Malam yang tidak bisa sunyi seperti biasa dilewati oleh ketiga-belas pemuda yang menetap di atap yang sama itu. Entah apa yang mereka kerjakan, yang jelas banyak melibatkan tawa dan canda. Tapi ada satu orang menjadi relawan untuk menyendiri di dapur. Taeyong sedang menyeduh kopi instan untuk dirinya dan beberapa member lain. Mereka berencana menonton film bersama-sama hingga larut malam. Saat sedang asyik mengaduk, tangannya berhenti begitu menyadari ada seseorang yang membatu di muka dapur. Taeyong melirik dengan ekor mata. Mendapati Yuta yang kikuk mungkin karena tak menyangka ada Taeyong di sana lebih dulu. Taeyong sendiri sama kikuknya, tapi berterimakasihlah pada kopi-kopi itu, ia punya sesuatu untuk mengalihkan rasa canggungnya dengan lanjut mengaduki cairan kaefin itu.

"Ada apa?" tanya Taeyong yang merasa Yuta tak bergerak sama sekali dari posisi membatunya, meski dirinya sendiri tetap pura-pura sibuk dengan kopinya.

"Ah, itu..." Yuta menunjuk lemari. Taeyong lantas menoleh pada tempat penyimpanan itu heran, sebelum mengalihkan tatapan heran itu pada Yuta. Yuta yang tahu diperhatikan, buru-buru mengambil tindakan. Ia menghampiri lemari, membukanya dan mengambil banyak-banyak ramyeon di dalamnya.

Taeyong berhenti dengan aktivitas mengaduknya, lagipula kopi-kopi itu sudah teraduk sempurna sejak lama (ia hanya terus mengaduk supaya tetap memiliki sesuatu yang dikerjakan sampai Yuta pergi). Menaikkan sebelah alis menyaksikan Yuta sudah menggendong lebih dari lima bungkus ramyeon. "Kau mau makan sebanyak itu? Yuta, kita semua sudah makan malam dan dengan jumlah seperti itu kau hanya akanー"

"Ini semua untuk aku bawa ke Bukhansan, kok." potong pemuda itu.

"Ke mana?"

"Bukhansan."

"Untuk apa kau ke pergi sana?"

"Mendaki gunung. Memang apa lagi?"

.

.

Two Holding Hands

Aspartam

NCT © SM Ent.

contains typo(s), possibly OOC, BxB.

Taeyong x Yuta fic, I've warned you.

.

.

Taeyong masih terkejut Yuta tiba-tiba pergi naik gunung. Tidak, tidak bukannya ia tidak menyangka. Yuta memang sudah sering mendaki gunung setiap kali berhasil mendapat izin cuti latihan untuk lima hari sampai satu minggu. Bersama trainee lain yang memiliki jiwa san namja sepertinya, Yuta akan pergi ke gunung, entah gunung apa. Taeyong hanya terkejut karena Yuta pergi tiba-tiba tanpa memberitahunya lebih dulu.

Memang kenapa Yuta harus memberitahunya, omong-omong?

Selain itu hari ini jadwalnya menyiapkan sarapan. Ia bangun lebih awal, mencuci muka dan segera melenggang ke dapur. Memasak nasi yang dirasa cukup untuk tiga belas orang, banyak sekali, memang. Kemudian membuat sajian sederhana yang cocok dimakan di pagi hari. Donghyuck dan Taeil yang kebetulan mendapat jadwal bersamaan dengannya, dengan sigap menjadi asisten untuk Taeyong.

Tak perlu waktu lama bagi mereka sampai berhasil menyajikan hidangan untuk sarapan. Sementara Taeyong membagi porsi, Taeil dan Donghyuck pergi memanggil member lain untuk mengambil bagian mereka di dapur.

Dalam beberapa menit, dua belas orang termasuk dirinya sudah mengambil bagian sarapannya. Artinya, ada satu orang yang belum mendapat sarapan. Dahi Taeyong pun mengkerut heran. "Mana Yuta?" tanyanya kemudian. Ia sadar sedari tadi Yuta belum kelihatan sosoknya, tapi ia kira, Yuta sedang memenuhi panggilan alam sehingga tidak kunjung muncul tapi ketika menyadari tak satupun orang di kamar mandi, asumsi itupun hangus.

"Oh, Yuta?" Hansol mengangkat tangan. Sebagai roommate, tentu saja dia yang paling tahu posisi Yuta di antara yang lain. "Aku lupa memberitahumu. Tapi dia sudah berangkat untuk pergi ke Bukhansan sejak subuh tadi."

Taeyong terdiam.

"Pagi sekali." Johnny berkomentar.

Hansol mengangguk. "Katanya supaya bisa sampai di kaki gunung sebelum tengah hari. Jadi mereka bisa mulai mendaki sebelum siang."

Yang lain mengangguk-angguk paham sebelum melanjutkan sarapan mereka dalam hening. Memang, saat paling sunyi di dorm hanya waktu makan dan tidur.

.

.

Lee Taeyong memang salah satu anggota yang bicaranya paling sedikit, tapi bukan berarti ia pendiam. Tapi sejak pagi itu, Taeyong jauh lebih pendiam dibandingkan Taeil.

Saat member yang lain asik bercanda, Taeyong lebih memilih melamun. Bahkan ia melamun sangat banyak hari itu. Tak hanya sedang istirahat, bahkan saat latihan. Ia tidak fokus dan mendapat omelan dari pelatih. Tidak biasanya, karena Taeyong adalah orang yang cepat belajar dan pekerja keras.

Satu-satunya saat ia tidak melamun hanyalah pada saat ia sibuk dengan ponselnya. Hanya saja, saat dengan ponselnya, Taeyong tampak sangat kesal, tidak dalam kondisi yang terlihat bersahabat, membuat adik-adiknya takut untuk mendekat. Bahkan tiga orang yang lebih tua darinya juga enggan untuk bertanya, takut malah menambah buruk mood seorang Lee Taeyong. Di saat seperti ini biasanya ada Yuta yang masa bodoh mendekat lalu menemani Taeyong sampai moodnya membaik. Sedangkan satu-satunya makhluk yang berani mendekati Taeyong dalam mode-jangan-diganggunya sedang pergi bersenang-senang.

Yang lain hanya tidak tahu. Sebenarnya penyebab mood buruk dan lamunan tanpa henti Taeyong justru si penghibur dan penyemangat utamanya. Nakamoto Yuta yang pergi tanpa bilang-bilang padanya. Nakamoto Yuta yang tidak membalas satu pun pesan yang Taeyong kirim (meski sebenarnya Taeyong hanya mengirim paling banyak lima pesan karena gengsi melakukan spam), padahal pemuda itu sangat menunggu balasan dari Yuta. Tidak peduli jaringan di gunung tidak begitu bagus. Tidak peduli Yuta perlu menghemat baterai agar ponselnya bisa hidup sampai di puncak, dia perlu mengambil selfie, omong-omong.

"Bakamoto." Taeyong mengumpat dalam nada sepelan mungkin. Ia menjambak rambutnya frustasi. "Ini belum satu hari dan aku sudah merindukanmu karena kau pergi tanpa bilang padaku."

.

.

Sudah lewat tiga hari sejak Yuta pergi ke gunung. Dua hari sebelumnya kondisi Taeyong benar-benar buruk. Namun di hari ketiga, moodnya mulai membaik. Ia mulai dapat fokus dalam latihan. Mulai mengulas senyum yang setidaknya mengurangi keseganan adik-adiknya untuk mendekat. Mungkin karena pikirannya sudah mulai jernih untuk tidak melulu memikirkan Yuta.

"Hah, lelahnya." Jaehyun langsung merebahkan diri di samping Johnny kemudian mereka saling bersender satu sama lain.

Hansol menyusul duduk di sisi Johnny yang lain kemudian membuka ponselnya. "Oh." Matanya mengerjap sekali menemukan beberapa pesan baru. "Yuta mengirimiku pesan."

Taeyong yang semula berkonsentrasi mengajari Doyoung gerakan dance yang belum terlalu pemuda kelinci itu kuasai pun langsung menoleh. Mengabaikan Doyoung yang hampir berteriak memanggil nama Taeyong untuk melihat gerakannya sudah benar atau belum. Taeyong langsung saja menghampiri Hansol. Johnny dan Jaehyun juga ikut mendekat untuk mengintip layar ponsel pemuda dari Busan itu.

"Mukanya dekil." Komentar Johnny pada selfie yang Yuta attach pada chatroomnya dengan Hansol dan langsung disambut tawa cekikan dari Jaehyun.

"Hyung, bilang padanya jangan lupa bawa oleh-oleh!" seru Jaehyun semangat dibalas tatapan sinis dari seluruh hyung-nya yang ada di ruangan itu.

Doyoung menyerah untuk lanjut latihan karena Taeyong meninggalkannya. "Pabo Jae! Oleh-oleh apa yang kau harapkan dari gunung? Ranting pohon?"

Mengabaikan Jaehyun, Hansol kembali mengirimi Yuta pesan yang intinya menanyakan keadaan dan sejenisnya. Pesannya dibalas beberapa detik kemudian, sepertinya Yuta menemukan spot yang dapat menerima koneksi bagus. "Dia bilang akan sampai di puncak malam ini jika tidak ada halangan."

"Suruh dia untuk berfoto dengan nama kita di puncak. Kalau tidak, jangan biarkan dia masuk dorm pulang nanti," usul Johnny yang langsung disetujui Hansol dengan mengetiknya.

Taeyong yang sedari diam saja rupanya sibuk kembali dengan ponselnya. Mencoba menghubungi Yuta tepat setelah ia melihat selfie Yuta yang menunjukkan pemuda itu baik-baik saja. Taeyong bermaksud saling membalas chat dengan Yuta tapi nyatanya, Yuta bahkan belum membalas pesannya yang sudah-sudah.

Sesungguhnya Taeyong ingin marah mendapati notifikasi dari Yuta tidak ada sama sekali. Kenapa Yuta menghubungi Hansol tapi anak itu bahkan tidak membalas pesannya.

Taeyong mengiriminya pesan sekali lagi. Tapi Yuta juga tidak membaca pesan kakaotalknya. Taeyong bisa lihat kumpulan Jaehyun, Johnny, Doyoung dan Hansol masih terkikik memandangi ponsel Hansol yang artinya mereka masih berbalas pesan dengan Yuta.

"Bakamoto, apa maksudmu?" Taeyong mengumpat sangat pelan memastikan tak satupun orang mendengarnya.

Pada akhirnya, Lee Taeyong kembali ke dalam mode-jangan-mendekatnya sejak saat itu.

.

.

Waktu sudah berlalu tiga hari. Menurut Hansol, Yuta akan pulang hari ini. Kepulangan Yuta dijadikan alasan untuk para minirookies pergi ke supermarket. Katanya, ingin membuat pesta penyambutan kecil-kecilan untuk Yuta padahal maksud sebenarnya tidak lebih dari ingin membeli banyak-banyak snack dan makan besar. Tapi berhubung para hyung-line sendiri juga suka makan-makan, jadi mereka menyetujui modus makan-makan di bawah nama ide penyambutan kepulangan Yuta itu.

Begitu semangatnya mereka, Chef Jung Jaeyuk bahkan menyiapkan menu andalannya, ditemani Doyoung, Jaemin dan Donghyuk untuk membuat beberapa side dish dengan tambahan penyedap rasa, tentu saja. Taeyong yang merupakan salah satu tenaga ahli dalam bidang masak-memasak memilih untuk tidak turun tangan kali ini.

Dia masih merajuk karena Yuta mengabaikan pesannya beberapa hari lalu, jadi dia berencana untuk mengabaikan Yuta sampai beberapa hari ke depan. Meski begitu, ia tetap menyiapkan tempat, snack dan minuman bersama member lain yang tidak memasak.

TING TONG!

Suara bel berbunyi bersamaan dengan menu utama baru selesai dihidangkan di atas meja. "Yuta-hyung pulang!" Jaemin berteriak antusias langsung berlari ke pintu depan untuk menyambut kakak kesayangannya. Benar saja, begitu membuka pintu, sosok Yuta dengan ransel gunung besar di punggungnya menyambut pemandangan Jaemin dan beberapa sosok lain yang menyambut Yuta.

"Aku pulang!" Yuta mengulas senyum, meski terlihat letih. Jelas saja, ia baru pulang dari perjalanan mendaki gunung.

Jaehyun lantas menghampirinya. "Hyung, oleh-oleh?" tanyanya kemudian diikuti beberapa adiknya yang lain menatap penuh harap.

Yuta mengerutkan dahi. Belum juga masuk ke dalam dorm sudah ditagih oleh-oleh. Menghela napas, Yuta menurunkan ransel gunungnya dan membuka kantung terdepan. "Nih." Yuta melempar beberapa daun kering yang memang sengaja ia bawa pulang ke muka adik-adiknya yang mengharapkan oleh-oleh sebelum menerobos masuk ke dalam dorm sebelum mereka melemparkan bentuk protes macam apapun.

"Hyung!"

.

.

Yuta terperangah melihat keadaan ruang tengah. Jisung, Jeno, Ten, Doyoung dan para member yang lebih tua darinya melemparkan confetti ke arahnya. Mengucapkan selamat datang dan kembali ke rumah padanya. Yuta lantas tertawa terpingkal. Rasanya seperti mendapat kejutan di hari ulang tahun. "Dasar kalian semua. Kalian hanya bermaksud makan-makan, kan?"

Tak satupun menggubris tebakan Yuta karena Taeil sudah berseru untuk mulai menyerbu makanannnya. Pada akhirnya mereka semua makan-makan dengan gembira, kecuali Taeyong yang diam saja khidmat dengan makanannya.

Yuta sendiri hanya menyicipi sedikit dari masing-masing menu yang disediakan sebelum pamit masuk ke kamar. Sungguh, ia butuh tidur. Punggungnya rindu pada kasur setelah nyaris seminggu hanya beralas tanah yang dilapisi bagian bawah tenda. Yang lain memaklumi dan lanjut memakan hidangan yang ada. Sudah dibilang, pada dasarnya mereka hanya bermaksud mengadakan makan besar.

Hanya saja, tak satupun sadar bawah Taeyong mengekori Yuta ke kamarnya.

.

.

"Cuci kaki dan mukamu sebelum naik ke tempat tidur." Baru saja menampakkan batang hidung, Taeyong sudah memulai omelannya saat mendapati Yuta membuang tasnya sembarangan dan hendak naik ke tempat tidur.

Yuta cemberut, tapi ia menurut untuk beranjak ke kamar mandi lebih dulu meninggalkan Taeyong di kamarnya tanpa berkata apa-apa. Taeyong hanya bisa terkekeh, ia mengambil tas milik Yuta dan membukanya. Ia bermaksud merapikan barang-barang Yuta karena ia tahu, Yuta akan mendiami tas itu sampai ia memerlukan sesuatu di dalamnya. Sepertinya Taeyong lupa dengan rencananya sendiri untuk mengabaikan Yuta. Maaf saja, setelah akhirnya menatap wajah Yuta setelah sekian lama, mana mungkin Lee Taeyong bisa mendiami pemuda jepang itu?

Yuta kembali dengan wajah yang lebih bersih. Sejujurnya ia ingin mandi tapi tak satupun menyiapkan air hangat jadi ia hanya mencuci muka dan kakinya. Ia sedikit terkejut mendapati Taeyong sedang membongkar barangnya ketika ia masuk ke dalam kamarnya sendiri. Tapi biarlah, Taeyong sudah biasa melakukannya saat mereka masih sekamar dulu. Yuta pun memilih untuk duduk di sisi ranjang memandang punggung Taeyong yang masih sibuk dengan tas miliknya.

"Taeyong."

"Hm?"

"Tidak makan dengan yang lain?"

Taeyong menggeleng. "Sudah kenyang."

Yuta tersenyum usil. "Sudah kenyang atau sengaja mengenyangkan diri agar bisa berduaan denganku?" godanya diiringi tawa setelahnya. Apalagi ketika Taeyong menoleh hanya untuk melirik Yuta sinis.

Hening kembali menyelimuti mereka. Yuta menikmati tontonan Taeyong yang merapikan barang-barangnya. Sedangkan Taeyong yang tahu dirinya ditontoni berusaha bersikap biasa-biasa saja. Menahan diri untuk tidak membalik badan dan balik menatap Yuta, kemudian saling beradu tatap sampai salah satu di antara keduanya merasa tersipu lebih dulu.

Tapi Yuta tidak pernah menyukai keadaan hening, Taeyong tahu betul itu. Taeyong juga tahu Yuta sedang menahan diri untuk tidak bertanya macam-macam. Kasihan, Taeyong berinisiatif untuk membuka suara. "Beberapa hari lalu kau menghubungi Hansol-hyung." Dan Taeyong meruntuki dirinya sendiri karena dari sekian banyak pertanyaan dia malah memilih bertanya soal itu. Padahal bisa saja ia menanyakan bagaimana Bukhansan atau apakah ia memacing ikan di hulu sungai Han.

Yuta terhenyak sebentar. "Oh, lalu apa kau marah karena aku tidak membalas pesanmu?" tanya pemuda itu begitu mendapat kesimpulan di kepalanya.

Taeyong lantas membalikkan badannya, melempar tatapan tersinggung pada Yuta.

Hal tersebut membuat Yuta refleks tertawa keras. "Astaga, maafkan aku. Jangan cemburu, Lee Taeyong. Aku bisa jelaskan."

Taeyong memutar bola matanya. "Aku tidak cemburu."

Yuta masih terkikik geli mengabaikan sangkalan Taeyong. "Waktu itu aku melihat notifikasi pesanmu. Tapi aku tidak berani membukanya karena hatiku belum siap."

Taeyong mengerinyit. "Maksudnya?"

"Aku terlalu senang kau mengirimiku pesan, kau tahu seperti gadis SMA yang mendapat pesan dari kakak kelas yang disukai. Tapi aku tidak mau kelepasan tersenyum malu di depan yang lain jadi aku memilih untuk tidak membukanya."

Taeyong tidak sepenuhnya mengerti penjelasan Yuta. Tapi ia bisa tangkap, Yuta akan bersemu jika membaca pesannya. Padahal Taeyong hanya mengirimi pesan seputar menanyakan kabar, kok. Taeyong cukup senang dengan penjelasan itu. Ia tidak bertanya lagi, mungkin ia bisa kelepasan menerjang Yuta jika membuat pemuda itu menjelaskan lebih lanjut jadi ia memilih untuk kembali melanjutkan kegiatan merapikan barangnya.

Hening kembali menyelimuti.

"Taeyong-ah." Tapi Yuta tidak membiarkan hening itu lagi. "Selama aku pergi, apa kau merindukanku?"

Bahu Taeyong menegang mendengarkan pertanyaan itu. Kegiatan merapikan barangnya bahkan berhenti untuk beberapa detik. "Sangat." Taeyong memilih menjawab jujur tanpa menoleh pada Yuta. "Bahkan sejak hari pertama."

BRUK!

Suara bedebam keras berasal dari belakangnya membuat Taeyong terpaksa menoleh dan mendapati Yuta sudah terjatuh karena tersandung kakinya sendiri. Dengan panik, Taeyong lantas menghampiri Yuta. "Hei, kau tidak apa-apa? Kenapa kau bisa terjatuh?"

GREP!

Bukannya jawaban, yang Taeyong dapatkan justru pelukan erat, begitu erat sampai bisa saja membuat Taeyong sesak. "Yuta?" Taeyong heran, ada apa ini?

"Aku juga sangat merindukanmu," ucap Yuta lirih seraya mengeratkan pelukannya.

Taeyong terdiam. Relung hatinya menghangat. Mendapat pernyataan seperti itu jelas saja membuat seluruh pertahanannya runtuh. Perlahan ia membalas pelukan Yuta sama eratnya. Menenggelamkan wajahnya di pundak Yuta. Membisikkan beberapa kalimat serupa dengan yang diucapkan Yuta.

Pelukan mereka tidak lepas sampai beberapa menit ke depan. Mereka terlalu larut dalam kegiatan saling melepas rindu mereka. Taeyong adalah yang pertama memundurkan kepalanya untuk melihat wajah Yuta. Sedang Yuta melakukan hal yang sama dalam selang beberapa milidetik. Cukup lama bagi mereka untuk saling melempar pandangan penuh arti sebelum terbawa suasana untuk saling mendekatkan kepala mereka.

"Hyungdeul! Kalian dicari yang lain, kita mau menonton bersa- oh, apa yang kalian lakukan?"

Mendengar ada suara yang menginterupsi mereka, buru-buru keduanya saling menjauhi satu sama lain. Menoleh ke arah pintu, mendapati Jaehyun sedang menatap keduanya bingung.

Yuta tersenyum canggung. "Aku, pass. Aku mau istirahat," tuturnya sebelum beranjak ke atas kasur.

Taeyong sendiri dalam diam berjalan ke arah Jaehyun, menepuk pundak adik yang lebih tinggi darinya itu sebelum berjalan ke ruang tengah dengan raut muka yang sulit dijelaskan.

Jaehyun yang masih menampakkan ekspresi clueless mengekori hyung-nya meninggalkan Yuta sendirian di kamarnya. "Hyung, apa yang kau lakukan dengan Yuta-hyung, tadi?" tanya Jaehyun penasaran.

"Matanya kelilipan, aku bermaksud meniupinya," balas Taeyong terdengar ketus.

Jaehyun mengangkat kedua bahu mengiyakan jawaban Taeyong. Memaksa diri untuk percaya pada jawaban Taeyong karena sesungguhnya, Jaehyun sudah menontoni mereka sejak keduanya berpelukan erat.

.

.

TBC

a/n: Heu- akhirnya selesai. Maaf lama, saya mulai rada-rada kumat wb-nya. Semoga chapter selanjutnya bisa cepet hng TvT btw kalau saya nulis itu alurnya kecepetan ga sih?

Special thanks to: Kim991, seeuhun no its xiuhun, Flower566, dhantieee, yeseulnamm, yxnghua, untungsayang, cacacukachanhun, Kutang Ajaib Uchiha, Hansolasido, NYUTENTAE, alvirajn, , , sokyu977, MinMiJK and those who did fav and follow! (omong-omong ada yang belum kesebut namanya?)

See ya next chapter! *winkeus*