Shinobi? Awalnya Rias takpercaya dengan eksistensi Mereka, namun kali ini dia dibuat percaya bahwa keberadaan Mereka masih ada, dengan dibuktikan-nya oleh keberadaan salah satu dari Mereka.

Naruto, seorang Remaja yang Ia temukan tergeletak di depan pintu ruangan klubnya merupakan salah satu dari Shinobi yang masih ada didunia. Tapi seiring berjalanya waktu semua tentang Naruto mulai terungkap.

.

.

.

.

.

Oke! Sebelumnya... Saya ingin membalas beberapa Review dari kalian.

...

* putri anjani-can

Kekuatan max naruto nanti cuma bijumode senjutsu ya? : Biju mode? Kayanya belum sampai situ kekuatan max Naruto baru Senjutsu. Mungkin secara bertahap akan meningkat ^^

* ulu 1 2 3

dan tolong naruto jangan dijadiin iblas ya :v : Yup pasti... Tapi kalau Naruto jadi Iblis gimana? Muehehehe!

* ulu 1 2 3

gaya bahasanya bagus kalau diterus nanti bisa melampui fict dari galerianstau kan?) keep writing have fun ya : Galerians? Yaa saya tau udah lama saya nggk liat Author pro itu update cerita. Kangen saya sama Fic Radiant sun of kuoh academy. ^^ kalau melampaui fic dari Dia... saya rasa enggk mungkin deh, soalnya gaya bahasa saya masih pas-pasan.

* luciyfer

yeah lajuut... keep writting... : Yeah...! ^^

* .birayang

whoaa,, keren... di tunggu nex ch... cpt up ya,, jadi rey akan jdi teman naruto nhh : Reynare jadi temen Naruto? Hmm... Mungkin Iya. ^^

* Guest

bahasanya terlalu gaul

tolong d perbaiki : saya udah berusaha, tapi tangan saya ini gatel sekali buat masukin gaya bahasa yang sedikit serong kaya gitu ^^ tapi nanti akan saya perbaiki.

* Risaldi

Bukan samyasa-sama tapi shemhazai-sama..itu aja comen ane & ganbatte ne... : makasih atas koreksinya...^^ seneng banget ada Viewer yang ngasih tau dimana letak kesalahan tulisan saya.

* Andre iswandi378

Next thor fic nya seru, itu naruto bikin HAREM gx kalo bisah sih bikin HAREM tapi jng Banyak thor kalo gitu ane tunggu update di chap 2 jng lama : Harem? Mungkin kali ya... Kesulitan buat bikin Harem itu gimana cari alasan yang masuk akal apa alasan yang bisa membuat cinta itu bercabang. ^^ :)

* remixer52

cerita yang menarik...saya harap kedepannya akan lebih baik lagi.!

see you in next chap...ijin fol ya author-san.! : Oke.

* mrheza26

next

klau bisa naruto tetao manusia : Oke...

lanjut.

tapi apa kyubi juga ikut kan dia ada didlm tubuh naruto : terjawab di chap ini.

* KidsNo TERROR13

Keren vak

Apa d sini naruto belum berteman sama kyubo?

Lanjut : terjawab di chap ini.

* 4RayNaruKushi

Ane sedikit ngga ngeryi sama alurnya

Lah katanya Naruto nggak membocorkan identiasnya kok malah issei tau itu Naruto : hehehee... Maaf kalo bingung, itu emang kesalahan dari Author abal-abal ini... Atau kamu mungkin harus membacanya dengan hati-hati.

* Pian-Sama

hmm fict ini mainstream tapi pembawa mu yg beda itu cukup menghibur dan yah seperti itu lah lanjut kan... : Thanks Very much!

...

Sebelum membaca Chap ini silahkan Googling terlebih dahulu dengan key word : Naruse Mio.

Disclaimer : © Masashi Kishimoto & Ichie Ishibumi

Rated : T

Genre : Supranatural, Drama, Aksi dan sedikit Humor.

Pair : Mengikuti jalan cerita.

Warning : Mungkin OOC, Typo, Pasaran, Mainstream (Pasti), Semi canon, Bikin mata perih.

Chapter 2 : Ninja Bersekolah Dan Tujuan Baru Yang Belum ditemukan.

.

.

.

.

.

Matahari pagi muncul dengan malu-malu untuk menunjukan sinar indahnya kepada Dunia, dari Kota Kuoh dengan suasana kehangatnya mulia terdengar Burung-burung berkicau syahdu bersahut-sahutan seolah mengucapkan Selamat pagi kepada dunia.

Kehidupan di Kota sudah nampak dimulia dengan kesibukan para penduduknya untuk beraktivitas yang lebih dominan seperti berangkat bekerja dan bersekolah begitu pula dengan Naruto.

sebelum Matahari menampakan dirinya... Ia sudah terjaga dari tidurnya dengan wajah yang masih lelah, Ia berdecih karna malam ini tidurnya tidak nyenyak sama sekali.

"Huh... Ini pasti gara-gara semalam."

Rasa sakit dan pegal masih belum hilang dari tubuhnya. Ingin sekali rasanya Ia membolos sekolah untuk hari ini, namun jika Ia melakukanya lagi pasti Ia akan di buru oleh Sitori Sona dan kelompok Osis nya yang kini mulai gencar untuk mencarinya.

Belakangan ini Naruto selalu lolos dan membuat kelompok Osis sering kali kecolongan. Namun Naruto yakin sepandai-pandainya Naruto... Eh tunggu...! Maksutnya sepandai-pandainya Tupai melompat pasti jatuh juga. Kata pepatah yang Ia dapat dari Toilet Sekolah seolah menjadi peringatatan Khusus baginya.

Naruto kembali memejamkan matanya mencoba untuk melanjutkan tidurnya, namun tubuhnya menolak untuk tidur. Merasa tak nyaman untuk melajutkan tidurnya kembali, Naruto bangkit dari Futon tidur yang kemudian melipatnya dan setelah itu diletakannya di dalam lemari.

Kedua kakinya melangkah perlahan menuju pintu kamar yang menghubungkan langsung dengan halaman luar Kuil.

Udara pagi yang sejuk membelai lembut wajahnya ketika pintu Ia geser membuat tubuhnya merasa sedikit lebih segar,

Menutup kedua matanya, bayang-bayang akan kejadian semalam melintas didalam benaknya.

Membebaskan seorang Datenshi... dengan jaminan Ia sendiri lah yang akan bertanggung jawab akan tindakanya, kemarahan Rias semakin menjadi-jadi karna hal tersebut, namun dengan sumpah yang Naruto buat akhirnya Rias dengan berat hati menyutujui untuk membebaskan Datenshi tersebut namun dengan syarat. Reynare harus mengembalikan Sacred Gear milik Asia terlebih dahulu dan tidak lagi untuk mengganggu Issei.

Alasan Naruto bertindak seperti itu karna Ia merasa Orang itu berhak diberikan kesempatan ke dua untuk bertaubat, Ia yakin saat melihat sorot matanya yang penuh akan penyesalan dan kebingungan tentang kebenaran yang tersembunyi dari tindakanya itu. Tangisan yang sarat akan penyesalan juga membuatnya melemah akan hal itu.

Bodoh memang jika Musuhnya sendiri Ia bebaskan begitu saja, namun Naruto jadi teringat akan kilas balik Seseorang. Seorang pendosa yang gila akan kekuatan dan kekuasan berambisi tinggi hingga Ia dibutakan akan hal tersebut, ketika Orang tersebut menyadari akan kesalahanya Ia mencoba untuk memperbaikinya.

Namun sayang... Tuhan sudah terlajur kecewa akan Dirinya. Dengan segala penyesalan besar dalam dirinya Ia gagal untuk memperbaiki kesalahanya...

PUK PUK

Di tengah lamunanya yang cukup lama itu Naruto merasakan sesuatu yang hangat menyentuhnya, membuka kedua matanya, Ia melihat Sebuah tangan hangat membelai lembut pipi kanannya.

"Ohayou... Uzumaki-kun." sapa si pemilik tangan yang ternyata adalah Akeno yang menyapanya dengan lembut sama seperti belaian tangan putihnya.

"Akeno?" bukanya menjawab sapaannya Naruto malah terlihat bingung. Sontak hal tersebut membuat Akeno bertanya.

"Hmmm? Ada apa?"

"Menurutmu apakah tindakanku semalam akan membuatnya membenciku?"

Akeno menatap kedua Permata biru dihadapanya terlihat jelas olehnya akan adanya kekhawatiran yang mengganjal di dalamnya.

"Sebenarnya dia memang marah padamu, tapi dia percaya jika sumpahmu bisa di pegang."

"Tapi kenapa kamu menjadi ragu begini?" Akeno kembali bertanya. Dengan nada yang dibuat-buat.

"Apa jangan-jangan ucapanmu itu semua palsu? Fufufufu..."

"Tidak! B-bukan begitu..!." Naruto berteriak dengan gelagapan.

"Lalu?"

Naruto menghela nafas sejenak, mencoba melepas sedikit beban hatinya.

"Aku hanya takut jika tanggung jawabku atas Orang bersayap itu tidak dapat aku tepati."

Akeno terkekeh sontak hal tersebut membuat Naruto terheran.

"Kenapa kau tertawa?"

Tawa Akeno perlahan mereda wajahnya Ia palingkan dari Naruto,

"Uzumaki-kun... Jadilah seorang Shinobi yang mampu memegang perkatanya sendiri... Kau itu laki-laki, seorang laki-laki tidak boleh menarik kata-katanya kembali... Buktikan bahwa tanggung jawabmu mampu kau emban... Kau harus percaya pada hatimu..."

Akeno mencoba memberi masukan dengan yakin agar membuat Naruto tak memusingkan akan tindakanya sendiri, lucu memang... Tapi Ia harus meyakinkan bahwa Remaja dihadapnya ini mampu menjadi lebih bijak akan tidakan yang Ia lakukan sekarang dan nanti.

Naruto hanya terdiam mencoba memahami perkataan Akeno. Melepaskan Musuh adalah hal yang baru pertama kali Ia lakukan, entah tindakan yang Ia ambil baik atau tidak namun perkataan Akeno sedikit membuat hatinya percaya.

"Ah, sudahlah... lagi pula Datenshi itu tak akan berani berbuat macam-macam lagi, dan lagi pula Rias sebenarnya tak terlalu ambil pusing akan hal itu... Jika Reynare berulah lagi... Yaa mungkin Rias akan langsung melenyapkanya... Bereskan?" Akeno mengatakannya dengan senyum yang terlihat aneh.

setelah merasa tak ada yang perlu Ia katakan, Akeno pun berbalik meninggal kan Naruto yang masih diam berdiri di tempat yang sama.

Ketika jaraknya semakin jauh Ia berhenti dan memutar tubuhnya kembali. Dan Melihat Naruto yang ternyata masih terdiam di tempat yang sama. Yang sepertinya masih memikirkan hal itu.

"Jika kamu masih berdiri di situ, kamu akan kesiangan untuk bergegas menuju sekolah loh...!"

Akeno mengeluarkan suaranya dengan suara yang agak keras. Membuat Naruto tersadar Matahari telah meninggi dan cahayanya mulai memanas, seketika membuatnya panik dan berlari tergesa-gesa menuju kamar mandi dengan mulut berkomat-kamit untuk bersiap pergi ke sekolahnya.

"Gawat...! Aku kesiangaaaan...!"

Akeno tertawa melihat tingkah teman satu atapnya, sejak kehadiran Naruto di kehidupanya Ia merasa hari-harinya lebih berwarna, sifat alaminya yang ceria dan sedikit bebal membuat daya tarik tersendiri baginya, layaknya cahaya suci Matahari yang dengan terangnya menusuk dan membunuh kegelapan yang membutakan hati siapa saja yang berada didekatnya. Matahari adalah perumpamaan yang pas akan dirinya dengan mata sebiru permata langit, menghipnotis hati siapa saja yang menatap keindahanya. Ia berharap Naruto selalu barada dekat dengannya.

.

.

.

.

.

Perjalanan Naruto menuju sekolah Ia lalui melalui Hutan dan kemudian melewati gang kecil rumah penduduk yang terletak di belakang sekolahnya, selain sebagai jalan pintas Ia juga berencana untuk menghindari Satpam sekolah berwajah sangar dan juga menurut sebagian Teman-temanya kejam itu.

Satpam sekolah itu tak segan-segan memberi hukuman kejam kepada siswa yang datang terlambat, maklum karna di SMA Kuoh kedisiplinan sangat-sangat di utamakan, Rumor katanya hukuman yang paling kejam adalah membersihkan Toilet pria dengan mengunakan tangan kosong, mereka diharuskan untuk mengobok-obok dan mengorek-orek lubang toilet yang berkerak hingga bersih...

Naruto Tiba-tiba merasa perutnya tak enak. Membayangkanya saja sudah membuatnya mual apa lagi melakukanya dengan sungguhan?

Oh ya... Kenapa Naruto berangkat menuju sekolahnya hanya sendiri? Kenapa tidak bersama Akeno? Sebenarnya tadi Naruto berniat untuk menumpang untuk menggunakan sihir perpindahan milik Akeno namun ternyata Akeno telah menghilang duluan, dan Ia terpaksa memulai perjalan menuju sekolahnya sendiri.

Cukup lama bersekolah di Dunia ini membuat level pengetahuan Naruto mengalami peningkatan, di sekolah Naruto dikenal sebagai siswa yang kurang disiplin karna seringkali membolos dan datang terlambat, namun Naruto juga termasuk siswa yang cukup pandai di mata pelajaran tertentu seperti Matematika, Fisika, dan juga Bahasa jepang. Jika ada yang menanyakan apakah Naruto populer di sekolahnya? Jawabnya Tidak, Ia di sekolah termasuk Siswa yang biasa-biasa saja mungkin yang menonjol darinya hanya jumlah Alfa di absensinya saja yang musti di perbaiki.

"Hap...!"

Dengan Chakra yang terkonsentrasikan di kakinya Ia dapat memanjat kemudian melompat terjun dari tembok pembatas sekolah dengan begitu mudah.

Kakinya melangkah dengan terburu-buru untuk menuju kelasnya yang terletak di lantai dua, sekolah yang berukuran sangat luas dan megah cukup membuatnya menguras waktu untuk memangkas jarak menuju kelasnya,

namun Ia beruntung karna susasana sekolah yang telah sepi membuatnya leluasa untuk dapat menggunakan keahlian Ninjanya berlari dan melompat layaknya laba-laba. Dan mempersingkat waktu menuju kelasnya.

"Ohayou..." Naruto membuka pintu kelasnya dan tak lupa mengucapkan salam dengan lesu,

Sebagian teman-teman sekelasnya hanya mengacuhkanya karna mereka memang tak mendengar suaranya yang tenggelam oleh gema suara teman-temanya yang sibuk mengobrol dan bercanda.

Masa bodo dengan itu Naruto melangkah menuju bangkunya yang terletak di paling belakang.

Issei memberi salam saat Ia mendudukan tubuhnya yang pegal di bangku kesayanganya, entah kenapa rasanya hari ini bangkunya terasa sangat nyaman, material kayu yang Ia duduki terasa seperti busa empuk untuk sofa mahal.

"Tiga puluh menit? Wow...! Hari ini kamu beruntung Kojiro-sensei belum datang kemari."

Naruto membalasnya dengan tersenyum. Ia tau Kojiro-sensei termasuk guru paling kejam di sekolah ini yang dengan dingin dan seenak jidatnya memberi ulangan dalam jumlah soal yang tak sedikit dan dengan waktu yang mendadak sehingga tak jarang para siswa di sini dibuat jantungan. Wajahnya yang mirip dengan seorang Yakuzamenambah kesan sangar pada dirinya sehingga tak ada satu murid pun yang berani macam-macam denganya.

"Bagaimana kondisi kakimu Issei?" Tanya Naruto Ia melihat kearah kaki Issei yang sebelumnya terdapat luka disana.

"Lebih baik. Ini berkat penyembuhan Iblis dari Bochou." Jawab Issei sambil mengelus kakinya yang kembali sembuh.

"Lalu bagaimana dengan Asia?" tanya Naruto lagi.

"Cukup baik dia bisa menghilangkan traumanya dengan cepat dan dia akan bersekolah disini juga... Ah senangnya hari ini!"

Wajah Issei hari ini begitu cerah seolah Ia telah melupakan kejadian semalam yang hanya dianggap angin lalu saja. Naruto merasa lega akan itu.

"Issei... Apa kejadian semalam..."

Naruto mencoba bertanya namun

agak ragu dan memutuskan perkatanya. Sontak hal tersebut membuat Issei menjadi heran.

"Ada apa Naruto-san? Sepertinya kau ingin menanyakan sesuatu?"

Naruto diam sejenak. Setelah merasa yakin Ia kembali untuk bertanya.

"Issei... Tentang kejadian semalam, Aku membebaskan Reynare... Dan... Err... Kamu... Apa... Kamu... Etoo.."

Naruto berkata dengan nada suara yang terdengar aneh matanya bergerak gelisah, Namun Issei memahami apa maksut dari Naruto coba utarakan.

"Tidak apa-apa Naruto-san... Lagi pula Aku percaya kok, tindakan mu itu pasti ada maksutnya." Issei tersenyum lebar, namun lama kelamaan senyum tersebut terlihat aneh dengan munculnya warna merah di kedua pipinya.

Bagi Naruto Perkataan Issei tadi membuatnya merasa sedikit lega, Issei tak terlalu mempersalahkanya namun tetap saja Hal tersebut masih membuat Naruto sedikit tak enak kepadanya.

"Hah syukurlah... Tapi kenapa senyum mu seperti itu?"

"Muehehehe... Goyangan Oppai Reynare semalam masih terbayang-bayang di fikiranku Naruto san...!"

Naruto menjadi geli dan paham apa arti di balik senyuman Issei barusan.

"Dasar... Hentikan ekspresi bodoh-mu itu, lihat mereka seperti ingin membunuh mu-ttebayou...!"

Naruto mengarahkan jari telunjuknya membuat Issei memutar lehernya mengikuti arah telunjuknya dan bisa Ia lihat kerumunan perempuan mulai memberinya Tatapan membunuh kearahnya, Issei langsung menelan ludahnya dengan kasar dan kemudian memutar kepalnya kembali, memutuskan kontak mata dengan mereka.

"Hehehee... Itu sudah biasa Naruto-san." katanya.

Issei menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal sama sekali.

"Baka..."

Setelah merasa tak ada lagi yang ingin Ia bicarakan Naruto lalu menidurkan kepalanya diatas meja dengan lipatan tangan sebagai bantalannya, meski hari masih pagi Ia merasa kantuk karna semalam terkena Insomnia.

"Naruto-san aku hampir lupa...!"

Perkataan Issei membuat Naruto kembali membuka matanya yang terpejam sebelumnya. Ia tertarik akan perkataan Issei dan membuka suaranya untuk bertanya.

"Apa...?"

"Bochou, meminta mu untuk datang ke Klub setelah pulang sekolah..."

Naruto menegakan tubuhnya dan kemudian bersandar pada punggung kursinya,

"Rias...? Memangnya ada keperluan apa aku diminta untuk hadir?"

"Ummm... Entahlah, tapi Aku hanya di suruh untuk menyampaikan-nya padamu."

"Baiklah... Aku akan datang tapi aku tak janji."

"Are? Tak janji? Memangnya kau sibuk hari ini?"

"Tidak... Hanya saja aku merasa hari ini akan terkena musibah-ttebayou..."

Naruto menunjukan cengiranya, suara kekehan keluar dari bibirnya. Issei hanya diam tak tergelitik perkataan yang tak terdengar humor yang di keluarkan Naruto.

"Dasar... Musibah kata mu? Hati-hati Naruto-san setiap perkataan yang keluar bisa jadi doa."

"Iya.. Iya... Baiklah nanti Aku akan datang." Dengan malas Naruto kembali keposisi semula, Ia berencana untuk tidur diatap sekolah jika jam istirahat tiba.

TOK TOK TOK!

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, dengan tergesa-gesa para Murid di ruangan ini berlari menuju meja belajar mereka masing-masing, Naruto yang mencoba ingin tidur kembali menegakan posisi duduknya karna akan bahaya jika Ia ketahuan tidur dikelas.

suasana kelas menjadi hening dan senyap tak ada suara apa pun, bahkan suara nafas saja tak terdengar setelah mendengar ketukan pintu dan melihat Kojiro-sensei masuk bersama dengan Seorang gadis berambut pirang dan juga ketua Osis Sitori Sona yang juga ikut mengantar-nya.

'Aduh gawat!'

Naruto dengan tergesa langsung membuka tas-nya mengambil Buku jurnal yang ukuranya cukup untuk menutupi wajahnya bersembunyi setelah melihat Sona masuk kedalam kelasnya.

Kojiro-sensei berdehem cukup keras Untuk menarik perhatian seluruh Murid di kelas ini. Tak perlu berdehem pun seluruh murid sudah memperhatikanya sedari tadi. Terkecuali Naruto yang sedang brsembunyi dibalik buku jurnalnya.

"Anak-anak, sepertinya kita mempunyai satu teman baru lagi."

Kojiro-sensei membuka suaranya yang menggelegar di seluruh ruangan kelas, meskipun suara yang dikeluarkanya tidak terlalu bertenaga tapi bagi Murid-muridnya justru terdengar cukup keras di gendang telinga mereka.

Semua pasang mata di seluruh ruangan tertuju pada gadis berambut pirang tersebut... Asia yang menjadi pusat perhatian Sontak kedua pipinya memerah merasa malu.

Tangan Kojiro-sensei bergerak memberi isyarat kepadanya untuk memulai perkenalan dan di balas anggukan kepala olehnya.

Dengan perasaan malu Ia memberanikan diri mencoba untuk memperkenalkan dirinya.

"P...perkenalkan... N...nama saya Asia Argento salam kenal semuanya!" gadis yang bernama Asia tadi berojigi setelah mengucapkan kalimat perkenalan dengan gugup.

"Baiklah dari perkenalan Nona Argento tadi apa adakah dari kalian yang ingin bertanya? Jika ada angkat tangan kalian..."

TIK TOK TIK TOK TIK TOK

Hening hanya suara jam dinding kelas yang terdengar.

"..."

Para Murid tidak ada satu pun yang berani mengangkat tangan, mereka merasa tangan mereka enggan untuk bergerak, terasa berat seperti ada bola besi yang teborgol di tangan mereka.

TIK TOK TIK TOK TIK TOK

Tujuh menit berlalu Kojiro-sensei menunggu dan tak ada satu murid pun yang berani untuk sekedar bertanya. membuat Kojiro-sensei kesal akan Mental lembek Murid-murid di kelas ini.

BRAK

Dipukulnya meja dihadapnya dengan keras, membuat para Murid seketika menahan nafas terkejut.

"Pengecut!" Wajah dan nada suara Kojiro-sensei berubah garang sontak membuat suasana kelas semakin bertambah mencekam.

...

keringat dingin mulai bercucuran dari pori-pori kulit mereka dan para Murid di ruangan ini mulai menjerit mengeluarkan Unek-unek didalam hati mereka masing-masing.

'Aduh...! Kok aku berasa lagi mau di eksekusi mati sih?' keluh Seorang murid 1 yang duduk paling dekat dengan meja guru dalam hati.

'Yatuhan... Panjangkanlah umur hamba!' kali ini murid 2 yang duduk di barisan kedua berdoa dalam hati.

'Itu Kojiro-sensei sebenarnya mantan Napi dari kepolisian mana sih?' murid 3 yang kedua tanganya sedang mencoba untuk menghubungi 911 dari balik kolong meja.

'Sial... Aku pengen pipis!' murid 4 yang wajahnya sudah memerah menahan kencing.

'Itu Kojiro-sensei kok tampangnya kaya P.e.k.k.a ya? Ah kampret..! aku lupa tadi sedang ngewar! Haaaah bolong deh..." murid 5 yang tadi sebelumya sedang Asik bermain COC.

'Mamaaaah! Aku nyesel masuk sekolah disini!' Murid 6 kedua tanganya sedang mencoba mengetik SMS di balik kolong meja.

'Reinkarnasi Adolf Hittler!' Murid 7 berteriak histeris dalam hatinya.

'Aku yakin Kojiro-sensei nggk doyan sama Miyabi.' Matsuda

'Dia belum pernah meremas Oppai.' Motohama

'Kojiro-sensei belum pernah ketabok make Oppai ya?' Issei

'Duh sial kok disini panas banget sih?' murid 8

'Itu Kojiro-sensei apa Kim Joong Un sih?' Murid 9

Dan begitulah mereka para murid yang hanya bisa mengeluarkan unek-unek didalam hati mereka masing-masing.

"Haaahh... Baiklah karna tidak ada pertanyaan, kepada Nona Argento Saya persilahkan duduk di..."

DEG DEG DEG DEG

Jatung mereka mulai berdetak cepat. Berlebihan memang karna Kojiro-sensei hanya mencari bangku yang masih kosong. Setiap meja di tempati dua Orang siswa.

Kojiro-sensei mengedarkan pandangan matanya yang tajam kesekeliling ruangan, Para murid tak ada satupun yang berani menatap matanya.

Matanya mencari bangku yang kosong untuk Asia... Baris pertama, baris kedua, baris ketiga, baris keempat dan seterusnya...

Hingga akhirnya matanya yang tajam berhenti bergerak dan tertuju pada sebuah bangku paling pojok belakang tepat disamping Naruto duduk, namun ada hal lain yang menarik perhatiannya suatu hal yang tak suka disaat jam pelajaranya.

"Ehem!" Kojiro-sensei kembali berdehem cukup keras. Membuat Seluruh Murid jantungan.

"Uzumaki Naruto!"

Naruto terkejut saat namanya dipanggil dengan Nada yang cukup keras. Seketika Ia kembali teringat akan perkataan Issei sebelumnya.

...

'Dasar... Musibah kata mu? Hati-hati Naruto-san setiap perkataan yang keluar bisa jadi doa.'

...

'Sial... Apa ini akan menjadi awal kesialanku-ttebayou'

Naruto mulai menangis didalam hati

Seluruh Murid menahan Nafas dan wajah mereka memucat, meskipun yang di panggil hanya satu nama entah kenapa Mereka merasa Nama mereka ikut terseret juga, kata pepatahnya Mati satu mati seribu , atau Kena satu kena semua, menyebalkan memang... Namun kata pepatah kampret itulah yang paling sesuai dengan situasi kelas mereka saat ini.

"...I...I...Iya sensei?" Naruto secara perlahan menurunkan buku dari wajahnya yang terlihat setengah dari pandangan Kojiro-sensei.

"Kamu rajin sekali ya... Dari semua murid yang saya lihat dikelas ini, cuma kamu yang sibuk belajar membaca buku..."

Kojiro-sensei berkata dengan lembut namun terdengar aneh di telingan para Murid. Memang berhadapan guru kiler itu serba Salah dan terkadang sebaliknya.

"T-terimakasih Sensei..." Naruto merasa lega, karna mendapat pujian dari Sensei nya. Dan teman-temanya merasa ikut merasa lega dan perlahan bibir mereka tersenyum kaku.

Namun taklama senyuman mereka mendadak lenyap. Wajah mereka kembali memucat karena wajah Kojiro-sensei kembali berubah ekspresi menjadi lebih sangar.

'Aduh! gawat! Nih Sensei lebih seram dari P.e.k.k.a!' Murid 5 penggemar COC kembali menjerit didalam hati.

"Kamu tahu mata pelajaran apa sekarang... HAAAAHHHH?!"

kojiro-sensei berteriak suaranya menggelegar di dalam Ruangan kelas. Berepa dari mereka melihat butiran Air liur yang muncrat keluar secara deras dari bibir Kojiro-sensei dan menjadi pelangi yang membiaskan cahaya dari lampu ruangan.

UMMPH!

'Astaga, Sensei sarapan apa sih? Bau mulutnya mirip seperti bubuk mesiu.'

Seorang Murid yang duduk paling depan dekat meja guru merasa mual tak tahan setelah mencium aroma yang keluar dari mulut Kojiro-sensei.

'Aku harus berjuang!' Ia menahan rasa mualnya mati-matian. Isi perutnya yang mencapai tenggorokan Ia telan lagi. Bukanya membaik justru hal tersebut menjadi bertambah buruk, mau tak mau Ia terpaksa menampung isi perutnya di dalam mulut membuat kedua pipinya menggembung.

'SIAAAALL!'

Kedua matanya melotot lebar dan tubuhnya bergerak gelisah.

...

Kojiro-sensei melangkahkan kakinya yang panjang mendekati Naruto, suara sol sepatu yang beradu dengan lantai seirama dengan detak jantung para Murid di kelas,

Ia berhenti tepat sejajar dengan tempat Issei duduk, yang berati Kojiro-sensei bediri berhadapan dengan Issei dan Naruto di belakangnya.

Seluruh Murid didalam kelas bertambah tegang.

"Kamu tahu mata pelajaran apa sekarang... HAAAAHHHH?! NARUTTCCOOHH!?"

Kojiro-sensei kembali mengeluarkan pertanyaan yang sama dengan Suara yang lebih menggelegar kepada Naruto. Air liurnya kembali muncrat dengan liar dari bibirnya.

UMMPH

'Kayanya Kojiro-sensei, habis makan jeroan nih sialan bau sekali mulutnya!' Issei mulai merasa Mual isi perutnya perlahan naik ke kerongkonganya,

'Aku nggk boleh muntah disini!' Issei mencoba menelan Isi perutnya kembali. Namun nasibnya tak jauh beda dengan teman sekelasnya tadi, isi perutnya malah tertampung di rongga mulutnya, membuat kedua pipinya menggembung.

'TIDAAAK!'

Kedua matanya melotot lebar dan kedua tanganya meremas ujung seragamnya dengan kuat.

Kembali dengan Naruto, dengan wajah yang memutih Naruto mulai membuka suaranya dengan tergagap. Keputusanya menggunakan buku jurnal untuk bersembunyi justru membuatnya terkena sial, Ia tau jika Kojiro-sensei mengajar Biologi, dan Ia lupa jika Gurunya sangat tidak suka di saat jam mengajarnya melihat buku materi lain dan sejenisnya.

"A...a...a...anu...anu...anu...mu..."

"Anu Apaah!"

Kojiro-sensei wajahnya bertambah sangar. Naruto yang menatap wajahnya secara dekat membuat tubuhnya semakin gemetar.

"Ma...Ma...Ma... Katakan dengan benar atau kau mau kusuruh untuk makan..." Kojiro-sensei menahan perkatanya, Ia mebungkukan badanya melakukan sesuatu di bawah.

"INIIII...!"

UUUUMMMMMPPHHH!

'BIAAAADAAAAAABBBB!'

Issei kembali berteriak dalam hati Wajahnya membiru, kedua pipinya mengembung dan berurat, kedua bola matanya berair. Ia mulai tak tahan.

Rasa mual diperutnya muncul kembali melihat Kojiro-sensei menunjukan sesuatu yang menggelikan.

Yaitu hewan katak yang telah dikuliti, di pelajaran Biologi Kojiro-sensei memang sering melakukan praktek bedah terhadap hewan seperti Katak, Ular, Tokek, dan Hewan reptil lainya. yang membuat Para murid ketakutan padanya. Ialah cara Kojiro-sensei mempraktekan membelah Hewan dengan langkah-langkah dan ekspresi yang aneh.

Meskipun benda tersebut di tunjukan untuk Naruto, namun entah kenapa kedua mata Issei seolah terhipnotis untuk tetap terpaku kepada Senseinya. Tak hanya Issei, Seluruh Murid juga ikut terpaku.

Perut mereka terasa Mual.

Salah seorang Murid berdoa dengan Air mata yang mengalir.

'Ya tuhan... Tolong percepatkan waktu, agar kami terbebas dari Sensei gila ini.

Naruto terlihat di marahi habis-habisan, Sona yang sedari tadi hanya diam berdiri didepan mulai menarik bibirnya sedikit, Ia tersenyum tipis melihat Naruto yang sebelumnya Ia ketahui mencoba bersembunyi darinya malah tanpa kesengajaan Ia temukan dengan mudah.

TENG TENG TENG TENG

Do'a dari Salah seorang murid tadi terkabul, Suara lonceng berbunyi menandakan waktu pelajaran pertama telah berakhir.

Wajah Kojiro-sensei kembali datar, Ia melihat Arloji ditanganya kemudian dengan langkah lebar Ia berjalan menuju meja nya untuk mengambil tas dan beberapa kertas, buku dan juga benda aneh yang Ia bawa tadi. Sebenarnya benda Aneh yang mirip kodok tadi hanya lah tiruan yang terbuat dari karet untuk gantungan kunci tapi karna tekstur dan warnanya terlihat nyata benda tersebut berhasil mengecoh mata siapa saja yang melihatnya.

'Sepertinya ini berhasil, khe khe khe...' kojiro-sensei tertawa dalam hati.

"Baiklah karna waktu bersenang-senangnya sudah habis, Saya akhiri sampai disini... Sampai jumpa Anak-anak! Dan juga untuk nona Argento kamu boleh duduk di samping Naruto..."

Kojiro-sensei mengucapkan salam kemudian melangkah pergi meninggalkan kelas.

Setelah melihat Kojiro-sensei pergi Issei dan beberapa temanya yang lain berlari keluar kelas berebut Menuju Toilet. Mereka sudah tak tahan menahan siksaan pedas yang mereka alami masing-masing.

"Kojiro-sensei hari ini semakin gila!"

Naruto menghela nafas dengan lega kepalanya terasa sedikit pening. Beruntung Ia benar-benar tak jadi menelan benda menggelikan tadi.

TAP

"Eh?"

Tiba-tiba Ia merasa ada seseorang menghampirinya, secara perlahan Naruto mengakat kepalanya. Ia lihat Seorang gadis, bertubuh ramping, berkaca mata, dan berambut hitam pendek. Ia menjadi gerogi saat tau siapa yang menghampirinya.

"A...ah... Sona... Ada yang bisa kubantu Ne?" dengan suara yang terbata-bata Naruto mencoba bertanya. Wajah datar Sona membuatnya bertambah kikuk.

Beberapa Murid yang tersisa dikelas memperhatikan mereka berdua dan mulai berbisik-bisik, suasana kelas menjadi Hening. Sona sangat di segani di sekolah ini.

Seluruh pasang mata tertuju padanya namun Sona tak memperdulikan hal tersebut.

"Sepulang sekolah, datanglah ke ruangan Osis." katanya dengan Wajah datar dan matanya yang tajam memperhatikan Naruto. Mempertegas perkataanya, agar Naruto tidak mencoba-coba untuk kabur lagi.

"B...baik!"

Naruto menahan nafasnya dan mencoba agar Ia bersikap seperti biasa.

"Bagus... Permisi..."

Setelah itu Sona berbalik untuk keluar dari ruangan kelas, para kerumunan membelahkan diri secara teratur meberi jalan untuknya saat Sona berjalan melewati mereka. Pandangan mata mereka tak henti-hentinya untuk memandanginnya. Hingga akhirnya Sona menghilang dari balik pintu dan Kerumunan kembali membubarkan diri.

'Ah... Maaf Rias sepertinya Aku akan sedikit terlambat untuk datang keruangan Klub.'

Mata Naruto ikut tertuju kearah Sona melangkah pergi.

"...To.."

"Nar...To.." Samar-samar Naruto seperti mendengar sesuatu. Namun layaknya patung Ia tetap tak bergeming hingga suara tersebut terdengar semakin keras menampar gedang telinganya, menarik kesadaranya kembali.

"Naruto-san?!"

"Ah!"

Naruto tersentak dan tersadar dari lamunanya, Setelah Asia berusaha memanggilnya berkali-kali. Terlihat Asia nampak gugup.

"Ya? Ada apa Asia?"

Naruto menggaruk belakang lehernya merasa malu karna Asia mempergokinya sedang melamun.

Dengan gugup Asia membuka suaranya.

"K-kata Sensei yang tadi, Saya di suruh duduk bersebelahan dengan Naruto san..."

"Um."

Naruto menganggukan kepalanya dan kemudian menggeser posisi duduknya sehingga posisi duduknya dekat dengan dinding kelas.

"Silahkan...!" dengan nada yang ramah Naruto mempesilahkan Asia untuk duduk.

"Terima kasih Naruto-san..."

Asia telah duduk, tak lama setelah itu beberapa Murid menghampirinya, mereka mulai memperkenalkan dan mencoba mengakrapkan diri mereka membuat Asia merasa senang, pasalnya ini adalah kali pertama Asia mempunyai teman-teman baru yang mau menerimanya,

Mereka semua mulai memberi pertanyaan-pertanyaan mengenai dirinya.

"Waah... Asia-san rambutmu indah sekali... Apakah ini Asli? Atau ini hali dari semir rambut?"

"Asia-san apakah kau dari Eropa?

"Asia-san dimana kamu tinggal? Lain kali bolehkah kami bermain kerumahmu?"

"Asia-san berapa nomor telfonmu?

Dan masih banyak lagi pertanyaan yang di utarakan para Siswi dikelas ini kepadanya.

Wajah Asia nampak cerah dengan senyuman yang tak pernah lepas dari wajahnya, membuat kesan ramah pada dirinya bertambah, sehingga teman-teman di kelasnya tak merasa canggung untuk mengajaknya mengobrol.

Setelah beberapa menit... Issei dan beberapa Murid lainya kembali dari toilet dengan wajah yang sudah normal kembali. Mereka mulai duduk ketempat mereka masing-masing dengan tubuh yang masih terlihat lemas.

"Issei-san...!"

Asia yang melihat kedatangan Issei sontak memanggilnya. Seketika hal tersebut mendapatkan perhatian dari para Murid di kelas, beberapa perempuan mulai berbisik-bisik mendapat gosip baru yang masih hangat.

"Hei Anak baru itu kenapa bisa kenal dengan si mesum itu?"

"Iyah... Aku rasa si mesum menggunakan pelet dan sejenisnya..."

"Ah! Benarkah? Wah bisa bahaya... Keperawanan Kita bisa-bisa hilang dicuri olehnya..."

"Uh, jangan bicara seperti itu... Aku masih bermimpi untuk berdampingan dengan Kiba-kun!"

"Selera mu bagus sekali, tapi sayangnya kau harus berhadapan dengan ku..."

"Are..? Kenapa begitu?"

"Karna aku juga naksir denganya..."

"Apa kau bilang? Teman macam apa kau!?"

Suasana di sekitar Kedua gadis penggosip itu menjadi memanas, mereka mengeluarkan Death glare tajam mereka beradu sengit. Namun hal tersebut tak berlangsung lama setelah salah satu teman mereka mencoba melarainya.

"Sudah-sudah hentikan, kalian ini hanya melakukan hal yang takpenting saja, lagi pula... Si mesum tampan juga menurutku fufufu..."

Mereka berdua menjadi cengo tak menyangka teman mereka nengeluarkan kata pujian kepada seorang yang mereka lebel dengan tulisan ANTI dalam benak mereka.

"Eh, aku salah bicara ya? Hehehehe..." Gadis itu terlihat kikuk melihat kedua temanya mendelikan mata mereka.

"Kau...! Jangan-jangan..."

"Pelet...!"

...

Mendengar hal tersebut Issei melangkah-kan kakinya dengan kikuk, Ia memejamkan matanya, dalam hatinya Ia menangis menjerit, Ia merasa kalah telak dengan Kiba. Ingin sekali kedua tanganya menonjok wajah tampanya yang selalu saja mengisi celah fikiran-nya namun selau saja wajah tersenyum tampan Kiba muncul kembali layaknya virus yang telah menyebar dan menyatu didalam otaknya.

'Pergilah dari fikiran-ku...! Lama-lama aku merasa seperti seorang fujoshi...!'

...

"Hoy Issei! Kau kenapa?"

Naruto memanggilnya, Issei membuka matanya. Ia melihat salah satu tangan Naruto menggenggam gulungan buku dan bersiap untuk memukul sesuatu.

"Kau terlihat seperti Orang yang akan kerasukan roh jahat..." sambung Naruto dengan tangan yang semakin erat memegang buku yang digulung tersebut.

"Issei-san kau tadi menjambak-jambak rambut mu sendiri dan bertingkah aneh." timpal Asia.

"Hah? Serius?" Issei bertanya kepada mereka berdua yang langsung dibalas dengan anggukan kompak dari kedua teman pirangnya. jika benar Ia bertingkah seperti yang Naruto dan Asia katakan...

'PELET!'

'PELET!'

'PELET!'

'Pelet!'

'Pelet...'

'Kiba...'

'Fujoshi'

'Uke'

'Seme'

Sekelebat pikiran horor terlintas di fikiranya, dan Ia mulai meracau tak jelas membuat Naruto dan Asia beradu pandang bingung akan tingkahnya yang mulai aneh.

"Tidak... Tidak...! Tidak...!" Ia mulai meracau.

Naruto mendekatkan bibirnya ke telinga Asia.

"Asia... Aku akan mencoba memukul kepalanya... Aku rasa Ia mengalami trauma berat Dengan Kojiro-sensei atau mungkin otak mesumnya sedang konslet dirasuki roh jahat." bisiknya.

Asia mengangguk polos dan meng-iyakan saja apa yang direncanakan Naruto, Ia melihat Naruto mulia mendekati Issei dengan perlahan dan hati-hati. Issei masih nampak seperti kerasukan Dan meracau tak jelas.

"Tidak... Tidak...! Tidaaaak...! TIDAA..."

BLETAK

KLIK

"Auw...!"

Naruto memukul kepala Issei cukup keras dan hal tersebut membuat fikiran negatifnya akan Kiba menjadi lenyap seketika.

"Are you okay?" tanya Naruto yang sok menggunakan bahasa Inggris yang Ia pelajari disekolah. Namun usahanya masih membuat Issei terdiam kali ini wajahnya berubah cengo.

"Mungkin pukulan kedua akan berhasil menyadarkanya-ttebayou..."

Naruto kembali mulai bersiap memukul kepala Issei sekali lagi. Namun Ia batalkan ketika melihat Issei yang mulai merespon secara reflek untuk menghindar.

"Tunggu-tunggu...! Aku sudah oke...!"

Dengan wajah sewot Issei langsung merebut buku digenggaman Naruto dengan cepat dan kemudian Ia lemparkan secara sembarangan.

"Aku sedang bukan kerasukan setan...!" Wajah Issei memerah disertai kepulan asap yang keluar dari kepalanya.

"Ah syukuah kalau begitu... Hehehe... Aku kira kau seperti itu-ttebayou."

Dengan wajah tanpa dosa Naruto tertawa yang terdengar menyebalkan di telinganya, dengan wajah sebal Issei melangakah melewati Naruto menuju meja belajarnya.

WHOOM

"...?"

Issei merasakan sesuatu yang menyejukan menyentuh kepalanya. Ia terkejut setelah mengetahui Asia menggunakan kekuatan penyembuhnya di tempat ramai seperti ini.

"Asia hentikan!" bisik Issei agak keras, Ia menggenggam tangan Asia menurukan-nya dari atas kepalanya.

"G-gomen Issei-san Aku hanya ingin menyembukan benjolan di kepala mu itu." kata Asia tangannya yang bebas menujuk kearah benjolan yang dimaksutkan.

Issei menoleh ke kanan dan ke kiri melihat situasi sekitarnya apa ada yang melihatnya atau tidak. Ia menghela nafas dengan lega beruntung tak ada yang mengetahui apa yang Asia lakukan barusan padanya, seluruh orang di kelas sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Begitu pula dengan Naruto yang sedang diajak mengobrol dengan Matsuda dan Motohama yang sepertinya mereka berdua sedang membicarakan hal-hal Ero kepadanya.

Niat tulus Asia tadi bisa saja membuat seluruh Orang di kelas menjadi heboh. Bayangkan saja telapak tangan Asia dapat mengeluarkan cahaya dan disertai bunyi? Kemungkinan seluruh Murid akan kagum dan menganggap Asia adalah seorang pesulap Atau sebaliknya, mereka justru akan takut karena menganggap Asia adalah Orang aneh atau Mutan.

"Tidak apa-apa Asia, tapi kamu seharusnya jangan tunjukan kekuatanmu di tempat ramai seperti ini..." Issei menggenggam tangan Asia, "Aku takut jika ada orang yang tahu dan mengagap kau Orang aneh."

Hal tersebut sudah dianggap lumrah untuk dicerna oleh fikiran Issei dan beberapa Orang atau Iblis yang telah mengetahui Fakta aneh tentang dunia ini, tapi bagaimana dengan Orang awam? apa bisa di terima oleh nalar mereka? Biarlah waktu yang berbicara mengenai Fakta tersebut.

...

Beberapa menit kemudian Seorang guru masuk kedalam kelas mereka. Membawa sebuah tas, beberapa kertas dan buku, pelajaran kedua akan segera dimulai, secara terarur seluruh Murid di kelas ini kembali ketempat mereka masing-masing dengan ekpresi yang berbeda-beda dan mulai nengeluarkan buku sesuai jadwal mata pelajaran kali ini.

...

Ekonomi.

Merupakan salah satu Ilmu sosial yang mempelajari aktivitas manusia yang berhubungan dengan produksi, distribusi, dan konsumsi terhadap barang dan jasa.

Seluruh Murid memperhatikan Guru yang sedang menjelaskan dengan hikmat, namun ada beberapa dari mereka hanya berpura-pura untuk fokus dan malah sibuk melakukan hal lain. Yah seperti itu lah suasana Kelas tak jauh beda dengan kelas Author dulu.

Rasa kantuk kembali menyerang Naruto, entah kenapa penjelasan materi Senseinya terdengar seperti dongeng sebelum tidur ditelinganya, Ia dengan susah payah berusaha untuk tetap terjaga.

Beberapa kali kepalanya merosot secara perlahan meskipun sudah Ia sangga dengan kedua tangannya.

Mengetahui hal tersebut membuat Asia teman sebangkunya merasa kasihan, Ia tahu Naruto menjadi lelah seperti ini karna membantu Issei untuk menolongnya dari tragedi semalam.

"N-naruto-san...? Kau kelihatan mengantuk... Lebih baik kau tidur saja, Aku akan meminta bantuan Issei-san untuk mengawasi..."

Naruto mengangguk setuju, Ia langsung menidurkan kepalanya di atas meja dengan lipatan tangan sebagai bantalanya. Ia secara perlahan mulai terlelap dalam. Suara apapun mulai terdengar sayup-sayup terputus ditelinganya.

"Terima kasih... Zzzz..."

.

.

.

.

TIK TIK TIK TIK...

Suara tetesan Air terdengar di telinganya, kakinya terasa basah tergenang air, udara yang Ia rasakan terasa lembab nan dingin di kulitnya, ketika Ia membuka kelopak matanya bisa Ia lihat ruangan gelap temaram yang sudah tak asing lagi baginya.

Ia menegakan kepalanya yang sebelumnya tertunduk dan betapa terkejutnya Ia.

Di tempat itu... Tidak...! di Penjara raksasa itu seharusnya tertutup rapat dengan segel kuat hokage ke empat yang terpasang bagai kunci brangkas yang rumit.

Jantungnya mulai berdetak ganjil saat sebuah mata merah besar menyala menatap tajam kearahnya dari balik kegelapan, suara geraman bergema menyusul dari arah yang sama layaknya monster yang terbangun, secara perlahan kedua mata merah itu bergerak mendekat, ruangan ini terasa begetar saat kaki-kaki besar mahluk tersebut melangkah menciptakan ombak-ombak di genangan air yang menghantam lembut kakinya.

Semakin dekat, hingga moncong besar mahluk tersebut melewati batas luar penjara yang selama ini mengurungnya, dapat Ia lihat didalam cahaya yang temaram ini wajah dari mahluk yang selama ini mendiami segel di tubuhnya.

Sembilan pasang ekor mulai berkibas liar membelah udara sekitar menunjukan seberapa besar harga diri dan level kekuatan Mahluk raksasa tersebut, Ia kembali nenggeram menunjukan gigi penuh taring tajam nan kuat yang mampu menghancurkan apapun yang digigitnya.

"Naruto..." dengan suara yang berat dan bergema, Mahluk tersebut memanggil namanya.

Ia terdiam terjebak oleh rasa kaget yang masih mengurungnya, aura dingin membekukan sendi-sendi tubuhnya.

Mahluk raksasa tersebut menyeringai, kesembilan ekornya bergerak mengelilingi Naruto.

"Tidak... Bagaimana bisa?" suara datar keluar dari bibirnya yang bergetar, mencoba sedikit menghilangkan kebingungan yang masih mengganggunya.

"Khe khe khe... Dasar lemah, aku benci untuk mengatakanya..." Mahluk tersebut menurunkan kepalanya yang besar, merubah posisinya menjadi seperti kucing yang sedang tengkurap. "...kau tak boleh membawa ku mati."

Mahluk tersebut berkata, namun tak Ia mengerti maksut perkataan rumit itu.

"Bagaimana bisa Kau membuka segel ini?" Ia bertanya apa yang selama ini yang membuatnya bingung.

"Semudah Aku mencabik-cabik tubuh mu, bocah..." Mahluk tersebut terlihat marah.

"Chibaku-tensei..." Mahluk tersebut menggeram. Kemudian melanjutkan perkataanya kembali.

"Orang dari Akatsuki itu berhasil melemahkan Segel mu... Aku merobek celah dimensi untuk menyelamatkan kita berdua..."

Kyuubi menolongnya, jika Ia selamat bagaimana dengan teman-temanya dan para penduduk Konoha?

"Jika kau ingin menyelamatkan diri... Seharusnya kau tak usah membawa ku...! Biarkan Aku mengalahkan Pain sendiri...! Kenapa... Kenapa kau hanya mementingkan dirimu sendiri?!" Naruto nampak marah, Mahluk di depanya tak bergeming akan kemarahanya.

"Kau menyalahkan ku? Khe khe khe... Lucu sekali... Bocah munafik dan bodoh seperti mu seharusnya bercermin dan keluarkan perkataan mu seperti tadi pada dirimu sendiri..."

Giginya bergetak saat mendengar perkataan tajam Mahluk di hadapanya, Ia tak terima akan itu.

"Khe khe khe... Mengalahkan Pain...? Mendengar kata itu dari mu membuatku ingin sekali merobek kepala mu dan memperbaiki otak bodoh mu..."

"Diam...!" Ia berteriak wajahnya mengeras.

"Tidak... Aku tak bisa diam melihat tindakan bodoh mu, berlagak bak pahlawan menyuruh teman-teman mu untuk tak membantu melawan seorang Dewa..."

Mahluk berwujud rubah tersebut kembali menegakan tubuhnya ekor-ekornya bergoyang-goyang mendorong udara disekitarnya. Ia terus bersuara mencoba menghancurkan dinding ke egoisan Naruto

"Awalnya Aku takjub Kau dapat menumbangkan mereka Satu per satu namun sayang hiburan-ku berakhir begitu singkat..."

Naruto masih terdiam, perlahan matanya terpejam serpihan ingatan buruk muncul kembali di fikiranya.

"Gadis Hyuuga itu... Seharusnya bisa menjadi pelajaran untuk-mu... Untuk menyadari kodrat Manusia yang tak bisa melakukan segala hal sendiri... Kecuali kau Tuhan."

Naruto menggelengkan kepala mencoba mengenyahkan ingatan tersebut. Kehancuran, kematian, kehilangan, tangisan, kesedihan, kebencian, dendam... Bisikan-bisikan mulai terdengar di telinganya.

Ia jatuh berlutut, kedua kakinya tak mampu menahan beban tak kasat mata yang menimpanya. Kedua tangan-nya menjambak rambut pirang-nya berharap hal tersebut dapat sedikit melenyapkan fikiran buruk di kepalanya.

Mengapa hidupnya selalu seperti ini? Kebahagian dan cita-citanya berlari menjauh, kebencian dan kesedihan yang justru mengejarnya kemanapun Ia berlari dan bersembunyi.

Ia merasa takdir kehidupanya sebagai seorang Jinchuriki tak sehebat Shabaku no Gaara yang berhasil melindungi Desa Suna dari ledakan Bom saat penyerangan salah satu anggota Akatsuki.

Ia kalah... Namun bersyukur Desa Suna tak menjatuhkan banyak Korban, biarlah Ia sendiri yang menjadi Tumbal untuk Desanya. Melindungi sebagai seorang Kazekage dan Jinchuriki yang selama ini ditakuti.

TES TES TES...

Air mata mengalir dari pelupuk matanya meluncur deras melewati pipi dan menetes bebas terjun kelantai yang tergenang Air, menyadari betapa egois dirinya, ingin sekali Ia menghajar dirinya sendiri.

"Berhentilah menjadi Anak cengeng... Tuhan masih memberi-mu kesempatan kedua... Keh, menggelikan sekali aku berkata seperti ini."

Mahluk tersebut diam tak peduli, salah satu ekornya menyentuh ke atas lantai.

KLING KLING KLING

Tiba-tiba Ruangan disekitar Mereka mengeluarkan cahaya terang dari segala sisi menghapus kegelapan, tidak ada lagi Ruangan beraura gelap yang sebelumnya ada, seluruh mata memandang tak ada apa pun, hanya ruang hampa bercahaya putih.

"Hmmm... Ini lebih baik." Mahluk di hadapanya kembali berbicara, namun suaranya terdengar ganda, perlahan tubuhnya di selimuti cahaya jingga, cahaya tersebut mengecil dan secara perlahan membentuk pola tubuh seukuran manusia.

Naruto diam memperhatikan, saat cahaya tersebut mulai menghilang bagai kembang api, Ia sedikit terkejut melihat perubahan pada Mahluk di hadapnya.

Seorang Wanita berambut jingga panjangnya menyentuh lantai, mengenakan kimono merah dengan lambang sembilan Nagitama di bagian dada melekat pas tubuhnya yang putih bersih, wajah nya yang cantik di hiasi tiga pasang goresan kumis kucing di kedua pipinya, meski begitu tak mengurangi kencantikan wajahnya.

Kedua kelopak mata terbuka menampilkan batu ruby dengan pupil vertikal tajam memperhatikan Naruto yang wajahnya menunjukan ekspresi menggelitik hati, membuat Wanita tersebut tertawa halus yang terdengar merdu di telinga.

"Hihihi... Maafkan Aku yang telah memberimu tanda lahir yang sama denganku." Wanita tersebut membuka suaranya, taring kecil terlihat saat bibir merah tipisnya terbuka untuk berbicara.

Tangan Wanita tersebut menyentuh pipi Naruto lembut, hangat dan halus itulah yang Ia rasakan.

"Khu khu khu... Hentikan ekspresi bodoh mu itu bocah."

Perlahan Naruto berdiri dari posisinya semula, tinggi Wanita itu hampir menyamai-nya.

Berfikir keras, Naruto mencoba memahami hal yang terjadi, Ia di buat bingung oleh Mahluk di hadapanya.

"Segel yang terbuka, Perpindahan dimensi, D..d..dan sekarang kau menggunakan Henge no jutsu...! Kau ingin mencoba membodohi-ku lagi!?"

"...?" Apa maksudnya?

"Ku akui perubahan mu memang sempurna..." Ia mengatakan dengan pipi yang sedikit merona. "Tapi ukuran dada yang berlebihan membuat Orang yang melihatnya menjadi menimbang kalau ukuran dada yang sedang lebih menarik..."

"...?!"

Naruto berkacak pinggang.

"Hahahaa...! Hentikan menggunakan Jutsu itu di hadapanku... Aku ragu kalau kau sering menggunakanya, lama-lama Kau akan jadi seorang Waria... Hahaha...!" Naruto tertawa mengejeknya. Tanganya menunjuk-nujuk wajah Wanita dihadapanya.

Kedua pipi wanita itu memerah, Ia tak terima dikatai seperti itu, urat-urat di keningnya mulai bermunculan dan rambut Jingga-nya mulai berkibar marah.

"Hahaha...! Dasar Wari..."

BLETAK!

Jitakan keras memukul kepalanya, memutus perkataan yang belum selesia dari bibirnya. Ia mengaduh kesakitan sambil mengelus-elus kepalanya yang terasa panas dan melahirkan gunung besar hasil dari Jitakan keras Wanita dihadapanya.

"GERRHHH...! Sudah kuduga Kau akan berbicara seperti itu...!" Wanita itu menarik kerah baju Naruto yang masih merasakan pusing di kepalanya. "Asal Kau tau! Aku tak sudi menggunakan Jutsu kampretmu itu Bodoh!"

"O-oh ya? Buktinya sekarang kau menggunakanya dasar Wari..."

BUAGH!

"Aku ini benar-benar Wanita!" wajah Wanita itu menjadi sangar, Satu tanganya masih mencengkram kuat kerah baju Naruto yang mulai kusut, dan satunya lagi mengambang di udara bersiap memberi tinju yang bergerak Otomatis jika Naruto mengeluarkan kata Terlarang.

"Sekali lagi Aku dengar kata 'Waria' dari mulut-mu akan kupastikan bejolan kepalamu bertambah...! Mengerti?!"

"B-baik...!"

Naruto bergidik ngeri. Ia menganggukan kepalanya berulang-ulang menurut akan apa yang di katakan Wanita di hadapanya, walau bagaimanapun Ia masih menyayangi Nyawanya. Pukulan Wanita itu mirip sekali dengan Sakura membuatnya merasa bertambah bodoh jika kepalanya beradu dengan kepalan tangan Wanita tersebut secara terus-menerus.

.

.

.

.

.

Naruse Mio Kurama, adalah nama asli dari gadis perwujudan Bijuu berekor sembilan yang selama ini mendiami Segel didalam tubuhnya. Ini adalah fakta baru yang tak di dimengerti otaknya bahwa Bijuu terkuat ternyata Seorang Wanita.

"Hihihi..."

Suara tawa halus terdengar dari gadis berambut jingga yang duduk berhadapan dengannya, berbanding terbalik jika Gadis tersebut saat dalam wujud Rubah berekor sembilan, Bukan tawa halus yang terdengar... Melainkan tawa jahat menjengkelkan layaknya polusi suara yang merobek gedang telinga.

Wajah Naruto yang berubah lucu ketika sedang berfikir keras adalah alasanya gadis tersebut tertawa. Naruto bukanlah tipe Orang pemikir, jadi Gir berkarat didalam otak-nya sedang berputar kacau berusaha mengolah data baru yang Ia terima.

"Sudahlah bodoh... Kau masih takpercaya jika Aku ini Kyuubi?"

Ujar Mio membuka suara, wajah cantik-nya Ia tolehkan kearah Naruto.

"Bagaimana Kau dapat berubah menjadi Manusia?" Naruto bertanya, mencoba mengurangi hambatan putaran pada Gir berkarat otaknya.

"Menjadi Manusia? Hmmm... Bijuu dan Manusia itu berfisik serupa namun tak sama."

"Maksutnya?"

"Kau lihat ini..." Mio bangkit dari posisi duduknya, Ia mengambil dua langkah mundur.

SREK!

Tiba-tiba dari atas kepalanya muncul sepasang telinga menyerupai Kucing yang menyebul dari balik helai-helai rambut merah jingga-nya.

"Wow...!" Naruto memandang takjub.

"Hihihi... Ini belum selesia..."

perlahan dari balik tubuh Mio muncul satu-persatu Ekor Chakra berwarna merah hingga berjumlah sembilan dan kemudian secara perlahan Chakra tersebut lenyap seperti menguap ke udara bergantikan Ekor berbulu tebal berwarna senada dengan rambutnya.

"Taraa...! Ini adalah perwujudan asli versi-ku... Bijuu yang lain juga memiliki perwujudan asli mereka."

Mio kembali duduk berhadapan dengan Naruto yang mengangguk-anggukan kepalanya sok paham. :v

"Segel dalam tubuhku telah rusak, kau... Apa itu berarti Kau dapat terbebas dalam tubuhku?"

"Tentu... Tapi aku tak bisa langsung keluar begitu saja."

"Kenapa?"

"Aku harus memakan setengah jiwamu terlebih dahulu, dan itu dapat membuat usia hidupmu berkurang..." Wajah Naruto berubah Shok, namun Mio tak peduli dan melanjutkan perkataanya dengan enteng.

"Jangan berekspresi Bodoh seperti itu... Kau itu keturunan Uzumaki yang di berkati umur yang panjang...! Jadi tak masalah jika Aku memakan jiwa mu."

"J-jangan bilang kalau Kau sedang memakan jiwaku secara perlahan...! Walaupun umur ku panjang, tetap saja aku merasa kematian ku semakin dekat-ttebayou...!" Naruto terlihat panik wajahnya berubah pucat.

"Hihihi... Kau fikir berdiam di sini tidak membosankan? Dan lagi pula memang kau tau bagaimana cara ku tuk memakan jiwa mu?"

"Are...? Jadi kau belum melakukannya?"

Mio menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Belum Sedikitpun..."

"Huuff... Syukurlah."

Wajah Mio berubah murung, kebebasan yang Ia dambakan belum bisa Ia dapatkan. Sebenarnya Ia bisa saja keluar dari tubuh Naruto namun jika demikian jiwa Naruto akan terkikis terlalu banyak karna Bijuu di dalam tubuhnya keluar secara paksa tanpa persetujuan dari jinchuriki nya. Meskipun Jinchurikinya adalah seorang Uzumaki namun tetap saja hal itu sangat beresiko. Jadi Ia harus lebih besabar.

"Kau kenapa?" tanya Naruto saat menyadari perubahan dari Raut wajah Mio.

Mio menggelang pelan. "Aku tak apa..."

"Membebaskan ya...?" Entah kenapa setelah Naruto mengucapkan Kalimat tersebut Ia jadi teringat akan Datenshi yang Ia bebaskan begitu saja. "Mio... Aku tau kau selama ini membenci kami umat manusia karna telah menfaatkan kekuatanmu dan menyegelmu. merampas hak kebebasan mu..."

Ya itu benar Mio sudah terlalu banyak menampung kebencian yang disebabkan manusia kepadanya.

"Tapi Aku mohon padamu untuk tetap bersamaku... Didunia ini hanya kau yang satu Dimensi yang sama dengan-ku."

"Kau mengira jika aku keluar dari tubuhmu, Aku akan meninggalkan mu? Tenanglah aku tak akan begitu. karna kau bisa menjadi orang yang berbahaya jika dimanfaatkan Orang-orang yang salah dan akupun demikian... Jadi Kau dan aku harus saling percaya dan mengingatkan."

Mio menggeser posisi duduknya hingga posisinya bersebelahan dengan Naruto.

"Celah Dimensi..." Ia menjeda perkataanya tangan kirinya menggenggam tangan Naruto untuk mempertegas agar Dia memahami dan percaya akan perkataanya "Kau harus tau saat Aku menggunakannya, Aku tak bisa memilih Dunia dengan sesuka Hatiku hal tersebut terjadi secara acak dan akhirnya disini lah kita terdampar."

Naruto terdiam memahami perkataan Gadis di sampingnya.

"Percayalah... Aku tak mencoba tuk membodohi mu, karna tak ada keuntungan apapun yang aku dapatkan saat ini... Kau harus melupakan Konoha... Pain dan Akatsuki tidak akan lagi bisa berbuat lebih jauh pada Dunia Shinobi karena mereka tak bisa mengumpulkan Bijuu secara lengkap."

Melupakan Konoha? Naruto tak yakin Ia bisa melakukanya, bahkan Ia merasa percuma jika hal tersebut akan berhasil atau tidak, namun yang pasti Ia takbisa untuk melupakan Desa tercintanya.

Rencana Akatsuki... Sebenarnya apa rencana mereka setelah berhasil mengumpulkan Bijuu? Yang pasti itu adalah rencana yang sangat besar dan sangat berbahaya dengan memfaatkan kekuatan dari kesembilan Bijuu.

"Naruto... Aku tau kau marah padaku karna seenak hati membawa-mu ikut bersamaku, namun yang pasti tetap jalani Hidupmu... Buatlah cita-cita baru, carilah teman baru dan keluarga baru... Apapun keputusanmu Aku tak mempunyai Hak untuk mengekangmu."

Setelah merasa selesai akan perkataanya. Mio bangkit dari posisi duduknya yang diikuti Naruto. Satu tanganya Ia rentangkan kedepan dan kedua matanya terpejam mencoba berkonsentrasi.

KLING KLING KLING

Muncul sebuah serpihan-serpihan cahaya menyerupai bunga-bunga Api berjumlah banyak di hadapan mereka, secara perlahan cahaya tersebut menghilang meninggalkan sebuah ranjang tidur dari balik ketiadaan.

"Kasur? Untuk apa?" tanya Naruto.

"Chakra-ku terkuras sangat banyak saat menggunakan perpindahan Dimensi... Untuk sementara waktu Aku akan tidur untuk mengembalikan kekuatanku."

Naruto hanya ber 'Oh' ria paham maksut dari Gadis dihadapanya.

Mio melangkah menuju Ranjang tersebut, membaringkan tubuhnya yang terasa lelah. Kesembilan ekornya bergerak mencari posisi yang pas membuatnya dapat berbaring dengan nyaman.

"Naruto kemarilah..."

Naruto melangkah kan kedua kakinya menurut akan permintaan Gadis tersebut. Saat jaraknya semakin dekat, dengan tiba-tiba salah satu ekor Gadis itu menarik tanganya membuat tubuh tegapnya ikut jatuh terbaring di atas ranjang yang sama dengan Mio. Namun dengan posisi yang Ehem... Menindih tubuh Mio dengan kepala yang tenggelam di telan dua belahan montok miliknya.

"Ah...! Singkirkan kepala kuning mu dari dadaku Bodoh...!"

Teriakan Mio tak membuat Naruto bergeming, otaknya sedang mencoba mencerna apa yang barusan terjadi namun karna kapasitas yang dimilikinya rendah akan wanita. dia hanya mendapat jalan memutar tak berujung mengenai hal yang sedang Ia alami.

BLETAK!

Lagi-lagi sebuah jitakan keras Mio membuatnya tersadar akan posisinya sekarang, dengan tergesa-gesa Ia mencoba bangkit dari posisinya Namun...

NYUT! "Ahh...!"

Tanpa sengaja salah satu tanganya menyentuh Ehem... Oppai besar milik Mio Yang terasa kenyal dan lembut, lagi-lagi kinerja Otaknya mengalami masalah.

Berputar dan berputar terus berputar... Itulah yang saat ini mengisi fikiran dari Otaknya. Mencoba dengan keras mencerna dan mencari jalan keluar akan situasi yang Ia alami, hingga akhirnya...

BUAGH!

Sebuah pukulan keras dengan telak mengenai pipinya hingga membuatnya terpental dari Atas tubuh Mio. Sekaligus membuatnya tersadar akan Hal rumit yang barusaja Ia alami.

"Dasar mesum..!. Jadi ini hasil dari dua setangah tahun berkelana dengan Petapa genit-mu itu...!?"

Mio dengan kemarahanya bangkit dari ranjangnya untuk memberi pelajaran kepada cowok pirang yang baru saja dihajarnya. Namun karna terlalu kalap, tanpa sengaja salah satu kakinya terselandung ekornya sendiri membuatnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh mengarah kepada Naruto yang masih terlentang.

"Cih. Kuso!"

BRUUK! SMACK-DOWN!

Sakit...? Tidak...

salah satu Keuntungan wanita yang memiliki dada besar adalah Ini... Secara kebetulan Oppai mereka dapat menjadi Airbag yang melindungi pemiliknya dari beturan yang barusaja terjadi secara bedanya Airbag yang ini tidak akan kempes setelah digunakan.

Muehehehee... Sungguh ciptaan Maha Kuasa memang yang terbaik.

Secara perlahan Mio membuka kelopak matanya, menyadari ada sesuatu di bawah tubuhnya dengan segera Ia bangkit dari atas tubuh Korbannya, yang setelah Ia cek ternyata Naruto telah pingsan karna otaknya lagi-lagi mengalami konslet.

Secara perlahan Tubuh cowok berambut pirang tersebut lenyap di telan cahaya yang menyelimuti tubuhnya. Menandakan Ia akan kembali menuju kesadaranya akan dunia nyata dan meninggalkan alam bawah sadarnya.

"Dasar..." Mio kembali menuju ranjangnya dan membaringkan tubuh lelahnya, secara perlahan kelopak matanya tertutup.

Bibir merah tipisnya tersenyum mengingat kejadian konyol yang barusaja terjadi, kepingan-kepingan memori yang muncul didalam kepala mengantarkannya menuju dunia mimpi dengan teratur.

.

.

.

.

"Issei-san sepetinya Ia mulai bangun."

Suara kecil Asia terdengar ditelinga Naruto membantu membawanya kembali dari Alam bawah sadarnya, secara perlahan kedua kelopak matanya terbuka menampilkan permata biru yang kali ini terlihat lebih segar walau sedikit ada beleknya(?).

Dapat Ia lihat dua teman barunya membawa sesuatu yang berbeda di tangan mereka. Asia membawa sebuah bungkusan yang mengeluarkan aroma sedap dan bisa Ia tebak bahwa dibalik bingkusan itu adalah makanan, sedangkan Issei membawa...

"Hei untuk apa kau membawa ember?" jika Asia membawa makanan apa berarti yang di bawa Issei itu sebagai minumanya?

"Oh ini.. tadinya kami khawatir karna kamu sulit sekali di bangunkan jadi mungkin satu siraman Air bisa memecahkan masalahnya. Hehehee..."

Issei meletakan ember berisi air tersebut di atas meja.

Merasa wajahnya butuh kesegaran, Naruto menggulung sedikit lengan blazer hitamnya dan menciduk(?) sedikit Air untuk kemudian Ia basuhkan ke wajahnya. Kesegaran dari air menyerap kedalam pori-pori dan membersihkan minyak-minyak di wajahnya.

"Aah... Segarnya...!"

"Hari ini kamu beruntung lagi Naruto-san, para Guru sedang ada rapat dan mereka masuk kekelas hanya untuk sekedar memberi tugas saja..."

"Benarkah?" tanya Naruto matanya Ia edarkan keseluruh ruangan tidak ada teman-temanya. Hanya mereka bertiga yang masih berada di ruangan kelas ini.

"Yang lain kemana? Sepi sekali..."

"M-mereka sudah pulang Naruto-san... Sekarang kan sudah jam tiga sore..." Kata Asia sambil menodongkan bungkusan kepadanya yang setelah Ia buka isinya adalah roti Isi.

"Hah? Salama itu kah aku tertidur?"

Naruto bertanya seolah takpercaya dan dibalas dengan anggukan kompak dari dua Iblis di hadapanya.

Seketika Ia teringat akan janji dengan Ketua Osis Sona. Dengan roti isi dimulutnya Naruto dengan tergesa-gesa mengambil tas yang tergeletak di atas mejanya dan bergegas pergi meninggalkan Issei dan Asia yang melongo tanpa sempat bertanya apa perihal yang membuat teman pirang mereka pergi begitu saja.

.

.

.

.

Ruangan OSIS, pasti kalian berfikir adalah Ruangan yang di tempati oleh para Siswa khusus anggota Osis yang setiap saat di gunakan untuk melakukan Rapat membuat agenda-agenda baru untuk sekolah?

Ya benar... Namun ada hal lain pada Ruangan ini.

Ruangan Ini tidak hanya untuk melakukan hal yang dituliskan diatas saja, melainkan ada sebuah rahasia dari sisi yang lain mengenai Ruangan ini. Sitori Sona atau Sona Sitri. Iblis muda penerus Klan Sitri ini dengan kecerdasan yang dimilikinya. memfaatkan jabatan yang diembanya sebagai Ketua Osis untuk mencari kandidat yang Pas sebagai Peeragenya, Ia akan mengobservasi dan mengawasi seseorang yang menurutnya cocok tersebut. Jika demikian Ia akan menghasut, menggoda dan tak akan melepaskan orang tersebut untuk dijadikan Peeragenya. Rasa Iri akan Rival berambut merahnya menjadi cambuk pendorong untuk lebih gencar menyaingi Rivalnya yang tak lain adalah Rias Gremory yang beberapa minggu yang lalu mendapat Peerage baru yang memiliki Boosted Gear salah satu Sacret Gear paling langka dari yang terlangka.

Hyoudo Issei murid dari angkatan kedua yang terkenal mesum disekolahnya ternyata cukup bisa membuatnya terkena serangan jantung, tak menyangka samasekali bahwa di balik kulit kacang tersimpan sebuah permata. Delapan bidak Pion yang harus di bayar oleh Rivalnya adalah harga yang setimpal jika Kau ingin membeli sebuah produk Limited Edition.

Sayang bagi dirinya yang hanya memiliki empat bidak Pion yang tersisa namun Nasi telah menjadi bubur, keputusanya untuk mereinkarnasi kan Saji telah bulat sebelum adanya ketertarikan akan Hyoudo Issei.

Empat Bidak Pion yang tersisa akan Ia manfaatkan dengan sangat hati-hati dan penuh perhitungan hingga akhirnya Seseorang yang menarik perhatiannya muncul kembali, seorang Anak baru berambut pirang dan lagi-lagi orang tersebut sudah dalam cengkraman seorang Rias Gremory membuatnya kembali patah hati akan keberuntungan Rivalnya. Namun ada fakta lain yang selama ini membuatnya dapat tersenyum lega bahwa Anak baru alias Naruto tersebut masih seorang Manusia utuh, tidak ada Aura-aura yang menandakan jika Ia telah direinkarnasikan menjadi seorang Iblis, Ia sempat berfikir kenapa Rias tak secepatnya untuk mendapatkan Naruto? Atau jangan-jangan Naruto tak memiliki sesuatu yang spesial? Hingga akhirnya Rias tak tertarik akan dirinya. Sungguh memikirkan hal tersebut membuat hatinya gundah dan ragu untuk merekrut Naruto.

Namun kejadian semalam berhasil mematahkan semua perasaan yang selama ini mengganggunya, Ia berencana memata-matai Buruanya yang saat itu membantu Issei untuk menyelamatkan seorang Birawati yang memiliki Sacret Gear yang unik namun lagi-lagi behasil dimiliki Rivalnya. Saat itu Ia melihat Naruto yang menggunakan jubah dan topeng melawan tiga Datenshi. Kemampuanya untuk berlari dan melompat untuk menghindari serangan lawanya cukup membuat Sona memberi nilai plus akan ketertarikannya dengan Naruto namun itu saja tak cukup.

Kagebunshi no Jutsu, saat kalimat itu terdengar di telinganya saat itulah momen fakta yang tak akan pernah dapat Ia lupakan, ini lah yang selama ini Ia cari untuk melengkapi Peeragenya. Namun keraguan kembali menyelimutinya saat melihat keahlian kedua milik Naruto yang membuatnya gemas.

Harem no Jutsu, ingin sekali Ia untuk berlari membantu Dantenshi dan menjitak kepala kuningnya. Naruto telah membuatnya terpesona namun dengan cepat kembali membuatnya patah hati karna kecewa melakukan pelecehan. Namun tak masalah akan jurus kedua yang ditunjukan Naruto.

Baginya itu cukup cerdik dengan memfaatkan sisi lemah dari seorang Datenshi yang notabenenya seorang Wanita dan menumbangkan Musuh tanpa harus lelah jual beli pukulan.

Bagi Sona didalam sebuah Tim tidak harus di isi dengan Orang-orang kuat saja melainkan harus dilengkapi dengan Orang yang pintar dan cerdik dengan begitu keharmonisan dan kekompakan akan lebih seimbang sehingga kesempurnaan akan benar-benar menjamin membuat Tim-mu menang.

...

Suara pintu ruangan yang terbuka menyadarkanya dari lamunan panjang yang mungkin tak berujung, dari balik pintu menampakan Seseorang yang selama ini menjadi hiasan dinding dalam otaknya, perasaan senang muncul di dalam hatinya Ia tak menyangka jika Naruto akan menepati janjinya dan tidak mencoba untuk kabur seperti yang selama ini selalu Ia lakukan, namun apapun emosi yang Ia rasakan semuanya dapat Ia sembunyikan dengan sempurna, sehingga wajah datar penuh wibawa yang mempesona membuat semua orang segan terhadapnya.

Ia mempersilahkan tamunya untuk duduk terlebih dahulu bisa Ia lihat gerak-gerik cowok dihadapanya yang menunjukan bahwa Dia sedang Canggung. Ia tahu kenapa Naruto bersikap demikian, jangan salahkan dirinya ini memang murni kesalahan cowok dihadapanya yang sudah mulai menyadari bahwa statusnya sangat paling di cari. Kenakalan pada Absensinya di sekolah membuat Sona merasa lebih diberi kemudahan untuk mendekatinya. Soal-soal remedial yang dititipkan kepadanya menjadi umpan terbaik untuk dilemparkan satu persatu.

"Sudah lama tak jumpa Uzumaki-kun... Apakah hal tersebut yang membuatmu gerogi bertemu denganku?"

Bisa Ia lihat cowok dihadapnya terkekeh sambil menggaruk belakang kepalanya yang Ia yakini tak ada rasa gatal dikepalnya, kedua permata birunya tak berani beradu pandang dengan berlian ungu miliknya. Merasa kasihan dengan hal tersebut Ia langsung memutuskan untuk langsung bicara ke intinya.

Dari balik laci mejanya Ia mengeluarkan beberapa kertas berisikan soal-soal remedial.

"Uzumaki-kun... Kau terlalu sering membolos sehingga melewatkan beberapa Ulangan."

"A-aku bisa jelaskan."

"Tidak perlu karna Aku sudah mengetahuinya..." Sona meletakan Dua lembar soal tersebut di atas meja. "Silahkan dikerjakan... Masih ada tiga lembar lagi untuk diselesaikan dengan segera."

Setelah itu Ia memutuskan untuk melangkah pergi menuju ruangan utama dan membiarkan Naruto untuk mengurangi rasa canggung akan kehadiran dirinya dan dapat fokus mengerjakan hutang Nilai yang dimilikinya dengan tenang, sekaligus berbincang kepada salah satu anggota Peeragenya yang berpangkat Ratu yang telah menunggunya.

"Bagaimana Kaichou?"

Baru saja Ia memunculkan kepalanya dari balik pintu Ia sudah disambut dengan pertanyaan to the point dari Ratunya Shinra Tsubaki, Ia tak langsung menjawab dan melangkah begitu saja menuju sofa yang biasa digunakan untuk mengadakan perkumpulan oleh para Anggotanya.

"Kita harus bersabar, aku masih perlu menimbang-nimbang apakah Ia pantas atau tidak, bidak yang tersisa harus di gunakan dengan bijak."

Tsubaki menganggukan kepalanya setuju akan apa yang dikatakan oleh Kingnya. Dengan inisiatif yang muncul dalam hatinya Ia melangkah menuju dapur yang tersedia di ruangan ini, beberapa menit kemudian Ia kembali dengan membawa tatakan dengan dua cangkir teh ditanganya.

Salah satu cangkir diletakanya di atas meja yang berhadapan dengan Kingnya, dan satu lagi Ia bawa menuju ruang kerja yang sebelumnya Ia ketahui ada seorang tamu yang sedang sibuk melakukan kewajibanya.

Dapat Ia lihat Naruto dengan rasa depresi akan tugasnya tak menyadari kehadiranya namun aroma teh yang tercium membuat cowok pirang tersebut memutar kepalanya terkejut karna kehadiranya.

"Ake... Ah maaf aku kira Kau itu Akeno... Habisnya kau mirip sekali dengan kebiasaanya yang datang secara tiba-tiba dengan membawa teh-ttebayou."

"Tidak apa-apa Uzumaki-san... Maaf jika Aku membuatmu terkejut dan mengganggu pekerjaanmu."

Tsubaki meletakan teh buatanya di atas meja dan dapat Ia lihat kertas soal remedial milik Naruto masih bersih akan tinta pena yang digenggamnya.

"Apa kau kesulitan untuk mengerjakanya?"

"Sangat...! Menyebalkan sekali aku tak menyangka jika soalnya akan sesulit ini."

Mendengar jawaban itu membuat Tsubaki berinisiatif untuk membantunya.

"Biar aku bantu... Kau kerjakan soal yang lebih mudah terlebih dahulu."

"Eh? Apa tidak apa-apa Aku takut nanti Kau di omeli Sona."

"Kaichou itu sebenarnya orang yang baik, walaupun sikapnya seperti itu tapi percayalah..."

Ia melihat Naruto menunjukan tanda setuju kepadanya dan setelah itu suasana menjadi hening, mereka berdua mulai sibuk dengan lembaran soal di tangan mereka masing-masing.

"Selesai..."

"A-apa...?" Naruto terkejut dan langsung melihat jam pada dinding ruangan. "Baru saja lima menit... Wauw aku tak menyangka kau cerdas juga... Err...?"

"Khu khu khu... Tsubaki... panggil Aku Tsubaki"

"Tsubaki? Nama yang indah..."

"Jangan menggombal Uzumaki-kun..."

"Are? Aku tak menggombal kok, Um... Boleh kah aku meminta bantuanmu?"

"Aku sudah selesai membantu..." Tsubaki menunjukan lembaran kertas lain yang ternyata sudah terisi semua akan jawaban.

"Hah? Bagaimana bisa?"

"Itu karna kemampuan Kami sebagai Iblis, mencerna semua materi dengan mudah hanya sebagian kecil dari keahlian otak kami..." Suara lain menjawab dari arah pintu membuat Naruto menolehkan kepalanya dan mendapati Sona telah berdiri di sana dengan tangan terlipat didada.

"Kalian Iblis?"

"Ya, apa kau terkejut?"

"Tidak. hanya saja yang dikatakan Rias memang benar."

"Uzumaki-kun aku ingin bertanya apa hubunganmu dengan Kelompok Rias?"

"Kami hanya berteman saja, Ia menolongku saat aku sekarat ditempat ini."

"Apa kau pengguna Sacret Gear?"

"Tidak, Aku tidak tau... Kalian akan menyebutnya apa tentang keahlianku, tapi tunggu...! Dari mana kau mengetahui nya?"

"Aku dapat merasakan Aura yang berada di dalam tubuhmu... Unik sekali Aura itu benar-benar kental akan kepemilikan Manusia." Sona melangkah mendekat dengan tangan memegang dagu seolah sedang meneliti hal baru yang Ia jumpai.

"Mungkin yang kau maksut adalah Chakra dalam tubuhku? Benar?"

Tsubaki yang sedari tadi hanya menyimak pembicaran mereka berdua sontak membuka suara saat mendengar sebuah kata 'Chakra' dari kalimat perkataan dari Naruto.

"Chakra...? Sepertinya Aku pernah mendengarnya Kaichou..."

Sona menoleh kearahnya dengan ekspresi seolah bertanya 'apa itu?'

"Yaa. Aku mengingatnya Itu adalah kekuatan murni dari seorang Manusia lebih tepatnya Seorang Ninja. Chakra dapat membuat mereka melakukan Jutsu atau kita biasa mengenalnya sebagai Sihir... Itu lah yang Aku tau Kaichou..."

"Yap itu benar-ttebayou...! Wah kau cerdas Tsubaki." Naruto memujinya dan memberi senyum kepadanya seolah terkena sihir kedua pipinya memerah dengan sendirinya melenyapkan Imej tegas pada dirinya.

Sona yang melihat hal tersebut Berdehem agak keras dan berhasil menghilangkan rona merah pada kedua pipi Queen nya yang terkejut karna ulahnya.

"Jika benar demikian apa Kau bisa tunjukan salah satu keahlianmu pada kami Uzumaki-kun? Jika kau tidak keberatan tentunya."

"Um baiklah."

Naruto berdiri dari kursi yang Ia duduki sebelumnya, dan melangkah agak ketengah ruangan, kemudia Ia menggabungkan sepasang jarinya menyilang membentuk sebuah segel.

"Kagebunshi no Jutsu!" setelah meneriakan nama Jutsunya asap tebal muncul dengan tiba-tiba bagai ledakan. Dan secara perlahan menipis memunculkan dua Clone identik denganya.

"Taraa...!" Naruto dan dua Cloningnya membentuk formasi seolah mempersembahkan sesuatu dengan background kembang api dan ledakan-ledakan balon di belaknganya.

"Hah!" Tsubaki nampak terkejut melihat keahlian Naruto yang baru saja ditampilkan secara dadakan dihadapnya, berbanding terbalik dengan Kingnya yang berwajah datar karna Ia memang sudah mengetahui salah satu keahlian Cowok pirang dihadapnya.

"Uz..."

"Seberapa banyak Kau mampu menggandakan diri Uzumaki-kun?"

Tsubaki bertanya mewakili ralat menyelang Sona yang juga ingin mengeluarkan pertanyaan yang sama.

"Entahlah... Aku sejauh ini tak pernah menghitung nya, tapi menurut Sensei ku Jurus ini dapat mengeluarkan Seribu cloning... Namun jika terlalu banyak dapat membuat chakra ku terkuras cukup banyak."

"Ap..."

"Apa kau memiliki sihir yang lain?!"

Lagi-lagi Tsubaki menyela perkataan Sona untuk bertanya, Ia dibuat heran akan perilaku Queenya yang berubah kepo penuh akan pertanyaan jika bertemu sesuatu yang baru dan unik. Atau apa karna Naruto?

Naruto dan salah satu Cloningnya bekerja sama memfokuskan titik chakra di telapak tangan kanannya, Sona dapat merasakan Chakra dalam tubuh Naruto mengalir secara teratur di tangannya. Dapat Ia lihat Bola biru menyala dan secara bertahap ukurnya bertambah sebesar bola baseball, udara sekitar bertiup mengelilingi-nya dan kekuatan mengeluarkan suara bagai jet tempur menandakan bahwa Jutsu Naruto telah sempurna.

"Rasengan... Dengan ini Aku dapat menjebol dinding tebal loh hehehee...!"

Sona dan Tsubaki sama-sama terpaku akan keahlian Manusia dihadapan mereka, dapat mereka simpulkan bahwa Naruto benar-benar seorang Ninja, tapi masalahnya Apakah eksistensi mereka masih ada? Jika benar demikian dimana Mereka sekarang? Bersembunyi kah mereka membaur dengan penduduk sipil? Namun faktanya Ninja hanya ada saat zaman kekaisaran jepang jika di hitung-hitung lebih dari ratusan tahun era itu berdiri dan menghilang tergantikan oleh sistem politik dan moderenisasi yang terus berkembang hingga bagaimana dengan sosok dihadapan mereka ini? Di sinilah kecerdasan Sona sebagai klan Sitri di uji.

.

.

.

.

.

Sementara itu di Ruang penelitian dunia ghaib. Rias dan para Peerage nya sedang melakukan sebuah perkumpulan. Rencananya Ia akan mengadakan pesta kecil sebagai penyambutan untuk Asia yang resmi menjadi Bishoop barunya,

Ia sedang menunggu dua orang lagi anggotanya dan satu orang yang mulai Ia anggap sebagai Bidak Bayangan. Walau bagaimana pun acara tidak akan dimulai jika tamu undanganya tidak lengkap.

Terlihat Akeno, Kiba dan Koneko sibuk berbincang dengan disuguhi teh hangat dan cemilan dimasing-masing tangan mereka. Ia tak ikut membaur dengan mereka karna la lebih asik sibuk melamun memikirkan sesuatu. Tidak heran jika belakangan ini Ia lebih sering kepergok oleh Akeno saat Ia dalam mode Manequin.

Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar ketelinga seluruh penghuni ruangan ini. Membuat seluruh mata tertuju pada pintu ruangan yang mulai terbuka secara perlahan.

"Permisi...! Maaf jika kami terlambat."

Akhirnya Orang ralat Iblis yang mereka tunggu telah datang, Issei dengan Asia yang mengekor dibelakangnya mencoba menyapa seluruh penghuni Ruangan dengan gugup yang kembali muncul.

"H-halo..."

Perasaan gugup yang sering kali keluar saat Kau berada ditempat baru dan Orang-orang baru itu menurut sebagian Orang adalah hal wajar namun ada juga Orang yang takmerasa gugup di situasi yang serupa.

Disini dapat Asia lihat Ia begitu dapat diterima dan mereka dengan mudah menganggap dirinya sebagai bagian dari mereka, hatinya begitu bahagia dan haru ini kali pertamanya Ia diperhatikan seperti ini, kehidupanya merasa lebih baik. Jika dulu Ia tak memiliki Teman, namun sekarang Ia memilikinya, jika dulu Ia takmemiliki Pelindung, namun sekarang Ia memilikinya, sosok laki-laki dihadapannya ini lah yang membuatnya merasa begitu aman, tindakan Issei semalam membuktikan janjinya.

Issei melihat kebahagian di wajah Asia atas sambutan positif seluruh anggota Club, Ia ikut senang akan hal tersebut, Ia sempat mengira Asia akan sangat sulit diterima mengingat fakta bahwa Asia sebelumnya adalah seorang Birawati beraura suci akan lindungan Do'a Gereja.

Kiba, Koneko, dan Akeno. Teman-temanya menyambutnya dengan begitu hangat mereka dengan senang hati mengajak Asia berbincang ringan mengenai hari ini, kesan dihari pertama bersekolah adalah topik menarik untuk dibahas yang kali ini mereka bicarakan.

Issei sedari awal tak nampak seseorang, Ia ingin menanyakan sesuatu yang selama ini memenuhi otaknya.

Ia mengedarkan pandangan keseluruh Ruangan hingga menemukan sosok Wanita berambut merah yang Ia cari berada disisi ruangan berjendela. Ia perlahan menghampirinya.

"Bochou?"

Issei memanggil sosok yang sebagai Kingnya. Dan Ia merespon dengan memutar tubuh sintalnya berhadapan langsung denganya.

"Issei...!? Pionku akhirnya datang juga...!" dengan bahagia Rias mencubit pipinya seolah gemas akan boneka baru.

"Aw...! Aw...! Aw...! Lepaskan Bochou...! Cubitanmu bisa membuat pipiku menjadi melar nantinya!" mendengar perkataan Itu Rias dengan segera melepaskan cubitanya sambil terkekeh yang terdengar lembut.

"Oh iya Bochou mengenai Pion... Umm... Jika jumlah bidak iblis sama dengan jumlah bidak pada catur, berarti sangat mungkin untuk mendapatkan tujuh pion lainnya selain aku, kan? Jadi apakah akan datang hari dimana pion lain selain diriku datang bergabung?"

Seperti pada catur asli, ada delapan bidak pion. Jadi sangat mungkin untuk mendapatkan lebih banyak bidak pion selain dirinya. Ia bertanya karena hal ini akan terjadi suatu hari nanti. Tapi Ia lihat Kingnya menggelengkan kepalanya terhadap pertanyaan-nya.

"Tidak, satu-satunya Pion yang akan aku miliki adalah Issei."

Haruskan Ia senang mendengarnya? Sempat Ia berfikir Apakah ini pernyataan cinta? Sesuatu seperti "Issei adalah satu-satunya ku mau" atau sesuatu seperti itu?

Rias kembali membuka suara.

"Ketika mereinkarnasi manusia menjadi iblis kami menggunakan bidak iblis, dan pemakaian bidak iblis bisa bertambah tergantung dengan kemampuan orang yang akan dibangkitkan kembali."

Issei mencoba memahami apa yang diutarakan Rias, pernyataan cinta yang sempat ada dalam benaknya perlahan menghilang terhapuskan akan penjelasan Kingnya.

"Ada anggapan di dunia catur. Ster memiliki nilai yang setara dengan 9 pion. Benteng setara dengan 5 pion. Kuda (Knight) dan Gajah (Bishop) masing-masing memiliki nilai yang setara dengan 3 pion. Sama seperti itu, ada nilai-nilai standar yang juga berlaku untuk bidak iblis. Fenomena serupa juga terjadi pada orang-orang yang dibangkitkan kembali. Ada yang menghabiskan 2 bidak kuda untuk dibangkitkan, dan juga 2 bidak benteng untuk orang dengan kasus serupa. Dan lagi, harus ada kecocokan antara bidak. Kau tidak bisa menghabiskan 2 bidak yang berbeda untuk memberikan mereka peran yang berbeda, jadi sangat penting untuk mengatur bagaimana kau akan menggunakan bidak-bidak tersebut. Karena kau tidak akan mendapatkan bidak baru yang sama setalah kau menggunakannya."

"Apa hubungan hal itu denganku?"

"Issei, Aku menghabiskan semua bidak Pion saat menghidupkanmu kembali. Jika tidak kulakukan, aku tidak dapat membuatmu menjadi Iblis."

"Semua!? Serius? Jadi aku bernilai seperti delapan bidak pion?"

"Ketika aku tahu hal itu, Aku memutuskan bersemangat untuk membuatmu menjadi pelayanku. Tapi saat itu aku tidak menemukan alasan mengapa kau menghabiskan 8 pion. Namun sekarang aku mengerti. Gear suci yang dikatakan sangat hebat, salah satu dari 'Longinus', 'Boosted Gear'. Dan kau, Issei, yang memilikinya. Itulah alasan kau memiliki nilai yang sangat tinggi."

Isse melihat lengan kirinya. Pelindung tangan merah. kekuatan yang besar, yang menggandakan kekuatan setiap 10 detik. Dikatakan bahwa Ia bisa membunuh Tuhan, tergantung bagaimana cara Ia menggunakannya. Ia merasa Gear suci ini terlalu hebat untuknya, tapi hal ini tak bisa dipungkiri, karena Ia telah memilikinya dan itu adalah takdir yang sudah tertulis dalam garis hidupnya.

"Ketika aku mencoba menghidupkanmu, bidak yang kumiliki hanyalah 1 kuda, 1 benteng, 1 gajah dan 8 pion. Untuk menjadikanmu pelayanku, Aku baru dapat menggunakan 8 bidak pion. Bidak yang lain tidak memiliki kecocokan untuk menghidupkanmu kembali. Tapi pada dasarnya, nilai dari sebuah "Pion" itu sendiri masih merupakan misteri. Juga karena adanya "Promosi". Itulah mengapa aku bertaruh pada kemungkinan itu. Sebagai hasilnya, kau adalah yang terbaik."

"Tunggu-tunggu...! Kiba sebagai kuda, Koneko-chan sebagai Benteng, dan Asia sebagai Gajah, lalu bagai mana dengan Naruto-san? Apa bidak yang Ia konsumsi?"

Pertanyaan sepontan Issei membuat Rias menjadi bingung, Ia tak menyangka jika Issei akan menganggap Naruto sebagai salah satu Iblis dalam bidaknya, jika seandainya memang begitu Ia akan amat senang karna Bidak caturnya akan lebih sempurna jika salah satu posisinya diisi oleh Naruto, namun sayang kenyataan yang sebenarnya menampar hatinya sakit, tubuh Naruto menolak semua Bidak yang tersisa yang dimilikinya dan Pion adalah sebuah misteri jika diungkit-ungkitkan dengan seorang Ninja tersebut.

"Harus kamu ketahui Issei, Naruto bukanlah Iblis... Ia Manusia biasa, melihat cara Ia bertarung dan menggunakan keahlianya bisa disimpulkan Naruto adalah seorang Ninja."

Rias melangkah menuju sebuah meja dan membuka lacinya untuk mengambil sesuatu.

Dapat Issei lihat itu adalah sebuah ikat kepala dengan logam di bagian keningnya dengan lambang seperti pusaran air yang terlihat dominan.

Rias kembali membuka suara sambil jari-jarinya yang lentik meraba goresan pada lambang di ikat kepala tersebut.

"Mungkin ini adalah satu-satunya petunjuk untuk mengetahui dimana Naruto berasal."

Naruto pernah bilang Ia berasal dari tempat bernama Konoha, nama tempat itu baru kali ini Ia dengar namun saat menanyakan lebih detail dimana tempat itu berada Ia hanya mendapat jawaban kosong dari Naruto yang terlihat bingung saat itu. Membuat Rias lebih sering menghabiskan waktu akan penasaranya untuk mencari informasi mengenai Konoha sendiri baik itu melalui buku, peta dan internet. Namun tidak ada sama sekali yang berkaitan dengan Konoha, bahkan di peta tidak ada daerah dengan Nama konoha. Mistery...

Ditengah lamunanya Ia mendengar suara Issei terdengar seperti wanita, what? Wanita? Sontak Rias menolehkan wajahnya Ia lihat ternyata itu adalah Akeno yang berdiri disamping Issei, huh keseringan melamun membuatnya menjadi tak mengetahui dunia sekitar barang itu sedetik pun.

"Bochou... Aku belum melihat Naruto datang, apa kita Bisa mulai saja pestanya?"

Rias memandang keseluruh Ruangan kedua matanya mengabsen satu-persatu anggotanya yang telah hadir dan benar ada satu Orang yang absen dalam acaranya.

"Issei, tadi kau sudah sampaikan undangan kepadanya kan?" Rias memandang Issei yang memberi anggukan kepadanya.

"Yup Bochou... Tapi saat jam pulang sekolah Ia terlihat sedang terburu-buru, Aku kira Dia kebelet pipis tapi saat aku dan Asia tunggu. Naruto tidak kembali lagi..."

Rias berjalan menghampiri Asia setelah mendengar penjelasan Issei. Mungkin hadis tersebut tahu alasanya.

"Asia... Apa kamu tahu kemana Naruto pergi?"

Asia terdiam Ia mencoba mengingat-ingat apa yang menjadi alasan Naruto tidak hadir.

"Ah... Saat sebelum saya duduk bersebelahan dengan Naruto-san, Saya melihat ketua Osis Shitori-san menyampaikan sesuatu kepadanya. Saya tidak tahu apa yang dibicarakan karna jarak yang terlalu jauh dan suasana kelas yang cukup bising..."

Rias mengepalkan kedua tanganya, Sona ternyata benar-benar tertarik dengan Naruto akan sangat berbahaya jika Rivalnya mampu mendapatkan Naruto. Ia ingin segera bergegas menuju tempat Naruto berada namun untuk saat ini prioritas yang diutamakan adalah acara pesta ini.

"Huuuhh... Baiklah karna Naruto tak bisa hadir jadi pestanya tetap akan berjalan...!" Rias menjentikan jarinya dan seketika diatas meja muncul sebuah Kue besar bertingkat tiga dengan warna cream yang mengoda mata untuk disantap.

Pesta dimulai dan Mereka semua nampak bahagia khususnya bagi Asia yang saat ini resmi menjadi Bidak baru dari seorang Rias Gremory.

.

.

.

.

.

Sona memandang langit yang mulai menggelap dari balik jendela ruangan Osis, didalam otak cerdasnya penuh akan fikiran dan rencana. keinginannya untuk mendapatkan Naruto sebagai Bidaknya belum dapat terwujud olehnya, cengkraman Rias akan Naruto masih begitu kuat hingga membuatnya harus lebih bersabar, jika Ia langsung merebutnya akan tidak mungkin membuat hubunganya dengan Rias akan pecah, dan hal itulah yang paling Ia hindari. Ia merasa sepeti seorang ABG labil yang bersaing dengan sahabatnya sendiri untuk merebutkan lelaki idamanya. Ingin sekali Ia tertawa akan pemikiran tersebut yang sungguh bukan tipenya.

Naruto baru saja keluar dari Ruangan Osis dengan wajah lesu, Ia tak menyangka dua lembar soal saja cukup membuatnya menguras tenaga untuk dikerjakan olehnya maklum saja karna Naruto termasuk Siswa yang kurang cerdas.

Ia berjalan dengan langkah terseret-seret ingin sekali rasanya Ia untuk cepat-cepat pulang menuju Kuil yang menjadi rumah sementaranya namun Ia kembali teringat akan undangan Rias yang disampaikan Issei kepadanya tadi pagi.

"Aduh..?"

Ia berhenti di sebuah tangga menurun bertingkat. pencahayaan yang redup ditempat itu membuat tubuhnya merinding ditambah hembusan angin dingin yang masuk melalui celah ventilasi menambah suasana sekitarnya makin mencekam.

Ia tidak menyangka Sekolahnya yang ramai bisa berubah menjadi sunyi nan mencekam seperti ini. Pemikiran akan hal-hal yang berbau horor muncul didalam benaknya membuatnya ragu untuk melangkahkan kedua kakinya.

Ingin sekali Ia berbalik menuju ruang Osis dan meminta Sona atau Tsubaki untuk mengantarnya turun. Namun Ia menggeleng-gelengkan kepalanya mengenyahkan Opsi memalukan yang berada di kepalanya.

"Ayo lah Naruto! Kau itu Ninja yang mampu mengalahkan musuh-musuhmu! Ck...! Yang benar saja Baru jalan gelap seperti ini masak Aku harus minta anter sih...!"

Naruto mencoba menyemangati dirinya sendiri dan mengenyahkan rasa takut yang menghinggapi bahunya. Ia mulai melangkahkan kakinya.

Satu anak tangga...

"Huuuh... Tuh kan? Tidak ada apa-apa..."

Dua dan tiga anak tangga...

"La la la..." Ia mulai bernyanyi.

Empat sampai tingkat pertama...

Naruto bersiul, namun karna bibirnya bergetar menahan rasa takut jadi siulanya terdengar seperti ini...

"Pfffrrtt... Pffffrrtt... Prrrfftff...!" dengan Air liur yang muncrat-muncrat secara liar dari bibirnya.

Berikutnya... karna merasa tak ada yang menyeramkan Ia kembali menuruni tangga menuju kedasar dengan hati-hati dan was-was. Namun tubuhnya kembali merinding.

Di ujung tangga Ia melihat sosok sorang wanita dari balik cahaya yang remang-remang. kedua matanya tak fokus untuk melihat dengan dipenuhi ilusi karna terpengaruh oleh fikiran horor yang mempengaruhi kepalanya.

Rambut panjang yang berdarah-darah, poni rambut yang menjuntai menutupi wajahnya, kedua tangan yang terlihat terpotong hingga siku. Itulah yang tertangkap oleh kedua matanya. Ia menjadi panik Saat sosok tersebut mulai melangkah mendekatinya dengan langkah cepat dan sosok tersebut langsung mendorong tubuhnya kedinding. dengan rasa takut yang mencapai ubun-ubun Naruto mulai menutup kedua matanya dan berteriak histeris seperti wanita yang diintip Jiraya.

"Kyaaaa...! Ampun...! Tolong ampuni Aku...! Aku tidak mau mati muda...! Aku masih ingin bertemu kojiro-sensei dan membalas dendam...! Aku juga masih ingin membuat Issei dan teman-teman mesumnya untuk bertaubat...! Tolong-tolong...! Biarkan Aku hidup didunia ini...!"

"Hey...! Aku buk..."

"Jangan...! jangan sekarang Aku masih ingin membelikan Rias dan Akeno BH-ttebayou...!"

"A...apa!?"

"Huueee...! Aku juga belum pernah dici..."

BLETAK

"Ouuch...!" sebuah jitakan berhasil mendarat di kepala kuningnya, menghentikan racauanya yang mulai terdengar ngaco dari bibirnya.

"Bukalah matamu terlebih dahulu!" sosok tersebut berteriak, membuat Naruto menurut akan perkataanya.

Dapat Naruto Lihat dari balik cahaya yang remang-remang sosok dihadapanya ternyata bukanlah hantu dengan rambut yang berdarah-darah melainkan Rias yang datang untuk mencarinya.

"Huuuh... Rias? Lain kali kau pergilah ke Salon terlebih dahulu sebelum keluyuran dimalam hari. Tadi itu kau bisa membuatku ketakutan-ttebayou...!"

"Pffft... Hihihi...! Seharusnya Kau lihat wajahmu sendiri saat ketakutan seperti tadi...!" ujar Rias sambil tertawa.

"Hentikan...! Aku jadi sempat berfikir jika wanita berambut merah itu bisa menjadi menyeramkan dalam situasi tertentu..." Naruto mengerucutkan bibirnya dengan sebal.

"Dan Aku juga berfikir laki-laki berambut Kuning sepertimu takut akan wanita yang berambut merah... Hahahaa...!" Balas Rias

"Tentu saja jika wanita berambut merah dihadapan mereka terlihat seperti Hantu dari pada seorang Wanita."

"Apa?! Oooh... Jadi rupanya kau takut Hantu? Khe... Khe... Khe... Sayang sekali Naruto Kau sudah terlanjur aku daftarkan disekolah angker ini... Khe... Khe.. Khe..." ujar Rias menakut-nakuti Naruto dengan tawa yang dibuat-buat menyeramkan dan dapat Ia lihat gerak-gerik aneh dari Cowok dihadapanya yang ketakutan terbukti dari salah satu tangan Naruto yang memegang ujung seragam miliknya.

"Hei...! Hentikan itu! Kau mau jika Hantu disini benar-benar datang?!" ujar Naruto dengan wajah panik dan kesal akan perkataan Rias yang mengerjainya.

"Khe... Khe... Khe... Tak masalah bagiku jika mereka benar-benar muncul... Karna Aku tidak takut Haaaaaan... Tuuuu..."

"Tch! hentikan...!" wajah Naruto berubah pucat.

"Hahaha...! Baiklah-baiklah! ayo kita pergi dari sini, Bisa repot jika kamu mengompol disini."

Sihir bercahaya merah milik Rias muncul dari atas lantai yang mereka pijak, agar Ia dapat membawa objek lain kemudian Rias menggenggam tangan Naruto dan lalu mereka berduapun menghilang dari balik cahaya sihir perpindahan milik Rias meninggalkan tempat tersebut.

.

.

.

.

"Dimana semuanya?" tanya Naruto.

Mereka berdua kini telah berpindah menuju Ruangan Club penelitian Ilmu ghaib. Nampak ruangan ini sedikit berantakan dengan posisi furnitur ruangan yang tak sesuai tempatnya dan juga noda-noda yang beraroma manis dari sisa potongan kue.

"Mereka semua sudah pulang terlebih dahulu, kami tadi mengadakan pesta kecil untuk penyambutan Asia..." Jawab Rias sambil membenahi barang yang dekat denganya. "Huh ini akan butuh waktu lama." ujarnya

"Kau butuh bantuan?" tanya Naruto menawarkan diri untuk membantunya.

"Tidak perlu... Lihat ini..."

CTIK

Rias melakukan sebuah sihir dengan menjentikan jarinya, semua barang-barang yang berada diruangan ini dengan sendirinya kembali keposisi semula.

"Woow...! Mereka seolah-olah hidup-ttebayou!" Ujar Naruto takjub akan sihir dari Rias.

"Naruto... Aku ingin bertanya."

"Apaa?" jawab Naruto sambil mencolek krim dari kue yang tersisa tadi dan lalu memakannya.

"Apa benar kau tadi keruangan Osis? Dan jika boleh tau, ada keperluan apa kau datang kesitu?" Rias bertanya dengan wajah serius.

"Awalnya aku tak tau kenapa aku disuruh datang. Tapi ternyata aku hanya diminta untuk mengerjakan soal remedial... Ummp...! Ini enak!" ujar Naruto yang kali ini mengambil dan memakan potongan kue yang tersisa.

"Benarkah? Apa kalian tidak membahas sesuatu?"

"Ummp... Khonaw meghmintaw khuw unthug..."

"Hihihi... Baka... Telan dulu baru bicara yang benar."

GLEK

Naruto menelan makanan yang berada didalam mulutnya dan kemudian Ia melanjutkan perkataanya. "Sona memintaku untuk menunjukan keahlianku."

"Dan kau menurutinya?!"

Naruto menganggukan kepalanya untuk membalas pertanyan Rias.

Rias nampak terkejut, usahanya untuk menyembunyikan Naruto dapat dengan mudah diketahui oleh Rivalnya. Kejelian Sona akan hal sekitar memang sudah terasah tajam, tentu saja usaha kecilnya tersebut dapat dengan mudah diketahui, itu sama saja kau berusaha menyembunyikan Narkoba dari polisi dalam saku celanamu.

Rias merasa percuma lagi untuk menutup-nutupi hal tersebut, biarlah Naruto yang akan memilih dimana Ia akan berlabuh. Namun yang pasti Rias akan mencoba untuk tetap mencengkramnya dengan kuat agar tak ada Iblis lain yang merebutnya. Tapi itu semua akan percuma saja karna Naruto tidak akan mungkin menjadi salah satu Bidak Iblisnya.

"Naruto... Jika seandainya Kau diciptakan sebagai seorang Iblis apa kau merasa menyesal?"

"Entahlah Namun yang pasti aku merasa bersyukur terlahir sebagai manusia, Iblis setauku adalah Musuh bagi umat manusia namun jangan salahkan Iblis yang menggoda manusia, melainkan manusia itu sendiri lah yang perlu disalahkan karna... Nafsu manusia lebih berbahaya dari rayuan Iblis."

"Apa kau membenci Iblis?" tanya Rias kedua matanya mencoba memandang kedua permata biru dihadapanya, agar Ia tahu akan kejujuran dari jawaban Naruto.

"Ya. Tapi semenjak bertemu denganmu aku jadi berfikir ulang akan apa yang aku ketahui tentang Iblis. Kalian ternyata tak jauh berbeda dengan manusia, jadi aku takmerasa aku sedang berteman dengan seorang Iblis. aku merasa kau itu sama denganku. Kita sama-sama diciptakan oleh tuhan namun yang membedakan adalah elemen apa yang mendasari kita diciptakan."

Ia jujur.

Rias merasa senang itu berarti Naruto benar-benar telah menganggapnya sebagai seorang teman. Tak ada lagi sisi negatif akan fakta dirinya sebagai seorang Iblis dimata Naruto. Manusia dan Iblis memiliki fisik serupa dan sama-sama memiliki takdir kehidupan dan Hak yang seimbang.

Mengenai Hak akan kehidupan, Rias menjadi merasa bersalah karna waktu itu Ia mencoba untuk menjadikan Naruto Iblis. Ia merasa dirinya jahat yang dengan seenak hatinya mencoba mencuri Hak Naruto sebagai Manusia.

"Naruto... Kau harus tau saat aku menolongmu... Aku... Aku mencoba untuk mereinkarnasikanmu menjadi Iblis..." ujar Rias dengan takut wajahnya Ia palingkan dari hadapan Naruto Ia merasa seperti seorang anak yang ketahuan mencuri.

"Hah seius?! Jadi... Jadi... Aku sekarang seorang Iblis!?"

Rias menggelengkan kepalanya.

"Tidak... Kau masih tetap seorang manusia... Tidak ada satupun bidak ku yang tersisa yang cocok denganmu... Memangnya kenapa jika kau benar-benar menjadi Iblis?"

"Huh,Syukurlah...! Karna aku terlahir sebagai manusia Dan aku ingin mati sebagai manusia juga, aku akan tetap menjalani takdirku sebagai seorang manusia juga tentunya...!"

Jawaban Naruto membuatnya merasa sakit hati karna itu berarti Naruto menolak untuk menjadi Bidaknya namun disisi lain Ia merasa senang karna itu berarti Naruto tak akan menjadi Bidak Iblis dari Sona dan juga bidak dari Iblis manapun. Jika Ia tak bisa mendapatkanya maka Iblis lain pun juga tak akan bisa.

"Maafkan Aku Naruto... Aku selama ini telah bertindak semauku. Ambisiku untuk menjadi Iblis tingkat tinggi dan mendapatkan Bidak catur yang sempurna terlalu besar... Sehingga Aku tanpa sempat berfikir panjang langsung menjadikan manusia sebagai Bidak-ku. Dan Tanpa sempat tau mereka dapat menerimanya atau tidak."

"Ummm... sudahlah lagi pula tindakanmu selama ini benar kok. Terbukti saat Aku melihat Issei dan Asia kau menolong dan merubah takdir mereka menjadi Iblis... Meskipun mereka telah berubah menjadi Iblis namun hati mereka tetap berhati manusia."

"Terima kasih... Aku baru tahu jika kau peduli akan mereka berdua."

"Hohoho... Kau meremehkanku?"

"Tidak, hanya saja Aku seperti melihat sisi lain darimu." dan aku menyukainya lanjut Rias dalam hati.

"Benarkah? Apa aku terlihat tampan jika seperti itu?"

"Fufufu... Baka... Tentu tidak ada hubunganya dengan itu."

"Hehehee... Issei dan Asia telah menjadi Iblis dan itu berarti mereka akan mempunyai tujuan dan cita-cita baru..." Ujar Naruto terbukti dengan melihat keahlian dan tekat Issei yang semakin kuat.

"Yaa itu benar... Issei bercita-cita selain ingin menjadi raja Harem Ia juga ingin menjadi Iblis kelas atas. Dan Asia ingin menjadi orang yang berguna bagi teman-temanya... Lalu bagaimana denganmu?"

"Heh?"

"Iyaa... Kau telah tinggal disini cukup lama lalu apa tujuan barumu?"

Naruto terdiam sejenak, perkataan Rias membuatnya kembali teringat akan perkataan Mio. Cita-citanya sebagai seorang Hokage apa mungkin masih dapat Ia raih?, Ia masih berharap akan hal tersebut, namun jika hanya kehampaan yang dapat Ia genggam lalu apa yang akan Ia raih?

"Aku... Aku tidak tahu. Untuk saat ini aku belum dapat mengetahui apa yang akan menjadi tujuanku."

Dan itu memang benar, hatinya masih bingung mencari jalan mana yang akan Ia pilih. Labirin... Disitulah Ia berada. Serumit-rumitnya jalan tersebut namun yang pasti akan Ia temukan jalan keluar yang akan menjawab apa yang Ia cari dan yang akan menjadi pencerah untuk jalan hidupnya yang sedang gundah.

.

.

.

...

.

.

.

.

Bersambung...

A/N : Kojiro-sensei? Itu OC dari planet mana ya? Hehehe...

Thanks to : Kalian semua yang telah membuang-buang waktu berharga kalian hanya untuk membaca fic Mainstream dari Author super lelet ini.

Kalau di IFA ada nominasi Author paling lelet buat up cerita silahkan Vote saya. ^^ keterlambatan Update cerita itu ada alasanya kok.

di real world

Block yang datang tiba-tiba

yang tiba-tiba Hilang. Ini yang sangat mempengaruhi gaya bahasa Saya yang dapat berubah. Kalau kalian jeli pasti kalian tahu.

karna sakit. Cuaca di tahun ini emang enggak menentu ya? :)

ulang Novel HS DxD

referensi dari Fic fav saya, soalnya saya kebingungan Chap ini ada inti ceritanya atau enggak makanya secara enggak sengaja saya jadi kepanjangan buat Nulis cerita di Chap ini.

...

Oke segitu dulu dari saya... Saya akan berusaha Memberikan yang terbaik dengan Skill yang ada buat menghibur waktu luang kalian.

Dan Maaf kalau kalian kecewa akan cerita di Chap ini. Jelek? Pasti... Karna saya bukan Author Pro seperti mereka, Saya hanya Author baru yang masih butuh banyak belajar lagi.

Setiap Chap yang saya tulis saya selalu berdoa semoga saya diberikan ilmu baru untuk menulis cerita yang lebih baik.

Terima Kasih.