Jaehyun memang anggota termuda SMROOKIES hyung-line saat ini, meski dengar-dengar ada trainee baru dari Cina yang lebih muda dari Jaehyun akan bergabung dengan mereka dalam waktu dekat. Tapi semua orang setuju jika Jaehyun adalah salah satu anggota yang paling dewasa pikirannya. Baik soal yang iya-iya, maupun masalah sikap dan etika.
Meski begitu, nyatanya Jaehyun tidak berarti tinggi hati. Jaehyun tetaplah merasa dirinya seorang adik yang membutuhkan bimbingan kakak, yang memandang kagum tiap orang yang lebih tua darinya terutama yang sedang berada dalam satu atap yang sama dengannya saat ini.
Hanya saja, sejak kejadian saat itu, kejadian ketika Yuta baru pulang dari Bukhansan, Jaehyun mendapati kedua kakaknya saling berpelukan erat. Jaehyun tidak mengerti. Ia tahu keduanya memang begitu dekat satu sama lain tetapi semua orang termasuk dirinya merasa bahwa kedua orang itu menjauhi satu sama lain beberapa waktu terakhir. Yang Jaehyun tidak mengerti, kenapa dua orang yang menjauh justru berpelukan begitu intim? Sebagai seseorang yang pernah tinggal 4 tahun di Amerika, Jaehyun bukannya tak pernah terpikir tentang hal-hal menjurus love wins atau sejenisnya. Tapi dalam hati Jaehyun selalu berusaha menyangkalnya dan bersih keras memercayai perkataan Taeyong.
Tapi bagaimanapun ia mengelak, sejak saat itu Jaehyun tetap tidak bisa memandang Taeyong maupun Yuta dengan pandangan yang sama meski otaknya terus memerintah untuk bersikap tidak tahu apa-apa.
.
.
Two Holding Hands
aspartam
NCT © SM Ent.
contains typo(s), BxB, Possibly OOC
Taeyong x Yuta fic, I've warned you.
.
.
Mereka latihan seperti biasa. Menghabiskan waktu di studio lebih banyak dibanding kamar sendiri seperti biasa. Semuanya terlihat biasa di mata Jaehyun. Kecuali, bagian Taeyong dan Yuta.
Bagi yang lain mereka mungkin masih terlihat akrab―meski sedikit menjauh―seperti biasa. Tapi sekali lagi, Jaehyun sudah tidak bisa memandang keduanya dalam pandangan yang sama seperti dulu. Terutama ketika Yuta dekat-dekat dengan Hansol atau Ten, Jaehyun pasti selalu merasa Taeyong berusaha mengalihkan tatapannya atau paling tidak menyibukkan diri. Sebaliknya ketika Taeyong mengajari Doyoung gerakan dance yang cukup sulit, Yuta akan cemberut sesaat lalu menjadi lebih clingy pada Hansol di detik berikutnya. Kenapa mereka terlihat seperti cemburu satu sama lain?
Demi Tuhan, Jaehyun memang punya pikiran ambigu dengan fantasi liar, tapi ketika kedua kakaknya yang membuatnya berpikir yang tidak sewajarnya, Jaehyun merasa lebih baik mati saja.
Jaehyun menggeleng keras menepis pikirannya. Apa ia harus konsultasi dengan salah satu kakaknya? Jaehyun tidak tahan untuk terus menuduh Taeyong dan Yuta yang tidak-tidak dalam pikirannya sendiri. Sejujurnya melakukan skinship berlebihan sudah biasa bagi mereka semua, tetapi tetap saja di mata Jaehyun Yuta dan Taeyong terlihat berbeda, seperti ada hal lain yang disembunyikan. Biasanya Doyoung akan menjadi pilihan tepat untuk diajak berbicara tapi Jaehyun tidak yakin untuk topik ini, apalagi pemuda kelinci itu teman satu kamar Taeyong. Johnny dengan jiwa americannya mungkin akan jadi alternatif yang baik.
.
.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Johnny setelah Jaehyun berhasil membawa kabur Johnny makan malam berduaan. Sekarang mereka berada di restoran fastfood yang tidak jauh dari studio latihan mereka. Tapi tentu saja, Jaehyun sudah memastikan tidak ada orang yang mengenal mereka di sekitar sini untuk mencuri dengar pembicaraan dua pemuda jangkung itu.
Ada jeda beberapa detik sebelum Jaehyun membuka suara. "Hyung, menurutmu apa yang terjadi pada Taeyong-hyung dan Yuta-hyung?"
Johnny mengerjap matanya beberapa kali. Semuanya tahu ada yang berbeda dari kedua anak itu beberapa waktu terakhir, tapi karena tak satupun mengungkitnya, Johnny juga jadi masa bodoh dengan hubungan keduanya, menganggap Taeyong dan Yuta tidak ada apa-apa. Namun, Jaehyun tiba-tiba menanyakan perihal hubungan mereka membuat Johnny langsung memeras otaknya untuk mengingat-ingat apa yang sudah Taeyong lakukan pada Yuta atau sebaliknya. Pada akhirnya karena tak berhasil menemukan sesuatu yang ganjal, Johnny hanya bisa menggeleng.
Jaehyun mendesah mendapati jawaban Johnny. Rasa khawatirnya terhadap pikirannya yang terkesan asal tuduh semakin menjadi-jadi. "Aku khawatir pada mereka."
"Soal?"
Jaehyun mengangkat bahu. "Ya, kau tahu mereka tidak seakrab dulu beberapa hari terakhir."
Giliran Johnny yang mengangkat bahu. "Mungkin mereka punya masalah internal yang kita tidak bisa ikut campur." Ia menyeruput colanya sedikit. "Tapi mereka bersikap baik-baik saja jadi kurasa tidak masalah."
Jika belum melihat apa yang dia lihat di kamar Hansol-Yuta saat itu, Jaehyun pasti akan sangat setuju dengan pendapat Johnny. Kepalanya pun mulai menimbang-nimbang untuk menceritakan apa yang ia lihat atau tidak. Ia ingin bercerita, tentu saja. Tapi ia tidak enak. Rasanya seperti menyebar aib. Setelah berhasil meyakinkan diri sendiri, Jaehyun mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekatkan kepalanya pada Johnny yang ada di sebrang agar kakaknya itu dapat mendengar meski dengan berbisik. Melihat gerakan Jaehyun, secara refleks Johnny ikut mencondongkan tubuhnya. "Hyung, apa menurutmu dua orang yang sedang saling menjauh malah berpelukan dengan mesra saat hanya berduaan itu wajar?" tanya Jaehyun hati-hati.
Johnny terdiam beberapa detik mencerna tiap kata yang dilafalkan adiknya. "Tunggu, maksudmu dengan mesra?"
"Ya..." Jaehyun menelan salivanya sendiri, membasahi kerongkongannya yang mendadak kering. Bola matanya mengarah ke atas menandakan ia sedang mengingat-ingat gambaran yang ia lihat hari satu. "...seperti yang satu melingkarkan tangannya ke leher yang lain dengan sangat erat lalu dibalas dengan pelukan di pinggang dengan erat juga."
Johnny menatap Jaehyun menyelidik. "Maksudmu Taeyong dan Yuta berpelukan seperti itu?"
Jaehyun mengangguk pelan mengiyakan.
Saat itu kedua penglihatan Johnny membola sempurna sebelum mengerjap beberapa kali. Dahinya mengkerut tidak percaya, sama seperti Jaehyun, Johnny sedang menyangkal pikiran yang seenaknya membuat kesimpulan yang Johnny yakini secara logika tidak benar. Johnny pun menghela napas. "Aku rasa kau menuduh mereka menjurus ke arah 'sana', tapi kita tidak punya bukti apa-apa, Jaehyun. Yang kau lihat mungkin tidak sepenuhnya benar." Lagipula mesra itu relatif, mungkin saja Jaehyun hanya melebih-lebihkan deskripsinya sehingga di bayangan Johnny jadi berlebihan juga.
"Justru karena aku tidak mau pikiranku menuduh mereka yang tidak-tidak, makanya aku membicarakan hal ini padamu, Hyung!" sanggahnya, penuh penekanan. "Aku ingin membuktikan bahwa diriku salah."
Johnny mengibaskan tangannya. "Taeyong dan Yuta adalah sahabat baik. Mereka tidak bertemu satu minggu jadi mereka melepas rindu dengan berpelukan. Sebagai sahabat." Johnny mengklarifikasi secara sepihak, entah benar atau salah yang penting dia harus meyakini Jaehyun―dan dirinya sendiri―itu adalah kebenarannya.
"Lalu kenapa mereka tidak berpelukan di depan kita semua? Seperti yang mereka lakukan dulu?"
Johnny terdiam kali ini. Sebelum Yuta minta pindah kamar, Taeyong dan Yuta memang sering didapati skinship di depan trainee lain tanpa segan. Mereka justru senang melakukannya. Tapi sekarang Yuta malah lebih sering melakukannya pada member lain terutama Hansol yang jadi teman satu kamarnya saat ini. "Mungkin karena kadar ke-tsundere-an Taeyong meningkat?" ceplos Johnny asal. Padahal Taeyong sendiri juga melakukannya dengan yang lain. Dengan Doyoung, Ten, Mark, Taeil, Jaehyun, dirinya, siapa saja asal bukan Yuta―sejauh Johnny mengingat.
Jaehyun tidak mau menjawab lagi. Ia paksa dirinya untuk puas dengan pendapat Johnny. Kalau ia menyanggah lagi, kecurigaannya malah akan lebih kuat dan bukan itu tujuan Jaehyun berbicara dengan Johnny.
Hening di antara kedua pemuda jangkung itu yang masing-masing sibuk berdebat dengan pikirannya sendiri.
"Jaehyun." Meski setelah beberapa menit Johnny membuka suara lagi.
"Iya, Hyung?"
Johnny tersenyum getir. "Jika memang di antara kita ada yang menyimpang, apa kau akan membencinya?"
Jaehyun menggeleng kuat. "Tidak sama sekali. Tapi aku khawatir dengannya. Kau tahu, masalah ini bukan masalah yang mudah baik untuk karir maupun keluarga."
Johnny tersenyum tipis atas jawaban Jaehyun. Entah apa maksud dari senyum itu.
.
.
Selepas makan malam, Hansol dan Doyoung ada yang langsung masuk ke dalam kamar untuk tidur. Beberapa lainnya bergiliran bermain playstation di ruang tengah. Sisanya, menonton dari atas sofa dan saat itu hanya Yuta seorang diri karena dia sedang tidak mood bermain jadi hanya menonton di belakang.
"Donghyuk, jangan mengeluarkan jurus di saat seperti―ARGH!" Jaemin menggeram kesal saat karakternya babak belur dihajar karakter Donghyuk. Sedangkan yang baru saja menang tertawa jahat membuat Jaemin mengerucutkan bibir yang sudah jadi kebiasaannya jika merasa kesal.
"Minggir, minggir! Sekarang giliranku." Jeno menggeser badan kurus Jaemin hingga pemuda Na itu terpaksa menyingkir. Alhasil, Jaemin makin sebal apalagi melihat para minrookies ditambah Ten dan Taeil malah makin asyik bermain game. Taeyong duduk di pinggir mengawasi adik-adiknya. Jaemin berdiri dengan kesal, menghentakkan kaki mengadu pada Yuta.
Yuta dengan tawa mengudara menyambut adik kesayangannya. Menerima pelukan manja Jaemin yang sedang merajuk.
Dengan ekor matanya, Taeyong melirik-lirik pada Yuta dan Jaemin yang ada di sofa. Biasanya, hati Taeyong terasa panas saat melihat Yuta dekat-dekat dengan yang lain meski dengan sangat ogah sekali―penggunaan kalimat tidak efektif disengaja untuk menandakan betapa enggannya ia―diakui seorang Lee Taeyong. Tapi jika Yuta bersama minirookies, terutama Jaemin, hati Taeyong justru menghangat. Memanas dan menghangat memang sama-sama secara ilmiah menandakan menaiknya temperatur. Tapi siapapun mengerti di antara panas dan hangat, mana yang lebih nyaman?
Perasaan hangat di relung hati Taeyong saat melihat Jaemin bermanja pada Yuta awalnya dianggap Taeyong bahwa usahanya untuk menjauhi Yuta mulai membawa hasil yang diharapkan―artinya, perasaannya pada teman satu lininya itu mulai memudar. Tapi Taeyong terpaksa menjilat ludah sendiri ketika ia menyadari masih menyimpan rasa tidak suka ketika melihat Yuta berdekatan dengan member yang lebih dewasa. Hansol terutama.
Kalau benar-benar harus berkata jujur, Taeyong sebetulnya tahu bahwa ia tidak bisa merasa cemburu pada adik-adiknya yang bahkan belum memasuki sekolah menengah atas dan Taeyong sangat tahu perasaan hangat itu muncul karena bayangan kurang ajar yang menyelinap di otaknya. Bayangan yang muncul di saat-saat Yuta sedang memanjakan adik-adiknya, seperti saat ini. Melihat Yuta sedang menemani Jaemin yang merajuk.
Di mata Taeyong, pemandangan ini terlihat seperti istrinya sedang merawat anaknya.
Tuh, kan. Imajinasi itu muncul lagi.
Taeyong menggelengkan kepalanya kuat-kuat untuk mengusir fantasinya. Ada-ada saja. Kenapa ia bisa terpikir untuk mengkhayal membangun keluarga dengan Yuta? Menikahi Yuta dan punya anak. Taeyong tidak mau membayangkan hal-hal seperti itu. Pertama karena itu memalukan, kedua hal itu jelas mustahil untuk menjadi realita, ketiga bayangan seperti itu justru rawan untuk semakin jatuh dalam pesona seorang Nakamoto Yuta.
Tapi semakin Taeyong memikirkannya, semakin jelas fantasi kehidupan domestiknya bersama Yuta terbayang. Apalagi saat ini Yuta sedang mengelus kepala Jaemin menenangkan adiknya itu.
DAK!
"Ach!" Taeyong mengaduh kesakitan. Seisi ruang tengah menoleh pada Taeyong yang sedang mengelus-elus jidatnya. Barusan Taeyong menjedotkan kepalanya ke lantai hanya karena fantasinya tidak kunjung berhenti. Taeyong menyesali perbuatan tanpa pikirnya karena selain hanya menimbulkan sakit dan pening, sekarang ia menjadi pusat atensi semua makhluk bernapas di ruangan ini.
"Hyung, apa yang kau lakukan?" Ten lantas bertanya. Taeyong, kenapa sih? Dia bukan makhluk random, setahu pemuda Thailand itu.
Taeyong mengibaskan tangannya. "Bukan apa-apa."
Seluruhnya memicingkan mata curiga. Taeyong gelagapan berusaha mencari alasan buatan yang cukup masuk akal tapi kepalanya terlalu pening untuk berpikir.
"Kami pulang!" Suara Johnny bersamaan dengan suara pintu dibuka mengalihkan fokus seluruh kepala yang ada di ruangan itu.
Taeyong menghela napas lega. Nice timing, Youngho-hyung, Jaehyun-ah!
Selama yang lain mendatangi Johnny dan Jaehyun sembari menanyai mereka macam-macam sekaligus menarik kedua pemuda itu untuk ikut bermain, Taeyong berlari ke dapur diam-diam untuk mencari es untuk mendinginkan kepalanya. Mengabaikan Yuta yang masih menatapnya heran.
Yuta yang sebetulnya agak khawatir dengan kondisi Taeyong, sedari tadi mengawasi pemuda itu dari jauh. Kebetulan dapur dan ruang tengah terhubung jadi Yuta masih bisa menontoni Taeyong yang mengompres dahinya.
"Hyung!" Jaemin kembali mencoba mengembalikan atensi Yuta padanya.
"Hm?" Yuta refleks kembali menoleh pada Jaemin.
Jaemin menggigit bibir bawahnya, membuat Yuta mengerutkan dahi heran. Oh, apa artinya Jaemin bermaksud berbicara sesuatu yang serius kali ini? Yuta pun bersiap untuk menyimak.
"Ajari aku Bahasa Jepang, Hyung!"
Dahi Yuta makin mengkerut. "Kukira kau sudah cukup belajar dari anime?"
Jaemin menggeleng keras. "Tapi itu tidak cukup membuatku mengerti apa yang dikatakan Hina saat mengomel dalam Bahasa Jepang!"
Lantas Yuta tertawa keras. Mengundang tatapan heran pada kepala-kepala yang ada di sekitarnya, termasuk Taeyong yang masih mengompres dahinya di dapur. Jaemin yang jadi bahan tertawaan kembali mengerucutkan bibirnya. Ingin protes, tapi bisa-bisa Yuta enggan mengajarinya nanti.
Hina, trainee perempuan asal Nagoya yang seumuran dengan Jaemin dan lainnya. Dia anak yang manis, Donghyuk dan yang lain sering mengganggunya karena jika dibanding Koeun yang akan mengomel sambil berkata pedas, jelas mana yang lebih menyenangkan untuk diganggu. Hal itu membuat Hina sebal dan kerap mengutarakan kekesalannya dalam bahasa negeri asalnya.
"Jadi, apa yang Hina katakan?" tanya Yuta setelah reda dari tawanya.
"Tidak ingat. Aku hanya mengerti pada bagian Baka-Jaemin."
"Pft-" Yuta kembali tertawa. Adiknya manis sekali, memang Jaemin juga adik-adiknya yang lain seperti Donghyuk, Jeno dan Mark sedang berada di masa-masa yang rentan akan cinta monyet. Untuk anak seusia Jaemin, mereka kerap mengganggu gadis yang mereka sukai untuk mendapat perhatian dan untuk Jaemin, gadis yang paling sering diganggu adalah Hina. Yuta merasa itulah yang membuat Jaemin begitu penasarannya dengan kalimat umpatan Hina yang disensor dalam bahasa jepang.
Yuta tersenyum miris sembari ia mendengarkan curahan hati Jaemin. Saat seusia Jaemin, Yuta juga pernah mengalaminya, cinta monyet. Atau mungkin sebenarnya cinta pertama yang sungguh-sungguh.
Dulu saat kelas dua sekolah menengah pertama, Yuta menyukai manajer klub sepak bolanya. Ia kerap menjahili gadis itu untuk menarik perhatiannya. Pada akhirnya Yuta menyatakan perasaannya, tetapi ditolak gadis itu mentah-mentah karena sang manajer menyukai orang lain. Orang yang setidaknya tidak sejahil Yuta.
Yuta tertawa miris. Menatap Jaemin nanar penuh arti sebelum tatapan itu berpindah fokus pada Lee Taeyong yang masih sibuk mengompres dahi. Yuta tak lagi menyimak cerita Jaemin. Tidak juga menonton member yang lain sedang bermain game. Hanya menatap Taeyong, sambil berkecamuk dengan pikirannya sendiri. Pikiran yang mengulas balik kisah cinta pertamanya. Mengingat-ingat seberapa sakit saat perasaannya ditolak mentah-mentah. Yang ia bisa ingat, ia tak sesakit itu. Memang perih di awal, tapi beberapa hari kemudian sakitnya sembuh. Tidak seperti sekarang. Sekarang di mana perasaannya justru terbalas, tapi rasanya jauh lebih sakit. Tidak bisa sembuh. Justru selalu kumat setiap Taeyong membalas tatapannya penuh harap.
Seperti saat ini, pandangan mereka bertemu. Mereka bisa merasakan seberapa besar perasaan satu yang lain. Tapi seberapapun besar perasaan itu, mereka tetap tidak bersatu.
Dan itu betul-betul sakit.
.
.
Johnny dan Jaehyun tadinya memang ikut asyik menimbrung dengan mereka yang bermain game. Tapi tawa Yuta tadi mengalihkan perhatian keduanya, terutama ketika Yuta menatap Taeyong tanpa mempedulikan Jaemin.
Johnny dan Jaehyun saling berpandangan, seolah mampu bertukar pikiran lewat pandangan itu.
Entah ini pengaruh perkataan Jaehyun atau apa, tapi Johnny merasakan hal yang tidak biasa dari cara Yuta menatap Taeyong, begitu juga saat Taeyong membalas tatapan itu.
Mereka ada sesuatu. Pasti ada sesuatu.
.
.
TBC
a/n: Sejujurnya aku ngakak sama chapter ini(?). Padahal niatan mau nyempilin JaeYong/JaeYu dikit tapi pas nulis Jaehyunnya malah macem fudanshi newbie di masa denialnya 8'D akhirnya ga jadi ada orang ketiga, jadi jangan bunuh saya(?).
And JaeHina because selain saya memang sejujurnya ngeship mereka sebagai OTP straight, tapi juga karena saya gabisa nyempilin NoMin maupun MarkMin karena kan di sini hubungan belok masih ya gitu lah 8'D ga apa-apa kan?
Special thanks to: Kim991, seeuhun no its xiuhun, Flower566, dhantieee, yeseulnamm, yxnghua, untungsayang, cacacukachanhun, Kutang Ajaib Uchiha, Hansolasido, NYUTENTAE, alvirajn, sonia . vebriani, sha . nakanaishi, sokyu977, MinMiJK, Arisa Hosho, Hime Taeyong, shiholeen, deerianda, nugu and those who did fav and follow! (omong-omong ada yang belum kesebut namanya?)
See ya next chapter! *winkeus*
