Sleep with the Devil

-TaeKook-

.

.

BoysLove inside | M-Preg

BTS X SVT

Disc: I'm not the Owner of this story.

Author just ReMake it by wearing TaeKook as cast.

So, if you want to Read the original Story, you can visit SanthyAgatha's blog on link below

www. anakcantikspot. blogspot. co. id (Delete Space)

Note: hasil Cerita ini diRemake oleh Dua Author. Dan kami sudah meminta izin kepada pemilik cerita ini (Santhy Agatha) untuk menghindari terjadinya pelanggaran Hak Cipta.

And, if you are still under age or Dislikes BL, please just left this page.


.

.

.

Entah berapa jam proses operasi yang menyiksa itu dan Taehyung duduk di sana dengan seluruh tubuh menegang dan tersiksa. Yoongi masih menungguinya di sana, sementara Wonwoo sudah berpamitan, karena puteranya membutuhkannya. Wonwoo bilang akan kembali besok pagi.

Lalu terdengar tangis bayi. Tangis bayi yang sangat kuat dan keras, seakan memompa seluruh udara yang ada ke dalam paru-parunya. Taehyung terkesiap dan saling berpandangan dengan Yoongi, tubuhnya makin menegang. Apakah itu suara anaknya? Tiba-tiba lampu menyala hijau, dan seorang perawat keluar, memanggilnya.

"Tuan Kim Taehyung"

Taehyung diajak masuk ke ruangan dalam di bagian ruang persiapan operasi, yang menjadi pembatas antara ruang tunggu dengan ruang operasi.

"Ini Putera anda Tuan Taehyung, kami menunjukkannya sebelum dia dibawa ke kamar bayi"

Bayi itu menangis begitu keras, seolah-olah memprotes kenapa dia direnggut dari kehangatan yang nyaman di perut ibundanya ke dunia yang penuh marabahaya ini.

Taehyung mengamati bayi itu dengan takjub, mahluk kecil tak berdaya itu, yang selama ini tumbuh di perut Jungkook, darah dagingnya, yang tumbuh dari percintaannya dengan Jungkook. Makhluk itu begitu tak berdaya, dan ingatan bahwa Taehyung memusuhinya dulu terasa begitu konyol. Anak laki-laki ini anaknya. Buah cintanya dengan Jungkook.

Perawat itu menunjukkan alat kelamin bayi itu, anak laki-laki yang sehat. Dan wajahnya itu, yang bahkan sudah menunjukkan kemiripannya dengan seluruh keturunan Kim, lalu membawa sang bayi ke ruangan khusus. Sejenak Taehyung masih tertegun di sana, lalu teringat kepada Jungkook. Jungkook bagaimana isterinya?

"Suster." Taehyung memanggil suster itu, berusaha agar tidak terdengar panik,

"Bagaimana dengan isteri saya?"

Suster itu melirik ke ruang operasi.

"Masih belum sadar tuan, kondisinya cukup stabil meskipun kita tidak tahu apa yang akan terjadi waktu-waktu mendatang, Anda bisa menengoknya nanti ketika dia sudah dipindah dari ruangan operasi ke ruangan iccu".

Lalu suster itu pergi meninggalkannya, memaksanya menunggu ke dalam ketidakpastian yang menyiksa lagi. Kalau dulu, Taehyung pasti akan membentak, memaksa, menggunakan cara kasar agar bisa dituruti kemauannya. Dia ingin melihat Jungkook segera! Kenapa para dokter tidak becus itu begitu lama menanganinya?

Tetapi Taehyung menahan dirinya. Tidak. Mereka sedang menyelamatkan Jungkook. Dia tidak boleh mengganggu mereka, karena nyawa Jungkook taruhannya.

. . .

Ruangan iccu itu sepi, hanya ada Jungkook dan suara detak jantungnya yang dimonitor. Jungkook masih belum sadarkan diri, dan menurut penjelasan dokter tadi, kondisinya masih belum lepas dari kritis.

Taehyung duduk di sana, di samping ranjang Jungkook, mengamati wajah Jungkook yang terbaring pucat pasi. Dia pernah mengalami ini sebelumnya dan ternyata Seokjin tidak pernah terbangun lagi. Akankah Jungkook melakukan hal yang sama pada dirinya?

"Kau tidak boleh meninggalkanku Jungkook."

Taehyung menggeram parau.

"Kau tidak boleh meninggalkanmu sebelum aku mengizinkanmu, putera kita menunggu di sana, ingin dipeluk ibunya, jadi kau harus bangun dan memeluknya, membantunya tumbuh menjadi anak yang sehat .. yang .."

suara Taehyung tertelan, menyadari bahwa dia sudah berkata-kata terlalu banyak. Taehyung lalu menyentuh jemari Jungkook dan menggenggamnya.

"Maafkan aku," bisiknya parau,

"Maafkan aku karena selalu memaksamu, menyakitimu, bahkan ketika kau mengandung anakku, aku tidak pernah memperhatikanmu seperti seharusnya."

Dengan lembut Taehyung mengecup jemari Jungkook.

"Bangunlah sayang, dan akan kutebus semua kesalahanku"

Hening, Hanya suara monitor jantung yang terdengar teratur di ruangan itu, Taehyung menggenggam jemari Jungkook makin erat.

"Bangun sayang, apakah kau akan tega meninggalkanku dan putera kita? Kau bahkan belum memberinya nama, akan aku panggil apa dia?"

Mata Taehyung terasa panas membakar. Dia tidak pernah menangis sebelumnya, tetapi kediaman Jungkook yang begitu berbeda dengan kesehariannya yang berapi-api membuatnya merasakan aliran dingin merayapi benaknya. Ketika kemudian panas membakar itu berubah menjadi tetesan hangat yang mengalir di sudut matanya, suara Taehyung berubah serak.

"Aku mencintaimu Jungkook, isteriku. Dan aku bersumpah akan mengabdikan seluruh kehidupanku kepadamu jika kau mau bangun dari tidur pulasmu yang menakutkan ini"

Air mata Taehyung menetes di jemari Jungkook. Dan kemudian jemari itu bergerak, membuat Taehyung terpaku. Jemari itu bergerak lagi, samar. Dan kemudian gerakannya lebih mantap. Bersamaan dengan itu, bulu mata Jungkook bergerak-gerak, membuat Taehyung menunggu dengan cemas. Lalu setelah penantian yang sepertinya terasa seumur hidupnya, mata Jungkook terbuka langsung menatap mata Taehyung yang basah.

"Kenapa .. Kau .. menangis?"

Taehyung langsung memasang muka sedatar mungkin meskipun perasaannya meluap-luap.

"Mataku kemasukan debu"

"Oh," Jungkook memejamkan mata lagi, sepertinya percakapan itu membuatnya lelah, "Anakku?"

"Dia laki-laki kecil yang sehat dan sempurna, tangisannya sangat keras membuat para suster harus menutup telinga dengan kapas ketika mengurusnya"

Jungkook tersenyum, dan mencoba membuka matanya lagi.

"Namanya …"

"Apa Jungkook?"

"Aku mempersiapkan namanya .." suara Jungkook melemah.

"A-Angelo .."

"Angelo?"

Taehyung mengerutkan keningnya, dari sekian banyak nama, kenapa Jungkook memilih nama Angelo? Nama Angelo sendiri berasal dari bahasa Itali yang berarti Malaikat. Jungkook tersenyum lemah,

"Dia… putera… dari seorang … malaikat"

Aku iblis yang jahat! Bukan malaikat! Batin Taehyung berteriak keras membantah. Setelah semua yang dia lakukan kepada Jungkook, pria itu masih menganggapnya sebagai malaikat?

"Men… cin .."

"Apa Sayang?"

Taehyung berusaha mendekatkan telinganya ke bibir Jungkook karena suara Jungkook semakin lemah.

"Mencintaimu .. Taehyung."

Lalu Jungkook kembali tak sadar, meninggalkan Taehyung kembali dalam tidur lelapnya. Air mata mengalir lagi di mata Taehyung, mata seorang iblis yang telah disentuh oleh sang malaikat. Jungkook salah, dia bukanlah malaikat. Jungkook adalah malaikatnya. Dan pernyataan cinta Jungkook membuat dada Taehyung terasa sesak. Sesak oleh perasaan meluap-luap yang tak pernah terungkapkan sebelumnya.

.

.

.

Kondisi Jungkook membaik seiring berjalannya hari. Dan tentu saja Angelo diberi susu formula karena situasi Jungkook yang tidak bisa menghasilkan asi.

Jungkook menerima bayi itu di pelukan lengannya degan takjub. Bayinya, puteranya, yang selama ini bertumbuh di perutnya dan dikandung olehnya. Sekarang ada di dunia nyata, dengan rambut tebal cokelatnya dan mata cokelat milik ayahnya, yang sekarang sedang penuh air mata. Ya, Angelo sedang menangis keras-keras sekarang.

"Dia lapar."

suster terkekeh geli dan membantu Jungkook setengah duduk, Jungkook memberikan susu formula, dan Secara otomatis Angelo langsung mencari dan melahap ujung botol susu itu. Lalu menghisapnya dengan begitu rakus.

"Dia sepertinya sangat lapar."

suara itu berasal dari ambang pintu dan Jungkook menoleh. Mendapati Taehyung berdiri di sana. Hari ini jam sembilan pagi, dan Taehyung sepertinya belum pernah pulang dari rumah sakit, lelaki itu tampak lelah.

Taehyung berjalan mendekat dan duduk di tepi ranjang, matanya tak lepas dari puteranya yang menyusu. Puteranya sedang menyusu dipelukan isterinya. Sungguh pemandangan yang luar biasa indahnya.

"Kau tampak lelah"

Jungkook menatap Taehyung lembut. Lelaki itu mengalihkan pandangan dari puteranya ke mata Jungkook, menatap Jungkook dengan mata beningnya yang berwarna cokelat.

"Aku belum pulang, Yoongi membawakanku baju ganti dan aku mandi di sini, di lantai atas aku punya kamar sendiri"

Jungkook baru sadar bahwa ini rumah sakit yang sama tempatnya dirawat setelah kecelakaan dan kemudian diculik oleh psikopat kejam itu. Ini adalah rumah sakit milik Taehyung.

"Yah ini rumah sakit yang sama." Taehyung tersenyum meminta maaf.

"Tetapi kali ini tidak ada lagi penjagaan di depan, aku sibuk mengurusmu sampai aku tidak sempat mencari musuh"

Jungkook tersenyum mendengarnya. Tepat ketika Angelo melepaskan ujung botol susunya dan tertidur lelap dengan pipi montoknya masih menempel didada ibunya.

Diperbaikinya posisi tidur Angelo sehingga nyaman, dan Taehyung mengikuti semua itu dengan pandangannya.

"Kau mungkin bisa pulang dan beristirahat Taehyung"

Taehyung mengangkat bahu,

"Aku akan pulang untuk beberapa urusan, mungkin beberapa jam, lalu aku akan kembali."

dengan canggung Taehyung berdiri, sejenak hanya menatap lama, lalu mengangguk dan melangkah pergi. Seorang suster masuk dan berpapasan dengan Taehyung di pintu, dia bertugas mengambil Angel dan membawanya ke kamar bayi.

"Sungguh Anda isteri yang beruntung memiliki suami sebaik itu."

suster itu tersenyum menatap punggung Taehyung yang hilang di balik pintu.

"Dan seorang Kim Taehyung pula, Anda sungguh beruntung dicintai seperti itu"

Jungkook mengernyit, menyerahkan Angelo untuk digendong sang suster dengan hati-hati.

"Beruntung?" Apakah maksud suster itu dia beruntung karena memiliki suami seperti Kim Taehyung?

"Oh Anda tidak tahu ya?" suster itu meletakkan Angelo dengan lembut di kereta kaca khusus bayi yang dibawanya.

"Tuan Taehyung sangat setia menunggui ketika Anda tak sadarkan diri hampir 2 hari lamanya. Dia selalu ada di sana tak pernah meninggalkan Anda. Kondisi Anda saat itu masih belum pasti, kadang Anda tersadar dan menceracau. Lalu tak sadarkan diri lagi, kadang kondisi Anda sangat drop sehingga kami harus menangani Anda secara intensif, dan tuan Taehyung menuntut untuk ada di sini, setiap detiknya mendampingi Anda. Ketika kondisi Anda stabil, dia ada di sebelah ranjang Anda, mengajak Anda berbicara dan menggenggam tangan Anda. sepertinya semua penantiannya tidak sia-sia karena akhirnya Anda bangun dan membaik."

suster itu tersenyum memuji,

"Sungguh suatu anugerah yang tak terkira, bisa memiliki suami sebaik itu"

Lalu dengan mendorong kereta bayi suster itu pergi meninggalkan Jungkook yang masih termenung di atas ranjang. Benarkah Taehyung, Taehyungnya yang sombong, arogan, dan pemarah itu melakukan semua yang dikatakan oleh suster itu? Benarkah Taehyung mencemaskannya sampai sedemikian? Rasanya tidak bisa dipercaya.

.

.

.

Jungkook sudah boleh pulang bersama Angelo, dan Taehyung menjemputnya tepat waktu. Lelaki itu tidak berubah, tetap begitu dingin hingga Jungkook berpikir jangan-jangan yang dikatakan suster waktu itu hanyalah kebohongan atau khayalan semata. Taehyung duduk di sebelah Jungkook dalam mobil itu diam dan menatap ke jendela, tampak menjaga jarak.

"Kau.. eh, sudah baikan." Akhirnya Taehyung memecah keheningan, menatap ringan pada Angel yang tertidur di pelukan Jungkook, dan tatapannya melembut,

"Dia sepertinya sangat sehat"

"Dia minum dengan sangat rakus"

Jungkook tersenyum dan mengecup dahi Angelo dengan sayang. Semula Jungkook merasa sedikit takut atas reaksi Taehyung kepada Angelo. Lelaki itu membenci Angelo dengan alasannya ketika dia di dalam kandungan Jungkook, apakah lelaki itu akan membenci Angelo ketika dia sudah lahir ke dunia ini?

Sepertinya Taehyung menyayangi Angelo, meski tidak ditunjukkannya dengan kata-kata. Jungkook sering menangkap tatapan penuh kelembutan yang dilemparkan Taehyung kepada Angelo. Oh ya, Jungkook mengerti, seorang Taehyung mungkin tidak bisa lepas dalam menunjukkan kasih sayangnya kepada anak kecil, tetapi Angelo telah mencuri hati Taehyung dan Jungkook mensyukuri itu.

Mereka sampai di rumah, dan dengan takjub Jungkook menyadari bahwa kamar bayi sudah disiapkan. Kamar itu terletak di kamar kecil yang memiliki pintu penghubung dengan kamar mereka sehingga Jungkook bisa dengan mudah mendatangi Angelo ketika putera mereka membutuhkannya.

Dengan lembut, Jungkook meletakkan Angelo yang tertidur pulas di boks bayi barunya. Bayi itu sangat pandai, tidak rewel, dan mudah menyesuaikan diri dengan perubahan suasana di tempat barunya. Taehyung berdiri di ambang pintu penghubung dan mengamati Jungkook, kemudian membalikkan badannya hendak pergi.

"Taehyung."

Lelaki itu langsung menghentikan langkahnya dan menatap Jungkook.

"Ada apa?"

"Apakah .. apakah setelah sekarang kita mempunyai putera, kau masih menganggapku sebagai pengganti Seokjin?"

Jungkook harus bertanya, dia tak tahan lagi memendamnya. Sekarang mereka sudah mempunyai seorang putera dan Jungkook tidak mampu hidup dalam ketidakpastian semacam ini. Anaknya harus tumbuh di keluarga yang saling mencintai, dan ketika Taehyung tidak bisa memberikannya. Maka Jungkook akan pergi.

"Apa?"

ada nyala di mata Taehyung dan itu seharusnya sudah bisa menjadi tanda peringatan buat Jungkook, tetapi dia tidak mau mundur, dan dia tidak bisa.

"Kau selama ini selalu menganggapku sebagai pengganti Seokjin. Sekarang kita mempunyai Angelo, aku hanya ingin menunjukkan sikapku. Aku tak mau menjadi pengganti seseorang, jadi mungkin aku akan pergi bersama Angelo"

Wajah Taehyung mengeras.

"Kau pikir apa yang sedang kau katakan?"

"Aku sudah mempelajari surat perjanjian itu, dalam surat itu dikatakan bahwa aku harus menikahimu di usiaku yang ke dua puluh tahun, tidak dituliskan klausul apabila kita berpisah … saat ini aku ingin berpisah"

Kau bilang waktu itu kau mencintaiku! Taehyung ingin meneriakkan kata-kata itu di depan Jungkook, dia begitu marah hingga jemarinya mengepal.

"Berani-beraninya kau mengajukan perpisahan kepadaku? Tidak pernah ada seorangpun yang bisa meninggalkan Kim Taehyung!"

.

.

.

-To be Continued-

Gagal jadi last chapter :v

Sebenarnya nama anak jk sama tae itu Angel, tapi karena menurut kuki nama itu lebih sreg dipanggil kalau cewe, jadi kuki mutusin buat jadi Angelo wkwk

Ini cerita Stright kan?

*That's Right, ini novel straight. dan kuki puter otak banget discene NC dan chapter ini. Kuki mikir berat gimana caranya agar ff ini gak terkesan kaku akibat kelamin yang bertolak belakang :'v jadi kalau ada yang sudah pernah membaca original storynya, gausah kaget kalau ada beberapa kalimat yang kuki tambah maupun kuranin hehe x'D

Mind to Riview?^^ See you again ❤

p.s: ff Partner up malam ini^^

-Kuki