Unexpected Chap 4

disclaimir : Masashi Kishimoto

saya hanya meminjam chara beliau

harap maklum kalo typo(s) dan semacamnya =)

enjoy it !

.

.

Keheningan terjadi di ruang makan berukuran luas itu. Hanya ada satu orang yang duduk disana. Tanpa suara. Dia terlihat menggunakan baju yang kalau dikategorikan untuk makan malam sendirian, terlihat sedikit formal. Kemeja dan sebuah celana kain.

Para pelayan masih sibuk menghidangkan hidangan tambahan yang tak kunjung habis. Termasuk Sakura. Dia berusaha untuk tidak melirik sang majikan yang -sepertinya- sedari tadi terus menatapnya intens.

Dia menyebalkan.

Sakura mencoba mengacuhkan Itachi. Mungkin hanya pikirannya saja, siapa tahu dia menatap pelayan yang lain kan? Lagipula untuk apa Itachi melihatnya, hanya ada satu alasan kenapa pria itu melakukannya. Sakura-terlihat-kumal. Damn it.

'Fokus Sakura...fokus'

Gadis itu kembali membawa sebuah puding coklat sebagai hidangan penutup yang terlihat lezat. Well, itu alamiah jika kau menginginkan sebuah makanan masuk kedalam perutmu setelah seharian bekerja dan kau belum menyentuh makanan apapun kan? Tapi kalau dipikir-pikir, apa makanan yang disajikan tidak terlalu banyak untuk disantap satu orang saja? Atau mungkin tuan nya memang memiliki porsi makan seperti ini? Pikiran Sakura terus berputar tak jelas, sampai...

Dukk

"Akhh..."

Praang

"Oh ya Tuhan..." Sakura memandang horor ke arah objek yang menjadi korban kecerobohannya. Itachi.

.

.

Itachi's pov

Seperti biasa, ruang makan ini terasa kosong. Bukan dalam artian sebenarnya. Maksudku, aku selalu duduk dikursi yang sama dan dalam keadaan yang sama. Sendirian. Apa aku terlihat menyedihkan dimata kalian? Aku tidak peduli. Kalaupun bukan karena kabar yang disampaikan Kabuto padaku siang tadi, aku tidak akan duduk disini dan berpenampilan rapi begini. Musim panas membuatku gerah.

Satu porsi steak diletakan di depanku. Ku akui aromanya menggoda perut, ditambah aku melewatkan makan siangku tadi. Sepertinya makan malam hari ini cukup lezat. Aku menatap pelayan yang meletakan hidangan tersebut. Ah, Sakura.

Aku menatapnya intens. Sekarang dia sudah dewasa eh?

Entah sadar atau tidak, aku menaikan sudut bibirku.

Mataku kembali melirik pelayan nyentrik yang keluar dari dapur disudut ruangan. Dia terlihat sedikit kacau. Dalam hati aku terkikik geli melihat mata emeraldnya yang tak lepas dari puding yang dia bawa. Aku berani bertaruh dia belum makan malam.

Apa dia memang selalu hilang fokus seperti itu ketika bekerja?

Namanya hampir saja keluar dari mulutku ketika tanpa sengaja dia menabrak sudut meja, menyebabkan keseimbangannya hilang dan puding yang dia pegang terlepas begitu saja.

Dukk

"Akhh..."

Puding itu terjatuh tepat diatas perutku. Double shit, aku mengenakan kemeja pastel polos sekarang dan warna coklat dari puding ini benar-benar membuat ku jijik.

"Oh ya Tuhan..." Sakura menatapku horor. Aku balik menatapnya lebih horor lagi. Oke, aku lapar, aku gerah, dan sekarang aku marah.

Gadis ini benar-benar membuatku naik pitam.

.

Itachi's pov end

.

Sakura bergegas mengambil tisu yang terletak diatas meja makan. Pelayan yang lain mulai berkerumun. Ada yang hanya melihat kejadian yang baru saja terjadi, sebagian pun datang untuk membereskan pecahan kaca dan puding coklat yang hancur di lantai.

"Ma-maafkan aku, tuan...a-aku tidak sengaja" Tangan Sakura bergetar hendak membersihkan sisa-sisa puding yang masih menempel di baju Itachi. Dia menghindari tatapan tajam tuan mudanya. Tuhan, dia masih ingin hidup.

Greb

"Kau..." belum sempat tangan Sakura menyentuh benda yang dituju, tangannya dicekal erat oleh Itachi. Membuatnya sedikit kesakitan. "ikut aku" dan kali ini pria itu menyeretnya keluar dari ruang makan. Sakura yang tidak fokus hanya bisa pasrah. Mereka bertemu Kabuto di ambang pintu ruangan itu. Pria berkacamata tersebut terlihat bingung, "Tuan mu-"

"Jangan menggangguku" ucap Itachi sambil berlalu

"Tapi..." belum sempat Kabuto menyelesaikan kalimatnya, dua orang tersebut sudah menghilang dari hadapannya.

.

.

"Tu-tuan...tolong lepaskan tanganku" Sakura mencoba memohon. Cengkraman Itachi terasa menyakitkan.

Pria itu bergeming

"Ma-maafkan aku" rengek Sakura lagi

Juga, pria itu tidak mengindahkan semua perkataan Sakura

Mereka sampai pada satu ruangan dengan pintu besar. Kamar Itachi. Pria berkuncir itu memaksa Sakura masuk ke dalam.

Semua pikiran buruk bahkan yang terburuk sudah memenuhi otak Sakura. Dia takut. Bagaimana kalau pria di depannya sekarang menyiksanya seperti di film-film horor yang pernah dia tonton. Bagaimana kalau malam ini adalah malam terakhir dia berada didunia? Bagaimana dengan niat balas dendam yang selama ini menjadi tujuan nya? Sakura hanya bisa menunduk memikirkan nasibnya setelah ini.

"Kau" Suara tajam Itachi menyentuh indra pendengaran Sakura.

Gadis itu masih menunduk. Tubuhnya bergetar ketakuan, mencoba menghindari kontak fisik dengan cara memberi jarak di antara mereka.

"...harus bertanggung jawab atas perbuatanmu."

Kalimat itu bagaikan panah yang menusuk Sakura tepat di jantungnya. Membuatnya lupa cara bernafas untuk beberapa detik.

"Ak-aku...ma-maafkan aku, tuan. A-aku tidak bermak-" ucap Sakura terbata yang bahkan dia sendiri tidak yakin kalau Itachi bisa mendengar suaranya dengan jelas

"Carikan baju untukku" potong Itachi cepat

"Eh?" Sakura seketika mendongak. Raut kebingungan tercetak jelas diwajahnya. Pria itu tidak marah? Dia tidak disiksa seperti yang dia pikir tadi? Sakura justru menemukan pria itu sudah melepaskan baju yang tadi menjadi korban kebodohan Sakura. Sekarang pria itu topless dan -entah sengaja atau tidak- menampilkan otot-otot tubuhnya yang sangat di sayangkan untuk dilewatkan oleh mata Sakura. Tanpa sadar, pipi gadis itu memerah dengan sendirinya.

"Apa kau tuli?" Itachi berbalik ke arah nya. Semua tidak akan jadi masalah kalau saja pria itu tidak di lahirkan mempunyai wajah tampan dan tubuh seksi seperti sekarang. Tapi ini...

Bukannya menjawab pertanyaan dari tuan muda nya, Sakura justru terkesima dengan tubuh Itahi yang terlihat gagah, membuatnya semakin merona. Tanpa dia sadari, pria itu berjalan mendekatinya.

Mata Sakura membulat kala Itachi tiba-tiba mendorongnya ke dinding dan menghimpitnya begitu saja. Tidak memberi jarak sama sekali. Tangan Sakura otomatis terangkat untuk menahan pergerakan Itachi agar tidak lebih dari ini. Dia yakin pria itu bisa mendengar detak jantungnya sekarang. Jarak mereka terlalu dekat untuk seorang majikan dan pelayan.

"Tu-tuan...to-tolong jangan seperti ini" Sakura mencoba mengontrol laju detak jantungnya. Tuhan, kalau jantungnya berdetak lebih cepat dari ini, dia bisa mati. Bukannya menuruti permintaan sang pelayan, Itachi justru menundukan kepalanya membuat Sakura bisa merasakan hangat nafas pria itu menerpa pipi kanannya.

Dan mungkin dia benar-benar akan mati sekarang.

Tiba-tiba sepasang tangan mengangkat wajahnya, memaksa Sakura untuk mendongak. Belum sempat bagi Sakura untuk memfokuskan pandangannya, sebuah ciuman mendarat dengat bebas bibirnya.

Itachi menciumnya!

Untuk kedua kalinya, pria itu mengambil kesempatan dari Sakura. Awalnya biasa saja, tapi lama kelamaan, pria ini seperti kehilangan kontrol. Ciuman Itachi mulai terasa panas dan membuat Sakura kewalahan. Kadang pria itu menggigit lalu menghisap bibir Sakura dengan keras, memberikan sensasi yang lain bagi Sakura. Tanpa komando, tangan gadis itu bergerak ke atas sampai kepada leher Itachi lalu mengalungkan tangannya disana dengan nyaman. Kini, sang pelayan pun ikut ambil bagian dalam ciuman itu.

Itachi tersenyum penuh kemenangan dalam hati.

"I-itachi-sama..." Sakura mulai mendorong Itachi dengan sisa tenaga yang dia punya. Dia perlu oksigen. Merasakan hal yang sama, pria itu mengalah, dia memberi ruang antara mereka, melepaskan ciuman -tidak- singkat itu walaupun hidung mereka masih bersentuhan. Nafas keduanya menerpa wajah satu sama lain. Hangat dan memburu.

Sakura berusaha untuk mencerna apa yang baru saja terjadi. Tapi usahanya kembali digagalkan Itachi. Pria itu kembali menciumnya, walaupun kali ini lebih lembut dari sebelumnya. Tangan pria itu bergerak melingkari pinggang kecil gadis di depannya, menarik si gadis untuk lebih merapat pada tubuhnya. Lenguhan kecil terdengar bersamaan dengan suara kecapan lidah mereka.

"Hen-hentikan..." mohon Sakura tatkala kebutuhan oksigen kembali menghantam paru-parunya. Namun Itachi tidak peduli. Dia terus 'memakan' bibir lembut Sakura seperti seorang yang kelaparan dan baru saja menemukan makanannya. Sakura mulai panik, dia tidak mau mati konyol karena sebuah ciuman.

"Nghh..." Lenguhan Sakura kembali terdengar kala lidah Itachi berhasil masuk kedalam mulutnya dan mulai bergerak lincah didalam sana. Rasa seperti tersengat listrik menjalar kesekujur tubuh Sakura. Sensasi ini terasa memabukan sekaligus membahayakan. Mereka harus berhenti sekarang!

Merasa oksigen semakin berkurang, Itachi melepaskan ciumannya. Dia menatap intens gadis di depannya tanpa sepatah kata. Rambut pink nya sedikit berantakan, matanya terlihat sayu, pipinya bersemu merah, dan bibirnya terlihat bengkak. Pria mana yang tidak tergoda melihat keadaan gadis ini sekarang. Dan Itachi adalah seorang pria.

Pria itu hampir saja melakukan hal lebih kepada Sakura kalau saja ketukan di pintu kamarnya tidak menginterupsi kegiatan mereka.

"Tuan muda..." Suara Kabuto terdengar agak ragu.

Itachi tidak menjawab, dia masih menatap Sakura yang lebih memilih memalingkan wajahnya dari sang tuan muda. Dia sungguh merasa malu.

Tok tok tok

Ketukan kedua terdengar. Kali ini lebih nyaring.

"Tuan muda, 'dia' sudah datang"

'Dia' Emerald Sakura melirik Itachi tak yakin, tapi dia menyadari adanya dengusan gusar dari Itachi. Apa pria di depannya ini tidak menyukai seseorang yang disebut 'dia' oleh Kabuto barusan?

Sakura kembali membuang muka tatkala matanya bertemu dengan onyx Itachi, "Aku akan kesana." jawaban yang ditujukan pada Kabuto tadi terlihat meragukan. Pasalnya, Itachi tidak bergerak sesenti pun dari posisinya. Dia justru meremas pinggang kecil Sakura gemas. Sedangkan gadis itu berperang dengan dirinya sendiri agar tidak mengeluarkan suara aneh apapun.

"Baik" jawab sang asisten pribadi kemudian terdengar langkah kaki yang menjauh dari tempat itu.

"Apa kau akan mengacuhkan tuan mu seperti itu?" kalimat Itachi disertai nada kesal yang kentara. Sakura masih membuang mukanya, menolak bertatap dengan dia.

"Eh?"

Itachi menggeser tubuhnya, kemudian melangkah ke arah lemari pakaian berukuran besar yang berada di sudut ruangan kamar, "Kau boleh pergi"

"Eh?" untuk kesekian kalinya Sakura di buat bingung, atau memang dia nya yang sedang lola? Entahlah. Setidaknya Sakura bersyukur bisa bernafas dengan bebas sekarang.

"Atau kau ingin aku melakukan sesuatu yang lain padamu sekarang?" ucapan Itachi seperti peringatan terakhir bagi Sakura. Tanpa basa basi gadis itu pergi keluar dari kamar yang di dominasi warna pastel itu bahkan tanpa mengucapkan sepatah katapun pada tuannya. Dia hanya ingin menyelamatkan dirinya, tidak salah kan?

Tapi entah kenapa Sakura kesal karena Itachi menyuruhnya pergi begitu saja. Apa-apaan itu, setelah dengan kurang ajarnya mengambil ciuman darinya, sekarang pria itu justru mengusirnya? Ironi sekali.

Tunggu,

Memangnya apa yang dia harapkan dari pria itu? Bukannya harusnya dia bersyukur pria itu melepaskannya?

"ah ada apa denganku"

Sakura sibuk merutuki dirinya sendiri sampai-sampai dia tidak sadar berpapasan dengan seorang wanita dewasa yang terlihat acuh, juga, menuju ke ruangan yang tadi baru saja Sakura keluar dari sana.

.

.

tbc

.

.

yep apdet maksa, kepepet tugas. Makanya pendek banget jadinya ini.

Tapi daripada ga sama sekali kan, wkwk. Udah diedit ulang ini kok chap4nya.

Maafken author yang sempat ngilang di telan kampus untuk 'beberapa saat', tapi ini sedang berusaha untuk tetap aktif lagi.

entah sebagai reader ff lain atau sebagai penulis ini ff.

Makasih buat yang masih setia nungguin.

Kritik dan saran aku terima.

Salam hangat, Unlike.