STUPID

Author

Macchi~

Rate

T

Cast

Seventeen member

Pairing

Jeongcheol/Soonhoon

Warning(s)

BL

Summary

"Aku rela dikenang sebagai pria brengsek agar kau cepat melupakanku." -Choi Seungcheol-

"Aku membencimu, Choi Seungcheol." -Yoon Jeonghan-


Chapter 2

Sudah 4 jam yang lalu Seungcheol mengirim pesan pada Jihoon dan sampai sekarang belum juga dibalas olehnya. Seungcheol mulai sedikit gelisah, kalau dari langkah awalnya saja ia sudah di tolak oleh Jihoon, sudah pasti ia akan kalah taruhan dari Wonwoo dan Jun.

Seungcheol duduk di sofa ruang tengah dengan melipat kedua kakinya dan dinaikkan ke sofa. Ia menatap ponselnya yang dia letakkan diatas meja di depan sofa, menunggu ponsel itu berdering.

Lama menunggu, akhirnya karena balasannya tidak kunjung datang, Seungcheol pun menyerah. Harusnya ia tahu mendekati orang yang baru pertama kali ia lihat memang cukup sulit. Sekarang ia harus menyiapkan 500 ribu won untuk diberikan pada dua teman liciknya itu.

Baru saja Seungcheol hendak bangkit dari sofa tiba-tiba ia mendengar suara ponselnya berdering. Seungcheol segera meraih ponselnya dari atas meja dan melihat. Sebuah pesan baru. Buru-buru Seungcheol membuka pesan tersebut.

From : Lee Jihoon

Baiklah, kabari saja dimana dan kapan.

Senyum lebar muncul di wajah Seungcheol seperti musim semi. Rencana pertamanya berhasil.

Dengan senang ia membalas pesan Jihoon.

To : Lee Jihoon

Besok di kafe depan kampus.

Jam 12 siang. Kau bisa?

Selang beberapa menit setelah Seungcheol mengirim pesan tersebut, balasan dari Jihoon pun datang,

From : Lee Jihoon

Baiklah. Besok jam 12 di kafe depan kampus.

Seungcheol mengepalkan kedua tangannya lalu mengangkatnya tinggi-tinggi. Rencana pertamanya berhasil tanpa celah. Sekarang ia hanya tinggal menjalankan sisanya. Dan soal pemuda yang ia lihat bersama Jihoon tadi sore bisa ia tanyakan besok. Atau ia bisa cari tahu sendiri mengingat ia suka memberi kejutan pada seseorang. Permainan ini sudah sangat seru padahal baru permulaan untuk Seungcheol.

.

.

Jeonghan dalam perjalanan menuju apartementnya setelah ia mengantar Jihoon pulang. Sepanjang perjalanan Jeonghan tidak bisa berhenti memikirkan Choi Seungcheol brengsek yang sekarang sedang mendekati Jihoon. Bukan karena Jeonghan cemburu, tapi ia tidak tega jika Jihoon sampai mengalami hal yang sama dengannya. Walaupun kejadian itu sudah terjadi 3 tahun lalu, tapi lukanya masih membekas sampai sekarang. Dan yang lebih lucunya si brengsek itu muncul lagi setelah menghilang dari hidup Jeonghan.

"Lakukan saja rencana busukmu Choi Seungcheol agar aku punya alasan untuk membunuhmu kali ini." gumam Jeonghan sambil menambah kecepatan laju mobilnya.

Jeonghan sampai di apartementnya 10 menit lebih cepat dari biasanya. Mungkin karena ia mengendarai mobilnya seperti orang kerasukan. Setelah memasukkan nomor password kunci pintu apartementnya, Jeonghan masuk kedalam, melepas sepatunya asal, melempar tasnya ke sembarang tempat lalu ia sendiri menjatuhkan diri diatas sofa ruang tengah. Matanya menghadap langit-langit dan wajahnya muram. Ia berpikir kenapa Seungcheol harus datang lagi? Kenapa harus Seungcheol?

Kemudian Jeonghan bangkit dari sofa, memungut tasnya yang jatuh di depan pintu kamar mandi dan menyeretnya masuk kedalam kamar. Jeonghan meletakkan tasnya di samping meja sementara ia sendiri duduk di kursi. Tangan kanannya membuka laci meja dan mengambil sebuah kotak kayu yang agak usang dan berdebu. Sambil menghela nafas, Jeonghan membuka kotak kayu itu dan mengeluarkan isinya.

Isinya memang tidak spesial. Hanya kumpulan kertas dan foto-foto SMAnya. Tapi yang menarik di sebagian besar foto-foto tersebut, Jeonghan tidak sendirian. Seorang pemuda menemaninya di sebagian besar foto. Pemuda yang menarik hati Jeonghan dengan senyum manisnya dan tingkah konyolnya. Pemuda yang rela melakukan apa saja demi melihat Jeonghan tersenyum. Tapi itu sebelum pemuda tersebut dengan tega mencampakkan Jeonghan.

[FLASHBACK]

Jeonghan duduk tenang di pinggir lapangan sepak bola sekolahnya sambil menutup mata. Di kedua telinganya terpasang sepasang earphone. Angin musim semi sesekali bertiup menerpa wajah Jeonghan dan meniup rambut cokelat panjangnya yang diikat rapi.

Tiba-tiba Jeonghan membuka matanya ketika ia sadar satu earphonenya tercabut dari telinga kanannya. Jeonghan menoleh dan mendapati seorang pemuda memakaikan earphone milik Jeonghan ke sebelah telinganya.

Jeonghan tahu siapa pemuda itu. Choi Seungcheol. Anggota tim futsal, ketua kelas 1B, dan anggota klub radio sekolah. Jeonghan tidak bicara apa-apa, ia hanya memandangi wajah Seungcheol dari samping, sampai Seungcheol membuka matanya dan sadar kalau ia diperhatikan.

"Apa ada yang salah?" tanya Seungcheol.

Jeonghan tersenyum, "Tidak." jawab Jeonghan singkat.

"Hai, namaku-"

"Choi Seungcheol."

Seungcheol sedikit terkejut saat Jeonghan menyebutkan namanya. Tentu saja. Siapa yang tidak mengenal Choi Seungcheol? Banyak anak kelas 1 yang menganguminya, bahkan ia juga populer di kalangan senior apalagi di tim futsal. Jadi wajar jika Jeonghan mengetahui namanya.

"Kau kenal aku?" tanya Seungcheol.

"Tentu saja, siapa yang tidak mengenalmu." jawab Jeonghan.

Seungcheol tertawa lepas ketika mendengar jawaban Jeonghan. Dan Jeonghan bersumpah, jantungnya berdetak tak karuan ketika melihat tawa Seungcheol. Tiba-tiba Seungcheol berhenti tertawa dan menatap Jeonghan sambil tersenyum manis. Jeonghan yang salah tingkah langsung membuang muka, menghindari tatapan Seungcheol.

"Hei, wajahmu merah." goda Seungcheol sambil terkekeh.

Jeonghan memegangi kedua pipinya sambil tertunduk. Kemudian Seungcheol melepaskan earphone Jeonghan dari telinganya dan mengembalikannya ke tempat semula, ke telinga Jeonghan. Jeonghan bersumpah kalau ia bisa mati mendadak karena jantungnya berdetak terlalu cepat.

"Lagu yang bagus, Yoon Jeonghan." kata Seungcheol seraya berdiri.

Jeonghan mengangkat kepalanya dan menatap Seungcheol yang sekarang berdiri di hadapannya. Walaupun gelap karena Seungcheol membelakangi matahari, tapi samar-samar Jeonghan bisa melihat kalau Seungcheol tengah tersenyum padanya.

"Sampai bertemu lain kali." kata Seungcheol. "Dan hei, aku suka wangi rambutmu."

Kemudian Seungcheol berlari menuju lapangan sepak bola menghampiri teman-temannya yang sudah berkumpul. Sementara Jeonghan, ia hanya duduk termangu bingung kenapa tiba-tiba saja jantungnya bisa berdetak secepat itu. Tapi jujur, Seungcheol sangat manis ketika tertawa. Mungkin karena itu. Dan tepat saat itu, Jeonghan menyukai Choi Seungcheol.

[FLASHBACK END]

Jeonghan memandangi satu per satu fotonya bersama Seungcheol. Antara rindu, marah, frustasi, dan menyesal semuanya tertanam dalam diri Jeonghan. Ia merindukan saat Seungcheol bahagia bersamanya, ia marah karena Seungcheol secara terang-terangan mencampakkannya demi seseorang, ia frustasi karena ada sesuatu diantara dirinya dan Seungcheol yang belum terselesaikan, dan ia menyesal. Ia menyesal kenapa ia harus jatuh pada Seungcheol.

Tiba-tiba ponsel Jeonghan yang berada di dalam tas berdering keras. Jeonghan yang sudah sadar dari lamunannya segera mengambil ponselnya dari dalam tas dan melihat layarnya, kemudian ia menekan tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinga kanannya.

"Ya Soonyoung-ah, ada apa?" tanya Jeonghan.

"..."

"Aku tahu."

"..."

"Bertemu? Kau kira aku sudi bertemu dengannya?"

"..."

"Kau lihat dia dimana?"

"..."

"Biarkan saja. Toh dia akan mati saat waktunya tiba."

.

.

Soonyoung menghentikan mobilnya di depan sebuah klub di kawasan Hongdae, lebih tepatnya klub langganannya.

Soonyoung yang sudah mengenal hampir sebagian besar pekerja disini, melemparkan kunci mobilnya pada salah satu petugas parkir yang sudah biasa memarkirkan mobil Soonyoung di basement. Setelah itu ia berjalan masuk ke dalam klub seperti biasa.

Soonyoung duduk di bar lalu mengangkat tangannya memanggil bartender. Tak lama seorang bartender yang sudah sangat Soonyoung kenal menghampirinya.

"Sudah lama tidak kemari, hyung." sapa bartender itu.

"Kau tahu aku, Mingyu-ya." kata Soonyoung. "Akhir-akhir ini aku sibuk."

Bartender bernama Mingyu itu menuangkan blue martini ke dalam salah satu gelas koktil dan menyajikannya kepada Soonyoung. Soonyoung tersenyum sambil mengangkat gelas koktil itu, menandakan kalau ia berterima kasih.

Kemudian Soonyoung memutar kursi bar yang ia duduki dan memunggungi Mingyu. Ia menatap sekeliling klub, mencari hal-hal menarik yang bisa ia temui. Tapi pandangannya terkunci seketika ketika ia melihat sosok yang tidak asing untuknya. Seorang pemuda tinggi dengan rambut hitam berantakan, di kedua telinganya terdapat tindikan. Soonyoung tahu pemuda itu. Sangat tahu. Dialah sebab dari menghilangnya Yoon Jeonghan 3 tahun lalu. Ya. Choi Seungcheol.

Soonyoung pergi ke ruang belakang klub yang tidak terlalu berisik dan ramai. Kemudian ia mengeluarkan ponselnya dari dalam sakunya lalu menghubungi Jeonghan. Mau tidak mau, suka tidak suka, siap tidak siap Jeonghan harus tahu kalau pria brengsek yang merusak hidupnya muncul lagi.

"..."

"Hyung, kau masih ingat Choi Seungcheol? Dia kembali."

"..."

"Hyung sudah bertemu dengannya?"

"..."

"Aku melihatnya hari ini"

"..."

"Di klub di Hongdae."

"..."

Kemudian telepon di putus sepihak oleh Jeonghan, meninggalkan Soonyoung yang tidak mengerti ucapan terakhir Jeonghan.

Biarkan saja. Toh dia akan mati saat waktunya tiba

Apakah Jeonghan berniat mendatangi Seungcheol dan membunuhnya atas dendam masa lalu yang masih diingat Jeonghan?

Soonyoung menggelengkan kepala. Jeonghan tidak akan bertindak serendah itu. Tapi dibalik kata-kata itu, pasti ada sesuatu yang Soonyoung tidak tahu. Dan ia harus tahu. Entah bertanya langsung pada Jeonghan, atau ia mencari tahunya sendiri. Jujur, Soonyoung penasaran.

Soonyoung kembali ke meja bar dan duduk di tempatnya semula, tapi gelas koktil berisikan blue martini miliknya yang belum ia minum sudah hilang.

"Mingyu-ya!" Soonyoung berseru memanggil bartender favoritnya itu.

Mingyu yang tengah melayani seorang pelangga menoleh kearah Soonyoung, lalu memberikan isyarat 'tunggu sebentar' pada Soonyoung.

Soonyoung menunggu Mingyu dengan tidak sabar. Jarinya ia ketuk cepat diatas meja bar. Tak lama, Mingyu datang dan menatap Soonyoung bingung.

"Ada apa?" tanya Mingyu.

"Blue martini ku kemana?" tanya Soonyoung.

Mingyu mengernyitkan dahi lalu menggeleng, "Kukira hyung membawanya tadi."

"Hei, aku tidak membawa minuman kesana." kata Soonyoung.

Tiba-tiba sebuah tangan muncul dari belakang Soonyoung. Tangan itu meletakkan sebuah gelas koktil kosong ke hadapan Soonyoung. Soonyoung yang bingung segera membalikkan tubuhnya dan mendapati sosok Seungcheol berada di hadapannya.

"Jadi blue martini itu punyamu?"

.

.

Jeonghan bersumpah akan mengutuk Soonyoung setelah bertemu nanti. Sekarang jam 2 pagi dan Soonyoung menyuruh Jeonghan untuk menjemputnya di klub. Oke, memang bukan Soonyoung yang meneleponnya, melainkan Mingyu, bartender klub yang ia juga kenal, tapi secara tidak langsung Soonyoung lah yang meminta Jeonghan menjemputnya.

[FLASHBACK]

Jeonghan tengah tidur pulas ketika ia mendengar ponselnya berdering keras dari atas meja. Jeonghan dengan malas bangun dari tempat tidurnya dan mengambil ponselnya.

"Ya ampun Soonyoung, apa yang dia inginkan jam setengah 2 pagi begini?" gumam Jeonghan.

Tapi kemudian Jeonghan menerima panggilan itu juga walaupun ia malas,

"Halo, Soonyoung-ah."

"Maaf hyung, tapi ini Mingyu."

"Oh Mingyu-ya, ada apa?"

"Bisa datang ke klub dan jemput Soonyoung hyung? Dia mabuk dan tertidur disini."

Jeonghan mendengus keras begitu mendengar penjelasan Mingyu.

"Seberapa parah mabuknya?"

"Soonyoung hyung minum satu botol martini setelah bicara dengan seseorang. Kurasa Soonyoung hyung sedang emosi tadi."

Jeonghan bersumpah akan memukulinya begitu ia sampai di klub.

"Tolong jaga dia, aku akan kesana."

[FLASHBACK END]

Jeonghan melihat Soonyoung yang tertidur di meja bar. Keadaannya tidak terlalu mengenaskan, jadi Jeonghan pikir ia hanya mabuk biasa saja. Tapi satu botol martini sendirian, hei orang bisa saja mati kalau tidak tahan. Sekarang yang ada di pikiran Jeonghan adalah apa Soonyoung benar-benar tidur? Ia benar-benar tidak mati setelah minum sebotol martini? Yang seperti ini mau menjadi kekasih Jihoon. Apa yang akan terjadi pada Jihoon kalau mereka bersama?

"Jeonghan hyung, maaf meneleponmu di tengah malam begini." kata Mingyu dengan wajah merasa bersalah.

Jeonghan mengangguk mengerti. Kemudian ia meminta Mingyu membantunya memapah Soonyoung sampai ke mobilnya.

Setelah Soonyoung di masukkan asal ke dalam mobil Jeonghan, Jeonghan dan Mingyu kembali ke dalam klub, meninggalkan Soonyoung disana dengan kaca mobil yang Jeonghan turunkan setengah.

Jeonghan duduk di meja bar. Mingyu yang juga sudah tahu pesanan Jeonghan segera mengambil sebotol grey goose, vodka favorit Jeonghan. Kemudian Mingyu menuangkan vodka itu kedalam salah satu sloki dan memberikannya pada Jeonghan.

"Hyung jangan ikut mabuk, nanti kalian berdua tidak bisa pulang." kata Mingyu.

Jeonghan terkekeh, "Aku tidak mau dan tidak sedang ingin mabuk." jawab Jeonghan.

Mingyu yang tadinya tersenyum kemudian berubah serius. Ia mendekatkan wajahnya kearah Jeonghan seakan ingin memberitahu sesuatu yang rahasia.

"Hyung, apa Soonyoung hyung punya musuh?" tanya Mingyu.

"Kenapa?" tanya Jeonghan.

"Tadi sebelum Soonyoung hyung mabuk separah itu, dia sempat bicara empat mata dengan seseorang selama 10 menit, dan sekembalinya dari pembicaraan itu, Soonyoung hyung tampak marah dan memintaku memberikannya martini hingga habis satu botol." jelas Mingyu.

Jeonghan mengerutkan dahi. Setahunya Soonyoung tidak memiliki musuh, mengingat dia orang yang mudah bergaul. Walaupun menyebalkan karena cerewet, tapi tidak ada yang sampai membuatnya seemosi itu.

"Kau kenal dia, Gyu?" tanya Jeonghan.

Mingyu menggeleng, "Tapi aku samar-samar mendengar Soonyoung hyung meneriaki nama orang itu dan juga namamu, hyung."

Jeonghan memiringkan kepalanya bingung. Kenapa ada namanya di pembicaraan itu? Apa Jeonghan kenal dengan orang yang bicara dengan Soonyoung?

"Kau ingat siapa namanya? Kalau mereka menyebutkan namaku, kemungkinan aku mengenalnya." kata Jeonghan.

"Ya...ya, aku ingat. Kalau tidak salah Choi Seungcheol."

Kilat marah lagi-lagi muncul di mata Jeonghan begitu Mingyu menyebut nama itu. Sekarang si brengsek itu mengajak Soonyoung bicara. Jeonghan ingin tahu apa yang dikatakan si brengsek itu pada Soonyoung sampai-sampai Soonyoung harus mabuk berat.

Tanpa sadar Jeonghan sudah mengepalkan tangan kirinya. Tangan kanannya memegang erat sloki berisi vodka yang baru ia minum sedikit. Tampaknya si brengsek itu benar-benar minta dibunuh.

"Lihat saja kau Choi Seungcheol..." gumam Jeonghan.

~TBC~

.

.

.

aku mau ucapin terima kasih yang udah memfavoritkan ff ini, jujur aku terharu :") dan yang sudah review terima kasih banyak! Aku menghabiskan waktu nyaris 3 minggu buat menyelesaikan ff ini :) semoga kalian suka

Dan buat yang punya saran dan kritik silahkan tinggalkan di review. Aku gak marah kok kalau di kritik :))