Sleep with the Devil
-TaeKook-
.
.
BoysLove inside | M-Preg
BTS X SVT
Disc: I'm not the Owner of this story.
Author just ReMake it by wearing TaeKook as cast.
So, if you want to Read the original Story, you can visit SanthyAgatha's blog on link below
www. anakcantikspot. blogspot. co. id (Delete Space)
Note: hasil Cerita ini diRemake oleh Dua Author. Dan kami sudah meminta izin kepada pemilik cerita ini (Santhy Agatha) untuk menghindari terjadinya pelanggaran Hak Cipta.
And, if you are still under age or Dislikes BL, please just left this page.
.
.
.
"Tidak!" Jungkook berseru.
Seketika wajahnya pucat pasi, tangannya langsung melindungi perutnya. Jungkook tidak tahu bagaimana pria bisa hamil, dia tidak punya pengalaman, lagipula cukup langkah seorang pria bisa hamil.
Tetapi begitu sadar bahwa ada bayi yang tumbuh dan berkembang di dalam tubuhnya, Jungkook langsung tahu bahwa ada ikatan di antara mereka, bahwa seorang ibu secara alami akan melindungi anaknya.
"Kau harus membunuhku dulu kalau kau berniat melaksanakan niatmu itu Taehyung! Aku tidak tahu kegilaan apa yang ada di dalam otakmu, tapi kau seharusnya malu. Anak ini adalah darah dagingmu sendiri, dan kau berniat membunuhnya bahkan sebelum dia tumbuh!"
Taehyung menatap Jungkook dengan pandangan kesakitan.
"Aku tidak bisa Jungkook, aku tidak bisa kalau kau hamil!"
lelaki itu mengacak rambutnya dan berdiri menyeberangi ruangan, menuangkan brandy untuknya dan meneguk cairan keras itu sekali teguk. Ketika membanting gelasnya dan menatap Jungkook, matanya menyala-nyala.
"Seokjin .. dia sempat hamil kau tahu .. kemudian keguguran .."
Jungkook tercekat ketika akhirnya topik itu dilepaskan oleh Taehyung. Nama Seokjin seakan tabu untuk diucapkan ketika Jungkook masuk ke rumah ini sebagai tuan Kim Jungkook. Dan sekarang Taehyung sendiriah yang mengangkat topik itu ke permukaan.
"Tetapi kondisiku dan Seokjin berbeda, aku sehat-sehat saja …"
"Yang tidak orang lain ketahui adalah Seokjin hamil lagi setelah keguguran itu."
Mata Taehyung nyalang, ingatannya kembali ke masa lalu, seakan tidak menyadari ada Jungkook diruangan itu.
"Aku tidak tahu bagaimana caranya dia membuatku lengah dan hamil lagi. Demi Tuhan aku sudah berusaha agar dia tidak hamil lagi, aku bahkan sudah membuat janji temu dengan dokter untuk operasi vasektomi. Tapi Seokjin berhasil hamil lagi dan dengan keras kepala dia menyimpan rahasia itu dariku dan semua orang. Takut kalau kami mengetahuinya dia akan meminta kami menggugurkannya." Nafas Taehyung tercekat,
"Ketika dia meninggal seperti tidur di atas ranjang, dokter baru mengetahui dan mengatakan padaku bahwa Seokjin sudah hamil tiga bulan. Kehamilannya itulah yang memperburuk kondisinya dan membuatnya semakin lemah .. kehamilan itu yang membunuhnya!"
"Tapi aku tidak sama dengan Seokjin, Taehyung." Jungkook menyela, berusaha mengembalikan Taehyung ke masa kini, "Aku sehat dan kuat dan bayi ini tidak akan membebaniku, lagipula aku seorang pria."
"Aku tidak mau kau sakit karena kehamilanmu!"
Taehyung menyela marah, dan ketika menyadari wajah Jungkook memucat karena suaranya yang meninggi, Taehyung memperlembut suaranya, tatapannya memohon.
"Aku minta padamu Jungkook, gugurkan bayi itu. Tidak akan pernah ada bayi di rumah ini, tidak akan pernah ada bayi di pernikahan kita. Aku tidak menginginkan bayi"
Dada Jungkook bergemuruh oleh perasaan yang bercampur aduk, teganya Taehyung dan betapa egoisnya dia! Betapapun Taehyung merasakan trauma dan ketidaksukaan yang mendalam atas kehamilan Jungkook, seharusnya lelaki itu sadar kalau yang ada di perut Jungkook ini adalah darah dagingnya, anaknya!
Sebegitu tidak berharganyakah Jungkook di mata Taehyung sehingga dia harus mengorbankan janin yang dikandungnya atas nama kenangan Taehyung kepada Seokjin?
"Tidak Taehyung" Jungkook menegakkan dagu, menahankan sakit hatinya yang meluap-luap.
"Aku tidak akan pernah mengugurkan bayi ini apapapun alasannya, meskipun kau hanya menganggapnya sampah."
Jungkook menatap Taehyung dengan tatapan terluka yang dalam,
"Meskipun kau melupakan fakta bahwa dia ada karena dirimu juga…dia adalah anakku, dan sekarang dia bertumbuh di dalam diriku. Seperti yang kubilang kepadamu tadi, kalau kau memaksakan kehendakmu kepadaku, kalau aku sampai kehilangan anak ini karena kesengajaanmu, maka yang kau dapatkan adalah kematianku"
Taehyung tertegun mendengar ancaman Jungkook itu, dia menatap Jungkook dan menyadari pria itu terluka. Taehyung terlalu terburu-buru mengucapkan isi hatinya, dan itu melukai Jungkook. Dengan frustrasi diacaknya rambutnya setengah marah.
"Dengar Jungkook, jangan kekanak-kanakan, kalau kau hanya ingin menentangku …"
"Aku tidak ingin menentangmu!" Jungkook setengah berteriak, kali ini emosinya pecah dan berderai,
"Aku tidak peduli perasaanmu atas masa lalumu dengan Seokjin, tetapi aku sekarang ada di sini, hidup dan bernafas saat ini. Dan kau memaksaku untuk menggugurkan anakku! Menurutmu apa yang harus kulakukan selain melindungi anakku sekuat tenaga? Anakmu juga!"
Anakmu juga. Kata-kata itu terasa menusuk dada Taehyung hingga membuatnya mengernyit. Anaknya juga. Tetapi anak itu bisa menjadi pembunuh, Taehyung pernah mengalaminya sekali. Dan jika dia harus mengalaminya lagi…
"Mungkin nanti kau akan berubah pikiran"
"Tidak akan Taehyung."
Jungkook menyentuh kepalanya yang mulai berdenyut-denyut lagi. Dan Taehyung menatapnya dengan cemas,
"Apakah kau pusing lagi?"
"Ya," Jungkook mengerang dan memijit kepalanya.
"Aku akan mengambilkanmu air."
Taehyung menuang air itu ke dalam gelas dan duduk ditepi ranjang, lalu menyerahkan gelas itu kepada Jungkook.
"Ini .. minumlah"
Jungkook menerima gelas itu dan meneguknya. Setelah selesai Taehyung meletakkan gelas itu kembali di tepi ranjang. Mereka diam di sana dalam keheningan, saling bertatapan. Biasanya suasana tidak secanggung ini. Biasanya setiap malam Taehyung langsung mengajaknya masuk kamar dengan bergairah yang berlanjut dengan percintaan yang luar biasa dan mereka langsung tertidur sampai pagi. Tetapi sekarang keadaan berbeda. Taehyung tidak bisa memecahkan keheningan dengan bercinta. Dan pembicaraan tadi ternyata telah menguras emosi mereka berdua.
Jungkook-lah yang pertama kali memecah keheningan.
"Kau ingin tidur?"
Taehyung menatap ke sisi tempat tidur yang kosong. Sisi miliknya. Dan tiba-tiba merasa lelah. Jungkook menggeser tubuhnya memudahkan Taehyung untuk berbaring. Lelaki itu berbaring di sebelahnya dengan tenang tanpa suara, hanya suara berdesir kain yang bergesekan. Lama mereka berdua berbaring dengan mata yang nyalang, sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri. Sampai akhirnya mereka lelap tertelan tidur.
.
.
.
Pagi harinya suasana begitu dingin, Taehyung seolah tidak mau membahas percakapan mereka semalam, tetapi walaupun begitu, Jungkook tetap waspada. Mengingat sifat Taehyung, tidak menutup kemungkinan lelaki itu akan melakukan segala cara untuk melaksanakan keinginannya.
Dengan memasukkan obat penggugur di minumannya misalnya, siapa yang tahu? Mengingat lelaki itu pernah membiarkan minumannya dicampuri obat oleh Yoongi.
Jungkook mengelus perutnya dan mengernyit sedih, meskipun bayi ini tidak diinginkan oleh ayahnya, meskipun
perasaannya sekarang terluka karena Taehyung lebih mementingkan kenangannya akan Seokjin daripada dirinya yang sekarang ada dan hidup di depannya, Jungkook harus berusaha tegar dan kuat, demi anak ini.
"Anda akan mempertahankan anak itu kan?"
suara Yoongi menyentakkan Jungkook dari lamunannya. Lelaki itu sedang memasuki ruangan yang sama dengan Jungkook.
Jungkook menatap Yoongi dan mencoba tersenyum, Yoongi sangat baik dan sopan padanya ketika dia memasuki rumah ini. Yoongi pulalah yang menjelaskan kepadanya kebenaran dan merubah semua pandangannya akan Taehyung.
"Aku akan menjaganya dengan nyawaku. Kau harus berhadapan denganku dulu kalau kau ingin mencelakai anak ini"
Senyum terukir di bibir Yoongi,
"Tidak tuan. Tuan Taehyung tidak pernah menyuruh saya mencelakai anak itu. Bahkan jika tuan Taehyung menyuruhpun, saya akan menolak, anak itu adalah keturunan Kim yang harus saya hormati pula"
Kelegaan meliputi hati Jungkook, setidaknya ada orang yang mau membela anaknya. Kemudian Jungkook menatap Yoongi dengan ragu,
"Apakah kau tahu bahwa Seokjin meninggal karena dia mencoba mengandung untuk kedua kalinya?"
Yoongi menatap Jungkook hati-hati dan menganggukkan kepalanya.
"Saya tahu, setelah kematian nyonya Seokjin. Hal itulah yang menghancurkan Tuan Taehyung, bahwa dia sebenarnya berkontribusi dalam kematian Nyonya Seokjin. Nyonya Seokjin bisa hidup lebih lama seandainya tidak hamil." Yoongi menghela nafas panjang dan menatap Jungkook lembut,
"Saya harap Anda memahami perasaan Tuan Taehyung"
"Dia selalu menganggapku sebagai pengganti Seokjin, dia menganggapku sama seperti Seokjin." Jungkook memejamkan matanya pedih, "Anak ini anaknya, tetapi dia menyuruhku mengugurkannya,"
Yoongi menatap perut Jungkook dan tatapannya melembut di sana,
"Saya yakin Tuan Taehyung tidak pernah menganggap Anda sebagai pengganti Nyonya Seokjin. Jika dia hanya
menganggap Anda sebagai boneka pengganti, dia tidak akan menunjukkan emosinya kepada Anda. Anda tidak akan diperlakukan olehnya dengan begitu hormat, yang bisa saya katakan, apa yang dilakukan Tuan Taehyung adalah karena dia peduli kepada Anda."
Peduli kepadanya? Bagaimana bisa? Taehyung menyuruhnya menggugurkan anaknya. Bagaimana bisa itu disebut
kepedulian?
"Tuan Taehyung menginginkan anak itu digugurkan karena dia mencemaskan keselamatan Anda. Dia takut Anda akan celaka dan meninggal seperti Seokjin, dia takut kehilangan Anda"
Jungkook menatap Yoongi dengan tak percaya,
"Dia tak mungkin takut kehilanganku"
"Percayalah kepada saya," Yoongi tersenyum lembut. "Tuan Taehyung memang tidak pernah pandai menunjukkan perasaannya, tetapi kalau memperhatikan Anda akan tahu."
Yoongi membungkukkan tubuhnya, lalu berpamitan dan meninggalkan Jungkook dalam keheningan.
. . .
"Apakah kau sudah berubah pikiran tentang usulanmu semalam?"
Jungkook menatap Taehyung yang baru saja memasuki kamar, tidak biasanya Taehyung memasuki kamar sedemikian larut, dan lelaki itu tampak lelah.
Taehyung menatap Jungkook sekilas, lalu melepas pakaiannya dan masuk ke kamar mandi, ketika keluar dari sana, lelaki itu tampak segar dengan piyama hitamnya.
"Aku tidak mau membahasnya lalu membuatmu marah-marah sepanjang malam."
dengan kasar Taehyung menggosokkan handuk ke rambutnya yang basah, kemudian melempar handuk itu dan menatap Jungkook,
"Kau pasti akan keras kepala dan tetap pada pendirianmu, mempertahankan anak itu"
"Tentu saja, aku tidak akan menerima kemauan konyolmu untuk menggugurkan anak ini karena anak ini tidak bersalah"
"Kita akan berdebat lagi malam ini ya," Taehyung mendesah lelah,
"Aku lelah Jungkook, yang aku tahu, anak ini akan melukaimu lalu membunuhmu"
"Taehyung!" seru Jungkook setengah marah,
"Dia hanya janin kecil yang tidak berdaya!"
"Oke!" lelaki itu membentak, tampak tak tahan dengan semua perdebatan mereka.
"Silahkan, lanjutkan kehamilanmu itu .. tetapi .." mata Taehyung menajam,
"Kalau sampai kau kenapa-kenapa gara-gara kehamilan ini, aku tidak akan berkompromi"
Taehyung mengalah. Jungkook terpana, sebelumnya Taehyung tidak pernah mengalah secepat itu. Jungkook tadi sudah mempersiapkan argumen yang panjang, pembelaan mati matian, bahkan ancaman putus asa menyangkut kehamilannya ini. Dan Taehyung semudah itu mengalah kepadanya.
"Kenapa?" Taehyung menatap Jungkook marah, tampak tak nyaman dengan tatapan takjub Jungkook.
Jungkook langsung mengalihkan pandangannya dengan pipi merona.
"Tidak-tidak ada apa-apa"
"Tetapi aku punya satu syarat." gumam Taehyung tenang.
seolah-olah baru mengingatnya. Jungkook terkesiap dan menatap Taehyung waspada, dan reaksi itu membuat Taehyung menahan tawanya.
"Tenang Jungkook, kau tegang seperti senar yang akan putus, aku tidak sedang akan menjatuhkan bom ke kepalamu"
"Apa syaratmu?"
Pandangan Taehyung berubah sensual.
"Aku tidak mau kehamilan itu menggangguku jika aku menginginkanmu"
Pipi Jungkook memerah, tersipu sekaligus marah atas kata-kata egois Taehyung. Jangan-jangan itu adalah salah satu usaha Taehyung mengganggu kehamilannya.
"Baik." Jungkook mendongakkan kepalanya, mencoba terlihat menantang,
"Asalkan kau melakukannya dengan lembut dan tidak melukai bayiku"
Taehyung hanya menganggukkan kepalanya, ketika dia akhirnya menatap Jungkook, matanya menyala dengan sensual.
"Apakah kau masih pusing seperti semalam?"
Jungkook tidak pusing lagi. Tetapi kearoganan Taehyung yang tersirat itu membuatnya ingin menantangnya. Taehyung pasti akan bercinta dengannya ketika ia sudah tidak pusing. Dan Jungkook tidak akan bisa. Tidak akan mampu menolak pesona gairah Taehyung.
Dengan berpura-pura dia memegang kepalanya, mengernyit.
"Sebenarnya aku masih pusing"
"Benarkah?" Taehyung menatapnya tajam bercampur kecemasan,
"Kau sudah minum obat penambah darah dari dokter? Mereka bilang kau kurang darah"
"Sudah."
Sedikit geli Jungkook melirik Taehyung, tetap berusaha berakting kesakitan. Lelaki itu menatap Jungkook lama dan intens, tampak menggertakkan gigi. Semula Jungkook bingung kenapa, tetapi ketika dia melirik ke bawah, dia menyadari bahwa Taehyung sudah siap, keras, dan bergairah di sana.
Lelaki itu sudah begitu bergairah, dan Jungkook tinggal bilang ya, lalu mereka akan bercinta di ranjang dengan penuh gairah seperti biasa. tetapi tidak! Jungkook tidak akan membuat itu begitu mudah bagi Taehyung, Jungkook ingin menghukum Taehyung karena hatinya masih sakit atas usulan Taehyung untuk menggugurkan kandungannya.
"Aku pusing sekali."
Jungkook sengaja membuat suaranya terdengar lemah.
"Aku mau tidur."
Dengan gerakan sakit dibuat-buat Jungkook mengangkat selimut ke bahunya dan membuat posisi tidur yang nyaman. Taehyung hanya berdiri sejenak di tengah ruangan itu dan menatap Jungkook. Dia sudah dua hari tak bercinta dengan isterinya itu. Biasanya setiap hari. Dan itu semua karena kehamilan itu. Tapi mau bagaimana? Dia tidak mungkin memaksa Jungkook yang sedang sakit kan?
Sedikit mendesah, merasakan kejantanannya yang begitu keras sampai terasa nyeri. Taehyung melangkah ke ranjang dan membaringkan diri, tetapi Sialan! Dia tidak bisa tidur, gairah terlalu menggelegak di dalam dirinya, meminta dipuaskan.
"Taehyung.." suara Jungkook menggugah penyiksaan yang dialaminya.
"Apa Jungkook?" Taehyung menjawab kasar.
Diam-diam Jungkook tersenyum mendengar nada tersiksa dalam suara Taehyung. Rasakan kau, Tuan Taehyung yang arogan, soraknya dalam hati.
"Aku .. aku pusing .. maukah kau memijit kepala dan pundakku?"
Mata Taehyung menyala ketika menatap mata Jungkook.
Pria ini menatapnya tanpa dosa. Tidakkah dia tahu bahwa permintaannya ini menambah penderitaan Taehyung? Memijit Jungkook? Dalam kondisi bergairah dan ingin dipuaskan seperti ini? Bagaimana Taehyung bisa menahan diri, ketika jemarinya menyentuh kelembutan kulit Jungkook di tangannya?
"Oke, berbaliklah."
Taehyung menggeram lagi. Jungkook tidak pernah meminta tolong kepadanya, dan kalau Jungkook melakukannya, itu berarti Jungkook benar-benar kesakitan.
Jemari Taehyung bergerak menyentuh kepala Jungkook, ke helaian rambut seperti sutera yang terasa lembut di jemarinya. Helaian itu biasanya adalah tempat Taehyung menenggelamkan kepalanya ketika dia mencapai orgasmenya yang luar biasa nikmat di atas tubuh isterinya. Sial! Jangan pikirkan tentang itu, Man!
Taehyung memijit dan seolah belum cukup siksaannya, selama proses itu, Jungkook terus menerus mendesah keenakan karena pijatan Taehyung. Bahkan kadang mengerang, persis seperti erangannya ketika Taehyung mencumbunya, dan itu luar biasa menyiksanya. Kejantanan Taehyung sudah berdenyut-denyut, dan Taehyung merasa dirinya hampir meledak karena gairah, gairahnya kepada Jungkook.
"Sudah cukup?"
"Aku masih sedikit pusing di sisi ini .."
Jungkook memiringkan kepalanya, memamerkan pundaknya yang hangat dan halus, membuat Taehyung ingin mengigit lembut di bagian lunak di sebelah sana.
Sial. Sial. Sial! Sambil terus memijit Jungkook, Taehyung menyumpah terus menerus dalam hati, Kemudian ketika Jungkook tampak santai, Taehyung melepaskan pijitannya dengan hati-hati. Bagus. Jungkook sudah tertidur. Sekarang mungkin dia akan mandi dengan air dingin, kalau tidak dia akan terbakar semalaman di atas ranjang ini. Menderita karena tak terpuaskan. Dengan tak kalah hati-hati, Taehyung bergerak turun dari ranjang, hendak melangkah ke kamar mandi.
"Taehyung .."
Hampir saja Taehyung mengerang mendengar panggilan Jungkook.
"Apa lagi Jungkook?" desis Taehyung serak.
"Sekarang aku sudah tak pusing lagi"
Hening.
Taehyung tertegun sejenak, kemudian menyadari arti kata-kata Jungkook, dia langsung membaringkan kembali tubuhnya di ranjang, sepenuh gairahnya.
"Bagus."
bisiknya parau lalu membalikkan tubuh Jungkook dan melumat bibirnya tanpa ampun, Gairahnya yang menggelegak tidak ditahan-tahannya lagi, Taehyung menyentuh Jungkook di mana-mana, menikmati kepemilikannya atas tubuh isterinya, menikmati betapa tubuh Jungkook yang lembut dan hangat itu menggelenyar di setiap sentuhannya.
Dengan menahan dirinya, Taehyung menindih Jungkook dan menyatukan tubuhnya, berusaha menahan diri supaya berhati-hati, karena isterinya ini sedang hamil, Ya ampun! Tubuh mereka menyatu, dan Taehyung bergerak selembut yang dia bisa. Tetapi gairah menyala-nyala di seluruh aliran darahnya ketika akhirnya Jungkook mencapai orgasme, membawanya juga terjun bebas dalam jurang kepuasan yang dalam.
.
.
.
Hubungan mereka membaik kembali meskipun sedikit kaku. Dan semakin bertambahnya usia kehamilannya. Jungkook menyadari bahwa dia menyayangi suaminya. Ya, Jungkook menyadarinya ketika dia merindukan Taehyung saat lelaki itu tidak ada di sisinya. Astaga … merindukan Kim Taehyung adalah hal terakhir yang ada di pikiran Jungkook, tetapi itu memang terjadi.
Sembilan bulan telah berlalu, sekarang perut Jungkook sudah benar-benar buncit dan gerakannya lamban. Jungkook bahkan sudah tidak bisa melihat lututnya sendiri karena terhalang perutnya. Sedikit lucu ketika ia melihat dirinya yang notabenenya seorang pria, kini sedang mengandung.
Dengan lembut Jungkook mengusap perutnya, mungkin karena anak ini. Jungkook tidak tahu, yang pasti setiap dia ada di dekat Taehyung, perasaannya menjadi hangat.
Oh, Taehyung tidak berubah. Masih sama, begitu dingin, kaku, dan menakutkan bagi para pegawai dan rekan-rekan kerjanya, sekaligus begitu penuh kasih sayang di ranjang.
Gaya bercinta Taehyung berubah sejak Jungkook hamil, bahkan ketika usia kehamilan Jungkook beranjak makin tua, lelaki itu tidak menyentuh Jungkook lagi. Dia hanya mengusap lembut rambut Jungkook sebelum tidur. Dan meskipun masih belum kelihatan bisa menerima kehamilan Jungkook, setidaknya Taehyung terlihat mencoba berkompromi.
Benarkah Taehyung sebenarnya mencemaskannya? Benarkah Taehyung sebenarnya tidak menganggapnya sebagai boneka pengganti Seokjin? Jungkook tidak tahu. Memikirkan itu semua membuat dadanya terasa sesak. Teringat akan sikap Taehyung selama kehamilannya. Lelaki itu memang bersikap lembut dan baik kepadanya, tetapi lelaki itu selalu berpura-pura bahwa kehamilan Jungkook tidak ada.
Jungkook tahu Taehyung seperti memperhatikannya. Pernah di suatu siang, ketika Jungkook membawa buku-buku yang berat untuk dibawa ke kamarnya, dari sekelebat matanya, Jungkook tahu bahwa Taehyung sudah akan berdiri untuk membantunya mengangkat buku-buku itu, tetapi tertahan karena Yoongi sudah membantunya duluan.
Pernah juga Jungkook membaca buku tentang kehamilan dan persalinan di ranjang, tetapi Taehyung bahkan tidak mau meliriknya dan berpura-pura tidur. Jungkook juga teringat ketika usia kandungannya lima bulan, Taehyung pernah memeluknya dalam tidur, mereka bercumbu siap bercinta, kemudian bayi itu menendang. Terasa kencang hingga menohok ke perut Taehyung. Taehyung langsung mundur, mengucapkan berbagai alasan dan beranjak pergi.
Sebegitu paranoidkah Taehyung dengan kehamilannya? Sebegitu takutkah Taehyung dengan bayi ini? Bukankah keberhasilan Jungkook mengandung bayi ini hingga usia sembilan bulan tanpa permasalahan yang berarti sebenarnya sudah bisa membuktikan kepada Taehyung bahwa Jungkook adalah calon ibu yang kuat dan sehat?
"Padahal kau tidak tahu apa-apa, Nak." Jungkook mengusap perutnya dengan sayang, "Maafkan ayahmu yang konyol itu"
"Tuan, ada yang ingin bertemu."
Yoongi tiba-tiba muncul di pintu, mengalihkan Jungkook dari lamunannya.
Wonwoo muncul di belakang Yoongi, menggendong anak kecil yang begitu tampan, mungkin baru berusia dua tahun. Anak itu seperti malaikat dengan mata biru pucatnya yang menyala-nyala, mata Mingyu.
"Aku dengar tanggal kelahiran pangeran kecil ini sudah dekat, dua minggu lagi ya?"
Wonwoo masuk, meletakkan Meanie dengan lembut di sofa dan memeluk Jungkook. Sejak pernikahannya dengan Taehyung, Jungkook bersahabat erat dengan Wonwoo, dan Taehyung membiarkannya karena memang Wonwoo adalah satu-satunya teman Jungkook.
"Bagaimana kondisimu Jungkook?"
mereka duduk di sofa, berhadap-hadapan, mata Wonwoo menatap ke perut Jungkook yang terlihat membuncit.
"Kau harus banyak istirahat dan menjaga diri, awal-awal kehamilan adalah saat-saat yang paling penting"
Jungkook menganggukkan kepalanya dan tersenyum,
"Semoga anak ini kuat, aku hanya merasa pusing-pusing dan mual setiap saat"
Wonwoo tertawa,
"Aku juga merasakan hal yang sama ketika mengandung Meanie, tapi di awal kehamilan bukan di akhir kehamilan."
Ya, Jungkook dan Wonwoo adalah salah satu dari kelangkahan didunia. Mereka adalah sama-sama pria yang bisa mengandung.
dengan sayang dia melirik putera pertamanya yang sekarang sudah melompat dari sofa dan asyik bermain-main di karpet dengan balok-balok yang dibawanya dari rumah.
"Rahasianya ada pada teh mint dan biskuit asin, makan itu setiap bangun pagi dan kau akan bisa mengatasi morning sickmu"
"Terima kasih Wonu-ya"
Jungkook menyentuh lengan Wonwoo, benar-benar tulus dengan ucapannya. Berhari-hari dilewatkannya bersama Taehyung yang selalu bersikap bahwa bayi itu tak pernah ada di perut Jungkook, kini rasanya begitu menyenangkan bisa bercakap-cakap berbagi keluhannya dengan teman yang mengerti dirinya.
Wonwoo menatap Jungkook prihatin,
"Bagaimana dengan Taehyung?"
Wonwoo tahu kisah tentang Seokjin tentu saja. Jungkook mendesah,
"Dia bersikap seolah-olah anak ini tidak ada, Dan dia, tidak pernah sekalipun mengatakan bahwa dia menyayangi aku.. aku jadi tidak yakin apakah aku hanya pengganti Seokjin atau.."
"Jungkook .." Wonwoo menyela dengan lembut,
"Kadang-kadang ada laki-laki yang tidak bisa mengungkapkan cinta dengan kata-kata. Kau sendiri, pernahkah kau mengungkapkan cinta kepada Taehyung?"
"Tidak mungkin! Dia akan menggilasku begitu saja kalau aku mengatakannya," pipi Jungkook merah padam.
Wonwoo tersenyum,
"Dan apakah kau mencintai suamimu, Jungkook?"
"Aku tidak tahu." Jungkook memegang pipinya yang mulai terasa panas,
"Perasaanku berubah, dulu aku begitu membencinya, tetapi kemudian aku dihadapkan pada kenyataan demi kenyataan, bahwa dia bukan seperti yang aku kira … Lalu aku memandangnya dengan lebih baik … sekarang bahkan aku merindukannya ketika dia tidak ada, apakah itu cinta, Wonwoo?"
Senyum Wonwoo melembut,
"Aku pernah ada di posisi di saat aku bertanya-tanya tentang perasaanku, rasanya memang membingungkan Jungkook. Kuharap kau menyadari perasaanmu terlebih dahulu sebelum kau meminta Taehyung menjelaskan perasaannya"
Jungkook menganggukkan kepalanya, kemudian serangan kram itu datang. Hanya sekejap seperti hantaman yang begitu keras. Ketika Jungkook menggerakkan tubuhnya, hantaman itu terasa lagi. Lebih keras dan menyakitkan. Lalu dia merasakan basah, basah yang aneh.
Dia mendengar suara Wonwoo yang terkesiap, dan mengikuti arah pandangan Wonwoo, ke tengah pahanya, di sana, merembes darah yang banyak menembus pakaiannya.
Wajahnya pucat pasi, apakah bayinya akan lahir lebih cepat dari tanggal perkiraan? Tetapi setahu Jungkook proses kelahiran bayi tidaklah seperti ini, biasanya didahului dengan air ketuban yang pecah atau keluarnya darah, tapi bukan pendarahan seperti ini.
Ketika merasakan hantaman rasa sakit yang terus menerus memukulnya, Jungkook mengernyitkan matanya, darah itu terus mengucur, terus, dan terus hingga membasahi celananya. Ada sesuatu yang salah di sini!
"Oh Tuhan, Jungkook, aku harus memanggil ambulance."
Yoongi langsung datang dengan sigap, begitu pula para pelayan, tetapi ketika kesakitan yang begitu kuat menghantamnya untuk kesekian kalinya, Jungkook tidak kuat. Kegelapan langsung menelannya, membuatnya tak sadarkan diri.
. . .
Ketika Taehyung menerima telepon itu, dia sedang berada ditengah meeting penting. Dia langsung melupakan semuanya dan meluncur secepat dia bisa ke rumah sakit tempat Jungkook katanya dibawa.
Terengah, Taehyung berlari ke ruang gawat darurat dan hampir bertabrakan dengan Yoongi.
Napas Taehyung terengah dan menatap Yoongi yang tampak pucat dan cemas, Taehyung melihat darah. Darah di lengan dan baju Yoongi yang kebetulan berwarna putih.
"Kenapa ada darah di bajumu?" suara Taehyung bergetar, menahan perasaan cemas yang mulai menggelegak.
"Tuan .. tuan Jungkook pendarahan saya menggendongnya …"
Pendarahan? Kenapa ada darah? Mau tak mau ingatan Taehyung melayang ke masa bertahun-tahun lalu ketika Seokjin mengalami keguguran, pendarahan yang sama, kesakitan yang sama.
"Di mana Jungkook?!"
"Dokter masih menanganinya Tuan"
"Taehyung," suara Wonwoo yang lembut mengalihkannya,
"Kondisi Jungkook kritis, dokter bilang ada yang salah dengan posisi plasentanya, yang mengakibatkan pendarahan. Mereka sedang berusaha mengeluarkan bayinya"
"Bagaimana dengan Jungkook?" suara Taehyung bagaikan erangan menahan siksaan.
"Jungkook tidak sadarkan diri sejak dibawa ke ambulance, Taehyung."
Wonwoo memandang Taehyung cemas,
"Mereka sedang berusaha di dalam sana."
Wonwoo menoleh pada ruang operasi di sudut dengan lampu merah yang menyala di atasnya.
"Yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa"
Berdoa? Taehyung sudah lama tidak berdoa, dia pernah berdoa sebelumnya. Jiwanya yang kelam ini dulunya putih bersih. Percaya bahwa yang namanya Tuhan itu ada dan selalu tersedia untuk menolongnya. Tetapi Tuhan ternyata tidak ada ketika Seokjin yang dulu dicintainya meregang nyawa.
Tuhan tidak ada. Itulah yang dipercaya Taehyung setelah menguburkan Seokjin, sekaligus menguburkan seluruh
kepercayaan yang dulunya pernah di pegangnya.
Taehyung membuang hatinya, menjadi manusia berjiwa kelam yang jahat, dan kemudian lama kelamaan wataknya berubah menjadi kejam. Tidak ada yang bisa menyentuh belas kasihan Taehyung, tidak ada lagi. Sampai ayah Jungkook datang dan menunjukkan foto anaknya untuk ditawarkan padanya. Taehyung menyadari kemiripan itu, meskipun Jungkook seorang pria.
Taehyung tidak menampik, ketika membuat perjanjian pernikahan di usia Jungkook yang ke dua puluh itu murni karena ingin menjadikan Jungkook sebagai pengganti Seokjin. Tetapi kemudian entah kenapa Taehyung jatuh cinta kepada Jungkook, entah sejak kapan Taehyung tidak tahu. Mungkin sejak dia selalu menerima foto-foto hasil pengintaian dari Yoongi yang membuatnya sadar bahwa Jungkook telah berkembang menjadi pria yang mandiri.
Mungkin setelah percintaan yang dahsyat di malam pertama itu, atau mungkin juga setelah perkawinan mereka, Taehyung tidak tahu. Yang dia tahu pasti, Jungkook tersimpan di hatinya. Hati yang dulu sudah dia buang, Ternyata selama ini hatinya masih ada di sana, menunggu untuk diisi kembali.
Dan sekarang, isteri dan anaknya sedang meregang nyawa di ruang operasi. Dan yang bisa Taehyung lakukan hanyalah menunggu di sini seperti orang bodoh. Isteri dan anaknya astaga! Bahkan Taehyung selalu menutup mata, berpura-pura bahwa dia tidak mengakui keberadaan anak itu, selalu mengalihkan mata ketika menatap perut Jungkook yang semakin dan semakin membuncit setiap harinya.
Jungkook berjuang sendirian selama masa-masa kehamilannya. Sangat jauh dari yang dilakukannya ketika Seokjin mengandung, dia merawatnya, dia menjaganya di setiap langkahnya. Memastikan seokjin sehat dan bahagia di setiap detiknya. Dan sekarang, kepada Jungkook, isterinya, yang sesungguhnya sangat dicintainya, Taehyung telah berbuat luar biasa jahat.
Bagaimana jika nanti tidak ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya? Tuhan, jika dia benar benar ada, Taehyung rela berdoa di setiap detiknya demi keselamatan Jungkook.
"Kalau Jungkook tidak dapat diselamatkan .." Suara Taehyung tertelan di tenggorokannya,
"Aku belum pernah bilang kalau aku mencintainya"
Yoongi menundukkan kepalanya, tidak tahu bagaimana caranya menghibur tuannya yang sedang cemas.
Sementara Wonwoo diam-diam menyusut air matanya. Jadi lelaki ini, yang katanya begitu kejam dan jahat, ternyata mencintai isterinya. Ternyata mencintai Jungkook. Dengan sepenuh hatinya Wonwoo berdoa,
Kau harus hidup Jungkook, suamimu di sini, mencemaskanmu. Dia kelihatan sangat menderita, dulu dia jahat dan kejam dengan hati yang hitam, tetapi kau telah sedikit demi sedikit mengangkatnya ke dalam cahaya. Dan kalau kau meninggalkannya, mungkin dia akan terpuruk lagi, jatuh ke dalam jurang yang lebih kelam.
.
.
.
-To be Continued-
Chapter depan mungkin adalah chapter terakhir^^ Mind to Riview? :') give kuki a moodbooster wkwk x'D
ini fast update kan? x'D gpp, kuki juga lg syeneng jd fast update bangett :v
Oh, ntah kenapa kuki tersentuh sama kata-kata wonwoo terakhir :'
-Kuki
