Yuta sedang membaca manga online melalui ponselnya kala itu. Sembari berbaring, mengejar ketertinggalannya setelah beberapa minggu dibuat sibuk latihan dan kegiatan sebagai SMROOKIES.
"Yuta-kun."
"Hm?" Yuta mendudukkan dirinya mendengar seseorang menginterupsi. Mata Yuta membulat sempurna begitu menyadari siapa pemilik suara yang memanggil namanya. Ia lantas menggaruk tengkuknya yang bahkan tidak gatal sama sekali.
Ada gerangan apa seorang Lee Taeyong mendatangi kamarnya di saat Hansol sedang ada jadwal latihan di studio?
"Ada yang ingin kubicarakan."
.
.
Two Holding Hands
aspartam
NCT © SM Ent.
contains typo(s), BxB, Possibly OOC
Taeyong x Yuta fic, I've warned you.
.
.
Yuta menyingkirkan bantal yang berserakan di ranjangnya agar Taeyong punya tempat untuk duduk. Tidak seperti saat sekamar dengan Taeyong, Hansol mana mau repot-repot merapikan tempat tidur Yuta yang terlalu banyak barang berserakan. Bagi pemuda busan itu, asalkan areanya sudah rapi, ia sudah cukup dapat tidur tenang.
Tampak jelas Taeyong mengerinyit melihat begitu banyak benda tidak pada tempatnya berserakan. Gatal bibir Taeyong ingin mengomeli Yuta, tapi bukan itu tujuannya datang kemari. Taeyong menghela napas berat, Yuta yang mengerti arti helaan napas itu hanya menyengir lebar mengharapkan maklum.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?"
Taeyong melirik ke arah pintu was-was. "Kau tidak keberatan kalau aku menutup pintu? Maksudku, jika ada yang melihat―"
"Apa yang ingin kau lakukan?" Yuta memicingkan mata lalu memeluk dirinya sendiri defensif. "Lagipula kita hanya berempat di dorm saat ini. Taeil-hyung dan Donghyuk asyik bermain game di ruang tv."
Taeyong terkekeh. "Aku ingin menerjang dan mencumbumu."
Yuta melotot tajam. "Kau tahu kau tidak lucu saat bercanda."
"Maaf," balas Taeyong kemudian. Sejak menjauh, dia jadi sulit bercanda dengan Yuta karena setiap hanya berdua seperti ini suasana yang mereka ciptakan selalu jadi serius. Yuta yang notabenenya banyak bergurau saja jadi tidak banyak bicara.
"Jadi apa yang mau kau bicarakan?" tanya Yuta langsung pada poinnya.
Taeyong menatap lurus pada Yuta. "Ini soal Jaehyun tempo hari."
Yuta terdiam sejenak. "Kita sepakat untuk bertingkah tidak ada apa-apa."
"Memang." Taeyong kembali menyingkirkan beberapa barang Yuta yang ada di atas kasur lalu bermaksud membaringkan badannya. Yuta tidak protes, membiarkan Taeyong berbaring di kasurnya. "Sejak hari itu, aku merasa was-was dan Jaehyun seperti mengawasi kita. Menurutmu, apa dia curiga pada kita?"
Yuta tidak menjawab. Ia sendiri merasakan hal yang sama. Bukan sekali dua kali ia kedapatan menemukan adiknya itu mencuri pandang padanya maupun Taeyong, seperti mengawasi. "Kita tinggal tetap seperti ini. Seperti biasa." Yuta mengungkapkan lalu kembali membuka aplikasi untuk membaca manganya.
"Kalau dia curiga?"
"Kita tinggal mengelak."
Taeyong tidak menjawab apa-apa lagi setelah itu. Benar, tinggal mengelak. Lagipula apa yang perlu disembunyikan? Ia tidak ada hubungan apa-apa dengan Yuta saat ini. Kalau tidak mau disebut hubungan-saling-suka-tanpa-status.
.
.
"Oh, di sini kalian rupanya."
Suara Johnny mengagetkan Yuta dan Taeyong yang itu sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing di kamar Yuta. Yuta melanjutkan kegiatan baca manganya, Taeyong tanpa sadar malah merapikan barang-barang Yuta. Interupsi Johnny membuat Yuta terlonjak bangun, Taeyong menjatuhkan barang Yuta dan buru-buru kembali memungutnya. Hah, padahal jarang-jarang bisa mendapat suasana mirip saat mereka masih sekamar dulu, kenapa tiba-tiba harus dibuat terkejut panik seperti ini?
"Hyung, sejak kapan, pulang?" Yuta meyuarakan keterkejutannya.
Johnny terkekeh. "Barusan."
"Lalu ada apa mencari kami?" tanya Taeyong sambil kembali merapikan barang-barang Yuta.
"Heran saja tidak menemukan kalian di ruang tengah padahal Taeil dan Donghyuk sedang sengit bermainnya." Johnny menyandarkan dirinya di sisi pintu. "Ternyata kalian sedang berduaan di sini?"
Baik Taeyong maupun Yuta menatap heran pada kakak yang sebenarnya lahir masih di tahun yang sama dengan mereka itu. "Apa, kau cemburu tidak bisa berduaan, Hyung?" Yuta berusaha menanggapi candaan Johnny dengan tenang.
Johnny tersenyum tipis. Ada kilatan mencurigakan tersirat dari tatapannya, kalau Taeyong boleh berkomentar. Tapi Taeyong tepis pikiran itu lagipula Johnny memang suka bercanda, dia salah satu moodmaker di dorm. "Iya, sayang. Ayo sini peluk aku kita berduaan di kamarku," tutur Johnny santai sambil merentangkan tangan. Tentu saja, itu sebuah gurauan makanya Yuta tertawa lebar.
Tapi tidak dengan Taeyong, matanya melotot tajam pada Johnny. Ia tidak menyangka dengan jawaban Johnny. Tatapan tidak suka itu, tentu saja disadari Johnny dengan mudah, membuat pemuda chicago itu perlu menarik napas dalam-dalam agar bisa mengatur raut mukanya seperti tidak tahu apa-apa.
Baiklah, Johnny memang tidak tahu apa-apa, tapi dia punya hipotesa yang kurang menyenangkan dan ia rela cepat-cepat menyelesaikan latihan―begitu mendengar Taeyong dan Yuta sama-sama tidak punya jadwal latihan hari ini―hanya untuk mengumpulkan bukti yang menunjukkan dugaannya dan Jaehyun itu salah.
Tapi apa ini? Baru melancarkan satu metode ia sudah mendapat bukti yang menguatkan hipotesanya?
Johnny menghirup napas dalam-dalam. "Taeyong, wajahmu suram sekali. Tenang saja aku tidak akan merebut Yuta darimu."
"Hah?" Taeyong memasang tampang bodoh, Yuta yang tadinya masih tertawa keras langsung bungkam. Keduanya menatap Johnny dengan mata membulat seperti ketahuan berbuat sesuatu.
Dan itu membuat Johnny menggeram kesal. "Kalian kenapa sih?"
"Kenapa apanya?"
"Lupakan."
Taeyong dan Yuta saling melirik satu sama lain seolah mampu bertelepati. Mereka berdua sama paniknya, tapi mereka berusaha bersembunyi di balik ekpresi datar-yang semoga saja memang terlihat datar.
Johnny yang melihat itu, pura-pura tidak melihat. Mungkin ada filter sialan di matanya yang membuat mereka terlihat ambigu.
.
.
Taeyong keluar dari kamar Yuta bersama Johnny. Duduk di belakang Donghyuk untuk ikut bermain game bersama mereka. Yuta menyusul kemudian. "Donghyuk-ah, tidak lelah? Giliran." Yuta membuat gerakan mengusir pada Donghyuk disambut gerutuan anggota termuda di ruangan itu.
"Satu babak lagi, Hyung! Tanggung."
Yuta mengangkat bahu sebelum duduk tepat di sebelah Donghyuk. Ia sempat melirik pada Taeyong dan mengulas senyum. Yang disenyumi hanya bisa mengerinyit bingung secara tersirat karena Johnny ada di sana dan Taeyong dapat rasakan kakaknya itu sedang memperhatikan mereka.
"Apa jam makan malam masih lama?" Taeil bertanya tapi tetap fokus pada gerakan jarinya pada joystick.
Johnny memutar bola matanya. "Ini bahkan baru jam 5."
"Tapi aku sudah lapar."
"Aku juga lapar." Donghyuk menambahkan. "Tapi Doyoung-hyung bilang dia dan Hansol-hyung akan membeli makanan di luar untuk malam ini."
"Dan mereka baru akan pulang setidaknya pukul tujuh nanti, masih dua jam lagi." Yuta berbaik hati mengingatkan.
Taeil menggerlingkan mata pada Taeyong. "Kita bisa menyeduh ramen."
Taeyong mengerinyit. "Ide bagus, lalu kenapa kau menatapku, hyung?"
Taeil menyengir. Tiga pemuda lain yang tersisa ikut menyengir. "Ramen buatan Taeyongie kan yang paling enak." Taeil menjawab polos mengundang dengusan Taeyong.
"Sudah lama aku tidak memakan ramen buatanmu, Taeyong-ah." Yuta menambahkan disambutan anggukan setuju dari Donghyuk.
Taeyong bungkam. Ia tidak bicara apa-apa melainkan bangkit dari duduknya, berjalan menuju dapur. "Cih, padahal tinggal menuang air panas ke dalam ramennya," gerutu Taeyong tapi tetap saja ia menjadi relawan menyiapkan sajian penunda lapar makhluk-makhluk kurang kerjaan itu.
Empat lelaki di ruangan itu lantas tertawa. "Baik, baik, aku akan membantumu," tutur Johnny sebelum menyusul Taeyong ke dapur.
Sampai di dapur, Johnny menemukan Taeyong sudah mengeluarkan beberapa cup ramen dari lemari. Johnny dengan sigap membantu Taeyong untuk membuka plastik dan bagian atas cup. "Taeyong, boleh aku bertanya sesuatu?" Johnny bersuara sembari menggunting bungkusan bumbu ramennya.
Taeyong yang sedang mengambil air panas di termos lantas mendongak. Firasat buruk menjalar di dalam batinnya. "Bertanya soal apa?" tanyanya dengan sikap senormal mungkin.
"Soal kau dan Yuta."
Tuh, kan. Benar saja. "Kenapa aku dan Yuta?" Untung Taeyong sudah menyiapkan hati jadi ia mampu memberi reaksi yang tidak berlebihan. Biasa saja, seperti orang yang ditanya tiba-tiba pada umumnya.
Johnny menatap Taeyong intens. Ia menyodorkan cup ramen yang sudah ia taburkan bumbu di dalamnya untuk Taeyong tuangkan air panas. "Aku penasaran dengan apa yang terjadi pada kalian berdua."
Taeyong mengangkat cup ramen itu dan menuangkan air panas ke dalamnya. "Apa maksudmu? Tidak terjadi apa-apa pada kami berdua."
"Benar begitu?"
Pertanyaan spontan Johnny membuat Taeyong kembali mendongak pada kakaknya. Menatap penuh keheranan sekaligus tanda tanya.
Johnny membalas tatapan Taeyong tanpa ragu. "Maaf jika membuatmu tersinggung. Tapi sungguh, Taeyong-ah. Kau bisa cerita apapun padaku. Aku orang yang terbuka."
Manik milik Taeyong membulat. Apa maksud perkataan Johnny? Apa ini artinya Johnny tahu semuanya? Darimana kakaknya itu tahu? Dari Jaehyun? Tunggu, apa anak itu sendiri sudah tahu? Pikiran Taeyong melayang kemana-mana. Seketika ia merasa cemas. Terlalu cemas dengan dugaannya sendiri sampai tanpa sadar ia masih terus menuangkan air panas pada ramen di tangannya, bahkan ketika wadahnya penuh.
CESS
Lantas saja air mendidih dalam cup itu meluap mengenai tangannya.
"ARGH-" Taeyong mengerang. Tangannya menjatuhkan refleks menjatuhkan ramen hingga mengotori lantai. Cipratannya mengenai kakinya yang hanya terbalut celana pendek selutut.
"Taeyong! Kau tidak apa-apa?" Johnny dengan sigap menghindari genangan air hasil tumpahan ramen untuk menghampiri Taeyong. Ia menarik badan adiknya untuk membasuh tangan Taeyong yang terkena air panas dengan air mengalir dari keran. Beruntung ini hanya air panas yang disimpan di termos cukup lama untuk menyeduh ramen atau minuman instan. Bukan air mendidih yang baru dimasak, jadi tangan Taeyong tidak sampai melepuh.
"Ada apa ini?" Taeil di muka dapur dengan raut khawatir menginterupsi membuat Taeyong dengan wajah meringisnya menoleh. Johnny sendiri masih fokus membasuh tangan Taeyong. Terlihat Yuta dan Donghyuk mengintip dari balik punggung member tertua di sana.
Mata Yuta bergulir mencoba memahami situasi. Ia melihat tumpahan ramen di lantai. Lalu Taeyong yang sedang meringis. "Taeyong-ah, apa kau terkena air panas atau semacamnya?" tebak pemuda itu.
"Hn." Taeyong hanya mengiyakan dengan singkat. Tapi detik berikutnya ia merasakan badannya ditarik paksa. "Yuta! Kau mengagetkanku."
Yuta malah menepuk pundak Taeyong keras, mengundang Taeyong untuk kembali meringis. "Kau kenapa, sih, akhir-akhir ini?!" Yuta berteriak dengan raut khawatir.
Taeyong sendiri ingin tertawa melihat Yuta. "Astaga, Nakamoto. Aku bukannya menyiram tanganku dengan air panas. Lihat, tanganku baik-baik saja, kan?" Taeyong lantas memperlihatkan tangannya yang merah, tapi untungnya tidak melepuh.
Yuta cemberut tidak suka, membuat Taeyong semakin gemas. Berusaha menahan diri tidak kelepasan mencubit pipit Yuta mengingat ada tiga sosok lain bersama mereka. Yuta kembali menarik lengan Taeyong, kali ini keluar dari dapur. "Hyung, kotak obat terakhir ada di kamarmu, kan? Aku ke sana mengobati anak ini." Jari Yuta menunjuk Taeyong. Tanpa repot-repot menunggu jawaban dari Taeil, Yuta langsung melesat menggeret Taeyong untuk diobati.
"Mereka kenapa sih?" tanya Taeil heran disambut Donghyuk mengangkat bahu.
Johnny yang seperti cukup tahu kenapa, hanya bisa menghela napas. Ini salahnya karena terlalu ingin tahu. Johnny membuat cacatan untuk menahan diri. Lagipula setelah apa yang terjadi barusan, rasanya terlalu jahat jika Johnny memaksa untuk mengetahui hubungan keduanya. "Sudahlah. Hyung, bantu aku membersihkan tumpahan ramen ini. Donghyuk, kau lanjut menyeduh ramen yang lain."
.
.
Di kamar Taeil-Johnny-Ten, Taeyong tak berhenti tersenyum. Yuta hanya bisa menatap heran sambil mengambil kotak obat di meja. Apa yang membuatnya tersenyum? Kamar trio kunyuk itu jauh lebih berantakan darinya, harusnya Taeyong sedang mengomel saat ini. "Kau kenapa sih? Apa karena menjedotkan kepalamu ke lantai tempo hari lalu membuat otakmu rusak?" tanya Yuta sembari menghampiri Taeyong yang sudah duduk di sisi ranjang Ten.
Taeyong menggeleng sambil mengulurkan tangannya untuk diobati Yuta. "Siapa yang tidak bisa berhenti tersenyum saat orang yang kau sukai mengkhawatirkanmu?"
Mendengarnya, Yuta lantas merona. "Heol, sepertinya otakmu benar-benar rusak. Bagaimana bisa tsundere sepertimu bisa berkata cheesy begitu?" gerutu Yuta sambil mengolesi antibiotik pada bagian tangan Taeyong yang merah.
Taeyong menikmati sentuhan Yuta. Jujur, rasa perih itu hilang begitu saja begitu melihat Yuta berusaha mengobatinya. Padahal orang sembrono seperti Yuta bukan rekomendasi yang tepat untuk mengobati.
"Apa perlu diperban?" tanya Yuta begitu selesai mengolesi tangan Taeyong.
Sedikit tidak rela, Taeyong menarik tangannya. "Kudengar jika tidak sampai melepuh, tidak perlu."
Yuta mengangguk paham lalu tangannya bergerak merapikan kotak obat untuk ia taruh kembali ke atas meja. "Yuta-kun." Tapi suara Taeyong menginterupsi gerakannya. Saat ia mendongak, ia mendapati Taeyong menatapnya serius―sangat serius. Yuta dalam sepersekian detik, merasa paham ke mana arah pembicaraan mereka kali ini.
"Kita sudah sangat dicurigai."
Yuta diam saja. Membiarkan Taeyong menceritakan semuanya.
"Youngho-hyung, dia menanyakan hubunganku denganmu. Dia juga bilang, dia orang yang terbuka untuk diceritakan semuanya."
Lagi, Yuta hanya diam. Tapi kali ini ini wajahnya menekuk penuh kekhawatiran dan rasa bersalah. "Maafkan aku..." bisiknya lirih.
Taeyong yang masih dapat mendengarnya lantas membulatkan mata. "Tunggu, kenapa kau meminta maaf?"
"Kalau saja waktu itu aku menahan diri untuk tidak memelukmu, Jaehyun tidak akan melihat kita," tutur Yuta.
"Itu Jaehyun, bukan Johnny-hyung!"
"Tapi Johnny-hyung baru berkata begitu setelah Jaehyun melihat kita!" sangkal Yuta tapi masih dalam nada yang normal agar tidak didengar sampai ke dapur. "Mungkin saja Jaehyun membicarakan apa yang dia lihat pada Johnny-hyung, kan?"
"Yuta, pikiranmu melayang kemana-mana. Tenang saja, ini bukan salahmu. Aku yang―" Perkataan Taeyong berhenti saat menatap lurus pada manik almond milik Yuta. Terlihat jelas pancaran cemas, panik dan rasa bersalah di sana. Itu semua membuat Taeyong juga merasa sangat bersalah. Secara refleks Taeyong meraih tangan Yuta. Mengelusnya sayang seperti yang selalu ia lakukan dulu saat Yuta sedang terpuruk. "Tenanglah. Kalaupun Johnny-hyung dan Jaehyun memang curiga, mereka orang yang bisa dipercaya untuk tidak menggibah pada yang lain."
Yuta mengangguk kecil, tapi tetap saja terlihat ragu membuat Taeyong menggenggam tangannya erat. Ia juga menambahkan tangannya yang terkena air panas, mengabaikan perih yang menyengat ketika permukaan kulit yang memerah itu mendapat tekanan.
"Kita bisa hadapi bersama."
Yuta menatap Taeyong ragu. "Tapi kita harus tetap menghapus perasaan yang salah ini, Taeyong-ah."
Taeyong tersenyum miris. "Kita memang sedang mengusahakannya."
Kemudian, Yuta ikut tersenyum miris.
.
.
"Taeyong-ah! Yuta-ya! Kalian sudah selesai? Ramennya sudah jadi!" Suara Taeil menyadarkan keduanya. Tanpa banyak bicara, mereka keluar dari kamar untuk mendapatkan ramen mereka.
Mereka tanpa sadar masih saling menautkan tangan mereka yang tentu saja tidak luput dari perhatian Johnny.
.
.
TBC
a/n:
Maaf chapter ini rada maksa dan lebih OOC dari chapter sebelumnya. Jujur karena beberapa hal, aku nulisnya jadi bingung karena banyak yang menyimpang dari ide awalku jadi yah, butuh penyesuaian. Semoga dapat diterima :')
Special thanks to: Kim991, seeuhun no its xiuhun, Flower566, dhantieee, yeseulnamm, yxnghua, untungsayang, cacacukachanhun, Kutang Ajaib Uchiha, Hansolasido, NYUTENTAE, alvirajn, guest, sonveila, , sokyu977, MinMiJK, Arisa Hosho, Hime Taeyong, shiholeen, deerianda, nugu, Yhipey, ucinn, Chocospark and those who did fav and follow! (omong-omong ada yang belum kesebut namanya?)
See ya next chapter! *winkeus*
