Mereka sama-sama lebih dari sekedar suka. Mereka tahu ini salah, jadi mereka perlu saling menjauh. Tapi kedua tangan itu selalu kembali untuk saling bertaut

.

.

Two Holding Hands

aspartam

NCT, SMRookies © SM Ent.

Contains typo(s), OOC, AT, BxB

Taeyong x Yuta fic, I've warned you

.

.

Katakanlah Yuta adalah salah satu orang paling tidak peka di antara para trainee. Yang lain memang memaklumi dengan asumsi ia adalah pendatang dari luar, jadi mungkin ada banyak hal yang ia tak begitu paham di Korea membuatnya kurang pada inisiatif dan kepekaan. Sekalipun Yuta memang tidak peka, bukan berarti ia tak menyadari perubahan sikap Taeyong padanya beberapa hari terakhir, apalagi ia adalah roommate dari Taeyong sendiri.

Yuta menyadari Taeyong bersikap seolah menjauhinya. Taeyong hampir selalu menolak sentuhan Yuta. Taeyong memilih menempel pada Ten daripada dirinya. Taeyong tidak mengomel banyak ketika ia mengusiknya. Taeyong tidak berinisiatif mengajarinya gerakan dance yang cukup sulit membuatnya terpaksa merepotkan Hansol. Taeyong bahkan enggan menatapnya. Yuta tak mengerti, apa dia membuat kesalahan? Oke, ia memang banyak berkata pedas atau berbuat usil, tapi bukankah Taeyong memakluminya?

Perbuahan sikap Taeyong diam-diam membuatnya frustasi. Hatinya terasa sakit.

Maka, setelah sedikit berkonsultasi dengan Hansol, Yuta memutuskan untuk bertanya.

.

.

"Taeyong-ah." Yuta menghampiri Taeyong yang sedang berbaring di atas tempat tidur miliknya. Mungkin kelelahan mengingat latihan hari ini sedikit lebih berat dari biasanya.

Yang dipanggil hanya menoleh sebentar lalu membalikkan badannya membelakangi Yuta. "Aku lelah. Kalau ingin membicarakan sesuatu lebih baik besok saja." Yuta mendengus kesal. Begitu kesalnya sampai ia membanting pintu kamar mereka sebelum melangkah kasar mendekati Taeyong. Masa bodoh jika suara debaman yang dihasilkan akan mengundang omelan penghuni dorm lain setelah ini.

Taeyong sendiri begitu terkejut. Ia bahkan sudah mendudukkan dirinya, memicing heran pada Yuta yang tergesa menuju ke arahnya. "Jangan bercanda!" Nada suara Yuta melengking naik. Jemari kurusnya meraih kerah baju Taeyong. "Kau menghindariku seminggu terakhir. Apa masalahmu?!"

Taeyong menarik kasar tangan Yuta yang mencengkram kuat pada kerah bajunya. "Aku tak ada masalah apa pun padamu. Kuyakin ini semua hanya perasaanmu."

Rahang Yuta mengeras kesal. Baru saja ia hendak bersuara, pintu kamar mereka dibuka dengan kasar membuat keduanya spontan menoleh ke arah sana.

Rupanya, Johnny adalah pelakunya dan diikuti beberapa adiknya yang mengintip penasaran. "Kalau kalian ingin ribut, cari tempat lain. Kami semua ingin tidur dan butuh istirahat." Tatapan Johnny sangat tajam, siapapun pasti ciut melihatnya. Pemuda asal Chicago itu memang kakak kesayangan semua orang tapi dia adalah yang paling seram jika marah. Yuta dan Taeyong bukan pengecualian. Mereka saling memandang sebentar sebelum membuat jarak. Dalam diam, mereka menuruti perkataan Johnny. Sempat juga mereka melempar tatapan rasa bersalah pada makhluk-makhluk yang mengintip dari balik punggung Johnny.

Merasa perkataannya dituruti, Johnny mengangguk-angguk kecil. Membalikkan badannya untuk kembali ke kamarnya sendiri. Ini sudah lewat tengah malam, jadi ia butuh tidur. "Ayo, kalian semua juga butuh tidur, kan?" serunya pada Ten, Doyoung dan Jaehyun yang ikut mengintipi pertengkaran dua penghuni kamar itu. Para minirookies sudah dipaksa tidur sejak jam 10 tadi, omong-omong.

"Tapi aku mau lihat Yuta-hyung membentak Taeyong-hyung. Jarang-jarang, kan?" Ten kelepasan mengutarakan isi hati, tahu-tahu mendapat pelototan tajam dari Johnny. Doyoung yang melihat Ten merasa kecil mendapat pelototan itu berusaha keras menahan tawa sebelum menarik Jaehyun pergi dari sana. Jaehyun sendiri sepertinya masih belum rela beranjak, tapi sebagai adik yang baik dia terpaksa menurut.

.

.

Yuta menghela napas begitu keempat orang itu menghilang dari pandangannya. Ia kembali menutup pintu, mungkin sudah saatnya dia juga tidur. Kepalanya pusing, tapi melihat Taeyong yang tidak acuh membuatnya tambah pusing. Ia masih merasa geram dan ia tidak suka tidur dengan sesuatu yang masih mengganjal di hati karena ia tidak suka bermimpi buruk. Ia menatap Taeyong yang seolah ingin menyembunyikan diri dari pandangan Yuta dengan menyelimuti seluruh badannya sampai kepala. Tatapan Yuta makin lama makin menampakkan gurat kesedihan. Tidak tahan, ia kembali menghampiri sahabatnya itu. Kali ini tidak penuh emosi seperti sebelumnya. Pelan-pelan sampai Taeyong sendiri terkejut karena merasakan sisi ranjangnya berdecit, menandakan seseorang duduk di sana yang tak lain sudah pasti Yuta.

"Ada apa?" Vokal Taeyong terdengar sarkastik di telinga Yuta.

"Harusnya aku yang bertanya."

Taeyong menyembulkan kepalanya dari selimut. Langsung melemparkan tatapan penuh tanda tanya pada pemuda brunette di hadapannya meski tak sampai dua detik ia langsung mengalihkan pandangan. Entahlah, ia merasa tak nyaman melihat tatapan Yuta yang terlihat tersakiti.

"Ini bukan perasaanku saja, Taeyong. Kau menjauhiku. Apa aku berbuat salah?"

Taeyong tidak lantas menjawab, sesungguhnya ia sangat ingin tidak menjawab. Tapi Yuta menunggunya, tatapan itu juga menyakitinya. Tak punya pilihan lain, Taeyong bangkit dari posisi berbaringnya, duduk menghadap Yuta. Memberanikan diri menatap lurus pada manik almond favoritnya. "Aku memang menjauhimu. Tapi kau tidak salah apa-apa, jangan khawatir."

"Lalu kenapa?"

Taeyong tercekat. Ia sudah menduga pertanyaan seperti ini akan datang, justru aneh jika ia tidak ditanyai alasannya. Tapi demi Tuhan, Taeyong masih belum siap hati untuk jujur.

"Lee Taeyong?" Tak kunjung dijawab, Yuta mulai menuntut.

Taeyong menghirup napas dalam-dalam. Ia meraih tangan Yuta, menggenggamnya erat. Badannya membungkuk dalam seolah tengah memohon ampun. "Maafkan aku. Aku..."

Merasa aneh, Yuta berusaha menarik tangannya. Tapi genggaman Taeyong sangat erat, ia tak bisa berbuat apa-apa. "Tunggu, apa yang terjadi?" Raut muka Yuta berubah khawatir. Jika Taeyong sampai seperti ini, artinya pemuda itu benar-benar terpuruk dan rasa bersalah menjalar di hati Yuta dalam sekejap karena tak menyadari beban yang dialami sahabatnya.

"Aku tahu ini salah, tapi aku tidak bisa menahannya."

"Maka dari itu aku bertanya apa yang terjadi."

"Kau akan menjauhiku kalau aku mengatakannya."

"Ya, kata orang yang menjauhiku lebih dari seminggu terakhir." Yuta merotasi bola matanya kesal. "Ayolah, kau pikir dengan semua yang kau lakukan selama ini masih ada hal yang bisa membuatku menjauh darimu?"

Taeyong menegakkan tubuhnya, tangan masih menggenggam milik Yuta. "Ada," jawabnya tegas.

Yuta tertegun, tak menyangka bahwa Taeyong benar-benar menyanggahnya setegas itu. "Apa?"

Taeyong menutup kedua matanya, alisnya saling bertaut menandakan ia benar-benar butuh mengumpulkan segala keyakinan yang ia punya. Yuta bisa merasakan genggaman tangan Taeyong mengerat. Ia bahkan bisa merasakan tangan itu basah oleh keringat dingin.

"Yuta, aku menyukaimu."

"Hah? Oh, baiklah. Terima kasih?"

Yuta mengerjap bodoh, Taeyong menggeram kesal. Bahkan tadi Taeyong sempat hampir membanting kepalanya ke dinding terdekat. "Cih, sama-sama." Taeyong melepas genggaman tangannya pada Yuta dengan kasar. Mengundang keheranan pada diri pemuda yang lainnya.

"Tunggu, apa? Setelah suka padaku lalu apa? Kau belum menjawab kenapa aku bisa menjauhimu, kan?"

Taeyong memandangnya dengan tatapan tidak percaya. "Yang benar saja, Yuta?"

"Apa?" Yuta heran. Serius, memang apa yang salah?

Tanpa sadar Taeyong menoyor kepala Yuta dan tentu saja disambut ringisan dan protes dari pemuda osaka itu. "Ya Tuhan, kenapa aku bisa jatuh cinta pada orang sebodoh ini?" Taeyong mengadahkan tangan memohon petunjuk dari Yang Maha Kuasa.

Di sisi lain Yuta hendak melayangkan protes, tolong, dia bukan orang bodoh. Walaupun dulu langganan kelas tambahan musim panas saat masih sekolah dulu, ia tetap saja bukan orang bodoh. Tapi semua kata-kata kasar yang hendak dilayangkannya ditelan begitu saja saat menyadari ada yang mengganjal dalam kalimat Taeyong. "Hei, aku salah dengar, kan? Kau..." Yuta menggaruk pipinya canggung. "...j-jatuh cinta, err, padaku?"

Taeyong diam saja pada awalnya. Ia menatap Yuta penuh arti. "Kau tidak salah dengar." Ia tersenyum miris.

Yuta membulatkan matanya. Belah bibirnya terbuka, tapi kemudian terkatup lagi. Gestur tubuhnya tampak panik karena terlalu terkejut. Taeyong yang menyaksikan itu tertawa kecil. Bisa-bisanya ia menganggap pemandangan Yuta yang terkesiap begitu manis. "Aku menyukaimu, Yuta. Dalam artian lebih dari teman."

Yuta masih belum benar-benar mengerti keadaan ini. Ia masih terlalu terkejut dan Taeyong maklum. Reaksi yang wajar. Sekalipun Yuta menganggapnya menjijikkan setelah ini, ia tidak akan terkejut. Baguslah, setidaknya ia punya alasan nyata untuk menjauhi pemuda itu. "Bagaimana? Kau terkejut, kan? Silakan menjauh dariku. Aku tahu, aku menjijikkan." Taeyong memandang Yuta yang kebingungan dengan senyum yang sulit diartikan. Senyum tulus karena lega sudah mengutarakan isi hati, sekaligus senyum pahit karena menduga ini adalah kalimat terakhir yang bisa ia ucapkan pada Yuta.

Tapi hebatnya, Nakamoto Yuta selalu berhasil membuatnya jauh lebih terkejut. Selalu. "Aku memang terkejut." Yuta akhirnya bersuara. Bahkan ia membalas tatapan Taeyong. Taeyong bersumpah tidak menyangka bisa mendapati Yuta memandanginya malu-malu. "Tapi aku sama sekali tidak jijik."

"Eh?" Taeyong melongo.

"Sebaliknya aku senang kau punya perasaan yang seperti itu padaku."

Hening untuk beberapa detik. "Maaf?"

Yuta menautkan jari pertanda ia merasa gugup. Jarang-jarang melihatnya seperti ini mengingat ia orang yang kelewat penuh percaya diri. "Kau tahu? Saat dijauhi olehmu aku benar-benar sedih. Tapi saat mengetahui alasanmu, aku merasa bahagia. Benar-benar bahagia." Yuta meneguk salivanya sendiri karena tenggorokannya tiba-tiba terasa kering. "Menurutmu kenapa?"

Giliran Taeyong yang menatap tidak percaya. "Jangan bercanda, Nakamoto. Pernyataanku barusan itu benar-benar serius."

"Akupun begitu!" Yuta menyela setengah berteriak. Masa bodoh, jika Johnny datang untuk mengomel lagi. Lagipula ia sudah kunci pintu kamar, kok. Jadi Johnny tidak akan bisa mendobrak masuk. "Apa menurutmu aku tidak punya perasaan yang sama denganmu?"

Tepat setelah Yuta mengakhiri kalimat tanyanya, Taeyong menarik lengannya hingga membuat Yuta terpaksa jatuh di ranjang Taeyong. Di detik berikutnya, pemuda yang lebih tua menindih dan mengunci pergelangan tangan di kedua sisi kepala coklat milik Yuta. Taeyong melempar tatapan tajam seakan bisa membunuh lelaki di bawahnya saat ini juga. "Aku tidak main-main, Nakamoto Yuta. Kalau kau berkata seperti itu, semua pertahananku bisa runtuh. Aku bisa menyerangmu saat ini juga."

Yuta tidak gentar oleh tatapan Taeyong, apalagi kata-katanya. Tapi ia tak bisa pungkiri bahwa dirinya gugup sedekat ini dengan Taeyong. Ditindih pula. "Aku pun tidak main-main, Lee Taeyong. Aku memang tak menyadarinya selama ini. Tapi aku berkata jujur dan maka dari itu aku bertanya, tidakkah kau pikir perasaan kita sama?"

Taeyong menyerah untuk terus menatap Yuta. Ia menenggelamkan wajahnya di perpotongan leher dan pundak milik Yuta. Tidak ada yang berbicara di antara keduanya saat itu. Mungkin terlalu gugup karena sedekat ini setelah saling menyatakan perasaan. Detak jantung bahkan dapat dirasakan jelas oleh masing-masing dari mereka. Perlahan cengkraman Taeyong dari pergelangan tangan Yuta berpindah tempat dan menggantinya sebuah genggaman lembut pada telapak tangan. Persis seperti saat-saat di mana ia biasa mencoba memberi kenyamanan pada Yuta yang merasa terpuruk. Jemari Taeyong diselipkan di antara jari-jari milik Yuta. Perlahan juga, Yuta membalas genggaman itu sama lembutnya. "Kau tidak tahu betapa bahagianya aku saat ini." Taeyong berbisik di telinga Yuta.

Yuta terkekeh sebelum tersenyum lebar. Senyuman yang disukai semua orang. "Aku memang tidak tahu. Karena aku bahkan tidak percaya pernyataan kita itu nyata."

Taeyong menurunkan badannya dari atas Yuta, ia pikir Yuta mungkin saja keberatan karena telalu lama ditindihnya. Ia merebahkan diri di sebelah Yuta tapi tautan tangan mereka yang bersisian tetap tidak terputus. "Aku berharap ini tidak nyata. Karena jika ini nyata, perasaan ini akan terus tumbuh berkembang."

Yuta menoleh ke arah Taeyong berbaring. Matanya mengerjap tidak mengerti. Taeyong tampak bahagia sekarang. Tapi Yuta menyadari senyum Taeyong tak sepenuhnya mengandung kegembiraan. Pancaran mata Taeyong menyiratkan kekhawatiran.

"Perasaan ini salah." Taeyong menuturkan.

Napas Yuta tercekat. Baru saja ia kasmaran, sekarang harus kembali pada kenyataan. Ah, Yuta membenci realita lebih dari apapun untuk saat ini. Taeyong tak perlu menjabarkan apa yang salah dari mereka berdua. Keduanya adalah laki-laki secara fisik, mental dan biologis. Sudah jelas apa yang salah di sini.

"Benar juga. Sekalipun kita pindah kewarganegaraan ke tempat Johnny-hyung, ibuku akan protes karena tidak mendapat cucu dariku."

Taeyong menyemburkan tawa. "Pikiranmu melayang terlalu jauh, Yuta!" Tawanya masih berlanjut beberapa saat setelahnya. "Jangan pikirkan kehidupan domestik. Pikirkan saja karirmu, tidak akan mudah menerima idola yang memiliki kelainan seksual."

"Jangankan itu. Idola yang berkencan dengan lawan jenisnya saja menuai banyak kontroversi." Tentu saja Yuta tak membantah. Mereka punya mimpi di sini. Yuta datang jauh-jauh dari Osaka untuk banting setir dari pemain sepak bola menjadi seorang penyanyi yang hebat. Taeyong sudah merubah diri secara total dari anak bermasalah menjadi pekerja keras karena menemukan tujuan hidupnya. Mereka tentu saja harus bersikap profesional dengan menjunjung tinggi karir dan mimpi mereka lebih dari apapun. Lebih dari perasaan antar dua insan manusia apalagi mereka masih remaja.

"Ini salah Yuta."

"Aku tahu." Berkata demikian pun, keduanya malah saling mengeratkan tautan jemari mereka.

"Tapi aku terlanjur mengetahui perasaanmu, Taeyong."

Kali ini Taeyong yang menoleh. "Apalagi aku yang memendam perasaan ini sejak lama."

Yuta menggeleng. "Aku juga menyukaimu sejak lama, tapi aku baru menyadarinya sekarang."

Taeyong mengeluarkan kekehan sarkasme. "Kalau begitu, apalagi aku yang menyadari perasaan ini sejak lama."

Yuta memajukan bibirnya kesal, memicing mata tidak suka. "Apa kita berlomba mengenai siapa yang lebih dulu menyukai?" Tepat setelah itu, gelak tawa memenuhi udara di kamar mereka. Sebelum akhirnya hening kembali mendominasi.

.

.

"Yuta, jadilah kekasihku."

Wajah Yuta memanas. Kekehan kecil refleks menjawab lebih dulu. "Kau bilang perasaan ini salah. Artinya, hubungan seperti itu juga salah."

Taeyong tersenyum lembut. Begitu lembut sampai-sampai Yuta terpesona dibuatnya. Oh, wajahnya semakin memanas. "Tidak apa-apa, hanya untuk satu malam." Taeyong memandang Yuta lekat-lekat. "Bagaimana?"

"Kau jahat sekali, sialan!" Yuta memukul pundak Taeyong dengan tangan kirinya karena yang kanan masih berpagutan dengan tangan kiri Taeyong. "Mengajak pacaran tetapi sudah menetapkan tanggal putusnya. Hanya semalam, pula."

"Tapi kalau terlalu lama, bisa-bisa aku tidak mau putus denganmu." Ibu jarinya mengelus punggung tangan Yuta lembut. "Tapi aku ingin memilikimu. Setidaknya untuk semalam."

Yuta tidak menjawab secara verbalis ia langsung membalikkan badan ke arah Taeyong, mendekap lelaki itu erat. "Hanya untuk malam ini, miliki aku."

"Hanya untuk malam ini." Taeyong meraih dagu Yuta, membawa wajahnya untuk mendekat. Begitu dekat sampai tak bisa membedakan deru napas siapa yang menerpa wajah mereka. Mereka saling berpandangan cukup lama sampai kelopak mata perlahan menutup bersamaan dengan kepala dimiringkan ke arah berlawanan. Di detik berikutnya, permukaan bibir mereka bertemu, menjadi awal hubungan mereka yang ujung-ujungnya akan berakhir esok pagi.

Tapi tidak masalah, ini yang terbaik bagi mereka. Setidaknya untuk saat ini.

.

.

TBC

a/n: *ketawa* oke, ini apa? Pertama saya minta maaf karena menyuguhkan plot yang mungkin sedikit... sensitif? Tapi jujur aja saya pribadi paling suka drama jenis ini kalau bicara soal blfic karena konfliknya realis? Jadi yah, bisa dibilang fic ini 100% karena selera pribadi. Ohya, semoga juga fic ini sekalian bisa menjawab pertanyaan "kenapa harus di kehidupan selanjutnya?" bagi yang bertanya di fic oneshoot TaeYu saya sebelumnya XD *shameless promotes*

ohya, saya pilih Johnny yang jadi kakak tegas(?) karena entah kenapa menurut saya Hansol ssma Taeil mah tipe pasrahan(?).

Sekian untuk chapter pertama, terimakasih sudah membaca!

PS: chapter 2nya mungkin bakal agak lama. Karena saya sedang memburu kartu waifu di sslah satu rythm-play game jadi saya bakalan menyiksa jari dan gakuat nulis untuk sementara 8'D maafkan.