, karena Namjoon punya teman-teman penting di balik bisnis kotornya. Berdasarkan penyelidikan yang dilakukan anak buahnya, lelaki itu berhubungan dengan sindikat senjata gelap dan kelompok-kelompok bawah tanah.

Tidak menutup kemungkinan Namjoon pada akhirnya akan menyewa salah seorang dari mereka untuk membunuhnya. Taehyung, meskipun dibekali dengan kemampuan bela diri dan sangat ahli dalam berbagai jenis senjata serta dikelilingi oleh pasukan pengawalnya yang kompeten, harus selalu waspada.

Suatu saat, ketika Namjoon sudah terasa sangat mengganggu seperti hama penyakit yang harus dibasmi, Taehyung sendiri yang akan membereskannya. Tetapi tidak sekarang, mungkin reputasi Taehyung yang kejam membuat Namjoon sangat berhati-hati dalam bertindak, Taehyung ingin melihat sejauh mana gerakan Namjoon, baru setelah itu dia memutuskan akan dibagaimanakan sampah itu.

Nanti. Gumam Taehyung dalam hati, Sekarang dia harus makan malam dengan prianya.

Setelah merasa puas dengan penampilannya, Taehyung memutar tubuhnya dan mengedikkan bahunya kepada Yoongi.

"Dia sudah siap?"

Yoongi menganggukkan kepalanya,

"Jeonghan sudah menyiapkannya dari satu jam yang lalu."

Yoongi membungkukkan badannya, lalu membukakan pintu untuk Taehyung.

. . .

Ketika didandani oleh Jeonghan, Jungkook sudah terlalu lelah untuk melakukan pemberontakan sekecil apapun. Dia bahkan tadi tidak bertanya apapun ketika Yoongi mengantar Jeonghan ke kamarnya dan laki-laki itu tiba-tiba mendandaninya,

"Sepertinya kau berubah menjadi pendiam, kau tidak ingin tahu mengapa kau didandani?"

Jeonghan bertanya setelah dia selesai mengoleskan eyeliner berwarna hitam dengan tipis dimata Jungkook.

Jungkook hanya menggelengkan kepalanya, tidak mampu menjawab. Ingatan akan kejadian di kamar mandi tadi membuat perasaannya campur aduk. Oh ya, sesuai janjinya, Taehyung hanya mandi.

Setelah Jungkook selesai menyabuni punggungnya, Taehyung meneruskan mandi dan kemudian dengan tatapan lancang, menawarkan diri untuk memandikan Jungkook – yang tentu saja langsung ditolaknya mentah-mentah dengan berbagai sumpah serapah yang menyembur dari bibirnya.

Taehyung hanya tersenyum, mengambil handuk putih, mengikatkannya di pinggangnya dan melangkah pergi dengan santai. Meninggalkan Jungkook yang masih terpaku dalam guyuran air shower kamar mandi itu.

Taehyung benar-benar terangsang. Jungkook tidak perlu memegang untuk mengetahui itu, bukti kejantanan Taehyung sudah menonjol tanpa tahu malu. Tetapi kenapa lelaki itu tidak melakukan apa-apa kepadanya? Bukannya Jungkook ingin pria itu melakukan apapun kepadanya. Tetapi bayangan itu, bayangan Taehyung yang bergitu bergairah tidak bisa hilang dari pikirannya.

Entah kenapa perasaan malu dan terhina merambati pikiriannya, Sungguh memalukan! Mungkinkah sebenarnya di dalam dirinya tersembunyi sosok pria jalang yang siap meledak? Atau jangan-jangan Taehyung memang begitu ahli merayu sehingga membuat Jungkook hampir-hampir bertekuk lutut di kakinya?

"Sudah selesai"

suara Jeonghan terdengar puas, mengembalikan Jungkook dari lamunannya.

Jungkook sedikit melirik ke cermin, pada mulanya tidak begitu tertarik akan hasil dandanan Jeonghan, tetapi mau tak mau pandangan matanya tertahan lebih lama di sana.

Tuxedo hitamnya tampak elegan, dan Rambutnya disisir kesamping. Secara keseluruhan, penampilannya tampak begitu elegan dan berkelas.

Jeonghan memang hebat bisa membuat penampilannya berubah drastis seperti ini.

"Tuan Taehyung akan mengajakmu makan di Atmosphere"

Jeonghan mengernyit ketika melihat Jungkook tampak biasa saja mendengar nama restaurant itu.

"Hei itu restaurant bintang lima paling berkelas di sini, di sana akan ada banyak mata yang melihat dan menilamu, tapi jangan pedulikan mereka"

Jeonghan memutar matanya genit

"Mereka hanya iri karena kau bersama bujangan yang paling diminati."

Bujangan paling diminati? Tanpa sadar Jungkook memutar matanya, mungkin orang-orang itu terlalu silau akan ketampanan Taehyung hingga buta akan semua sifat buruknya.

Pintu terbuka dan Yoongi masuk,

"Sudah siap?"

pengawal berwajah dingin itu sedikit mengangkat alisnya melihat penampilan Jungkoom, tetapi wajahnya tetap datar.

"Tuan Taehyung sudah menunggu di bawah."

.

.

.

Jungkook diantar ke ballroom bawah dan Taehyung berdiri di sana. Lelaki itu sekilas melemparkan pandangan memuji, tetapi tidak mengatakan apa-apa.

Di dalam mobilpun dilalui dalam keheningan. Lelaki itu rupanya berniat mempertahankan keheningan sampai ke tujuan. Tetapi Jungkook tidak tahan, satu-satunya senjata agar dia tidak jatuh dalam pesona Taehyung adalah dengan terus menerus melawannya.

"Kenapa kau ajak aku makan malam di luar?" akhirnya Jungkook memecah keheningan itu dengan pertanyaannya.

Taehyung menoleh sedikit dan menatap Jungkook dengan pandangan malas,

"Aku lapar"

Jungkook mendengus jengkel mendengar jawaban itu.

"Kau punya 3 koki hidangan internasional di rumahmu"

begitu yang sempat Jungkook dengar dari obrolan para pelayan.

"Aku sedang ingin makan di luar, dan kau .."

Taehyung menatap Jungkook dengan tatapan – awas kalau kau berani membantah-

"Kau adalah kekasihku, jadi kau harus mendampingiku"

Tentu saja Jungkook membantah.

"Aku bukan kekasihmu"

"Ya, kau adalah kekasihku. Pria yang kutiduri lebih dari satu kali otomatis menjadi kekasihku"

"Bukan!"

Jungkook menyela keras kepala, wajahnya memerah mendengar omongan Taehyung yang vulgar itu.

"Jungkook.."

Taehyung mengeluarkan suara mengancamnya yang khas,

"Jangan menantangku. Kau tahu aku sedang tidak ingin berdebat denganmu, suasana hatiku sedang buruk dan aku muak dengan semua perlawananmu. Jadi jangan coba-coba memancing kesabaranku"

"Kalau kau muak denganku seharusnya kau lepaskan aku"

"Tidak"

Taehyung menjawab cepat, hanya sepersekian detik setelah Jungkook menutup mulutnya,

"Hentikan Jungkook, kau tidak akan kulepaskan."

"Kenapa?"

"Kau tahu kenapa .."

Taehyung jelas tampak jengkel.

"Tidak, aku tidak tahu" jawab Jungkook keras kepala.

"Karena .."

suara Taehyung sedikit menggeram, dan dalam sekejap lelaki itu mencengkeram rahang Jungkook dengan jemarinya, lembut tetapi mengancam,

"Karena aku sangat suka memasukimu, merasakan anusmu membungkusku dengan panas, lalu mendengarmu merintih karena orgasmemu. Jelas?"

Sangat Jelas. Dan Taehyung berhasil membuat Jungkook terdiam. Sepanjang perjalanan mereka tidak berucap sepatah katapun lagi.

. . .

Di suatu sudut yang gelap sebuah telephone terangkat, Namjoon sedang duduk di kursi besarnya sambil merokok. Segelas brandy dengan botolnya yang setengah penuh tampak di sampingnya, tampangnya yang jelek dengan hidung memerah karena mabuk tampak waspada.

"Sudah berhasil?"

lelaki itu bertanya cepat.

Jeda sejenak, lalu suara dalam di sana menjawab dengan tenang,

"Mereka sudah keluar dari rumah itu. Rencana akan dijalankan nanti ketika mereka pulang."

"Bagus, kabari aku kalau sudah beres."

"Baiklah. Anda tidak akan kecewa karena telah menyewa saya untuk membunuh Kim Taehyung."

Telephone ditutup, dan Namjoon terkekeh dalam kegelapan. Menengguk minumannya, untuk perayaan awal. Kim Taehyung musuh besarnya. Lelaki itu sudah menghancurkan bisnisnya dengan ekspansi yang dilakukannya.

Dan bukan hanya itu, Namjoon didera oleh perasaan iri dan benci yang luar biasa kepada Taehyung. Entah kenapa Taehyung diciptakan begitu sempurna, dari segi fisik. Sehingga semua orang berhamburan untuk berlutut dikakinya.

Namjoon dengan wajah jeleknya sudah terlalu sakit hati karena ditolak perempuan maupun pria, semua yang mau tidur dengannya hanyalah pelacur-pelacur yang harus dibayar.

Kim Taehyung harus dienyahkan, lelaki seperti itu tidak boleh hidup di dunia ini. Dan malam ini mungkin adalah malam terakhir lelaki itu hidup.

.

.

.

To be Continued

H-hallo~ *nervous

Kuki minta maap kalo telat *dikit X'D* u know Geography killing me right now TT but, kuki terus usahain ngedit disela" jam kosong TT

Thankyou❣

-Kuki

Maapin mphii, kukk~~ TT , fisika klling me thoo 'xD , mphii bantu ngedit dkkit aja yaa kukk^^ doainn mphi sukses UN (^ω^)

Btw thanks buat reader-nim yg setia baca+ripiuu, tambah syg dehh :"v *cipokk smpe basahh..*

-Mphii