Sleep with the Devil

-TaeKook-

.

.

BoysLove inside | M-Preg

BTS X SVT

Disc: I'm not the Owner of this story.

Author just ReMake it by wearing TaeKook as cast.

So, if you want to Read the original Story, you can visit SanthyAgatha's blog on link below

www. anakcantikspot. blogspot. co. id (Delete Space)

Note: hasil Cerita ini diRemake oleh Dua Author. Dan kami sudah meminta izin kepada pemilik cerita ini (Santhy Agatha) untuk menghindari terjadinya pelanggaran Hak Cipta.

And, if you are still under age or Dislikes BL, please just left this page.


.

.

.

Jungkook mundur dengan tidak nyaman. Membiarkan Taehyung masuk ke rumahnya sama seperti membiarkan iblis menguasai kehidupannya. Tetapi tidak ada pilihan lain. Mereka harus berbicara, panjang lebar. Dan mereka tidak mungkin berbicara di ambang pintu seperti ini.

Jungkook memiringkan tubuhnya mempersilahkan Taehyung masuk ke rumahnya yang mungil tetapi indah itu. Taehyung langsung duduk di sofa cokelat itu, tampak nyaman, kemudian melepaskan kacamata hitamnya dan meletakkan di meja.

"Apa yang kau rencanakan di hari ulang tahunmu?"

Taehyung mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.

"Tidak ada."

Jungkook punya cheese cake strawberry dikulkasnya. Tapi itu untuk dia makan sendiri nanti malam.

Tanpa gangguan Taehyung. Taehyung menatap Jungkook seolah mengukur-ukur.

"Aku bisa mengadakan pesta untukmu"

"Aku tidak butuh pesta darimu"

"Hmm." Lelaki itu mendesah, lalu ketika menatap Jungkook, tatapannya berubah serius.

"Kau tahu kan kenapa aku kemari?"

Jungkook mengangguk.

"Dan sebelum kau katakan maksudmu, aku ingin membuat penawaran baru untukmu"

"Penawaran?" Taehyung mengangkat alisnya, "Oke jelaskan"

"Aku akan mengembalikan semua uang yang pernah kau berikan kepada ayahku"

"Jungkook.." Taehyung terkekeh, "Utang itu begitu besar hingga kau mungkin hanya bisa menggantinya dengan tubuhmu. Tidak. Aku menolak penawaranmu. Dan kau," mata Taehyung berubah sensual.

"Kau akan menjadi isteriku sebentar lagi sesuai perjanjian"

"Aku bukan barang yang bisa dibeli seenaknya, dan kenapa kau begitu santai? Ini masalah pernikahan bukan jual beli perusahaan"

"Aku hanya ingin kau menjadi isteriku."

Taehyung bersedekap, menatap Jungkook yang mulai emosi.

"Itu sudah kutetapkan sejak awal mula"

"Kenapa?" Jungkook tidak bisa menahan suara tajam di lidahnya, "Karena kau ingin menjadikanku boneka pengganti Seokjin?"

Wajah Taehyung mengeras ketika Jungkook menyebut nama Seokjin, bibirnya mengetat.

"Jangan hubung-hubungkan dia dengan ini semua"

"Bagaimana aku bisa tidak menghubungkan?"

Jungkook sudah menahan diri, tetapi suaranya meninggi.

"Semua ini karena wajah ini, karena wajah yang sama dengan almarhumah isterimu! Kau tidak bisa menganggapku sebagai penggantinya Taehyung! Kami orang yang berbeda, dan aku menolak diperlakukan seperti itu!"

"Aku tahu kalian orang yang berbeda."

Taehyung berdiri di depan Jungkook, siap berkonfrontasi.

"Percayalah, aku benar-benar tahu, karena gairah semacam ini, tidak pernah kurasakan dengan siapapun!"

Lelaki itu meraih Jungkook ke pelukannya dan langsung mencium bibirnya. Dengan lembut. Tidak memaksa seperti biasa, dengan pelan dia menguak bibir Jungkook, mencicipinya pelan-pelan kemudian melumatnya lembut.

Lidahnya menelusuri seluruh bibir Jungkook dan kemudian bermain-main dengan lidah Jungkook, mencecapnya habis-habisan. Ketika akhirnya ciuman itu selesai mereka sama-sama terengah-engah.

"Apakah pada akhirnya kau mengakui kalau kau merindukanku?"

"Dalam mimpimu, Kim Taehyung" Jungkook menjawab dengan ketus, membuat Taehyung terkekeh geli.

"Kita adalah pasangan yang sangat cocok."

Taehyung mendekatkan tubuh Jungkook ke tubuhnya, dalam rangkuman dadanya.

"Kaitkan kakimu di kakiku"

Jungkook menatap Taehyung dengan cemas.

"Apa yang sedang kau coba lakukan Taehyung?"

"Lakukan saja sayang."

jemari Taehyung menyentuh paha Jungkook. Mungkin sudah waktunya mereka berhenti berkata-kata dan berkomunikasi dengan bahasa nonverbal yang sudah sangat mereka kuasai. Jemari Taehyung membimbing agar paha Jungkook melingkarinya.

"Aku ingin menunjukkan padamu, bahwa kau tidak akan diperlakukan sebagai boneka. Kau bukan boneka, boneka hanya untuk dipajang di dalam rak. Aku ingin kau berada di tanganku, untuk disentuh, dipuaskan dan dimiliki dengan cara yang kusuka"

Jungkook terkesiap, merasakan jemari Taehyung menyelusup ke balik celananya dan menyentuh bagian tubuhnya yang paling sensitif.

"Ya sayang … seperti ini … "

Taehyung mendesah di telinga Jungkook, ia menyelipkan satu jari dan mencumbu Jungkook, berusaha sepelan mungkin meski hasratnya sudah hampir menggelegak. Jungkook terpekik dan mencengkram pundak Taehyung dengan erat. Taehyung menunduk, tangannya yang bebas menyelusup kedalam kaus yang Jungkook kenakan, dan bermain-main dinipple Jungkook.

Gairah bercampur penentangan berkelebat di mata Jungkook ketika menatap Taehyung.

"Kau akan membayar untuk semua ini, Kim Taehyung"

Taehyung mulai mencium leher Jungkook, bertanya-tanya apakah Jungkook tahu betapa menggairahkannya dirinya dengan bagian atas kausnya yang terbuka. Mendadak Taehyung tidak sanggup menahan diri lagi.

Dan ia pun bercinta dengan Jungkook-nya yang manis. Saat itu juga hingga mereka berdua sama-sama dibutakan oleh hasrat yang membara.

.

.

.

Taehyung mengetatkan pelukannya ke punggung Jungkook yang setengah tertidur, dipeluknya Jungkook yang masih lemas setelah orgasme yang mereka lalui. Jungkook akan menjadi isterinya. Bahkan ketika Jungkook menolak Taehyung dengan kata-kata, Taehyung tahu bahwa tubuh Jungkook tidak akan mampu menolaknya.

"Setelah ini apakah kau akan menerima lamaranku?"

Jungkook terdiam, memejamkan matanya dalam pelukan Taehyung. Masih bertanya-tanya mengapa bercinta dengan seorang pria berbaju lengkap sementara dirinya sendiri telanjang bisa terasa begitu erotis. Walaupun sekarang ia tidak tahu bagaimana mereka bisa berakhir di ranjang ini, di tempat tidur ini. Dia sekarang telanjang bulat, tanpa sehelai benangpun.

Pakaiannya bertebaran dari ruang tamu sampai ke lantai di sebelah. Taehyung benar-benar serius dengan apa yang dikatakannya. Ini akan menjadi pernikahan tanpa cinta. Jungkook memejamkan matanya, setidaknya bukan dari dirinya.

Ketika mengetahui bahwa Taehyung bukanlah penyebab kematian kedua orangtuanya, perasaan Jungkook langsung terjun bebas, jatuh ke dalam pesona Taehyung yang begitu deras. Lelaki ini luar biasa pandai bercinta, dan dia sudah memiliki tubuh Jungkook. Kalaupun Jungkook menolak lamarannya, Jungkook yakin Taehyung tidak akan pernah melepaskannya, apalagi membiarkannya menjalin hubungan dengan lelaki lain.

"Apakah kalau aku menolak kau akan memaksaku?"

Jungkook menyuarakan pertanyaan di dalam pikirannya. Hening sejenak, lalu Taehyung mengusap punggung Jungkook dengan lembut.

"Mungkin." lelaki itu menghela nafas panjang, "Jungkook. Aku bukan lelaki baik, mungkin kita akan menghabiskan hari-hari kita dengan penuh pertengkaran dan meledak-ledak. Tapi kau harus tahu satu hal, aku akan menjaga isteriku"

Ucapan itu bagaikan janji, yang diungkapkan di kegelapan kamar itu. Tetapi pertanyaan-pertanyaan masih berkecamuk di benak Jungkook. Kalau kau tidak mencintaiku kenapa kau ingin menikahiku? Bahkan Jungkook sudah tahu jawabannya. Karena wajahnya, karena dia begitu mirip dengan kekasih sejati Taehyung.

Kalau Jungkook mengambil resiko dengan menikahi Taehyung, akankah suatu saat nanti Taehyung akan benar-benar memandang wajahnya dan mengakui bahwa itu Jungkook? Bukan Seokjin? Akankah suatu saat nanti Jungkook diakui sebagai suatu pribadi yang asli, bukan pengganti dari siapapun? Resikonya terlalu besar. Tetapi godaan untuk jatuh ke dalam pelukan iblis ini terlalu menarik untuk dilepaskan.

"Ya Taehyung. Aku bersedia menjadi isterimu"

Taehyung memejamkan matanya dan memeluk Jungkook erat.

"Dan aku berjanji padamu, kau akan dijaga sebaik-baiknya."

Begitu saja lamaran itu, tanpa pernyataan cinta yang romantis, tanpa perasaan menggebu-gebu yang biasanya dimiliki oleh pasangan yang terlibat romansa. Jungkook tidak pernah membayangkan bahwa dia akan dilamar dengan cara seperti itu.

.

.

.

Pernikahan itu, karena dilaksanakan dengan gaya Kim Taehyung, menjadi sebuah pesta pernikahan yang luar biasa mewah. Segalanya yang terbaik. Tuxedo Jungkook didatangkan langsung dari Perancis, makanannya yang paling enak, langsung dari restaurant milik Taehyung. Perempuan-perempuan menatapnya iri dan para lelaki memujinya karena pada akhirnya bisa membuat Kim Taehyung berlabuh.

Semua orang pasti memimpikan pesta pernikahan yang seperti ini, pesta pernikahan yang bagaikan mimpi untuk puteri di negeri dongeng. Tetapi tidak dengan Jungkook. Tiba-tiba dia dihinggapi ketakutan yang diam-diam melandanya. Dia sekarang sudah menjadi isteri Kim Taehyung. Tetapi bayang-bayang isteri Taehyung yang terdahulu, Seokjin yang cantik, yang sebenar-benarnya ada di hati Taehyung terasa menyesakkan dadanya.

Dan malam ini, di malam pernikahannya. Jungkook duduk di tepi ranjang Taehyung. Merasakan perasaan resah yang begitu mengganggu. Apakah aku menyesali ini? Kenapa aku mau saja dinikahi oleh lelaki arogan ini? Sebegitu besarkah pesona lelaki ini hingga membuatku rela hanya menjadi boneka pengganti?

Pintu terbuka dan Taehyung masuk, lelaki itu masih memakai jas yang dipakainya untuk pesta meski dasinya sudah dilepas dan kancing kemeja di bagian atasnya sudah dibuka.

"Kenapa dahimu berkerut?"

Taehyung melepaskan jasnya hanya mengenakan kemeja putih, lalu berdiri di depan Jungkook.

"Kau sudah berganti baju, hm." dengan lembut Taehyung menghela pundak Jungkook supaya berdiri menghadapnya.

"Kau tampak lelah, apakah kau ingin tidur atau .." tatapan Taehyung tampak sensual.

Jungkook menatap Taehyung dalam-dalam. Apakah hanya gairah yang ada di dalam benak lelaki ini. Bahkan sampai sekarangpun Jungkook masih bertanya-tanya apa yang sebenarnya ada di dalam hati Taehyung.

"Aku ingin membuat pengaturan."

Jungkook bergumam cepat, sebelum dia kehilangan keberaniannya.

"Tentang pernikahan kita"

"Pengaturan?" Taehyung mengerutkan kening, tampak tidak senang, "Apa maksudmu?"

"Pengaturan tentang hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam pernikahan kita"

Mata cokelat Taehyung membara.

"Kau isteriku Jungkook, dan aku berhak atasmu"

"Kau bilang kau akan menghormatiku dalam pernikahan ini."

Jungkook menatap Taehyung tajam.

"Kalau kau tidak mau berkompromi atas pengaturanku ini aku .."

"Apa? Kau akan melarikan diri lagi? Akan mogok makan lagi?"

Taehyung melepaskan pegangannya dari Jungkook dengan pahit. Pipi Jungkook merona malu, tetapi dia menegarkan diri.

"Aku hanya ingin menetapkan beberapa hal yang membuatku merasa aman"

"Oke," desis Taehyung, "Cepat katakan apa maumu dan aku akan memilih mana yang bisa kuterima dan mana yang tidak"

"Pertama, aku tidak mau dipaksa untuk bercinta denganmu kalau aku tidak mau … apalagi memakai obat itu"

Taehyung mengangkat alisnya dan menatap Jungkook dengan sensual.

"Diterima. Lagipula sepertinya aku tidak membutuhkan obat itu lagi."

tambahnya penuh arti, membuat pipi Jungkook makin merona.

"Kedua aku ingin hubungan yang saling menghormati, aku akan menjaga kesetiaanku karena aku isterimu, dan aku mau kau juga" Taehyung terkekeh.

"Diterima." jemarinya menyentuh pipi Jungkook lembut, "Kau menjadi posesif kepadaku, eh?"

godanya. Jungkook berusaha mengabaikan kalimat-kalimat Taehyung yang menjurus itu.

"Ketiga, aku tidak mau dibelikan apapun tanpa persetujuanku."

masih teringat di pikiran Jungkook betapa banyaknya baju-baju yang dibelikan Taehyung untuknya, belum lagi aksesoris dan sepatu-sepatu mahal yang dibeli Taehyung seolah membeli sesuatu yang tidak berharga. Taehyung harus belajar bahwa memperlakukan pria lemah dengan baik bukan berarti melimpahinya dengan harta dan benda.

"Ditolak," tatapan Taehyung menajam lagi.

"Kau isteriku Jungkook, aku berhak membelikanmu apapun yang aku mau"

Jungkook mengernyit dan menantang mata Taehyung, mereka saling bertatapan tajam sampai akhirnya Jungkook menyerah.

"Oke .. kau boleh membelikan asal tidak berlebihan"

Taehyung mengangkat bahunya.

"Apakah ini sudah selesai? Atau aku harus menunggu lebih lama untu berlanjut ke babak selanjutnya?"

Pipi Jungkook merona dan menatap Taehyung dengan waspada, babak selanjutnya?

"Malam pertama kita" Taehyung mengucapkannya lambat-lambat dengan nada yang sangat sensual hingga membuat seluruh tubuh Jungkook menggelenyar.

"Kau tidak berpikir aku akan melewatkannya kan?"

"Aku masih punya satu syarat lagi."

Jungkook tanpa sadar melangkah menjauhi Taehyung.

"Aku ingin tinggal di kamar putih yang dulu .. kau.. eh bisa mengunjungiku kalau kau perlu sesuatu."

"Cukup! Sekarang giliranku memberikan pengaturan untuk pernikahan kita!"

kesabaran Taehyung tampaknya sudah habis, lelaki itu meraih pinggang Jungkook dan merapatkan di tubuhnya membuat Jungkook merasakan tubuh Taehyung yang mengeras di sana.

"Kau rasakan itu?" Taehyung menatap Jungkook, marah sekaligus bergairah, "Aku berniat untuk menjadikanmu isteriku yang sesungguhnya. Bukan kekasih yang kukunjungi jika aku perlu bercinta."

Jemari Taehyung menuruni sisi lengan Jungkook dengan sensual.

"Dan jika kita melakukan itu, kita tidak akan tidur di kamar yang terpisah!"

Hening.

"Kenapa? Kau tidak suka dengan syarat dariku?"

Taehyung terus menahan lengan Jungkook dengan posesif. Jungkook adalah isterinya, sekarang dia harus menerima seluruh dirinya, tidak lagi berusaha menentangnya sekehendak hatinya. Pilihannya adalah mereka suami isteri atau tidak sama sekali.

"Jika kau tidak menyukainya, lebih baik kita berhenti di sini sekarang juga."

sambil berusaha menahan keposesifannya, Taehyung memperlembut tuntutannya.

"Malam ini cukup sampai di sini kalau kau tidak siap"

Satu-satunya yang mendesak saat ini adalah tubuhnya yang berhasrat, tetapi Taehyung masih mampu mengendalikannya jika Jungkook tidak mau melanjutkan. Pria ini telah menunjukkan keberanian besar dengan mengemukakan persyaratannya di depan Taehyung dan Taehyung menghargainya, dan karena itu ia bersedia memberikan waktu sebanyak yang diinginkan Jungkook.

Jungkook hanya terdiam di sana, menatap Taehyung dengan tatapan kosong. Astaga, apa sebenarnya yang ada di dalam kepala mungil itu? Jungkook pasti sudah larut dalam persepsi dan pemikirannya sendiri. Apalagi setelah dia mengetahui kisah tentang Seokjin.

Taehyung sendiri tidak bisa menjelaskan perasaannya. Memang pada mulanya, dia menginginkan Jungkook karena kemiripannya dengan Seokjin. Tetapi sekarang, dia merasa Tuhan telah memberikannya kesempatan kedua, dalam wujud pria yang sangat mirip dengan Seokjin. Tidak, dia tidak pernah membayangkan Seokjin. Tidak lagi. Setelah

malam-malam kelam yang menghancurkan hati, yang dia lalui karena kematian Seokjin dulu, Seokjin telah berubah menjadi bayang samar yang kadang hadir dalam bentuk kenangan masa lalu yang indah.

Taehyung bahkan sudah berhasil tidak memikirkan Seokjin lagi sejak bertahun-tahun lalu. Jungkook terasa … berbeda … tetapi bagaimana dia menjelaskannya kepada Jungkook? Pria itu tidak akan percaya bahwa gairah yang meluap-luap ini memang murni untuk dirinya. Taehyung menyadari bahwa ia menginginkan pernikahan yang nyata, bersama Jungkook.

Jungkook bagaikan malaikat yang menariknya dari kegelapan. Hatinya yang kelam telah tersentuh secercah Matahari sejak kehadiran Jungkook. Dan Taehyung tidak ingin melepaskannya.

"Baiklah."

suara pelan terdengar dari bibir Jungkook, terdengar enggan seolah-olah Jungkook tidak benar-benar setuju dengan dominasi Taehyung dalam hubungan ini. Dan itu membuat Taehyung senang, seorang isteri yang selalu setuju dengan pendapat suaminya sama sekali tidak menyenangkan.

Di dalam kehidupan pernikahan yang nyata, terdapat banyak ketidaksepakatan, sebanyak kasih sayang, tawa, maupun kesetiaan. Taehyung tersenyum dan menatap Jungkook dengan penuh bergairah.

"Apakah kau sudah siap untukku Jungkook?"

Jemari Taehyung mengusap nipple Jungkook dengan lembut.

"Aku .." sekujur tubuh Jungkook bergetar.

"Mungkin aku perlu memeriksanya dulu."

Taehyung meluncurkan sebelah tangannya, mengusap perut Jungkook yang basah dan terus bergerak turun. Dan karena kaki Taehyung, entah sejak kapan, berada di antara kakinya, Jungkook tidak bisa menghalangi niat Taehyung kalaupun ia ingin.

Taehyung bergerak perlahan-lahan, memperhatikan isyarat sekecil apapun kalau-kalau Jungkook ingin berhenti. Di luar dugaan, Jungkook tidak menolaknya, tubuh pria itu menyambutnya, membuat Taehyung harus menggertakkan gigi menahan hasratnya yang makin menggelegak.

Jungkook membiarkan jemari Taehyung menyentuhnya. Tubuh Jungkook begitu lembut, dan ia gemetar ketika Taehyung menyentuh kejantanannya yang mulai mengeras. Ketika akhirnya menemukannya, Taehyung menggerakkan jemarinya dengan lembut. Hanya sekedar menggoda. Jungkook mengerang, tubuhnya bergetar hebat. Tubuh Taehyung sendiri sudah menegang putus asa.

"Ya, kau memang sudah siap."

ucap Taehyung sangat parau, Lalu mendorong Jungkook terbaring di ranjangnya yang berseprai satin hitam.

Taehyung mengangkat kedua tangan Jungkook, meskipun Jungkook sedikit melawan. Sambil meletakkan kedua tangan Jungkook ke atas kepalanya, Taehyung bergerak menindih Jungkook. Jungkook menatap Taehyung dengan liar, teringat peristiwa yang mirip, ketika Taehyung mengikat kedua tangan Jungkook di atas kepala dengan dasinya, apakah Taehyung akan mengikatnya lagi?

"Aku tidak perlu mengikatmu sayang."

Taehyung melepaskan tangan Jungkook dan mengecup bibirnya penuh gairah, jemarinya bermain-main di nipple Jungkook, membuat seluruh tubuh Jungkook menggelenyar.

"Taehyung .." tubuh Jungkook bergetar karena gairah.

"Benar sayang, ucapkan namaku."

Jungkook mengerang setengah meronta.

"Taehyunghh .. please .."

Erangan itu membuat Taehyung ingin menyerah kepada Jungkook. Tubuhnya sendiri sudah sangat bergairah sampai terasa nyeri, Tetapi ia tahu betapa pentingnya mencumbu Jungkook sebelum bercinta dengannya. Setelah bercinta nanti, ia pasti ingin mencicipi Jungkook, lagi dan lagi dan dia ingin isterinya terus menginginkannya dengan hasrat yang sama besarnya.

Taehyung menelusurkan tangannya ke bawah dan mengangkat pinggul Jungkook. Jungkook melingkarkan kedua kakinya di tubuh Taehyung, mendekap Taehyung ke tubuhnya, membuka diri.

"Belum, sayang."

Ketika Jungkook membuka bibirnya untuk memprotes, Taehyung menciumnya. Karena bibir Jungkook telah terbuka, ciuman itu berlangsung dengan sangat sensual. Taehyung menggoda Jungkook dengan belaian dan jilatan lidahnya dan kemudian mencicipi bibir Jungkook dengan sedikit lebih dalam.

Kedua tangan Jungkook mencengkeram rambut Taehyung, untuk sejenak Jungkook tampak ragu, tetapi kemudian lidahnya membalas, membelai bibir Taehyung dengan malu-malu dan hati-hati. Taehyung tidak dapat menahan diri lagi. Ia sudah berada di dalam tubuh Jungkook sebelum mereka sempat menarik napas.

Jungkook merapat, berusaha agar mereka menyatu lebih dalam lagi. Taehyung menahan diri, meskipun gairah membuat tubuhnya menegang.

"Cium aku sayang, cium aku seperti kau menginginkanku untuk berada jauh di dalam dirimu, di dalam tempat yang belum pernah didatangi oleh siapapun"

Jungkook merespon dengan malu-malu tetapi tepat, tubuh Jungkook sedikit maju ke atas, lalu menangkup wajah Taehyung dengan kedua tangan dan menciumnya. Kelembutan sikap Jungkook mengguncang Taehyung, dan meruntuhkan segenap kendali dirinya.

Sambil menjalin jemarinya dengan jemari Jungkook, Taehyung mendesak lebih dalam. Api gairah berdesir di dalam tubuhnya, mendesaknya untuk menandakan kepemilikannya pada diri jungkook.

Sambil menggertakkan gigi untuk melawan godaan melakukannya dengan cepat, Taehyung bergerak sedikit demi sedikit ke dalam tubuh Jungkook. Sebagian dirinya yang benar-benar primitif menggeramkan kepemilikannya. Jungkook adalah miliknya. Selamanya. Hanya dirinya yang boleh memiliki Jungkook.

Taehyung meraih bibir Jungkook dengan ciuman rakus, dan bergerak kembali dengan kekuatan penuh, bagi Jungkook kenikmatan yang dirasakannya tak terlukiskan.

Jungkook hampir kehilangan kewarasannya akibat cumbuan itu dan dia berusaha menahan dirinya.

"Lepaskan sayang, jangan menahan diri lagi."

Taehyung seolah mengerti apa yang dirasakan Jungkook, permintaan panas itu dibisikkan ke mulut Jungkook yang nyaris tenggelam dalam hasrat gairahnya.

Dan ketika jemari Taehyung menyentuh sekujur tubuhnya, Jungkook menyerahkan dirinya. Tubuhnya mendesak di tubuh Taehyung sementara gelombang kepuasan mendera tubuhnya. Orgasme Jungkook menggiring Taehyung hingga ke ambang batas kesadarannya, ia mulai mempercepat iramanya dan merasakan dirinya meledak, di dalam tubuh Jungkook. Terbenam dalam puncak kepuasannya.

.

.

.

Kehidupan perkawinan mereka berlangsung seperti yang seharusnya. Setiap malam Taehyung selalu menyentuhnya, gairahnya seperti tak pernah habis.

Tetapi hanya itulah saat mereka bisa dekat. Jungkook mengernyit menyadari bahwa dia hanya bisa dekat dengan suaminya ketika mereka bercinta. Taehyung memang berubah menjadi pribadi yang lebih baik, dia tidak pernah kasar dan memaksakan kehendaknya lagi.

Lelaki itu hanya mengangkat alisnya ketika Jungkook mulai membantah kata-katanya, kemudian melangkah pergi. Memilih menghindari konfrontasi. Pernikahan mereka sudah berlangsung hampir dua bulan dan Jungkook masih merasakan ada yang mengganjal di hatinya.

Oh ya, dia menyadari bahwa landasan pernikahan ini sudah salah dari awal. Hanya berlandaskan kontrak kerja yang dilapisi hasrat. Belum lagi alasan yang tidak mau diakui Taehyung, bahkan sampai sekarang ini : bahwa Jungkook hanyalah pengganti Seokjin.

Jungkook tidak pernah lagi mengunjungi sayap rumah yang menyimpan lukisan Seokjin itu, dan Yoongi bahkan sudah tidak pernah menyinggung tentang isteri pertama Taehyung lagi. Jungkook curiga bahwa Taehyung melarang Yoongi dan semua orang di rumah ini membahasnya.

Karena Taehyung sendiripun tampak tak pernah menjelaskannya, Jungkook menjadi semakin bingung. Akan seperti apakah pernikahan ini nantinya? Salahkah ia ketika menerima lamaran Taehyung waktu itu? Dan satu lagi pertanyaan yang mulai mengusik hatinya, apakah ia mencintai Taehyung?

Semakin Jungkook mencoba memikirkannya, semakin kepalanya terasa sakit. Ah, dia memang sering merasa pusing akhir-akhir ini, pusing yang aneh karena timbul tenggelam tanpa tahu waktu.

"Jungkook?" Taehyung tiba-tiba sudah ada di depannya, "Kau kenapa?"

Lelaki itu mengernyit melihat Jungkook yang berjalan terhuyung-huyung sambil berpegangan di dinding lorong.

Jungkook mencoba berdiri tegak, tetapi pusing kali ini benar-benar menyerangnya dengan kuat sehingga dia oleng. Seketika itu juga Taehyung langsung menangkapnya.

"Jungkook?"

Suara panik Taehyung masih terdengar sebelum semuanya ditelan dalam kegelapan.

.

.

.

"Tuan Kim Jungkook hamil, selamat tuan."

dokter tua itu menyalaminya dengan penuh semangat.

"akhirnya ada calon penerus nama Kim yang akan terlahir"

Taehyung pucat pasi. Dokter itu terus berceloteh tentang kehamilan dan calon bayi mereka, tetapi yang ada di benak Taehyung hanyalah mimpi buruk. Mimpi buruk yang selama ini coba dia lupakan, tetapi sekarang kembali datang menghampirinya.

Taehyung menyuruh Yoongi mengantar kepergian dokter itu, dan kemudian Yoongi kembali dan menatap Taehyung dengan cemas. Lelaki itu tentu tahu apa yang berkecamuk di dalam hati Taehyung.

"Dia hamil."

Taehyung mengulang pemberitahuan dokter tadi, meskipun dia tahu Yoongi sudah mendengarnya, dia hanya ingin mengucapkannya supaya benar-benar yakin bahwa mimpi buruk itu ternyata telah menjadi nyata.

"Kondisi Jungkook sangat sehat tuan .."

"Sehat katamu?" Taehyung membentak marah, "Dia tadi pingsan di depanku, tampak pucat dan begitu lemah!"

"Tetapi tuan Jungkook tidak sama dengan …"

"Diam!" Taehyung menggeram marah,

"Jungkook tidak boleh hamil!" serunya memutuskan.

. . .

Jungkook membuka matanya dalam cahaya temaram di kamar Taehyung. Yang ditemukan pertama kalinya adalah Taehyung yang sedang duduk muram di kursi samping ranjang, sepertinya lelaki itu sedang menunggunya tersadar.

"Apa yang terjadi?"

tanya Jungkook lemah, memegang kepalanya dan mengernyit, masih pusing. Taehyung menatapnya tajam, tampak tidak suka dengan pemandangan Jungkook yang mengernyit kesakitan.

"Kau hamil .." gumamnya datar.

"Oh,"

Jungkook terkesiap, otomatis langsung memegang perutnya dan menutupinya dengan gerakan melindungi. Taehyung mengikuti arah pandangan Jungkook dan ekspresi wajahnya mengeras.

"Kau harus menggugurkannya."

Kali ini Jungkook benar-benar terkejut dengan kata-kata Taehyung sampai hampir terduduk dari ranjang. Tetapi rasa pusing langsung menghantamnya, hingga dia terbaring lagi.

"Apa Taehyung?"

Jungkook menatap Taehyung tak percaya. Dia tahu lelaki ini memang kejam. Tetapi meminta Jungkook mengugurkan kandungannya, yang adalah darah dagingnya sendiri benar-benar di luar dugaan.

"Aku tidak menginginkan anak itu, kau harus menggugurkannya"

.

.

.

-To be Continued-

Chapter kali ini adalah gabungan antara BAB 13&14,dan sepertinya chapter depan juga akan kuki gabung jadi satu~

Oh finally, Jungkook hamil juga wkwk xD setelah naena selama duabulan baru bisa hamil nah X')

So, sesuai janji kuki kalau fast update~ kuki usahain juga chap depan bisa seFast update chap kali ini ^^ see ya againnn❤

-Kuki