Ten berusaha mengumpulkan pecahan-pecahan vas bunga meski pikirannya masih kalut dengan apa yang terjadi sebelumnya. Pintu depan dorm terbuka, rupanya Johnny dan Taeil baru memasuki dorm.

"Kalian tidak bertemu Yuta atau Taeyong, tadi?" Ten langsung bertanya tanpa basa-basi. Ia masih sangat khawatir dengan kedua temannya itu.

"Apa yang terjadi?" Johnny mengerinyit heran dengan pecahan vas bunga juga beberapa bercak darah mulai mengering di lantai.

"Jawab aku dulu."

"Kami bertemu dengan mereka. Saat Johnny hendak mengejar Yuta, tiba-tiba Taeyong datang dan bilang biar dia saja yang mengejar." Taeil menjelaskan sesuai apa yang terjadi, alasannya juga mengapa memilih kembali ke atas menemui Ten. "Ten, kau melihat sesuatu?"

Ten terdiam sebentar sebelum mengangguk ragu.

"Melihat apa?" Johnny langsung menyambar. Lupa baik dirinya maupun Taeil tidak membantu Ten memunguti pecahan vas bunga.

Ten ragu. Apa ia sebaiknya menceritakannya dengan jujur? Kemudian ia teringat bahwa Taeil sudah masuk ke dorm sebelum dirinya dan menemuinya dalam keadaan panik buru-buru ingin kembali berkumpul dengan rombongan anak-anak ingin liburan―katakanlah begitu. Kedua netra milik Ten lantas membola. "Hyung, kau juga melihatnya?!"

"Oke, kawan-kawan. Sebenarnya ada apa?" Johnny mulai kesal karena tak satupun dari keduanya menjawab rasa penasarannya dengan jelas.

Taeil dan Ten saling menatap seolah mampu bertelepati. "Taeyong dan Yuta―" Taeil menggaruk pipinya canggung. "―mungkin mereka punya... hubungan lebih?"

Johnny menahan napasnya. "Apa yang kalian lihat?"

Lalu dengan kedua tangannya, Ten memeragakan sebuah ciuman.

Oh.

"Hubungi yang lain, kita tidak jadi ke taman bermain. Ah, tapi biarkan para bocah tetap pergi. Mereka tidak perlu mendengar berita ini."

.

.

Two Holding Hands

aspartam

NCT © SM Ent.

Contains typos, BxB, kinda rush ending, OOC.

Taeyong x Yuta fic, I've warned you.

.

.

Taeyong mendatangi taman tempat pertama kali ia mengobrol berdua dengan Yuta. Menurut Taeyong, tidak banyak tempat untuk Yuta di Korea jika ia sedang terpuruk. Ia yakin Yuta tidak akan mendatangi ruang latihan di mana sangat mudah ditemukan oleh para staf juga mudah ditebak oleh teman-teman mereka. Taman ini memang bukan satu-satunya pilihan Yuta. Tapi menurut Taeyong di sini kemungkinan terbesar. Benar saja, setelah beberapa belas menit pencarian, ia menemukan Yuta sedang meringkuk di bawah salah satu wahana bermain anak-anak.

"Yuta."

Yang namanya dipanggil lantas mendongak. Memperlihatkan matanya yang sudah merah akibat menangis. "Taeyong-ah," balasnya lirih.

Taeyong pun ikut masuk ke bawah wahana yang mirip markas imitasi itu. Ia menarik kaki Yuta yang berdarah. Sebelumnya, Taeyong sempat pergi ke supermarket membeli air dan perlatan pertolongan pertama. Taeyong membasuh kaki Yuta dengan air itu, lalu dengan telaten membersihkan luka dan mengobatinya.

Yuta hanya diam saja. Lagipula kakinya sakit, bagaimanapun juga butuh diobati. Tapi ia terus memandang Taeyong. Jika ditanya kenapa, tentu saja Yuta punya keyakinan sangat tinggi bahwa Taeyong sebenarnya lebih rapuh darinya.

Tapi kenapa Taeyong begitu tenang? Taeyong bahkan sempat berpikir cukup jauh untuk mampir ke supermarket agar bisa mengobati lukanya. Taeyong bisa menemukannya di sini, bukannya panik mencarinya ke mana-mana. Sekali lagi, kenapa Taeyong begitu tenang?

Taeyong selesai berurusan dengan kaki Yuta setelah membalutnya dengan perban. "Aku tidak yakin apa aku membersihkan kakimu dengan benar. Setelah ini kita ke klinik saja. Aku takut kakimu infeksi."

Yuta lagi-lagi tidak menjawab. Ia melebarkan kakinya dan merentangkan tangannya. "Taeyong, kemari." Ia mengundang Taeyong ke dalam pelukannya.

Taeyong menyambut baik undangan itu. Ia langsung memeluk Yuta erat. Tidak butuh waktu lama, Yuta dapat merasakan bahunya basah. Ah, Taeyong begitu tenang tapi dalam hati begitu rapuh. Yuta mengelus punggung bergetar Taeyong seiring isak mulai terdengar.

"Maafkan aku!" ucap Taeyong lirih. Begitu lirih sampai hati Yuta ikut merasa pilu.

"Aku juga salah di sini." Yuta membalasnya sambil mengelus punggung Taeyong. Ia sudah menangis cukup banyak, rasanya. Jadi ia ingin membiarkan Taeyong menumpahkan semuanya. Meski isakan Taeyong seolah mengundang kembali air matanya untuk keluar.

Yuta dapat merasakan sebuah gelengan kepala Taeyong di bahunya. "Kalau aku tak menyatakan perasaanku saat itu, kau tak akan menyadari perasaanmu. Kita tak akan jadi begini."

Yuta mengeratkan pelukannya saat itu. "Aku yang memaksamu untuk memberitahuku!" Ia meredamkan kepalanya di bahu Taeyong pula. "Aku benci kau menjauhiku tanpa tahu alasannya saat itu. Aku justru bersyukur mengetahui perasaanmu, asal kau tahu."

Perlahan Yuta dapat merasakan tubuh Taeyong merileks. Taeyong sedikit memberontak agar Yuta melonggarkan rengkuhannya. Taeyong memundurkan badannya untuk menatap wajah Yuta. "Aku juga sangat bersyukur mengatakannya. Aku bersyukur mengetahui perasaanku terbalas." Teringat hari-hari di mana ia baru-baru menyadari perasaannya pada Yuta, Taeyong bahkan takut menatap sosok Yuta, bahkan panik tiap mendengar suara Yuta. Semua terasa salah. Perasaan itu jelas-jelas salah. Tapi tak satupun orang yang tidak bahagia mengetahui perasaannya terbalas, sekalipun tahu betul perasaan itu sangat salah.

Yuta membalas tatapan Taeyong. "Taeyong-ah, ingatkah kau pernah bilang akan menghadapi semuanya bersamaku?"

Taeyong mengangguk lalu memajukan kepalanya sampai dahinya bertemu dengan dahi Yuta. Yuta perlahan menutup kelopak matanya dan merasakan kecupan lembut di bibirnya sebelum kelopaknya membuka lagi. "Kita akan hadapi ini bersama," tukas Taeyong tegas, ia sudah kembali ke sosoknya yang―di lubuk hati―terdalam disegani Yuta. "Pertama, kita akan minta maaf dan menjelaskan semuanya."

"Bagaimana kalau mereka sudah jijik duluan pada kita?" Yuta menyuarakan kekhawatiran terbesarnya.

Taeyong agak tercekat karena ia mencemaskan hal yang sama sebelum memejamkan matanya erat-erat untuk mengusir pikiran negatif itu. "Kuyakin mereka tidak seperti itu―setidaknya tidak mungkin semuanya begitu. Sekalipun iya, kau punya aku yang ada bersamamu juga sebaliknya."

Yuta terdiam, memilih menyimak.

"Kalau bisa kita harus meyakinkan mereka untuk tidak melaporkan hal ini pada agensi."

Yuta menatap Taeyong ragu. "Meyakinkan mereka kalau kita bisa bersikap profesional? Maksudku, setidaknya mereka pasti butuh jaminan kalau tidak melaporkan hubungan kita bukan sesuatu yang riskan pada karir mereka."

Taeyong mengangguk setuju. "Setidaknya mereka sudah melihat usaha kita untuk saling menjauh. Aku tahu mereka sadar." Tapi ia punya argumen yang mungkin lebih baik.

Yuta mendengus. "Pada akhirnya usaha kita gagal," cemoohnya.

"Kalau kita berhasil meyakinkan mereka, mereka akan bersikap lebih suportif pada usaha kita. Justru malah membantu, kurasa?"

Yuta tidak membantah pendapat Taeyong. Memang ada benarnya. Justru itu kemungkinan paling masuk akal jika teman-teman mereka tidak memilih menganggap mereka sebagai kaum yang menjijikkan dan perlu dihindari.

Tak ada yang bersuara lagi setelah itu. Keheningan ini justru menenangkan keduanya yang masih tenggelam kekhawatiran mereka―yang sama―masing-masing. Kepala Yuta sudah berganti posisi dengan rebahan di bahu lebar Taeyong.

Tak lama, ponsel Taeyong bergetar menandakan seseorang menghubunginya. Yuta mendongakkan kepalanya saat merasakan bahu Taeyong menegang. Taeyongpun merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya.

Mengetahui apa yang membuat Taeyong tegang, Yuta menatap Taeyong panik. Mereka sempat saling berpandangan sesaat sebelum Taeyong berhasil mengumpulkan keberanian untuk membuka ponselnya.

From: Youngho

Pulanglah saat kalian sudah siap.

Refleks Taeyong tersenyum membacanya. Saat sudah siap?

Ah, teman-temannya memang pengertian. Taeyong sangat bersyukur dibuatnya. Ada sepercik kelegaan muncul di relung hati.

"Yuta, kalau kau sudah cukup tenang katakan padaku. Kita akan ke klinik mengobati kakimu sebelum pulang."

.

.

Di saat minirookies beserta China-line dipastikan berhasil bersenang-senang di Lotte World, sebagian besar hyung-line sudah kembali mengadakan rapat dadakan kali ini posisinya di kamar milik Johnny-Taeil-Ten―yang merupakan kamar yang paling luas mengingat mereka menempatinya bertiga. Perbedaan cukup mencolok terlihat dengan terakhir kali mereka mengadakan rapat rahasia. Terutama pada Ten yang sebelumnya merupakan peserta rapat yang paling antusias. Kali ini wajahnya mengkerut menandakan dirinya sedang memiliki kecemasan berlebih. Tidak jauh berbeda dengan yang lainnya. Begitu juga pada Jaehyun, Doyoung, dan Hansol yang baru mendengar kabarnya belakangan.

Doyoung masih sangat shock tidak menyangka kedua kakaknya ternyata ke arah sana. Hansol memang sangat kaget namun ia tampak lebih tenang dari yang lain. Sedangkan Jaehyun yang pernah memergoki Taeyong dan Yuta berpelukan sudah tak dapat dideskripsikan lagi mengenai shock yang dialaminya.

Johnny berdeham satu kali mencari atensi, disambut positif dengan semua kepala langsung menoleh kepadanya. "Aku tak mau berbasa-basi. Kita semua tahu sekarang, Taeyong dan Yuta punya hubungan lebih yang tidak pernah kita duga―"

"Sebenarnya aku pernah menduganya." Selaan Hansol membuat semua yang di sana mengalihkan fokus ke arahnya. Hansol menghela napas pelan melihat semua tatapan menutut teman-temannya. "Oke, aku minta maaf tak pernah mengatakan apa-apa. Aku tak punya hak untuk membeberkan hal ini apalagi... kau tahu, menyukai sesama jenis terkesan seperti aib. Lagipula ini hanya sebatas dugaanku."

Johnny dan Jaehyun yang sama-sama pernah menaruh curiga tidak bisa tidak menganga mendengar penuturan Hansol. Mengingat selama ini Hansol selalu bersikap tenang seperti yang lainnya yang tak punya petunjuk apa-apa, tidak seperti mereka yang kerap memberi pandangan curiga pada Taeyong dan Yuta.

Hansol melanjutkan mengingat seluruh temannya sedang menatapnya dengan tatapan menuntut penjelasan penuh, terutama dari Johnny dan Jaehyun. "Aku bisa berani mengambil asumsi mereka seorang... penyuka sesama―" Hansol menggerakkan jari telunjuk dan tengahnya di kedua tangan seakan memberi tanda kutip pada pilihan katanya. "―karena dulu aku juga punya, teman di Busan yang mengaku terang-terangan seorang gay padaku. Jadi penyuka sesama bukan hal baru bagiku."

Hansol mengedarkan pandangannya dan masih menemukan tatapan penasaran mengarah sepenuhnya pada dirinya.

"Asumsiku itu muncul dari bagaimana Yuta kerap bercerita tentang Taeyong padaku saat mereka masih teman satu kamar. Bagaimana senyumnya merekah saat ia berhasil mengisengi Taeyong. Bagaimana nada suaranya begitu ceria saat mendeskripsikan Taeyong. Bagaimana cara ia memandang Taeyong, atau bahkan saat dia begitu sedih saat Taeyong tiba-tiba bersikap menjauhinya." Hansol memberi jeda. Dia memang lebih dulu menyadari dari pihak Yuta mengingat ia sangat dekat dengan pemuda Jepang itu. "Aku menyarankannya untuk berbicara pada Taeyong. Dia benar-benar melakukannya. Tapi saat itu mereka malah memutuskan saling menjauh. Ingat saat-saat mereka bergiliran tidur di sofa ruang tengah?"

Semua pasang mata selain milik Hansol lantas membulat. Menyadari sesuatu telah terjadi. Sesuatu yang luput dari perhatian mereka.

Hansol kembali melanjutkan. "Kupikir, pembicaraan mereka tidak berjalan lancar. Tapi Yuta tidak terpuruk. Ia memang memiliki kesedihan tersendiri waktu itu. Tapi kalau diperhatikan, Taeyong juga memiliki kesedihan yang sama. Oh, aku tidak menyimpulkan mereka saling suka sampai aku merasakan tatapan cemburu dari masing-masing mereka setiap melihat satu lainnya terlalu dekat dengan salah satu dari kalian."

Jaehyun mengangguk, ia juga merasakan hal yang sama saat ia menaruh curiga setelah melihat keduanya berpelukan. Johnny yang pernah mendapat tatapan cemburu terang-terangan dari Taeyong pun tanpa sadar menahan napasnya. Sedangkan Taeil, Ten, dan Doyoung sedang berusaha mengingat-ingat wajah Taeyong saat Yuta sedang menempel pada mereka atau sebaliknya.

Melihat reaksi teman-temannya, Hansol pikir sebaiknya ia kembali melanjutkan teorinya. "Ini benar-benar hanya sebuah perkiraan. Kukira mereka berhasil menyadari perasaan satu sama lain. Tapi mereka juga sadar, perasaan mereka tidak ada untungnya bagi karir dan kehidupan sosial mereka. Kurasa, mereka memutuskan untuk melenyapkan perasaan mereka masing-masing dengan saling menjauh. Itulah kenapa kita mendapati mereka berubah canggung dan menjauh dalam sekejap." Hansol bahkan tidak tahu kenapa ia bisa mendapat hipotesa itu. Tapi itu adalah satu-satunya yang terpikirkan oleh otaknya tentang kenapa Taeyong dan Yuta yang menjauh sebelum ini.

"Tunggu dulu. Kalau kau beranggapan demikian, kenapa kau tidak protes apa-apa soal rencanaku mendekatkan mereka kembali? Rencanaku sudah menggagalkan usaha mereka yang susah-susah mereka jalani." Ten rupanya masih merasa sangat bersalah. Tangan kanan Taeil pun terulur untuk mengusap punggung Ten.

"Seperti yang Doyoung bilang. Taeyong dan Yuta sedang tidak bahagia."

Doyoung yang namanya dibawa-bawa lantas memicingkan mata.

"Sekali lagi, ini hanya perkiraanku. Tapi memangnya siapa yang tidak merasa tidak bahagia saat menjauh dari orang yang kau sukai? Aku tidak tahu dengan kalian, tapi bagiku mereka berhak bersama sekalipun mereka sesama jenis. Mereka tidak perlu menjauh." Hansol menggigit bibir bawahnya. "Aku tahu, tidak mungkin kita punya pandangan sama terhadap ini. Aku cukup egois menganggap pendapatku benar. Tapi aku harap mereka tidak perlu menyiksa diri menjauh dari orang yang mereka sukai hanya karena menyalahi kodrat."

Johnny bersuara. "Jujur saja aku setuju dengan Hansol. Mungkin karena aku lahir di Amerika yang menjunjung tinggi kebebasan individu. Kurasa Ten sama denganku."

Ten yang disebut namanya sedikit terlonjak. "Di Thailand pernikahan sesama jenis memang legal. Aku tidak punya alasan untuk meminta mereka kembali menjauh," tukasnya.

Jaehyun mengangkat tangan. "Aku tidak punya keyakinan, jadi aku memang tidak pernah merasa hubungan sejenis adalah hal yang tabu." Ia berpikir sejenak. "Hukum di Korea yang masih melarang bisa berubah kapan saja."

"Tapi seperti yang Hansol katakan. Mereka menjauh karena mereka tahu perasaan mereka salah!" Doyoung meninggikan suaranya untuk menyela. "Aku minta maaf soal ini. Tapi bagaimanapun juga sistem masyarakat di Korea belum bisa menerima hubungan mereka―walaupun aku tahu banyak remaja yang menyukai jenis hubungan seperti ini dalam delusi mereka. Kalau hubungan mereka terkuak, entah apa yang netizen dan antis lakukan pada mereka. Hujatan yang mereka terima tidak mungkin reda hanya dalam seminggu! Dan aku tidak yakin agensi akan membiarkan seorang penyanyi yang... err, belok, debut dalam naungannya."

Penuturan Doyoung membuat semuanya kehilangan kata-kata dalam sekejap. Kecuali Taeil yang tampaknya punya pemikiran serupa. "Belum lagi keluarga mereka. Karena tidak punya keyakinan, keluarga Taeyong mungkin cukup terbuka tapi tidak menjamin akan menerima sepenuhnya. Keluarga Yuta mungkin selalu membebaskan Yuta menjadi apa yang dia mau, tapi tidak ada jaminan mereka masih mau menerima Yuta jika ia sampai sejauh ini." Taeil mengangkat kedua bahu setelahnya.

"A-aku bukannya tidak menyutujui hubungan mereka. Tapi masih terlalu riskan jika masyarakat tahu tentang hubungan itu." Doyoung menambahkan.

Tak satupun dari mereka bersuara setelah itu. Mereka semua tenggelam dengan pikiran mereka masing-masing.

Sampai akhirnya Jaehyun mengangkat kepalanya. "Riskannya hanya ketika orang lain tahu, kan?" Kalimat Jaehyun berhasil menarik seluruh perhatian, lengkap dengan pandangan antusias. "Kalau kita bisa membuat hubungan mereka tetap rahasia, berarti tidak masalah, kan?"

Seluruhnya saling berpandangan setelah itu.

"Tunggu, tunggu." Hanya saja Hansol tampak sedikit terganggu sehingga perlu menginterupsi. "Jadi kita semua mendukung hubungan mereka begitu saja?"

Yang lain kembali saling berpandangan sampai salah satu mengangguk kecil.

Tatapan Hansol jelas-jelas menyuratkan kesan heran. "Kenapa kalian begitu terbuka? Kau tahu, saat temanku di Busan mengaku gay, aku sampai menjauhinya lebih dari dua minggu karena shock berat."

Johnny menganggap keheranan Hansol itu lucu maka dari itu ia tertawa kecil. Yang lain lebih memilih ikut tertawa bersama Johnny. "Mungkin karena kita sudah terlalu dekat? Seperti sebuah keluarga? Maksudku, selama ini kita selalu menghadapi kesulitan sebagai trainee bersama."

Doyoung membuat wajah sedih yang dipaksakan. "Oh, Youngho-hyung, kata-katamu menyentuh hatiku," ucapnya dengan nada yang didramatisir.

"Tapi kurasa Johnny benar." Taeil menyetujui.

Ten tersenyum setelahnya. "Jadi keputusan kita kali ini, membantu Taeyong dan Yuta tetap bersama?"

Tidak ada yang menyanggah Ten. Sebaliknya, mereka mulai membicarakan hal-hal yang dirasa penting. Manager mereka, agensi, keluarga, member mereka yang masih kecil dan dirasa belum patut mengetahui hubungan Taeyong dan Yuta.

.

.

"Turunkan aku. Aku bisa jalan sendiri," pinta Yuta yang masih dalam gendongan Taeyong di punggung. Taeyong terlalu keras kepala karena Yuta menolak pergi ke klinik. Padahal luka di kakinya tidak separaha itu―toh sebelumnya ia bahkan kabur sambil berlari. Selain itu Taeyong bukan seseorang yang seharusnya kuat mengangkat beban berat dalam waktu lama.

Tapi Taeyong tak mengindahkan permintaan Yuta.

"Taeyong-ah. Kita hanya perlu berjalan lima meter sebelum mencapai pintu dorm. Turunkan aku, kalau hanya segitu kakiku tak akan merasa sakit apa-apa," tawar Yuta sekali lagi.

Dan Taeyong tetap tak menuruti Yuta. Pada akhirnya ia baru menurunkan Yuta tepat di depan pintu dorm.

Napas mereka sama-sama tidak teratur seolah baru lari maraton. Mereka saling bertatapan gugup. "Siap?" Taeyong bertanya.

Yuta memaksakan sebuah gelengan menjadi jawaban. Lalu sentuhan kecil di tangannya membuat ia terlonjak. Ia menunduk lalu mendapati telapak tangan Taeyong mengajak miliknya saling menggenggam. Tanpa sadar bibir Yuta mengulas senyum tipis.

Setelah mendapat dorongan batin dari dirinya sendiri, Taeyong kemudian membuka pintu. Yang pertama dilihatnya, sepatu-sepatu berjejer rapi, jumlah tiap pasangnya menunjukkan penghuni dorm sudah pulang semua, termasuk yang baru pergi bersenang-senang di Lotte World. Kelengkapan itu justru membuat semakin berat kekhawatiran di benak keduanya.

"Ah, Hyungdeul sudah pulang!" Suara Jeno mengagetkan mereka. Salah tingkah, Taeyong dan Yuta hanya bisa tersenyum canggung tetapi adik tertampan mereka tidak menaruh curiga apa-apa. "Kaki Yuta-hyung kenapa?" tanya Jeno yang menyadari kaki Yuta dibalut perban.

"Itu akibat dari orang yang memecahkan vas bunga tapi tidak bertanggung jawab!" Suara milik Ten menyahut.

Baik Taeyong dan Yuta mengerut tidak mengerti, sama seperti Jeno yang mengerjap polos.

Ten menyembulkan kepala di balik punggung Jeno. "Jeno, jangan tiru Yuta-hyung, ya. Kalau memecahkan vas bunga jangan kabur hanya karena takut Taeyong-hyung marah tapi dibersihkan!" Ten begitu serius berbicara pada Jeno tetapi dua orang lainnya tahu betul Ten sedang berbohong.

Jeno mengangguk mengerti, Yuta mengerinyit tersinggung. Yang memecahkan vas bunga memangnya siapa? Sedangkan Taeyong menganggap bualan Ten itu lucu jadi hanya menahan tawa. Tapi tetap saja tidak menjelaskan kenapa Ten membual seperti itu. Menyembunyikan perbuatannya memecahkan vas bunga? Ten mengetahui masalah yang jauh lebih besar dan rumit dibanding sekedar vas bunga yang pecah.

Lalu, ada suara Doyoung juga menyahut dari dalam. "Hei, kalian sedang apa di depan? Bisa bantu bersih-bersih di dalam, tidak?!"

"Doyoungie, hari ini kan memang jadwalmu bersih-bersih!" Ten menyahut balik lalu mendorong punggung Jeno untuk masuk ke dalam. Ia memberi sedikit sinyal menyuruh Taeyong dan Yuta masuk ke dalam.

Taeyong serta Yuta berjalan ragu untuk masuk. Tangan mereka masih saling bertaut dan gini menggenggam semakin erat menyalurkan kegugupan mereka yang merupakan akibat dari asumsi buruk hasil pemikiran mereka.

"Sudah pulang?" Taeil menyambut mereka.

"Yuta-hyung payah! Masa memecahkan vas bunga langsung kabur karena tidak mau kena omel Taeyong-hyung?" Jaehyun menyahut dari ruang tengah.

Yuta lagi-lagi dibuat sebal. "Tunggu, dulu. Pertama-tama, aku memang akan kabur kalau memecahkan vas bunga dan berpura-pura vasnya dijatuhkan tikus supaya tidak kena omel Taeyong. Tapi bukan aku yang―"

Johnny menghampiri mereka dan menepuk pundak Yuta sebelum kalimat itu selesai. "Mengakulah, kami tidak akan menyalahkanmu."

Yuta menatap tidak mengerti.

"Tapi Yuta memang tidak memecahkan apapun. Itu Ten yang―"

"Kau juga, Taeyong." Lagi-lagi Johnny menginterupsi.

Entah sejak kapan para member yang lebih tua mengelilingi mereka, mengabaikan Jeno yang sudah kembali bergabung dengan minirookies yang ribut bermain uno di kamar Donghyuck.

"Ten menceritakan apa yang kalian lihat. Sebenarnya aku juga sempat melihat kalian tapi aku langsung pergi diam-diam." Taeil menuturkan.

Penuturan itu pukulan telak bagi Taeyong dan Yuta. Kata-kata dalam kamus yang tersimpan dalam otak mereka seolah musnah seketika. Yang lain memaklumi. Tidak hanya satu tangan kemudian menepuk pundak mereka untuk menenangkan.

"Kalian tidak perlu khawatir pada kami. Kami akan membantu kalian." Hansol memberi senyuman tipis untuk meyakinkan mereka.

"Dan sungguh kalian tidak perlu merasa bersalah karena kalian melawan arah."

Taeyong tidak mengerti apa yang terjadi. Apalagi Yuta. Tapi badannya secara refleks langsung menghamburkan diri ke pelukan salah satu membernya. Taeyong tidak lihat siapa. Tapi badan besar ini pasti milik Johnny. Ia bisa merasakan air matanya mengalir akibat emosi yang terus meletup dari benaknya. Taeyong melirik sekilas Yuta juga melakukan hal yang sama, dia memeluk Doyoung. Mereka berdua menangis tanpa suara, yang lain berusaha menenangkan.

Mereka berdua tidak tahu lagi bagaimana cara berterimakasih pada teman-teman mereka. Mereka tidak hanya sekedar masih diterima.

Mereka disambut kembali dengan hangat.

.

.

Yuta memilih menikmati angin di beranda dibanding ikut ribut bersama yang lain di dalam. Suasana hati Yuta sedang melankolis sehingga angin malam terasa teman yang menyenangkan meski Yuta berdalih pada dirinya sendiri ia adalah lelaki gunung yang memang paling menyukai udara segar.

"Yuta, kau mau coklat hangat?" Johnny bertanya dari balik pintu.

Yuta membalikkan sebelah badannya menghadap Johnny. "Kalau kau mau membuatkan―" Lalu tiba-tiba Johnny sudah menyodorkan segelas coklat hangat padanya. "―oh, terimakasih."

Johnny mengangguk sambil menyeruput americanonya. "Sebenarnya itu punya Donghyuck tapi dia tiba-tiba sakit perut. Daripada mubazir buatmu saja."

"Sialan." Yuta sedikit mengumpat tapi tetap menerima coklat hangat itu dan meminumnya dengan senang hati.

Tak lama setelah itu, suasana riuh di dalam dorm semakin riuh. Rupanya para member U sudah pulang. Ya, para member yang debut paling pertama dengan lagu 'The 7th Sense' pada unit pertama dan 'Without You' pada unit kedua.

Johnny kemudian kembali meninggalkan Yuta sendiri di beranda, bergabung dengan yang lain menyambut kepulangan mereka bersama yang lain. Yuta sendiri masih menikmati angin malamnya. Lagipula ia tidak serindu itu pada siapapun untuk menyambut kepulangan mereka. Sekalipun ada satu yang sedih lebih ia rindukan dari yang lain, Yuta tidak perlu repot-repot menghampirinya. Orang itu sendiri yang akan mencarinya.

"Kau di sini rupanya, Yuta-kun."

Tuh, kan.

Yuta mengelus senyum tipis. "Merindukanku, hm?" tanya Yuta iseng tanpa menoleh.

Taeyong mengangguk kecil―meski tahu Yuta tak melihat anggukannya karena membelakanginya―sebelum menghamburkan dirinya menerjang Yuta pelan dan memeluknya dari belakang.

"Daripada memelukku seharusnya kau istirahat. Kau punya jadwal lagi besok pagi." Yuta terdengar mengusir tapi ia tidak memberontak sama sekali dalam pelukan Taeyong. Ia dengan anteng kembali menyesap coklat hangatnya.

Taeyong mengerucutkan bibirnya, sedikit kesal. "Kau tidak merindukanku, heh?"

Yuta terkekeh. "Kita bukannya tidak bertemu satu minggu. Buat merindukanmu?" balasnya sarkastik seperti biasa.

Taeyong menatapnya tajam, sayangnya Yuta masih membelakanginya.

"Sudah. Sana pergi ke kamarmu dan istirahat!" usir Yuta lagi.

"Tidak sebelum mendapat kecupanku untuk hari ini."

Mendengarnya, Yuta langsung memaksa lengan Taeyong melonggarkan pelukannya demi membalikkan badan. Ia menatap mata Taeyong yang tampak sayu akibat lelah untuk sesaat. Dengan cepat ia mengecup Taeyong tepat di bibir.

Taeyong tersenyum mendapat apa yang ia inginkan. Lalu gilirannya memajukan kepala untuk mengecup lembut Yuta. Kali ini dalam jangka waktu yang lebih lama dari yang Yuta lakukan. Yuta sendiri menyukainya, ia terbuai sampai memejamkan mata.

"Get a room, you two!"

Taeyong dan Yuta buru-buru saling memundurkan kepala. Taeyong langsung melepaskan pelukannya, membalikkan badan menemukan Ten, Johnny, dan Jaehyun sedang menontoni mereka disertai seringai jahil. Yuta sendiri refleks kembali pura-pura sibuk dengan coklatnya.

"Aku akan istirahat di kamar. Selamat malam!" Taeyong mendorong badan Ten yang kecil agar ia bisa lewat. Berjalan cepat menuju kamarnya sendiri.

Tiga pengganggu itu membiarkan Taeyong pergi sendiri, mungkin maklum dan membiarkan Taeyong beristirahat meski dua di antara mereka―Jaehyun dan Ten―justru butuh istirahat pula. Tapi ada sesuatu yang lebih menyenangkan untuk dikerjakan di sini.

"Enak, ya. Punya pacar?" Johnny mulai menggoda iseng diikuti tawa cekikikan kedua adiknya.

Yuta mendecih. "Berisik, kalian semua!"

Setelahnya mereka bertiga terus-terusan menggoda Yuta sampai pemuda Osaka itu jengah sendiri.

"Berhentilah menggodaku! Lagipula ada satu hal yang tidak kumengerti di sini!"

Nada suara Yuta mulai tidak mengenakkan akhirnya mereka bertiga memutuskan untuk menyudahinya. "Baiklah. Apa itu, Hyung?" tanya Jaehyun kemudian.

"Get a room itu maksudnya apa? Mendapatkan kamar, kan? Kenapa kau menyuruhku begitu? Aku kan sudah punya kamarku sendiri," tanya Yuta dengan wajah serius.

Tiga lainnya memasang wajah datar.

Mereka lupa Yuta payah bahasa Inggrisnya.

.

.

END

A/n: Pertama, maaf ya aku butuh waktu lamaaaaa banget buat nyelesaiin chapter terakhir ini. Chapter ini bagian paling susah (antiklimaks selalu jadi paling susah yeu-) Selain itu, muse-ku untuk fic ini ga balik-balik tapi yang penting sekarang udah kelar wuhuuu :D Terus semoga emosi yang ada di fic ini bisa tersampaikan. Jujur waktu mikirin plotnya aku baper sendiri(?). Tapi karena aku kurang pandai menulis apalagi chapter ini ditulis paksa pas feelnya udah nguap duluan, jadi ya gitu, emosi tiap castnya kurang tersampaikan TvT Ketiga, ya aku udah bilang aku orangnya ga emo-emo amat jadi antiklimaksnya ya damai gitu aja D: Sebenarnya aku rada ganjel sama antiklimaksnya tapi udah ga ada ide lagi, sih. Yang penting jadi(?) /woi

Yasalam alasanku banyak banget :( tapi itu beneran bukan buat ngeles kok(?).

Aside that, AKHIRNYA SELESAI. Percaya apa enggak, dari tahun 2012 aku nulis ff ini satu-satunya fic multichapku yang aku publish sampe tamat (Amending ga keitung ya, dia oneshoot yang malah jadi twoshoot karena kepanjangan) dan ya aku emang buru-buru mau fic ini segera selesai karena sebenarnya aku takut bosen duluan sama fic ini sebelum kutamatin *sobs* Halah, buru-buru juga chapter ini lewat tiga bulan gasih aku ngerjainnya?

Makasi banyak buat dukungannya! Aku bener-bener terharu. Kukira fic dengan realistic vibe kayak gini ga bakalan ada yang suka ternyata justru banyak yang mendukung malah ada yang bilang kesannya ga ooc (padahal aku bener-bener takut bikin karakter di sini karena terlanjur milih nulis dengan setting canon) bener-bener makasih banyak!

special thanks to: Kim991, seeuhun no its xiuhun, Flower566, dhantieee, Yeseul Nam, yxnghua, angstpoem, cacacukachanhun, Kutang Ajaib Uchiha, rethasuh, Hansolasido, NYUTENTAE, alvirajn, guest, JenTababy , sokyu977, MinMiJK, Arisa Hosho, Hime Taeyong, shiholeen, deerianda, nugu, Yhipey, ucinn, Chocospark, Mifta Jannah, LeeTYX, wakaTaeYu, chabe Osaka, Mayumi Fujika, rusacadel, hanyu, A . Tsam, Kenyutil, MyNameX, Khasabat04 , mi210691, Yuuui-chan, unnayus, keiaries, YuKillua-Kira, Tary200, Seventeeen Yup, vanderwood, miyuukims, fifiDH, kiyoo, guest(2), Tefu Choi, Driedleaves, Guest(3), and those who did fav and follows (maaf kalau ada yang namanya kelewat).

Lastly, thanks for supports, motivation, and reading until the end. I won't even make this far without you, guys! This fic is still lacking at everything but every sweet word you told means a lot to me

See ya in my other fics!