Taeyong keluar dari kamarnya sambil mengucek mata agar dapat terbuka. Saat kelopak mata sebelah kanannya mulai terasa ringan untuk terangkat, ia menemukan Taeil, Hansol, dan Doyoung sudah berpakaian rapi. Lantas Taeyong mengerjap mata heran. Ada apa gerangan pagi-pagi begini? "Mau ke mana, kalian?" tanyanya dengan suara parau akibat baru bangun tidur.
"Ke studio, memang ke mana lagi?"
"Sepagi ini?!"
Doyoung menyeringai. "Tentu saja. Kami semua anak rajin. Memangnya kau, Hyung? Pagi-pagi susah dibangunkan?"
Ingin rasanya Taeyong melempar pemuda kelinci itu dengan vas bunga yang ada di dekatnya. Sayang, Taeyong tidak mau membuat ruangan jadi berantakan. "Cih, kalian sok rajin sekali. Pergi sana!" Taeyong pun membuat gerakan mengusir.
.
.
Two Holding Hands
aspartam
NCT © SM Ent.
Contains typo(s), possibly OOC, BxB.
Taeyong x Yuta fic, I've warned you.
.
.
Yuta kembali dari kegiatan lari paginya yang tumben-tumbennya ia lakukan lagi setelah cukup lama memilih rutin menghabiskan pagi di atas kasur. Membuka pintu dorm, rasanya senyap sekali. Heran, karena tidak biasanya dorm sesunyi ini bahkan ketika Jaehyun dan member lain yang lebih muda pergi ke sekolah. Yuta melenggang santai menuju dapur. Tak menemukan satu pun makhluk bernapas di sana. Yuta mengambil air dingin yang ada di kulkas dengan tanda tanya masih memenuhi otaknya.
"Oh, kau sudah kembali rupanya." Suara Taeyong membuat Yuta menoleh.
Setelah berhasil meneguk airnya, Yuta membuka suara. "Mana yang lain? Kenapa sepi sekali?"
"Youngho-hyung dan Ten masih tidur, kurasa. Jaehyun dan minirookies pergi ke sekolah. Sisanya sedang sok rajin dengan pergi ke studio pagi-pagi begini."
Sebelah alis Yuta terangkat naik. "Benarkah? Tidak sarapan?" tanya Yuta.
Taeyong mengangkat bahu. "Mungkin sarapan di luar. Oh, kau mau roti panggang?"
Yuta mengangkat salah satu ujung bibirnya. "Boleh. Tolong, ya." Rezeki jangan ditolak. Apalagi yang akan membuatkannya roti panggang adalah Lee Taeyong dengan kemampuan masaknya setara kepala koki sekalipun menu yang ditawarkan hanya sajian sederhana.
"Kalau begitu, tunggu sambil menonton televisi, sana!" usir Taeyong sebelum mengambil beberapa lembar roti dari bungkusnya.
Yuta mengerinyit tersinggung. "Kenapa harus begitu?"
"Aku bisa grogi dilihat memasak olehmu. Bisa-bisa aku membuat rotinya gosong."
"Pft-" Yuta menahan tawa. "Baiklah aku mengerti. Buatkan yang enak ya, Chef Lee." Setelahnya Yuta menyeret kakinya ke ruang tengah. Menyalakan televisi dan langsung memindahkan salurannya ke saluran Jepang. Lumayan bisa menonton anime yang tayang di pagi hari.
Tepat saat jeda iklan, Taeyong datang mengantarkan piring dengan dua lembar roti panggang yang menutupi telur mata sapi, beberapa lembar selada, dan dua biji bacon di tengahnya. Yuta tersenyum menerima piring itu. Mengucapkan terimakasih dalam diam sebelum melahapnya.
Taeyong sendiri duduk di bagian sisi ujung sofa, membuat jarak yang cukup jauh dari Yuta. Meski begitu, dengan ekor matanya, Taeyong tak bisa menahan senyum puas memerhatikan Yuta yang dengan lahap memakan roti panggang buatannya. Ah, rasanya ia ingin memberikan dua roti panggang lain―yang ia sengaja sisihkan untuk Ten dan Johnny―pada Yuta saja. Biar saja dua kebo itu kelaparan karena tidak sarapan. Sayang, Taeyong enggan kena semprot Johnny atau cibiran Ten.
Mereka memang tidak banyak bicara saat itu. Cukup menikmati sarapan masing-masing. Tapi bagi Taeyong dan bahkan bagi Yuta, ini adalah sarapan terbaik yang mereka habiskan beberapa waktu belakangan.
.
.
Perut Johnny berbunyi menahan lapar. Sungguh, ia terbangun karena mencium aroma roti panggang dan telur goreng yang ia percayai buatan Taeyong. Matanya langsung terbuka lebar, kantuknya terusir begitu saja, ia sudah bersiap untuk bergegas bangun serta sarapan. Tapi saat ini ia bahkan tak bisa menyentuh ganggang pintu karena Ten bergelayut di kakinya, melarang Johnny untuk keluar dari kamar.
"For God's sake, Chittapon Leewhatsoeveritiswithporn, aku lapar!" gerutu Johnny jengah.
Tapi Ten malah makin kekeuh bergelayut di kaki Johnny. Pertama, tentu saja Ten tidak mau Johnny mengganggu Taeyong dan Yuta sarapan berdua. Ayolah, recananya yang brilian ini tidak boleh gagal hanya karena perut keroncongan, sekalipun sebenarnya tak masalah jika menimbrung dengan mereka hanya sekali dua kali. Kedua, Ten jelas saja merasa kesal karena nama panjangnya seenak jidat diubah Johnny karena pemuda jangkung itu tak bisa mengingatnya dengan baik. "Come on, Hyung! Kapan lagi mereka sarapan berdua? Kau ingat biasanya salah satu mereka makan di dapur sedangkan yang lainnya di ruang tengah, right?"
Johnny merotasi bola matanya. Ia menyerah, mengibaskan tangannya di depan muka Ten, meminta pemuda penyuka pedas itu menjauhi kakinya. "I hope you have something for my poor stomach." Johnny mengelus perutnya yang lapar. Memang saat berdua saja, bahasa yang mereka gunakan jadi campur aduk dengan bahasa Inggris mengingat keduanya justru sama-sama lebih lancar bahasa Inggris dibanding Koreanya.
Ten tersenyum lebar sembari menjauhi Johnny. Sedikit berlari menuju meja nakas miliknya. "Fortunately, I always have these chocopies on my desk. There, you can have them." Lalu Ten melempar satu kotak kecil jajanan populer itu pada Johnny.
.
.
Taeyong selalu paling semangat jika sudah latihan dance. Mentang-mentang gerakannya paling bagus, kalau Doyoung biasa mencibir walau sebenarnya siapapun pasti mengakui bakat Taeyong dalam menari. Doyoung pun sejak sekamar dengan Taeyong, memilih untuk diajarkan oleh sang roommate. Tidak oleh Ten yang banyak maunya. Tidak oleh Johnny yang lebih banyak mengganggunya. Tidak juga dengan Jaehyun yang sok mengaku belum menguasai gerakannya dengan baik.
Tetapi, sejak rencana berjalan, Doyoung kembali harus tabah-tabah menghadapi Ten karena ia perlu pemuda Thailand itu untuk mengajarinya.
Perubahan itu tentu tidak luput dari perhatian Taeyong. Dia bisa lihat Doyoung langsung berlari pada Ten setelah pelatih memberi mereka waktu untuk berlatih sendiri. Terkadang Jaehyun akan ikut bersama Ten mengajari Doyoung. Di saat itu Taeyong berniat beralih latihan bersama Taeil sekalian mengajari salah satu kakak favoritnya itu beberapa gerakan tapi Taeil sendiri sudah asyik bersama Johnny. Kemudian saat ia sudah pasrah untuk memutuskan melanjutkan latihan sendiri, ia menemukan Yuta sendirian si salah satu sisi studio. Setelah memikirkan beberapa pertimbangan, akhirnya pemuda dengan paras nyaris sempurna itu memilih untuk menghampiri Yuta. "Tumben tidak bersama Hansol-hyung?"
Suara Taeyong membuat Yuta menghentikan gerakan yang sedang ia ulangi terus-menerus agar terbiasa. "Oh, Taeyong? Tidak bersama Doyoung?" Yuta malah balik bertanya.
Taeyong menunjuk asal dengan dagunya pada Doyoung yang sedang marah-marah―karena Ten ditemani Jaehyun sedang tertawa terbahak-bahak―untuk menjawab pertanyaan Yuta. "Lalu di mana Hansol-hyung?" tanya Taeyong sekali lagi.
Yuta mengangkat bahu. "Tidak tahu, tapi dia langsung mengajak Jaemin dan Mark keluar. Entah pergi ke mana," jawab Yuta tak acuh. "Omong-omong bagaimana cara melakukan gerakan memutar yang ini? Pinggangku sakit setiap mencoba melakukannya." Yuta mempraktekan sedikit gerakan yang dimaksud namun malah berakhir merasa nyeri di pinggangnya.
Taeyong lantas tertawa kecil. "Badanmu terlalu kaku. Kau atlet tapi tidak pernah melakukan perenggangan, heh?"
Perkataan Taeyong terdengar seperti sebuah ejekan di telinga Yuta. Tidak tahan, pemuda pecinta takoyaki itu menendang betis Taeyong. Jangan lupakan Yuta adalah mantan pemain sepak bola, tendangannya tidak main-main meski hanya dilakukan dengan setengah hati. Tidak heran jika Taeyong kini meringkuk kesakitan.
"Kau mematahkan kakiku!" rengek Taeyong dramatis.
Yuta merotasi bola matanya malas. "Jangan berlebihan. Lagipula kakek-kakek sepertimu tidak seharusnya mengejek badanku kaku!" Jelas saja Yuta kesal. Meski badannya kaku, Yuta yakin itu bukan penyebab yang tepat kenapa ia merasa pinggangnya sakit saat melakukan gerakan tertentu. Ia penari yang cukup baik di antara para trainee meski tak sebagus Taeyong atau Ten. Tapi Taeyong yang badannya cukup lentur saja sering mengeluh sakit pinggang. Jadi, tentu saja ini bukan soal badan kakunya.
Taeyong tertawa, kenapa Yuta yang sedang kesal itu menggemaskan sekali di matanya? Padahal lelaki manly seperti Yuta harusnya seram saat marah. Orang kasmaran memang beda, pasti ada filter khusus di matanya yang membuat Yuta terlihat menggemaskan. Taeyong yakin begitu. Karenanya, sebelum membuat Yuta tambah kesal atau dengan kata lain membuat dirinya semakin gemas pada pemuda yang satu lagi, Taeyong pun mendemonstrasikan gerakan yang dimaksud Yuta pelan-pelan. "Harusnya kau menghadapkan kakimu ke arah luar, jadi pinggangmu akan lebih nyaman." Taeyong menuturkan.
Yuta mengikuti instruksi Taeyong. "Begini?"
Taeyong membuang napas kasar. Tangannya bergerak menyentuh kaki Yuta, bermaksud untuk membenarkan posisi kaki itu. Tapi Yuta tampaknya malah gugup sendiri mendapati Taeyong memegangi kakinya. Persetan, Yuta cepat-cepat menggeleng kuat mengusir rasa gugupnya. Selesai memperbaiki posisi kaki Yuta, Taeyong kembali berdiri. "Coba berputar lagi."
Yuta mengangguk sebelum mempraktekan gerakan itu lagi dan kali ini... berhasil! Ia berputar dengan baik tanpa menyakiti pinggangnya, bahkan gerakannya terlihat lebih bagus untuk dipandang.
Senyum Yuta merekah, berterimakasih pada Taeyong lewat pandangan matanya yang berbinar.
Senyum Taeyong melebar, puas karena dapat membantu Yuta semakin baik dalam gerakannya.
Senyum Doyoung, Ten, dan Jaehyun juga ikut mengembang, rencana mereka sepertinya berjalan lancar.
.
.
Yuta merengut. Entah sudah kali berapa dalam minggu ini ia lagi-lagi menemukan Taeyong seorang diri di ruang latihan. Seingatnya, Jungwoo mengatakan Hansol berada di sini, tapi yang ia temukan hanya Taeyong yang masih terus lanjut latihan sendirian. Bukan apa-apa, Yuta bahkan tidak ingat kapan terakhir kali ia bersama member lain tanpa Taeyong. Bahkan ia jauh lebih banyak bersama Taeyong beberapa minggu belakangan.
Hei, bukankah mereka sepakat untuk tidak terlalu dekat satu sama lain? Karena seperti prinsip elastisitas fisika, semakin sering direnggangkan, semakin tidak elastis sebelum akhirnya putus. Jadi, jika mereka tak punya kesempatan untuk merenggang, bagaimana cara mereka memutuskan perasaan mereka yang masih sama-sama kuat?
Yuta terus saja diam dengan berbagai pikiran yang mengganggunya membuat Taeyong yang sebenarnya sudah melihatnya sejak awal―cermin dalam studio tari bukannya punya titik buta terhadap pintu masuk―sampai menghentikan gerakannya. "Jadi kau mau masuk atau tidak?" Taeyong mulai bersuara.
Yuta hanya mengangkat bahu pada mulanya. Tapi ia memilih masuk dan menutup pintu, membuat mereka berdua dalam satu ruangan sama yang kedap suara. "Aku mencari Hansol-hyung." Yuta menuturkan.
"Dia sudah pergi bersama Jeno dari tadi."
Yuta mengangguk paham, tidak berkata apa-apa setelahnya menyisakan hening di antara mereka. Taeyong pun hendak kembali menyalakan musik untuk latihan, namun Yuta tiba-tiba kembali bersuara. "Taeyong-ah."
"Hm?"
"Tidakkah kau berpikir kita terlalu banyak bersama akhir-akhir ini?"
Taeyong menatap Yuta dengan alis saling bertaut. Ia merasakan hal yang sama, kalau disuruh jujur. Tapi Taeyong enggan mengungkitnya karena tidak tahu di mana letak penyebab mereka selalu terjebak situasi berduaan belakangan ini.
Ten dan yang lain memang terlalu cerdik untuk membuat semuanya terlihat natural.
Taeyong berbalik, melangkahkan kakinya mendekati Yuta. "Apa kau terganggu dengan itu?" tanya Taeyong. Dari nada bicaranya, terdengar sangat serius.
Yuta terdiam pada awalnya. "Tidak, tapi maksudku bukankah kita seharusnya saling menjauh?"
Taeyong pun mendudukkan dirinya, menyandarkan punggungnya pada dinding. "Kalau dipikir kembali, menjauh pun percuma. Yang kurasakan cuma merindukanmu."
Yuta terdiam.
"Jadi?" Taeyong bertanya lagi.
"Apanya?" Yuta balik bertanya.
"Apa kau keberatan?"
"Soal?"
"Berhenti menjauh."
Napas Yuta tercekat. Rasanya jantungnya berhenti berdetak saat itu juga. Ia mendudukkan dirinya tepat di sebelah Taeyong. Berinisiatif menggenggam telapak tangan favoritnya itu. "Tidak tahu."
.
.
Waktu mendekati tengah malam. Sudah saatnya kembali ke dorm. Taeyong membawa kunci, jadi tak perlu khawatir jika Taeil sudah mengunci pintu depan.
"Aku lapar." Yuta mendengus. Merapatkan jaketnya sekaligus memegangi perutnya yang berbunyi.
Taeyong sendiri tidak beraksi apa-apa. Ia melirik ke sisi jalan di sebrang. "Ada oden." Taeyong menunjuk penjual oden yang masih buka sampai tengah malam begini.
"Mau beli oden?" tanya Yuta yang pandangannya sudah mengikuti arah jari Taeyong menunjuk. "Kupikir kau akan mengajakku ke restoran barbeque 24jam langgananmu itu."
Taeyong melirik Yuta sinis. "Kau bawa uang banyak?"
Yuta menggeleng polos.
"Ya, sudah. Oden."
Yuta cemberut karena batal makan malam dengan daging. Ya, sudahlah. Lagipula makan oden di malam dingin seperti ini tidak buruk. Yuta lantas mengikuti Taeyong menyebrangi jalan. Tapi langkah Taeyong tidak berhenti di tempat penjual oden membuat Yuta kebingungan. "Taeyong?" Yuta memanggil nama temannya penuh kebingungan.
Taeyong tidak banyak menggubris. Hanya mengayunkan tangannya, memberi tanda untuk Yuta tetap mengikutinya. Sedang Yuta mau tak mau hanya menurut. Ia berlari kecil menyusul langkah Taeyong. "Bukankah kita akan membeli oden?" tanya Yuta lagi.
"Apa kau kenyang hanya dengan oden?"
"Tentu saja tidak!"
"Kalau begitu, kita pergi ke tempat lain saja."
Kepala Yuta dimiringkan bingung. "Ke mana? Tunggu, memang kau bawa uang banyak?" Pemuda Kansai itu kemudian bagai ingin mengintrogasi.
"Ada restoran samgyeopsal 24 jam di dekat sini. Harganya juga lumayan."
Senyum Yuta kemudian merekah mendengar salah satu makanan favoritnya disebutkan. Tanpa sadar ia langsung melingkarkan tangannya pada pinggang Taeyong. Hanya refleks karena senang. Anak manja seperti Yuta sering melakukannya pada siapapun, termasuk Taeyong dulu saat mereka belum menyadari perasaan masing-masing.
Dulu, artinya sekarang sudah tidak pernah. Merasakan lengan Yuta kembali melingkar pada salah satu bagian tubuhnya, Taeyong tak menyangka efeknya seluarbiasa ini. Badannya bergetar akibat begitu senangnya, wajahnya panas terasa darahnya mengalir naik ke atas. Jangan lupakan jantung yang berdetak hebat diikuti peluh yang mengalir dingin. Taeyong ingin berteriak sekarang.
.
.
Sudah sabtu pagi ketiga pada bulan ini. Semuanya masih menjalankan rencana mendekatkan yang renggang mereka yang di luar dugaan berjalan terlalu mulus. Taeyong dan Yuta kembali akrab selayaknya dulu tanpa mengetahui rencana teman-temannya. Ten kerap membusungkan dada bangga tiap melihat Taeyong berada di dekat Yuta tanpa segan. Doyoung sebagai teman sekamar Lee Taeyong juga melaporkan, tidur Taeyong lebih nyenyak, tidak sesensitif biasanya. Taeyong bahkan jarang sekali marah saat Doyoung sudah mulai cerewet. Dalam laporannya, Hansol selaku teman satu kamar Yuta menuturkan bahwa tidak banyak yang berubah dari Yuta tapi memang anak itu terlihat tertawa lebih ikhlas. Sifat savage-nya justru terasa lebih alami keluar. Jujur saja sebelum ini Hansol sempat beberapa kali mendapati anak itu murung sendirian. Namun sekarang, sudah tidak pernah lagi.
"Taeyong-hyung berangkat bersama Yuta-hyung lagi?" Mark yang kebetulan lewat tidak sengaja menemukan Taeyong dan Yuta sedang memasang sepatu bersebelahan.
Taeyong sendiri selesai memasang sepatunya lebih dulu menoleh ke arah sumber suara tak lupa mematri senyum di bibir. "Begitulah. Bilang pada yang lain kami pergi duluan." Yuta menyusul selesai dengan urusan sepatu tak lama kemudian. Ia berdiri menghadap setengah badannya pada Mark, melambaikan tangannya hendak bergegas pergi.
Mark sendiri mengangguk polos. Melambaikan tangannya balik pada Yuta. "Hati-hati, Hyung!" seru anak itu pada kedua kakaknya yang menghilang dari balik pintu beberapa saat setelahnya. "Syukurlah Taeyong-hyung dan Yuta-hyung akrab kembali seperti semula."
Mark dan adik-adiknya bukan berarti terlalu polos untuk tidak menyadari kalau kedua kakanya itu menjauh sebelumnya. Tapi mereka semua cukup sadar diri untuk tidak bertanya. Ia yakin kakak-kakaknya cukup dewasa untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Dan Mark merasa mereka sudah kembali seperti semula, tuh.
Jaehyun dan Ten yang sedang menikmati sarapan bubur instan mereka dapat mendengar jelas apa yang digumamkan adik mereka. Jaehyun melirik pada Ten. "Bagaimana? Bukankah artinya misi kita sudah berhasil, Hyung?" tukas pemuda yang bahkan lebih tinggi dari beberapa kakaknya itu.
Ten mengangkat bahu. "Memang sudah seharusnya. Tapi aku dan Doyoungie terlanjur membeli tiket ke Lotte World hari minggu untuk kita semua tanpa mereka berdua."
Jaehyun terdiam sesaat. "Kita selesaikan misinya sampai besok pulang dari Lotte World saja, Hyung."
.
.
Jaehyun sangat bersemangat hari ini. Selain karena latihan ditiadakan meski hari debut mereka akan segera tiba―kata manager mereka perlu istirahat untuk melepas stres pula―ia dan member lainnya akan pergi bersenang-senang meski tanpa mengajak dua orang tertentu. Peduli setan, yang penting dia mendapat bagian tiket bersenang-senang itu. Memang persahabatan antar laki-laki itu sebatas tiket pergi ke Lotte World―tentu saja ini hanya gurauan.
Yuta menyipitkan matanya curiga melihat Jaehyun yang tersenyum lebar itu. Padahal dari tadi ia belum makan apa-apa, harusnya si rakus itu sedang merengek mencari makan sekarang.
"Hyung kenapa sih?" tanya Jaehyun yang menyadari tatapan curiga Yuta.
"Kau terlihat terlalu bahagia dan itu mencurigakan."
"Hyung, kau terlalu dramatis. Aku hanya menantikan hadiah kelulusanku hari ini."
Yuta semakin menyipitkan matanya curiga. "Hadiah kelulusan? Kelulusanmu bahkan sudah lewat sebulan lalu."
"Eish, berhenti bertanya, Hyung!"
Yuta baru saja hendak mengeluarkan suaranya, tetapi teriakan melengking lainnya sudah memotong. "Kalian bahkan mengajak Kun dan Sicheng! Kenapa aku malah tidak diajak?!" Yang lebih mengherankan, suara itu jelas-jelas milik Taeyong. Apa yang menyebabkan pemuda tsundere itu berteriak nyaring seperti barusan? Yuta pun meninggalkan Jaehyun yang langsung kabur memasang sepatu untuk bersiap-siap pergi.
Mendekati kamarnya dulu―yang sekarang jadi milik Doyoung dan Taeyong―ia menemukan kedua penghuni kamar lagi-lagi sedang ribut. "Awalnya aku mau memberikan tiketnya padamu dan Yuta-hyung, tapi kupikir lebih baik diberikan pada Kun dan Sicheng supaya kami bisa lebih akrab."
Yuta mendengar namanya disebut tidak jadi ingin mengusik pertengkaran antar teman satu kamar itu dan memilih menyimak.
Sedangkan Taeyong membuang napas kasar. "Yang akan debut satu unit dengan Sicheng nanti itu aku. Harusnya yang mengakrabkan diri dengannya adalah aku bukan kau."
"Justru karena kalian akan berada dalam satu unit, maka kalian akan punya banyak waktu luang untuk mengakrabkan diri. Sudah ya, yang lain sudah menunggu di luar. Oh, Yuta-hyung. Jaga dorm baik-baik, ya!" Doyoung dengan cepat melesat ke pintu depan. Memasang sepatunya buru-buru dan menarik lengan Jaehyun keluar menyusul teman-teman mereka yang sudah menunggu di luar. Meninggalkan Yuta yang masih tidak mengerti keadaan dan Taeyong yang sedang merajuk.
"Mereka mau ke mana, sih?" tanya Yuta pada akhirnya.
"Lotte World."
"Hah? Kenapa mereka tidak mengajakku?!"
"Aku menanyakan hal yang sama pada Doyoung dan jawabannya sama seperti yang kau dengar tadi."
"Pengkhianat!" Yuta tidak berhenti mengucapkan sumpah serapah pada teman-temannya sejak saat itu.
.
.
Taeyong merampoki isi kulkas dengan ganas. Tidak peduli Jaehyun akan menangis tersedu-sedu nanti karena jajanan di lemari pendingin sudah dijajah habis. Sedangkan Yuta memberantaki ruang tengah dengan kumpulan DVD milik Johnny. Memilih film yang dirasa menyenangkan untuk ditonton dalam rangka melampiaskan kekesalan mereka karena tidak diajak bersenang-senang. "London has Fallen? Tidak, tidak." Yuta mengembalikan DVD itu kembali ke tempat asalnya. "Deadpool? Oh, Kukira blue-ray disk-nya belum keluar." Yuta merasa menemukan film yang tepat untuk ditonton. Film yang jadi viral belakangan ini tapi belum sempat ditontonnya karena sibuk.
Taeyong datang dengan membawa hasil rampokannya.
"Kita benar-benar tidak menyusul mereka?" tanya Yuta yang masih ingin naik roller coaster dibanding menonton film.
"Kalau kau punya uang aku dengan senang hati menyusul ke sana."
Yuta cemberut karena mereka berdua sama-sama sedang tidak punya banyak uang saat ini. Mendengus kesal ia duduk di sofa tepat di samping Taeyong setelah memutar film itu. Merebahkan kepalanya di bahu Taeyong. Mencomot asal berondong jagung yang ada di pangkuan Taeyong.
Entah karena terlalu kesal atau apa, humor-humor yang disuguhkan film itu bahkan sejak detik pertama tidak berhasil membuat mereka tertawa. Keduanya sama-sama tidak tertawa pada adegan mannequin-challenge-before-it-was-cool yang menjadi introduksi, tidak juga saat Pool merasa bosan duduk sendirian. Tapi Taeyong kaget saat melihat wajah Pool pertama kali dari topeng spandeksnya. Saat itulah Yuta mulai senyum-senyum sendiri. Karena berikutnya, terlalu banyak adegan kekerasan disuguhkan. Membuat Taeyong yang terkenal penakut mengerinyit geli bersembunyi di balik pundak Yuta. Pada akhirnya, Yuta berhasil untuk tertawa. Entah karena kelakuan pemeran utama yang konyol atau karena Taeyong dan ketakutannya.
"Berhentilah bersembunyi. Lihat? Ini ulasan balik masa lalunya. Dia masih tampan kau tak akan melihat wajah mengerikan itu lagi," ujar Yuta begitu celana spandex pada layar berganti dengan celana jeans yang artinya perpindaham latar.
Mendengar yang diucapkan Yuta, Taeyong kembali menyembulkan kepalanya. Menikmati tontonan itu sembari kembali menikmati berondong jagung di pangkuannya bersama Yuta.
Sampai pada akhirnya, Wade Wilson bertemu dengan wanita itu. Sejak awal, film ini memiliki rating dewasa. Adegan kekerasan, kata-kata mengumpat nan vulgar sudah jadi bukti. Tapi Taeyong maupun Yuta tak menyangka adegan vulgar juga ada. Bukan hal aneh dalam film keluaran hollywood. Tapi Yuta kira sebatas ciuman panas saja? Tidak sampai dengan kilasan bercinta berbagai gaya sepanjang tahun. Yuta kira tidak sampai situ, apalagi Taeyong.
Yuta dan Taeyong sama-sama lelaki muda yang penuh gairah. Yang bisa bangun kapan saja oleh adegan dewasa. Apalagi objek fantasi mereka berada di ruangan yang sama? Oh, bahkan mereka hanya berdua di dorm saat ini, bukan?
"Yuta."
"Hm?"
"Bolehkah aku..."
Yuta terdiam menggigit bibirnya. Mereka memang sudah kembali dekat satu sama lain tapi bukan berarti mereka kembali menjadi pasangan sekarang. Apa ia berhak melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Wade dan Vanessa bersama Taeyong? Ah, persetan. Yuta melirik Taeyong dengan ekor matanya yang sudah bergerak gelisah dalam posisi duduknya. Setelah hirupan napas dalam ke sekian kali, Yuta minyingkirkan mangkuk berondong jagung yang ada di pangkuan Taeyong sebelum meletakkannya atas meja. Mengganti mangkuk itu dengan dirinya sendiri merangkak naik ke pangkuan Taeyong. Yuta melingkarkan lengannya di pinggang Taeyong, dibalas dengan hal serupa dengan pemuda yang satunya. "Kali ini kupastikan aku yang mendominasi," bisik Yuta.
Taeyong terkekeh sebelum menyeringai. "Kau tidak akan bisa." Kepalanya pun bergerak maju, mengincar bibir plum yang sudah menggodanya sedari tadi. Tangannya mulai bergerak naik turun mengelus punggung Yuta secara sensual. Yuta sendiri menyelipkan tangannya masuk ke dalam kaos yang dikenakan Taeyong, dia benar-benar berniat mencoba menjadi dominan.
Taeyong mana mau membiarkannya. Ia menarik Yuta agar jatuh ke samping, menindihnya sebelum pemuda itu memberontak. Melanjutkan kegiatan yang sebelumnya sempat tertunda.
.
.
TBC
a/n: Jadi aku sendiri bingung sama timeline ff ini kapan tapi karena mereka nonton Deadpool berarti Rookies Show Bangkok pun udah lewat ya? 8'D Pokoknya NCT-U belum debutlah /plak
BUT ANYWAY, WADE W. WILSON FROM REGINA I LOVE YOU SO MUCH. Ide adegan terakhir tuh lewat pas lagi gabut terus rewatch Deadpool X'D Aku udah desperate gimana cara eksekusi ini fic eh, pas mau nyekip bagian abang Wade sama Vanessa malah kepikiran, lol. Ujung-ujungnya monoton juga, sih. Hehe.
special thanks to : Kim991, seeuhun no its xiuhun, Flower566, dhantieee, Yeseul Nam, yxnghua, kesyanagan johnny dan eunwoo, cacacukachanhun, Kutang Ajaib Uchiha, rethasuh, Hansolasido, NYUTENTAE, alvirajn, guest, JenTababy , sokyu977, MinMiJK, Arisa Hosho, Hime Taeyong, shiholeen, deerianda, nugu, Yhipey, ucinn, Chocospark, Mifta Jannah, LeeTYX, wakaTaeYu, chabe Osaka, Mayumi Fujika, rusacadel, hanyu, A . Tsam, Kenyutil, MyNameX, Khasabat04, mi210691 and those who did fav and follow! (omong-omong ada yang belum kesebut namanya?)
See ya next chapter :* It needs time tho. I lost my motivation to keep writing TvT
.
.
OMAKE
.
.
Taeil menyengir lebar menghadapi tatapan tajam adik-adiknya. Mereka sudah berada di halte bus menuju Lotte World tapi Taeil tiba-tiba berteriak dompetnya ketinggalan. Dompet itu hal yang penting, dan bukan cuma masalah uang. Doyoung pun mengusirnya. Johnny menyuruhnya kembali ke dorm secepat mungkin.
"Kalian duluan saja aku akan menyusul," tukas pemuda tertua yang ada di sana.
"Kalau begitu, Hyung. Aku ikut denganmu." Ten menawarkan diri agar kakak kakunya ini tidak kesepian pulang dan menyusul seorang diri.
