STUPID

Author

Macchi~

Rate

T

Cast

Seventeen member

Pairing

Jeongcheol/Soonhoon

Warning(s)

BL

Summary

"Aku rela dikenang sebagai pria brengsek agar kau cepat melupakanku." -Choi Seungcheol-

"Aku membencimu, Choi Seungcheol." -Yoon Jeonghan-


Chapter 5

Senin paginya Jeonghan datang sendiri ke kampus tanpa di temani Jihoon. Jeonghan harus mendengus kesal lantaran pagi ini ketika Jeonghan menjemput Jihoon seperti biasa, disanalah ia temukan mobil sport merah menyala milik Soonyoung terparkir di depan rumah Jihoon.

Dan Jeonghan harus mengalah karena Soonyoung merengek meminta Jihoon berangkat dengannya. Sepertinya kejadian hari Sabtu malam di rumah Jeonghan mengubah sikap keduanya 180 derajat.

[FLASHBACK]

Jihoon masuk lebih dulu diikuti Soonyoung ketika Jeonghan membukakan pintu apartementnya. Wajah Jihoon kesal karena sikap Soonyoung selama perjalanan menuju apartement Jeonghan. Sambil terus menggerutu dan melemparkan sumpah serapah kepada Soonyoung yang berjalan sambil menunduk di belakangnya, Jihoon kemudian duduk di sofa ruang tengah apartement Jeonghan.

Jeonghan yang tidak tahu apa-apa hanya menatap kedua orang itu bingung. Tidak tahu harus bertanya pada siapa. Jika Jeonghan bertanya pada Jihoon, Jihoon pasti akan marah-marah. Jeonghan tahu kalau seseorang bertanya pada Jihoon saat Jihoon sedang badmood, maka orang itu akan jadi pelampiasan marah Jihoon. Dan jika Jeonghan bertanya pada Soonyoung, maka Soonyoung tidak akan menjawab apa-apa takut akan di amuk oleh Jihoon.

"Hei, maafkan aku Jihoon-ah." kata Soonyoung pelan.

Tapi Jihoon tidak menjawab. Pemuda mungil itu melipat tangannya ke depan dada dan matanya sama sekali tidak tertarik menatap Soonyoung.

"Kalian kenapa? Ada apa sebenarnya?" tanya Jeonghan seraya duduk di samping Jihoon.

"Anak itu menyenggolku, membuatku menjatuhkan ponselku dan sekaligus menginjak ponselku hingga retak." jelas Jihoon singkat padat jelas.

Jeonghan terkejut mendengarnya. Ia kemudian memalingkan wajah menghadap Soonyoung yang masih berdiri di hadapan Jihoon, memasang wajah memelas mengharapkan permintaan maafnya di terima.

"Jadi ponselmu rusak?" tanya Jeonghan hati-hati.

Jihoon mengeluarkan ponselnya yang layarnya sudah retak tak seperti semula kemudian membantingnya pelan keatas meja.

"Tapi kan bisa di betulkan, Jihoon-ah." kata Jeonghan.

"Iya Jihoon-ah, aku akan membayar biaya reparasinya." kata Soonyoung.

Jihoon memicingkan mata kearah Soonyoung, "Kalau sampai data-dataku hilang, aku pastikan kau mati, Kwon Soonyoung." kata Jihoon dengan nada serius.

Soonyoung bergidik ngeri mendengar ucapan Jihoon. Dan karena insiden ponsel Jihoon yang retak, sepanjang makan malam tidak ada yang berani membuka obrolan. Jeonghan pun tidak mau bersuara lantaran tidak mau di amuk oleh Jihoon, dan ia juga kasihan melihat Soonyoung yang susah payah menelan makanannya karena Jihoon yang marah padanya.

[FLASHBACK END]

Selang 20 menit setelah Jeonghan masuk kedalam kelas, Jihoon muncul diikuti Soonyoung. Wajah Jihoon sudah tidak segarang Sabtu malam lalu, tapi wajah ketakutan Soonyoung masih sama. Ia hanya menunduk ketika mengekor Jihoon masuk ke kelas. Kebetulan hari ini hari Senin dan mereka bertiga berada di kelas yang sama yaitu kelas composing. Kelas yang sangat di benci Soonyoung karena ia pernah di permalukan di kelas ini, oleh Lee Jihoon.

Jihoon duduk di samping Jeonghan, sementara Soonyoung seperti biasanya duduk di belakang kursi Jihoon. Jeonghan sebenarnya tahu kalau Jihoon sudah tidak semarah kemarin, karena Jihoon sudah pegang ponsel baru. Ralat, Jeonghan meminjamkan Jihoon ponsel lamanya yang sudah tidak ia gunakan. Jihoon hanya perlu memindahkan SIM cardnya serta memory card miliknya ke ponsel Jeonghan.

"Jihoon-ah, kau masih marah padanya?" tanya Jeonghan.

"Tentu saja!" seru Jihoon gemas. "Karena dia semua chat historyku hilang!"

Jeonghan terkekeh mendengar jawaban Jihoon. Jihoon memang orang yang suka menyimpan chat history di ponselnya, karena katanya dia seperti bisa mengulang waktu saat ia kembali membaca chat lamanya dengan siapa saja. Tapi semua itu hilang seketika karena kaki Soonyoung.

"Aku kan sudah minta maaf." kata Soonyoung. "Berkali-kali."

Tapi Jihoon seakan tidak mengubris perkataan Soonyoung. Tapi bukan Kwon Soonyoung namanya jika ia menyerah. Soonyoung terus mengulang kata 'maaf' dari mulutnya berharap Jihoon melemah dan memaafkannya. Jeonghan sendiri sudah panas mendengar ribuan kata 'maaf' Soonyoung. Entah Jihoon yang bebal atau Jihoon sengaja membuat Soonyoung meminta maaf padanya hingga ribuan kali.

"Baiklah aku akan maafkan." kata Jihoon akhirnya, mungkin telinganya sudah panas hampir terbakar seperti Jeonghan.

Wajah Soonyoung berubah sumringah seperti musim semi, senyumnya yang lebar membuat mata sipit Soonyoung semakin hilang dan tinggal segaris.

"Tapi ada syaratnya." Jihoon bercicit lagi, tidak mau membuat Soonyoung berpikir kalau Jihoon memaafkannya dengan cuma-cuma.

"Apapun akan aku lakukan." kata Soonyoung masih dengan senyumnya yang kelewat lebar itu.

"Kau harus mau menuruti semua permintaanku. Selama dua minggu." Jihoon menatap Soonyoung tajam.

"Dua minggu? Sampai reparasi ponselmu selesai?" tanya Soonyoung.

Ponsel Jihoon yang rusak akibat kaki Soonyoung memang membutuhkan waktu dua minggu untuk di reparasi sebelum akhirnya bisa digunakan lagi oleh Jihoon.

Jihoon mengangguk pelan menjawab pertanyaan Soonyoung barusan.

"Baiklah!" seru Soonyoung tanpa pikir panjang. "Aku akan turuti semua permintaanmu selama dua minggu, tapi kau harus memaafkanku setelahnya."

Jihoon diam sebentar, kemudian mengangguk setuju. Soonyoung kembali menunjukkan senyum lebarnya kearah Jihoon, membuat Jihoon mengerutkan dahi lalu berbalik menghindari tatapan bodoh Soonyoung yang ditujukan padanya.

Kelas composing yang seharusnya 1 jam, di perpendek menjadi 45 menit karena dosen Jang harus pergi ke suatu pertemuan dan para mahasiswanya berakhir dengan tugas composing berpasangan. Dan sialnya Jihoon harus berpasangan dengan Kwon Soonyoung. Si bodoh yang sudah merusak ponselnya.

Jeonghan dan Jihoon duduk di kantin seperti biasa setelah kelas composing selesai. Kelas Jihoon selanjutnya baru mulai jam 1 siang dan sekarang baru jam 10 pagi.

"Jangan merengut begitu." kata Jeonghan saat melihat wajah cemberut Jihoon.

"Aku sial sekali hyung." jawab Jihoon.

"Tidak kau tidak sial." kata Jeonghan. "Soonyoung itu sebenarnya baik dan ehm..tidak sebodoh yang kau pikir. Dia hanya perlu diajari saja dengan baik, dia anaknya mudah mengerti kalau cara orang mengajarinya mudah ia pahami."

Jihoon menatap Jeonghan. Jihoon tahu kalau Jeonghan dan Soonyoung adalah teman dari SMA, tapi yang Jihoon tak habis pikir adalah Jeonghan tampaknya benar-benar dekat dengan Soonyoung sampai bisa mengerti Soonyoung seperti itu.

"Hyung, kau dekat sekali dengan anak itu ya?" tanya Jihoon penasaran.

"Eh? Siapa? Soonyoung?"

Jihoon mengangguk dan dibalas tawa oleh Jeonghan.

"Kenapa? Kau heran kenapa aku bisa dekat dengannya?"

"Bukan, aku heran kenapa hyung tahan berteman dengannya." jawab Jihoon apa adanya, sesuai dengan apa yang dipikirkan.

Jeonghan menghentikan tawanya. Matanya menerawang seakan sedang mengingat bagaimana dulu ia dan Soonyoung bisa dekat.

"Mau kuceritakan?" tanya Jeonghan sambil melirik Jihoon yang duduk manis di sampingnya.

"Tentu saja, aku kan bertanya." jawab Jihoon.

"Soonyoung adalah anak pintar yang mampu loncat kelas saat SMA sehingga ia bisa berakhir di kelasku. Saat seharusnya ia kelas 1, dia berada di kelas 2 bersama angkatanku. Tadinya kami tidak sedekat sekarang. Kami hanya teman sekelas yang saling menyapa tapi tidak mengobrol. Dia berteman dengan anak laki-laki yang lebih populer dibanding aku. Lalu suatu kejadian membuat kami jadi dekat. Dan saat aku mendapat masalah besar, Soonyoung adalah orang pertama yang membantuku. Sejak itulah aku menjadi sangat sangat dekat dengan Soonyoung." jelas Jeonghan.

Jihoon terdiam mendengar cerita Jeonghan. Jihoon baru tahu kalau dibalik tingkah hyperaktifnya dan mulut yang kelewat cerewet itu, sosok Soonyoung sangat baik dan perhatian. Entah masalah apa yang dihadapi Jeonghan saat itu, tapi Jihoon yakin masalah itulah yang membuat keduanya dekat. Mungkin Jihoon saja yang selalu berpikir negatif tentang Soonyoung.

"Jeonghan hyung!" sebuah suara yang Jihoon sudah hafal -karena sejak pagi ia sudah mendengarnya- terdengar dari arah belakang.

Jeonghan yang pertama kali berbalik, menemukan sosok Soonyoung berjalan kearah meja Jihoon dan Jeonghan. Dan tanpa bertanya langsung duduk berhadapan dengan Jihoon dan Jeonghan.

"Sedang mengobrol apa? Seru sekali." kata Soonyoung sambil tersenyum lebar membuat matanya menjadi segaris.

Jihoon menatap Soonyoung malas, "Bukan urusanmu."

"Hei, Jihoon-ah, apa tidak ada yang ingin kau mau?" Soonyoung mengalihkan tatapannya kearah Jihoon.

Jihoon membalas tatapan Soonyoung dengan tajam seperti biasa, "Belum." jawabnya singkat.

Melihat mereka berdua tiba-tiba Jeonghan teringat pesan yang masuk ke ponselnya Sabtu lalu. Dan pesan itu tidak hanya satu, hari Minggu tepat jam 7 pagi ada pesan masuk lagi dari nomor telepon yang sama. Karena tidak tahu harus bertanya pada siapa, Jeonghan pun memutuskan untuk bertanya pada dua temannya -yang tengah bersitegang- ini.

"Jihoon-ah, Soonyoung-ah, apa kalian kenal nomor telepon ini?" tanya Jeonghan seraya menyodorkan ponselnya.

Jihoon yang duduk di sebelah Jeonghan menyipitkan matanya agar bisa melihat jelas nomor telepon yang tertera di layar ponsel Jeonghan. Soonyoung sendiri harus berdiri dari tempatnya duduk dan memutar meja agar bisa melihat layar ponsel Jeonghan.

"I...ini kan," Soonyoung yang lebih dulu bicara tapi tidak selesai.

Jihoon yang sudah tahu diam memandang Soonyoung yang sekarang menatap Jeonghan sambil membulatkan mata.

"Hyung dapat dari mana nomor ini?" tanya Soonyoung.

"Entahlah. Sepertinya ada yang memberikan nomor teleponku." jawab Jeonghan. "Pesannya tidak mengganggu, tapi kupikir karena dia mengenalku, mungkin aku juga mengenalnya."

Soonyoung sontak menyambar ponsel Jeonghan, mengotak-atiknya sebentar lalu menyerahkan pada pemiliknya lagi.

"Nomornya kau hapus? Kenapa?!" tanya Jeonghan begitu tahu apa yang Soonyoung lakukan.

"Jangan pernah simpan, apalagi menerima pesan dari nomor itu lagi hyung. Jika nomor itu mengirim pesan lagi, cepat hapus tidak perlu dibaca." kata Soonyoung.

Tapi belum sempat Jeonghan bertanya alasannya, Soonyoung lebih dulu pergi dari meja Jihoon dan Jeonghan. Walaupun tidak yakin, tapi sekilas Jeonghan melihat ekspresi wajah Soonyoung yang gusar.

"Sebenarnya nomor telepon siapa itu?" gumam Jeonghan dalam hati.

.

.

Sorenya setelah Jihoon menyelesaikan kelasnya yang terakhir, Jihoon pergi ke perpustakaan, berniat mengerjakan beberapa tugasnya yang belum sempat ia sentuh akhir minggu lalu.

Jihoon tengah membaca buku yang sudah ia ambil ketika sebuah tangan muncul dari meja di depannya, menggoyangkan sebatang cokelat di hadapan Jihoon. Jihoon mengangkat kepalanya, mengalihkan perhatiannya dari buku.

"Seungcheol hyung." Jihoon cukup terkejut melihat sosok Seungcheol duduk di meja di depannya sambil terus menggoyangkan cokelat yang ada di tangannya.

"Ada apa?" tanya Jihoon kemudian.

Seungcheol tidak menjawab dan terus menggoyangkan cokelat batangan di hadapan Jihoon. Jihoon pun dengan segera mengambil cokelat itu dan di letakkan diatas mejanya.

"Aku menunggumu selesai." jawab Seungcheol.

"Kenapa? Kukira hyung sudah pulang." kata Jihoon.

Seungcheol menggeleng, "Aku mau mengajakmu makan. Tapi ketika aku mengirimimu pesan, kau tidak menjawab. Inisiatif saja, kupikir kau sedang mengerjakan tugas di perpustakaan, eh ternyata benar kau disini."

Jihoon tersenyum manis kearah Seungcheol.

"Hei tahu tidak, kau manis kalau tersenyum begitu." kata Seungcheol, membuat Jihoon menghilangkan senyumannya dan diganti dengan kedua pipi Jihoon yang entah kenapa memanas, dan bukan tidak mungkin jadi memerah.

Seungcheol kemudian melirik kearah meja Jihoon, melihat apa yang sedang dibaca pemuda mungil itu hingga tampak sangat serius.

"Kau baca apa?" tanya Seungcheol.

"I...ini buku sejarah musik." jawab Jihoon sedikit terbata.

Seungcheol kembali duduk di kursinya tapi matanya menatap Jihoon yang masih diam di depannya.

"Apa masih lama?" tanya Seungcheol ragu.

Jihoon terkejut, ia kira ucapan Seungcheol yang mengatakan kalau Seungcheol menunggunya hanyalah sebuah candaan belaka, tapi ketika Seungcheol bertanya begitu, Jihoon yakin kalau Seungcheol tengah menunggunya.

"Sepertinya iya." jawab Jihoon pelan sambil menunduk.

Seungcheol menghela nafas, "Kalau begitu aku akan menunggu sampai kau selesai."

"Ti...tidak apa hyung." kata Jihoon. "Hyung pulang saja, kita bisa makan bersama lain kali."

Tapi Seungcheol menggelengkan kepalanya, bersikeras mau menunggu Jihoon hingga selesai. Jihoon benar-benar dibuat tidak enak oleh Seungcheol.

"Tapi ini masih cukup lama." kata Jihoon.

"Tidak apa-apa, aku bisa sambil baca buku." kata Seungcheol meyakinkan Jihoon.

Jihoon yang mudah sungkan dengan orang lain tidak bicara lagi. Jihoon benar-benar tidak enak kalau Seungcheol harus menungguinya menyelesaikan tugas-tugasnya. Jeonghan saja harus Jihoon paksa pulang tadi, sekarang Seungcheol malah mau menungguinya.

Kira-kira Jihoon selesai sekitar pukul 7 malam. Jihoon yang sejak tadi fokus dengan buku-bukunya sama sekali lupa kalau Seungcheol menunggunya hingga selesai. Jihoon menutup bukunya lalu melihat ke meja di depannya. Sosok Seungcheol sekarang tengah tertidur dengan kepala menempel di meja, buku yang dibacanya sudah ditutup dan diletakkan disamping kepalanya. Jihoon terkekeh pelan melihat Seungcheol tertidur. Wajahnya lucu sekali dan em...tampan.

Karena tidak mau membangunkan Seungcheol yang masih terlelap, Jihoon keluar dari kursinya dengan hati-hati sambil membawa buku-buku yang ia baca tadi untuk dikembalikan ke rak buku. Tak lupa Jihoon mengambil buku yang ada di meja Seungcheol dan mengembalikannya ke rak.

Setelah selesai mengembalikan buku-buku tersebut, Jihoon kemudian memasukkan semua barangnya ke dalam tas gendong hitam miliknya. Lalu ia menghampiri meja Seungcheol.

"Apa selama itu kah aku mengerjakan tugas?" gumam Jihoon pelan, takut Seungcheol terbangun.

Kemudian Jihoon pun menggoyangkan tubuh Seungcheol yang masih nyaman tidur di meja perpustakaan. Sekali dua kali digoyangkan, Seungcheol tidak juga bangun. Jihoon pun terpaksa memukul pelan bahu kanan Seungcheol hingga membuat pemuda bersurai hitam itu terkejut dan langsung bangun dari tidurnya.

"Maaf membuat hyung menunggu sampai tertidur." kata Jihoon.

Seungcheol yang tadinya tidak menatap Jihoon segera menoleh kearah Jihoon yang berdiri di sebelahnya.

"Tidak apa-apa." kata Seungcheol. "Lagipula aku kan yang mau menunggumu."

.

.

Besoknya baik Jeonghan maupun Soonyoung sama sekali tidak datang bersama Jihoon. Jihoon sebelumnya sudah mengirimkan pesan untuk tidak menjemputnya kepada kedua pemuda itu.

Sebelum masuk ke kelas, Soonyoung mengajak Jeonghan untuk sarapan di kantin.

"Hyung juga dikirimi pesan itu oleh Jihoon?" tanya Soonyoung, yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Jeonghan.

"Ada apa sih dengan anak itu?" tanya Soonyoung dengan raut wajah sedikit kesal.

Jeonghan tidak mengubris pertanyaan Soonyoung. Jeonghan sibuk menyeruput teh hangatnya dan mengunyah roti panggang pesanannya. Soonyoung sudah tahu kalau Jeonghan tidak akan menjawab pertanyaannya, karena Jeonghan sama sekali tidak tertarik dengan privasi Jihoon. Tapi berbeda dengan Soonyoung, ia benar-benar ingin tahu apa yang Jihoon lakukan, dan kenapa harus mengirimkan pesan untuk tidak menjemputnya pagi ini?

"Oh Soonyoung-ah, sepertinya ponselku tertinggal di mobil." kata Jeonghan tiba-tiba ketika ia merogoh tasnya.

"Cepat ambil hyung, nanti ada sesuatu yang penting." kata Soonyoung, dibalas anggukan.

Kemudian Jeonghan pergi dari kantin meninggalkan Soonyoung yang masih duduk manis disana sambil meminum milkshake pesanannya.

BIIP BIIP

Dari kejauhan Jeonghan sudah membuka kunci mobilnya, lalu dengan berlari kecil menghampiri mobil sedan silver itu dan membuka pintu.

Jeonghan mengambil ponselnya yang ia letakkan diatas dashboard mobilnya, kemudian memasukkan kedalam saku celananya. Setelah itu Jeonghan kembali menutup pintu mobil dan mengunci mobilnya.

Belum sempat Jeonghan melangkah pergi dari area parkir, matanya melihat sebuah motor sport hitam metalik yang ia kenal. Ya, Jeonghan yakin ia kenal motor itu. Itu motor Seungcheol. Dan ya, tentu saja si pengendara motor itu adalah Seungcheol. Tidak perlu melepas helm hitamnya pun Jeonghan sudah tahu. Tapi ada yang membuat Jeonghan penasaran, yaitu sosok mungil yang turun dari jok belakang motor Seungcheol. Ia memakai helm putih yang dulu selalu Jeonghan pakai ketika pergi dengan Seungcheol. Jeonghan menyipitkan matanya agar bisa melihat lebih jelas. Dan mata Jeonghan membulat ketika sosok itu membuka helm putih tersebut.

"Jihoon?!"

~TBC~

.

.

.

akhirnya chapter 5 keupdate juga~ takut kalo nunggu besok keburu lupa karena author banyak tugas kuliah yang harus dikerjakan. gak enak juga sih sama ff yang lainnya terbengkalai gara-gara sibuk sama tugas.

oiya author punya ff baru yang baru di publish, dibaca juga ya.

jangan lupa tinggalkan review~terima kasih