- Unexpected chap 2 -

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Saya hanya meminjam chara beliau untuk menjadi pemeran dari ide cerita abal-abal yang ku buat.

Enjoy it~


.

Terlambat !

Tubuhku terlanjur ikut masuk kedalam kamar mandi pria itu.

Handuk sialan !

Itachi terkejut dengan keberadaanku, sedangkan aku hanya bisa membatu ditempat.

A-apa yang harus kulakukan?

"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya itachi dengan nada tajam, matanya menatapku seolah-olah aku adalah seorang maling yang baru saja ketahuan mencuri ayam miliknya. Damn it !

"A-ano, handuknya…" ucapku terpotong karena tidak tahu harus melanjutkan dengan kalimat apa. Itachi yang mendengar kata handuk, mengarahkan pandangannya pada benda yang sedari tadi dipegang olehnya dan menyadari beberapa benang handuk itu terjulur pada kancing bajuku. Beruntung pria ini sudah memakai celana panjang, kalau tidak-

'arrgh, berhenti memikirkan yang tidak-tidak' innerku, saat itulah aku tidak menyadari seringai di bibir pria itu.

"Aku akan me-…akh ! " kalimatku ku terpotong begitu saja kala itachi mendorong tubuhku kepintu kamar mandi secara tiba-tiba. Punggungku yang bertemu dengan pintu menimbulkan suara gedebug pelan, tanpa sadar aku meringis menahan sakit.

Tapi sesaat kemudian nafasku dibuat tercekat dengan apa yang pria ini lakukan.

Dia memotong benang handuk yang tersangkut dibajuku. Oke, itu memang hal yang biasa. Iya biasa, seandainya ia tidak memotongnya dengan cara yang abnormal seperti ini. Pria gila, itachi mulai membuka kancing baju maidku dan memajukan wajahnya. Aku merutuk dalam hati ketika menyadari benang tersebut tersangkut pada kancing bagian dadaku.

Yeah, yang aku maksudkan disini, ia bisa meminta pelayan lain untuk mengambilkan gunting atau apapun dan tidak perlu memotong benangnya dengan cara digigit seperti ini kan?!

Ini sedikit terkesan…erotis?

"Tu-tunggu…" ucapku pelan seraya mendorong kedua bahu itachi agar menjauh, namun, bukannya berhenti, ia malah semakin mendorong wajahnya merosok kedalam err- …dadaku? Dia tidak melakukannya dengan sengajakan?

Aku terpaksa menggigit bibir bawahku dengan keras ketika hembusan nafas panasnya menerpa tepat dibelahan dadaku. Tuan muda sialan.

Sedetik kemudian, ia mengangkat wajahnya. Postur tubuhnya yang jauh lebih tinggi daripadaku, membuatku harus mendongak untuk sekedar melihat wajahnya. tapi-

Seharusnya aku tidak perlu repot-repot melakukan itu, karena sesaat kemudian aku justru menyesali tindakanku.

Matanya menatapku dingin, dibibirnya menjuntai beberapa benang handuk merah yang tadi dipotongnya, ditambah ia tidak mengenakan baju, memperlihatkan tubuhnya yang terbentuk sempurna hasil dari olahraga yang teratur.

Ia benar-benar terlihat,

Sexy ?

.

.

Ini sudah seminggu setelah kejadian di kamar mandi waktu itu. Dan sampai sekarang, aku tidak melihat batang hidung tuan muda kami. Kabuto –asisten pribadi itachi- bilang, kalau tuan muda kami sedang sibuk-sibuknya. Hey, tapi untuk apa aku peduli? toh, bukan urusanku. Aku membenci orang 'sok' seperti itachi.

Hey, bayangkan saja, ketika 'insiden' di kamar mandi kemarin, pria itu bahkan tidak mengatakan apapun padaku. Jangankan meminta maaf karena telah berbuat kurang ajar –menurutku-, ia justru pergi begitu saja meninggalkan aku yang hanya bisa terbengong-bengong.

Oh damn it ! memangnya apa yang kuharapkan?

Aku menghela nafas gusar untuk yang kesekian kalinya hari ini. Piring yang ku cuci, ku gosok dengan kasar. Yeah, kalian bisa menganggapnya sebagai pelampiasan atau apalah itu.

Mataku melirik jam yang tergantung di dinding dapur. Sudah pukul 9.30 p.m.

Haah~ kalau saja aku tidak menggantikan tugas nenek chiyo yang sedang sakit, aku pasti sudah terbaring nyaman di kasurku. Tapi, bukan berarti aku tidak ikhlas menggantikan tugas nenek chiyo, hanya saja, akhir-akhir ini tubuhku terasa 2 kali lebih lelah dan itu menyebalkan ketika tahu hanya tersisa satu orang pelayan di rumah ini karena yang lain sudah pulang kerumah. Hanya aku.

Tidak ada teman berbicara. Aku benci kesunyian, asal kalian tahu itu.

Tubuhku menegang tatkala sesuatu menyentuh punggungku. Oh Tuhan, apa itu? Aku tidak berani menoleh, bahkan tidak berani untuk sekedar bergerak atau melihat ke belakang. Aku tidak mau mengambil resiko kalau saja sekali aku menoleh, yang terlihat justru seorang wanita berambut hitam panjang yang tergerai, memakai baju putih dan melayang ! TIDAK ! SAMA SEKALI TIDAK !

Sialnya, sekarang tubuhku terasa semakin dihimpit. Kali ini aku benar-benar menjadi patung, dapat ku yakini kalau wajahku berwarna putih pucat sekarang. Ini mengerikan.

Tapi entah kenapa, semakin lama, punggungku justru terasa hangat, dan aku tidak merinding sama sekali. Saat itulah kulihat sebuah lengan melewati pundakku dan membuka lemari kecil yang berada tepat di atas kepalaku.

Tunggu, lengan?

Entah mendapat keberanian dari mana, aku langsung membalikkan badanku. Menghiraukan suara berisik dari mangkok plastik yang ku jatuhkan.

Ternyata dia-

"U-uchiha-sama…?" Ucapku lirih, bahkan hampir tak terdengar.

Untuk yang kedua kalinya, kami berada di jarak yang sangat dekat. Bagaimana tidak, tubuh kami menghimpit satu sama lain. Tidak ada jarak, tidak ada space. Jujur saja, bahkan aku dapat merasakan selangkangannya tepat di perut ku. A-apa maksudnya ini?!

Tiba-tiba perutku terasa kram saking gugupnya. Ini memalukan.

'Kumohon cepat pergi' Batinku

Sepertinya Tuhan mendengar doaku, perlahan tapi pasti, tubuh itachi mulai menjauh, memberi jarak diantara kami.

Aku hampir berlonjak kaget karena terkejut tatkala pria itu justru mengurungku dengan kedua lengannya. Itachi meletakkan tangannya dipinggiran meja pencucian, ah, lebih tepatnya disamping kanan-kiri tubuhku.

Ia kembali memajukan tubuhnya, mempersempit jarak kami –lagi-.

'H-hey, apa maunya?' Batinku dag-dig-dug tak menentu

Tangan itachi bergerak merengkuh dagu ku, memaksa aku yang jelas lebih pendek darinya untuk mengangkat wajah. Dua iris kami bertemu. Emerald dan onyx, saling terjerat satu sama lain.

Damn it ! ini bukan waktunya untuk terpana dengan pesona para Uchiha.

"Beritahu aku namamu.." Katanya tegas suara rendahnya yang err- sexy seolah terdengar seperti memerintah ketimbang meminta.

Ketika itu aku menyadari kalau pria dewasa di depanku sekarang sedang mabuk, terbukti dari nafasnya yang mengeluarkan bau alkohol yang kuat.

Bak seekor kerbau yang dicucuk hidungnya, aku mengangguk dan menjawab dengan suara mencicit "Sa-sakura…"

Itachi tersenyum miring. Senyum yang sangat tipis, hampir tak terlihat, "Sakura...nama yang bagus" tangan kanan pria itu terangkat mengambil helaian rambut ku, kemudian membawanya mendekat kebibir nya. Ia mencium rambutku seperti seseorang yang sedang menghisap rokok.

"wangi mu mengundangku" ucapnya absurd.

Tak menyiakan kesempatan yang ada ketika aku sedang terbengong-bengong mencerna kalimatnya, Itachi mencium ku keras. Tak ada kata sabar dan perlahan. Bibirnya menekan milik ku, mengapit bibir atas dan bawahku dengan erat, melumatnya seakan ingin menelannya.

Aku terbelalak kaget, tanganku refleks mendorong dada bidang Itachi yang semakin menghimpitku. Memintanya untuk berhenti.

Tapi, memang pada dasarnya para Uchiha terlahir sebagai seorang penguasa yang keinginannya selalu terpenuhi dan tidak bisa ditolak, pria ini justru mencengkram tanganku dengan satu tangannya, sedang tangannya yang lain menekan tengkuk ku, memperdalam ciuman kami. Memaksa ku untuk meladeni permainan bibirnya. Dia gila !

Aku memekik tertahan ketika kurasakan tubuhku melayang lalu mendarat pada sesuatu yang dingin dan keras.

"hentikan, ku mohon " Aku berucap lirih ketika Itachi menghentikan ciuman –paksa- kami. Aku mengusap bibir basahku kasar dengan punggung tangan sementara dadaku naik turun tak bisa menghirup nafas normal. Pria ini hampir saja membunuhku.

"Kau menggodaku" balasnya

"Ap-…ngh" aku melenguh pelan tatkala bibir pria itu mengendus leherku layaknya seorang anjing yang menemukan makanan lezat.

"Akh.." kali ini dia sukses membuatku memekik kecil kala tangan kiri Itachi menarik rambutku kebelakang, membuatku otomatis mendongak karena kesakitan dan tanpa sadar hal itu justru memberinya akses lebih untuk mengeksplorasi leherku. Aku menyesal sekarang.

Ciumannya merambat naik dari rahang, dagu, sudut bibir, pipi, hidung, dan berakhir di kelopak mataku. Lidahnya menjilat sudut mataku yang berair.

"Anda mabuk, U-uchiha-sama" benar, pria ini mabuk, ia tidak tahu apa yang sedang dilakukannya, dan sialnya, aku berada di tempat yang salah dan waktu yang salah. Di sini aku adalah korbannya, kalian tahu itu kan?

Itachi menghentikan 'aktifitasnya' . Ia memandang lurus kearah ku yang telah berkeringat. Itachi tersenyum puas. " No… I'm-not " Bisiknya dengan nada serak tepat di depan wajahku, nafas hangatnya menerpa wajahku. Lagi-lagi membuat aku bergetar karena perasaan yang tak nyaman ini.

Untuk yang kedua kalinya, Itachi menciumku dengan ganas. Kepalanya bergerak kenan-kiri menyamankan posisi. Kedua tangannya menangkup kepalaku, membuatku terkunci hanya padanya.

Tubuh Itachi berada tepat diantara dua kakiku yang terbuka, ku rasakan tubuh depan kami merapat tanpa space sama sekali.

Aku tersentakkan ketika merasakan ereksi dari Itachi menyentuh paha dalamku. Refleks, aku mulai panik, sementara Itachi tak sekalipun melepasku. Bibir lelaki itu terus 'mengerjai' isi dalam mulutku habis-habisan, mengabsen satu persatu gigiku, membelit lidahku kadang menghisapnya. Membuatku mengerang tertahan. Dasar pria brengsek.

Lalu sebuah kenyataan menamparku keras.

Uchiha

Uchiha

Uchiha

Mereka adalah pembunuh. Pembunuh ayah dan ibuku.

Aku harus membalas dendam mereka.

Emerald ku jatuh pada sebuah pisau dapur yang terletak tepat di sebelahku, Itachi masih sibuk menciumku, aku berusaha membalas ciumannya agar pria itu tidak menyadari pergerakan tanganku yang sedang mengambil pisau dan mengarahkannya tepat di perut Itachi.

Ini saatnya !

"aakh…!"

.

.


tbc

aku gak yakin bisa memasukan chara lain kedalam cerita ini, takut perannya gak dapet =_=a

what should i do? :"v

makasih buat kalian yang sudah mau repot-repot nulis dukungan buatku di kotak ripiu *bow

Maaf, gak sempat ngebalas satu-satu, tugas kuliah mengejarku bagai setan.

Ini pun ketik ngebut. sekali lagi maafkan aku, aku sangat menghargai ripiu kalian *bow 90 degree

jangan bosan buat ngebaca ceritaku ya ^^ arigatou

RnR please~