STUPID
Author
Macchi~
Rate
T
Cast
Seventeen member
Pairing
Jeongcheol/Soonhoon
Warning(s)
BL
Summary
"Aku rela dikenang sebagai pria brengsek agar kau cepat melupakanku." -Choi Seungcheol-
"Aku membencimu, Choi Seungcheol." -Yoon Jeonghan-
Chapter 4
"Ya, dia Yoon Jeonghan." jawab Jihoon.
Seketika wajah Seungcheol berubah. Seungcheol tiba-tiba menunduk ketika Jihoon menjawab pertanyaannya. Seungcheol tahu, cepat atau lambat ia akan bertemu lagi dengan Jeonghan. Ya. Yoon Jeonghan.
"Seungcheol-ssi baik-baik saja?" suara Jihoon menyadarkannya.
Seungcheol kembali menaikkan kembali kepalanya dan menatap Jihoon. Ia mengangguk sambil tersenyum menjawab pertanyaan Jihoon barusan. Tapi Jihoon melihatnya bukan seperti orang yang senang mendengar nama teman lamanya disebut. Senyum Seungcheol jauh seperti senyum sedih bagi Jihoon.
"Apa kalian saling kenal?" tanya Jihoon lagi.
Seungcheol mendengus, "Entahlah." jawab Seungcheol masih dengan tersenyum.
Kemudian Jihoon memanggil seorang pelayan, ia meminta secarik kertas dan meminjam sebuah pulpen. Lalu Jihoon menuliskan sesuatu diatas kertas itu dan Seungcheol tidak tahu apa.
Tak lama setelah Jihoon selesai, ia mengembalikan pulpen tersebut pada si pelayan sambil berterima kasih.
Dan setelah si pelayan tadi berjalan menjauhi meja Jihoon dan Seungcheol, Jihoon pun mendorong kertas itu ke hadapan Seungcheol. Seungcheol itu membacanya.
Yoon Jeonghan
E Apartement Lt. 11 788
Gangnam-gu, Seoul
010-2357-890
Seungcheol pun menatap Jihoon setelah ia membaca isi kertas itu.
"Itu alamat dan nomor telepon Jeonghan hyung, jika mau bertemu." jawab Jihoon.
Seungcheol bingung harus merespon seperti apa, tapi kemudian Seungcheol pun melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam saku.
Obrolan Seungcheol dan Jihoon yang tertunda itu akhirnya kembali. Mereka kembali bicara setelah terinterupsi beberapa saat.
Dan selama bicara, Jihoon merasa kalau Seungcheol orang yang menyenangkan. Bahkan kadang Seungcheol menceritakan hal lucu yang membuat Jihoon tertawa. Jihoon pikir kalau ia tidak terlalu salah bertemu dengan Seungcheol, walaupun harus berbohong pada Jeonghan.
.
.
"Sebenarnya Jihoon bertemu dengan siapa sih?" gerutu Soonyoung, pegangan tangannya pada sumpit di tangannya mengerat.
Jeonghan sendiri tidak menjawab. Ia sibuk mengunyah sushi yang ada di mulutnya sambil mendengar gerutuan Soonyoung yang tak kunjung selesai.
"Apa hyung tidak penasaran?" tanya Soonyoung.
Jeonghan terkekeh begitu sushi yang ia kunyah sudah ditelan. Walaupun Jihoon sudah ia anggap adiknya sendiri, tapi kalau menyangkut persoalan pribadi, Jeonghan tidak mau suka ikut campur. Kalau Jihoon mau bercerita maka ia akan dengan senang hati mendengarkan, tapi jika Jihoon tidak mau bercerita, maka ia tidak punya hak untuk memaksa Jihoon bicara.
"Tidak." jawab Jeonghan disambung wajah cemberut Soonyoung.
Soonyoung menyumpit sushi kedalam mulutnya dan mengunyahnya kasar, Jeonghan yang melihat Soonyoung hanya terkekeh pelan. Tiba-tiba terlintas di pikiran Jeonghan untuk mengajak Soonyoung makan malam bersama dia dan Jihoon.
"Soonyoung-ah," panggil Jeonghan.
Si pemilik nama hanya menatap Jeonghan sambil tetap mengunyah sushi yang ada di mulutnya.
"Ikutlah makan malam denganku dan Jihoon." kata Jeonghan.
Soonyoung tersedak. Jeonghan langsung menyodorkan gelas minuman Soonyoung dan langsung diterima oleh pemiliknya dan diminum isinya dengan cepat.
"Tidak, terima kasih." jawab Soonyoung ketika ia sudah lebih baik.
"Kenapa?" tanya Jeonghan.
Kemudian Soonyoung menundukkan kepalanya. Matanya menatap sepatunya yang menginjak lantai restoran. Ia menghela nafas pelan sebelum menjawab pertanyaan Jeonghan,
"Aku tidak mau membuat Jihoon tidak nyaman dengan kedatanganku." jawab Soonyoung tanpa menaikkan kepalanya dan menatap Jeonghan.
.
.
Pukul 5 sore obrolan antara Seungcheol dan Jihoon terhenti. Keduanya sudah terlalu banyak bercerita hingga menghabiskan waktu berjam-jam di kafe.
Seungcheol menyusul Jihoon keluar kafe ketika ia selesai membayar.
"Terima kasih traktirannya, Seungcheol-ssi. Lain kali aku yang akan mentraktir." kata Jihoon.
"Jangan terlalu formal denganku." kata Seungcheol. "Panggil saja Seungcheol hyung, aku dan Jeonghan seumuran."
Jihoon tersenyum sambil mengangguk.
"Kalau begitu sampai bertemu lagi." kata Jihoon sebelum ia melangkah pergi.
Tapi langkah Jihoon terhenti ketika ia mendengar Seungcheol memanggilnya lagi. Jihoon menoleh dan melihat Seungcheol berlari kecil mengejarnya.
"Kuantar, ya?" tanya Seungcheol.
"Tidak, terima kasih. Aku bisa naik bis." jawab Jihoon.
"Tidak apa-apa, aku kan jadi bisa tahu dimana rumahmu." kata Seungcheol sambil tersenyum.
Karena tidak enak menolak Seungcheol, Jihoon pun mengangguk mengiyakan. Seungcheol pun berbalik berjalan menuju kafe dan Jihoon yang mengekor dibelakangnya. Mereka berjalan menuju motor Seungcheol yang di parkir pemiliknya di samping kafe.
"Ini," Seungcheol menyerahkan sebuah helm putih pada Jihoon yang langsung diterima oleh Jihoon lalu dipakai di kepalanya.
Setelah itu, Jihoon pun naik ke jok belakang motor Seungcheol. Merasa Jihoon sudah duduk dengan nyaman, Seungcheol menyalakan mesin motornya lalu memacu kendaraannya itu pergi dari sana.
Entah karena Jihoon belum pernah naik motor atau memang Seungcheol yang memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, Jihoon merasa sedikit takut tapi disaat yang sama ia senang. Angin yang bertiup berlawan dengan jalannya motor Seungcheol terasa sangat segar bagi Jihoon ketika melewati tubuhnya.
Tak terasa mereka sudah sampai di depan rumah Jihoon. Jihoon pun segera turun dari motor Seungcheol, melepas helmnya lalu mengembalikannya pada Seungcheol.
Baru saja Jihoon hendak menawarkan Seungcheol untuk mampir, tiba-tiba saja ia ingat janji makan malam dengan Jeonghan.
"Terima kasih sudah mengantarku, Seungcheol hyung." kata Jihoon. "Tapi maaf karena aku punya keperluan lain, jadi em...aku tidak bisa menawarkan untuk mampir."
Seungcheol tersenyum manis kearah Jihoon, yang sukses membuat Jihoon tertunduk. Entah apakah wajahnya sekarang memerah panas atau tidak, tapi Jihoon butuh beberapa menit sebelum akhirnya kembali mengangkat kepalanya dan menatap Seungcheol.
"Aku akan mampir lain kali." kata Seungcheol masih dengan tersenyum manis kearah Jihoon.
"Ya lain kali mampirlah kemari." jawab Jihoon.
"Kalau begitu, aku pergi dulu. Sampai jumpa lagi." kata Seungcheol sebelum ia memakai helmnya.
Setelah helm tersebut terpasang sempurna di kepala Seungcheol, Seungcheol pun melambaikan tangan pada Jihoon sebelum ia menyalakan mesin motornya dan pergi dari depan rumah Jihoon.
Jihoon sendiri tampak terus memandangi motor Seungcheol yang lama kelamaan menghilang di belokan ujung jalan.
Ternyata bertemu dengan Seungcheol tidak semengerikan itu. Nyatanya Seungcheol banyak bicara selama Jihoon tidak mau bicara. Dan lagi Seungcheol suka sekali menceritakan hal lucu pada Jihoon yang sukses membuat Jihoon tertawa. Dan setelah pertemuan hari ini, tidak menutup kemungkinan kalau mereka akan bertemu lagi lain waktu.
.
.
Sekarang motor Seungcheol berhenti disebuah gedung apartement di daerah Gangnam. Seungcheol yang masih terduduk di motornya, tampak memandangi apartement itu kosong. Ya, gedung apartement ini adalah gedung apartement tempat Jeonghan tinggal.
Hanya mengingat namanya saja sudah membuat Seungcheol sakit kepala. Perasaan campur aduk muncul di dalam diri Seungcheol ketika ia mengingat-ingat kenangannya dengan Jeonghan dulu. Saat mereka masih bahagia. Bagaimana pun juga Jeonghan adalah orang yang pernah bahagia bersamanya, tersenyum kearahnya, memandang matanya dalam, dan yang paling penting Jeonghan adalah orang yang membuat Seungcheol mati-matian buat bahagia.
[FLASHBACK]
Seungcheol memarkirkan motornya di depan sebuah rumah besar nan mewah, dengan cat yang di dominasi warna putih dan hijau tosca tua. Pandangannya terus terarah kepada pintu masuk rumah tersebut, menunggu seseorang yang ditunggunya keluar dari pintu tersebut.
Tak lama, seorang pemuda berambut panjang cokelat yang diikat kebelakang keluar dari dalam rumah tersebut. Angin musim semi yang bertiup menerbangkan beberapa helai rambut pemuda itu yang di mata Seungcheol tampak seperti lukisan.
"Hai." sapa Seungcheol ketika pandangan mereka bertemu.
Pemuda berambut panjang bernama Jeonghan itu segera keluar lalu menutup gerbang rumahnya. Ia terkejut melihat keberadaan Seungcheol di depan rumahnya pagi itu.
"Ada apa? Kenapa ada disini?" tanya Jeonghan.
"Aku mau berangkat ke sekolah bersamamu." jawab Seungcheol.
Jeonghan terlonjak karena terkejut. Seorang Choi Seungcheol yang terkenal di sekolah datang ke rumahnya dan bilang ingin berangkat ke sekolah bersamanya? Mimpi apa Jeonghan semalam?
Belum sempat Jeonghan menjawab, Seungcheol menyodorkan sebuah helm putih kepada Jeonghan, yang segera diterima, tapi tidak langsung dipakai. Helm itu dipegang erat oleh Jeonghan, membuat Seungcheol menatapnya heran,
"Kenapa? Kau tidak mau ke sekolah denganku?" tanya Seungcheol.
"Bukan, bukan begitu." jawab Jeonghan. "Aku hanya tidak mau berurusan dengan fansmu di sekolah. Temanku sudah jadi target mereka ketika temanku ketahuan memberimu kotak makan siang dua hari lalu. Kau tahu, setelah kejadian itu temanku tidak mau masuk sekolah."
Jawaban Jeonghan membuat Seungcheol diam sesaat. Tapi kemudian ia tersenyum menatap Jeonghan. Ia dengan lembut meraih tangan kanan Jeonghan dan memegangnya erat. Sementara si pemilik tangan itu terkejut bukan main dengan sikap Seungcheol. Jeonghan bersumpah ia bisa pingsan mendadak.
"Kau tidak perlu takut pada mereka." kata Seungcheol, yang mendapat pandangan bingung dari Jeonghan. "Disini posisinya adalah aku yang memintamu berangkat sekolah bersama, aku yang menjemputmu."
Tapi Jeonghan masih tampak ragu. Genggaman tangannya semakin ia pererat.
"Dan lagi, " Seungcheol kembali bicara. "Aku menyukaimu." Seungcheol melanjutkan kata-katanya, membuat wajah Jeonghan yang berdiri di depannya memerah seperti kepiting rebus.
[FLASHBACK END]
Lamunan Seungcheol buyar ketika sebuah mobil sedan silver yang ia lihat di halaman parkir fakultas seni kemarin melewatinya menuju parkir basement gedung apartement. Seungcheol masih hafal mobil silver yang membawa Jihoon pergi dari kampus kemarin adalah mobil itu dan yang Seungcheol perlu tahu sekarang adalah siapa pemilik mobil itu, karena kemarin Seungcheol tidak sempat melihat karena orang itu memunggungi Seungcheol.
Seungcheol meninggalkan motornya yang sudah ia kunci dan berjalan menuju pintu masuk apartement. Seungcheol tidak masuk dan hanya mengamati dari luar karena pintu masuk apartement terbuat dari kaca. Seungcheol terus mengamati lobby apartement itu sampai muncul lah sosok yang ia tunggu, karena tidak ada orang lain lagi disana kecuali pemuda itu. Tapi mata Seungcheol seketika membulat ketika tahu siapa pemuda pemilik mobil itu. Dia Yoon Jeonghan.
.
.
Jeonghan masuk ke apartementnya dengan susah payah karena ia membawa dua plastik besar berisi belanjaannya dari supermarket tadi. Jeonghan sengaja mampir ke supermarket setelah mengantar Soonyoung kembali ke rumahnya karena ia ingat acara makan malam dengan Jihoon. Jeonghan sebenarnya bisa saja memesan makanan atau makan diluar, tapi karena hari ini adalah akhir minggu jadi lebih baik kalau Jeonghan di apartementnya saja dan lagi ia juga sedang ingin masak.
Setelah membereskan belanjaannya, Jeonghan mulai memasak. Tangannya yang lentik dan cantik itu dengan cekatan memotong-motong bahan makanan. Sejak SMA Jeonghan memang sudah mahir memasak. Itu juga berkat ajaran Ibunya yang selalu meminta Jeonghan membantunya di dapur, akhirnya dari sanalah bakat Jeonghan memasak tumbuh. Ketika Jeonghan memutuskan untuk pindah ke apartement, Ibunya tampak tidak khawatir dengannya karena Jeonghan sudah biasa mandiri dan tidak bergantung pada orangtuanya, kecuali masalah keuangan.
Ketika jam sudah hampir menunjuk pukul 7 malam, Jeonghan meninggalkan kegiatannya memasak sebentar dan meraih ponselnya dari atas meja.
To : Soonyoungie~
Kwon Soonyoung! Aku hampir selesai memasak, kau jadi ikut makan malam ditempatku, kan?
Jeonghan mengirim pesan kepada Soonyoung. Ya, Soonyoung juga akan ikut makan malam disini setelah Jeonghan memaksanya tadi siang.
[FLASHBACK]
"Soonyoung-ah, ayo ikut makan malam di tempatku!" seru Jeonghan untuk ke sekian kali.
Tapi jawaban yang di dapat Jeonghan selalu sama. Gelengan kepala dari Soonyoung. Tapi Jeonghan tetap memaksa Soonyoung untuk ikut makan malam dengannya dan Jihoon.
"Ayolah." pinta Jeonghan dengan nada memelas.
Soonyoung tetap menggeleng. Mulutnya ia sumpal dengan sedotan yang ada di gelas ice green teanya sehingga ia tidak perlu menjawab panjang lebar ajakan Jeonghan. Tapi kemudian Jeonghan dengan sedikit kasar menarik gelas ice green tea milik Soonyoung dan menjauhinya dari Soonyoung.
"Ah, hyung!" protes Soonyoung.
"Kalau memang tidak mau, beri aku alasan." kata Jeonghan tidak menghiraukan protes Soonyoung.
Soonyoung tiba-tiba diam, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal lalu menatap Jeonghan.
"Aku sudah bilang kalau aku tidak mau membuat Jihoon tidak nyaman denganku." jawab Soonyoung.
"Sebenarnya yang tidak nyaman disini siapa? Jihoon atau kau? Kau memangnya tahu apa yang Jihoon pikirkan?" Jeonghan bertanya kali ini dengan nada yang lebih serius.
Soonyoung hanya menggeleng lemah.
"Itu hanya pikiranmu saja Soonyoung-ah." kata Jeonghan. "Kuberitahu sesuatu, Jihoon itu tidak membencimu."
Soonyoung memandang Jeonghan dengan pandangan yang berubah. Matanya menjadi berbinar menatap Jeonghan.
"Benarkah?"
"Dia hanya tidak suka kau berisik." kata Jeonghan.
Tapi Soonyoung sudah lebih dulu melonjak kesenangan karena ia akhirnya tahu kalau Jihoon tidak membencinya. Walaupun hanya tidak suka kalau ia berisik, tapi tidak apa-apa. Demi Jihoon ia akan jadi orang yang tenang dan tidak berisik.
"Hyung, aku akan makan malam di tempatmu." kata Soonyoung akhirnya, membuat senyum lebar menghiasi wajah Jeonghan.
[FLASHBACK END]
From : Soonyoungie~
Tentu saja aku akan kesana.
Senyuman lebar muncul di wajah Jeonghan. Kemudian pemuda bersurai sebahu itu menghubungi Soonyoung.
"Halo." terdengar suara Soonyoung di seberang telepon.
"Soonyoung-ah."
"Oh Jeonghan hyung. Kenapa?"
"Hei, aku ingin minta tolong padamu, bisa?"
"Apa saja." Soonyoung terdengar senang sekali.
"Jemput Jihoon di rumahnya." jawab Jeonghan sambil terkekeh pelan.
Hening. Soonyoung belum menjawab, tapi tidak memutuskan panggilannya juga, jadi Jeonghan hanya menunggu.
"Kenapa aku harus menjemput Jihoon?" tanya Soonyoung akhirnya.
"Hei Kwon Soonyoung, aku sedang membantumu, tahu!"
"Ta...ta...tapi di...dia bisa pe...pergi sendiri." Soonyoung gelagapan.
"Untuk apa mobil sport mahalmu itu jika kusuruh kau menjemput Jihoon saja tidak mau." cemooh Jeonghan.
Terdengar Soonyoung mendengus pelan sebelum akhirnya menjawab lagi,
"Baiklah akan aku jemput dia." kata Soonyoung.
"Akan aku beritahu alamatnya nanti. Sampai nanti." Jeonghan kemudian memutuskan panggilan teleponnya dengan Soonyoung.
Sekarang bisa Jeonghan bayangkan wajah panik Soonyoung saat ia menyuruh Soonyoung menjemput Jihoon di rumahnya. Walaupun Jeonghan tahu kalau Jihoon akan menolak, maka itu Jeonghan menyuruh Soonyoung. Jika Jihoon tahu kalau ia yang menyuruh Soonyoung, Jihoon tidak akan membantah.
Belum sampai 5 menit Jeonghan kembali memasak, ponselnya berdering tanda pesan masuk. Jeonghan mematikan kompor, mengelap tangannya pada celemek yang ia pakai lalu meraih ponselnya dari atas meja dan melihat kearah layar.
From : Unknown number
Hai Yoon Jeonghan, lama tidak jumpa.
Senang akhirnya aku bisa melihatmu lagi.
Jeonghan mengerutkan dahi. Ia sama sekali tidak tahu siapa yang mengiriminya pesan. Tapi yang Jeonghan tahu, siapapun sudah memberikan nomor ponselnya pada seseorang. Jeonghan hanya menatap layar ponselnya tanpa ada keinginan untuk membalas pesan tersebut sebelum ia tahu siapa yang mengirimnya.
~TBC~
.
.
.
HAAAAAHHH! akhirnya chapter 4 diupload juga. Tadi sempet gak inget soalnya tugas lagi banyak banget :")
Dan aku mau tanya sama kalian yang baca ff ini, aku kan upload ini seminggu sekali, buat kalian kelamaan gak sih? Kata temenku sih kelamaan hahaha :"D
makasih ya yang udah baca dan mereview, aku seneng liat review kalian :)
Sampai bertemu lagi di chapter depan ~~~~
