Sleep with the Devil

-TaeKook-

.

.

BoysLove inside | M-Preg

BTS X SVT

Disc: I'm not the Owner of this story.

Author just ReMake it by wearing TaeKook as cast.

So, if you want to Read the original Story, you can visit SanthyAgatha's blog on link below

www. anakcantikspot. blogspot. co. id (Delete Space)

Note: hasil Cerita ini diRemake oleh Dua Author. Dan kami sudah meminta izin kepada pemilik cerita ini (Santhy Agatha) untuk menghindari terjadinya pelanggaran Hak Cipta.

And, if you are still under age or Dislikes BL, please just left this page.


.

.

.

Jungkook tertegun. Ulang tahunnya yang kedua puluh sebentar lagi. Kenapa Taehyung bisa mengetahui detail hari ulang tahunnya? Jungkook tertarik, tetapi dia akan memuaskan Taehyung kalau dia mengikuti Taehyung untuk berbicara dengannya.

Jangan-jangan memang itu tujuan Taehyung, supaya dia tidak berhujan-hujanan dan mengikuti Taehyung.

"Nanti aku akan menyusulmu kalau aku sudah puas disini".

Api menyala di mata Taehyung, dan tampak jelas lelaki itu mencoba menahan diri.

"Terserah, nanti temui aku di ruang kerjaku" suaranya lebih seperti geraman, kemudian membalikkan badan dengan marah.

. . .

Setelah puas menikmati hujan, Jungkook masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian dan makan malam. Dia sengaja tidak menemui Taehyung, lagipula sepertinya lelaki tadi hanya asal bicara ketika bilang ingin berbicara tentang hari ulang tahunnya. Dan Jungkook tidak yakin kalau Taehyung akan menunggunya.

Lelaki itu sepertinya sangat sibuk dan punya banyak urusan.

"Kenapa kau tidak menemuiku di ruang kerjaku?"

suara di kegelapan itu mengagetkan Jungkook. Dia menajamkan matanya dan melihat Taehyung duduk di sana, di keremangan kamarnya.

"Kenapa kau masuk ke kamarku tanpa izin?"

Jungkook berteriak kaget, tangannya meraba-raba saklar lampu di diniding, berusaha menghilangkan kegelapan yang menyelubungi Taehyung, karena lelaki itu tampak lebih menyeramkan di antara cahaya yang remang-remang.

Jungkook berhasil menyalakan lampu dan cahaya itu langsung menyelubungi Taehyung. Lelaki itu duduk di sofanya, dengan santai, hanya memakai piyama sutera warna hitam dan disebelah tangannya memegang gelas minuman. Jungkook melirik ke botol brendy yang entah berasal dari mana, yang sepertinya sudah dituang Taehyung selama menunggunya.

Apakah lelaki itu mabuk? Jantung Jungkook mulai berdegup. Dalam keadaan sadar saja emosi Taehyung sangat tidak mudah ditebak, apalagi dalam kondisi mabuk.

"Apa yang kau lakukan disini Taehyung?"

Taehyung mendengus dan menatap Jungkook dengan tajam.

"Kau pikir apa? Aku menunggumu di ruang kerjaku dan kemudian menyadari bahwa kau, dengan kepalamu yang keras kepala itu memutuskan untuk melawanku"

Jungkook mundur ke belakang, melirik pintu putih itu, dan berusaha sedekat mungkin di sana, sehingga ketika Taehyung bertindak di luar batas dia bisa segera melarikan diri.

Taehyung tersenyum melihat tingkah Jungkook.

"Kau seperti kelinci ketakutan lagi Jungkook, apakah kau takut aku akan melakukan sesuatu yang kejam? Seperti mencampurkan obat di minumanmu, atau … melemparkanmu dari balkon lagi?"

Taehyung menyeringai, meletakkan gelasnya dan berdiri, makin lama makin mendekati Jungkook.

"Apakah kau mabuk Taehyung?"

Jungkook melirik ke arah pintu, hanya butuh beberapa detik kalau Jungkook ingin melarikan diri dari Taehyung. Dia pasti bisa melakukannya.

"Kim Taehyung tidak pernah mabuk."

Taehyung melangkah mendekat dengan tenang, seperti singa yang mengendap endap mengincar mangsanya.

"Dan kau .. Seharusnya kau mendengarkan apa yang kuperintahkan, Jungkook"

Jungkook tahu di situlah titiknya. Di situlah titik Taehyung kehilangan kesabarannya, karena itulah Jungkook langsung melompat dan mencoba melarikan diri ke pintu. Dia berhasil membuka pintu itu sedikit, sebelum dengan gerakan lebih cepat dan tanpa suara, Taehyung sudah ada dibelakangnya, mendorong pintu itu menutup kembali sebelum sempat terbuka.

Taehyung mendorongnya rapat ke pintu, dan dengan terkejut Jungkook bisa merasakan kejantanan Taehyung yang mendesak keras di bagian belakang tubuhnya. Dia ingin bergerak dan menghindar, tetapi ternyata Taehyung sudah menahannya di semua sisi.

Jungkook ketakutan. Apakah dia akan dipaksa lagi? Udara mulai terasa menyesakkan dan Jungkook mulai terengah-engah.

"Aku tidak pernah bercinta sambil berdiri."

Taehyung berbisik di telinganya dengan bisikan panas yang membuat sekujur tubuh Jungkook menggelenyar.

"Dan kau membuatku ingin melakukannya"

Jungkook terkesiap, mencoba meronta sekuat tenaga. Tetapi percuma karena Taehyung begitu kuatnya.

"Apakah kau akan memaksaku lagi, Kim Taehyung?" Jungkook berteriak di tengah usahanya membebaskan diri.

"Kalau iya, maka kau sudah membuktikan kepadaku, kalau kau memang adalah lelaki bajingan yang hanya bisa mendapatkan pria lemah dari pemerkosaan"

Kata-kata Jungkook rupanya berhasil membuat kesadaran Taehyung kembali. Lelaki itu tertegun. Dan sedetik kemudian yang melegakan, Taehyung melepaskan Jungkook.

"Sialan!"

Taehyung berbisik marah ditelinga Jungkook dan meninggalkannya. Sendirian, Jungkook berusaha menyandarkan dirinya di pintu, napasnya terengah-engah dan dia merasa lepas. Gairah Taehyung ternyata juga mempengaruhinya. Dan Jungkook semakin takut akan tiba saatnya baginya, menyerah ke dalam pelukan Taehyung.

.

.

.

Hari ini hari Minggu, seharusnya menjadi hari istirahat yang menyenangkan bagi semua orang. Tetapi emosi Taehyung luar biasa buruknya pagi itu dan menyebar ke seluruh penjuru rumah. Suasana rumah jadi menegangkan. Seluruh pelayan berbicara sambil berbisik-bisik ketakutan, membicarakan Tuan mereka yang marah-marah seharian ini.

Pagi tadi Taehyung sudah membanting gelas di meja hingga anggurnya berceceran menodai taplak meja yang berwarna putih, hanya karena minumannya tidak cocok dengan seleranya, dia memanggil Yoongi dan membentaknya karena beberapa pengawal belum berjaga di gerbang depan.

Bahkan sekretaris dan pengatur keuangan rumah tangganya pun ikut kena semprot ketika dia memeriksa laporan di ruang kerjanya tadi. Sekarang semua orang saling bersembunyi berusaha menghindari berurusan dengan tuan mereka yang begitu mengancam, seperti beruang yang terluka.

Yoongi masuk dengan hati-hati ke ruang kerja Taehyung.

"Ada apa?"

"Baju-baju untuk tuan Jungkook sudah datang"

"Bagus"

"Apakah kita harus memesan pakaian sebanyak itu? Bukankah tuan sendiri bilang tidak akan menahan Jungkook lebih lama?"

"Tutup mulutmu Yoongi!" Taehyung menggeram,

"Biarkan aku mengurus apa yang menjadi urusanku sendiri!"

Yoongi mengangguk, menyadari bahwa tuannya sudah hampir meledak marah dan memilih pergi daripada terkena dampratannya seperti pagi tadi.

Taehyung berdiri mondar-mandir di ruangannya, kemudian berhenti dan menuangkan segelas vodka murni untuk dirinya sendiri. Dia meneguknya, dan cairan putih itu serasa begitu membakar di ternggorokannya.

Tubuhnya begitu bergairah. Mengingat sekian lama dia menahan diri. Dia bisa saja melampiaskan gairahnya kepada perempuan-perempuan yang memujanya dan pasti bersedia melakukan apapun untuknya. Tetapi dia tidak ingin sembarang orang, dia ingin Jungkook. Sialan! Kenapa pikirannya terus-menerus tertuju kepada Jungkook?

Dengan rasa frustrasi yang masih memenuhinya, ia melangkah panjang-panjang ke arah kamar Jungkook, membuka kamar itu tanpa permisi, dan menemukan Jungkook ada di kamar.

Jeonghan ada di sana, memamerkan baju-baju pesanan yang baru datang untuk Jungkook, sedangkan pria itu hanya duduk di sana, menatap pakaian-pakaian mahal itu dengan bosan.

Jeonghan langsung menghentikan kegiatannya dan meminta izin keluar begitu Taehyung masuk dengan wajah muram.

"Kau menyukai pakaian-pakaian itu?"

"Apakah pendapatku penting?"

Taehyung menatap Jungkook marah.

"Apa maksudmu?"

"Bukankah dirumah ini apa yang diinginkan Kim Taehyung bagaikan perintah raja yang harus dituruti? Aku melihat sendiri bagaimana orang-orang hilir mudik, panik seharian mengatasi sikap marah-marahmu yang tak ada habisnya itu."

"Oh ya? Dan kau pikir itu karena siapa?"

Jungkook menegakkan dagunya menantang.

"Karena siapa?"

"Karena kau, dasar pria kecil yang keras kepala!"

Jungkook mengernyit marah.

"Dan apa yang kulakukan padamu wahai tuan Taehyung yang baik hati?"

"Kau selalu menantangku hingga aku harus menahan diri di batas kesabaranku, sikapmu itu membuatku muak!"

"Kau pikir aku harus bagaimana Taehyung? Kau musuhku, meskipun sekarang aku memutuskan sedikit bekerjasama dengan tidak mencoba kabur, kau tetap musuhku. Dan ketika aku merasa keadaan sudah baik, aku tetap menuntut dibebaskan"

"Selalu ke arah itu" gumam Taehyung kesal.

"Aku masih belum ingin membahasnya." lelaki itu menatap Jungkook tajam.

"Aku memintamu melakukan sesuatu untukku"

Jungkook mengangkat alisnya, tertarik, Taehyung tidak pernah meminta sesuatu. Lelaki itu terbiasa memerintah lalu ketika itu tidak dituruti, dia akan memaksakan apapun yang diinginkannya.

"Ya aku memintamu menghilangkan rasa permusuhanmu itu dan mencoba menerimaku sebagai kekasihmu"

Jungkook melangkah mundur tanpa sadar.

"Menerimamu sebagai apa? Apa kau sudah gila?"

"Hmm .. Aku bahkan punya rencana yang lebih gila dari itu, lebih daripada yang bisa kau bayangkan, kau akan tahu nanti." matanya menatap Jungkook penuh rahasia.

"Tapi yang pasti, gairah di antara kita begitu membara dan aku tidak munafik mengakuinya di depanmu, aku selalu terangsang ketika melihatmu. Aku terangsang ketika membayangkanmu, aku ingin menidurimu setiap waktu .."

"Hentikan kata-kata vulgarmu itu!" Jungkook berteriak ingin menutup telinganya yang terasa panas.

Taehyung terkekeh.

"Mungkin kau perlu merasakan sendiri, bagaimana aku tergila-gila pada tubuhmu."

Lelaki itu meraih Jungkook ke dalam pelukannya dengan lembut, dan langsung melumat bibirnya. Taehyung melumat seluruh bibir Jungkook, dan kemudian lidahnya masuk, menjelajahi lidah Jungkook, bertautan dengan lidah Jungkook dan kemudian menjelajahi seluruh diri Jungkook, bibirnya bergerak melumat bibir Jungkook tanpa ampun.

Lelaki itu begitu bergairah tetapi tetap bersalut kelembutan, dan sejenak Jungkook terhanyut dalam ciuman yang luar biasa itu, sampai kemudian dia merasakan kejantanan Taehyung yang begitu keras kembali menekan tubuhnya.

Dengan napas terengah-engah Jungkook melepaskan dirinya dari pelukan Taehyung.

"Jungkook .. sudah siap untukku" mata Taehyung menyala penuh gairah.

"Kenapa kau tidak mau mengakuinya dan tidak saling menyiksa seperti ini?"

"Aku tidak menginginkanmu sebagai kekasihku dan aku tidak siap untuk apapun yang berhubungan denganmu." Bantah Jungkook keras.

Taehyung menyipitkan mata, menatap Jungkook dengan tatapan menuduh.

"Oh ya? Tadi kau hanyut dalam ciumanku, bibirmu panas dan melembut untukku, siap menerimaku"

Siapa yang tidak menginginkan lelaki yang luar biasa tampan ini? Semua perempuan atau pria pasti bermimpi bisa ada di dalam pelukannya, semua pasti membayangkan bagaimana kalau lelaki sekejam Taehyung berperilaku lembut. Oh, Jungkook pernah merasakannya, beberapa kali malahan, dan ingatan tentang hal itu membuat tubuhnya memanas memanas.

"Kau adalah pembunuh orangtuaku"

Jungkook menatap Taehyung dengan penuh kebencian.

"Dan bagiku itu adalah dosa tak termaafkan, aku akan selalu menyalahkanmu atas hal itu"

Tertegun sejenak, lalu Taehyung mundur selangkah dengan begitu dingin.

"Oke"

Dan ketika Jungkook mengangkat kepalanya, Taehyung sudah keluar dari ruangan itu. Jungkook menghembuskan nafas panjang.

Apakah dia salah? Tetapi bukankah semua yang dilakukan Taehyung atas dasar nafsu? Lelaki itu jelas-jelas bergairah kepadanya dan menginginkannya. Tetapi setelah itu apa? Jungkook tidak mau jatuh dalam jerat rayuan Taehyung seperti pria murahan. Seperti para kekasih Taehyung yang dicampakkan begitu saja setelah lelaki itu puas. Setidaknya meskipun dia gagal membalaskan dendamnya, dia bisa pergi dari kehidupan Taehyung dengan penuh harga diri.

. . .

Taehyung berdiri malam itu di tengah taman di depan rumahnya, berharap udara dingin bisa meredakan gairahnya yang membuat tubuhnya begitu panas. Ditatapnya jendela kamar Jungkook di lantai dua.

Jendela itu terbuka, dan cahaya temaram memantul dari sana, tampak begitu jelas. Taehyung menatap jendela itu dengan frustrasi. Pria itu ada di sana dan Taehyung seharusnya bisa dengan mudah memilikinya. Tetapi sikap pria itu seolah-olah membuatnya merasa menjadi bajingan menjijikkan kalau dia sampai memaksakan kehendaknya kepada Jungkook.

Taehyung tertegun ketika melihat bayangan Jungkook terpantul dari kamar. Sepertinya Jungkook berdiri dekat lampu tidur di samping ranjangnya, karena bayangannya muncul dari gorden jendela bagaikan siluet gelap yang erotis.

Jungkook tampak sedang berjalan mondar-mandir di kamarnya, dan Taehyung menatapnya dengan penuh minat. Lalu pria itu membuat gerakan membuka bajunya. Taehyung menelan ludah, melirik ke sekelilingnya yang sepi, mulai merasa tidak nyaman karena membuat dirinya seperti seorang pengintip mesum yang mengintip siluet pria berganti baju dengan penuh gairah.

Siluet Jungkook melepas kemejanya, dan tubuh bagian atasnya yang polos terpantul dalam bayangan gelap dengan bentuk tubuh yang menggoda. Lalu Sialan! Taehyung mulai mengumpat ketika bayangan Jungkook di jendela membuat gerakan mengangkat salah satu kakinya ke ranjang dan tampaknya melepas celana panjangnya.

Gerakan itu tampak sangat seksi di bawah sini, dan Taehyung menggertakkan giginya dengan marah. Ia benar-benar siap meledak, dan Jungkook malahan memperburuk keadaan dengan pantulan bayangannya di jendela –meskipun dia tidak sengaja – Dan Taehyung sungguh-sungguh siap meledak dalam arti yang sebenarnya saat ini mengingat kejantanannya sudah begitu keras hingga terasa menyakitkan.

Dengan geraman marah, Taehyung melangkah terburu-buru menaiki tangga, membanting kakinya di setiap langkahnya, dibukanya pintu kamar itu dengan kasar. Matanya membara dan dia siap untuk bertengkar, dan menemukan Jungkook sedang duduk di sofa, sudah berganti dengan piyama tidurnya dan sedang membaca sebuah buku.

Jungkook mengangkat alis melihatnya, tampak begitu tenang.

"Ada apa Taehyung?"

Taehyung terengah menahan kemarahan.

"Jendela itu!"

tunjuknya marah, lalu melangkah lebar-lebar menyeberangi ruangan dan menutup kaca jendela itu dengan kasar, dia membalikkan tubuhnya menghadap Jungkook dengan posisi siap bertarung.

"Lain kali tutup rapat-rapat jendela itu kalau sudah malam!" teriaknya marah.

Jungkook menatap Taehyung bingung.

"Memangnya kenapa?"

Karena aku melihatmu berganti pakaian bagaikan siluet erotis dari bawah! Karena pemandangan itu membuatku terangsang sampai terasa nyeri! Karena .. Taehyung berdiri dengan tatapan membakar, siap memuntahkan emosinya, tetapi kemudian menyadari bahwa dia hanya akan tampak bodoh kalau meluapkan apa yang ada di pikirannya.

Ditatapnya Jungkook dengan dingin dan mendesis pelan,

"Pokoknya tutup jendela itu kalau sudah malam!" Dan dengan penuh harga diri, Taehyung melangkah keluar dari kamar Jungkook, meninggalkan pintu berdebam di belakangnya.

.

.

.

Pagi itu tak seperti biasa ada dua pelayan muda yang membereskan kamar Jungkook, sepertinya mereka orang baru.

Jungkook masih duduk di sana selepas mandi dan membiarkan para pelayan itu membereskan ranjangnya.

Salah seorang pelayan itu menarik bed cover Jungkook tampak memeriksa sepreinya, lalu berbisik-bisik satu sama lain dan tertawa cekikikan, ketika Jungkook menatap mereka dengan dahi berkerut, dua pelayan perempuan itu memasang muka datar dan bergegas pergi.

Jungkook menoleh ke arah Jeonghan, yang juga ada di ruangan itu, sedang membereskan baju-baju Jungkook yang sepertinya tidak ada habisnya dan terus berdatangan itu ke dalam lemari pakaian Jungkook.

"Kenapa mereka bersikap seperti itu?" tanya Jungkook ingin tahu.

Jeonghan melirik ke arah kepergian pelayan itu dan tersenyum.

"Mereka orang baru, dan tentu saja sangat penasaran denganmu"

"Penasaran denganku?"

"Kekasih Tuan Taehyung yang terbaru" jawab Jeonghan datar,

"Ah, kau tidak tahu ya, semua orang kan membicarakan kalian. Bahkan, namamu sempat muncul di beberapa tabloid gosip dan acara-acara gosip, yang membahas kekasih terbaru Kim Taehyung yang misterius. Kau adalah satu-satunya pria yang pernah tinggal bersama Taehyung, dan mereka menebak-nebak serta mencari bukti bahwa kalian telah bercinta, karena itulah tadi para pelayan tertawa cekikikan

ketika memeriksa sepraimu"

Pipi Jungkook merah padam, tetapi Jeonghan sepertinya tidak menyadarinya, dan tetap melanjutkan kata-katanya.

"Yah para pelayan itu mungkin saling berspekulasi dan menanti, kapan saat mereka ahkirnya bisa menemukan bukti-bukti bahwa kalian tidur bersama untuk dijadikan bahan gosip selanjutnya."

gumamnya dalam senyum, Lalu menatap Jungkook sambil mengangkat alisnya.

"Hei aku juga penasaran, kalau mereka serius mencarinya, apakah mereka akan menemukan bukti-bukti itu Jungkook?" tanyanya penuh arti, membuat pipi Jungkook semakin merah padam.

. . .

"Tuan Jungkook?"

Yoongi masuk dan mengangkat alis melihat Jungkook mondar-mandir di kamarnya dengan gelisah.

"Apa?", suara Jungkook tanpa sadar menegang. Semua yang berhubungan dengan Taehyung membuatnya tegang dan ingin mengumpat-umpat siapapun yang ada di dekatnya.

"Tuan Taehyung ingin bertemu anda"

Bagus. Jungkook menganggukkan kepalanya dan mengikuti Yoongi, lalu tertegun setengah mengernyit ketika Yoongi membawa Jungkook ke kamar Taehyung,

"Di kamar ini?"

Yoongi mengangguk, dan entah Jungkook salah lihat atau tidak, hanya sedetik dia sempat melihat sinar geli di mata lelaki itu. Kurang ajar. Jangan-jangan mereka semua mentertawakan ketakutannya pada Taehyung.

"Ya tuan, tuan Taehyung ingin menemui anda di kamar ini"

Sejenak Jungkook ingin kabur saja. Tetapi Jungkook sadar, ini sebuah tantangan, Taehyung menantangnya dan Jungkook tidak akan kalah.

"Baiklah"

Jungkook menghela napas dalam-dalam dan membiarkan Yoongi membukakan pintu untuknya, Dia langsung berhadapan dengan Taehyung yang berdiri dengan begitu tampan di tengah ruangan. Lelaki itu menunggu Yoongi menutup pintu dan meninggalkan mereka berdua sendirian, lalu berkata tenang.

"Selamat malam Jungkook" Taehyung tersenyum tenang.

"Sebenarnya aku ingin membahas hal-hal yang berkaitan dengan ulang tahunmu ke duapuluh" senyumnya berubah misterius

"Tetapi kemudian aku sadar bahwa pembiacaraan baik-baik tidak akan ada gunanya di antara kita, jadi aku langsung saja"

Hening, Taehyung terdiam dan Jungkook menunggu dengan ingin tahu apa yang akan dikatakan lelaki itu.

"Aku sudah memutuskan masa depanmu."

Mata Taehyung begitu kelam seperti danau kecoklatan di kegelapan malam. Masa depannya? Memangnya siapa lelaki ini bisa memutuskan masa depannya? Jungkook ingin meledak dalam kemarahan, tetapi tidak mampu. Taehyung tampak berbeda, dia tampak begitu tenang tetapi dibalut kemarahan berbahaya, begitu dingin sekaligus mempesona. Lagipula, kenapa Jungkook berpikir bahwa Taehyung mempesona? Sambil mengutuk dirinya sendiri, Jungkook mencoba menghapus pikiran-pikiran yang mengarah kepada keterpesonaannya kepada Taehyung.

Jungkook mengamati Taehyung lagi dan sedikit merasa tidak nyaman, karena melihat Taehyung begitu tenang, tanpa sedikitpun emosi malah terasa menakutkan.

Jungkook tidak suka, dia lebih suka Taehyung yang meledak-ledak dan marah daripada Taehyung yang seperti ini. Dengan Taehyung yang meledak-ledak Jungkook bisa melawan dengan emosinya, tetapi dengan Taehyung yang begitu dingin yang bisa dilakukan Jungkook hanyalah menyurut mundur, ketakutan.

Taehyung mengamati reaksi Jungkook melemparkan pandangan menilai, lalu melanjutkan kata-katanya,

"Kau harus menjadi kekasihku yang sebenar-benarnya, Jungkook. Mulai malam ini" Taehyung mulai berdiri.

"Aku hanya sekali memberikan penawaran. Kau jadi kekasihku, dan aku akan memperlakukanmu dengan baik. Kalau kau menolak, aku akan menganggapmu tak berharga dan melemparmu kepada pengawal-pengawalku"

Apa?

Keringat membasahi dahi Jungkook, Taehyung bercanda bukan? Apa maksudnya melemparnya kepada pelayan-pelayannya? Apakah Taehyung ingin memberikannya supaya diperkosa para pengawalnya? Taehyung tidak mungkin sekejam itu bukan? Jungkook menatap mata Taehyung dengan ketakutan, mencoba mencari kebenaran di sana, tetapi dia tidak menemukannya.

Lelaki ini kejam, dan siapa tahu apa yang akan dilakukannya?

"Bagaimana Jungkook? Aku atau kau dibuang ke para pengawalku?"

Jungkook menatap Taehyung marah.

"Kau tidak akan berani melakukan hal menjijikkan semacam itu"

"Jangan menantangku Jungkook" desis Taehyung tajam,

"Aku bukannya belum pernah melakukannya kepada pria yang kuanggap tidak berguna lagi"

Jungkook tertegun. Apakah Taehyung benar-benar serius?

"Kau hidup disini dengan mewah, diperlakukan seperti puteri raja, dihormati layaknya kekasih Kim Taehyung dan aku sudah muak dengan kelakuanmu yang selalu menantangku setiap ada kesempatan. Sekarang hanya ini pilihanmu dan kau akan memutuskan sekarang. Aku atau dibuang kepada para pengawalku"

Apakah dia bisa melarikan diri dari sini? Jungkook ingin berteriak panik, ataukah dia harus bunuh diri saja? Tetapi Jungkook yakin Taehyung tidak akan membiarkannya. Oh, dengan kekejamannya mungkin Taehyung akan membiarkan Jungkook mati, tetapi dia akan memastikan Jungkook menderita dulu sebelumnya.

"Kau .." Jungkook menelan suara yang dikeluarkannya dengan berat.

Ada nyala di mata Taehyung.

"Apa Jungkook? Aku tidak mendengarnya"

Taehyung sengaja dan Jungkook mengeram marah dalam hatinya, kurang ajar lelaki itu!

"Kau, aku memilih kau"

Senyum di bibir Taehyung adalah senyum kemenangan yang dingin.

"Kalau begitu, datanglah kemari kekasihku," Lelaki itu membuka tangannya, dan Jungkook melangkah dengan tertahan ke arahnya.

Dengan sensual, lelaki itu meraih Jungkook dan mengecup bibirnya sekilas.

"Bagus, jangan uji kesabaranku, aku tidak mau dilawan malam ini"

.

.

.

-To be Continued-

Berapa lama kuki gak update?-3-

Hoh, maafkan kuki~~ kuki benar-benar sangat sibuk T^T reall life kill me *ngeles x'D

Ahh~ ntah kenapa sukak banget sama karakter tae disini, bngstnya nambah (︶^︶)

Kuki minta maaf kalau masih ada typo atau nama nyempil, sungguh pukul 03:18 AM adalah saksi kuki ngetik wks x'D

Kayy, #HappySugaDay #HappyYoongieDay ahh, kuki makin tjintah sama mas agus and all readers ❣ *telat woyy