Sleep with the Devil

-TaeKook-

.

.

BoysLove inside | M-Preg

BTS X SVT

Disc: I'm not the Owner of this story.

Author just ReMake it by wearing TaeKook as cast.

So, if you want to Read the original Story, you can visit SanthyAgatha's blog on link below

www. anakcantikspot. blogspot. co. id (Delete Space)

Note: hasil Cerita ini diRemake oleh Dua Author. Dan kami sudah meminta izin kepada pemilik cerita ini (Santhy Agatha) untuk menghindari terjadinya pelanggaran Hak Cipta.

And, if you are still under age or Dislikes BL, please just left this page.


.

.

.

Taehyung menggandeng tangan Jungkook dengan formal ketika memasuki restaurant. Sang kepala restaurant sendiri yang menyapa mereka dan mengantarkan mereka berdua ke meja yang sudah disiapkan.

Taehyung tampak akrab dengan kepala restaurant itu, dan Jungkook melihat kepala restaurant, seorang lelaki Perancis dengan logat Perancis yang kental. Sesekali Taehyung berbicara dalam bahasa Perancis yang lancar dan tersenyum menanggapi perkataan kepala restaurant itu.

Dari informasi yang pernah didapat Jungkook, ayah Taehyung adalah orang Italia dan ibunya keturunan Perancis. Mungkin ini sebabnya Taehyung lancar berbahasa Perancis, meskipun itu bukan urusannya. Jungkook cepat-cepat mengalihkan pikirannya dari Taehyung.

Ketika kepala restaurant itu pergi, Taehyung menarikkan kursi untuk Jungkook dan duduk di depan Jungkook

"Restaurant ini milik ibuku"

Taehyung menatap kepergian kepala restaurant itu.

"Lee Seokmin adalah asisten ibuku sejak lama, dia mencintai restaurant ini seperti mencintai hidupnya"

Jungkook terdiam menatap Taehyung. Orang tua Taehyung juga telah meninggal, itu yang dia tahu, tetapi entah kenapa, informasi tentang orang tua Taehyung itu tersimpan rapat, jauh sekali hingga tidak ada seorangpun yang bisa menggalinya.

Seorang pelayan datang dan Taehyung memesan lagi dalam bahasa Perancis yang fasih. Ketika hidangan pembuka datang, Jungkook terpesona dengan tampilannya.

Taehyung menjelaskan bahwa makanan itu adalah L'imperial de saumon marine yang ternyata adalah filet salmon asap.

Ditemani dengan Creme, potongan jeruk citrus, dan Roti Baggue. Penyajiannya begitu indah, seperti hamparan padang pasir di atas piring lengkap dengan suasana eksotisnya.

Jungkook menyuap untuk pertama kalinya dan mendesah, merasakan crème itu meleleh di mulutnya dan menciptakan cita rasa yang bercampur baur antara rasa manis dan kelembutan yang nikmat.

Tak disadarinya bahwa Taehyung menatap ekspresinya itu dengan tatapan kelaparan. Suasana hati Taehyung luar biasa buruknya, hasratnya yang tidak terlampiaskan membuatnya frustrasi luar biasa. Dia amat sangat ingin meledak … di dalam tubuh Jungkook.

Taehyung memesan anggur Chardonnay sebagai teman makan mereka, sambil berharap malam ini Jungkook sedikit mabuk sehingga mengendorkan pertahanannya.

Tetapi pikiran bercinta dengan Jungkook dalam kondisi pria itu mabuk sama sekali tidak menyenangkannya. Dia ingin Jungkook sukarela, melingkarkan pahanya di tubuhnya, ketika tubuh mereka bersatu. Saat itu akan datang pada akhirnya, kalau Taehyung mau bersabar dan menundukkan pia keras kepala ini pelan-pelan.

Hidangan utama datang, yakni Parmentier de canard et son bouquet de verdure, hidangan daging bebek yang dipanggang hingga cokelat muda dan berminyak bersama dengan kentang lembut yang dihancurkan, dan disajikan bersama semangkuk salad.

Rasanya luar biasa lezat dengan paduan bumbu-bumbu yang tidak biasa dan khas, membuat Lana terpesona akan citarasa masakan khas perancis ini.

Pantas saja restaurant ini dianugerahi lima bintang.

"Kau menyukainya?"

dalam cahaya lampu yang temaram, Taehyung tampak lebih lembut. Garis kejam di bibirnya tampak memudar dan itu membuatnya tampak lebih santai.

Jungkook ingin membantah, tetapi ia tidak ingin merusak suasana indah ini. Terkurung selama berminggu-minggu di dalam kamar terkutuk itu dan sekarang entah kenapa Taehyung berbaik hati membawanya keluar – meskipun dengan pengawalan ketat – Jungkook sempat melirik ke arah pengawal-pengawal Taehyung yang berdiri seperti biasa di akses pintu keluar.

Jungkook menganggukkan kepalanya. Dia memang sangat menikmati semua ini, bukan hanya makanan – meskipun makanan di rumah Taehyung tidak kalah nikmatnya – tetapi bisa makan dengan pemandangan bebas, bukan pintu kamar dan ruangan yang selalu terkunci sangat menyenangkannya.

"Bagus"

Taehyung bergumam puas, lalu memanggil pelayan untuk menghidangkan hidangan penutup, dan kopi.

"Aku ingin gencatan senjata"

Jungkook mengalihkan pandangan tertariknya pada hidangan penutup yang baru datang itu. Itu adalah crème brûlée, hidangan cantik dari krim yang dibakar di permukaan atasnya sehingga membentuk lapisan karamel renyah tapi lembut di bagian bawahnya.

"Gencatan senjata?"

ketika menyadari arti dari kata-kata Taehyung, Jungkook waspada sepenuhnya.

"Aku akan memperlakukanmu dengan baik, bukan sebagai tawanan, tetapi sebagai kekasihku. Menurutku kita bisa menjalin hubungan kerja sama yang cukup baik"

Jungkook tergoda. Bukan, bukan tergoda menjadi kekasih Taehyung. Tetapi tergoda akan janji itu, bahwa Taehyung tidak akan memperlakukannya sebagai tawanan, yang berarti akan melonggarkan keamanan ketat yang selama ini menjaganya.

Itu berarti kesempatannya untuk melarikan diri akan. Taehyung sepertinya bisa membaca pikiran Jungkook dari raut wajahnya, bibirnya mengetat marah dan lelaki itu menggeram.

"Lupakan saja!"

dengan marah Taehyung melempar serbetnya lalu berdiri.

"Yoongi!"

Dengan cepat Yoongi menyiapkan mobil Taehyung, dan Jungkook mendapati dirinya ditarik pergi meninggalkan restaurant itu.

. . .

Dalam kegelapan, sosok itu mengawasi, kabel rem mobil itu sudah berhasil dipotongnya. Susah memang, mengingat pengawal-pengawal Taehyung selalu siaga.

Tetapi jangan panggil dia J-hope, nama samarannya di dunia gelap yang cukup populer sebagai pembunuh bayaran paling ahli.

Potongannya sudah diatur dengan rapi, ketika diperiksa sekarang pun tidak akan ada yang menyadarinya. Tetapi seiring dengan berjalannya mobil, dan kira-kira 10 kilometer dari sini, tepat ketika mereka memasuki area pinggiran kota dengan jalan berliku dan pohon besar di kiri kanannya menuju rumah Taehyung, Kabel itu akan putus.

J-hope terus mengawasi sampai mobil itu berjalan dan menghilang di tikungan, lalu tersenyum jahat, sekarang saatnya menagih bayarannya kepada Namjoon.

. . .

Ketika mereka dalam perjalanan pulang, suasana hati Taehyung tampaknya lebih buruk dari sebelumnya. Jungkook mengernyit menatapnya. Apakah Taehyung selalu melalui hari-harinya dengan marah-marah seperti ini? Lelaki itu pasti akan mati muda, pikirnya dengan puas.

Perjalanan itu berlangsung sedikit lama dan Jungkook mengantuk mungkin karena pengaruh anggur dan makanan tadi. Jungkook mulai memejamkan mata dan godaan untuk tidur terasa sangat nikmat.

"Jungkook!"

teriakan itu mengejutkan Jungkook, membuatnya terperanjat kaget, ketika sadar dia merasakan dirinya ada dalam dekapan Taehyung, didekap dengan begitu kuat hingga merasa sakit. Seluruh tubuh Taehyung melingkupinya seolah melindunginya. Melindunginya dari apa?

Sekejap kemudian, mereka berguling dan benturan keras mengenai kepalanya, membuat semuanya gelap dan Jungkook tidak ingat apa-apa lagi.

.

.

.

"Bagaimana dia?"

Taehyung menyeruak di antara kerumunan perawat itu. Para perawat di ruangan lain tampak mengejarnya karena luka di lengannya belum selesai dibalut.

Dokter dan perawat yang menangani Jungkook menoleh serentak dan sedikit terpana ketika menyadari bahwa di pintu ruangan gawat darurat itu, berdiri sosok lelaki yang luar biasa tampan,mengenakan kemeja putih yang penuh darah, dan tampak begitu marah.

"Bagaimana dia?!"

sekali lagi Taehyung bertanya, dengan nada sedikit berteriak.

Dokter Jung Hoseok, yang bertugas di sana, cukup mengetahui reputasi Taehyung yang begitu kejam dan cepat naik darah –lagipula, lelaki itu adalah pemilik rumah sakit ini.

Dia menghampiri Taehyung dan mencoba menjelaskan,

"Dia baik-baik saja Tuan Taehyung, kami sudah menjahit luka dikepalanya. Tetapi dia kehilangan banyak darah, dan saat ini kami sedang mencari darah dari penyedia terdekat."

"Cari darah itu .. Yoongi!"

Taehyung berteriak memanggil Yoongi, yang dari tadi sebenarnya sudah berdiri di belakangnya.

"Dia akan membantu mencari darah untuk Jungkook, apa golongan darahnya?"

"AB" dokter itu menjawab cepat, tiba-tiba merasa takut akan api yang menyala di mata berwarna cokelat muda itu.

Taehyung tertegun sejenak,

"Ambil darahku, aku juga AB"

"Tuan Taehyung, Anda juga habis terluka karena kecelakaan ini"

Yoongi menyela cemas.

"Kami tidak bisa mengambil darah Anda tuan, kondisi Anda tidak memungkinkan,"

Dokter itu menyela tak kalah cepat hampir bersamaan dengan Yoongi. Taehyung mengepalkan tangannya marah.

"Dengar, ini hanya luka lecet kecil, dan aku ingin semua perkataanku dituruti, ambil darahku dan selamatkan dia! Dan kalau-"

Taehyung terengah, matanya melirik ke arah tubuh Jungkook yang terkulai lemas di sana

"Dan kalau sampai terjadi sesuatu kepadanya, aku akan membuat kalian menerima ganjarannya"

gumamnya dengan nada mengancam yang menakutkan.

. . .

Taehyung duduk di pinggir ranjang dan menatap Jungkook yang masih tertidur karena pengaruh obat. Transfusi darah sudah dilaksanakan dan kondisi Jungkook berangsur membaik.

Kali ini barulah Taehyung merasakan sedikit pusing dan sakit di lengannya yang tersayat besi mobil yang terguling tiga kali sebelum terhempas ke turunan jalan tadi.

"Kondisinya sudah membaik"

Yoongi yang berdiri di sana berusaha memecah keheningan.

"Kami sudah menyelidiki pelakunya"

"Namjoon,"

Taehyung menggeram, dia sudah tahu bahkan sebelum Yoongi memberitahunya. Bajingan busuk itu beraniberaninya melakukan ini. Dia tidak tahu apa yang menantinya. Taehyung pasti akan mencincangnya sampai menjadi bubur.

"Kau sudah menemukannya?"

Yoongi bergerak sedikit gelisah.

"Belum tuan, ketika dia sadar bahwa dia gagal membunuh Anda, dia langsung melarikan diri entah kemana"

"Cari dia, temukan lalu bawa dia ke depanku, hidup-hidup."

suara Taehyung terdengar mengerikan dan Yoongi tahu kalau Taehyung sedang sangat marah. Saat ini seharusnya Namjoon berdoa supaya dia ditangkap dalam kondis sudah mati, karena kalau Taehyung sudah menemukannya dalam kondisi hidup .. Yoongi tidak berani membayangkan bagaimana jadinya.

"Ada satu lagi tuan"

Yoongi tiba-tiba teringat sesuatu. Taehyung hanya melirik tidak berminat.

"Apalagi?"

"Namjoon tidak melakukan semuanya sendiri, dia menyewa seorang pembunuh bayaran yang sangat terkenal di dunia gelap, J-hope."

J-hope.

Taehyung pernah mendengar nama sebutan itu. J-hope adalah pembunuh jenius bermental psikopat yang sangat keji dan maniak. Dia membunuh korbannya dengan perhitungan yang sangat matang dan terkadang bisa sangat kejam.

Sampai saat ini, tidak ada yang tahu sosok asli pembunuh itu, mereka semua menyebutnya J-hope karena dia selalu berhasil membunuh korbannya … sampai sekarang.

"J-hope terkenal tidak pernah gagal. Dia akan terobsesi kepada korbannya kalau tidak bisa membunuhnya. Dan sekarang, dia pasti akan mengejar Anda. Anda harus berhati hati karena sampai saat ini kita tidak tahu siapa dirinya"

Taehyung menganggukkan kepalanya. Merasa siap karena marah. Namjoon dan pembunuh psikopat yang entah siapa itu telah berani-beraninya melukai Jungkook, miliknya. Kalau mereka memutuskan berhadapan dengannya, berarti mereka telah memilih musuh yang salah.

.

.

.

Jungkook terbangun ketika merasakan lengannya disengat. Dia membuka mata dan bertatapan dengan wajah muda yang sangat tampan dan ramah.

"Ups- sepertinya aku membangunkanmu"

lelaki itu tersenyum ramah.

"Aku sedang menyuntikkan obat untuk lukamu. Aku sudah berusaha melakukannya selembut mungkin, tetapi sepertinya aku tak selembut yang kukira"

Jungkook mengamati lelaki itu dari jas putih yang dikenakannya, dia adalah dokter. Lelaki itu mengikuti arah pandangan Jungkook dan tersenyum.

"Perkenalkan, aku Dokter Jung Hoseok, aku dokter yang merawatmu kemarin ketika kau dibawa ke sini, Kepalamu pasti sakit ya? Kau terbentur cukup keras, aku menjahit 12 jahitan di sana"

"Kecelakaan?"

Jungkook berusaha mengingat semuanya-tetapi ingatan terakhirnya hanya sampai pada teriakan Taehyung dan pelukannya yang begitu erat, sebelum semuanya menjadi gelap.

"Ya kecelakaan, kata polisi mobil kalian di sabotase dan remnya blong. Mobil kalian terguling dan kepalamu membentur, untung kami dapat menyelamatkanmu"

"Bagaimana dengan Taehyung"

Jungkook bertanya cepat, sabotase itu pasti dilakukan oleh musuh Taehyung yang mendendam kepadanya. Apakah Taehyung terluka? Ataukah lelaki itu sudah mati? Dan kenapa bukannya senang tetapi Jungkook malahan merasa cemas?

"Maafkan aku mengecewakanmu"

suara khas itu terdengar dari pintu.

"Tetapi aku masih hidup"

Jungkook menoleh dan melihat Taehyung berjalan memasuki ruangannya, dengan kemeja hitam dan penampilan yang luar biasa sehat dan tak kelihatan kalau dia baru saja mengalami kecelakaan.

Tanpa sadar Jungkook mengernyit, menyesal telah mencemaskan Taehyung.

Lelaki itu mungkin iblis, jadi susah mati, gumam Jungkook menyumpah dalam hati.

"Bagaimana kondisinya dokter?"

Taehyung mengalihkan tatapan matanya dan menatap Dokter Hoseok yang masih berdiri di sana, memeriksa infus Jungkook.

Senyum di wajah Dokter Hoseok tak pernah pudar hingga Jungkook menyadari dua lelaki di depannya ini begitu kontras, yang satu begitu dingin dengan nuansa muram gelap yang melingkupinya, dan yang satunya tampak begitu cerah, penuh senyum seolah-olah dia membawa Matahari di atas kepalanya.

"Kondisinya sudah membaik, tetapi dia masih harus istirahat dan berbaring beberapa hari di sini. Saya belum bisa merekomendasikan dia dibawa pulang seperti permintaan anda tuan Taehyung."

ekspresi Dokter Hoseok berubah serius meskipun masih penuh senyum.

"Itu akan berbahaya untuknya, kepalanya terbentur parah dan goncangan sekecil apapun akan membuatnya mual dan muntah dan kesakitan. Anda tentu tidak ingin hal itu terjadi kepadanya kan?"

"Berapa hari sampai dia bisa normal kembali?"

Taehyung membicarakan seolah-olah Jungkook tidak ada di ruangan itu.

Dokter Hoseok tampak menghitung,

"Maksimal tujuh hari, tetapi tidak menutup kemungkinan kalau kurang dari tujuh hari perkembangannya sudah membaik, kami akan merekomendasikannya untuk bisa dirawat di rumah"

Taehyung tercenung. Tujuh hari, dan Jungkook berada dalam area publik yang cukup berbahaya. Otaknya berputar memikirkan keamanan seperti apa yang harus diterapkannya untuk menjaga Jungkook.

Namjoon masih dalam pengejaran dan berada entah dimana, masih mengincar mereka. Taehyung harus menjaga Jungkook dengan ekstra hati-hati.

Dokter Hoseok mengangkat bahunya, dan tersenyum pada Jungkook.

"Baiklah Jungkook, saya harus kembali bertugas. Saya yakin Anda akan segera sembuh"

senyumnya yang secerah Matahari memancar lagi, membuat Jungkook terpesona, bahkan setelah Dokter Hoseok pergi.

Taehyung menatap Jungkook dan mencibir,

"Jangan bermimpi" desahnya kesal.

Jungkoom menatap Taehyung dan mengernyit.

"Apa maksudmu?"

"Kau menatap dokter itu dengan tatapan bodoh dan terpesona seperti perjaka yang melihat lelaki pertamanya .. Oh maaf"

senyum Taehyung benar-benar mengejek.

"Aku lupa kalau kau sudah tidak perjaka dan akulah lelaki pertamamu"

Jungkook benar-benar marah kepada Taehyung, lelaki itu benar-benar perpaduan dari semua yang dia benci, kurang ajar, tidak sopan, dan menjengkelkan. Mungkin karena itulah Tuhan menciptakannya dengan kesempurnaan fisik yang luar biasa, untuk mengimbangi sifat buruknya.

Taehyung duduk di kursi sebelah Jungkook dan menatap lurus.

"Aku ulangi, jangan pernah kau terpesona pada dokter muda itu, dia pasti dari kalangan keluarga konvensional dan aku yakin, pendidikan moral dan keluarganya tidak akan menoleransi kau, Pria yang sudah dinodai oleh Kim Taehyung"

"Hentikan!"

Jungkook menggeram, tak tahan akan kata-kata Taehyung yang sepertinya sengaja digunakan untuk menyakitinya. Kepalanya terasa berdenyut-denyut, seperti ditusuk dengan tongkat besi. Dia meringis dan memegang kepalanya.

Ekspresi Taehyung langsung berubah, lelaki itu berdiri dari kursinya dan setengah duduk di ranjang, memeluk Jungkook.

"Jungkook? Kau kenapa? Jungkook?"

"Tidak ... Aku tidak apa-apa, maafkan aku, kepalaku cuma sedikit sakit"

"Berbaringlah"

Taehyung membantu merapikan bantal-bantal di belakang Jungkook, lalu dengan pelan membaringkan Jungkook di ranjang.

Jungkook memejamkan matanya, merasakan denyutan itu mulai mereda, dan mendesah.

"Bagaimana?"

Jungkook menarik napas panjang dan membuka mata, menemukan wajah luar biasa tampan itu menatapnya dengan cemas, benar-benar cemas, bukan sesuatu yang dibuat-buat.

Apakah Taehyung benar-benar cemas? Tapi bagaimana mungkin? Bukankah lelaki ini adalah lelaki kejam yang menghancurkan keluarga dan orang tuanya?

Tapi ingatan Jungkook kembali kepada malam kecelakaan itu, sekarang terpatri jelas dalam ingatannya kalau Taehyung benar-benar merengkuhnya malam itu, memeluknya erat-erat dan menahan guncangan-guncangan untuk melindunginya.

Mungkin kalau bukan karena dipeluk Taehyung, tubuh Jungkook sudah terlempar, dan bukan hanya kepalanya saja yang terluka. Malam itu, Taehyung jelas-jelas melindunginya. Tapi, kenapa? Pertanyaan-pertanyaan itu kembali membuat kepala Jungkook sakit, dia memejamkan matanya lagi.

Hening sejenak, kemudian Taehyung menghela napas.

"Istirahatlah, kalau kau perlu apa-apa, kau tinggal menekan tombol di dekat ranjang."

Dan kemudian Taehyung pergi menutup pintu dengan pelan dari luar.

. . .

Taehyung menyandarkan tubuhnya di dinding dan memijit dahinya yang berdenyut, dadanya terasa sakit dan nyeri.

Jadi, seperti ini rasanya, melihat Jungkook kesakitan hampir membuatnya meledak dalam kecemasan, dan itu semua karena musuh-musuhnya yang hendak mencelakainya.

"Apakah semua baik-baik saja Tuan?"

Yoongi muncul, dia memang sedang bertugas berjaga di sana dan cemas melihat Taehyung hanya bersandar di pintu.

Taehyung menoleh, menatap Yoongj dan mengernyit

"Ah .. Ya, dia baik-baik saja, hanya tadi ada serangan di kepalanya, dia kesakitan"

Yoongi menganggukkan kepalanya dan merenung. Taehyung juga tampak sibuk dengan pikirannya sendiri.

"Kenapa tidak Anda katakan saja kepadanya?"gumamnya akhirnya.

Taehyung menyentakkan kepalanya,

"Apa?"

"Semuanya, seharusnya dia tahu semuanya. Itu akan membebaskannya dan juga membebaskan Anda"

Taehyung menggelengkan kepalanya,

"Itu akan menghancurkan hatinya".

Dengan cepat Taehyungmengalihkan pembicaraan.

"Dokter bilang dia harus seminggu lagi di sini, kau atur penjagaan di sini, jangan sampai ada yang lengah. Hanya dokter dan perawat khusus Jungkook yang boleh masuk ke ruangan itu, instruksikan pada semuanya"

Taehyung lalu melangkah pergi, dan Yoongi tercenung menatap tuannya itu. Semua orang selalu takut pada Taehyung. Lelaki itu setampan malaikat, tetapi hatinya sehitam iblis, begitu kata orang-orang.

Semua orang memujanya sekaligus menjaga jarak karena ketakutan. Yang mereka tidak tahu, kadang-kadang, tuannya itu bisa seperti malaikat seutuhnya, baik tampilan fisiknya maupun hatinya

.

.

.

"Selamat sore, sepertinya kau sudah lebih sehat"

Dokter Hoseok menyapa lagi di sore harinya setelah memeriksa Jungkook.

"Dan kulihat makan malammu masih utuh, kenapa kau tak memakannya?"

Jungkook mengernyit meskipun mencoba tersenyum lemah kepada Dokter Hoseok.

"Saya masih mual dan muntah-muntah dokter"

"Tapi kau harus tetap makan, aku akan memesankan menu lain untukmu, mungkin sup panas dan jus buah bisa menggugah seleramu?"

Mau tak mau Jungkook tersenyum melihat betapa bersemangatnya Dokter Hoseok.

"Terima kasih dokter"

Dokter Hoseok menganggukkan kepalanya,

"Aku cuma tidak menyangka pria seperti kau yang menjadi kekasih Tuan Taehyung"

Tertegun, Jungkook mendengar perkataan Dokter Hoseok itu.

"Apa?"

Wajah Dokter Hoseok memerah karena malu, dia tampak menyesal telah mengucapkan kata-kata itu.

"Ah maafkan aku Jungkook, lupakan aku telah mengucapkannya ya?"

Jungkook menggelengkan kepalanya.

"Tidak apa-apa dokter, semua yang melihat pasti akan menyangka kalau aku adalah kekasih Taehyung"

"Apalagi melihat tingkah Tuan Taehyung di ruang gawat darurat kemarin"

Dokter Hoseok terkekeh membuat Jungkook mengernyitkan matanya lagi, memangnya apa yang dilakukan Taehyung di ruang gawat darurat kemarin?

Dokter Hoseok sepertinya tahu bahwa Jungkook bertanya-tanya, dia mengangkat bahunya.

"Jangan bilang padanya kalau aku membicarakan tentangnya di belakangnya ya, sampai sekarang aku masih merinding mengingat tatapan membunuhnya ketika mengancam akan menghabisi semua dokter dan perawat di sini kalau mereka tidak berhasil menyelamatkanmu"

ditatapnya Jungkook dengan tatapan menyesal,

"Sungguh, siapapun yang melihat kelakuannya kemarin pasti akan mengambil kesimpulan yang sama, bahwa Tuan Taehyung adalah kekasih yang amat sangat mencintai dan mencemaskanmu"

Jungkook memalingkan muka, tidak tahu harus berkata apa, masih tidak mempercayainya kata-kata Dokter Hoseok kepadanya.

"Ah ya, dan sebenarnya dia turut andil dalam menyelamatkan nyawamu"

Ketika Jungkook menatap Dokter Hoseok dengan bingung, Dokter Hoseok mendesah.

"hmm. Dia tidak bilang padamu ya, jangan bilang kalau kau tahu dari aku ya"

"Tahu tentang apa?"

"Malam itu kau kehabisan banyak darah, dan Tuan Taehyung yang kebetulan golongan darahnya sama denganmu, memaksa kami mengambil darahnya untukmu. Sebenarnya kami tidak boleh melakukannya, Tuan Taehyung juga baru selamat dari kecelakaan yang sama, tetapi dia memaksa, dan mengancam. Dan benar apa kata orang, tidak akan ada seorangpun yang berani melawan apa yang dikatakan oleh Kim Taehyung. Lagipula dia adalah pemilik rumah sakit ini, perintahnya harus kami laksanakan"

Kejutan lagi. Jungkook tidak suka dia harus berhutang nyawa kepada lelaki iblis itu ... Tetapi entah kenapa, perasaan bahwa darah lelaki itu mengalir di pembuluh nadinya membuat dadanya berdesir oleh suatu perasaan aneh, seolah-olah bagian diri Taehyung sekarang ada di dalam tubuhnya, di dalam dirinya.

Dokter Hoseok menghela napas melihat Jungkook termenung,

"Ah seharusnya aku tidak terlalu banyak bicara, kau harus segera beristirahat"

Ketika Dokter Hoseok sudah sampai di pintu, Jungkookmemanggilnya,

"Dokter .."

Langkah Dokter Hoseok berhenti seketika, dia menoleh dan menatap Jungkook bertanya-tanya.

"Ada apa Jungkook? Ada yang bisa kubantu? Apakah kau kesakitan?"

Jungkook menggelengkan kepalanya.

"Ah tidak apa-apa dokter, lupakan saja, terimakasih sudah merawat saya"

Dokter Hoseok tersenyum,

"Aku hanya melakukan tugasku, tapi sekaligus aku senang kalau pasienku makin membaik".

Ketika Dokter Hoseok pergi, Jungko tercenung. Cerita Dokter Hoseok tadi membuatnya bingung. Benarkah itu semua?Bahwa Taehyung sangat mencemaskan keselamatannya?

Pikiran Jungkook teralihkan oleh kesadarannya bahwa dia saat ini tidak sedang dikurung di rumah Taehyung yang berpenjagaan ketat, dia ada di area publik. Sebuah rumah sakit, dan itu berarti kesempatannya untuk melarikan diri semakin besar.

Dia harus melepaskan diri dari cengkeraman Taehyung karena dia merasa takut. Ya .. Jungkook takut semakin lama dia berada di bawah Taehyung, pada akhirya dia akan bertekuk lutut di bawah kaki Taehyung, jatuh ke dalam pesonanya.

Jungkook hanya perlu seseorang untuk menolongnya, bisakah Dokter Hoseok menolongnya? Jika Jungkook meminta tolong padanya, akankah Dokter Hoseok mengerti?

Dari perkataannya tadi, tampak jelas kalau Dokter Hoseok menganggap Jungkook adalah kekasih Taehyung, Bagaimana jika dia menceritakan yang sebenarnya?

Mungkinkah Dokter Hoseok jatuh simpati dan menolongnya? Atau mungkin Dokter Hoseok malah melaporkannya pada Taehyung, mengingat rumah sakit ini adalah milik Taehyung.

Malam itu Jungkook tertidur dengan mimpi buruk, di mana Taehyung terus menerus mengucapkan ancaman itu di telinganya, bahwa dia akan membunuh siapapun yang menolong Jungkook dan siapapun yang lengah hingga Jungkook bisa melarikan diri.

Kalimat itu terngiang jelas sepanjang malam.

"Kebebasanmu akan digantikan dengan nyawa seseorang, Jungkook .."

. . .

Yoongi melapor pagi-pagi sekali kepada Taehyung.

"Kami berhasil menangkap Namjoon"

Taehyung yang sedang menyesap kopinya langsung membanting gelasnya ke meja.

"Hidup-hidup?"

tanyanya sambil menyipitkan matanya. Yoongi mengangguk,

"Hidup-hidup"

"Bagaimana kondisinya?"

"Kakinya sedikit luka, tetapi tidak parah. Dia berusaha melarikan diri dari kami, tetapi kami berhasil menggagalkannya"

"Bagus, bawa dia padaku"

. . .

Sosok yang selalu berada dalam bayangan gelap itu mengawasi semuanya dari mobil yang diparkir secara tidak kentara dekat dengan gerbang Taehyung.

Bagus. Mereka sudah menangkap Namjoon, itu akan mengalihkan perhatian mereka untuk sementara. Dan dia bisa berbuat apapun yang dia mau untuk menyusun rencana menghabisi Taehyung, dan pelacurnya.

J-hope tidak pernah gagal membunuh targetnya. Ketika targetnya terlepas, J-hope akan memburunya sampai mati, dan kali keduanya, dia tak akan pernah gagal.

.

.

.

To be Continued

#FunnyScene

*Behind the scene Chapter 6&7*

RM: Kgak! Gue gamau nongol lagi!

Kuki: eh, eh, knp gitu? Repmon tega gitu sama mphikuk?(TдT)

RM: bodo! Author macam apa ini? Gue ganteng dikatain jelek dichap kemaren? -_-

Mphi: itu tuntutan author aslinya sayang, cerita aslinya gitu (´Д)

RM: bodo, mending disc aja ni ff!

MPHIKUK: oke, Kim Namjoon Tampan yak! Dia gajelek, awas loh pada ngatain jelek! Nah sekarang mau kan balik lagi?(;・∀・)

RM: y-yasudah. Awasloh aneh" lagi *pergi*

. . .

Jadi guys, itulah alasan kenapa swtd telat update X'D mphi sama kuki lg ngebujuk repmon yg kgakmao nongol :'D *JustForFunYah

Sebenarnya sama Kuki juga kemaren lalu sempat sakit, dan kuki sempat ngabarin lewat akun instagram kuki. Bisa dipolow juga, kuki sering update kok^^ lttlenyan . polbek? Tenang, kuki gapelit kok wkwk

Ah satu lagi, maaf kalau ada yg ngerasa pendek, soalnya kuki ngambil perBab, jadi perChapter. So, ini adalah satu Bab yah.

Last, maafkan kuki kalau masih ada typo atau msh ada kalimat yg tidak diubah. Soalnya Mphii belum bisa ngambil jatah ngedit, jd kuki juga lg ga fit buat ngecek lg TT Maafkan kukii~~ Terima kasih, sampai ketemu lagi❤

-Kuki