Taeil meninggalkan Ten yang memilih untuk menunggu di depan gedung apartemen. Taeil mempercepat langkahnya, tidak mau membuat adik berkebangsaan Thailandnya menunggu terlalu lama. Meski terburu-buru begitu, Taeil tetap saja membuka pintu dorm tanpa suara, melangkah masuk dengan sunyi. Terlalu malas mengucap salam, atau lebih tepatnya ia malas jika bersuara maka kedua adiknya tahu akan kepulangannya lalu Yuta akan bertanya macam-macam kenapa ia kembali dan sebagainya. Yuta yang sedang merajuk tidak diajak bersenang-senang itu sangat menyebalkan, omong-omong. Ditambah Taeyong yang juga sama kesalnya, ia tahu adik tsundere-nya itu bisa menatapnya dingin seperti ingin membunuhnya kemudian entah aksi balas dendam apa yang akan Taeyong lancarkan padanya. Sungguh, Taeil enggan menghadapi dua manusia itu saat ini jadi ia memilih masuk dorm diam-diam berharap tidak ketahuan kedua adiknya itu.

Tapi saat hendak melewati ruang televisi, suara yang lebih mirip seperti erangan tertahan membuat Taeil benar-benar diam secara literal. Alisnya saling bertaut curiga, semakin pelan ia melangkahkan kakinya. Kemudian Taeil benar benar bagai dipaksa diam oleh pemandangan yang disuguhkan pada pandangannya. Lebih mengejutkan dari film horor yang ia tonton minggu lalu. Membuatnya mematung tanpa berkedip untuk memastikan pemandangan Taeyong yang sedang menindih Yuta sambil saling berperang lidah itu nyata.

.

.

Two Holding Hands

aspartam

NCT © SM Ent.

Contains typo(s), BxB, Possibly OOC.

Taeyong x Yuta fic, I've warned you

.

.

Taeil keluar dari dorm cepat-cepat dengan wajah yang memerah sempurna. Persetan dengan dompetnya, siapa yang peduli dengan itu. Tidak mungkin ia mengganggu kegiatan kedua adiknya yang sedang... argh! Apa tidak ada cara me-reset ingatan di dunia ini?

Bukan, Taeil bukannya risih dengan apa yang baru saja ia lihat―oke, ia bukannya tidak risih seratus persen. Ia hanya terkejut jika dua orang yang sangat dekat dengannya ternyata, ekhem, menyimpang. Taeil bukan seorang homophobic tapi mengetahui orang yang tinggal seatap dengannya ternyata adalah bagian dari mereka, Taeil tak pernah menyangkanya. Wajar saja ia bertingkah seperti baru melihat sebuah penampakan alien, bukan? Tidak bisa percaya dengan apa yang dilihatnya meski jelas-jelas terlihat nyata.

Otak jenius matematikanya pun mulai membuat kilasan balik tentang apa yang pernah Taeyong dan Yuta lakukan. Pantas saja saat Taeyong terkena air panas, Yuta adalah yang paling berlebihan padahal real man semacam Yuta mungkin seharusnya tidak begitu menaruh peduli. Pantas saja Taeyong mood-nya turun drastis luar biasa saat Yuta pergi naik gunung tanpa bilang-bilang. Pantas saja Taeyong pergi mencari Yuta diam-diam di saat yang lain lebih memilih makan besar. Tapi mereka menolak menjadi teman satu kamar lagi. Mereka bahkan saling menjauh setelah itu. Apa itu artinya mereka menolak untuk jadi pasangan? Taeil menggelengkan kepalanya kuat-kuat, kenapa ia harus terbawa pikiran perihal hubungan keduanya? Daripada memikirkan itu, apa yang harus ia lakukan ke depannya nanti? Merahasiakannya pada member lain atau―

"Hyung, kau sudah mengambil dompetmu?"

―oh, terlalu sibuk dengan masa denialnya, Taeil bahkan tidak sadar ia sudah menemui Ten lagi. "Ah, oh. Itu. Y-ya aku sudah menemukannya. Ayo!" Taeil menarik tangan Ten untuk pergi. Cepat-cepat kembali menemui teman-teman mereka yang sudah menunggu. Hah, Taeil berharap ia bisa melupakan semuanya saat menaiki roller coaster.

Tapi Ten menepis tarikan Taeil. "Sebentar, Hyung. Doyoung menitip polaroidnya. Jadi aku harus mengambilnya."

Kalimat Ten membuat kedua mata Taeil membola. Kalau seorang Chittapon Leechaiyapornkul melihat hal yang sama dengan yang dilihatnya, bisa-bisa―oh, Taeil tak mau membayangkannya. "Tidak perlu! Smartphone zaman sekarang kameranya bagus semua!"

Ten mengerinyit oleh perkataan kakak tertuanya. "Semua orang tahu itu, Hyung. Tapi sensasi polaroid itu berbeda!" Ten mendengus sambil mencoba mendekati lift. "Lagipula Doyoungie bisa marah kalau aku tak membawa polaroidnya."

Taeil kembali mencoba meraih tangan Ten untuk menariknya pergi. "Tapi, Ten di sana―"

"Hyung, dompetmu sudah diambil?"

"―Youngho? Kenapa kau di sini?" Tetapi, Johnny secara mengejutkan menyusul mereka. Suaranya terpaksa membuat Taeil mengalihkan pandangan dari Ten. Enggan menjawab pertanyaan Johnny, Taeil kembali bermaksud mencegah Ten masuk ke dorm. Tetapi, pemuda Thailand itu sudah masuk ke dalam lift dan naik ke lantai atas.

"Argh!"

.

.

Taeil tak berhenti-henti menekan-nekan tombol lift seolah pintunya dapat terbuka meski lift-nya sedang sibuk bergerak naik. Hal itu tentu tak luput dari mata Johnny yang merasa heran. Kenapa pula kakaknya ini harus terburu-buru? "Kenapa kau harus kembali, sih?" tanya Taeil lebih mirip membentak. Tentu saja membuat Johnny terhenyak, meski ingin menjawab jujur jika dia tiba-tiba kurang enak badan.

Kenapa kakaknya merasa panik? Dompetnya belum diambil? Kalau yang membuatnya panik adalah dompetnya, bukankah tinggal menitipkannya pada Ten yang sudah di atas? "Kau kenapa, sih, Hyung?" tanya Johnny heran.

Taeil membuang napas kasar. "Kuharap Ten tidak melihat hal yang sama dengan yang kulihat." Taeil menyerah dengan lift. Menaiki tangga darurat pun percuma. Ten pasti sudah di depan pintu dorm sekarang. Badannya merosot jatuh. Ia memijat pelipisnya. Ah, kenapa ia merasa sepanik ini padahal Taeil sama sekali tidak ada sangkut pautnya.

Johnny mengerjap matanya beberapa kali penuh kebingungan. Otaknya saat ini sedang bekerja lambat karena kondisi badannya yang tiba-tiba turun. Perlu waktu nyaris setengah menit bagi Johnny untuk menyadari ada yang ganjal dalam kalimat Taeil. "Tunggu, kau melihat apa?" Sesuatu yang Taeil lihat di saat hanya ada Taeyong dan Yuta berdua dalam dorm. Johnny yang pernah mencurigai ada sesuatu pada hubungan adik satu lininya itu hanya bisa memikirkan satu hal. Sial, padahal susah payah Johnny menurunkan kecurigaannya pada dua anak itu selama ini, malah langsung kembali merosot naik hanya karena kalimat ambigu Taeil.

Taeil sendiri tidak menjawab. Wajahnya justru semakin pucat, lebih pucat dari Johnny yang kurang enak badan.

"Apa ini ada hubungannya dengan Taeyong dan Yuta?" tanya Johnny hati-hati.

Sama. Taeil masih enggan menjawab.

Tapi di mata Johnny, keengganan Taeil menjawab artinya kalimat ambigu Taeil sebenarnya hanya punya satu makna: Taeyong dan Yuta melakukan sesuatu.

Kesimpulan asal itu membuat Johnny ikut panik sendiri. Bagaimana tidak? Ten sedang bergerak menuju flat mereka. Giliran Johnny yang sekarang dengan ganas menekan tombol lift untuk terbuka. Juga giliran Taeil yang kini menatap Johnny heran.

"Youngho, kau tahu sesuatu?" tanya Taeil tidak percaya.

Johnny menggeleng kuat. "Sesuatu apa?"

TING!

Pintu lift terbuka. Baik Johnny maupun Taeil, seakan pikiran mereka bersatu, mereka hendak cepat-cepat masuk ke dalam lift Tetapi ada sesuatu seperti mengerem langkah mereka.

Begitu lift terbuka, mereka menemukan ada Yuta dengan rambut berantakan, baju kusut, dan bibir bengkak. Mata merah―akibat menahan cairannya untuk keluar―membulat sempurna sebelum menghindari tatapan terkejut Johnny dan Taeil.

Tidak ada satupun yang bersuara di antara mereka, karena saat ini tak satupun mampu menyusun kata-kata.

Pada akhirnya Yuta tanpa sepatah kata apapun berlari dengan terseok-seok―kalau diperhatikan Yuta tak memasang sepatunya dengan baik karena sesuatu. Meninggalkan Johnny dan Taeil yang masih membatu, entah ke mana Yuta berniat lari.

.

.

Thailand itu, toleransi terhadap dua sejenis saling suka dan yang memilih pindah haluan itu tinggi. Bahkan pernikahan sesama jenis di sana bukan hal baru. Tidak terasa aneh jika melihat dua orang sama-sama lelaki atau perempuan bergandeng tangan mesra di jalan. Ten, terbiasa dengan pemandangan itu. Ia bahkan sudah sering dijejali film-film bernuansa boyslove oleh adik perempuannya. Tapi, ia nyaris tidak pernah menemukan hal serupa di Korea. Mungkin ada beberapa film, tapi itu fiksi. Ten tidak pernah menemukan yang nyata. Karenanya, Ten kaget bukan main justru teman satu dorm-nya, rekan satu naungan agensinya, korban dari rencana briliannya adalah orang-orang itu.

Ten tidak mampu bersuara sama sekali saat menemukan Taeyong menindih Yuta sambil menciumi leher pria Jepang itu membuat yang diciumi mengeluarkan beberapa desahan. Ten juga bisa lihat tangan Taeyong bergerak di balik baju yang dikenakan Yuta. Mungkin mengenai bagian dada Yuta. Sedangkan tangan Yuta terlihat seperti mencoba menggerayangi punggung Taeyong, tetapi... entahlah. Mungkin karena ia kalah dengan sensasi yang Taeyong berikan tangan Yuta malah berakhir meremat baju Taeyong erat-erat sambil melenguhkan nama pemuda di atasnya.

Ah, begitu asyiknya mereka sampai tak menyadari keberadaan Ten di sini?

Sedang pemuda Thailand itu masih dalam masa denialnya. Perlahan tungkainya membawa sosoknya berjalan mundur seolah menolak apa yang sedang ia saksikan. Terus mundur sampai tak sadar badannya menyenggol pas bunga yang ada di belakangnya. Kemudian, tentu saja―

PRANG!

―vas bunga itu jatuh, pecah, menghasilkan suara yang mampu menarik semua perhatian makhluk bernapas yang ada di dorm saat itu. Ya, termasuk dua orang yang sedang bercumbu di sofa sana.

"A-ah. I-itu. Aku..." Ten kehilangan kata-kata saat menyadari Taeyong dan Yuta kini sudah menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Rasa bersalah mulai menjalar dalam sanubarinya. Bukan, bukan karena ia mengganggu kegiatan mereka. Lebih seperti karena tidak sengaja mengetahui sesuatu yang disembunyikan.

Sedangkan rahasia yang disembunyikan itu adalah masalah serius.

Taeyong masih mematung saat itu. Tetapi Yuta sudah mendorong tubuh Taeyong sampai jatuh. Tanpa berkata apa-apa, Yuta lari. Melewati Ten. Menginjak pecahan vas bunga tanpa peduli. Yuta memasang sepatunya buru-buru tanpa menghiraukan Ten yang masih mematung maupun teriakan Taeyong yang memanggil namanya, apalagi darah yang tercecer dari kakinya.

"Maafkan aku." Ten mengucap.

Maaf karena memergoki kalian.

Maaf karena tidak sengaja mengetahui rahasia kalian.

Maaf karena sudah pernah ikut campur masalah kalian.

Maaf, entah kenapa rasanya aku seperti pernah menggagalkan usaha kalian.

Maaf―

Terlalu banyak maaf yang ingin Ten ucapkan tapi tidak bisa disuarakan.

Taeyong memandang temannya dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada panik, khawatir, kesal, dan rasa bersalah dalam pancaran matanya. "Aku akan pergi mencari Yuta." Taeyong lalu pergi ke kamarnya sendiri dan keluar membawa dua potong jaket dan dompet serta ponselnya.

Taeyong menatap Ten sejenak yang masih kehilangan kata-kata. "Akan kujelaskan nanti."

Lalu Taeyong pergi.

.

.

TBC

A/n: Ini pendek ga? Sebenarnya ini cuma setengah dari satu chapter yang asli tapi kayaknya terlalu panjang dan aku ngerasa terlalu terbebani untuk lanjutannya jadi aku potong. Menurutku chapter ini dan chapter depan bener-bener sulit semoga aku bisa menyampaikan emosinya, duh. Lanjutannya belum kutulis, btw. Masih dalam bentuk draft jadi updatenya juga bakal lama, teehee!

Special thanks to : Kim991, seeuhun no its xiuhun, Flower566, dhantieee, Yeseul Nam, yxnghua, angstpoem, cacacukachanhun, Kutang Ajaib Uchiha, rethasuh, Hansolasido, NYUTENTAE, alvirajn, guest, JenTababy , sokyu977, MinMiJK, Arisa Hosho, Hime Taeyong, shiholeen, deerianda, nugu, Yhipey, ucinn, Chocospark, Mifta Jannah, LeeTYX, wakaTaeYu, chabe Osaka, Mayumi Fujika, rusacadel, hanyu, A . Tsam, Kenyutil, MyNameX, Khasabat04 , mi210691, Yuuui-chan, unnayus, keiaries, YuKillua-Kira, Tary200, Seventeeen Yup, , vanderwood and those who did fav and follow! (omong-omong ada yang belum kesebut namanya?)

Thanks for reading and see ya next chapter!