Sleep with the Devil
-TaeKook-
.
.
BoysLove inside | M-Preg
BTS X SVT
Disc: I'm not the Owner of this story.
Author just ReMake it by wearing TaeKook as cast.
So, if you want to Read the original Story, you can visit SanthyAgatha's blog on link below
www. anakcantikspot. blogspot. co. id (Delete Space)
Note: hasil Cerita ini diRemake oleh Dua Author. Dan kami sudah meminta izin kepada pemilik cerita ini (Santhy Agatha) untuk menghindari terjadinya pelanggaran Hak Cipta.
And, if you are still under age or Dislikes BL, please just left this page.
.
.
.
Taehyung membaringkan Jungkook ke atas ranjang. Jemarinya menyusup ke balik celana Jungkook dan langsung menyentuh kejantanannya. Sentuhan itu membakar sekaligus menyejukkan dan Jungkook langsung mengangkat tubuhnya penuh gairah. Taehyung menundukkan kepalanya, mengecup leher dan pundak Jungkook sambil menurunkan kemejanya, menikmati betapa Jungkook menyerah kepada gairahnya.
"Ah sayangku, kau begitu indah."
Taehyung mengecup nipple Jungkook, melumatnya penuh gairah, membuat Jungkook hampir menjerit karena siksaan kenikmatan yang berbaur menjadi satu. Lelaki itu menurunkan celana Jungkook dan mulai menyentuhnya, dimana-mana, meninggalkan gelenyar panas yang membakarnya.
Jemari Taehyung menyentuh pintu masuk dan Jungkook merasakan dorongan yang amat sangat untuk memohon agar Taehyung mau memasukinya. Dan Taehyung sudah siap, Lelaki itu terasa begitu keras dan panas di bawah sana. Jungkook mendesak-desakkan tubuhnya dengan frustrasi, permohonan tanpa kata.
"Tenang sayangku" Taehyung mulai terengah, menahan pinggul Jungkook yang bergairah di bawahnya.
"Aku akan memuaskanmu sebentar lagi"
Taehyung menyentuhkan dirinya, dan langsung menggertakkan giginya, melawan dorongan kuat untuk memasuki Jungkook dengan kasar. Jungkook sudah sangat siap menerimanya, tetapi Taehyung bertekad memperlakukannya dengan lembut, memberikan tubuhnya untuk kenikmatan Jungkook.
Ketika kehangatan Taehyung merasukinya, tenggelam dalam tubuhnya yang panas dan basah, Jungkook mengerang dan memejamkan mata. Oh astaga! Rasanya begitu tepat, kenikmatan ini, kedekatan ini yang telah dia sangkal selama ini. Rasanya luar biasa tepatnya!
Mereka bergerak dalam alunan gairah yang keras, berusaha memuaskan gejolaknya sendiri-sendiri. Sampai akhirnya tubuh Jungkook terasa melayang, mencapai puncak kenikmatannya didorong oleh rasa klimaks yang begitu dalam. Ketika mendengar erangan, Taehyung mengikutinya. Menyerah dalam orgasme bersamanya.
. . .
Ada yang berbeda dalam hubungan mereka. Jungkook menyadari pagi itu, mengingat senyum lembut Taehyung ketika Jungkook terbirit-birit kembali ke kamarnya ketika hari hampir menjelang pagi. Terutama perasaan Jungkook ke Taehyung, ada yang berubah.
Ternyata selama ini dia juga frustrasi oleh gairah yang tertahan, sama seperti yang dirasakan Taehyung. Dan ketika
semalaman mereka saling memuaskan gairah masing-masing, pagi ini perasaannya luar biasa bahagia. Jungkook bahkan merasa ingin bersenandung. Pagi ini, karena Taehyung biasanya sudah berangkat bekerja jam-jam segini. Jungkook memutuskan untuk mengisi waktunya dengan menjelajah seluruh isi rumah. Dia memutuskan untuk
menjelajahi area sayap kanan rumah yang besar itu.
Tanpa di temani siapapun, Jungkook menyusuri lorong-lorong, ruangan demi ruangan, sampai akhirnya tiba di ujung lorong, dengan dinding yang sepenuhnya terbuat dari kaca, memantulkan cahaya matahari ke seluruh lorong dan pemandangan yang luar biasa indahnya di balik kaca.
Pemandangan kebun mawar berwarna merah tua yang merambat dan memenuhi taman kecil di sana.
Jungkook terpesona hingga hampir sesak napas. Dia berdiri cukup lama di depan taman itu, lalu kemudian mengerutkan keningnya ketika menyadari, bahwa sayap kanan rumah ini, meskipun tampak bersih dan terawat, tampaknya hampir tidak pernah digunakan.
Jungkook menoleh ke kiri, dan menemukan sebuah pintu besar berwarna keemasan, dengan penuh rasa ingin tahu dia membuka handle pintu itu. Sepertinya susah dan macet, tetapi kemudian setelah Jungkook mencoba beberapa kali, pintu itu terbuka dengan mudahnya, dengan suara berderit karena engsel yang sudah lama tak diminyaki.
Ruangan itu temaram, karena jendela kamarnya tertutup rapat oleh gorden, baunya pengap seperti sudah lama tidak dimasuki. Jungkook meraba-raba dinding dan menemukan saklar di kamar itu, ditekannya saklar kamar itu, dan cahaya kekuningan yang lembut langsung menyinari seluruh ruangan.
Itu sebuah kamar. Kamar yang sangat feminim dengan nuansa merah muda yang lembut, hampir putih. Jungkook
mengitarkan pandangannya ke kamar itu dan mememukan sesuatu yang membuatnya tertegun .. Dan memucat.
Ada sebuah lukisan besar yang digantung di kamar itu. Lukisan yang sangat besar dengan bingkai keemasan yang sangat indah. Tetapi bukan besarnya lukisan itu atau indahnya bingkai itu yang membuat Jungkook tertegun, tetapi orang dalam lukisan itu. Di sana terlukis seorang perempuan yang sedang berdiri di tengah taman mawar, dengan gaun merah muda dan rambut cokelat tuanya yang panjang dan berkilau, sedang tertawa bahagia, seolah-olah perempuan itu tidak bisa menahan senyumnya kepada siapapun yang melukisnya.
Perempuan itu memeluk perutnya yang sedikit buncit, sedang hamil muda. Perempuan itu tampak penuh bahagia … penuh cinta, dan yang membuat Jungkook luar biasa kagetnya, wajah perempuan itu .. Wajah perempuan itu .. Sama persis dengan wajahnya.
Oh ya Tuhan! Sama persis! Bagaikan pinang di belah dua. Meskipun perempuan di lukisan itu tampak lebih anggun dan lebih feminim, juga meskipun ia seorang pria, Jungkook sangat yakin bahwa selain semua alasan itu, wajah mereka berdua tampak begitu serupa!
Tapi Jungkook yakin itu bukan lukisan dirinya. Dia tidak pernah mengenakan gaun merah muda, dia tidak pernah dilukis di tengah taman mawar, dan yang pasti, dia tidak pernah hamil sebelumnya!
Jadi siapakah perempuan itu? Siapakah dia?
"Seharusnya Anda tidak boleh ke area ini"
Suara dingin dan tenang di belakangnya membuat Jungkook terlonjak kaget. Dia menolehkan kepalanya gugup dan
menemukan Yoongi berdiri di sana, menatapnya dengan tatapan dingin yang biasanya.
"Siapakah perempuan di lukisan itu Yoongi?"
Yoongi melirik sekilas pada lukisan di dinding itu, Jungkook merasa melihat sepercik kesedihan di sana, meskipun dia tidak yakin, karena ketika menatap Yoongi lagi, lelaki itu sudah kembali memasang ekspresi datar.
"Saya tidak bisa mengatakannya kepada Anda, Tuan Taehyung akan sangat marah .."
"Kumohon," Jungkook menyela dengan cepat.
"Jika kau tidak mau mengatakannya kepadaku, aku akan menanyakan langsung kepada Taehyung"
Wajah Yoongi mengeras.
"Anda tidak boleh melakukannya, saya tidak akan membiarkannya karena itu akan menyakiti Tuan Taehyung"
Perkataan Yoongi itu makin membuat Jungkook penasaran. Ada apa ini sebenarnya? Apakah inilah jawaban kenapa Taehyung menyekapnya selama ini? Jungkook akan mengejar jawaban itu dari Yoongi, apapun yang terjadi, ditatapnya Yoongi dengan keras kepala.
"Kalau begitu jelaskan padaku siapa perempuan ini, kenapa wajahnya begitu sama denganku, dan apakah ini penyebab Taehyung menyekapku?"
Yoongi menghela nafas panjang.
"Baik akan saya jelaskan, tetapi jangan di sini, ayo ikut saya."
Lelaki itu membalikkan tubuhnya dan bergegas keluar dari kamar, seolah-olah berada di dalam kamar itu terasa
menyesakkannya. Tiba-tiba Jungkook juga merasa sesak sehingga dia langsung mengikuti langkah Yoongi keluar dari kamar itu.
. . .
"Perempuan itu adalah Nyonya Kim Seokjin"
Yoongi bergumam datar, menatap mata Jungkook dalam-dalam. Mereka sekarang duduk di ruang duduk di bagian belakang rumah yang berakses langsung ke taman belakang dan dilengkapi dengan sofa-sofa cantik yang nyaman dan meja kopi yang saat ini menyediakan kopi hangat yang mengepul di meja.
Jungkook mengernyit mendengar informasi itu, Kim Seokjin? Apakah dia ibu Taehyung? Tetapi setahunya, ibu Taehyung bernama Baekhyun.
"Bukan ibu tuan Taehyung." Yoongi sepertinya bisa membaca pikiran Jungkook.
"Nyonya Kim Seokjin adalah almarhum isteri Tuan Taehyung"
Jungkook terperangah dan tiba-tiba merasa sesak napas, dadanya seperti dihantam oleh ribuan ton batu sehingga terasa nyeri. Isteri? Taehyung pernah punya isteri sebelumnya? Dan kenapa wajah perempuan itu sama persis dengannya?
"Tuan Taehyung menikahi Nyonya Seokjin ketika masih sangat muda, di Italia ketika Tuan Taehyung lulus dari kuliahnya, pada usia 20 tahun. Mereka pasangan muda yang saling mencintai. Setahu saya, Tuan Taehyung sangat mencintai isterinya." Yoongi berdehem,
"Saya sudah mulai bekerja kepada Tuan Taehyung ketika itu. Dulu, beliau adalah orang yang baik, sangat mudah tertawa dan ramah. Tetapi .. Nyonya Seokjin memang berbadan lemah sejak awal, dia mempunyai penyakit jantung dengan katup yang tidak sempurna."
Yoongi menghela nafas panjang, seolah berusaha mengumpulkan kekuatan untuk bercerita.
"Kemudian Nyonya Seokjin hamil … mereka sangat bahagia sekaligus cemas … bahagia karena itu adalah anak pertama mereka, dan cemas karena itu adalah kehamilan yang sangat beresiko. Nyonya Seokjin seharusnya tidak boleh hamil karena kondisi penyakitnya, tetapi dia perempuan yang keras kepala di balik tubuhnya yang lemah…"
Yoongi tanpa sadar tersenyum, melembutkan garis-garis datar di wajahnya.
"Dia bertekad untuk hamil dan melahirkan anak Tuan Taehyung, meskipun semua orang menentangnya, bahkan Tuan Taehyung sendiri"
"Taehyung menentangnya?"
Jungkook membayangkan seorang perempuan dengan tubuh lemah, tetapi mampu menantang seluruh dunia demi calon anak yang dikandungnya, sungguh perempuan yang luar biasa.
"Ya, sudah pasti Tuan Taehyung menentangnya, kehamilan itu berbahaya, nyawa Nyonya Seokjin taruhannya"
Yoongi menundukkan kepalanya sedih.
"Kemudian Nyonya Seokjin keguguran"
Jungkook tertegun. Keguguran, jadi bayi mereka tak pernah lahir? Tiba-tiba Jungkook merasa sedih mengingat senyuman Seokjin di lukisan itu, senyuman seorang calon ibu yang sangat bahagia, dengan tangan memeluk perutnya seperti melindungi sang buah hati yang sedang terlelap di sana.
"Tubuh nyonya Seokjin ternyata terlalu lemah untuk menumbuhkan seorang bayi dalam rahimnya, dia tidak mungkin mengandung sampai anak itu lahir .. kenyataan itu menghancurkan perasaan Nyonya Seokjin dan membuat kondisi fisiknya makin lemah." Yoongi menghela nafas.
"Nyonya Seokjin semakin hari semakin sakit, hingga akhirnya sudah tak mampu bangun dari ranjangnya. Di suatu pagi, Tuan Taehyung menemukannya sudah meninggal dalam tidurnya"
Air mata Jungkook menetes, meninggal karena patah hati. Jungkook teringat kepada ibunya. Mereka berdua meninggal karena patah hati. Tidakkah mereka menyadari bahwa mereka egois? Meninggalkan semua beban di dunia ini dengan lepasnya, tanpa memikirkan bahwa mereka juga meninggalkan patah hati bagi siapapun yang mereka tinggalkan?
"Sejak kematian Nyonya Seokjin, sepuluh tahun yang lalu … Tuan Taehyung berubah, dia menutup hatinya. Dan menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Dia tidak pernah sama lagi sejak saat itu."
Jungkook mengusap air matanya dan menatap Yoongi tajam.
"Jadi, karena itukah Taehyung menyekapku di sini? Karena wajahku sama persis dengan almarhumah isterinya?"
Yoongi menatap Jungkook dalam-dalam.
"Anda seharusnya tahu bahwa .."
"Yoongi"
Suara dingin Taehyung dari arah pintu membuat mereka berdua menoleh. Wajah Yoongi memucat menemukan Taehyung sedang berdiri di sana, berdiri bersandar di pintu dengan wajah tidak terbaca.
"Aku sebenarnya tidak ingin mengganggu kau yang sedang asyik bergosip dengan Jungkook" Mata Taehyung menajam.
"Tetapi aku membutuhkanmu sekarang. Ada sesuatu yang perlu kita bahas"
Secepat kilat Yoongi berdiri, meskipun ada kekhawatiran yang terpancar di wajahnya, dia telah melangkahi wewenangnya dengan menceritakan tentang Nyonya Seokjin kepada Jungkook. Entah apa yang akan dilakukan Tuannya ini kepadanya. Taehyung bahkan sama sekali tidak menoleh ke arah Jungkook, dia membalikkan badan dan membiarkan Yoongi mengikutinya.
.
.
.
Jungkook termenung di kamarnya, seluruh kata-kata Yoongi terngiang di telinganya, berulang-ulang. Kisah tentang Kim Seokjin yang cantik dan sempurna dan betapa Taehyung mencintainya. Jadi, selama ini dia hanya dipakai sebagai pengganti dari Seokjin. Entah kenapa perasaan sedih yang samar menyeruak di dada Jungkook, terasa begitu menyakitkan.
Taehyung menyekap dan mempertahankan dirinya di sini karena wajahnya mirip dengan Seokjin. Bahkan Taehyung bercinta dengannya mungkin juga sambil membayangkan Seokjin. Kemiripan wajahnya dengan almarhumah isteri Taehyung-lah yang menyelamatkannya, mungkin. Kalau tidak dia sudah dibunuh dan dihancurkan oleh Taehyung atas percobaannya melukai lelaki itu.
Ternyata bahkan gairah Taehyung yang meluap-luap itu bukan ditujukan kepadanya. Dia hanyalah sosok pengganti dari perempuan yang benar-benar diinginkan oleh Taehyung.
"Aku berani bertaruh bahwa pikiran-pikiran yang buruk sedang berkecamuk di kepalamu yang mungil itu"
Karena sibuk dengan pikirannya, Jungkook tidak menyadari kedatangan Taehyung. Jungkook mengamati Taehyung, lelaki itu tampak lelah.
"Aku ingin segera keluar dari sini, setelah aku mengetahui semuanya, kau tidak berhak lagi memanfaatkanku dan menahanku di sini."
Jungkook mendongakkan dagunya dengan angkuh. Taehyung melangkah mendekat, berdiri di sofa di depan Jungkook duduk, dan menatap tajam.
"Kupikir semalam kita sudah mencapai kesepakatan"
"Semalam terjadi karena kau mengancamku!" Napas Jungkook terengah menahan emosi.
"Sekarang aku sudah kembali ke pikiran warasku"
"Tidakkah kau ingin bersamaku Jungkook? Kita begitu cocok di ranjang, kau dan aku. Kita bisa menjalin hubungan yang saling menguntungkan"
"Aku menolak untuk dimanfaatkan untuk menjadi pengganti siapapun"
"Kau bukan pengganti siapapun!" Taehyung menyela tampak marah.
Mereka berdiri berhadap-hadapan saling mengukur kekuatan masing-masing. Akhirnya Jungkook berkata.
"Aku sudah mengetahui semua kebenarannya Taehyung. Aku memang bersalah mencoba mencelakaimu. Tetapi itu tidak penting lagi. Kau memang bersalah atas kematian kedua orang tuaku, dan aku berhak merasa benci dan dendam kepadamu. Tetapi kau juga sudah menyelamatkan nyawaku, jadi aku menganggap kita impas. Kalau kau melepaskanku, aku berjanji tidak akan muncul dalam kehidupanmu lagi dan tidak akan pernah berusaha mencelakaimu lagi." Jungkook menatap Taehyung sungguh-sungguh,
"Itulah penawaran terbaik yang bisa kuberikan"
"Penawaran katamu?" Taehyung mengibaskan tangannya jengkel
"Kau boleh berprasangka dengan semua kebencian tak beralasanmu itu, yang harus kau tahu, semua yang kau pikirkan di dalam kepala cantikmu itu salah"
"Aku tahu mana yang salah dan benar Taehyung. Dan kali ini aku sungguh-sungguh." Jungkook menatap Taehyung dengan tatapan mengancam.
"Pilihanmu hanya dua, melepaskanku, atau mendapati aku mati"
.
.
.
Jungkook melaksanakan ancamannya. Dia mogok makan. Di hari pertama Taehyung masih menganggap remeh ancaman Jungkook yang kekanak-kanakan itu, dan menertawakannya. Tetapi sekarang sudah hampir dua hari, dan Yoongi melapor bahwa Jungkook sama sekali tidak menyentuh makanan dan minumannya.
"Sama sekali?"
Taehyung berdiri dari duduknya dan menatap Yoongi frustrasi.
"Dia sama sekali tidak menyentuh makanannya, kami meletakkan makanannya di kamar dan dia hanya tidur di sana. Ketika kami menengok nampannya, dia tidak menyentuhnya sama sekali, bahkan minumannya pun tidak disentuhnya. Anda harus melakukan sesuatu sebelum pria itu membahayakan dirinya sendiri."
Jawab Yoongi datar, meskipun ada nada khawatir di sana.
"Aku akan menengoknya"
Taehyung melangkah memasuki kamar putih itu, dan menemukan Jungkook terbaring lemah di ranjang. Pria ini benar-benar keras kepala.
"Kenapa kau tidak memakan makananmu?" Taehyung mendesis menahan kemarahannya.
"Apakah kau ingin membunuh dirimu sendiri?"
Jungkook membalikkan badan dan menatapnya, membuat Taehyung mengernyit, wajah Jungkook tampak pucat dan bibirnya kering, pria itu juga tampak lemah.
"Kau harus memakan makananmu Jungkook, kalau tidak kau akan sakit dan membahayakan dirimu sendiri"
Jungkook menggelengkan kepalanya dan memalingkan wajahnya dari Taehyung. Taehyung mengacak rambutnya frustrasi.
"Oke, Kau mau apa?! Kau ingin bebas? Baik! Kau akan dapatkan apa yang kau mau, asalkan kau mau makan!"
Pernyataan itu membuat Jungkook menolehkan kepalanya lagi menatap Taehyung, dia berdehem, tenggorokannya terasa kering membuatnya susah berbicara, perutnya terasa nyeri, dan kepalanya pusing.
"Kau .. berjanji?" gumamnya lemah. Taehyung menatap Jungkook marah.
"Kau pikir aku bisa berbuat lain? Aku berjanji, kau bisa pegang janji seorang Kim Taehyung. Sekarang, biarkan aku membantumu minum!"
Sambil berdehem kembali karena tenggorokannya sakit, Jungkook berusaha menantang tatapan marah Taehyung dan membaca arti yang tersirat di dalamnya. Ya, Kim Taehyung selalu menjunjung harga dirinya, dia tidak akan mengingkari janji. Setelah merasa yakin, Jungkook menganggukkan kepalanya.
"Astaga Jungkook" Taehyung mendesah lega, meraih gelas air putih yang tak tersentuh, tak jauh dari ranjang, lalu duduk di samping ranjang dan membantu Jungkook duduk.
"Kau bisa minum?"
Jungkook haus sekali, dan keinginannya yang paling besar adalah langsung minum dari gelas itu dengan sekali teguk. Ketika menerima gelas itu, Jungkook langsung meneguknya dengan rakus, tetapi berhenti di tegukan pertama karena tersedak dan sakit di tenggorokannya.
"Pelan-pelan." bisik Taehyung lembut, menjauhkan gelas itu dari Jungkook.
"lelaki keras kepala."
gerutunya, lalu meneguk minuman di gelas itu, Selanjutnya yang terjadi sama sekali tidak disangka-sangka oleh Jungkook. Taehyung duduk menerjangnya dan melumat bibirnya, sekaligus mengalirkan air minum itu ke tenggorokannya. Air minum itu meluncur dengan mulus ke tenggorokan Jungkook, membasahinya yang kehausan.
Sejenak, ketika air itu telah seluruhnya berpindah, Taehyung masih bermain-main di bibir Jungkook, mempermainkannya. Kemudian, sedikit terengah, Taehyung melepaskan bibir Jungkook, mereka duduk dengan wajah berhadapan, sangat dekat hingga napas panas mereka bersahutan.
Lalu dengan gerakan tiba-tiba Taehyung menjauhkan tubuhnya dari Jungkook dan menatapnya tegang.
"Besok Jeonghan akan membantu mengemasi pakaianmu dan Yoongi akan mengantarkanmu pulang"
"Aku tidak mau membawa apapun dari sini, aku datang kesini tanpa membawa apapun, dan begitupun ketika aku keluar dari sini"
Taehyung mendesis tajam.
"Aku memaksa, Jungkook dan jangan bermain-main dengan kesabaranku"
Jungkook terdiam. Taehyung membebaskannya, itu sudah cukup. Dan kalau konsekwensinya Jungkook harus bertoleransi dengan sikap arogan lelaki itu, mungkin itu cukup sepadan.
. . .
Pakaian-pakaian yang dibelikan Taehyung untuknya sangat banyak hingga membutuhkan 3 koper besar untuk
mengepaknya, belum lagi satu koper besar berisi aksesoris seperti koleksi sepatu dan tas yang bahkan tidak sempat Jungkook pakai.
Pegawai Taehyung sudah mengatur barang-barang itu dengan rapi di bagasi, dan Yoongi sudah berdiri di sisi mobil, mempersilahkan Jungkook masuk untuk diantar pulang. Jungkook melirik ke arah rumah besar itu, Taehyung tidak ada dari pagi tadi, lelaki itu pergi entah kemana tadi pagi-pagi sekali dan Jungkook tidak berani bertanya kepada Yoongi.
Seharusnya Jungkook berbahagia, Dahi Jungkook berkerut memikirkan perasaannya. Tetapi entah kenapa dia tidak bahagia. Rasanya menyesakkan dada dan menyedihkan entah kenapa. Dan Jungkook menahan diri kuat-kuat atas dorongan emosi yang membuatnya ingin menangis.
Dengan cepat, tanpa berani menoleh ke arah rumah Taehyung, Jungkook memasuki mobil hitam itu. Yoongi menutup pintu penumpang dan duduk di kursi supir bersama seorang pengawal lain. Pelan, mobil itu meluncur melalui taman besar di halaman Taehyung dan melewati gerbang.
Detik itulah Jungkook memberanikan diri menatap rumah Taehyung, mungkin ini akan jadi yang terakhir kalinya. Dia menyerap pemandangan rumah itu dan mengenangnya, sampai kemudian pintu gerbang hitam yang tinggi itu tertutup, menghalangi pandangannya.
Selamat tinggal Kim Taehyung. Jungkook mengusap setitik air mata di sudut matanya. Setelah ini aku tidak akan memikirkanmu lagi.
.
.
.
-To be Continued-
Fast update~~
Beberapa chapter lagi sebelum End+Epilog TvT
Sambil nunggu swtd end, kuki nulis ff baru~ karena belum nemu cerita/novel yg bagus buat diremake, kuki mutusin untuk magang ngetik ff lewat ide gaje diotak xD mind to RnR? ❤
Makaciw yang masih setia nunggu ff ini update /meskipun kadang php yak x'D. tanpa kalian mphikuk bukan apa-apanya *cuapcuap* dan juga buat mphii, fighting UNnya nyan~❤
-Kuki
