Pertama kali bertemu Yuta, Taeyong bahkan tidak menegurnya. Tidak mengajaknya berkenalan atau apapun. Ia sudah cukup tahu bahwa ada trainee dari Jepang lalu tak ada niat lebih untuk mendekat. Taeyong bukan seorang weaboo yang penasaran dengan negeri Yuta berasal. Apalagi dia dulu sempat menjelek-jelekkan orang sana melalui media sosial. Singkatnya, Taeyong tidak punya alasan dan tidak enak hati untuk berteman dengan Yuta meski mereka berada dalam lini yang sama. Bahkan dalam beberapa bulan, mereka tidak banyak bicara. Yuta yang belum fasih bahasa koreanya jadi salah satu alasan. Mereka bertukar suara hanya pada saat-saat tertentu yang benar-benar memaksa keduanya untuk saling berbicara.

Tentu saja, Taeyong sangat tidak menyangka bahwa dirinya malah menjadi orang terdekat yang Yuta miliki selama di Korea.

.

.

Two Holding Hands

aspartam

NCT © SM Ent.

Contains typo(s), possibly OOC, BxB.

Taeyong x Yuta fic, I've warned you.

.

.

Semuanya dimulai di suatu musim panas saat Taeyong baru pulang sekolah lalu langsung pergi ke studio untuk latihan. Ia dan beberapa trainee yang sama-sama bersekolah di SOPA pulang bersama, melalui rute yang melewati sebuah taman kota. Salah seorang temannya menyadari keberadaan Yuta yang tengah berlari di taman itu. Jepang sudah memulai libur musim panasnya lebih dulu sedangkan Yuta tentu saja menghabiskan libur musim panasnya dengan training di Korea. Kemudian gerombolan Taeyong membicarakan pemuda jepang itu tanpa menghampirinya karena mereka harus segera datang ke studio, pelatih sudah menunggu.

Ketika hari sudah agak gelap, Taeyong pergi keluar menuju minimarket terdekat. Ia melakukan kerja bagus hari ini jadi pelatih mengizinkannya untuk beristirahat lebih dulu. Saat hendak kembali menuju studio, lagi-lagi ia melewati taman kota yang sama dengan tadi sore. Yang membuat langkahnya terhenti, ia masih menemukan Yuta berlari mengelilingi taman itu. Taeyong hampir menganga tidak percaya. Sudah berapa lama pemuda itu berlari?

Setelah beberapa pertimbangan, akhirnya Taeyong putuskan untuk menghampiri pemuda itu. "Nakamoto-kun!" serunya saat Yuta hampir melewatinya.

Yuta terkesiap kaget mendengar ada yang memanggil namanya, beruntung keseimbangannya tidak goyah. Ia menghentikan langkah lebarnya tepat di depan Taeyong dengan napas terengah-engah. "Taehyun-ssi?"

Taeyong mengkerutkan dahi. Siapa itu Taehyun? "Taeyong. Lee Taeyong. Oh, jangan pakai suffix formal. Kita seumuran."

Butuh waktu beberapa detik untuk Yuta memahami tiap kata yang diucapkan Taeyong karena keterbatasannya dalam berbahasa. "Ah... Taeyong?" Yuta mengulangi sapaannya lagi. "Ada apa?" tanyanya kemudian.

"Tidak." Taeyong menunjuk sebuah bangku taman, mengajak Yuta untuk duduk di sana. Yuta menurut lalu mengekori Taeyong yang sudah berjalan ke sana. "Sejak kapan kau berlari?" Taeyong kembali bertanya saat keduanya sudah sama-sama duduk. Taeyong menyodorkan Yuta minuman isotonik yang sebenarnya ia beli untuk dirinya sendiri saat ke minimarket tadi.

"He?" Yuta yang hendak menerima tawaran minuman itu tampaknya tak begitu paham dengan omongan Taeyong.

"Kau." Taeyong menunjuk Yuta. "Berlari." Kemudian jarinya menunjuk seluruh area taman sebelum membuat gestur berlari dengan kedua tangan dan kakinya meski tetap dalam posisi duduk. Terakhir, Taeyong menunjuk jam tangan yang melingkar di tangannya. "Berapa lama?"

Yuta membulatkan mulutnya paham. "Sejak... jam empat sore?" Yuta memperlihatkan keempat jarinya pada Taeyong.

Giliran Taeyong membulatkan matanya. Ini sudah hampir pukul tujuh dan anak ini terus berlari selama tiga jam? "Tanpa istirahat?" tanyanya memastikan.

Yuta menyengir, cukup untuk menjawab pertanyaan Taeyong.

Yang bertanya sendiri tidak percaya dengan yang baru dilihatnya. Stamina pemuda itu tidak main-main. Pantas saja saat latihan ia kuat untuk terus lanjut bergerak padahal Taeyong kira Yuta bukan tipe yang banyak bergerak.

"Aku bisa berlari 20 kilometer tanpa henti." Yuta dengan bangga membeberkan kemampuannya. Bahkan, ia begitu lancar mengucapkan kalimat itu seolah sudah ingin menceritakannya sejak lama.

Lagi-lagi, Taeyong dibuat tidak percaya. "Maksudmu 2kilometer? 20 meter?"

Yuta menggeleng. "20 kilometer."

Taeyong membuat catatan dalam hati. Jangan remehkan mantan atlet sepak bola.

"Saat sedang terpuruk." Yuta menambahkan dalam bahasa jepang. Benar, saat dirinya dengan depresi berat ia akan berlari bahkan sampai sejauh 20kilometer tanpa henti sebagai pelampiasan stresnya.

Yuta adalah orang jepang pertama yang datang ke SM. Tidak seperti trainee cina, ada banyak chinese yang sudah datang ke SM lebih dulu. Tak hanya trainee, para staff juga banyak. Sedangkan Yuta benar-benar orang jepang pertama yang datang ke sana. Ia tak punya banyak orang yang bisa diajak bicara kecuali guru bahasa koreanya dan para artis SM yang sempat melebarkan karir ke Jepang seperti TVXQ dan J-Min. Tapi siapalah Yuta, ia hanya seorang trainee. Tentu ia merasa segan untuk berbicara pada senior-seniornya. Keterbatasan kemampuan komunikasi yang ia miliki inilah yang perlahan menumpuk beban di pikirannya. Merasa kesepian dan rindu rumah menambah berat depresi yang ia rasakan berakhir dengan melampiaskannya dengan berlari. Ah, Yuta ingin cepat-cepat memahami bahasa korea.

Taeyong menyadarkan Yuta dari lamunannya dengan mengibaskan tangannya di depan wajah Yuta. Yuta menatap Taeyong penuh tanda tanya. Taeyong sendiri membalas dengan tatapan yang sama. "Kau berbicara sesuatu tadi. Tapi aku tidak mengerti."

"Ah, itu..." Yuta menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Bukan apa-apa," balasnya seraya memaksakan senyum.

Taeyong menatap ragu. "Kalau ada sesuatu katakan saja padaku." Taeyong terkejut dengan kalimatnya sendiri. Menawarkan bantuan pada orang yang baru kali pertama ia ajak mengobrol berdua beberapa menit lalu? Sungguh bukan Lee Taeyong sekali.

Tapi Yuta tampak sangat senang dengan tawaran itu. Matanya berbinar. Senyumnya tidak dapat ditahan. Oh, benarkah? Apa tak ada satupun orang yang berkata demikian pada pemuda itu sebelum ini?

"Maaf merepotkanmu."

Taeyong menggeleng. "Tidak apa-apa." Taeyong tidak yakin jawabannya itu ikhlas atau tidak. Seharusnya tidak, tapi ia merasa tak punya penyesalan sama sekali.

Entah bagaimana, Yuta mulai menceritakan masalahnya pada Taeyong dengan bahasa koreanya yang masih belepotan. Tetapi Taeyong tetap mendengarkannya dengan seksama dengan sesekali mengoreksi ucapan Yuta.

Itu adalah awal kedekatan mereka. Yang awalnya hanya berupa kebutuhan Yuta akan teman komunikasi. Berubah menjadi kebutuhan keduanya pada keberadaan satu sama lain.

.

.

Yuta tersenyum mengingat bagaimana awal kedekatannya dengan Taeyong dulu. Saat ini ia dan yang lainnya sedang mengobrol dengan seorang trainee baru dari Cina. Siapa tadi namanya? Sicheng?

Sicheng benar-benar terlihat kesulitan memahami bahasa korea. Mengingatkan Yuta pada saat-saat awal kedatangannya di Korea. Saat-saat ia benar-benar sangat bergantung pada Taeyong. Yuta tak dapat menahan senyum akibat nostalgia di pikirannya sendiri. Bahkan saat Jisung mendekatinya, ia tidak sadar.

"Hyung!" Jisung menyadarkan Yuta dari lamunannya.

"Oh?" Yuta mengerjapkan matanya. "Ada apa?" tanya Yuta. Kemudian ia mengambil segelas air untuk diminum.

"Sedang memikirkan Taeyong-hyung, ya?"

"UHUK―" Lantas Yuta tersedak air yang diminumnya membuat beberapa pasang mata jadi terfokus padanya. Serius, anak polos seperti Jisung kalau berbicara suka tidak baik untuk jantung. Jisung dengan polosnya mengelus-elus punggung Yuta, menbantu kakaknya untuk meredakan pernapasannya. "Kenapa kau berpikir seperti itu, Jisung-ah?"

"Habis, Yuta-hyung terlihat paling bahagia kalau bersama Taeyong-hyung."

Yuta melotot tidak percaya. Ini pertama kalinya ia ingin mati karena mendengar ucapan polos seorang anak kecil. Ditambah tatapan heran Jaehyun, Doyoung dan Ten di belakangnya, membuat Yuta mati kutu.

.

.

Johnny tidak habis pikir dengan rapat dadakan tidak penting yang diadakan dua adik paling berisiknya. Saat ini seluruh hyung-line minus yang lahir tanggal 1 Juli dan yang berasal dari Osaka sedang berkumpul di studio latihan vokal. Secara rahasia, di waktu istirahat latihan.

"Jadi seperti yang Jisung katakan. Yuta itu paling bahagia saat bersama Taeyong dan kurasa begitu juga sebaliknya!" Ten memulai rapat rahasia mereka dengan kalimat yang terdengar ambigu di telinga Johnny. Persetan dengan Taeyong-Yuta dan segala hal yang terkesan ambigu tentang mereka di kepala Johnny.

Doyoung menyengir menanggapi kalimat Ten. "Seperti yang kalian tahu, mereka menjauh belakangan ini. Artinya, keduanya sedang dalam keadaan kurang bahagia."

Johnny lantas mengerutkan kening.

Jaehyun mengangkat tangan. "Lalu apa yang harus kita lakukan, Hyung?"

Baik Ten maupun Doyoung sama-sama menyeringai walaupun Ten lebih lebar. Taeil dan Hansol hanya bisa geleng-geleng kepala pasrah. Sedangkan Jaehyun menunggu jawaban atas pertanyaannya dengan antusias. "Sekarang kita yang menjauhi mereka!" seru keduanya bersamaan. Tumben, padahal biasanya mereka berdua adalah yang paling ribut dan banyak beradu argumen. "Dengan begitu, mereka tak punya banyak pilihan selain saling kembali mendekat, bukan? Lalu mereka akan kembali menempel satu sama lain dan kembali berbahagia!" Ten menyerukan idenya dengan bangga disambut tepuk tangan Doyoung.

Hansol mengangkat tangan. "Aku teman sekamar Yuta, kurasa agak sulit untukku untuk menjauh dari anak itu."

"Tenang, Hyung. Aku akan menggeretmu berhubung aku sendiri teman sekamar Taeyong-hyung." Doyoung mengacungkan jempolnya. "Kau juga bisa menghabiskan waktumu lebih banyak dengan minirookies. Oh, pastikan tak satupun dari mereka bermain dengan Taeyong-hyung maupun Yuta-hyung. Terutama Jaemin."

Seketika saat itu juga Hansol merasa diberi beban yang berat tapi ia hanya diam saja karena tak tahu harus membantah seperti apa. Kenapa kedekatannya dengan para member muda itu malah jadi tiba-tiba merepotkan begini, sih?

Kali ini Johnny yang mengangkat tangan. "Untungnya melakukan ini sebenarnya apa?"

"Hyung, sebagai teman yang baik, kami berdua ingin mereka dalam kondisi bahagia." Bahagia kepalamu? Semua yang ada di sana kecuali Ten dan Doyoung tidak dapat menahan rotasi pada bola mata mereka. Mereka semua tahu kemarin Yuta menghabiskan jatah es krim milik Ten jadi mereka merasa, ide ini tak lebih dari aksi balas dendam pemuda asal Bangkok itu.

"Tapi serius. Aku ingin mereka lebih bahagia, setidaknya lebih dari yang mereka rasakan saat ini." Kini Doyoung yang membuka suara. "Maksudku, kalau bukan karena itu, mana mungkin aku menyetujui ide anak tengik ini, bukan?" Doyoung menunjuk Ten yang tentu saja langsung disambut cibiran pihak yang ditunjuk. Sedang yang lain mulai menaruh atensi pada Doyoung. "Sebagai teman satu kamar Taeyong-hyung, aku merasa dia sangat menutup diri. Ya, kalian tahu meski berbaur dengan baik dengan kita tapi dia selalu terlihat menyembunyikan sesuatu dari kita, menyembunyikan bebannya sendiri. Kita tahu selama ini ada Yuta-hyung yang bersamanya. Taeyong hanya terbuka pada Yuta, kita semua tahu." Doyoung bahkan melepas embel-embel hyung pada nama mereka berdua, menunjukkan ia begitu serius saat ini. "Tapi karena dia tak banyak bersama dengan Yuta belakangan ini, kurasa ada banyak hal yang ia pendam. Walaupun aku mulai lebih dekat dengannya sejak berbagi kamar, tetap saja kedekatan kami tidak pada level di mana dia bersedia menceritakan sesuatu padaku. Aku merasa tidak enak karena selalu dia yang menjadi pemberi saran, sedangkan ia memendam masalahnya sendiri."

Hening setelah Doyoung mengakhiri ungkapan isi pikirannya.

"Kau benar, sebenarnya sulit untuk merusak tembok yang Taeyong bangun dari orang lain." Taeil berkomentar. "Gampang saja untung mendekati Taeyong tapi sulit membuatnya nyaman untuk bercerita. Hanya Yuta yang bisa melakukannya sejauh ini." Taeil memang pendiam dan terkesan tidak peduli dengan sekitarnya, tapi sesungguhnya Taeil adalah seorang kakak yang memperhatikan baik-baik semua adiknya.

"Tapi bukankah kita terlalu ikut campur urusan mereka?" gumam seorang pemuda setengah amerika di sana. Sedang Johnny kembali menunjuk keraguannya, Jaehyun menarik lengan kakaknya.

"Hyung, bukankah ini ide bagus?" Jaehyun berbisik di telinga Johnny.

Dahi Johnny mengkerut. "Ide bagus untuk?"

"Meruntuhkan kecurigaan kita. Kau tahu, dengan begini bisa lebih jelas apa yang sebenarnya terjadi pada mereka berdua. Kita bisa meyakinkan diri kita bahwa mereka hanya teman." Rupanya, pemuda yang termuda di antara hyung-line itu masih mengkhawatirkan dirinya atas kecurigaan terhadap dua kakaknya itu.

Tapi respon Johnny tak sebagus yang dipikirkan Jaehyun. Johnny tersenyum tipis tidak yakin. "Bagaimana kalau ini malah membuktikan sesuatu yang tidak seharusnya di antara mereka?"

Mata Jaehyun membulat. "Kenapa kau berpikir itu yang akan terjadi, hyung?!" Jaehyun terdengar tidak suka, tapi volume suaranya tentu masih sangat kecil sehingga tidak didengar empat orang lainnya.

Tapi Johnny hanya bisa tersenyum tipis. Karena sungguh, sejak hari itu Johnny menaikkan keyakinan terhadap hipotesanya sampai delapan puluh persen. Itu sudah terlalu banyak, dan Johnny tidak mau menambahnya. Jadi Johnny memutuskan untuk tidak lagi mencari tahu. Membiarkan rasa ingin tahunya memudar seiring waktu. Ingin bersikap masa bodoh pada keduanya seperti saat ia belum menaruh curiga. Ayolah, mereka berdua punya privasi yang sebaiknya Johnny tidak sentuh. Apalagi ia sempai melukai Taeyong―secara tidak langsung―karena rasa penasarannya itu. Meski di sisi lain, Johnny ingin tahu dan ingin memastikan hubungan apa yang dijalani keduanya. Hanya saja di saat yang bersamaan, Johnny takut kecurigannya malah terbukti benar. Tak masalah jika hanya dia yang tahu, toh dia tidak akan buka mulut. Tapi jika satu isi dorm yang membuktikannya, akankah keduanya masih merasa enak hati pada yang lain dan begitu sebaliknya?

"Yak, Jung Yoonoh dan Seo Youngho jangan membuat forum dalam forum." Suara Doyoung membangunkan Johnny dari lamunannya. Mereka masih lanjut berdiskusi rencana-mendekatkan-yang-renggang itu. Ingin Johnny berusaha menggagalkan rencana ini. Tapi lima lawan satu, sudah jelas siapa yang menang, bukan?

.

.

"Oh, kalian semua di sini rupanya." Yuta menengok ke dalam studio vokal, menemukan beberapa temannya―dan semuanya adalah teman satu dormnya, sedang bercengkrama. Suara Yuta mengagetkan mereka semua. Di belakang Yuta ada Taeyong yang terlihat ragu ingin ikut mengintip ke dalam. "Omong-omong, Hansol-hyung. Dicari Taeyong, katanya hari ini jadwal kalian belanja."

Belum saja Hansol membuka mulut, Ten langsung menyambar dan memeluk Hansol. "Wah, bagaimana ya? Tadi pelatih bilang mau latihan tambahan denganku dan Hansol-hyung. Iya, kan, Hyung?" Ten mengedipkan sebelah matanya.

"A-ah, iya. Apa kau keberatan menggantikanku untuk belanja, Yuta?"

Yuta merungut, jelas sekali ia kurang menyukai permintaan Hansol.

Kali ini Taeyong meyakinkan diri untuk mengintip. Ia menyembulkan kepalanya dari balik punggung Yuta. "Benarkah itu, Hyung. Kau ada latihan tambahan?" tanya Taeyong.

"Benar! Aku juga mendengarnya tadi." Kali ini Jaehyun yang menyambar.

"Tapi kenapa harus aku yang menggantikan? Yang lain saja. Aku mau langsung pulang." Yuta menyuarakan keengganannya.

"Benar, yang lain saja." Taeyong menambahkan.

Yang lain sempat saling bertatapan. "Kami semua masih ingin di sini. Kau sudah mau pulang, kan, Yuta? Hush! Sana sekalian pergi belanja!" Itu suara Doyoung yang dengan senang hati mengusir mereka.

Kerutan di dahi Yuta semakin kusut dan Taeyong menghela napas berat. "Aku akan menunggu kalian. Jadi aku bisa pergi dengan siapa saja."

"Tidak bisa begitu!" Doyoung menyela. "Maksudku, kalau terlalu malam bisa-bisa dagingnya habis!" tambah pemuda kelinci itu sejurus kemudian karena kalimatnya mengundang tatapan curiga dari teman sekamarnya sendiri.

"Oh, benar. Kudengar ada diskon 40% untuk produk telur sampai jam 9 hari ini. Kalian harus cepat!" Taeil bahkan ikut-ikutan mengusir keduanya.

Baik Taeyong maupun Yuta, entah kenapa tak bisa melawan. Mereka sendiri begitu heran karena semua tiba-tiba begitu gencar mengusir mereka. Mengangkat bahu, keduanya hanya bisa pasrah untuk pergi belanja berdua.

Ten bersorak begitu Taeyong dan Yuta meninggalkan tempat karena rencananya sudah mulai berjalan.

Sedangkan korban dari rencana yang Ten beri judul Mendekatkan yang Renggang itu berjalan canggung bersisian. Yuta merasa nostalgia sekarang.

"Aku bisa pergi sendiri. Kau pulanglah lebih dulu." Taeyong membuka suara.

Yuta mengantongkan tangannya ke dalam saku jaket. "Tidak. Belanjaan hari ini cukup banyak, bukan? Aku akan membantumu."

"Bukannya kau ingin cepat-cepat pulang?" Taeyong menyeringai.

Yuta menggeleng. "Tidak apa-apa. Lagipula aku merindukanmu."

Lantas tawa Taeyong mengudara sebelum kepalan tangannya meninju lengan Yuta pelan. "Hentikan atau aku akan menerjangmu saat ini juga."

Yuta tak membalas lagi. Dalam hati sebenarnya ia bersyukur dengan perubahan kecil yang secara pribadi ia rasakan dalam hubungan mereka saat ini, sekalipun mereka masih saling menjauh, mereka tidak lagi secanggung dulu. Mungkin, karena Taeyong sudah berjanji padanya untuk menghadapi semuanya bersama.

.

.

TBC

A/N: AKU MASIH HIDUP KOK. AKU NGILANG BENTAR AJA KOK. Maaf lama dan maksa. Aku lagi bener-bener unproductive alias WB. Ga cuma FF; review, PM sampe group chat ga ada yang aku waro :'( maaf ya reviewnya belum aku bales dan yang ficnya juga aku belum review. Tapi pasti aku review kok.

Aku juga minta maaf setelah lama hilang malah menyuguhkan chapter ini. Jujur ini chapter paling kurang memuaskan bagi aku pribadi, mungkin gara-gara masih ada bekas WB kali ya? /halah

Ohya, soal Yuta lari 20km aku nemu di tumblr (dan bodohnya aku lupa akunnya apa) kayak gif dari Abnormal Summit Yuta ngaku bisa lari 20km nonstop saat stres. Aku gatau itu bener atau fanedit (tapi aku ga liat ada tulisan edit meanwhile orangnya sendiri juga kaget Yuta ngomong gitu jadi kuanggep beneran) dan aku sendiri baru nonton Abnormal Summit beberapa episode aja jadi jangan marahin aku kalau misalnya lari 20km terkesan berlebihan :'D

special thanks to: Kim991, seeuhun no its xiuhun, Flower566, dhantieee, yeseulnamm, yxnghua, untungsayang, cacacukachanhun, Kutang Ajaib Uchiha, Hansolasido, NYUTENTAE, alvirajn, guest, JenTababy , sokyu977, MinMiJK, Arisa Hosho, Hime Taeyong, shiholeen, deerianda, nugu, Yhipey, ucinn, Chocospark, Mifta Jannah, LeeTYX, wakaTaeYu, chabe Osaka and those who did fav and follow! (omong-omong ada yang belum kesebut namanya?)

See ya next chapter :*