STUPID

Author

Macchi~

Rate

T

Cast

Seventeen members

Pairing

Jeongcheol/Soonhoon

Warning(s)

BL

Summary

"Aku rela dikenang sebagai pria brengsek agar kau cepat melupakanku." -Choi Seungcheol-

"Aku membencimu, Choi Seungcheol." -Yoon Jeonghan-


Chapter 3

Soonyoung terbangun karena silau akan sinar matahari yang langsung terkena wajahnya. Ia mencoba mendudukkan dirinya tapi tidak bisa. Kepalanya pening dan rasanya mau pecah. Ia mencoba mengumpulkan kesadarannya sementara otaknya yang lain mencoba mempertajam pengelihatannya.

Ini bukan kamarnya.

"Sudah bangun ternyata." terdengar suara dari arah pintu.

Soonyoung berbalik kearah pintu dan menemukan Jeonghan memicingkan mata kearahnya. Kemudian dengan tangan dilipat di dada, Jeonghan menghampirinya dengan kesadaran yang belum pulih.

"Kau di apartementku." kata Jeonghan singkat dan jelas. "Kau mabuk semalam."

Soonyoung mencoba mengingat apa yang terjadi padanya di klub sampai-sampai Jeonghan harus membawanya kesini.

"Jangan memikirkan apa-apa dulu." kata Jeonghan. "Aku sedang siapkan sarapan, jika butuh apa-apa aku ada di dapur."

Kemudian Jeonghan keluar dari kamar meninggalkan Soonyoung yang masih berusaha mengumpulkan kesadarannya.

Jeonghan kembali dari kamar setelah bicara sebentar dengan Soonyoung. Jihoon yang memang biasa datang ke apartement Jeonghan tiap akhir pekan duduk di salah satu kursi dan menatap punggung Jeonghan yang sibuk di dapur.

Sesekali mata Jihoon menatap pintu kamar Jeonghan yang terbuka sedikit lalu kembali melihat punggung Jeonghan.

"Bagaimana dia?" tanya Jihoon.

"Siapa? Soonyoung?" Jeonghan membalikkan badan dan menatap Jihoon.

"Kata hyung dia mabuk parah semalam."

Jeonghan menghela nafas, "Cukup parah hingga membuatku terpaksa tidur di sofa semalam."

Jihoon menatap isi cangkir tehnya lalu kembali menatap Jeonghan. Jihoon bingung harus cerita soal ia mau menemui Seungcheol hari ini atau tidak. Karena kemarin Jihoon membalas pesan Seungcheol dirumah, tanpa diketahui Jeonghan. Jihoon bingung apakah keputusannya menemui Seungcheol benar atau salah.

"Hei!" seru Jeonghan sambil mengibaskan tangan di depan wajah Jihoon.

Jihoon yang tadinya melamun segera sadar oleh seruan Jeonghan.

"Ada yang mau kau katakan?" tanya Jeonghan seraya duduk di samping Jihoon.

Jihoon tidak suka berbohong pada Jeonghan, tapi Jihoon juga terlalu takut untuk bicara karena wajah Jeonghan akan berubah drastis.

"Lebih baik tidak kuceritakan." kata Jihoon dalam hati.

Jihoon menggeleng sambil tersenyum kecil.

"Oh!" sebuah seruan dari arah belakang Jeonghan membuat perhatian Jihoon pada Jeonghan teralih.

Jihoon memiringkan kepalanya untuk melihat, sementara Jeonghan membalikkan badannya. Mereka melihat sosok Soonyoung dengan rambut cokelat mudanya yang berantakan berdiri tak jauh dari tempat mereka duduk. Jeonghan dan Jihoon menatap Soonyoung, tetapi mata Soonyoung hanya menatap Jihoon. Ekspresi terkejut dan panik tergambar di wajah Soonyoung.

"Ke...ke...kenapa a...ada Ji...Ji...Jihoon?" Soonyoung benar-benar terkejut dan panik.

Soonyoung lalu mengalihkan pandangannya kepada Jeonghan, meminta penjelasannya sekarang. Jeonghan sendiri hanya mengangkat kedua bahunya sambil tersenyum kearah Soonyoung.

.

.

Wonwoo dan Jun menatap Seungcheol yang sudah rapi. Pemuda bersurai hitam itu sekarang tengah bercermin sambil menyisir rambutnya.

"Baiklah, sebenarnya hyung mau kemana?" tanya Jun akhirnya.

Seungcheol memang tidak cerita kalau ia ada janji temu dengan Jihoon hari ini. Seungcheol tidak mau kejutannya berantakan, jadi ia tidak menceritakan apa-apa pada Wonwoo dan Jun.

Seungcheol meletakkan sisirnya lalu membalikkan badan menatap Wonwoo dan Jun yang menginap di apartementnya. Mereka menatap Seungcheol penuh selidik seakan mencari tahu apa yang akan dilakukan Seungcheol hari ini.

"Aku tidak akan cerita." jawan Seungcheol. "Ini kejutan. Untuk kalian."

Wonwoo memicingkan matanya menatap Seungcheol tajam. Tapi Seungcheol seakan tidak peduli. Ia kemudian mengambil kunci motornya dari atas nakas beserta ponselnya, kemudian ia pergi keluar dari kamar meninggalkan Wonwoo dan Jun disana.

"Hei aku tidak tahu kapan akan pulang." kata Seungcheol. "Kuharap kalian tidak menghancurkan tempat ini begitu aku pulang." sambungnya seraya tertawa.

Wonwoo dan Jun tidak menjawab, mereka hanya melihat punggung Seungcheol yang menghilang di balik pintu apartement.

.

.

Setelah mandi dan berdandan lebih manusiawi, Soonyoung bergabung dengan Jeonghan dan Jihoon di ruang tengah. Mereka tengah nonton film sambil asyik menyantap popcorn buatan Jeonghan.

Ketika Soonyoung muncul, perhatian mereka berdua teralih kepada Soonyoung. Memang agak aneh melihat Soonyoung dengan rambut basah, dan memakai baju Jeonghan yang notabenenya agak kekecilan untuk tubuh Soonyoung mengingat Soonyoung lebih tinggi sedikit dari Jeonghan.

"Kemari." kata Jeonghan sambil menepuk bagian sofa yang kosong di sampingnya.

Soonyoung mengangguk lalu duduk di samping Jeonghan. Jeonghan baru pertama kali melihat Soonyoung kaku seperti ini. Biasanya jika Soonyoung sedang main di apartementnya, Soonyoung jadi anak yang tidak tahu diri. Membuka kulkas Jeonghan seenaknya, memakai kamar mandi Jeonghan seenaknya, bahkan kadang mereka bisa tidur berdua di kamar Jeonghan.

Tapi mengingat hari ini ada Jihoon datang, Soonyoung tidak bisa menjadi dirinya yang biasa. Antara dia tidak mau Jihoon tahu atau ia yang tidak bisa.

"Mau?" tiba-tiba Jihoon bersuara, menyodorkan semangkuk besar popcorn pada Soonyoung yang ada di samping Jeonghan.

Soonyoung menatap mangkuk itu beberapa saat sampai akhirnya mengambil poppcorn itu dengan tangannya.

"Terima kasih." kata Soonyoung pelan.

Jeonghan yang ada diantara mereka hanya tersenyum menahan tawa. Ingin rasanya ia pergi dari sana, tapi ia tahu ia akan ditahan juga oleh Soonyoung. Dan perhatian ketiganya kembali ke film yang di putar Jeonghan di televisinya.

Jam menunjuk pukul 11:30, Jihoon yang tadinya asyik mengunyah popcorn tiba-tiba meletakkan mangkuk popcorn yang dipegangnya ke atas meja. Jeonghan sontak menatap Jihoon.

"Ada apa?" tanya Jeonghan.

"Maaf hyung, aku ada janji dengan seseorang sekarang." jawab Jihoon. "Aku harus pergi."

Jeonghan menatap Jihoon dengan tatapan bingung, tapi kemudian ia mengangguk memperbolehkan Jihoon pergi.

Jihoon pun segera mengambil jaketnya yang ia letakkan di kursi dapur, mengambil ponselnya dari atas meja lalu pamit pergi.

"Siapa yang mau dia temui?" tiba-tiba Soonyoung membuka suara ketika Jihoon keluar dari apartement Jeonghan.

"Kenapa tadi kau tidak bertanya?" Jeonghan menatap Soonyoung.

"Hyung tidak penasaran?"

Jeonghan terkekeh. Ia memang menganggap Jihoon adiknya, tapi kalau itu urusan pribadi, Jeonghan tidak pernah ikut campur. Jika Jihoon ingin bercerita maka akan Jeonghan dengarkan, tapi jika tidak maka Jeonghan tidak punya hak untuk memaksanya bicara.

"Tidak." jawab Jeonghan kemudian, disambut wajah cemberut Soonyoung.

Tiba-tiba Jeonghan teringat peristiwa semalam saat Mingyu cerita apa yang membuat orang yang duduk disebelah ini mabuk berat.

Jeonghan pun meraih remote televisinya dari atas meja lalu mematikan televisinya, membuat Soonyoung menatap protes kearahnya.

"Soonyoung-ah." suara Jeonghan tiba-tiba menjadi serius, membuat Soonyoung mengerutkan dahi.

"Apa?" tanya Soonyoung.

"Kau ingat apa yang terjadi denganmu semalam?" tanya Jeonghan tetap dengan nada suara yang serius.

Soonyoung mengerutkan dahi tanda sedang mencoba mengingat kejadian semalam. Jujur, ingatannya soal kejadian semalam hanya datang samar-samar, dan ia juga bingung harus menceritakan apa pada Jeonghan.

"Cobalah ingat-ingat Soonyoung-ah." pinta Jeonghan.

Lama mereka diam. Jeonghan berusaha tidak memaksa Soonyoung karena takut semakin ia paksa, maka akan semakin lama ingatan Soonyoung soal kejadian semalam datang. Jadi Jeonghan hanya duduk disana menatap Soonyoung penuh harap, berharap Soonyoung mengingat kejadian di klub semalam.

Sekitar setengah jam terjadi keheningan diantara Jeonghan dan Soonyoung, tiba-tiba ekspresi wajah Soonyoung berubah menjadi marah. Terlihat dari kerutan di dahi Soonyoung dan alisnya yang beradu. Jeonghan menarik kesimpulan kalau Soonyoung sudah mengingat apa yang terjadi padanya di klub semalam.

"Ya, aku ingat." kata Soonyoung, suaranya menjadi lebih berat.

"Apa yang kau bicarakan dengan si brengsek itu?" tanya Jeonghan tanpa basa-basi.

"Ka...kau tahu darimana hyung?"

Jeonghan menghela nafas, "Mingyu menceritakannya padaku semalam."

Kemudian Soonyoung merebahkan kepalanya pada sandaran sofa, matanya menatap langit-langit. Ia bingung harus menceritakan dari mana karena ia tidak mau membuat Jeonghan sakit hati lagi. Bagaimanapun juga Soonyoung adalah saksi dimana Jeonghan hancur sehancur-hancurnya, bahkan berkat Soonyoung lah Jeonghan menghilangkan niatnya untuk bunuh diri.

"Tidak apa-apa." kata Jeonghan saat melihat ekspresi wajah Soonyoung. "Kau bisa ceritakan dari awal."

"Tapi hyung-"

"Aku tidak selemah dulu, Soonyoung-ah." Jeonghan meyakinkan Soonyoung.

"Baiklah." kata Soonyoung akhirnya.

[FLASHBACK]

"Jadi blue martini itu punyamu?" sosok Seungcheol sekarang berdiri dihadapan Soonyoung.

"Mau apa lagi kau brengsek?!" seru Soonyoung dengan suara tertahan karena marah.

Mata Soonyoung sudah menampakkan kilat marah saat melihat Seungcheol, tapi orang yang ditatap justru tersenyum sinis kearah Soonyoung. Kemudian ia berdiri disamping Soonyoung yang masih duduk di kursi bar.

"Mau bicara?" tanya Seungcheol menawarkan diri.

"Kurasa kita tidak punya urusan lagi, Choi Seungcheol." jawab Soonyoung.

"Hei, aku memang tidak pernah punya urusan denganmu, Kwon Soonyoung. Tapi kurasa sahabat baikmu punya. Ya, kau tahu kan siapa? Yoon Jeonghan."

Soonyoung yang sudah tidak tahan langsung berdiri dari kursinya, menatap tajam mata Seungcheol sambil menarik baju Seungcheol dengan emosi. Seungcheol sendiri hanya diam tersenyum melihat Soonyoung yang emosi.

"Jangan pernah kau berani menyebut nama Jeonghan hyung dengan mulutmu itu, Choi Seungcheol!" seru Soonyoung dengan marah.

"Baiklah, jika kau tidak punya sesuatu untuk dibicarakan denganku, kupikir aku yang harus bicara." kata Seungcheol sambil berusaha melepas tangan Soonyoung yang menarik bajunya.

Kemudian Soonyoung tidak bicara lagi. Tangannya sudah ia lepas dari baju Seungcheol. Bukan. Bukan karena Soonyoung mau bicara dengan Seungcheol, Soonyoung mau mendengarkan Seungcheol karena si brengsek ini mau bicara soal Jeonghan. Dan apapun yang berhubungan dengan Jeonghan, Soonyoung juga harus tahu. Maka ia pun ikut dengan Seungcheol ke ruangan belakang bar yang jauh lebih sepi untuk bicara empat mata.

"Aku tahu kau marah." kata Seungcheol seraya menyandarkan punggungnya ke dinding.

"Tapi aku punya alasan meninggalkan Jeonghan waktu itu." sambung Seungcheol. Soonyoung masih tidak bicara dan hanya mendengarkan.

"Dan walaupun aku tahu Jeonghan berhak mengetahui alasannya, tapi kurasa tidak perlu. Aku...tidak sepenuhnya salah." Seungcheol mengakhiri dengan suara yang pelan.

Soonyoung yang tidak tahan dengan perkataan Seungcheol langsung menarik kembali baju Seungcheol.

Apa? Tidak sepenuhnya salah katanya?! Brengsek!

"Kau sudah menghancurkan hidup Jeonghan hyung sampai ke tingkat yang paling bawah! Kau membuatnya hilang selama dua minggu dan berakhir dengan mengatakan kalau ia mau bunuh diri! Dan itu semua karena apa? KARENA KAU MENCAMPAKKANNYA CHOI SEUNGCHEOL! KAU MEMBUANGNYA!" Soonyoung meneriaki Seungcheol dengan emosi yang sudah di ubun-ubun.

"Tapi kau harus tahu, Kwon Soonyoung, aku punya alasan." kelak Seungcheol.

"KALAU KAU PUNYA ALASAN, PALING TIDAK CERITAKAN PADA JEONGHAN HYUNG. PALING TIDAK JIKA KAU MEMANG TIDAK MENYUKAINYA LAGI JEONGHAN HYUNG BISA MENGERTI KENAPA KAU MENINGGALKANNYA! BUKAN BERMESRAAN DENGAN ORANG LAIN DAN MEMBIARKAN JEONGHAN HYUNG MELABRAKMU!"

Seungcheol tidak bicara lagi. Pria itu hanya diam mendengar teriakan Soonyoung. Dan Soonyoung sendiri sebenarnya belum puas, tapi mengingat Seungcheol tidak harus mengetahui semuanya, Soonyoung pun berhenti bicara. Ia melepas genggaman tangannya pada baju Seungcheol.

"Kau seharusnya merasakan derita yang sama dengan Jeonghan hyung." kata Soonyoung dengan suara yang jauh lebih tenang tetapi masih ada kemarahan disana.

"Tenang." kata Seungcheol. "Tanpa kau katakan juga aku sudah merasakan derita yang sama dengan Jeonghan. Aku...akan coba untuk tidak kembali pada Jeonghan, karena aku sudah punya orang lain yang kusuka."

Soonyoung menatap Seungcheol marah, tapi Seungcheol tidak peduli. Ia kemudian meninggalkan Soonyoung yang masih berdiri disana dengan tatapan marah. Walaupun lampu ruangan agak redup, tapi Seungcheol bisa melihat samar kalau wajah Soonyoung sudah memerah sampai telinga.

[FLASHBACK END]

Jeonghan terdiam mendengar cerita Soonyoung. Ia tidak menyangka kalau Seungcheol punya alasan meninggalkannya. Tapi sampai sekarang pun ia tidak tahu alasan itu dan tampaknya Seungcheol sendiri tidak berkenan memberitahunya.

"Hyung baik-baik saja?" tanya Soonyoung hati-hati.

Jeonghan tersenyum tipis seraya mengangguk. Jeonghan kemudian kembali memikirkan apa yang diceritakan Soonyoung padanya.

"Aku...akan coba untuk tidak kembali pada Jeonghan, karena aku sudah punya orang lain yang kusuka."

Jeonghan tidak tahu siapa orang yang disukai Seungcheol, tapi mengingat pesan yang dikirimkan Seungcheol pada Jihoon kemarin, Jeonghan memberikan spekulasi kalau Seungcheol sedang berusaha mendekati Jihoon.

"Jangan-jangan dia..." kata Jeonghan dalam hati.

Kemudian ia menatap Soonyoung yang juga masih menatapnya. Jeonghan dilema antara menceritakan ini pada Soonyoung atau tidak. Bertemu muka dengan Seungcheol saja Soonyoung sudah naik darah, apalagi kalau ia tahu Jihoon yang ia sukai sedang didekati oleh Choi Seungcheol, darah anak itu pasti akan mendidih dan tidak mungkin ia melakukan sesuatu yang diluar batas.

Lebih baik Jeonghan tidak menceritakannya. Demi Jihoon dan...Soonyoung sendiri.

.

.

Jihoon sudah duduk di kafe selama 25 menit dan tanda-tanda Seungcheol datang belum ada. Jihoon terus menerus melihat jam di ponselnya lalu beralih melihat keluar kafe.

"Baiklah kalau 10 menit lagi dia tidak datang, aku akan pergi." gumam Jihoon dalam hati.

Kemudian tak lama pintu kafe terbuka, membuat pemuda mungil itu melihat kearah pintu kafe dan melihat sosok yang ditunggunya itu.

"Maaf, apa sudah menunggu lama?" tanya Seungcheol seraya menarik kursi di depan Jihoon dan duduk disana.

"Lumayan." jawan Jihoon sambil tersenyum.

"Kenapa tidak pesan apapun? Pesan saja biar aku traktir." kata Seungcheol.

Jihoon hanya mengangguk. Kemudian Seungcheol memanggil seorang pelayan kafe dan memesan minuman untuk mereka berdua. Jihoon sedikit senang ternyata tidak terlalu buruk bertemu dengan Choi Seungcheol. Tapi peringatan yang dikatakan Jeonghan padanya terus menerus muncul di kepalanya. Sepertinya ia tetap harus hati-hati.

"Jadi, ada apa mau bertemu denganku." Jihoon membuka pembicaraan.

"Aku ingin berterima kasih soal gitar tempo hari." jawab Seungcheol. "Maaf aku meminjamnya lama."

Jihoon terkekeh, "Ya tidak apa-apa. Seperti yang aku bilang, boleh dipinjam asal dikembalikan. Dan kau mengembalikannya."

Seungcheol tersenyum kearah Jihoon. Dan kemudian dari obrolan singkat itu, obrolan mereka menjadi panjang dan lama, ditemani oleh dua cangkir ice americano, obrolan mereka semakin panjang dan banyak hal yang diceritakan. Jihoon sendiri berusaha tidak menceritakan soal Jeonghan karena sepertinya Jeonghan dan Seungcheol kenal satu sama lain. Jihoon memang tidak tahu ada urusan atau masalah apa Jeonghan dengan Seungcheol, tapi Jihoon tidak mau jika ia kelepasan menyebutkan nama Jeonghan, ekspresi wajah Seungcheol akan berubah seperti Jeonghan saat ia menyebutkan nama Seungcheol.

Obrolan mereka harus terinterupsi sebentar saat ponsel Jihoon berdering. Begitu melihat siapa yang meneleponnya, Jihoon izin pada Seungcheol untuk mengangkat telepon, kemudian berdiri dari kursi dan menjauhi meja agar Seungcheol tidak mendengar pembicaraannya.

"Ya, hyung?" kata Jihoon saat menjawab teleponnya.

"Dimana kau sekarang? Aku dan Soonyoung akan makan di kedai sushi, kau mau ikut?" terdengar suara Jeonghan di seberang telepon.

"Sepertinya tidak bisa kalau sekarang. Aku agak sibuk." jawab Jihoon bohong.

"Ah~begitu." kata Jeonghan. "Tapi nanti malam kau harus makan denganku."

"Baiklah aku akan makan malam dengan hyung." kata Jihoon.

"Oke, sampai jumpa nanti malam."

"Sampai jumpa nanti malam Jeonghan hyung."

Kemudian sambungan telepon dimatikan oleh Jihoon. Setelah itu ia kembali ke meja dan duduk di kursinya. Tidak ada yang berubah, yang berubah hanya ekspresi wajah Seungcheol yang tampak terkejut seakan habis melihat hantu di depannya.

"Seungcheol-ssi, ada apa?" tanya Jihoon.

Seungcheol menatap Jihoon dengan mata yang membulat sempurna. Kemudian ia menjawab Jihoon dengan suara yang tertahan,

"Jihoon-ssi, Jeonghan yang meneleponmu tadi, apa dia Yoon Jeonghan?" tanya Seuncheol.

Jihoon terkejut mendengar pertanyaan Seungcheol. Tapi kalau pun ia bohong, baik Seungcheol akan mengetahuinya juga. Jadi daripada berbohong, Jihoon lebih baik mengatakan dengan jujur.

"Ya, dia Yoon Jeonghan." jawab Jihoon hati-hati.

~TBC~

.

.

.

terima kasih ya buat yang ninggalin review di chapter lalu. seneng deh responnya bagus. tapi jujur deh aku sendiri aneh pas baca ff ini(pas lagi edit), kayak ada yang kurang dan gak pas. Tapi yaudah lah ya karena udah jadi mau diapain lagi kan :")

Semoga kalian suka sama chapter ini. Disini aku ngaku banyak typo dan semisal kalian punya saran atau kritik, seperti biasa tinggalkan saja di review. Review kalian aku baca kok :)

Makasih~