Pagi itu Yuta terbangun dengan posisi persis sama dengan saat ia tertidur. Tidak berotasi 270 derajat seperti biasanya. Tidak juga ada satupun bantal yang menyingkir dari area tempat tidur. Mungkin itu semua karena tangan yang melingkar di pinggangnya seolah menjaga Yuta untuk tetap dalam posisi yang sama. Memberinya kenyamanan untuk betah-betah berada dalam rengkuhannya.
Yuta tersipu, teringat bagaimana ia melewati malam bersama orang yang merengkuhnya saat ini. Ia kira semalam hanya mimpi, tapi melihat bagaimana Taeyong masih terlelap tepat di depan wajahnya begitu damai, ia menyimpulkan bahwa semalam adalah kenyataan. Biasanya Yuta akan dengan iseng mengganggu tidur Taeyong tapi kali ini tidak. Pertama karena ia tidak tega membangunkan Taeyong entah kenapa. Kedua karena ia mengaku begitu nyaman dalam rengkuhan Taeyong. Ketiga, ia masih sedikit tidak rela kisah cinta satu malam mereka berakhir begitu Taeyong terbangun.
.
.
Two Holding Hands
Aspartam
NCT © SM Ent.
contains typo(s), possibly OOC, BxB.
Taeyong x Yuta fic, I've warned you.
a/n: saya lupa bilang ya ini settingnya waktu masih era SMROOKIES?
.
.
"Taeyong? Yuta? Kalian sudah bangun?" Taeil berseru sambil mengetuk pintu. Merasa heran karena keduanya belum juga keluar kamar padahal sudah jam segini. Biasanya Yuta adalah salah satu member yang bangun pagi, omong-omong.
"Kami sudah bangun, Hyung!" Yuta menyahut dari dalam, membuat tidur Taeyong mulai terusik.
"Kalau begitu segera keluar, sarapan sudah siap." Tepat setelah mengakhiri kalimatnya, Taeil langsung melenggang menuju meja makan. Dia sudah lapar rupanya.
Yuta sendiri mulai bergerak melepaskan diri dari pelukan Taeyong namun ternyata, gerakannya membuat pemuda sensitif itu terbangun. Taeyong melenguh, menggosok-gosokkan matanya agar bisa terbuka. "Selamat pagi!" ucap Yuta pelan menunggu Taeyong membuka mata sepenuhnya.
Mendapat ucapan itu, Taeyong lantas membulatkan matanya. Tampak terkejut dengan kehadiran Yuta tepat di sampingnya. Bahkan ia refleks menarik tangannya yang melingkar di pinggang Yuta karena masih belum mengerti situasinya.
Butuh waktu hampir sepuluh detik untuk Taeyong memproses mengapa ada Yuta di ranjangnya, bukan di kasur yang ada di sebrang."Ah, jadi yang semalam bukan mimpi." Simpul Taeyong kemudian mengundang tawa dari Yuta.
Yuta pun mendudukkan dirinya bergegas untuk keluar dari kamar mereka. Tapi sesuatu menahan lengannya. Tentu saja, itu Taeyong. Siapa lagi selain mereka berdua di kamar ini? Yuta lantas melempar tatapan penuh tanda tanya.
"Morning kiss untukku?"
Yuta tertawa sarkastik. "Kukira hubungan kita selesai?"
"Ini yang terakhir."
Yuta diam saja. Tidak mengiyakan, tapi tidak juga membantah. Tapi Taeyong anggap itu tanda persetujuan. Maka dari itu, Taeyong membawa kepalanya mendekat untuk mengecup lembut bibir Yuta.
.
.
"Hei, kalian ada yang mau bertukar kamar denganku?"
Ada tiga belas kepala di ruang tengah. Sebelas di antaranya langsung menoleh pada seseorang yang bertanya barusan dengan tatapan penuh keheranan.
"Terjadi sesuatu antara kau dan Taeyong-hyung?" Ten langsung menyuarakan pertanyaannya.
Baik Taeyong maupun Yuta saling berpandangan beberapa saat. "Kalian sendiri tahu kami bertengkar semalam." Taeyong membalas dengan santai.
"Oh, benarkah?" Donghyuck dan para minirookies lain tampak terkejut. Wajar saja, mereka sudah dipaksa tidur semalam jadi tidak tahu apa-apa.
"Tapi kelihatannya kalian sudah berbaikan, tuh." Doyoung menimpali dilanjuti anggukan setuju sebagian besar member.
Yuta merotasi bola matanya malas sambil mendengus. "Kami bisa kembali bertengkar kapan saja."
"Ayolah, kalian berdua adalah yang paling dekat satu sama lain, kan?" Johnny berkomentar sambil menunjuk pada muka Taeyong dan Yuta bergantian.
Yang ditunjuk merasa sulit untuk membantah. Apalagi dengan yang mereka lakukan semalam, sejujurnya membuat hubungan mereka semakin intim. Tapi, tak ada hal bagus bagi keduanya jika mereka ditempatkan pada kamar yang sama. Mereka hanya akan menumbuhkan perasaan mereka semakin besar. Membuat mereka tak bisa menahan diri satu sama lain, berakhir dengan melakukan hal-hal yang dilakukan sepasang kekasih bila berduaan. Meski belum benar-benar terjadi, setidaknya mereka berdua bisa memprediksi.
"Tidak. Mulai hari ini kami adalah orang yang akan sering bertengkar. Membuat keributan tengah malam." Yuta mengklarifikasi. Namun malah terdengar seperti lelucon di telinga para member menghasilkan gelak tawa seisi ruangan.
"Tidak masalah. Lagipula dorm kita tidak pernah benar-benar sunyi."
"Selain itu belum saatnya mengganti roommate."
"Aku juga tidak mau, tuh, satu kamar dengan Taeyong-hyung. Aku tidak suka bau febreeze."
Dan sarapan bersama mereka berakhir tanpa ada yang bersedia bertukar kamar dengan salah satu di antara keduanya.
.
.
Hari-hari berikutnya, Taeyong dan Yuta saling berusaha menghindar satu sama lain. Mereka berusaha tidak saling menegur. Berusaha sibuk sendiri agar tidak bertemu. Semuanya demi kesepakatan malam itu. Kesepakatan untuk saling menjauh, agar mereka tidak jatuh semakin dalam pada perasaan mereka masing-masing.
Bahkan Taeyong dan Yuta mulai bergantian tidur di sofa ruang tengah agar mereka tidak berada dalam satu kamar yang sama.
Hal itu mengundang tanda tanya besar di benak tiap member yang lain. Mereka mulai berpikir bahwa hubungan Taeyong dan Yuta mulai mendingin dalam artian mereka berdua benar-benar bertengkar. Hanya saja, semua member hanya mendiami mereka. Karena biasanya, kedua orang itu akan rujuk kembali dengan sendirinya saat bertengkar.
Tapi sampai hari kelima mereka menemukan Yuta atau Taeyong tidur di sofa, mereka mulai khawatir. Apalagi saat Hansol mengatakan bahwa Yuta sempat bercerita padanya jika Taeyong bersikap menjauhinya lebih dari seminggu. Hansol menambahkan, mungkin mereka tidak berhasil menemukan jalan keluarnya.
Akhirnya setelah dipaksa habis-habisan oleh member yang lain, Doyoung mengalah untuk bertukar kamar dengan Yuta. Kini Doyoung satu kamar dengan Taeyong, Yuta satu kamar dengan Hansol.
Malamnya, semua member membantu Doyoung dan Yuta memindahkan barang mereka ke kamar baru. Di saat semuanya ribut membantu, Taeyong mendatangi Hansol. "Hyung, tolong selalu ingatkan Yuta untuk jangan lupa sikat gigi."
Hari-hari kembali berlanjut damai setelah itu. Walaupun Taeyong dan Yuta masih bersikap saling menjauh, tapi tidak sesignifikan sebelumnya. Mereka sudah saling bercanda bersama dengan para member. Tapi tetap saja, yang lain tahu perbedaannya. Baik Taeyong maupun Yuta tidak pernah membiarkan diri mereka hanya berduaan.
Tapi tak satupun mempermasalahkannya. Tak satupun berniat ikut campur. Jadi tak satupun angkat bicara.
.
.
"Hyung!" Ten bergelayut di lengan Taeyong membuat pemuda itu dengan terpaksa meladeni Ten.
"Ada apa?"
"Doyoung membentakku," lapor Ten sambil menunjuk muka Doyoung.
Yang ditunjuk menujukkan raut tidak terima. "Dia mengataiku lebih dulu, apa salahku jika membentak?!" protesnya mirip seperti kelinci sedang marah.
"Kau saja yang terlalu sensitif! Harusnya kau bangga disamakan dengan kelinci!" Ten membalas dengan nada tidak kalah tinggi.
"Ya! Aku manusia tidak suka disamakan dengan hewan. Memangnya kau? Laki-laki tapi suka bertingkah sok imut?!"
Baru Ten hendak membalas, tapi Taeyong langsung membekap mulutnya. Siapapun pasti lelah berada di tengah-tengah Doyoung dan Ten yang tengah berdebat. Padahal mereka seumuran, tapi tidak bisa akur. Heran.
"Ya, kalian berhentilah meributkan sesuatu yang tidak penting." Taeyong berkomentar. Sedangkan Ten pasrah saja dibekap mulutnya.
Doyoung menaikkan alis. "Menurutmu ini tidak penting, hyung? Kalau kau disamai dengan kelinci apa kau menyukainya, hah?"
"Untungnya aku tidak mirip dengan kelinci, jadi tidak akan ada yang mengataiku mirip."
"Aish, aku memintamu membayangkannya!" Doyoung malah meninggikan suaranya. Pemuda itu memang tidak bisa tidak ribut dengan Ten, kali ini Taeyong malah ikut-ikutan.
Sejak satu kamar dengan Taeyong, Doyoung juga jadi sering cari ribut dengan lelaki yang lebih tua darinya itu. Sebenarnya Taeyong sendiri yang memang sering menggoda Doyoung. Bukan apa-apa, semua anggota setuju bahwa Doyoung adalah member yang paling asyik diganggu karena reaksinya yang mengundang tawa.
Saat Ten dan Taeyong bersatu menggoda Doyoung semua member akan berhenti mengerjakan aktivitasnya untuk menonton perdebatan mereka. Seringkali Johnny dan Jaehyun ikut-ikutan memanas-manasi mereka.
Tapi sebenarnya, ada satu yang seringkali mencoba menyibukkan diri ketika Taeyong sudah bercanda dengan yang lain. Yuta tidak mau merasa cemburu, itu saja. Kenyataannya, sejak pisah kamar, Taeyong lebih banyak mengobrol dengan yang lain. Bercanda dengan yang lain, tanpa Yuta. Sedangkan Yuta menyibukkan diri dengan menempel pada member yang sedang menganggur.
"Hh." Yuta mendengus.
Jaehyun yang ada di sampingnya pun menoleh. "Ada apa, Hyung?" tanya pemuda yang mengaku pernah tinggal empat tahun di Amerika itu.
Yuta menggeleng. "Bukan apa-apa."
Meski begitu, Jaehyun sadar bahwa Yuta sedang menatap nanar pada Taeyong, Doyoung dan Ten sebelum melenggang pergi dari ruangan dalam diam.
.
.
Hari itu Taeyong, Hansol, Johnny, Yuta, Ten dan Jaehyun mendapat jadwal latihan untuk dance bersama. Mereka akan menyempurnakan gerakan untuk Bassbot dan Open the Door. Pelatih mereka sangat tegas hari ini, jadi tak heran latihan terasa melelahkan karena mereka hanya mendapat sedikit waktu untuk istirahat.
Setelah membuang sekian liter peluh, bergerak sampai otot terasa lemas, akhirnya latihan disudahi saat waktu menujukkan mendekati pukul sepuluh malam.
"Hh, aku lelah." Yuta duduk tepat di samping Hansol. Merebahkan kepalanya di pundak pemuda tinggi itu.
Hansol lantas merespon dengan memberikan sebotol air untuk diminum.
Yuta tersenyum mendapat tawaran air itu. "Terimakasih, Hyung!" Ia berseru sebelum mengambil air itu dan meneguknya.
Taeyong yang menyaksikan itu semua, buru-buru mencari sesuatu yang lain yang lebih enak dipandang. Apapun, asal tidak melihat Yuta bermanja pada yang lain. Juga bukan pada Ten yang tiba-tiba menghampiri Yuta dan Hansol, merebahkan diri di pangkuan Yuta seenak jidat. Yuta malah tertawa dan membiarkan Ten bersikap sesuka hati.
Taeyong lantas menghampiri Jaehyun, memberikan pemuda itu selembar handuk untuk mengeringkan keringatnya. Mengajaknya mengobrol agar tidak mendengar percakapan YuTenSol (Doyoung yang memberikan julukan itu, omong-omong).
Johnny yang tadi menghilang duluan karena dipanggil oleh manager-hyung pun kembali. "Jaehyun, kau ikut aku." seru pemuda yang paling jangkung di antara teman-temannya itu.
Yang dipanggil pun hanya menurut. Mungkin ada urusan penting.
Dan kini tinggallah Taeyong bersama trio yang sedang bermesraan tepat di depan matanya. Mata Taeyong bergetar panik karena tidak nyaman dengan apa yang dipandangnya: Ten dalam pangkuan Yuta yang tengah memeluk lengan Hansol.
Taeyong meruntuk dalam hati. Kenapa ia malah ditinggal dalam situasi seperti ini? Ia merasa canggung sekaligus merasa panas. Masa bodoh, ia mau pulang saja. Dengan cepat ia meraih tas ranselnya dan berlari menuju pintu.
"Aku punya jadwal belanja minggu ini. Aku pulang duluan." Taeyong pamit dengan alasan yang beruntung secara kebetulan memang benar.
Hansol mendongak. "Taeyong, tunggu."
Merasa dipanggil, Taeyong menghentikan langkahnya. Menoleh pada Hansol yang sedang saling membalas tatapan pada Yuta. Cih, Taeyong benci melihatnya.
Padahal Hansol menatap Yuta sebagai kode agar anak lelaki Nakamoto itu menyusul Taeyong. Sedangkan Yuta membalas tatapan Hansol karena tidak menangkap maksud kode itu.
"Apa?" tanya Yuta heran mengabaikan Taeyong yang membeku di dekat pintu.
"Minggu ini jadwalmu belanja juga, kan?" jawab Hansol entah mengapa terdengar begitu telak di benak Taeyong dan Yuta.
Ten bangkit dari posisi rebahannya. "Aku titip es krim, ya, Hyung! Ingat, yang rasa stroberi dan vanilla."
.
.
Taeyong dan Yuta berjalan bersisian menuju supermarket. Tak satupun dari keduanya membuka suara. Sialan, mereka lupa protes soal jadwal belanja, bersih-bersih dan memasak. Mereka tak menyangka mendapat situasi yang mengharuskan mereka berduaan begini.
Hening sepanjang jalan. Hanya ada suara kendaraan yang lewat mengisi pendengaran. Padahal dulu, mereka punya banyak topik yang dibicarakan. Ah, sekarang pun sesungguhnya ada banyak yang ingin keduanya utarakan. Tetapi lidah tiba-tiba terasa kelu untuk digerakkan. Jadilah mereka hanya berjalan dalam diam sambil sesekali melirik ke sebelah.
"Eum, kau tahu? Keadaan kita saat ini sangat lucu." Sebagai seseorang yang tidak suka keheningan, Yuta membuka suara.
Taeyong tersenyum miring. "Aku tidak membantah soal itu."
Yuta pun membalas dengan tawa renyah, tidak tahu ingin merespon apa. Perjalanan terasa seperti ribuan mil jaraknya karena situasi ini.
"Kau tahu? Aku merindukanmu." Yuta kembali bersuara. Biarlah, asalkan ia tidak terjebak dalam suasana canggung ini.
"Kita bertemu setiap hari." Taeyong mengingatkan.
"Tapi setiap bertemu kau sedang asyik bercanda dengan yang lain."
Taeyong menyerah untuk tidak-menatap-Yuta-sampai-pulang-ke-dorm. "Kau cemburu?" selidik pemuda itu.
Yuta tercekat. Bibirnya mengerucut sebal. "Maaf deh. Aku memang cemburu."
Taeyong langsung saja menyemburkan tawa. "Kau pikir aku tidak, saat melihatmu menempel pada Hansol-hyung atau Ten?"
"Itu karena kau sedang begitu perhatian pada Jaehyun."
"Apa salahnya memberi perhatian pada adik sendiri?"
"Lalu apa salahnya menempel pada teman sendiri?" Yuta membalas tak mau kalah.
Taeyong mengalah, tak bisa menjawab kata-kata Yuta. Memang sebaiknya jangan remehkan pemuda yang bahkan diakui sebagai pemain tetap talk show bergengsi seperti Abnormal-Summit yang bahkan belum memulai debutnya itu. "Sejak awal yang salah karena kita merasa cemburu," tutur Taeyong.
Yuta mengangguk setuju sebelum menunduk, memperhatikan sepatunya. "Ini sulit, Taeyong. Bahkan semakin jauh darimu malah membuatku semakin rindu."
Taeyong diam saja. Dalam hati ia meneriaki hal yang persis sama dengan yang dikatakan Yuta. Hanya saja, Taeyong tak mau menyuarakannya. "Sudahlah." Taeyong meminta untuk mengakhiri topik ini. "Ini sudah terlalu malam, sebaiknya kita harus cepat atau Taeil-hyung akan mengunci pintu dorm dan membiarkan kita tidur di luar."
Yuta tidak protes banyak. Ia malah berlari meninggalkan Taeyong. "Kau yang lambat, Taeyongie!" Serunya sambil berlari diakhiri gelak tawa.
Yang ditinggal merasa tidak terima, langsung saja mempercepat langkahnya menyusul Yuta yang sudah jauh di depan. "Hei, kau curang!"
Pada akhirnya, mereka berdua malah kejar-kejaran sampai di supermarket kemudian kembali ke dorm dalam hening lagi.
.
.
TBC
a/n: maaf mengecewakan ekspektasi, ini memang ff paling angsty yang pernah saya bikin seumur hidup. Tapi saya bukan spesialis angst jadi sebenarnya ini cuma mentok di drama aja kok 8'D
Special thanks to: Kim991, seeuhun no its xiuhun, Flower566, dhantieee, yeseulnamm, yxnghua, untungsayang, cacacukachanhun, Kutang Ajaib Uchiha and those who did fav and follow . (omong-omong ada yang belum kesebut namanya?) Maaf belum sempet bales review satu-satu tapi suatu saat nanti(?) pasti dibales kok!
See ya next chapter! *winkeus*
