STUPID

Author

Macchi~

Rate

T

Cast

Seventeen member

Pairing

Jeongcheol/Soonhoon

Warning(s)

BL

Summary

"Aku rela dikenang sebagai pria brengsek agar kau cepat melupakanku." -Choi Seungcheol-

"Aku membencimu, Choi Seungcheol." -Yoon Jeonghan-


Chapter 7

Jeonghan meruntuki dirinya sendiri. Harusnya ia tidak perlu mengikuti Jihoon keluar dari gedung fakultas kalau ia hanya di suguhi pemandangan tidak menyenangkan yang membuat dadanya sesak nyaris seperti kehabisan nafas.

Hari ini klub vokal hanya rapat membicarakan soal festival musim panas di kampus. Klub vokal memutuskan untuk mengisi acara di pentas seni yang diadakan di festival. Dan rapat tersebut hanya berlangsung sekitar setengah jam. Setelah rapat bubar, sebagian anggota pulang dan sebagian lagi kembali ke kelasnya karena masih ada jadwal kuliah. Jeonghan sendiri sudah menyelesaikan jadwalnya hari ini dan ia bergegas meninggalkan ruang klub. Dan ketika ia melihat Jihoon berjalan kearah pintu keluar gedung fakultas, Jeonghan mengikutinya dengan maksud ingin menjahili Jihoon. Tapi apa yang di perkirakan Jeonghan meleset jauh. Bukan Jihoon yang terkejut, justru ia yang terkejut ketika sosok Choi Seungcheol datang menjemput Jihoon.

"Aku bodoh." gumam Jeonghan sambil terus menyetir mobilnya. Pegangan tangannya pada stir mobil mengerat hingga buku-buku jarinya memerah.

Jeonghan tahu, harusnya ia tidak semarah ini. Tapi apa yang otaknya mau dan hatinya mau tidak sejalan. Jujur walaupun Seungcheol sudah pernah menghancurkannya hingga sehancur-hancurnya dulu, tapi Jeonghan masih tetap memiliki perasaan yang sama untuk Seungcheol. Jauh di dalam hatinya. Hanya saja perasaan itu seringkali tertutup oleh rasa bencinya pada Seungcheol.

Dan tiba-tiba perasaan itu muncul lagi ketika ia melihat sosok Seungcheol untuk pertama kalinya setelah berpisah selama 3 tahun. Tapi perasaan itu muncul dibarengi dengan perasaan sesak atau bisa dibilang cemburu, ketika Seungcheol tersenyum pada Jihoon. Padahal dulu senyum itu hanya milik Jeonghan.

[FLASHBACK]

Jeonghan rebahan di kursi taman dengan kepalanya di paha Seungcheol yang duduk sambil memainkan ponsel. Ia kemudian mengangkat tangan kanannya untuk menghalangi sinar matahari di wajahnya.

Seungcheol yang melihat tingkah Jeonghan, kembali memasukkan ponselnya ke saku jaket kemudian meraih tangan Jeonghan yang terangkat dan menggenggamnya.

"Hei lepaskan, aku sedang menghalangi sinar matahari ke wajahku." protes Jeonghan.

"Kenapa? Takut kulit cantikmu jadi gelap?" tanya Seungcheol.

"Habis kau mengajakku kencan siang-siang begini." kata Jeonghan.

Seungcheol lalu tersenyum manis kearah Jeonghan, membuat pipi Jeonghan memerah hingga telinga. Kemudian Seungcheol mengangkat tangan kirinya diatas wajah Jeonghan, menghalangi sinar mahatari ke wajah Jeonghan.

"Puas sekarang, tuan puteri?" kata Seungcheol masih dengan senyum manisnya.

Jeonghan tertawa pelan melihat tingkah Seungcheol sambil mengangguk. Mata Jeonghan sama sekali tidak lepas dari wajah Seungcheol setelah itu walaupun tawanya sudah mereda dan hanya tersisa senyuman saja di wajah Jeonghan. Seungcheol menatap Jeonghan dengan alis terangkat sebelah.

"Kenapa memandangiku terus?" tanya Seungcheol. "Ada yang aneh diwajahku?"

Jeonghan menggeleng, "Aku suka melihat wajahmu." jawab Jeonghan. "Kau manis saat tersenyum."

Seungcheol kembali tersenyum mendengar Jeonghan memujinya. Lalu menatap Jeonghan tepat di kedua manik mata Jeonghan.

"Jangan terlalu rakus memandangiku terus." kata Seungcheol. "Aku bisa tersenyum kearahmu bahkan tanpa kau minta, karena senyum ini hanya milik Yoon Jeonghan."

Jeonghan tersipu mendengar ucapan Seungcheol. Jeonghan yakin wajahnya sudah merah semerah buah apel yang dibeli Ibunya kemarin atau bahkan lebih merah lagi sekarang.

[FLASHBACK END]

Terhitung sudah hari kelima sejak taruhannya dengan Wonwoo dan Jun. Seungcheol melihat Jihoon yang tengah memesan makanan dari tempatnya duduk. Sebenarnya ia mulai tidak enak pada Jihoon, membuat pemuda manis itu menjadi alat taruhan bodoh Wonwoo dan Jun, tapi ini sudah setengah jalan dan Seungcheol tidak bisa mundur. Dan yang lebih membuat Seungcheol lebih tidak enak adalah ia menggunakan Jihoon sebagai pelampiasannya untuk melupakan seseorang.

Seungcheol sadar kalau saat ia menjemput Jihoon tadi ia sedang diperhatikan oleh seseorang. Pintu masuk gedung fakultas semua sama, pintu kaca. Jadi tidak sulit bagi Seungcheol untuk tahu siapa yang memperhatikannya. Yoon Jeonghan. Manik mata cokelat itu sangat Seungcheol kenal.

Cukup terkejut mendapati Jeonghan mengintip dari balik pintu, memperhatikannya dengan Jihoon, tapi ia tidak mau terlalu larut terbawa perasaan. Jadi Seungcheol cepat-cepat memberikan helm pada Jihoon lalu pergi.

Lamunan Seungcheol buyar ketika Jihoon datang membawa nampan berisi makanan dan meletakkannya diatas meja, sementara Jihoon duduk di hadapan Seungcheol.

"Hyung melamun?" tanya Jihoon.

Seungcheol tersenyum, "Tidak." jawab Seungcheol singkat kemudian mengambil satu bungkus cheese burger miliknya.

"Hari ini aku yang traktir karena hyung sudah mentraktirku minum kopi dulu." kata Jihoon seraya mengambil burger miliknya dari atas nampan.

"Terima kasih." jawab Seungcheol singkat.

Acara makan bersama hari ini sama seperti pertemuan di kafe waktu itu. Seungcheol lebih banyak bicara dan Jihoon hanya menanggapi, sesekali tertawa karena mendengar cerita lucu yang Seungcheol lontarkan.

Seungcheol sendiri semakin merasa bersalah saat melihat Jihoon. Kira-kira yang akan dilakukan Jeonghan jika teman baiknya ia sakiti terang-terangan? Menjadikan seseorang sebagai bahan taruhan memang kejam, Seungcheol akui itu. Bahkan tadinya Seungcheol tidak terarik ikut dalam taruhan ini, tapi teman-teman sialannya itu memaksanya.

"Jihoon-ah, besok apa kau sibuk?" tanya Seungcheol.

Jihoon yang tengah membersihkan mulutnya dengan tisu mendongkakkan kepalanya menatap Seungcheol, kemudian menggeleng.

"Aku selesai kuliah jam 3 sore dan setelah itu tidak melakukan apa-apa, kecuali mengerjakan tugas." jawab Jihoon.

"Ada yang ingin aku katakan besok. Temui aku di ruang musik." kata Seungcheol.

Jihoon tertawa pelan, "Kenapa tidak sekarang saja, hyung?"

Seungcheol menggeleng, "Besok aku akan memberitahunya."

Jihoon kemudian mengangguk mengerti, "Ya, selesai kuliah aku akan pergi ke ruang musik."

Kemudian keduanya kembali sibuk memakan makanannya, diselingi Seungcheol yang cerita dan gelak tawa Jihoon.

.

.

Malamnya seperti biasa Jeonghan tengah memasak makan malam di dapur setelah ia selesai mandi. Tapi karena ia terlalu malas untuk memasak, jadilah Jeonghan hanya memasak makanan seadanya. Ramyeon dan pancake kimchi.

TING TONG!

Bunyi bel apartement Jeonghan membuat kegiatan memasak Jeonghan terhenti sebentar. Jeonghan pergi ke pintu depan dan membukakan pintu.

"Apa yang kau lakukan disini malam-malam?" tanya Jeonghan begitu melihat sosok Soonyoung berdiri di depan apartementnya.

Soonyoung tidak menjawab, ia melenggang masuk sebelum dipersilahkan oleh pemiliknya. Jeonghan menghela nafas sebelum menutup kembali pintu depan apartementnya.

"Cepat katakan apa yang kau lakukan disini, Soonyoung?" tanya Jeonghan lagi.

"Hyung, biarkan aku menginap disini." kata Soonyoung dengan wajah murung.

Jeonghan tahu ekspresi itu. Pasti ada masalah lagi di rumah Soonyoung. Jeonghan tidak berteman dengan Soonyoung dua-tiga hari, jadi Jeonghan tahu semua masalah Soonyoung karena Soonyoung sendiri tidak keberatan menceritakan itu pada Jeonghan.

Jeonghan kemudian duduk di samping Soonyoung dan menepuk pundaknya pelan,

"Ada apa lagi?" tanya Jeonghan hati-hati.

"Ayahku mengamuk lagi." jawab Soonyoung. "Ibuku juga pergi dari rumah. Kurasa pergi ke rumah nenekku, dan entah kapan akan pulang. Karena aku tidak mau babak belur, jadi sebelum aku menginjakkan kakiku masuk ke rumah, aku cepat-cepat pergi."

"Kali ini apa masalahnya?"

Soonyoung tersenyum getir, pahit memang menceritakan masalah keluarganya yang kadang Soonyoung pikir memalukan, tapi Jeonghan selalu mengatakan jika ia menyimpan sendiri masalahnya, ia akan berakhir di salah satu bangsal rumah sakit jiwa.

"Biasa, pertengkaran suami istri." jawab Soonyoung singkat.

Jeonghan diam, berharap Soonyoung mau menceritakannya.

"Bahkan dari radius 50 meter teriakan orangtuaku sudah aku dengar, padahal aku ada di dalam mobil. Dan dari yang aku dengar, Ayahku 'lagi-lagi' menuduh Ibuku selingkuh dengan rekan kerjanya. Ibuku marah karena merasa di mata-matai oleh Ayahku, tapi Ayahku lebih marah dan sepertinya menampar Ibuku karena aku melihat dari kaca mobilku, Ibu lari keluar dari rumah, menangis sambil memegangi pipinya lalu pergi dengan mobil." Soonyoung cerita dengan nada sedih, tapi ia tersenyum.

Jeonghan sudah terbiasa mendengar cerita ini dari Soonyoung. Kedua orangtua Soonyoung memang tidak akur dan sering bertengkar. Karena itulah Soonyoung sering kabur dari rumah dan selalu menginap di rumah Jeonghan. Untungnya keluarga Jeonghan tidak keberatan menerima Soonyoung tanpa banyak bertanya. Memar di tangan, punggung, dan bahkan bekas tamparan di pipi sudah biasa Jeonghan lihat pada Soonyoung. Jeonghan tahu Soonyoung hanya mencoba melawan, membela Ibunya yang Soonyoung yakin tidak salah, tapi Ayahnya yang bar-bar tidak peduli dan lebih memilih melakukan kekerasan.

"Menginaplah disini beberapa hari." kata Jeonghan akhirnya, kemudian berdiri dari tempatnya duduk.

"Aku sedang masak ramyeon dan pancake kimchi, mandilah lalu makan bersama." sambung Jeonghan seraya pergi meninggalkan Soonyoung menuju dapur.

Jeonghan kembali sibuk memasak pancake kimchi yang sebentar lagi selesai ketika Soonyoung pergi ke kamar tamu dan menutup pintunya rapat. Jeonghan menghela nafas, ia merasa kasihan pada Soonyoung. Anak itu anak baik yang kurang kasih sayang. Ia bertindak hyperaktif dan selalu mencari perhatian karena ia tidak mendapatkan itu di rumah. Hanya Jeonghan yang jadi teman bicara Soonyoung selama ini karena Jeonghan tidak banyak bertanya dan hanya mendengarkan. Mungkin itu yang membuat Soonyoung nyaman bicara dengan Jeonghan dibanding dengan teman-temannya yang lain.

Besoknya Soonyoung tidak mau pergi ke kampus dengan mobilnya, akhirnya Jeonghan dengan berbaik hati membiarkan Soonyoung pergi ke kampus bersama naik mobilnya.

"Ada apa ini? Kenapa Soonyoung ada disini juga?" tanya Jihoon ketika naik ke mobil Jeonghan.

Soonyoung yang duduk di kursi belakang tidak menjawab. Sejak semalam wajahnya murung dan tanda-tanda akan tersenyum belum terlihat.

"Hyung, kenapa anak itu menumpang mobilmu?" tanya Jihoon pada Jeonghan yang sibuk menyetir.

"Biarkan dia, Jihoon-ah." jawab Jeonghan seadanya.

Jihoon mendengus, kemudian tidak bertanya lagi dan justru sibuk dengan ponselnya sepanjang jalan menuju kampus.

Tidak seperti biasanya, jalanan kota Seoul hari ini cukup lenggang, membuat perjalanan lebih cepat 10 menit dari biasanya. Begitu Jeonghan memarkirkan mobil dan mematikan mesin mobil, Soonyoung segera turun tanpa bicara apapun kepada Jeonghan ataupun Jihoon. Soonyoung berjalan cepat dengan kepala tertunduk dan hilang dibalik pintu gedung fakultas.

Tak lama setelahnya Jeonghan dan Jihoon turun bersamaan dari mobil, berjalan beriringan seperti biasa.

"Ada yang aneh dengan Kwon Soonyoung." gumam Jihoon pelan tapi agaknya masih cukup keras untuk didengar Jeonghan yang berjalan di sampingnya.

"Kau khawatir?" goda Jeonghan sambil tersenyum jahil.

"Ti...tidak!" seru Jihoon terbata. "Kenapa aku harus khawatir dengannya?"

Jeonghan tidak menjawab, ia malah tersenyum sambil menatap Jihoon disebelahnya yang mulai salah tingkah karena pertanyaannya barusan. Padahal Jeonghan hanya menggoda Jihoon.

Jeonghan berpisah dengan Jihoon ketika mereka melewati ruang kelas Jihoon.

"Kalau sudah selesai telepon aku, ayo minum kopi bersama." kata Jeonghan.

"Hyung selesai lebih awal hari ini, kan?" tanya Jihoon.

Jeonghan mengangguk, "Tapi aku harus menemui dosenku dulu." sambungnya kemudian.

"Baiklah, kalau sudah selesai aku akan kabari hyung." kata Jihoon lalu pergi masuk kedalam kelasnya.

Jeonghan sendiri karena kelas pertamanya mulai jam 10 pagi, ia masih punya waktu untuk santai-santai di perpustakaan sambil baca buku atau sekadar curi-curi waktu untuk tidur di kursi favoritnya yang jarang sekali di datangi oleh mahasiswa lain karena tempatnya yang agak jauh dari lampu tapi cukup dekat dari jendela.

Jeonghan duduk di kursi favoritnya sambil memegang buku novel roman picisan yang selalu dibilang 'memuakkan' oleh Jihoon. Jeonghan membaca lembar demi lembar novel tersebut sampai getar ponselnya menginterupsi kegiatan baca Jeonghan. Jeonghan merogoh tasnya untuk mengambil ponselnya.

"Halo."

"Hyung dimana?" terdengar suara Soonyoung di seberang telepon.

"Perpustakaan. Kenapa?"

"Senang sekali sih kesana." gerutu Soonyoung.

"Kau itu kenapa marah-marah?"

"Temani aku hyung."

"Hei, bukankah kau ada kuliah pagi?"

"Tidak mood."

"Soonyoung kau sudah buat onar di kelas composing, sekarang mau buat onar lagi?"

"Aku bilang aku hanya tidak mood. Lagipula aku hanya bolos sekali."

"Kau dimana?" tanya Jeonghan akhirnya, tidak tega mengingat apa yang terjadi pada anak itu semalam.

"Taman belakang."

"Sedang apa disana? Cari hantu? Disana kan sepi sekali."

"Duduk dibawah pohon besar, tidak melakukan apa-apa."

Jeonghan menghela nafas sebelum menjawab, "Baiklah tunggu aku, aku akan kesana."

Kemudian Jeonghan memutus sambungan teleponnya dengan Soonyoung, mengambil tasnya dan tidak lupa dengan novel yang sedang ia baca karena ia sudah pinjam novel itu, lalu ia keluar dari perpustakaan.

Soonyoung duduk di bawah pohon besar di taman belakang gedung fakultas seni. Taman belakang adalah satu-satunya tempat yang tidak ramai dan tidak banyak orang ingin kesini, bahkan malah tidak ada karena disini terlalu jauh dari keramaian. Tak jauh dari pohon besar tempat Soonyung berteduh, ada gudang yang berisi barang-barang rusak seperti kursi, meja, speaker, microfon, bahkan ada beberapa alat musik rusak yang diletakkan disana.

Soonyoung tahu tempat ini cukup menyeramkan, bahkan pada siang hari, tapi ia lebih tidak mau berada di keramaian sekarang ini. Ia ingin menghilang dari keramaian sebentar saja, mengistirahatkan kepalanya yang panas. Ia sudah meminta Jeonghan untuk datang dan menemaninya karena bagaimanapun juga suasana sepi begini cukup membuat Soonyoung merinding.

"Apa tidak ada tempat lain untuk menyendiri?" Soonyoung membuka matanya ketika ia mendengar sebuah suara.

Sosok Jeonghan sekarang sudah berdiri di depannya, menenteng tas di bahu kiri dan sebuah novel di tangan kanan.

"Tidak ada tempat sepi yang lain." jawab Soonyoung seraya menggeser tubuhnya, agar Jeonghan bisa duduk di sampingnya.

Jeonghan menjatuhkan tasnya lebih dulu, lalu ia duduk disamping Soonyoung sambil memangku novel pinjamannya diatas paha.

"Kenapa harus disini?" tanya Jeonghan.

"Disini sepi dan tidak ada yang menggangguku." jawab Soonyoung.

"Bukankah kau yang selalu mengganggu orang?" sindir Jeonghan.

Soonyoung diam sambil tersenyum. Jeonghan lalu menepuk pundak Soonyoung pelan.

"Sudah jangan sedih terus. Semuanya pasti kembali normal." kata Jeonghan.

"Aku bahkan tidak tahu kapan harus pulang." jawab Soonyoung.

"Aku juga tidak tahu apakah kalau aku pulang, Ayah akan memukuliku atau tidak. Apa Ayah akan memarahiku lagi atau tidak." sambung Soonyoung.

Tangan Jeonghan yang tadi di pundak Soonyoung turun ke punggung Soonyoung dan mengelus pelan punggung Soonyoung, berharap bisa membuatnya sedikit tenang.

"Kau bisa di apartementku beberapa hari." kata Jeonghan.

"Apa aku merepotkan?" tanya Soonyoung.

Jeonghan menggeleng sambil tersenyum, "Tidak." jawabnya.

"Ingin rasanya pergi dari rumah." kata Soonyoung. "Tapi kalau aku pergi, Ibuku akan dihajar Ayah dan tidak ada yang membelanya."

"Kau tahu, Soonyoung? Kau itu anak baik." kata Jeonghan. "Kau membela Ibumu dan yakin kalau Ibumu tidak seperti apa yang dituduhkan Ayahmu."

Soonyoung menatap Jeonghan yang tersenyum padanya, "Hyung benar." katanya.

"Jadi kau harus kuat." kata Jeonghan. "Menjadi orang lemah hanya akan membuat Ibumu sakit."

Soonyoung menghela nafas panjang. Kemudian ia mengangguk. Soonyoung sebenarnya memang sudah tidak tahan tinggal dirumahnya sendiri, tapi kalau ia pergi, Ibunya akan dihajar oleh Ayahnya. Soonyoung anak tunggal, dan Ibunya hanya bisa bergantung pada Soonyoung.

Tiba-tiba Soonyoung berdiri, membuat Jeonghan sedikit tersentak.

"Ayo pergi, hyung." kata Soonyoung kemudian. "Aku...lapar."

.

.

Setelah menemani Soonyoung makan di kantin tadi, Jeonghan akhirnya pergi karena harus masuk kelas. Sebenarnya Jeonghan tidak tega meninggalkan Soonyoung, tapi Jeonghan juga tidak mau membolos kelas. Baiknya Soonyoung mengerti kalau Jeonghan tidak mau ikut membolos kelas seperti dirinya. Dan lagi Jeonghan bilang akan mentraktir Soonyoung minum kopi nanti, jadi Soonyoung dengan senang hati melepas Jeonghan untuk masuk kelas.

Di jalan menuju kelasnya, Jeonghan kebetulan bertemu dengan Jihoon yang sepertinya baru selesai kelas.

"Jihoon-ah!" panggil Jeonghan.

Jihoon yang melihat Jeonghan langsung mempercepat jalannya kearah Jeonghan, "Hyung baru mau ke kelas?"

Jeonghan mengangguk, "Kau sudah selesai?"

"Begitulah. Tapi nanti siang aku ada kelas lagi."

"Hei, boleh minta tolong?" tanya Jeonghan.

"Apa?"

"Temani Soonyoung di kantin."

Jihoon menaikkan alisnya sebelah, "Temani siapa? Soonyoung? Kwon Soonyoung maksudnya?"

Jeonghan mengangguk, "Dia sedang ada masalah. Kau hanya perlu duduk saja disana menemani. Tidak perlu ajak dibicara, kalau dia tidak bicara. Kalau dia bicara duluan, tanggapi saja jangan didiamkan." jelas Jeonghan.

Jihoon menatap Jeonghan dengan ekspresi bingung, tapi kemudian mengangguk. Jeonghan menepuk pundak Jihoon sambil tersenyum,

"Tolong ya, Jihoon-ah!" seru Jeonghan kemudian pergi meninggalkan Jihoon.

Jihoon pun menuruti apa yang disuruh Jeonghan tadi, ia segera berjalan menuju kantin dan benar saja, disana duduk sendirian seorang Kwon Soonyoung, tidak bicara, tidak melakukan sesuatu, hanya duduk. Diatas meja ada segelas milkshake cokelat tinggal setengah. Jihoon pun mendekati meja Soonyoung lalu duduk dihadapan Soonyoung, membuat pemuda itu tersentak karena kehadian Jihoon yang tiba-tiba.

"Kau...kenapa bisa kesini?" tanya Soonyoung.

"Tidak boleh, ya?" tanya Jihoon balik. "Tidak suka aku disini?"

Soonyoung sontak segera menggeleng, "Tidak apa-apa, disini saja." jawabnya.

Jihoon kemudian meletakkan tasnya diatas meja. Tangannya sibuk merogoh tas lalu mengeluarkan laptop.

"Kuharap kau tidak lupa tugas kita." kata Jihoon seraya menyalakan laptopnya.

"Tugas? Tugas apa?" tanya Soonyoung.

"Sudah kuduga otakmu bebal total." kata Jihoon membuat Soonyoung terdiam.

"Tugas composing berpasangan." jawab Jihoon kemudian. "Aku tidak mau nilaiku turun drastis karenamu, jadi kuharap kau bisa diajak kerja sama sekarang."

Soonyoung menghela nafas, tangannya sibuk mengaduk isi gelas milkshakenya dengan sedotan, ia memandang malas kearah laptop Jihoon.

"Maaf tapi bisakah kita kerjakan lain waktu?" tanya Soonyoung. "Aku tidak mood."

Jihoon hendak melayangkan omelan kearah Soonyoung tapi terhenti karena ia teringat kata-kata Jeonghan.

"Dia sedang ada masalah. Kau hanya perlu duduk saja disana menemani. Tidak perlu ajak dibicara, kalau dia tidak bicara. Kalau dia bicara duluan, tanggapi saja jangan didiamkan."

Jihoon menatap Soonyoung yang sekarang menundukkan kepalanya. Tangannya masih sibuk mengaduk isi gelas milkshakenya yang tinggal setengah. Kemudian Jihoon menutup laptopnya yang sudah menyala.

"Kau ada masalah?" tanya Jihoon.

Soonyoung mendongkakkan kepalanya menatap Jihoon, "Kau mau tahu?"

"Kalau kau tidak mau cerita, untuk apa aku mau tahu, percuma kan?"

Soonyoung tersenyum, tapi Jihoon bisa lihat senyumannya bukan senyuman bahagia seperti yang biasa Jihoon lihat. Kali ini senyumannya sangat sedih.

"Aku mau tanya, Jihoon-ah. Apa hubunganmu dengan orangtuamu baik?" tanya Soonyoung.

"Well, walaupun aku jarang bicara dengan mereka karena tidak tinggal bersama, tapi aku tidak punya masalah. Hubungan kami baik." jawab Jihoon.

"Bagaimana dengan Ayahmu? Apa hubungan kalian baik?"

"Ayahku orang yang tertutup. Beliau jarang bicara denganku, lebih banyak dengan Ibuku. Tapi beliau tidak pernah punya rahasia, jadi kuanggap hubungan kami baik." jelas Jihoon.

Soonyoung tersenyum, "Aku iri." gumamnya pelan, tapi Jihoon bisa mendengarnya walaupun samar.

"Ada apa?" tanya Jihoon kemudian.

"Tidak ada apa-apa." jawab Soonyoung.

Kemudian keduanya diam tidak bicara lagi. Jihoon menuruti Jeonghan dengan tidak mengajak Soonyoung bicara kalau anak itu tidak bicara duluan, jadi suasana diantara keduanya benar-benar hening karena tidak ada yang bicara.

.

.

Jihoon sudah menyelesaikan kuliah terakhirnya hari ini, dan jam sudah menunjuk pukul 3 sore. Jihoon ingat kalau ia ada janji dengan Seungcheol di ruang musik.

Jihoon mengetik pesan untuk Jeonghan sebelum meninggalkan kelasnya,

To : Jeonghan hyung

Aku ada perlu sebentar di ruang musik, kalau aku sudah selesai nanti kuhubungi lagi. Hyung tunggu saja di mobil. Hyung janji mengajakku minum kopi, kan?

Setelah menekan tombol send, Jihoon segera pergi meninggalkan kelasnya menuju ruang musik. Jihoon memikirkan apa yang akan dikatakan Seungcheol padanya sampai harus membuat janji dulu dan kenapa juga tidak dikatakan kemarin saat mereka makan bersama? Apa sangat penting? Atau sangat rahasia?

Jihoon benar-benar penasaran, ia pun melangkahkan kakinya semakin cepat karena jarak kelasnya dan ruang musik cukup jauh. Jihoon tidak suka membuat orang menunggunya, dan lebih memilih ia yang menunggu daripada ditunggu.

10 meter lagi sampai, langkah kaki Jihoon harus terhenti karena ponselnya berdering. Jihoon merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya. Sebuah pesan balasan dari Jeonghan.

From : Jeonghan hyung

Baiklah. Aku juga harus bertemu dosenku dulu. Jika sudah selesai dengan em...keperluanmu, hubungi aku.

Jihoon hanya membaca dan tidak membalas lagi. Kemudian Jihoon kembali memasukkan ponselnya kedalam saku celananya dan kembali berjalan menuju ruang musik.

Dari kejauhan Jihoon bisa lihat kalau pintu ruang musik terbuka walaupun hanya sedikit. Jihoon yang sudah berada di depan pintu pun mengintip lewat celah, apakah yang ada di dalam Seungcheol atau orang lain.

Jihoon menatap siluet seseorang di dalam ruang musik, siluet pemuda tinggi dengan rambut hitam yang agak berantakan, celana jeans, dan jaket kulit hitam. Tidak perlu berpikir dua kali Jihoon sudah tahu kalau itu Seungcheol. Jihoon pun segera masuk ke ruang musik.

"Hyung," panggil Jihoon, membuat pemuda yang tengah memandangi alat musik disana berbalik kearah Jihoon.

"Oh! Jihoon-ah, kau sudah datang." kata Seungcheol.

"Sudah lama?" tanya Jihoon.

"Tidak, baru 5 menit."

"Jadi, apa yang mau hyung katakan?"

Seungcheol berjalan perlahan mendekati Jihoon, dan ketika jarak mereka hanya 5 langkah, Seungcheol berhenti. Ia menatap Jihoon, kemudian mulai bersuara,

"Jihoon-ah, aku..."

~TBC~

.

.

.

aku balik mengupdate ff ini. aku kasih tau aja ya chapter depan adalah chapter terakhir.

dan aku liat review kalian banyak yang ngira kalau seungcheol brengsek, tapi enggak kok. aku kasih tau nih CHOI SEUNGCHEOL ITU GAK BRENGSEK KAWAN KAWAN

di chapter depan akan author kasih tau kenapa dia sok sokan jadi playboy.

ditunggu chapter selanjutnya ya~

jangan lupa tinggalkan review seperti biasa~~~~