Sleep with the Devil

-TaeKook-

.

.

BoysLove inside | M-Preg

BTS X SVT

Disc: I'm not the Owner of this story.

Author just ReMake it by wearing TaeKook as cast.

So, if you want to Read the original Story, you can visit SanthyAgatha's blog on link below

www. anakcantikspot. blogspot. co. id (Delete Space)

Note: hasil Cerita ini diRemake oleh Dua Author. Dan kami sudah meminta izin kepada pemilik cerita ini (Santhy Agatha) untuk menghindari terjadinya pelanggaran Hak Cipta.

And, if you are still under age or Dislikes BL, please just left this page.


.

.

.

Dokter Hoseok mengendarai mobilnya dengan tenang menembus kemacetan jalan raya, mereka lalu tiba di belokan ke luar kota, menuju jalanan yang sepi. Jungkook yang selama ini diam karena menahan rasa tegang dalam perjalanan menoleh dan menatap Dokter Hoseok penuh rasa ingin tahu.

"Kita akan kemana dokter?"

Dokter Hoseok menoleh lalu tersenyum manis.

"Ke rumah di pinggiran kota, tempatnya seperti villa di pegunungan, kau akan aman di sana dan Tuan Taehyung tidak akan bisa menjangkaumu"

Jungkook menganggukkan kepalanya dan menatap lurus ke depan, pemandangan di luar adalah hutan dan jalanan yang berkelok-kelok, malam makin gelap dan Jungkook mulai merasa mengantuk. Akhirnya dia menyandarkan kepalanya dengan nyaman di kursi dan mulai tertidur.

. . .

Taehyung menatap marah pada perawat yang dibius untuk menggantikan Jungkook di ranjang. Dua pengawalnya yang tadi berjaga di kamar Jungkook berdiri ketakutan dengan wajah lebam bekas pukulan Taehyung.

"Kenapa kalian bisa sebodoh itu hah?"

suara Taehyung terdengar tenang, tetapi intensitas kemarahannya membuat bulu kuduk dua anak buahnya berdiri. Para pengawal itu saling bertatapan mencoba berkata-kata, tetapi tak bisa.

Mereka memang bersalah. Yoongi sebagai atasan mereka telah menginstruksikan untuk memeriksa siapapun sebelum masuk dan keluar dari ruangan Jungkook. Tetapi karena Dokter Hoseok tampaknya terbiasa keluar masuk ruangan ini dengan bebas, mereka jadi lengah dan membiarkannya. Siapa sangka kalau Dokter Hoseok adalah J-Hope yang ditakuti itu?

Taehyung masih menatap marah kepada kedua pengawalnya, memikirkan hukuman apa yang cukup kejam untuk dilimpahkan atas kebodohan mereka. Jungkook melarikan diri, dan bukan hanya melarikan diri, Demi Tuhan! Pria itu sekarang ada di tangan J-Hope.

Yoongi datang, menyerahkan setumpuk berkas lagi, mengalihkan perhatian Taehyung.

"Sepertinya dugaan Anda benar Tuan Taehyung, profil Dokter Hoseok sangat mirip dengan profil J-Hope. Dia lulusan jenius dari kedokteran, kehidupannya sangat misterius, dan menurut desas desis, ibunya meninggal karena bunuh diri. Dia baru masuk mendaftar ke rumah sakit ini dua bulan yang lalu, dan ketika kami melakukan pengecekan terhadap masa lalunya, semuanya kosong, tidak ada satupun data tentangnya, seolah semuanya dihapus"

"Cari sampai dapat." Taehyung menggertakkan giginya.

"Apapun itu, alamat, nomor mobilnya, apapun untuk bisa mengarahkan kita kepadanya. Kita harus menemukan Jungkook, sebelum terlambat."

Taehyung memejamkan mata, sejenak merasakan sesak di dadanya. Jungkook harus selamat, meskipun sekarang hal itu diragukan, karena Jungkook berada di tangan J-Hope yang sangat kejam. Taehyung akan menempuh segala cara untuk mendapatkan Jungkook kembali, selamat, dan hidup-hidup.

.

.

.

"Jungkook, kita sudah sampai."

Dokter Hoseok mengguncang bahu Jungkook lembut. Jungkook membuka matanya dan menemukan mobil mereka diparkir di sebuah villa tua berwarna putih yang sangat indah dihujani cahaya lampu yang remang-remang.

Dokter Hoseok turun terlebih dahulu, lalu membuka pintu penumpang dan membantu Jungkook turun. Mereka berjalan bersisian memasuki teras rumah, ketika Dokter Hoseok membuka kunci pintu rumah itu, Jungkook mengernyit dan bertanya.

"Ini rumahmu Dokter?"

Lelaki itu tersenyum lagi dan menggeleng,

"Bukan, ini properti milik sahabatku yang dititipkan kepadaku, sekarang dia sedang di luar negeri. Kupikir tempat ini adalah tempat yang paling aman untukmu sekarang-sekarang ini .. Kau bisa bersembunyi di sini sementara, karena aku tahu Tuan Taehyung pasti sedang sangat marah sekarang dan pasti dia akan menggunakan segala cara untuk mencarimu"

Jungkook menggigil mendengar kemungkinan itu, dan membiarkan dirinya dihela masuk ke dalam vila itu. Bagian dalam villa itu sangat indah, secantik bagian luarnya, dengan ornamen Belanda yang kuno dan rapi, tampak begitu nyaman untuk ditinggali.

"Ayo, kuantar kau ke kamar sementaramu, kau bisa beristirahat di sana, aku yakin kau pasti capek setelah perjalanan panjang."

Dokter Hoseok melangkah melalui anak tangga dan Jungkook mengikutinya.

Kamar untuk Jungkook adalah kamar sederhana yang tertata rapi, dan ranjang bulu angsa berseprai putih di tengah ranjang tampak sangat empuk dan menggoda untuk ditiduri.

Tanpa sadar Jungkook menguap dan Dokter Hoseok terkekeh,

"Tidurlah Jungkook, semoga besok pagi kau bangun dengan lebih segar"

Jungkook menganggukkan kepalanya

"Terima kasih dokter, terima kasih atas segalanya, saya tidak tahu bagaimana harus berterimakasih kepada dokter karena sudah menyelamatkan saya dari Taehyung"

Dokter Hoseok melangkah ke pintu, senyumnya tampak misterius di balik cahaya remang-remang.

"Tidak apa-apa Jungkook, aku senang bisa membawamu ke sini."

Lalu lelaki itu melangkah keluar dan menutup pintu di belakangnya.

.

.

.

Jungkook terbangun karena rasa haus yang amat sangat, dia terduduk di ranjang dan sedikit terbatuk-batuk. Dengan pelan dia memandang ke sekeliling, masih gelap. Mungkin ini masih dini hari.

Dengan langkah hati-hati Jungkook turun dari ranjang, dan keluar dari kamar. Dimanakah dapurnya? Dia ingin minum .. Lorong lantai dua tampak gelap, tetapi ada cahaya putih di ujung sana, mungkin itu dapurnya.. pikir Jungkook dalam diam.

Dia lalu melangkah hati-hati menuju cahaya itu, dan terbawa ke sebuah pintu yang sedikit terbuka di ujung lorong. Jungkook membukanya, dan tertegun. Ini bukan dapur. Dia sudah hendak membalikkan badan, ketika pandangan matanya terpaku pada sesuatu, dan wajahnya memucat.

Di sana, di salah satu sisi tembok itu penuh dengan foto-foto yang ditempel. Dan itu bukan foto-foto biasa, itu foto-foto Taehyung sedang melakukan aktivitasnya, beberapa di antaranya ada Taehyung yang sedang bersama Jungkook. Dan melihat ekspresi Taehyung di sana, tampaknya foto-foto itu diambil dengan kamera tersembunyi, tanpa seizin objeknya.

"Ada pepatah, kalau rasa ingin tahu yang besar suatu saat akan menjadi penyebab kematianmu"

Jungkook terlonjak kaget, mendengarkan suara yang mendesis itu, dia membalikkan badannya dan berhadapan dengan Dokter Hoseok yang berdiri diam di balik bayang-bayang.

Lelaki itu tersenyum, seperti biasanya, tetapi senyumnya yang sekarang bukanlah senyum manis secerah Matahari, melainkan seringai jahat yang menakutkan.

. . .

"Kita sudah berhasil melacak mobilnya."

Yoongi datang dengan terengah, mendatangi Taehyung yang menunggu sambil mondar-mandir tak tenang di ruangannya. Taehyung langsung berdiri dan bergegas, dia menyiapkan senjatanya, belati berat yang selama ini ada di kakinya dan sebuah magnum miliknya. Kalau dia harus membunuh demi Jungkook, akan dia lakukan. Lelaki itu memejamkan matanya, semoga dia tidak terlambat datang.

. . .

Mata Jungkook hanya bisa menatap dalam ketakutan, lelaki di depannya ini sudah berubah total, dari lelaki ramah dan baik hati menjadi monster yang menakutkan, Tubuh Jungkook diikat di sebuah kursi dan Jungkook sepenuhnya tidak bisa bergerak, dibawah kuasa psikopat gila yang sekarang sedang berjalan mondar-mandir sambil memainkan pisau di tangannya.

"Membunuh dengan pisau adalah favoritku."

Dokter Hoseok memainkan pisau itu di dekat Jungkook, membuat kilatannya menyilaukan dalam kegelapan.

"Karena itulah aku dipanggil J-Hope."

lelaki itu terkekeh mengerikan melihat sinar ketakutan yang terpancar dari mata Jungkook.

"Yah kenalkan, akulah J-Hope yang kalian cari-cari itu"

Jungkook mencoba meronta, kengerian merayapi dirinya ketika menyadari bahwa lelaki di depannya ini bukan saja orang jahat, tetapi dia adalah psikopat menakutkan yang diceritakan oleh Taehyung.

Dokter Hoseok tertawa melihat usaha Jungkook yang sia-sia untuk melarikan diri, kemudian mendorong kursi Jungkook ke dinding dan menekankan pisaunya di pipi Jungkook.

"Pisau ini sangat tajam." Dokter Hoseok memain-mainkan pisau itu di pipi Jungkook.

"Aku ragu apakah Taehyung masih mau menjadikanmu budak seksnya kalau mukamu rusak."

diletakkannya besi dingin itu di pipi Jungkook membuat mata Jungkook terpejam ketakutan. Tetapi kemudian kata-kata Dokter Hoseok menyulut amarahnya, dia bukan pelacur Taehyung.

"Aku bukan budak seksnya Taehyung."

dengan Lantang Jungkook meneriakkan bantahannya. Dan rupanya bantahannya itu malahan memancing emosi Dokter Hoseok.

"Bukan budak seks katamu? Kau tidur dengannya dan menikmatinya, kau menerima segala fasilitas darinya dengan suka rela, dan kau membayar dengan tubuhmu. Dari pengamatanku, kau adalah budak seks yang paling disukai dan istimewa di mata Taehyung dibandingkan budak-budaknya yang lain, dan aku membayangkan kepuasan yang kudapatkan ketika dia menyaksikan tubuhmu yang sudah mati, penuh dengan sayatan pisau."

Lalu Dokter Hoseok tertawa dengan mengerikan.

"Mari kita mulai ritual ini .. Aku akan menyayatmu pelan-pelan di bagian-bagian tubuhmu hingga kau akan mati pelan-pelan kehabisan darah."

pisau itu berkelebatan dengan main-main di depan Jungkook.

"Lalu aku akan membuang tubuhmu tepat di depan mata Taehyung, pasti aku akan puas sekali. Sebelum kemudian akan kuhabisi Taehyung dengan tanganku sendiri."

Dengan tawa mengerikannya yang terkekeh dan menakutkan, Dokter Hoseok mengayunkan pisaunya, dan sekejap, Jungkook merasakan pedih karena sayatan besi tajam itu di lengannya.

. . .

Taehyung memasuki rumah itu dengan marah, Yoongi dan yang lain-lain sudah mengepung villa putih itu. Villa itu tenang dan sepi seolah tidak ada siapapun di sana. Lalu mata Taehyung mengarah ke pintu di ujung lorong yang setengah terbuka, dan melangkah kesana, lalu masuk dengan marah ketika melihat apa yang terjadi di sana.

Dokter Hoseok sudah melukai Jungkook dengan dua sayatan berdarah di lengan Jungkook, membuat Jungkook meringis menahan sakit dan nyeri dalam kondisi terikat di kursi dan hampir kehilangan kesadarannya.

"Lepaskan dia, J-Hope."

suara Taehyung dingin, mencoba menahan kemarahannya dengan terkendali. Lelaki itu sedang memegang pisau di dekat Jungkook, dia tidak ingin Jungkook terluka lebih dari ini.

Dokter Hoseok membalikkan tubuhnya dan tersenyum melihat Taehyung berdiri di ruangan itu.

"Ah … sang pangeran penyelamat akhirnya datang."

Dengan tenang Dokter Hoseok mengacungkan pisaunya ke arah Taehyung,

"Kau lihat Taehyung, budak seksmu ini sedang dalam proses meregang nyawa, tadinya aku ingin mempersembahkannya mati dan tersayat kepadamu. Tetapi rupanya kau terlalu cepat datang"

"Aku akan membunuhmu, kau tahu itu," geram Taehyung marah.

Tawa Dokter Hoseok membahana ke seluruh ruangan.

"Tentu saja, sekarangpun aku tahu bahwa seluruh pengawalmu sedang mengepung tempat ini, siap menembakku kapanpun aku lengah."

dengan cepat Dokter Hoseok bergerak ke sebelah Jungkook dan menempelkan pisau tajam itu ke lehernya.

"Tapi sebelum kau membunuhku, aku akan membunuh murahan ini dulu"

Jungkook terkesiap, menahan sakit dan ketakutan ketika besi dingin itu menempel di lehernya, lapisannya yang tajam telah menyayat lehernya, menimbulkan sedikit perih di sana.

"Kalau kau lakukan sesuatu kepadanya, aku bersumpah kau akan mati dengan mengerikan."

Kali ini Taehyung sudah tidak bisa menahan kemarahannya.

"Aku akan membunuhmu dengan pelan dan mengerikan hingga kau akan merasakan setiap detik-detik menjelang kematianmu"

"Kau ketakutan Taehyung, kau takut aku menyakiti pria jalang ini, bisa kulihat di matamu."

Dokter Hoseok menatap Taehyung, dengan senyuman gilanya, memain-mainkan pisaunya di leher Jungkook.

"Satu sayatan saja, aku akan memotong nadinya, tepat di leher. darahnya akan memancar keluar dan dia akan mati dengan cepat. tepat di depan kedua matamu .. dan aku rela mati demi kepuasan menyaksikan adegan itu."

Lalu dengan gerakan secepat kilat, Dokter Hoseok mengangkat pisaunya, lalu membuat gerakan menghujam untuk menikam leher Jungkook.

Jungkook memejamkan matanya, menanti detik-detik kematiannya. Tetapi kemudian dia tidak merasakan sakit, apakah memang kematian tidak terasa sakit? Dengan ragu di bukanya matanya, dan dia terkesiap dengan pemandangan di depannya.

Taehyung sedang menahan pisau itu, dengan tangan telanjang. Bagian tajam pisau itu mengiris telapak tangannya, tetapi lelaki itu menggenggam pisau itu tanpa ekspresi, meskipun darah mulai bercucuran dari tangannya, mengenai Jungkook. Sekali lagi, Taehyung menyelamatkan Jungkook dari kematian.

Dokter Hoseok tampak terperangah dengan gerakan Taehyung yang tak disangkanya itu, dia berusaha menarik pisaunya dari genggaman Taehyung, tetapi Taehyung menarik pisau itu dan melemparnya jauh-jauh.

"Aku akan menghajarmu sebelum membunuhmu."

Taehyung menerjang dokter Hoseok ke lantai, dan mereka bergulat saling memukul.

Tetapi J-Hope itu tidak terbiasa berkelahi dengan tangan kosong sehingga dia kewalahan, Taehyung terus dan terus menghajarnya tanpa ampun, ketika kemudian rintihan Jungkook menghentikannya.

Taehyung melihat Jungkook kehilangan kesadarannya, mulai pusing dalam kondisi terikat di kursi, Perhatian Taehyung teralih, dan dia berdiri untuk meraih Jungkook, pada saat itulah, Dokter Hoseok yang sudah babak belur mencoba meraih pisau yang dilemparkan Taehyung tadi, dia berhasil meraihnya dan mengarahkannya untuk menikam punggung Taehyung dan ..

Dorr !

Tubuh Dokter Hoseok ambruk ke lantai karena tembakan itu. Taehyung menoleh ke belakang, melihat Dokter Hoseok ambruk dengan pisau masih di tangannya, dan dia lalu menoleh ke pintu, ke arah Yoongi yang memegang pistol di tangannya.

"Bereskan dia."

Taehyung memerintah cepat, lalu perhatiannya sepenuhnya terarah kepada Jungkook, tidak dirasakannya telapak tangannya yang tersayat dalam, dia membuka ikatan Jungkook, dan pria itu langsung jatuh ambruk ke pelukannya

.

.

.

Ketika kesadarannya kembali, Jungkook berada di ruangan putih itu, dan dia memejamkan matanya lagi, tak pernah sebelumnya dia merasa begitu bersyukur berada di ruangan ini.

Kengerian masih merayapinya, membayangkan pisau yang berkelebatan di mukanya, di tubuhnya, di lengannya. Aduh!

Jungkook merasa nyeri yang amat sangat dan menoleh ke arah lengannya, lengannya itu sudah dibalut perban yang amat tebal, nyerinya masih terasa tetapi lebih karena trauma mendalam Jungkook akibat pengalaman buruknya itu.

Jungkook terduduk, Taehyung telah menyelamatkannya, sekali lagi. Kenapa lelaki itu menyelamatkannya? Apakah benar karena dia dianggap sebagai budak istimewa Taehyung? Karena dia melayani Taehyung dengan tubuh indahnya? Dengan pucat Jungkook memalingkan mukanya, merasa dirinya begitu rendah.

Lelaki itu menyelamatkannya. Jungkook memejamkan matanya, membayangkan bagaimana Taehyung, menghalangi pisau yang hendak menikamnya dengan tangannya. Jungkook masih ingat darah yang mengalir itu, dan mau tidak mau Jungkook menyadari kalau dihitung-hitung sudah beberapa kali dia diselamatkan oleh Taehyung.

Kenapa lelaki itu menyelamatkannya? Itu adalah pertanyaan yang tak bisa dijawabnya. Bertahun-tahun Jungkook menumbuhkan kebencian di hatinya, memupuk rasa dendam yang mendalam, dengan pengetahuan bahwa Taehyung yang jahat telah menghancurkan keluarganya.

Yah, Taehyung memang jahat. Tetapi selain mengurung Jungkook, dia memperlakukan Jungkook dengan baik. Apakah dia memang menganggap Jungkook sebagai kekasihnya?

Pipi Jungkook memerah membayangkan itu semua. Apakah semua kebaikan Taehyung murni disebabkan karena dorongan gairah?

Seharusnya Jungkook merasa terhina, tetapi tidak, perasaannya terasa hangat tanpa dia mau. Dia tidak boleh merasa seperti ini. Kebenciannya adalah satu-satunya senjata menghadapi lelaki itu.. Kalau sampai Jungkook merasakan perasaan lebih kepada Taehyung .. Jungkook menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir perasaan yang menggayutinya.

Dengan gemetar dia meraba lengannya yang di perban, dan menangis. Seluruh kehidupannya berubah hanya dalam waktu singkat, seluruh rencana yang dibuatnya matang-matang telah hancur, dan dia sekarang terpuruk di sini. Kembali dalam cengkeraman lelaki iblis itu, dan bahkan sekarang berutang nyawa kepadanya.

"Jangan menangis."

Jungkook terlonjak ketika suara itu terdengar di dekatnya, dengan ketakutan dia menoleh dan mendapati Taehyung di sana, duduk di sofa tak jauh dari ranjang dan mengamatinya.

Dengan kasar Jungkook menghapus air matanya dan menatap Taehyung marah.

"Semua ini gara-gara kau!" serunya menuduh.

"Kalau kau tidak melibatkanku dalam kehidupanmu yang penuh musuh itu, aku tidak akan mengalami ini!"

"Dan kalau kau tidak gampang tertipu oleh bujuk rayu dokter sialan yang selalu tersenyum itu, kau tidak akan diculik dengan mudah." sela Taehyung tajam.

"Aku hanya ingin lepas darimu, kenapa kau tidak melepaskan aku?" kali ini Jungkook berteriak penuh frustrasi.

"Aku mohon aku sudah muak berada di sini … aku …"

"Tidakkah engkau bahagia di sini Jungkook?"

Taehyung mendekat ke ranjang dan menyentuh dagu Jungkook dengan jemarinya. Pada saat itulah Jungkook melihat, telapak tangan Taehyung di balut perban.

"Aku memenuhi kebutuhanmu, aku memberimu apa yang tidak bisa kau beli dengan uangmu sendiri, apakah menurutmu itu tidak cukup?"

"Aku bukan budak seks" desis Jungkook tajam.

"Kekayaan dan ketampananmu sama sekali tidak ada pengaruhnya untukku, yang aku inginkan hanya kematianmu, karena kau telah menghancurkan keluargaku. Tetapi jika itupun tidak kudapatkan, aku sudah cukup puas bisa lepas darimu!"

Jungkook menatap Taehyung dengan tatapan menantang.

Lelaki itu menatap Jungkook tajam, lalu mengangkat bahunya dan menatap Jungkook lurus-lurus.

"Sudahlah, Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu."

ditatapnya Jungkook dengan serius.

"Bagaimana kondisimu?"

Taehyung menunduk dan mengamati Jungkook. Jungkook terdiam, otomatis memalingkan wajah dari Taehyung.

"Jungkook .."

Taehyung memanggil Jungkook dengan penuh penekanan, membuat Jungkook akhirnya mau menatap matanya.

"Aku baik-baik saja" jawab Jungkook ketus.

"Biarpun aku tahu semua ini terjadi karena kau dan musuh-musuhmu".

Taehyung terkekeh

"Hmm ... Mengingat kau sudah kembali galak kepadaku, aku yakin kau sudah sembuh"

Taehyung menyentuhkan jemarinya di pipi Jungkook

"Maafkan aku."

Jungkook tertegun karena permintaan maaf Taehyung, dia menatap Taehyung dengan hati-hati.

"Kenapa kau meminta maaf?"

"Karena membuatmu terlibat dalam situasi ini" lelaki itu mengangkat bahu.

"Situasi seperti ini tidak akan bisa terhindarkan, mengingat kondisiku. Tetapi kau harus tahu, ketika kau bersamaku, aku akan menjagamu" Jungkook mendengus.

"Aku lebih memilih tidak bersamamu. Kalau aku sendirian aku pasti akan lebih baik-baik saja"

Taehyung menatap Jungkook tajam.

"Tidak bisa, situasi kemarin membuat kau dikenal sebagai kesayanganku. Orang yang mengincarku pasti akan mengincarmu, karena kaulah yang paling lemah. Itu membuatmu harus selalu bersamaku, di bawah perlindunganku"

Taehyung menatap Jungkook lurus-lurus.

"Kau adalah kelemahanku"

Pipi Jungkook memerah, bukan cuma karena arti mendalam dalam kata-kata Taehyung. Tetapi karena cara Taehyung mengucapkannya, begitu erotis dan penuh makna seolah-olah Taehyung mengucapkan sesuatu yang sensual dari perkataannya yang biasa itu.

Dan Taehyung tampaknya sengaja. Sialan lelaki itu. Dia sengaja mengucapkan kata-katanya dengan nada sensual untuk mempengaruhi Jungkook.

"Kau bebas keluar masuk seisi rumah ini, tapi aku mohon padamu, jangan mencoba melarikan diri dari rumah ini. Aku memang jahat, tapi aku akan menjagamu, tidak demikian halnya dengan musuh-musuhku."

Taehyung mengangkat tangannya yang terluka untuk mengusap rambutnya, dan Jungkook langsung teringat peristiwa itu, ketika Taehyung dengan cepat menggenggam pisau itu, menghalanginya untuk terluka, tanpa sadar dia bergidik ngeri.

"Ya .."

gumam Taehyung, memperhatikan reaksi Jungkook.

"Kau seharusnya takut Jungkook, karena mereka semua akan melakukan apa saja untuk melukaiku lewat dirimu. Kau aman disini, bersamaku. Dan aku yakin kau berpikiran sehat sehingga tahu bahwa kau lebih baik bertahan di sini"

.

.

.

Kebebasan keluar masuk kamar ini dinikmati oleh Jungkook sepenuhnya. Oh, dia memang masih bermaksud pergi, tapi tidak sekarang. Dia masih trauma akan kejadian itu.

Setidaknya di rumah ini dia aman. Yoongi masih mengawasinya diam-diam ketika dia mondar-mandir keluar kamar, terutama ketika dia berjalan-jalan di taman. Tetap Jungkook belajar untuk mengabaikannya.

Sore itu, suasana rumah sangat sepi, dan Jungkook berjalan menelusuri area lantai satu rumah itu. Rumah itu sangat luas dengan lorong-lorong yang tidak tahu akan menuju kemana, sepertinya tidak cukup satu hari untuk menjelajahi keseluruhan rumah itu.

Jungkook berhenti di sebuah pintu yang terbuka dan sedikit mengintip. Dia terpesona menemukan rak-rak tinggi yang memenuhi dinding-dindingnya, penuh dengan buku!

Dengan bersemangat Jungkook memasuki ruangan itu, dan berdiri terkagum-kagum sambil mengamati buku-buku di dalam rak itu. Taehyung rupanya penggemar buku-buku sastra klasik, berbagai bacaan tampak menggoda siap untuk dinikmati.

"Kau sepertinya suka membaca."

suara Taehyung mengejutkan Jungkook, dia menoleh dan saat itu baru menyadari kalau Taehyung duduk di sudut ruangan, di meja kerjanya yang besar dan mempelajari berkas-berkas perusahaannya, lelaki itu menatapnya dengan mata cokelatnya yang tajam.

Dengan angkuh Jungkook mendongakkan dagunya.

"Ya aku suka membaca, tetapi buku-buku mahal di sini termasuk yang tidak bisa kubeli" Jungkook tanpa sadar mengernyit.

"Kau boleh membaca di sini"

Taehyung menawarkan tampak begitu berbaik hati. Tetapi Jungkook merasakan ada sesuatu di sana, sesuatu yang berbeda yang sedikit menakutkan baginya. Ketegangan seksual yang memenuhi ruangan ini terasa begitu tidak nyaman. Dan meskipun tawaran Taehyung terasa begitu menggoda, Jungkook tidak berani.

"Aku tidak akan mengganggumu."

Taehyung mengangkat alis melihat Jungkook nampak ragu-ragu.

"Aku tidak akan mengganggumu, Jungkook .." lelaki itu mengulang lagi katakatanya.

"Aku bahkan tidak akan berdiri dari kursi ini"

Jungkook menatap Taehyung curiga.

"Tidak bisakah aku meminjam buku-buku ini dan membawanya ke kamarku?"

Taehyung menggelengkan kepalanya. Oh, tentu saja bisa, gumam Taehyung dalam hati, tetapi dia akan kehilangan kenikmatan menggoda Jungkook, dia ingin Jungkook terpaksa berada di ruangan ini, bersamanya.

"Tidak bisa buku-buku itu mahal, aku tidak yakin kau akan menjaganya dan tidak merusakkannya"

Kata-kata Taehyung terasa menyinggung Jungkook, jangan-jangan Taehyung bahkan menyangka Jungkook ingin mencuri buku-buku mahalnya. Kurang ajar lelaki itu. Tetapi ajakan Taehyung untuk membaca buku di ruangan yang sama terasa begitu menggoda.

Dan lelaki itu jelas-jelas menantangnya,

menyadari betapa besarnya ketegangan seksual di antara mereka, dan memaksa Jungkook menunjukkan diri apakah akan menjadi pengecut ataukah berani menghadapi Taehyung.

Jungkook sedikit mengentakkan kakinya dan melangkah mendekati sofa, diambilnya salah satu buku di rak itu dan dia duduk, berusaha tampil nyaman di sana.

Taehyung tersenyum. Pria itu jelas-jelas ingin menantangnya. Dan kehadiran Jungkook di ruangannya sangat menarik perhatiannya, dia bahkan tidak tertarik lagi akan pekerjaan di mejanya. Dilipatnya kedua tangannya di meja dan dia mengamati Jungkook yang sedang berakting membaca itu dengan intens.

"Kenapa kau menatapku seperti itu?"

Jungkook akhirnya mencetuskan apa yang ada di dalam pikirannya, Taehyung sudah sejak beberapa menit lalu hanya duduk dan menatapnya. Lelaki itu memang tidak mengganggu, bahkan lelaki itu sama sekali tidak beranjak dari tempat duduknya.

Tetapi pandangan matanya yang intens dan penuh gairah itu terasa sangat mengganggu. Membuat seluruh saraf tubuh Jungkook mengejang ke dalam gelenyar panas yang membuat suhu ruangan ber-AC itu tiba-tiba terasa panas.

"Aku hanya ingin mengetahui seberapa jauh kau akan purapura berakting membaca. Setelah itu mungkin kau bisa menyadari betapa besarnya ketegangan seksual di antara kita."

gumam Taehyung dengan tenang, tidak bergeser sedikitpun dari tempat duduknya, tetapi tampak begitu mengancam. Pipi Jungkook memerah mendengar perkataan Taehyung itu. dengan marah dibantingnya buku itu di sofa dan berdiri.

"Kurasa sebaiknya aku pergi"

"Takut, Jungkook?" Taehyung bergumam dengan nada mencemooh.

"Kau takut kalau kau akan menyerah dalam pelukanku ya? Aku tadi menawarimu di sini, ingin melihat seberapa jauh kau berani berdua saja bersamaku di dalam satu ruangan .. ternyata kau lari ketakutan seperti kelinci yang akan dimangsa"

Oh Ya! Tatapan Taehyung kepadanya memang seperti elang yang akan memangsa kelinci buruannya. Jungkook merasa sudah sewajarnya dia ingin menyelamatkan diri.

"Aku akan keluar dari sini"

"Kau memang harus keluar dari sini, karena kalau tidak pilihanmu hanya satu, berbaring di ranjangku"

"Itu hanya ada dalam mimpimu!"

Jungkook setengah berteriak, berlari ke pintu dan membanting pintunya keras-keras, masih didengarnya tawa Taehyung mengiringi kepergiannya.

. . .

"Jungkook."

suara Taehyung mengagetkan Jungkook yang sedang termenung di balkon. Balkon yang sama tempat dia dilempar Taehyung dengan cara mengerikan ke kolam di bawahnya beberapa waktu yang lalu.

Jungkook menoleh dan mendapati Taehyung sedang berdiri di ambang pintu balkon, menatapnya dengan tenang. Lelaki itu sepertinya baru saja pulang dari tempat kerjanya, Jungkook tidak tahu, karena dari balkon ini pemandangannya hanyalah halaman belakang dan kolam renang yang luas.

"Kenapa kau berdiri di balkon malam-malam begini?"

Taehyung mengernyit mengamati hujan rintik-rintik yang turun makin deras, bahkan airnya bercipratan mulai membasahi Jungkook yang memang berdiri sambil menatap halaman di bawah.

Sejak Jungkook dibebaskan, inilah pertama kalinya dia bisa menikmati hujan secara langsung. Dulu ketika dikurung di kamar putih Jungkook hanya bisa menikmati hujan dari jendela, tanpa menyentuhnya. Sekarang bisa merasakan percikan air membasahi tubuhnya terasa begitu luar biasa untuknya.

"Aku sedang menikmati hujan."

Jungkook membalikkan tubuhnya membelakangi Taehyung, mencoba mengacuhkan lelaki itu.

"Kau akan membuat dirimu sendiri sakit."

Taehyung mulai menggeram, tampaknya lelaki itu menahan marah. Jungkook menoleh lagi dan menatap Taehyung dengan menantang.

"Entah apa yang kau katakan tentang memberikan kebebasan padaku itu bohong, atau kau memang suka mengatur-atur dan menggangguku. Aku bisa mengurus diriku sendiri dan kuharap kau tidak menggangguku"

"Oke,"

Tatapan Taehyung kepada Jungkook terasa membakar di suasana hujan yang begitu dingin.

"Terserah, silahkan buat dirimu sendiri sakit, aku harap kau tidak merepotkanku nantinya".

Lelaki itu membalikkan badan, tetapi setelah beberapa langkah dia memutar tubuhnya kembali dan menatap Jungkook.

"Setelah kau siap aku ingin bicara denganmu"

"Tentang apa?"

Jungkook mengernyitkan kening, mulai merasa terganggu dengan interupsi-interupsi dari Taehyung. Dia sedang ingin menikmati hujan dan lelaki itu tampaknya selalu muncul di saat yang tidak tepat dan mengucapkan kata-kata yang tidak tepat pula.

"Nanti, ini mengenai ulang tahunmu yang ke dua puluh."

.

.

.

To be Continued

Kuki minta maaf belum bisa nepatin janji buat up 2x seminggu T^T) kuki benar-benar tidak bisa membagi waktu, dan baru bisa ngetik jam 3-4 pagi T^T) maafkan ~~~ *deep bow*

Ah, kemungkinan minggu depan Kuki belum bisa update, dikarenakan kuki sudah mulai ujian sekolah, dan juga sebenarnya kuki pengen *banget* double update, tapi karena kelas kuki harus ngadain study tour jadi kuki gabisa begadang (kuki paling susah bangun pagi :'v) Doakan saja supaya Mphii cepat kelar sama ujiannya dan bisa gantiin kuki xD [#FightingMphii]

Last, seperti yg pernah kuki bilang dichap sebelumnya, kalau perchap diremake setiap perbab, dan ff ini sudah mulai mendekati akhir :'D MphiKuk berniat pengen remake ff vkook *ofc* tapi masih scroll novel/story yang bagus dan tidak pasaran diffn T^T

Makaciw banget yg masih stay sama mphikuk yg php ini x'D See you again guys, I love you more than I love my gadget *lol :v

-Kuki

[GIVEAWAY STICKER LINE]

Sponsor by: line. me/ti/ p/% 40kzn3398d (Delete Space)

Line user only!

*Rules:

- Add OA sponsor (wajib)

- kirim ID Line ke roomchat OA sponsor

- Sticker akan langsung di gift tanpa pemberitahuan terlebih dahulu

- sticker dan pemenang random dari sponsor

- good luck ❤