Unexpected Chap 3
disclaimir : Masashi Kishimoto
saya hanya meminjam chara beliau
harap maklum kalo typo(s) dan semacamnya =)
enjoy it !
.
.
Author pov
"Akh…"
Triing
Suara benda aluminium yang bersentuhan dengan lantai menggema hampa di ruangan itu, disusul dengan suara teriakan parau seseorang.
Tapi, suara teriakan tadi jelas bukan suara seorang pria, lalu….siapa?
Sakura terkejut tatkala tangan kirinya di cekal dengan keras oleh tangan yang lain. Pisau yang tadi digenggamnya terlepas begitu saja. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Itachi? Hanya pria itu satu-satunya makhluk hidup yang berkemungkinan melakukan hal tersebut.
Mata Sakura membulat sempurna. Syok. Siapa yang menyangka kalau pria itu menyadari pergerakan tangannya, padahal Sakura yakin kalau Ia tidak ketahuan sama sekali.
Itachi mengangkat wajahnya, matanya menatap langsung ke dalam emerald bening yang jelas memancarkan keterkejutan dan ketakutan di saat yang bersamaan. Semuanya tercetak jelas di sana. Tanpa sadar, bibir pria itu membentuk sebuah seringaian mengerikan, entah mengapa, Ia senang melihat gadis di depannya ini ketakutan.
Sedikit hiburan mungkin tidak apa-apa.
"Apa kau ingin membunuhku, cantik?" dengan sengaja, Itachi memajukan wajahnya hingga hidungnya bersentuhan dengan hidung Sakura ketika mengatakan kalimat tersebut.
Sakura refleks menahan nafasnya, selain karena bau alkohol yang menyengat indra penciumannya, juga karena Ia takut. Apa Ia ketahuan?
"Kau tidak akan bisa," Itachi memiringkan kepalanya, kali ini Ia menyentuhkan hidungnya ke pipi Sakura, sedangkan gadis itu hanya bisa mematung "Aku adalah 'Uchiha', kau tahu?"
Seketika, dada Sakura bagai dihantam batu besar dengan berat ratusan ton. Sakit. Apa kekuatan para Uchiha memang semengerikan ini? Atau, jangan-jangan para Uchiha mempunyai indra keenam? Apa para Uchiha memang tidak bisa dikalahkan? Apa para Uchiha memang selalu bertindak semena-mena seperti ini? Apa itu artinya, Ia tidak bisa membalaskan dendam orangtuanya? Apa itu artinya Ia harus diam saja atas kematian kedua orangtuanya?
"Hentikan.." sialan ! itu harusnya menjadi kalimat perintah yang tegas dan bernada tajam. Tapi kenapa? Kenapa yang keluar justru suara manja seperti ini? Lalu apa arti airmata yang menyeruak keluar dari kedua matanya? Sakura merutuk tindakannya
"Kau bisa membunuhku kalau kau sudah lebih siap dari sekarang, Ha-ru-no Sa-ku-ra." Itachi menekankan nadanya pada kalimat terakhir, lebih tepatnya ketika bibirnya melafalkan nama gadis itu.
Sakura terbelalak kaget.
Apa?
Apa itu tadi?
Apa Ia salah dengar? Pria itu baru saja mengucapkan marganya bukan? Ini pasti hanya ilusi. Iya, ini hanya ilusi belaka.
Sakura bersiap mengeluarkan kalimatnya ketika Ia sadari tuan muda-nya sudah pergi dari tempat itu. Cepat sekali.
Dengan terpaksa, ditelannya semua kalimat yang ingin diucapkan dengan pahit. Tempat ini mengerikan.
.
.
Praang
"Sakura kau tidak apa-apa?"
Seorang gadis bercepol dua bergegas menghampiri Sakura yang tertegun di depan meja makan. Ini masih pagi dan gadis itu sudah melakukan kesalahan.
"A-ah….aku tidak apa-apa, Tenten" Gadis bersurai merah muda itu lekas berjongkok membersihkan pecahan gelas yang berserakan di lantai. Ada apa dengannya hari ini?
"Kau sakit? Wajahmu terlihat pucat," Tenten menatap khawatir ke arah Sakura "Sebaiknya kau istirahat. Aku akan membersihkan ini" lanjut Tenten lagi, demi apapun, wajah temannya terlihat pucat.
"Aku tidak apa-apa, tidak perlu khawatir," jawab Sakura kekeuh "Aku harus melakukan pekerjaanku."
Tenten mendengus kesal, Ia tahu kalau Sakura adalah gadis yang keras kepala, tapi Ia tidak tahu kalau sekeras kepala ini, "Berhentilah memaksakan dirimu, Sakura," Tenten menjauhkan tangan Sakura dari pecahan beling yang akan di ambil gadis itu, "Aku akan menggantikan pekerjaanmu, beristirahatlah."
Emerald Sakura menatap mata madu Tenten dengan tulus, Ia tahu Ia tidak bisa lagi melawan perkataan temannya tersebut.
"Aku akan mentraktirmu es krim nanti, terima kasih, Tenten" Sakura bangkit berdiri dengan agak terhuyung, yeah, jujur, kondisi tubuhnya memang agak kurang baik hari ini.
"Sure" jawab Tenten seraya mengangkat bahu, kemudian beralih membersihkan pecahan gelas yang belum beres.
.
.
Alih-alih mengistirahatkan tubuhnya di tempat tidur, Sakura lebih memilih taman belakang keluarga Uchiha –yang sepertinya jarang terawat dan dikunjungi, terbukti dari rumputnya yang agak panjang, memang agak jauh dari rumah utama. Tapi untuk sekarang, Sakura benar-benar butuh ketenangan. Jujur, Ia masih teringat dengan kejadian tadi malam. Oke, bisakah kita melewatkan kejadian dimana Itachi menciumnya? Sakura tidak ingin mengingat hal itu sekarang, dimana nafas hangat Itachi menerpa wajahnya, bibir lembut Itachi menciumnya, dan lidah pria itu yang menjilatnya sensu- STOP.
Oh God
Sakura pikir Ia mulai gila.
Oke, lupakan tentang kejadian itu. Yang membuatnya lebih gelisah adalah ketika pria itu menyebutkan nama nya dengan penuh penekanan. Tidak ada kesalahan dan fasih.
Penasaran
Benar, itulah yang Sakura rasakan sekarang. Kenapa pria itu bisa tahu namanya? Apa jangan-jangan pria itu 'stalker' ?
Bulu kuduk Sakura berdiri tiba-tiba, selain tempatnya, orang-orang penghuni rumah Uchiha ini juga mengerikan.
Angin berhembus lembut di halaman itu, membawa hawa dingin karena ini sudah memasuki pertengahan musim gugur. Sakura mencoba menutup matanya, mungkin tidur siang di bawah pohon sakura ini adalah pilihan yang baik.
Sedetik matanya tertutup, angin kembali berhembus, membawa aroma rumput dan suara dentingan lembut piano. Rasanya begitu tenang dan tentram.
Tunggu, apa barusan ada suara piano?
Kelopak mata Sakura refleks terbuka kembali, gadis itu mencoba menajamkan indra pendengarannya ketika angin kembali berhembus disertai suara piano.
Benar, tidak salah lagi. Itu memang suara piano.
Di dorong dengan rasa keingintahuan yang tinggi, Ia berjalan mengikuti arah datangnya suara merdu piano yang tetap terdengar. Kali ini semakin jelas ketika kakinya mendekat ke sebuah bangunan kecil bercat putih. Kecil dan sederhana, namun terlihat mewah disaat yang bersamaan.
Pintunya sedikit terbuka, namun keberanian Sakura belum cukup untuk masuk ke dalam bangungan tersebut atau sekedar membuka pintu itu. Akhirnya Ia memilih untuk mengintip lewat jendela.
Hal pertama yang Ia lihat adalah sekelebat bayangan hitam.
Hey, itu bukan hantu kan?
'Tidak mungkin ada hantu disiang bolong seperti ini' inner Sakura meyakinkan
Gadis itu mencoba menajamkan penglihatannya dan sedetik kemudian bibirnya terbuka tak percaya dengan apa yang Ia lihat.
Apa itu tuan muda Itachi?
Lekas-lekas Sakura menyembunyikan keberadaannya. Dadanya kembali bergemuruh tak nyaman.
Apa benar pria dingin seperti tuan mudanya bisa memainkan piano dengan begitu lembutnya? Sakura hampir tak dapat mempercayainya kalau saja sebuah suara yang sedikit familiar di telinganya tidak terdengar.
"Apa yang kau lakukan?"
Terkejut, Sakura refleks mendongak ke atas dan menemukan wajah seorang pria dewasa melongok dari balik jendela di atasnya.
"E-eh? E-etoo, aku hanya berjalan-jalan di sekitar sini, Tuan" jawab Sakura gugup
Ia pikir pria itu akan memakinya atau memecatnya karena ketahuan sudah lancang mengintip aktifitas yang dilakukannya, namun semuanya salah ketika Itachi justru tersenyum ke arah Sakura.
"Hey pelayan, apa kau mau 'bermain' bersamaku?" tawar Itachi dengan senyum tulus nya yang terlihat bersinar. Bagai terhipnotis, kepala Sakura turun-naik mengiyakan tawaran tuan mudanya tanpa mengetahui akal busuk yang di rencanakan Itachi di balik senyum manisnya.
.
.
"Tenten, apa kau melihat Sakura?" nenek Chiyo berjalan menghampiri Tenten yang sedang menikmati makan siangnya.
Tenten menoleh kesumber suara, bersusah payah menelan nasi yang baru di suapnya dengan cepat, tak mau membuat nenek Chiyo menunggu dengan jawabannya, "Bukankah Sakura sedang beristirahat di kamarnya?" kenyataannya, Tenten justru balik bertanya.
"Benarkah? Tapi aku tak menemukannya di kamar" nenek Chiyo jelas kebingungan. Sebelum menuju dapur, tadi Ia sempat memeriksa kamar Sakura dan gadis itu tidak ada di sana.
"Eh? Mungkin dia sedang di toilet" jawab Tenten asal. Yang ada dipikiran gadis itu sekarang hanyalah mengisi perutnya dengan makan siang yang tersaji didepannya.
Nenek Chiyo mengangguk tanda mengerti, mungkin Tenten ada benarnya juga. Wanita separuh abad itu lalu menarik kursi meja makan dan ikut bergabung dengan gadis kelahiran China tersebut. Siapa lagi kalau bukan Tenten.
.
.
Okay
Bisakah seseorang menjelaskan apa yang salah di sini?
Sakura rasa tidak ada yang salah dengan indra pendengarannya tadi. Ia jelas-jelas mendengar kalau Itachi mengajaknya bermain. Yang pria itu maksud pasti bermain piano kan? Bukan yang lain.
Tapi,
Tapi kenapa harus seperti ini?
Yeah, yang Sakura maksud, pria itu memang mengajaknya bermain piano, tapi tidak dengan posisi seperti ini kan?
Dimana Sakura harus duduk dipangkuan Itachi dan tangan pria itu yang memainkan tuts piano dari balik tubuh Sakura, ditambah kadang pria itu dengan sengaja menyenggolkan tangannya ke dada Sakura. Kalian tahu apa? Da-da.
Sakura jelas gusar. Hey, ini pelecehan kan?
"A-ano,tuan"
"hn"
Ugh, tidak bisakah pria itu tidak bernafas di lehernya?
"A-aku harus kembali bekerja sekarang"
"Bukankah kau ingin bermain bersamaku?"
Demi dewa neputunus, Sakura dapat melihat seringaian di wajah tuan mudanya. Ini pertanda buruk.
"Sepertinya tidak untuk hari ini,tuan" Sakura mencoba bangkit berdiri, namun pinggangnya justru dicengkram oleh Itachi, memaksa gadis itu untuk tetap duduk dipangkuannya.
"Bukankah seorang pelayan harus mematuhi tuannya?" lidah Itachi terjulur menjilat telinga Sakura secara sensual, memaksa si gadis melenguh tertahan.
"Tolong hentikan" Sakura mulai panik ketika tangan Itachi mulai merayap ke tubuh bagian atasnya.
Sesuai perkataan Sakura, pria itu berhenti. Itachi melepaskan rangkulannya pada tubuh sakura dan membiarkan gadis itu berdiri menjauhinya.
"A-aku punya pertanyaan untukmu" kali ini Sakura benar-benar melupakan sopan santunnya, Ia bahkan tidak menambahkan embel-embel 'tuan' pada kalimatnya.
Itachi menatap Sakura ingin tahu. Baru kali ini Itachi menemukan seorang gadis –yang bahkan jauh lebih muda darinya- berani berbicara dengannya sambil menatap lurus ke matanya. Hal langka, dan Itachi menyukai sesuatu yang langka.
"Apa itu?"
Sakura menghirup nafas dalam, mengumpulkan keberaniannya untuk mengungkapkan pertanyaan yang sedari tadi berputar di otaknya. Membuatnya sakit kepala.
"'Haruno'...bagaimana kau tahu marga itu?"
Alis Sakura mengeryit ketika Itachi mengeluarkan sebuah senyuman yang tak biasa di matanya, pria itu lalu berbalik menghadap piano, memainkan tuts-tuts nya dengan melodi yang lembut dan indah. Mengabaikan keberadaan seorang gadis yang berdiri gelisah di tempatnya.
Setelah beberapa menit di dominasi oleh kesunyian, Itachi membuka suaranya, "Apa keuntunganku kalau aku menjawab pertanyaanmu?"
Dahi Sakura berkerut tak suka, "….." Apa yang pria ini pikirkan, Sakura tidak bisa menebaknya sama sekali. Apa Ia pikir Sakura sedang menawarkan sebuah proyek pekerjaan di sini? Dasar Uchiha, yang ada di otaknya hanya bisnis dan bisnis
"Hm?" Itachi menghentikan permainan pianonya, menyangga kepalanya dengan tangan kirinya yang di letakan di atas tuts-tuts piano hingga menimbulkan suara sumbang yang memekakan telinga.
"Aku akan melakukan apapun" yeah, 'apapun' dalam maksud, Sakura akan menjadi pelayan yang setia, tidak ada hal lain yang Sakura maksud di sini. Seharusnya begitulah pemikiran Sakura, tapi sepertinya peran utama kita ini masih terlalu polos.
"deal …. Tawaran yang menarik, nona" Itachi tak dapat menyembunyikan seringaiannya lebih lagi. Gadis di depannya sekarang terlalu polos dan menarik untuk dilewatkan.
Sakura ingin mengajukan protesnya, dalam hal ini dia ingin mengeluarkan pembenaran dalam kata-katanya ketika suara langkah kaki terdengar semakin dekat kearah mereka. Kabuto menampakan dirinya dengan wajah datar seperti biasa.
"Tuan muda" salam Kabuto
Sakura sedikit mengganggukan kepalanya kepada Kabuto juga Itachi, kemudian dengan tahu diri menjauhi keduanya yang mulai terlibat percakapan serius. Mungkin perihal balas dendam bisa dilakukan dilain kesempatan. Sakura menghela nafas lelah.
.
.
"Sakura...darimana saja kau?" nenek Chiyo menatap gadis di depannya penuh selidik. Sakura memang sudah dia anggap sebagai keluarga sendiri, tapi kalau itu menyangkut pekerjaan, nenek Chiyo tidak pandang bulu. Dia akan menasehati siapapun yang tidak melakukan pekerjaannya dengan baik, apalagi pergi tanpa kabar.
"Ah...aku...aku tertidur ditaman belakang nenek" jawab Sakura agak salah tingkah. Well, dia tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya kan kalau tadi dia bermain piano bersama tuannya dengan posisi Itachi memeluknya dari belakang? oh ayolah, itu mustahil.
Nenek Chiyo hanya menghela nafas, dia tahu Sakura tidak mengatakan kebenaran kepadanya. Entah kenapa, dia merasa selalu ada yang disembunyikan oleh Sakura darinya. Tapi dia cukup tahu diri untuk tidak mengintrogasi Sakura lebih lanjut. "Lanjutkan perkejaanmu,Sakura. Bantu aku menyiapkan makan malam"
"Baik nek" jawab Sakura tanpa basa-basi.
Tbc
thanks buat semua yang udah mau review ini story yang -sumpah- ga jelas-jelas amat
makasih juga buat sarannya masalah Sakura udah nyebutin nama...emang aku nya salah, kemaren niat nulis nama Sakura aja ga pake marga Haruno. tapi baca sendiri aja deh yah wkwkwk udah diedit sih. kalo salah lagi,berarti penulis yg error.
salam hangat,
unlike
