STUPID

Author

Macchi~

Rate

T

Cast

Seventeen member

Pairing

Jeongcheol/Soonhoon

Warning(s)

BL

Summary

"Aku rela dikenang sebagai pria brengsek agar kau cepat melupakanku." -Choi Seungcheol-

"Aku membencimu, Choi Seungcheol." -Yoon Jeonghan-


Chapter 6

Jihoon benar-benar dibuat terkejut dengan pesan yang dikirimkan Seungcheol padanya. Jihoon sendiri harus menajamkan matanya agar apa yang ia baca tidak salah. Tapi mata Jihoon tidak salah. Apa yang baru saja ia baca di layar ponselnya benar-benar tertulis seperti itu.

From : Seungcheol hyung

Aku di depan rumahmu. Ayo ke kampus bersama.

Padahal hanya pesan singkat dua kalimat, tapi berhasil membuat Jihoon kalang kabut panik karena Jihoon baru bangun 10 menit sebelum pesan itu masuk ke ponselnya.

Sepupu Jihoon, Lee Chan sudah berisik memanggil Jihoon karena Seungcheol menunggunya di ruang tamu dan Jihoon hanya membalas, 'sebentar', tapi tidak kunjung keluar dari kamarnya.

Kira-kira setengah jam kemudian Jihoon keluar dari kamarnya, sudah berpakaian rapi dan siap pergi ke kampus. Ia menghampiri Seungcheol yang duduk dengan di temani teh hangat di ruang tamu.

"Hyung maaf menunggu lama." kata Jihoon dengan wajah bersalah.

Seungcheol terkekeh mendengar ucapan Jihoon. Seungcheol kemudian menyuruh Jihoon untuk duduk di sampingnya, yang dituruti Jihoon.

"Tidak apa-apa. Adikmu menemaniku kok." kata Seungcheol.

"Adikku? Siapa? Chan? Bukan bukan, dia bukan adikku, dia sepupuku." kata Jihoon.

Tiba-tiba orang yang jadi objek pembicaraan mereka datang dari arah dapur memakai celemek.

"Ya aku bukan adiknya dan dia bukan kakakku." ucap Chan sambil membawa spatula.

"Hei kenapa masih pakai piyama?! Cepat mandi! Kau tidak mau ke sekolah?!" seru Jihoon ketika Chan muncul dari dapur.

Chan cemberut mendengar kakak sepupunya berteriak padanya padahal masih sangat pagi untuknya berteriak. Tanpa menjawab Jihoon, Chan kembali ke dapur masih memegang spatula.

"Kenapa dia tinggal denganmu?" tanya Seungcheol ketika sosok Chan sudah menghilang ke dapur.

"Panjang ceritanya. Masalah keluarga." jawab Jihoon.

Tiba-tiba dari arah dapur, suara Chan kembali terdengar, kali ini lebih keras karena ia berteriak.

"HYUNG CEPAT SARAPAN AKU TIDAK MAU KERJA KERASKU MEMASAK SIA-SIA!" seru Chan dari dapur.

Jihoon menghela nafas kemudian berdiri. Tapi Seungcheol tetap duduk, membuat Jihoon menatapnya heran.

"Ayo." kata Jihoon.

"Ayo apa?" tanya Seungcheol.

"Hyung dengar Chan kan? Ayo kita sarapan bersama." jawab Jihoon sambil menarik tangan Seungcheol yang lebih besar dari tangannya untuk berdiri.

"Eh, tidak apa-apa aku ikut sarapan?" tanya Seungcheol masih dengan tangannya yang sekarang ditarik paksa Jihoon menuju ruang makan.

"Tidak apa-apa." jawab Jihoon.

.

.

Setelah cukup shock melihat Jihoon datang bersama Seungcheol, Jeonghan kembali ke kantin dan menemui Soonyoung yang masih duduk disana masih dengan milkshake.

"Hyung ada apa? Wajahmu terkejut begitu." kata Soonyoung ketike Jeonghan kembali duduk di kursinya.

Jeonghan tersenyum sambil menggeleng. Beberapa menit setelah Jeonghan tiba, Jihoon masuk ke kantin dan menghampiri meja Jeonghan dan Soonyoung.

"Selamat pagi, Jihoonie~" sapa Soonyoung sambil tersenyum manis kearah Jihoon.

Jihoon menatap tajam Soonyoung, "Jangan panggil aku dengan panggilan itu." katanya.

Soonyoung langsung menunduk ketika Jihoon mengatakan itu. Kemudian Jihoon duduk disamping Jeonghan yang masih belum mengatakan apa-apa.

"Jihoon-ah, kau datang sendiri pagi ini?" tanya Jeonghan tiba-tiba.

Ekspresi wajah Jihoon sontak berubah. Ia tidak tahu harus bicara jujur atau tidak pada Jeonghan, mengetahui ia sama sekali tidak cerita pada Jeonghan kalau ia berteman dengan Seungcheol.

"Ya, aku datang sendiri." jawab Jihoon akhirnya.

Jeonghan tersenyum kearah Jihoon sambil mengangguk. Tapi Jihoon merasa canggung dengan senyuman Jeonghan karena Jihoon merasa ada yang aneh dengan senyuman Jeonghan padanya tadi. Seperti entahlah, Jihoon juga bingung harus menggambarkannya bagaimana.

Kelas Jeonghan dan Jihoon hari ini terpisah. Setelah Jihoon pamit untuk masuk kelas, Jeonghan pergi ke perpustakaan seorang diri karena Soonyoung ada pertemuan klub.

Seperti biasa, Jeonghan duduk di kursi paling pojok dekat dengan jendela. Diatas mejanya sudah tertumpuk 2 buku tebal sejarah musik. Niat awal Jeonghan memang mengerjakan tugas, tapi ia malah melamun dan sama sekali tidak membuka bukunya.

"Dia bohong padaku. Tapi kenapa?" gumam Jeonghan dalam hati.

Jeonghan masih dibayangi oleh apa yang ia lihat di parkiran fakultas tadi pagi. Memang bukan di tempat parkir fakultas seni, tapi fakultas seni dan teknik tidak terlalu jauh jaraknya, jadi Jeonghan masih bisa melihat dengan jelas Lee Jihoon datang bersama Choi Seungcheol ke kampus. Dan yang lebih membuat Jeonghan terkejut adalah mereka tampak seperti teman dekat karena tidak ada kecanggungan sama sekali disana. Tapi kalaupun Jihoon memang berteman dengan Seungcheol, kenapa harus dirahasiakan?

Jeonghan menutup wajahnya dengan kedua tangannya, ia sama sekali tidak konsentrasi belajar kalau pikirannya terus melantur kemana-mana. Buku tebal sejarah musik yang Jeonghan ambil tadi akhirnya Jeonghan buat alas untuk kepalanya berbaring. Ia benar-benar butuh istirahat. Tidak, kalau bisa ia ingin hilang ingatan saja rasanya.

Jeonghan terbangun karena ponselnya yang ia letakkan disamping kepala bergetar. Dengan sedikit malas ia menegakkan tubuhnya lalu meraih ponselnya diatas meja dan langsung menjawab telepon masuk yang entah dari siapa karena Jeonghan malas melihatnya.

"Halo." kata Jeonghan dengan suara parau.

"Hyung dimana?" terdengar suara Jihoon di seberang.

"Aku di perpustakaan. Kau sudah selesai kelas?"

"Ya, aku baru saja selesai."

"Ada apa?" tanya Jeonghan dengan suara yang lebih jelas.

"Tidak ada apa-apa. Hyung, aku akan ke perpustakaan."

"Baiklah aku tunggu di tempat biasa aku duduk."

"Iya."

Kemudian panggilan tersebut di putus oleh Jihoon. Jeonghan sendiri kembali meletakkan ponselnya diatas meja, dan akhirnya memutuskan untuk mulai mengerjakan tugasnya. Paling tidak ia harus kelihatan sibuk.

10 menit kemudian Jihoon datang ke perpustakaan dan langsung melesat ke tempat duduk paling belakang dan paling pojok dekat jendela. Jihoon langsung meletakkan tasnya di samping meja tersebut. Yoon Jeonghan yang masih sibuk dengan tugasnya tidak melirik kearah Jihoon yang sudah duduk di sampingnya, tapi ia tahu kalau Jihoon sudah datang.

"Banyak tugas, hyung?" tanya Jihoon.

"Begitulah." jawab Jeonghan seadanya karena sekarang Jeonghan sudah larut dalam buku-bukunya.

"Hyung, ayo makan bersama setelah ini." kata Jihoon.

Perkataan Jihoon sukses membuat Jeonghan berhenti menulis dan mengalihkan perhatiannya pada Jihoon.

"Benar mau makan bersama denganku?" tanya Jeonghan.

Jihoon mengerutkan dahi, "Ha? Bukan biasanya kita sering makan bersama?"

Jeonghan menggeleng lalu kembali menatap bukunya, membuat Jihoon memandangnya dengan wajah bingung. Tiba-tiba ponsel Jihoon berdering menandakan pesan masuk. Perhatian Jihoon pada Jeonghan pun teralih.

Jeonghan sama sekali tidak sadar kalau Jihoon sekarang tengah sibuk dengan ponselnya, bahkan sesekali Jihoon tersenyum sambil mengetik sesuatu di ponselnya. Jeonghan sadar ketika tidak sengaja Jihoon terkekeh sendiri sambil melihat layar ponselnya. Jeonghan yang sudah selesai dengan tugasnya segera menutup bukunya, memasukkannya kedalam tas lalu ia menopang dagu dengan tangannya dan memperhatikan Jihoon yang masih saja sibuk dengan ponselnya.

"Sepertinya menyenangkan sekali." tiba-tiba Jeonghan bersuara, membuat Jihoon sedikit terkejut.

Jihoon tidak menjawab, karena tidak tahu harus menjawab apa.

"Temanmu?" tanya Jeonghan, yang dibalas anggukan oleh Jihoon.

"Bagaimana? Jadi makan denganku?"

Jihoon tampak berpikir sebentar. Tapi kemudian ia memasukkan ponselnya kedalam tas lalu mengangguk menjawab pertanyaan Jeonghan.

"Tentu saja." kata Jihoon. "Aku kan menunggu untuk makan bersama hyung."

Jeonghan tersenyum mendengarnya. Kemudian ia berdiri dari kursinya, membawa 2 buku tebal sejarah musiknya dan mengembalikannya ke rak buku sebelum keluar dari perpustakaan.

.

.

Jihoon sedikit tidak nyaman dengan situasi sekarang. Pasalnya sejak ia dan Jeonghan pergi meninggalkan area kampus, keduanya tidak ada yang bicara. Jihoon terlalu bingung mau bicara apa karena biasanya Jeonghan yang lebih banyak bicara dan Jihoon hanya menanggapi. Tapi sekarang atmosfir di mobil Jeonghan benar-benar canggung. Jeonghan hanya menatap lurus kearah jalan dan tidak ada tanda-tanda ingin bicara dengan Jihoon.

"Hyung," panggil Jihoon.

"Hm?" balas Jeonghan singkat, bahkan tanpa melirik sedikitpun kearah Jihoon.

"Hyung tidak apa-apa?" tanya Jihoon. "Emm...maksudku apa hyung punya masalah?"

Jeonghan menoleh sebentar kemudian kembali mengunci pandangannya pada jalan.

"Tidak. Memang kenapa?" Jeonghan balik bertanya.

"Sikap hyung aneh sejak pagi." jawab Jihoon, sekarang ia mulai menundukkan kepalanya.

Jawaban Jihoon dibalas tawa kecil Jeonghan, kemudian Jeonghan menjawab,

"Apa yang aneh?" tanya Jeonghan, kali ini sambil tersenyum.

"Hyung tidak banyak bicara padaku seperti biasanya. Aku pikir hyung marah padaku." jawab Jihoon masih menundukkan kepalanya semakin dalam.

Jeonghan diam. Ia tidak tahu harus menjawab jujur atau bohong. Di satu sisi Jeonghan ingin bicara jujur soal apa yang ia lihat tadi pagi dan ia ingin menanyakan hal itu sebenarnya pada Jihoon, tapi di satu sisi ia merasa melewati garis privasi Jihoon dengan bertanya soal itu padanya. Jadi Jeonghan hanya diam.

"Hyung jangan diam saja!" seru Jihoon tiba-tiba membuat Jeonghan nyaris menginjak rem mendadak.

Jeonghan akhirnya meminggirkan mobilnya di depan sebuah mini market. Ia menghela nafas panjang sebelum menoleh kearah Jihoon yang masih menundukkan kepalanya yang semakin lama semakin dalam.

"Aku tidak marah padamu." kata Jeonghan sambil mengelus pelan rambut Jihoon.

"Aku hanya bingung kenapa kau bohong padaku, Jihoon-ah" kata Jeonghan dalam hati.

Jihoon perlahan kembali menaikkan kepalanya dan menatap Jeonghan yang tengah tersenyum padanya.

"Lalu hyung kenapa? Sikap hyung benar-benar membuatku khawatir." tanya Jihoon.

"Aku...aku hanya banyak pikiran." jawab Jeonghan. "Ya..banyak yang aku pikirkan akhir-akhir ini."

Jihoon menatap Jeonghan tepat di kedua mata Jeonghan, "Jangan terlalu memaksakan." kata Jihoon. "Hyung bisa sakit nanti."

Jeonghan terkekeh pelan mendengar ucapan Jihoon yang dirasa Jeonghan sangat manis, apalagi Jihoon yang mengatakannya. Jika Soonyoung melihat ini, ah tidak, jika Jihoon berkata seperti ini pada Soonyoung, Jeonghan yakin Soonyoung akan pingsan mendadak.

"Baiklah baiklah." kata Jeonghan. "Aku...aku tidak memikirkannya lagi."

Kemudian Jeonghan kembali menyalakan mesin mobilnya dan kembali melanjutkan perjalanan.

.

.

Besoknya Jihoon kembali dijemput oleh Jeonghan dan mereka berangkat bersama ke kampus. Dan Jeonghan juga sudah tidak memikirkan hal kemarin, walaupun kadang masih suka teringat.

Seperti biasa, Jeonghan memarkirkan mobilnya di halaman parkir fakultas seni tepat di depan gedung. Jihoon keluar lebih dulu lalu beberapa saat kemudian Jeonghan keluar dari mobil sambil menenteng tas dan bukunya.

"Hari ini aku ada kegiatan di klub, kau tidak apa pulang sendiri, Jihoon-ah?" tanya Jeonghan seraya berjalan masuk ke gedung fakultas.

Jihoon terkekeh, "Bukankah sudah biasa tiap hari Kamis aku pulang sendiri?"

Jeonghan tersenyum mendengar ucapan Jihoon. Memang tiap hari Kamis Jeonghan harus disibukkan oleh kegiatan klub vokal. Dulu Jeonghan sudah sering mengajak Jihoon untuk bergabung dengan klub vokal, tapi Jihoon terus menerus menolaknya, Jihoon bilang ia lebih suka membuat musik dibandingkan menyanyi. Dan malah menawarkan diri jika klub vokal Jeonghan ingin dibuatkan lagu, maka Jihoon dengan senang hati mau membantu.

Memang di kompetisi menyanyi tahunan antar kampus tahun lalu, kampus Jeonghan berhasil menang karena lagu buatan Jihoon. Dan setelah itu, Jeonghan tidak lagi memaksa Jihoon untuk masuk klub sebagai anggota tapi merekrutnya sebagai produser klub vokalnya.

"Jeonghan hyung! Jihoon-ah!" samar-samar terdengar suara teriakan dari arah belakang Jihoon dan Jeonghan.

Dan tak lama kemudian sosok yang memanggil mereka pun muncul, menyamai langkahnya dengan langkah Jeonghan dan Jihoon. Siapa lagi kalau bukan Kwon Soonyoung.

"Pagi Jihoon-ah~" sapa Soonyoung sambil tersenyum lebar kearah Jihoon.

"Jangan tersenyum bodoh kearahku seperti itu Kwon Soonyoung." kata Jihoon datar. "Dan jangan jalan mundur kau bisa jatuh!"

Tapi memang Soonyoung otak bebal, dia tidak mengubris seruan Jihoon dan malah tersenyum lebar dan tetap jalan dengan langkah mundur dengan wajah menghadap Jihoon. Jihoon sendiri menggelengkan kepala pelan, bingung kenapa ia harus kenal dengan orang seidiot Soonyoung.

BRUUK!

Suara keras terdengar ketika kepala belakang Soonyoung tepat menabrak dinding disamping pintu masuk gedung fakultas. Soonyoung sontak memegangi kepala belakangnya sambil meringis kesakitan.

"Sudah kubilang, kan!" seru Jihoon seraya mendekati Soonyoung yang memegangi kepalanya.

Jihoon membalikkan tubuh Soonyoung lalu berjinjit tepat di bagian belakang kepala Soonyoung, mengecek apakah kepala anak itu berdarah atau tidak. Tapi sepertinya tidak separah yang dipikirkan Jihoon, karena Jihoon tidak menemukan tanda-tanda ada darah, berarti Soonyoung tidak akan amnesia.

"Makanya dengar kalau orang bicara!" seru Jihoon sambil membalik tubuh Soonyoung agar menghadapnya.

"Iya iya maaf." gumam Soonyoung disela rintihan sakitnya.

"Aku tidak apa-apa, kan?" Soonyoung kemudian bertanya dengan wajah cemas pada Jihoon. "Maksudku, aku tidak berdarah, kan?"

"Untungnya tidak." jawab Jihoon.

Kemudian Jihoon kembali berjalan mendahului Soonyoung diikuti Jeonghan dan Soonyoung yang masih merintih kesakitan sambil memegangi kepalanya.

Jeonghan berpisah dengan Jihoon dan Soonyoung 5 menit lalu. Dan sekarang Jihoon dan Soonyoung berdiri di depan ruang kelas Jihoon.

"Pergilah ke ruang kesehatan, minta perawat untuk mengecek kepalamu." kata Jihoon.

"Tidak mau menemani?" tanya Soonyoung dengan nada manja.

"Hentikan itu aku jijik." kata Jihoon.

Soonyoung kemudian memanjukan bibirnya, cemberut. Tapi Jihoon tidak peduli dan malah menatapnya tajam.

"Cepat ke ruang kesehatan! Aku harus masuk kelas, 10 menit lagi kuliahku dimulai!" seru Jihoon dengan tatapan tajam.

Soonyoung hanya mengangguk patuh kemudian pergi dari hadapan Jihoon.

.

.

Soonyoung sudah di periksa oleh perawat yang jaga di ruang kesehatan, dan ia harus istirahat, jadilah sekarang Soonyoung terbaring di telungkup di ranjang ruang kesehatan karena ia tidak mau menekan bagian belakang kepalanya yang masih berdenyut sakit.

Seorang pemuda tinggi bersurai cokelat keemasan masuk ke ruang kesehatan. Ia melihat Soonyoung yang rebahan dengan posisi telungkup sambil berdecak. Lalu ia mendekati ranjang yang di tiduri Soonyoung, menarik kursi dan duduk disampingnya.

"Membuat ulah lagi, pak ketua?" tanya pemuda itu.

Soonyoung mau tidak mau harus menoleh kearah pemuda itu. Soonyoung terkekeh membuat mata sipitnya semakin hilang.

"Kau tahu aku disini?" tanya Soonyoung balik.

"Aku tahu dari juniormu." jawab pemuda itu.

"Kau mencariku?"

"Hanya mau diskusi beberapa hal. Tapi kau malah disini."

"Aku menabrak dinding." kata Soonyoung masih tersenyum bodoh.

Pemuda itu menggeleng kepalanya pelan sambil berdecak. Seperti biasa, temannya ini selalu buat ulah karena tingkah hyperaktifnya.

"Kau tidak ada kelas, Jun?" tanya Soonyoung heran kenapa teman satu klubnya bisa berakhir di ruang kesehatan.

Pemuda bernama Jun itu menggeleng lalu menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi, menatap langit-langit ruang kesehatan.

"Aku bolos." jawab Jun.

"Mahasiswa jurusan teknik membolos kuliah. Sudah ada rencana tidak mau lulus?" sindir Soonyoung.

Jun tertawa mendengar sindiran Soonyoung, "Hanya malas. Lagipula bukan mata kuliah wajib, jadi aku bolos."

Soonyoung sudah sangat tahu sifat Jun, teman satu klub dancenya ini. Selain bertingkah seperti berandalan, Jun juga suka bolos kuliah. Tapi anehnya hanya mata kuliah yang tidak wajib, dan mata kuliah wajibnya selalu dihadiri tanpa absensi sama sekali. Kecuali kalau ada urusan mendadak. Tapi kadang urusan mendadaknya bahkan tidak penting.

"Bisa latihan nanti sore?" tanya Jun kemudian.

"Yang sakit itu kepalaku, bukan kakiku." jawab Soonyoung.

Jun mengangkat kedua bahunya, "Tidak ada yang tahu kalau misalnya tiba-tiba kau pingsan karena terlalu banya bergerak."

Sebuah pukulan di kepala diterima Jun ketika mengatakan itu. Soonyoung menatap Jun kesal sementara Jun malah tertawa terbahak-bahak.

"Hei kau tahu aku sedang taruhan." Jun menatap Soonyoung dengan mata berbinar.

"Taruhan lagi?" tanya Soonyoung malas.

Soonyoung juga tahu salah satu sifat Jun yang suka taruhan. Bahkan Jun sering sekali main ke kasino untuk sekedar main kartu poker atau kadang blackjack. Dan yang membuat Soonyoung heran adalah Jun hampir selalu menang. Bahkan di taruhan yang ia buat sendiri.

"Kali ini apa?" sambung Soonyoung.

"Temanku mengincar mahasiswa jurusan musik, Wonwoo membuat taruhan kalau temanku itu tidak bisa membuat mahasiswa jurusan musik itu jadi pacarnya dalam satu minggu, dia harus membayar 500 ribu won padaku dan Wonwoo." jelas Jun sambil tersenyum.

"500 ribu won? Sudah gila?!" seru Soonyoung tak habis pikir.

"Hei, bukan aku yang membuat taruhan gila ini. Tapi Jeon Wonwoo yang buat." kilah Jun.

Soonyoung menatap Jun malas. Tidak mengerti dengan pergaulan Jun di jurusan teknik sana, sepertinya teman-temannya juga sama gilanya dengan Jun. Dan tampaknya Soonyoung sama sekali tidak tertarik bertanya lebih jauh soal detil taruhan Jun karena ia sudah malas mendengar Jun cerita soal taruhan. Jadi Soonyoung hanya diam, membalik kepalanya menghadap sisi lain ranjangnya dan memejamkan mata.

.

.

Jadwal kuliah Jihoon hari ini tidak banyak. Jihoon bahkan sudah menyelesaikan mata kuliah terakhirnya hari ini 1 jam yang lalu. Yang membuat Jihoon belum meninggalkan kampus adalah tugas composing sialan yang harusnya ia buat bersama si bodoh Soonyoung. Tapi mengingat kejadian tadi pagi, Jihoon malas menghubungi Soonyoung sekadar minta ditemani membuat tugas.

Jihoon duduk di salah satu kursi di kantin, matanya menatap tajam layar laptop dengan tangannya sibuk diatas keyboard. Tiba-tiba kegiatan 'mengerjakan tugas komposing' Jihoon harus terinterupsi oleh dering ponselnya sendiri. Dengan malas -bahkan Jihoon tidak melihat siapa yang meneleponnya- Jihoon menekan tombol hijau lalu menempelkan ponsel itu di telinganya.

"Ya, halo." kata Jihoon, matanya masih sibuk menatap layar laptop.

"Sedang sibuk?" tanya seseorang di seberang telepon.

Jihoon berhenti sebentar, tampaknya ia tahu siapa yang menelepon. Choi Seungcheol.

"Sedikit." jawab Jihoon. "Ada apa, hyung?"

"Aku sudah selesai kuliah, mau makan bersama?"

"Bagaimana, ya?" gumam Jihoon. "Tugasku banyak."

"Begitu, ya?" suara Seungcheol di seberang terdengar kecewa.

Jihoon menggigit bibir bawahnya. Ia mendesah pelan sebelum akhirnya menjawab,

"Baiklah, ayo makan." kata Jihoon.

"Tapi kau sibuk, kan?"

"Aku bisa lanjutkan di rumah. Aku sudah selesai kuliah, temui aku di depan gedung fakultas seni."

"Baiklah, tunggu aku."

Kemudian sambungan telepon di putus oleh Jihoon. Jihoon pun menyimpan pekerjaannya yang bahkan belum setengah, mematikan laptopnya dan memasukkannya kedalam tas, kemudian ia beranjak dari tempat duduk dan pergi meninggalkan kantin.

Jihoon sudah berdiri di depan gedung fakultasnya sejak 5 menit yang lalu. Dan tak lama, sebuah motor sport hitam berhenti di depannya.

"Lama menunggu?" tanya si pengendara, Seungcheol seraya melepas helmnya.

"Baru 5 menit." jawab Jihoon.

Seungcheol kemudian memberikan helm putih pada Jihoon dan langsung dipakai oleh Jihoon. Lalu tanpa disuruh Jihoon naik ke jok belakang motor Seungcheol. Tepat setelah Jihoon naik, Seungcheol segera menyalakan mesin motornya dan pergi dari halaman kampus.

Kepergian Jihoon dan Seungcheol diam-diam dilihat oleh sepasang mata yang menatap mereka dibalik pintu masuk gedung fakultas seni dengan tatapan tidak suka.

~TBC~

.

.

.

mianhae aku telat update karena authornya sibuk bikin cerita buat lomba nulis hehehe :'D

dan yang udah review tapi tidak terbalas reviewnya sama author, maafkan aku karena aku cuma sempat baca tapi gak sempat balas. tugas kuliah membunuhku perlahan~:")

tapi jangan kapok buat review ya

terima kasih~~