Sleep with the Devil

-TaeKook-

.

.

BoysLove inside | M-Preg

BTS X SVT

Disc: I'm not the Owner of this story.

Author just ReMake it by wearing TaeKook as cast.

So, if you want to Read the original Story, you can visit SanthyAgatha's blog on link below

www. anakcantikspot. blogspot. co. id (Delete Space)

Note: hasil Cerita ini diRemake oleh Dua Author. Dan kami sudah meminta izin kepada pemilik cerita ini (Santhy Agatha) untuk menghindari terjadinya pelanggaran Hak Cipta.

And, if you are still under age or Dislikes BL, please just left this page.


.

.

.

Hari pertamanya dalam kebebasan dan Jungkook luar biasa menikmatinya. Rumah mungil yang dikontraknya masih tertata rapi seolah-olah tidak pernah ditinggalkan sebelumnya. Mungkinkah Taehyung mengirimkan orang-orangnya untuk membersihkan rumah ini? Jungkook menggelengkan kepalanya dan mencoba menghapus bayangan Taehyung dari pikirannya. Dia harus melupakan lelaki itu dan melangkah maju.

Pagi itu yang dilakukan oleh Jungkook pertama kali adalah memeriksa kulkasnya dan mengerutkan kening ketika

menemukan kulkasnya penuh bahan makanan. Ini pasti pekerjaan lelaki itu, gumam Jungkook, menolak menyebut nama Taehyung demi usahanya melupakannya. Tetapi Jungkook tidak mau membiarkan gangguan ini merusak hari pertama kebebasannya.

Diambilnya sayuran, daging sapi, dan telur. Lalu dia membuat tumis daging dengan sayuran dan telur yang berbau harum, setelah menuang masakan harum itu dari wajan, Jungkook menuang teh hangat yang sudah diseduhnya tadi pagi ke cangkir berwarna putih, dan meletakkan semuanya di meja. Sambil menyantap makanannya Jungkook menyalakan komputernya. Hal pertama yang harus dilakukannya adalah mencari pekerjaan, karena Jungkook harus bertahan hidup. Seperti semula.

Seingat Jungkook, dirinya masih punya tabungan di rekeningnya, tidak banyak memang hanya cukup untuk bertahan hidup selama satu sampai dengan dua bulan setelah dikurangi pembayaran kontrak rumah kecil ini secara bulanan. Setelah itu Jungkook harus bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri sekaligus membayar tempat tinggalnya, kalau Jungkook tidak bisa melakukannya, dia akan menjadi gelandangan. Jadi, waktunya untuk mencari pekerjaan sangatlah sempit.

Oh ya, hal kedua yang harus dilakukannya adalah mengambil uang tabungannya, mungkin nanti siang dia akan ke bank. Jungkook menghirup tehnya yang terasa harum dan meneguknya dengan tegukan panas yang nikmat. Lalu mulai menyantap sarapannya sambil membuka situs pencari pekerjaan di komputernya.

Lowongan kerja … lowongan kerja yang cepat dan sesuai kualifikasinya … mata Jungkook bergerak cepat dan mencatat beberapa perkerjaan yang sesuai. Dia mengirimkan email surat lamaran ke beberapa perusahaan tersebut sambil menghabiskan sarapannya.

Ketika Jungkook selesai melakukan kegiatannya, waktu sudah hampir jam dua belas siang. Jungkook teringat bahwa dia harus ke Bank, dengan bergegas Jungkook mengambil tas kecilnya dan hendak keluar rumah ketika ada yang mengetuk pintunya. Seketika Jungkook waspada. Dia tidak pernah punya teman sebelumnya. Jadi, itu tidaklah mungkin teman yang bertamu. Lagipula, dalam penyamarannya waktu itu karena berencana membalas dendam kepada Taehyung, tidak banyak yang tahu kalau Jungkook tinggal di rumah mungil ini.

Apakah itu musuh Taehyung yang ingin mencelakainya? Jungkook bergidik ngeri. Kemudian menggelengkan kepalanya, berusaha menenangkan diri. Tidak, musuh Taehyung pasti sudah mengurus masalah itu sebelum memutuskan melepaskan Jungkook. Jadi, siapa yang sedang mengetuk pintunya saat ini? Dengan hati-hati Jungkook mengintip melalui jendela sebelah dan menemukan seorang lelaki dengan setelan jas mahal dan resmi berdiri di depan pintunya.

Dari penampilannya, tampaknya lelaki itu lelaki baik-baik. Tetapi penampilan bisa menipu bukan? Jungkook masih tidak bisa percaya bahwa Dokter Hoseok yang begitu baik dan selalu tersenyum itu ternyata adalah psikopat berjiwa kejam. Jungkook meraih pisau dapur dan membuka pintu dengan hati-hati, membiarkan rantai tetap menahan pintu itu.

"Siapa?" Jungkook menatap pria tampan dalam balutan jas rapi itu sambil mengerutkan keningnya.

"Selamat siang, Anda Tuan Jungkook? Saya Park Jimin, pengacara yang dikirim kemari"

Pengacara?

"Pengacara untuk apa? Saya tidak berkaitan dengan masalah hukum apapun,"

Jungkook masih mengintip dari pintu, belum mau membukanya, menatap Jimin dengan curiga.

"Saya dikirim untuk menyerahkan dokumen-dokumen kepada Anda." Jimin tampak berdehem memikirkan sesuatu.

"Anda mungkin tidak mengenal saya, tapi saya teman Mingyu dan Wonwoo"

Jungkook tertarik.

"Apakah Wonwoo yang mengirimmu kemari"

"Sayangnya bukan, meski Wonwoo menitip salam dan berharap kalian bisa bertemu di lain kesempatan."

Jimin mengangkat bahu.

"Saya dikirim oleh Taehyung"

Jungkook mengernyitkan kening, setelah berpikir sejenak, dia berpendapat bahwa lelaki yang mengaku pengacara ini tampak meyakinkan. Dia meletakkan pisaunya dan masih dengan waspada dia membuka pintunya.

"Boleh saya masuk, Anda boleh tenang, saya bukan orang jahat." Jimin tersenyum dengan gaya profesional.

Jungkook mempersilahkannya masuk, dan dia duduk menatap lelaki itu mengeluarkan berkas-berkas yang tampak penting dari tas kerjanya.

"Ini adalah surat kepemilikan rumah ini, Taehyung telah membelinya atas nama Anda. Dan ini nomor rekening yang dibukakan Taehyung atas nama Anda, seluruh kelengkapannya ada di dalam amplop, Anda tinggal menggunakannya,"

Jimin meletakkan berkas-berkas itu dalam map terbuka di meja lalu tersenyum lagi.

"Saya hanya diperintahkan menyerahkan berkas-berkas ini kepada Anda, kalau semua sudah lengkap, saya akan berpamitan."

Lelaki itu beranjak dari duduknya meninggalkan Jungkook yang masih menatap kertas-kertas di meja itu dengan kaget. Surat rumah? Rekening tabungan? Matanya melirik sekilas pada surat-surat itu. Semua atas namanya!

"Tunggu dulu! Saya tidak tahu sebelumnya tentang surat-surat ini! Saya tidak bisa menerimanya!"

"Tuan .." Jimin menyela sudah siap pergi dari rumah itu.

"Saya hanya menyampaikan apa yang ditugaskan kepada saya, kalau Anda ada pertanyaan, mungkin Anda bisa

menghubungi langsung Taehyung"

Dan Jimin pun pergi meninggalkan Jungkook yang masih tercenung dan bingung menatap berkas-berkas di depannya.

.

.

.

"Saya ingin bertemu tuan Kim Taehyung."

Jungkook bergumam gugup kepada resepsionist di lobby kantor yang mewah itu. Kemewahan lobby itu begitu mengintimidasi dan Jungkook merasakan semua mata memandangnya, seolah dia orang aneh yang salah tempat. Tangannya memeluk amplop berkas yang diberikan Jimin kepadanya tadi siang dan berusaha menantang tatapan mata tajam dari resepsionist yang menatapnya curiga.

"Kim Taehyung kata Anda? Anda yakin? Kalau Anda ingin melamar pekerjaan, mungkin bisa Anda titipkan di sini …"

"Saya tidak ingin melamar pekerjaan." Jungkook mulai merasa jengkel menerima tatapan meremehkan dari resepsionist itu.

"Tolong atur pertemuan saya dengan Kim Taehyung"

"Tuan, saya tidak bermaksud menyinggung Anda, tetapi Tuan Kim Taehyung tidak mungkin bisa ditemui semudah itu, Anda harus membuat janji pertemuan yang rumit dengan sekretarisnya dulu .."

"Biarkan dia masuk, dia datang bersamaku. Saya ada janji temu dengan Taehyung jam dua."

sebuah suara yang dalam di sebelah Jungkook mengagetkannya. Jungkook menoleh dan menyipitkan matanya. Sedikit silau akan ketampanan lelaki yang berdiri di sebelahnya. Well satu lagi lelaki dengan anugerah kesempurnaan fisik yang luar biasa.

Batin Jungkook sambil menatap Mingyu yang memakai jas warna hitam dan tersenyum samar di sebelahnya. Tapi untunglah yang satu ini lelaki baik dan menyayangi isterinya. Mau tak mau Jungkook mengingat kemesraan Mingyu dan Wonwoo di pesta malam itu, dan merasa kagum melihat besarnya cinta yang terpancar dari Mingyu dan Wonwoo ketika mereka bertatapan.

Resepsionist itu menatap Mingyu dan sudah pasti mengenalinya.

"Oh, Tuan Kim Mingyu, selamat datang."

Sikapnya berubah ramah dan Jungkook mencibir atas perbedaan perlakuan yang diterimanya, apalagi resepsionist itu menatap Mingyu dengan tatapan memuja.

"Mohon maaf, tadi siang kami sudah mengirimkan pesan kepada sekretaris Anda bahwa pertemuan hari ini dibatalkan, Tuan Taehyung mendadak harus ke luar negeri".

Mingyu dan Jungkook sama-sama mengerutkan keningnya. Taehyung ke luar negeri?

"Aku tidak menerima pesan itu."

gumam Mingyu tajam, membuat resepsionist itu menunduk gugup hingga Jungkook merasa kasihan. Tetapi kemudian Mingyu mengangkat bahunya.

"Baiklah kalau begitu, aku akan kembali ke kantor dan mengganti waktuku yang tersia-siakan untuk kemari,"

Mingyu menoleh kepada Jungkook.

"Kalau waktuku tersia-siakan aku akan terlambat pulang ke rumah"

Jungkook mau tak mau menahan senyum. Mingyu tampak lebih kesal karena terpaksa terlambat pulang daripada karena batal bertemu Taehyung.

"Aku akan kembali ke kantor, oh ya, Wonwoo menitip salam kepadamu."

dengan senyumnya yang mempesona, Mingyu mengedipkan sebelah matanya ramah, lalu membalikkan tubuh dan melangkah pergi dari lobby itu. Jungkook menatap punggung Mingyu yang menjauh dan akhirnya tersenyum. Betapa beruntungnya Wonwoo memiliki pasangan yang luar biasa seperti Mingyu.

"Tuan Jungkook?"

kali ini sebuah suara yang familiar menyapanya. Jungkook menoleh dan mendapati Yoongi yang berdiri menatapnya, baru saja keluar dari lift.

"Apa yang Anda lakukan di sini?"

Jungkook mengerjapkan matanya.

"Aku mencari Taehyung."

ditunjukkannya amplop berkas itu kepada Yoongi.

"Ini, aku ingin mengembalikan berkas-berkas ini"

Yoongi menatap berkas-berkas itu dan mengerti.

"Tuan Taehyung ingin Anda menerimanya"

"Aku tidak mau menerimanya, aku tidak ingin berhutang budi kepadanya"

"Itu uang anda." sela Yoongi tenang.

"Itu adalah bagian saham Anda dari perusahaan ayah Anda yang sudah di take over oleh Tuan Taehyung"

Jungkook tertegun. Bagian sahamnya? Dia tidak pernah mendengar ini sebelumnya.

"Bagian saham ini, sesuai dengan surat perjanjian jual beli akan diberikan kepada Anda begitu usia Anda genap duapuluh tahun"

Yoongi menatap sekelilingnya yang ramai dan tampak tidak nyaman.

"Mari saya akan jelaskan kepada Anda"

.

.

.

Dia dibawa ke sebuah ruangan dengan perabot kayu dan nuansa cokelat dan elegan di lantai dua. Yoongi duduk disofa di depannya dan mempersilahkan Jungkook duduk.

"Mari duduk dulu, Anda ingin kopi?"

Jungkook menggelengkan kepalanya, terlalu tercengang dengan semuanya yang tampak begitu tiba-tiba.

"Tuan Taehyung saat ini sedang ada di Italia ada beberapa urusan yang mendesak di sana."

Yoongi mengubah posisi duduknya supaya nyaman.

"Seharusnya dari awal saya menceritakan ini kepada Anda, tetapi Tuan Taehyung menahan saya."

Cerita apalagi? Kejutan apa lagi? Jantung Jungkook berdegup kencang.

"Tuan Taehyung tidak pernah menghancurkan perusahaan ayah Anda, apalagi membuat ayah Anda bangkrut."

Yoongi mengangkat bahunya.

"Anda boleh tidak percaya, tetapi Anda bisa mencari informasi di manapun, yang dilakukan Tuan Taehyung bukanlah membangkrutkan perusahaan-perusahaan, dia menolong perusahaan-perusahaan yang sudah hampir bangkrut dan menghidupkannya lagi. Banyak perusahaan yang sudah dia take over menjadi berlipat-lipat lebih maju berkat kehebatan tuan Taehyung"

Jungkook mengerutkan keningnya membantah,

"Tetapi perusahaan ayahku baik-baik saja sebelum ayah membuat perjanjian dengan Taehyung, kami sama sekali tidak bangkrut!"

Jungkook teringat gaun-gaun dan perhiasan mewah yang dibelikan ayahnya untuk ibunya, pelayan-pelayan yang hilir mudik siap sedia memenuhi kebutuhan mereka, rumah mewah mereka yang nyaman, mobil dan segala kemewahan lainnya yang dicukupkan ayahnya waktu itu. Ayahnya tidak mungkin bangkrut!

"Ayah Anda menyembunyikan hal ini dari keluarganya, dia tidak ingin ibu dan Anda merasa cemas." Yoongi menghela nafas.

"Anda boleh tidak percaya kepada saya, tetapi biarkan saya bercerita dulu, setelah itu Anda boleh memutuskan. Apapun penerimaan Anda nanti, saya tidak akan mempermasalahkan, yang pasti tidak ada sedikitpun kebohongan dari saya kepada Anda"

Mata Yoongi menerawang ke masa lalu ketika mulai bercerita.

"Ayah Anda datang kepada Tuan Taehyung waktu itu, memohon suntikan dana dan perjanjian kerja sama. Tuan Taehyung sebenarnya tidak tertarik dan dia sudah siap menolak mentah-mentah. Perusahaan ayah Anda yang sudah benarbenar kolaps akibat manajemen yang kacau balau, akan membutuhkan biaya dan perhatian yang luar biasa besar untuk memperbaiki semuanya. Tetapi kemudian ayah Anda memberikan penawaran kepada tuan Taehyung"

"Penawaran?"

Yoongi menatap Jungkook hati-hati.

"Ya .. penawaran yang sebenarnya konyol, tapi langsung membuat tuan Taehyung berubah pikiran"

"Penawaran apa?"

"Anda"

Jungkook tertegun, pucat pasi.

"Aku?"

"Ayah Anda sepertinya sudah sangat putus asa sebelum meminta bantuan kepada tuan Taehyung, harap Anda Memaklumi." Yoongi menghela nafas,

"Mungkin Andalah satu-satunya harta yang dimilikinya yang bisa ditawarkannya kepada tuan Taehyung, mengingat waktu itu reputasi tuan Taehyung sebagai playboy sangat terkenal. Mungkin ayah Anda berfikir bisa menggunakan Anda untuk menarik hati tuan Taehyung."

Jungkook hampir tidak bisa berkata-kata, lidahnya kelu. Ayahnya menawarkannya kepada iblis jahat itu sebagai ganti suntikan dana untuk perusahaannya? Tidak mungkin! Ayahnya tidak mungkin melakukan itu!

"Saya tahu Anda tidak percaya, tetapi kami memiliki bukti penawaran itu yang nanti akan saya tunjukkan kepada Anda. Sekarang saya akan melanjutkan cerita saya"

Yoongi berdehem tampak amat mengerti berbagai emosi yang berkecamuk, silih berganti di wajah Jungkook.

"Segalanya pasti akan berbeda jika yang ditawarkan bukan Anda. Tuan Taehyung, saya yakin akan menolak mentah-mentah ayah Anda. Tetapi Tuan Taehyung langsung berubah pikiran ketika beliau melihat foto Anda"

Fotonya yang sangat mirip dengan almarhumah isteri Taehyung. Dada Jungkook terasa perih menyadari kenyataan itu.

"Yah Anda mengerti kan .. walau hanya dengan tatapan sekilas saja pasti mudah menyadari kemiripan Anda dengan .."

Yoongi menghentikan kata-katanya, menyadari wajah Jungkook yang pucat pasi.

"Anda tidak apa-apa tuan?"

Jungkook menganggukkan kepalanya.

"Tidak, aku tidak apa-apa,"

suaranya terdengar serak, susah payah berusaha dikeluarkannya.

"Tuan Taehyung langsung menyetujuinya, tetapi dia tidak mau terburu-buru. Menurut perjanjian itu pada usia duapuluh tahun Anda akan diserahkan kepada Tuan Taehyung, sebagai isteri. Dan mas kawinnya dibayar di muka, Tuan Taehyung tidak pernah melakukan take over kepada perusahaan ayah Anda, dia hanya memberikan dana yang luar biasa besar sesuai dengan permintaan ayah Anda." Yoongi menatap Jungkook miris.

"Tetapi ayah Anda rupanya bekerja dengan manajemen yang tidak becus dan mengkhianatinya, uang itu ludes dalam sekejap dan bahkan perusahaan ayah Anda, bukannya terselamatkan malahan makin hancur. Ayah Anda lalu datang kembali meminta tolong kepada tuan Taehyung"

Jungkook hanya termenung berusaha menyerap kata-kata Yoongi sebaik-baiknya. Apakah Yoongi berbohong? Tetapi lelaki itu tampak lurus dan jujur. Jungkook cuma masih belum bisa menerima bayangannya selama ini terhadap ayahnya hancur lebur begitu saja. Jika apa yang dikatakan oleh Yoongi adalah kebenaran, maka Jungkook harus menerima kenyataan bahwa kehidupannya dulu bersama ayahnya yang bagaikan di negeri dongeng, sebagian besar hanyalah kebohongan semata.

Jungkook sudah dijual menjadi isteri Taehyung di ulang tahunnya yang ke20, itu seminggu lagi. Jungkook mengernyit, dia sudah dibayar di muka. Rasanya seperti dihina dan dihantam secara bersamaan. Ingin rasanya dia berteriak kalau dia bukan barang, dia manusia dan dia punya kehendak yang bebas.

"Tuan Taehyung sangat marah kepada ayah Anda, kesempatan yang diberikannya disia-siakan begitu saja oleh ayah Anda, dan tuan Taehyung tidak mau memberikan kesempatan kedua lagi. Perusahaan itu tidak boleh ada di tangan ayah Anda lagi kalau tidak mau lebih hancur. Jadi, Tuan Taehyung membelinya, dengan harga yang pantas, bahkan masih memberikan jatah bulanan kepada keluarga Anda setiap bulannya meskipun ayah Anda tidak berhak menerimanya." Yoongi menatap Jungkook dalam-dalam.

"itu semua karena Tuan Taehyung mengkhawatirkan Anda"

Taehyung mengkhawatirkannya? Tidak mungkin! Lelaki itu hanya cemas, karena Jungkook adalah pria yang berwajah sama dengan isteri yang dicintainya, pria yang diharapkannya bisa menggantikan isterinya.

"Saya mengerti perasaan Anda, tetapi ada beberapa hal yang belum sempat saya jelaskan kepada Anda waktu itu ketika Tuan Taehyung menyela pembicaraan kita."

Yoongi bekata-kata lagi.

"Memang Anda pasti akan melihat bahwa Tuan Taehyung hanya menganggap Anda sebagai pengganti Nyonya Seokjin. Tetapi tidak. Seiring dengan berjalannya waktu, yang dilihat Tuan Taehyung adalah benar-benar Anda, diri anda sendiri"

Seiring berjalannya waktu?

Yoongi mengangguk, seolah bisa membaca pertanyaan di mata Jungkook.

"Yah selama ini kami mengawasi Anda. Rumah mungil yang Anda tempati bersama keluarga Anda waktu itu, merupakan salah satu properti milik tuan Taehyung, Semua sudah diatur supaya kehidupan Anda baik-baik saja meskipun ayah Anda bangkrut"

Tiba-tiba Jungkook menyadarinya. Kemudahan-kemudahan yang dia dapat tanpa sengaja, seperti rumah mungil itu yang bisa didapat ayahnya dengan harga yang sangat murah.

"Kami bahkan tahu bahwa Anda berencana membalas dendam atas kematian orang tua Anda,"

wajah Yoongi melembut melihat pipi Jungkook merona merah, lalu menatap Jungkook dengan menyesal.

"Kematian orang tua Anda juga mengejutkan kami, Jungkook. Percayalah, tuan Taehyung terkejut atas hal itu. Dia memang terkenal kejam dan jahat tapi yang pasti dia tidak pernah bermaksud melukai orang yang lemah. Dia sudah berusaha membantu ayah Anda – demi Anda,"

Yoongi menekankan kata-katanya.

"Semua yang terjadi bukan kesalahan Tuan Taehyung"

Jungkook merasa malu. Bagaimana lagi? Perasaan itulah yang sekarang menyergapnya. Jika kata-kata Yoongi ini benar… dan sepertinya memang semua adalah kebenaran.. maka Jungkook harus merasa malu, Semua dendamnya selama ini, pemikirannya selama ini, kemarahannya selama ini, dan kebenciannya semua ini, semuanya dibangun atas persepsi yang benar-benar salah.

Dan Taehyung bahkan tidak pernah membela diri dengan segala cacian, makian, dan tuduhannya. Kenapa Taehyung tidak pernah membela diri dan membiarkannya makin liar dengan emosi dan kemarahan membabi butanya?

"Sebentar lagi ulang tahun Anda, sesuai dengan perjanjian yang ditandatangani oleh ayah Anda. Taehyung akan

memperisteri Anda"

Jungkook membelalakkan matanya. Apakah Taehyung masih menganggap perjanjian bertahun-tahun lalu itu dengan serius? Tetapi perjanjian itu melibatkan uang yang tidak sedikit, yang diberikan Taehyung kepada ayahnya dan kemudian disia-siakan begitu saja. Kalaupun Jungkook menolak Taehyung, maka dia menanggung hutang yang sangat besar kepada lelaki itu.

"Apakah, apakah Taehyung menyuruh Anda mengatakan semua ini kepada saya?"

Yoongi langsung menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Jungkook itu,

"Tidak. Tidak ada satupun perintah dari Tuan Taehyung kepada saya untuk menceritakan ini semua, bahkan Tuan Taehyung berkesan merahasiakan semua ini dari Anda,"

Yoongi tersenyum.

"Saya hanya memikirkan cara-cara Tuan Taehyung, mengingat wataknya, beliau tidak akan menjelaskan apapun kepada Anda. Mungkin beliau akan menculik Anda lagi dan memaksakan pernikahannya dengan Anda, saya hanya menyiapkan Anda kalau itu benar-benar terjadi"

Jungkook mengernyit.

"Mengingat selama ini dia selalu memaksakan kehendaknya, aku yakin dia akan melakukannya"

" jadi dia membebaskanku hanya sementara?"

Yoongi mengangguk, minta permakluman.

"Semoga Anda bisa menghilangkan semua dendam yang tidak perlu. Yang pasti -saya bisa menjamin itu-Tuan Taehyung benar-benar peduli kepada Anda. Perlu Anda tahu, Tuan Taehyung benar-benar serius ingin menikahi anda, beliau saat ini berada di Italia, mengunjungi makam nyonya Seokjin. Meminta izin kepada isterinya."

Jungkook memejamkan matanya pedih. Setelah dendam itu menghilang, yang ada di dadanya hanyalah kekosongan yang perih .. kekosongan yang menyesakkan dadanya. Hampir seperti patah hati.

. . .

Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Jungkook sudah tahu hari ini akan tiba. Entah kenapa dia tahu, bahwa Taehyung akan datang menjemputnya dan merenggutnya kembali, dan jantungnya berdegup kencang.

Ketukan di pintu rumahnya membuatnya terlonjak, meskipun Jungkook sudah mengantisipasinya. Dan ketika membuka pintu, Jungkook bertatapan wajah dengan Taehyung. Lelaki itu tampak luar biasa tampan, bahkan lebih tampan dari terakhir mereka bertemu.

Mengenakan kaca mata hitam dan kemeja biru berlapis jacket khaki dan celana yang senada, dengan rambut cokelatnya yang acak-acakan. Dia seperti malaikat yang diturunkan di depan pintu Jungkook.

"Aku sudah tahu apa yang akan kau katakan."

Jungkook berkata, mencoba mencari-cari mata Taehyung, tetapi kesulitan karena kacamata hitam itu menghalanginya.

Taehyung terdiam.

"Aku tahu kalau kamu tahu, Yoongi menceritakan pertemuan kalian." Lelaki itu menoleh ke belakang Jungkook.

"Bolehkah aku masuk?"

.

.

.

-To be Continued-

Bentar lagi kuki hamil aw~ -u-

Kuki udah gasempat ngecek sama ngedit, jd maafkan kalau masih ada typo. *deepbow*

Ah ya, chapter depan dipastikan fast update~~~ Kuki laff kaliann❤

-Kuki