Shinobi? Awalnya Rias takpercaya dengan eksistensi Mereka, namun kali ini dia dibuat percaya bahwa keberadaan Mereka masih ada, dengan dibuktikan-nya oleh keberadaan salah satu dari Mereka.
Naruto, seorang Remaja yang Ia temukan tergeletak di depan pintu ruangan klubnya merupakan salah satu dari Shinobi yang masih ada didunia. Tapi seiring berjalanya waktu semua tentang Naruto mulai terungkap.
.
.
.
.
.
Disclaimer : © Masashi Kishimoto & Ichie Ishibumi
Rated : T
Genre : Supranatural, Drama, Aksi dan Echi.
Warning : Mungkin OOC, Typo, Pasaran, Mainstream (Pasti), Semi canon, Bikin mata perih.
Chapter 3 : She's Out Of Her Mind.
Sudah satu bulan sejak tragedi akan Asia terjadi dan semua ingatan yang mengerikan mulai dapat mereka enyahkan dengan hal-hal baru yang meyenangkan akan kehidupan sehari-hari yang penuh warna cerah hingga mampu membuat hati menjadi tenang kembali. kemunculan akan Musuh-musuh baru tidak lagi pernah terlihat akan bergerak untuk mengusik mereka. meski begitu Mereka tidak bisa bersantai-santai menikmati hari dengan bermalas-malasan saja. Musuh diluar sana masih bersembunyi. Mereka harus memfaatkan waktu yang ada untuk berlatih mengasah kekuatan mereka agar semakin tajam. Hingga saat mereka terlibat dalam sebuah hal yang tidak diinginkan, maka ini lah saatnya untuk maju dan menghadapi, bukannya berbalik badan dan berlari. Hunuskan pedang kearah musuh dan maju menyerang.
Hari ini masih terlalu dini untuk dikatakan sudah pagi. Pukul 4.30... Dan juga terlalu pagi untuk hal yang dikatakan sebagai bangun tidur. Issei menarik nafas dalam-dalam dan berencana untuk tidur kembali namun...
"Tidak! Aku ingat sekarang! Sudah waktunya! Aku harus bersiap-siap!"
Dengan semangat yang secara tiba-tiba merasuki tubuh dan jiwanya Issei mulai melangkah turun dari ranjangnya dan berjalan menuju jendela. Ia melihat kebawah dari jendela, disana telah berdiri seorang perempuan cantik berambut merah, Rias Gremory yang mengenakan jersey merah berdiri di gerbang rumahnya dan saat Ia geser sedikit pandanganya disitu juga berdiri seorang laki-laki berambut pirang dengan wajah mengantuknya, Uzumaki Naruto. Teman satu kelasnya. Yang sepertinya Dia akan ikut latihan bersama atau mungkin dipaksa oleh Bochou-nya untuk ikut? Karna Ini adalah kali pertama Ia melihat teman Ninjanya ikut latihan bersama.
Rias Gremory ketua dari Klub yang Ia ikuti melihat ke arahnya setelah menyadari bahwa Ia melihat ke arahnya. "Cepat!" Teriaknya dari luar.
"Aku kesana sekarang!" balas Issei Dengan cepat Ia mengganti baju piyamanya dengan jersey olahraga yang berada didalam lemari pakaian, mencuci muka agar Ia merasa lebih segar dan setelah itu meninggalkan ruang kamarnya untuk melakukan latihan pagi yang belakangan ini sudah menjadi rutinitas baru dari Bochounya.
.
.
.
.
.
DRAP DRAP DRAP!
Berlari Maraton adalah salah satu olahraga simpel yang paling banyak digemari Orang-orang untuk dilakulan dipagi hari. Kita hanya perlu berlari santai untuk membakar kalori dan melatih staminan. Tapi akan lain namanya jika maraton dilakukan dengan lari bertempo cepat seperti Orang didepanya.
"Haaa...haaaa...haaa... Hey Naruto-san! tidak usah cepat-cepat!"
Berlebihan memang karna ini lebih terlihat seperti balapan lari dari pada melakukan maraton santai. Ditambah lagi dengan instruktur dadakanya yang selalu mengomel jika Ia sedikt saja memperlambat tempo larinya. Oke sekarang bukan lagi seperti sedang balap lari, melainkan lebih tepat disebut dengan Pelatihan Militer.
"Issei, jangan lari dengan lembek seperti itu. Akan kutambahkan 10 putaran lagi setelah ini." Ujar bochounya dari belakang.
Ia kehabisan nafas ketika berlari di daerah perumahan ini. Di belakang tubuhnya ada Rias-Bochou yang menyemangatinya dari atas sepeda yang dikayuhnya sembari mengomel tanpa ampun. Sedangakan di depanya ada Naruto yang berlari dengan begitu ringan meninggalkannya.
King-nya melakukan pelatihan ketat seperti biasanya. Sekitar satu bulan yang lalu semenjak Ia dilahirkan kembali sebagai seorang iblis dari jiwa manusia. Dan menjadi iblis pelayan dari Rias Gremory.
Iblis dipanggil oleh manusia, dan mengabulkan permohonan mereka dengan harga tertentu. Seperti itulah bekerja menjadi hal utama dalam kesehariannya. Kingnya juga bukan pengecualian. berjalan menuju cita-citanya selangkah demi selangkah. Cita-citanya? Itu sudah jelas! Dia berteriak
"Aku akan menjadi seorang Raja Harem...!. haaaa...!"
"Baka...! jangan berteriak yang tidak jelas. Sebelum kau bisa menjadi raja harem, susul aku terlebih dulu...! Jika bisa baru Aku akan yakin cita-cita anehmu akan terwujud!"
Balas teman pirangnya dengan sedikit berteriak sembari Berlari didepanya.
"Raja Harem? Itu benar. Untuk itulah, kamu harus melakukan latihan dasar setiap hari. kamu harus menjadi kuat, bahkan walaupun itu butuh waktu... Untuk sekarang kamu cobalah untuk menerima tantangan dari Naruto."
Ujar Kingnya yang mendukung untuk lebih membuatnya membara akan panas api dari hal yang bernama Semangat.
"Haaa... Haaa... Demi Oppai...! Baiklaaaaah...!"
Dengan stamina yang seolah terisi kembali Ia mulai menambah kecepatan larinya dan mulai mengejar Naruto yang berada Didepanya.
"Ooorryaaaa...!"
Di dunia iblis kekuatan adalah hal mutlak. Sederhananya, semakin kuat dirimu, semakin mudah kau naik derajat. Yah, kau memang bisa mengangkat derajatmu dengan pengetahuan, kemahiran berdagang (Kontrak), atau kemampuan lain tapi untuk Issei Ia tidak punya bakat dalam hal-hal seperti itu pada saat ini. Karena itulah Ia harus meningkatkan stamina-nya. Karena itulah Ia melakukan latihan setiap hari. Dengan bantuan dari pelatihan Kingnya yang bagaikan instruktur dari Sparta.
"Aku tak akan memaafkan pelayanku jika lemah!"
Seperti itulah Rias Gremory, Kingnya tidak memberikan ampun untuk latihan pagi dengan Prosedur latihan seperti lari 20 kilometer dan setelah itu berlari cepat untuk 100 putaran lebih. Iblis adalah mahluk malam yang akan dapat menggunakan kekuatan mereka dengan sempurna pada malam hari ketimbang disiang hari tapi tidak begitu. Latihan di pagi hari dimana Mereka lemah akan membuat Mereka lebih kuat secara mental juga. Itu bagaikan Kamu mencoba mengangkat beban yang sudah ditentukan tapi saat sebelum untuk kamu coba mengangkatnya beban malah ditambah terlebih dahulu menjadi lebih berat lagi. Jika kamu berhasil maka beban tersebut akan ditambah dua kali lipat dan seterusnya. Jadi hasil latihan akan diperoleh berkali lipat. Semakin kuat dirimu maka semakin berat pula beban latihanmu. Percaya bahwa latihan keras tak akan membuatmu kecewa akan kempuan dirimu yang sekarang.
Di awal latihan memang terasa berat namun Belakangan ini Issei sudah dapat melakukannya dengan cukup mudah. Itu adalah bukti kalau kekuatan fisik dan staminanya mulai berkembang secara bertahap setiap harinya.
"Haaa... haaa..."
Mereka berdua berlari hingga mencapai sebuah Taman sebagai tujuan mereka untuk berhenti dan beristirahat. Usahanya untuk mengejar seorang Ninja masih terlalu dini untuk dapat terwujut. Naruto yang sejak kecil sudah menjadi seorang Ninja tentu lebih mudah untuknya berlari sprint seperti ini karna otot-otot dikedua kakinya sudah cukup sempurna untuk melakukan hal itu.
"Hahahaa... Masih butuh waktu seratus tahun lagi untuk bisa mengejarku Issei!"
Ia lihat teman Ninjanya tertawa mengejeknya. Namun biar saja Dia tertawa untuk sekarang namun yang pasti suatu hari keadaan akan menjadi berbalik.
"Haaaa... Haaaa... Kau curang Naruto-san! Baru bilang seperti itu ketika Kau sendiri sudah berlari didepan, haaa... Haaa..." ujar Issei disertai nafas lelah yang keluar dari mulutnya.
Setelah maraton pagi dan lomba sprint dadakan, Rias-Bochou memintanya untuk melakukan push-up di taman dengan dirinya duduk dipunggung untuk menambah beban. Sedangkan dengan Naruto Ia sedang sibuk melakukan latihan melempar Kunai dengan sebuah target yang dibuat menggunakan sihir dari Kingnya pada sebuah pohon.
Rias memperhatikan Naruto sembari duduk diatas punggung Issei yang sedang melakukan Push-up.
"Bagaimana Naruto? Apa senjata itu cocok denganmu? Jika tidak Aku akan menyempurnakan-nya lagi..."
Kunai, Rias tahu itu adalah salah satu senjata andalan dan paling sering digunakan oleh para Ninja untuk bertaruang. Dengan bentuk menyerupai ujung tombak, selain dipergunakan seperti Pisau Kunai juga dapat dipergunakan dengan cara dilempar kearah musuh.
Ia sengaja membuatnya untuk Ninja pirang tersebut untuk berjaga-jaga jika hal yang tidak di-inginkan akan terjadi, sedikit ada persaan khawatir pada dirinya semenjak kebodohan Naruto yang melepaskan begitu saja salah satu musuh bebuyutan bagi kaum Iblis, Datenshi... Sosok Datenshi yang menbuatnya Was-was seperti Reynare adalah kelicikan dan ambisi kotornya.
"Tidak perlu ini sempurna kok." Jawab Naruto kali ini Ia terlihat kelelahan karna Ia melempar Kunai tersebut dengan melapisinya dengan Chakra.
Rias sangat tertarik dengan aura kekuatan berwarna biru tersebut, Naruto pernah mengatakanya jika Aura tersebut bernama Chakra, Ia melihat chakra tersebut seperti memberikan daya hancur lebih, terbukti saat Kunia besi yang digunakan Naruto menghasilkan bekas sayatan lebar saat besi yang mirip dengan ujung tombak tersebut menancap pada batang pohon yang menjadi targetnya. Ini seperti memberikan daya hancur dua kali lipat lebih berbahaya jika dipergunakan.
"Ngomong-ngomong. Bagaimana bisa kau membuatnya hingga begitu mirip seperti kunai asli?"
"Besi dan Sihir..." jawab-nya singkat dan padat membuat Naruto keringat jatuh betapa simpelnya jawaban itu yang sama simpelnya dengan meludah di banding bicara.
"Ayo Issei... Kenapa yang bergerak hanya pinggulmu?" kali ini perhatian Rias beralih kearah Pionya yang sedang berlatih keras dibawahnya. Ia tak akan membiarkan pelatihan ini berjalan santai.
PLAK
"Aduh!"
Rias memukul bokong Issei Saat Ia menyadari gerakan push-up Issei yang taksempurna. Yang dapat diasumsikan Itu karna pikiran mesum Issei yang tiba-tiba keluar saat punggunya merasakan sensasi lembut dari pantat-nya.
"Kamu memikirkan hal mesum. Terlihat dari gerakan pinggulmu yang vulgar."
"Itu... 68... Karena... Kalau aku memikirkan Buchou yang menunggangiku... 69 ... Aku bisa jadi kuda sungguhan...70!"
"Bisa berbicara sambil melakukan push-up. Sepertinya kamu semakin kuat Issei. Jadi perlukah kutambah seratus lagi?"
Issei ingin menjawab namun disela oleh Naruto.
"Jangan! Aku tidak yakin Issei akan mampu, lihatlah dia sepertinya mulai sekarat-ttebayou..." Ujar Naruto yang telah berhenti untuk berlatih dan ikut melihat kearahnya.
"Ummm... Baiklah sekarang waktunya Istirahat!"
Rias kemudian turun dari punggung Issei yang langsung roboh tengkurap dengan mulut yang terbuka lebar mencari oksigen.
"Waauw...! Kau cukup ahli dalam melakukan hal ini." Ujar Rias menghampiri Naruto dan melihat target buatan yang menjadi fasilitas berlatih untuk Ninja pirang yang Ia temukan ini. Keahlian yang dimiliki Naruto memang mengagumkan untuk ukuran seorang manusia, unik? Pasti Ia bisa saja mendaftarkan Naruto kedalam sebuah ajang pemecah rekor dunia.
"Muehehehee... Tentu saja. Ehem...! Ngomong-ngomong Aku haus nih."
"Ummm. Sepetinya sebentar lagi Dia akan datang."
Tak lama setelah Rias mengatakan itu, sebuah suara feminim terdengar menyapa pendengaran mereka.
"Permisi." Itu adalah Asia. Perempuan cantik berambut pirang mantan Birawati yang saat ini telah menjadi Iblis.
"Isse-san, buchou-san! dan Naruto-san Maaf saya terlambat!" Ujaranya dari tanganya Ia membawa sesuatu. Ia juga mengenakan jersey olahraga.
.
.
.
.
.
"Issei-san silahkan teh hijau-nya.
"Terimakasih Asia."
"Ciee... Ciee...! Jadi cuma Issei saja nih yang ditawarin?" Celoteh Naruto membuat Issei dan Asia nampak salah tingkah dengan adegan tersedak dari Issei yang sebelumnya sedang khusyuk menyeruput teh penuh akan ketulusan buatan Bishoujo mantan birawati tersebut.
Saat ini mereka berempat sedang beristirahat dengan menikmati teh hijau buatan Asia. Setelah melakukan latihan keras akan lebih sempurna jika meminum sesuatu yang dingin dan menyegarkan, Namun tak masalah dengan Teh hijau walau bagaimanapun mereka menghargai akan apa yang Asia bawakan.
"Sepertinya kita berdua hanya dianggap obat nyamuk deh." Naruto kembali berceletuk sambil menyikut lengan Rias yang duduk disampingnya.
"Khu. Khu. Khu... Asia kamu tidak lupakan kan kalau kami juga berada disini?" Rias ikut mengompori.
"Ah! G-gomen Naruto-san, Bochou-san." dan hal tersebut membuat suasana menjadi tambah canggung saat Asia mengeluarkan warna merah pada pipinya karna merasa malu akan perkataan Naruto.
"Hahahaaa... Hey Issei sepertinya ini bisa jadi gosip baru disekolah."
...
Rias ikut tertawa, Ia senang Naruto dan dua bidaknya terlihat begitu akrab dan hangat layaknya sahabat. Tidak! Bukan sahabat ini lebih terlihat seperti kakak beradik. Keluarga? Ya... Cocok sekali mungkin akan terasa lebih nyata jika Asia memanggil Naruto dengan sebutan 'Nii-san' kakak laki-laki yang bersifat ceria akan mampu menghidupkan suasana rumah. warna rambut mereka terlihat mendukung akan alasan tersebut ditambah dengan Issei yang layaknya seperti anak yang paling nakal dalam sebuah keluarga. Membuat mereka terlihat lebih berwarna.
"Ehem. Asia bagaimana kamu bisa berada ditempat ini?" tanya Issei setelah kembali sembuh dari adegan tersedaknya. Apa yang dikatakan Naruto tentang gosip baru disekolah mungkin bisa jadi akan benar-benar terwujut.
"Saya mendengar jika Issei-san dan Bochou-san sering melakukan latihan pagi ditempat ini setiap harinya, jadi Saya juga ikut membantu meski sekarang hanya bisa membuatkan teh saja untuk Issei-san." Jawab Asia, Ia nampak memerah kontras dibagian pipi putihnya.
Mendengar hal tersebut Issei merasa gembira sekaligus terharu karna baru kali ini dalam hidupnya ada seorang perempuan yang peduli denganya, Ia merasa keberuntungan mulai datang saat Ia dilahirkan kembali menjadi Iblis.
"Hiks...Asia! Aku tersentuh oleh kebaikanmu! Aaaah, aku tidak pernah menyangka akan datang hari dimana seorang perempuan mengatakan hal itu padaku!"
Dan Asia kembali memerah karnanya. Kebaikan Asia yang lugu memang bisa membuat siapa saja tersentuh, namun sangat disayangkan sekali jika hal itu dinodai dengan hal yang tidak benar seperti kejadian saat dia dimanfaatkan oleh pihak Gereja dan Datenshi.
.
.
.
.
.
"Huaaa...! Apa...?!"
Issei si Iblis Pion dari Rias Gremory berteriak terkejut akan situasi sekarang, Bochou-nya berencana untuk menempatkan Asia tinggal dirumahnya. Ia merasa amat senang namun Ia juga merasa khawatir karna Ia sendiri takut jika sifat Mesumanya akan menjadi petaka untuk perempuan selugu Asia. Ia sadar jika laki-laki seperti dirinya adalah termasuk dalam kategori Predator dari sudut pandang perempuan, sebenarnya ingin sekali Ia menolak rencana dari Bochounya namun sisi dari dirinya yang lain bersorak untuk menerima dengan segenap hati dan menyetujuinya. Ia mencoba untuk berfikir jernih... Gadis selugu Asia tinggal di jepang, Negara bebas yang saking bebasnya bahkan anak dibawah umur dapat dengan mudah menonton Video porno sehingga nelahirkan Pemuda-pemudi generasi penerus yang berotak mesum, akan sangat bahaya jika Asia yang lugu dan baik hati ini diterkam oleh Predaror berotak JAV yang lebih cabul darinya. Ia berteriak didalam hati dan berdoa semoga Tuhan melindunginya. bukanya terkabul justru rasa sakit akan kutukan mutlak yang Ia terima.
Melihat reaksinya, teman Ninjanya menghampiri dan bertanya "Kau kenapa?" Kenapa katanya?, seharusnya sesama lelaki normal yang sama-sama sedang dalam masa pubertas bisa memahami akan hal seperti ini tentang perempuan yang akan tinggal satu atap denganmu.
Ia sedikit heran akan Naruto jika seandainya teman Ninjanya yang berada di situasi seperti ini apa mungkin Ia selugu itu? Mungkin tanpa berfikir panjang untuk menganggukan kepala setuju untuk menerima perempuan tanpa status yang sah tinggal dirumah yang sama denganmu?
Naruto berbisik kepadanya.
"Oooh... Aku mengerti fikiran apa yang membuat raut wajahmu aneh seperti itu-ttebayou..." Apa sejelas itu? Ia ingin menjawab ansumsi itu namun teman Ninjanya kembali berbisik kepadanya.
"Begini Issei aku tahu kok Kau itu orang mesum yang berbahaya melebihi singa... Tapi Aku percaya kau itu Orang yang baik, Bochou-mu percaya padamu jika Kau itu bisa diandalkan untuk melindungi Asia... Tapi jangan coba-coba untuk melakukan hal Ero kepadanya..."
itu benar, alasan Bochou-nya untuk menempatkan Asia bersamanya adalah semata-mata untuk melindunginya. di bumi sudah bukan lagi sarang bagi Iblis saja yang dominan namun melainkan invasi transparan dari para Malaikat buangan surga musuh brengsek yang paling sering bergesekan dengan bangsa Iblis seperti dirinya dan membuat para Iblis merasa tidak aman akan kehadiran Mereka, para Datenshi mulai secara perlahan membuat markas-markas baru dan memperluas teritori untuk memperkuat diri dengan cara yang kotor dan Mengahapus sifat suci mereka dengan dendam, kenangan dari sebuah peperangan.
Semuanya sedang berkumpul di Ruang keluarga, Kedua Orangtuanya sedang berdiskusi dengan Bochou-nya mengenai Asia yang akan tinggal dirumah ini. Tidak perlu berbelit-belit untuk menyetujinya, Ayahnya terlihat bertekuk lutut menurut kepada bochounya mungkin hari ini Asia akan segera resmi menjadi angota baru dari keluarga kecil ini. Jika setelah diskusi ini selesai Ia akan segera berlari menuju kamarnya Ia berencana untuk membakar semua isi Peti harta karun berisikan video porno kesayangan-nya yang selama ini Ia sembunyikan. Ingin sekali Ia menangis walau bagai manapun setiap episode-episode dan versi di semua video cabul tersebut memiliki kenangan indah yang telah mewarnai masa pertumbuhan hormonya hingga sekarang. Ini semua gara-gara Ayahnya yang dengan brengseknya ceplas-ceplos dihadapan seorang perempuan polos mengenai Peti harta pribadi miliknya.
"Oka-sama, dan Otou-sama, karena alasan ini, maukah kalian mengijinkan Asia tinggal disini?"
Buchou-nya meminta hal yang tidak mungkin pada kedua orangtua-nya. Kemudian mereka berdua saling berbisik sambil melihat wajah Asia. Dan Kemudian, mereka juga memandang kearahnya. Ayahnya berdehem dan mulai menanyakan sesuatu.
"Asia-san, kan?"
"Iya, Issei Otou-sama." Asia menjawabnya dengan grogi dengan semu merah yang peralahan muncul dikedua pipi putihnya.
"Otou-sama...? Anak perempuan asing memanggilku ayah berulang kali. Bagaimana ya? Rasanya sangat hangat dihatiku."
Ayahnya menjaadi emosional, tentu saja dipanggil Ayah oleh perempuan cantik pasti akan membuatnya bahagia. Bahkan Issei pun pasti akan ikut bahagia kalau ada perempuan yang memanggilnya dengan sebutan Onii-sama.
"Ehem! Meskipun kamu ingin tinggal disini, tetapi disini ada monster dengan nafsu seksual tinggi, yaitu anak bodoh kami. Sayang sekali, tetapi bukankah lebih baik kalau kamu tinggal di rumah anak perempuan yang sebaya denganmu? Kalau sampai terjadi sesuatu, itu akan sangat memalukan."
Ayah berengseknya ini tidak menahan diri untuk membongkar Aib anaknya sendiri. Apa maksudnya dengan monster dengan nafsu seksual tinggi? Ya... memang tidak terlalu salah jadi Ia tidak bisa mengelak. Dan seperti kata ayahnya, kalau seorang perempuan ingin tinggal, sebaiknya memang di rumah khusus perempuan saja. Ibunya juga menyetujui hal ini. Kalau perempuan pirang cantik itu tinggal bersamanya disini, tidak akan ada yang tahu apa yang akan terjadi. Orang tua-nya khawatir ini akan jadi masalah internasional. Tetapi Ia berjanji untuk tidak akan berbuat apapun.
Buchou nya tidak bergeming oleh penolakan orang tuanya dan dia masih bebicara sambil tersenyum. Waktu menjadi bertambah panjang untuk Berdiskusi hingga akhirnya Kedua Orang tuanya benar-benar dapat menerima Asia sebagai anggota keluarga baru Hyodou.
.
.
.
.
Merah dan kuning dua warna ini membuat kita mengingatkan akan pasangan legendaris dari sebuah desa bernama Konoha, Uzumaki Kushina dan Namikaze Minato, dua orang yang berbeda namun sama-sama penting dalam konoha.
Si merah yang Notabenenya adalah Jinchuriki Kyuubi menjadi incaran dari pihak lain dari Desa musuh, begitu pula dengan si Kuning yang Notabenenya Hokage ke empat adalah salah satu Shinobi terhebat yang ditakuti para lawanya,
lalu apa hubunganya hal tersebut dengan dua Orang ini? Tentu saja ada... Yakni status mereka yang telah menjadi sepasang Suami Istri, tidak ada yang menyangka jika Si merah Gadis kasar dan tempramen akan berjodoh dengan sikuning yang lembut dan bersifat dewasa. cinta mereka yang kuat melebihi baja telah menyatu membuat musuh mereka menjadi semakin gigit jari, tidak ada lagi rencana yang mampu untuk menyentuh si Merah untuk diculik. Mereka semua justru berakhir tragis akan serangan si Kuning yang begitu sigap melindunginya. Kekuatan cinta begitu luar biasa, bahkan orang lemah dapat secara instan menjadi kuat akan Hal tersebut.
Itu lah Cinta, abu-abu dan sulit ditebak oleh siapapun, dan juga dapat merubah siapapun bagaikan sihir.
"Ummm... Rias... Aku sedikit khawatir akan rencanamu mengenai Asia."
Suara serak khas remaja disampingnya membuatnya mengalihkan perhatian kepada cowok pirang disampingnya.
Saat ini Ia dan Naruto sedang berjalan menuju kearah jalan pulang masing-masing melalui gang perumahan penduduk setelah selesai memberikan pelatihan untuk Pionya dan rencana untuk Asia.
"Bukanya kau tadi percaya padanya juga?"
Ia sedikit heran dengan Naruto yang tadi sebelumnya mempercayai Issei untuk bisa melindungi dan membimbing Asia. Perkataan Naruto yang Sempat terdengar di pedengaran iblis tajamnya terdengar meyakinkan tapi kenapa sekarang Ia jadi bimbang?
"Eto... Iya aku percaya, hanya saja Orang mesum yang buas seperti Dia membuatku menjadi kepikiran-ttebayou."
Memang sih, Jika orang polos dihadapkan pada Orang berotak Jav kronis bisa menjadi masalah internasional seperti yang dikatakan Ayah Issei tadi, Itu sama saja seperti berenang dengan sekelompok ikan Piranha yang lapar. Tapi hormon lelaki yang baru beranjak dewasa tidak bisa disalahkan.
"Sudahlah lagi pula hal mesum yang Kau fikirkan tidak akan terjadi, dasar. ternyata kau bisa berfikiran seperti Issei juga...? Khu khu khu..."
Issei itu mesum Kronis tapi dia percaya seperti yang dikatakan Naruto tadi jika Pion-nya itu orang baik yang tak serendah hewan untuk memangsa hewan lain yang baru saja lahir dan tak tahu apa-apa. Dan lagi pula kenapa Naruto dapat langsung berubah untuk berfikiran Negativ seperti itu? Mungkin sifatnya yang hati-hati namun terkadang bimbang seperti itu membuatnya menjadi bingung sendiri. Di Awal memilih A dan kemudia diakhiranya memilih B.
"Berfikiran seperti Issei? M-maksutmu Aku ini mes-... Tidak!"
Naruto langsung menggelengkan kepalanya beberapa kali Ia membayangkan dirinya seperti mendiang Gurunya si petapa genit dengan wajah cabulnya melakukan hal yang Plus-plus.
Dapat Rias lihat semburat merah pada wajah berhiaskan tiga pasang goresan kumis kucing di hadapanya ini, Ia tertawa setelah mengetahui jika Naruto termasuk orang yang lugu dan bodoh mengenai hubungan antara Pria dan wanita. Ini adalah fakta baru yang Ia dapatkan lagi mengenai Ninja Pirang dihadapanya.
"Tenang saja, itu semua telah ku fikirkan secara matang sebelumnya." tentu saja Rias tak sembarangan untuk melakukan kehendaknya, yah walaupun terlihat sangat Krusial dan Fenomenal.
"Huuuh... Aku harap Orang tua Issei dapat memberikan pengawasan yang lebih ekstra-ttebayou."
"Khu khu khu, Aku kan sudah bilang kepada mereka untuk menganggap Asia sebagai seorang... Istri... Untuk... Hhhhh..." tiba-tiba Rias menjadi teringat akan sesuatu saat mengucapkan kata 'Istri', Sesuatu hal yang belakangan ini selalu memenuhi otaknya, Sesuatu yang telah Ia lupakan dan
menganggapnya tak ada Namun..., Masalah itu muncul kembali, menunjukan jika Masalah itu masih ada hingga Membuat gagal untuk sekedar menyelesaikan perkataanya. Wajahnya berubah murung dan sendu takdirnya sebagai seorang pewaris Gremory sungguh tak disangka memberinya beban yang cukup pahit kepadanya. Ia terus memikirkan masalah ini hingga membuatnya merasa sedikit sakit pada bagian kepala.
Naruto yang menyadari perubahan raut dari wajahnya tersebut sontak bertanya. "Kau kenapa?"
Rias hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum lemah
"Tidak apa-apa, Huuufff... Aku hanya sedikit agak lelah setelah latihan tadi."
Ia mencoba berbohong untuk menutupi masalahnya, beruntung baginya karna Naruto termasuk tipe orang yang kurang Peka dalam memahami seseorang tertentu.
"Oowh, pantas saja wajahmu berubah pucat."
Rias meraba-raba wajahnya sendiri dan merasakan panas di area wajahnya, Oh mungkinkah Ia sakit?
Naruto membungkukan tubuhnya dan berkata "Naiklah! Aku khawatir jika ditengah perjalanan Kau malah jatuh pingsan."
Rias terkejut akan perlakuan Naruto kepadanya, Entah kenapa Ia sekarang menjadi memiliki sandaran saat Ia melihat kedua bahu milik Ninja pirang dihadapanya, dengan segera Ia menurut akan perintah Naruto, Ia merapatkan tubuhnya dan mengalungkan kedua tanganya di leher Naruto, Aroma jeruk yang menenangkan membuatnya sedikit rileks saat wanginya tercium di indra penciumanya.
"Huh...! Kau berat juga ya...! Hehehee..."
Ia tak terima akan perkataan Naruto barusan, yah walaupun itu hanya candaan namun bagi semua Wanita berat badan adalah hal yang terlarang untuk dikatakan. Rias mencubit salah satu pipi yang tergoreskan kumis kucing yang saat ini menggendongnya sebagai balasan tanpa memperdulikan teriakan reflek kesakitan dari sipemiliknya.
"Kau tau? Berat badan adalah hal yang sensitiv untuk dibahas bagi para gadis."
"Oke-oke... Aku tak akan membahasnya lagi...! Cubitan mu itu ternyata menyakitkan!"
"Khu khu khu... Itu sih salahmu sendiri, Kau harus tau juga tangan seorang gadis dapat bergerak sendiri tanpa perintah dari sipemiliknya jika sipemiliknya merasa tersinggung."
Dengan perlahan Ia mengusap-usap pipi Naruto yang sebelumnya dicubit oleh dirinya sendiri, mencoba untuk meredakan rasa sakit yang Ia yakin masih berdenyut-denyut yang diderita Naruto.
"Hah? Penjelasan macam apa itu? Lagi pula mana ada hal seperti itu?"
"Tentu saja itu sungguhan... Sudahlah aku lelah membahasnya." Setelah menyelesaikan kalimatnya, Rias menyandarkan kepalanya di bahu Naruto. Rasa nyaman yang Ia rasakan membuatnya bertambah betah untuk terus seperti ini.
"Ngomong-ngomong kau mau ku antar sampai kemana?"
Rias kembali membuka kelopak matanya yang sebelumnya terpejam. Ia berfikir sejenak... Untuk Moodnya yang saat ini penuh dengan fikiran. Jika ke Ruangan klub mungkin malah membuatnya merasa sedikit kesepian dan semakin membuat fisiknya melemah karna terus-terusan merasa stres, Ia membutuhkan teman untuk saat ini jadi keputusanya ialah...
"Bawa aku ke Kuil dibukit belakang sekolah, Aku ingin bertemu Akeno."
"Siap Boss...!"
Dan setelah itu Ia kembali memejamkan mata dan melanjutkan kembali untuk menikmati sensasi gedongan Naruto yang bersemangat bercampur akan buaiyan-nya yang menenangkan hati.
Tak jarang setiap orang memperhatikan mereka berdua saat di perjalanan, banyak yang menganggap mereka layaknya sepasang Kekasih yang sedang di mabuk asmara, "Huh... Indahnya masa muda...!" ujar salah satu orang yang melihat mereka.
.
.
.
.
Hari ini Akeno mengikat rambutnya menjadi lebih tinggi dari biasanya dan menggulung-nya, Ia berencana untuk melakukan bersih-bersih pada Kuil tempat tinggalnya ini, tentunya dengan bantuan Naruto. namun pagi-pagi sekali sahabat sekaligus Kingnya datang berkunjung kemari, tujuanya yaitu untuk mengajak teman satu atapnya untuk menemaninya berolah raga sebagai alasanya, sungguh tumben(?) sekali jika Rias mau mengajak Naruto biasanya Rias selalu melakukan Olahraga dengan Pion-nya saja. Namun, Ya sudahlah dengan berat hati Ia mengizinkan Naruto untuk ikut bersama dengan Kingnya dan dengan terpaksa juga Ia harus melakukan kegiatan bersih-bersihnya seorang diri.
Beberapa jam setelah Ia menyelesaikan kegiatanya, Ia mendengar Suara familiar yang mengucapkan Salam dengan semangatnya. Beberapa hari hidup dengan Orang baru tentu saja Ia sudah hafal betul siapa pemilik suara Khas yang terdengar dari arah depan Kuil ini.
"Tadaima...!"
Dengan segera Akeno membalas salam tersebut dan melangkah untuk menyambut-nya.
"Okaeri...!"
Ia melihat Naruto baru saja pulang namun Dia tak sendiri, dari balik punggunya terlihat uraian rambut merah Rias dengan wajah pulasnya nyaman tertidur diatas gendongan laki-laki pirang tersebut. Mungkin kah bangun di pagi buta membuat Rias merasa kurang tidur?
"Ara-ara... Kenapa Bochou bisa sampai tertidur begini Naruto-kun?"
Seiring berjalanya waktu tentu membuat Akeno menjadi semakin Akrab dengan Naruto, tidak lagi memanggil dengan nama Marga, bibir tipisnya sudah mulia merasa lebih nyaman untuk memanggil nama kecil Naruto dengan tambahan Sufix 'Kun' yang menandakan kedekatan mereka berdua.
"Entah lah, Dia hanya bilang kepadaku jika Ia sedang kelelahan. Jadi ya sudah Aku menggendongnya saja." Ujar Naruto.
Dengan segera Akeno meminta Ninja pirang tersebut untuk membawa Rias menuju kamarnya, di baringkanya tubuh molek tersebut di atas Futon lalu setelah itu menutupinya dengan selimut karna hari ini cuaca mendadak mulai turun hujan dan membuat suhu udara sekitar menjadi lebih dingin, pemanasan Global memang mulai menunjukan efeknya. Beruntung sekali mereka berdua sampai ditempat ini sebelum ribuan rintikan Air hujan jatuh membasahi mereka.
Akeno memeriksa suhu tubuh Rias, karna sebelumnya Ia merasa heran karna wajah dari sahabatanya ini tak nampak berwarna, hanya pucat dan kering saja yang mewarnai wajah cantiknya.
"Panas sekali...?"
Akeno menarik tanganya kembali setetelah sebelumnya Ia pergunakan untuk memeriksa kondisi Bochounya. Suhu tubuh yang melebehi batas normal untuk orang sehat membuatnya berasumsi jika Bochou-nya terkena demam.
"Naruto-kun, Aku akan mengambil kompres dan Obat, Jadi Kau tolong temani Dia ya?"
Setelah mendapat Anggukan dari laki-laki pirang disampingnya dengan segera Akeno bergegas keluar, untuk menyiapkan beberapa obat dan peralatan yang Ia sebutkan tadi.
...
"Hmmm... Ternyata Iblis juga bisa terserang Flu-ttebayou..."
Naruto menghela nafas cukup panjang, Ia kembali medapat fakta baru mengenai Iblis yang bisa terserang penyakit. Rias pernah bilang kepadanya jika Iblis memiliki fisik dan metabolisme tubuh yang berkali-lipat lebih kuat dari manusia, namun kenapa sekarang Iblis juga dapat terserang penyakit? Naruto hanya mengedikan bahunya tidak tahu.
"Egh...!"
Di tengah lamunanya, tanpa sengaja Naruto mendengar erangan yang keluar dari bibir tipis gadis berambut merah tersebut yang membuat dirinya mengalihkan perhatian kearah wajah gadis tersebut yang tengah meringis, dengan perlahan Naruto menempelkan salah satu tanganya pada dahi gadis Iblis tersebut seperti yang dilakukan Akeno sebelumnya dan secara perlahan Naruto mulai mengelus-elus rambut merah tersebut untuk memberikan ketenangan.
"Huh, Kau sedang mimpi buruk ya?"
Hanya hening yang menjadi jawaban akan pertanyaan Naruto barusan, Elusan tanganya berhasil membuat Gadis iblis berambut merah ini menjadi lebih tenang dengan wajah yang kembali seperti seorang putri yang sedang tertidur pulas, Suara dengkuran halus keluar menggantikan suara erangan akan mimpi aneh yang mengganggu tidurnya.
"Bagai mana? Apa kondisinya mulai membaik?"
Suara feminim Akeno membuatnya terkejut dan secara sepontan menarik kembali tanganya, Dapat Naruto lihat perempuan berambut gelap tersebut telah berdiri di ambang pintu dengan membawa baskom Air di kedua tanganya.
"Haaahh... Kau lebih mirip hantu dari pada Iblis Akeno...!"
Tentu Naruto sedikit jengkel karna Ia sudah katakan berkali-kali untuk menghilangkan kebiasaan itu kepada Akeno. Kebiasaan yang menurutnya seperti Hantu dengan muncul secara tiba-tiba Namun hal itu tak merubah kebiasaan gadis tersebut sedikitpun, dan terpaksa Naruto sendirilah yang harus mulai terbiasa akan kebiasaan Akeno yang satu ini.
Akeno hanya terkikik akan reaksi lucu dari Naruto. Baginya itu sudah cukup untuk menjadi sebuah hiburan untuknya.
"Fufufu... Gomenasai..."
Setelah mengatakan Maaf Ia melangkah mendekat menghampiri Rias yang masih berbaring di atas Futon tersebut, dengan cekatan Ia menaruh handuk yang sebelumnya Ia basahi dengan Air dingin untuk mengkompres dahi Bochounya.
"Aku lupa jika Kita tidak memiliki stok Obat-obatan." Ujar Akeno sembari membenahi letak kompres pada dahi Bochou-nya.
Sebelumnya Akeno sudah mengecek kotak yang biasa dipergunakan untuk menyimpan persediaan Obat, memang masih ada beberapa Obat yang tersisa, Namun setelah dicek pada tanggal kadaluarsanya ternyata sudah tak layak untuk dikonsumsi lagi. Akeno sempat berfikir jika Iblis berdarah Datenshi seperti dirinya tentu tidak memerlukan Obat seperti ini, karna kekebalan tubuhnya lebih bagus dari pada Manusia, itulah sebabnya Ia tak terlalu perduli untuk memperbarui Stok obat-obatan dirumahnya. Sedia payung sebelum hujan, Ia tidak mengindahkan salah satu kalimat pepatah itu. Sungguh tak Ia sangka jika virus penyebar penyakit dibumi dapat menyerang Iblis dan membuatnya jatuh sakit.
"Baiklah! Kalau begitu Aku akan pergi untuk membelinya..."
Mendengar hal itu Dengan segera Naruto mulai beranjak bangun, Namun salah satu tangan Akeno dengan cepat menahanya untuk tidak pergi.
"Tidak perlu... Aku akan menggunakan tehnik penyembuhan Iblis."
Ia lihat Naruto mulai kembali duduk ditempatnya semula disertai wajah heran. Ia tentu saja khawatir jika laki-laki disampinya ini malah justru terkena Flu juga, Hujan diluar cukup deras ditambah angin dingin yang bertiup cukup kencang, penggunaan payung tidak akan efektif karna kuatnya dorongan angin yang berhembus mampu membuat payung berubah cekung dan beralih fungsi sebagai penampung Air hujan dan juga di tambah jarak dari Kuil ke Apotik cukup jauh.
Menggunakan sihir perpindahan? Bisa saja Ia menggunakanya tapi untuk saat ini Ia sedang malas, rasa lelah akan kegiatanya tadi cukup sebagai alasanya untuk tidak membuang-buang energi.
"Tehnik penyembuhan Iblis?"
"Ya, coba Kamu lihat ini."
Tehnik penyebuhan, Tehnik ini bekerja dengan cara menyalurkan energi Iblis milik Akeno ke pasien dadakanya dengan sentuhan fisik, secara perlahan kedua tangan Akeno mengelurkan cahaya saat bersentuhan dengan kulit tangan milik Rias yang berada di atas pangkuanya yang menandakan jika tehnik tersebut secara bertahap mulai bekerja.
"Naruto-kun, Apakah Ninja juga dapat melakukan tehnik penyembuhan?"
Naruto menganguk dengan wajah kagum. Tehnik ini sama seperti jutsu penyembuhan yang dimiliki rekan setimnya Sakura dan juga Hokage ke lima Tsunade senju. Namun taksemua Ninja dapat menguasai tehnik ini, hanya Ninja dengan kontrol Chakra yang baik saja untuk dapat menguasainya. Naruto tak menyangka jika Ia dapat menjupainya lagi ditempat ini.
"Ya, kami para Ninja juga dapat melakukan tehnik penyembuhan tapi tak semua dari Kami dapat melakukanya. Ini sama sperti milik temanku-ttebayou..."
Teman yang tak Ia tahu bagaimana nasibnya saat ini, lagi-lagi Naruto menjadi kepikiran akan desa-nya, semakin keras Ia mencoba untuk melupakan kenanganya namun rasa Rindu yang kuat lah yang membuatnya menjadi gagal untuk melupakanya dan justru selalu terikat akan kegelisahanya.
"Kamu tidak apa-apa?"
Akeno dapat melihat dengan jelas perubahan dari raut wajah itu, meski Laki-laki Pirang tersebut mencoba untuk menutupinya dengan berbohong namun jangan remehkan perempuan berhati peka seperti dirinya.
Setelah proses penyembuhan selesai, Dengan perlahan Akeno menggeser tubuhnya dengan rapat besentuhan fisik dengan tubuh laki-laki pirang disampingnya. Ia ingin sekali tahu apa saja tentang Naruto.
"Kamu tidak pernah menceritakan masalahmu kepadaku, Kenapa...?"
Ia pandangi Permata Biru itu, opal ungunya mencoba menggali lebih dalam Apa yang terpendam dibalik gundukan kebohongan itu.
"Emmm... Apa maksutmu? Aku tidak apa-apa."
"Fufufu... Kamu tak padai untuk berbohong Naruto-kun."
Yah meskipun hubungan-nya dan Naruto sudah menjadi lebih akrab namun sayangnya laki-laki pirang ini masih menutup diri untuk menceritakan masalahnya, ini lah yang menjadi dinding pembatas untuk dirinya.
"Aku akan menceritakanya, tapi tidak sekarang, beri aku waktu untuk lebih siap-ttebayou."
Sedikit ada rasa sakit dihati Akeno saat Naruto menyelesaikan kalimatnya, masihkah Naruto menganggapnya sebagai Orang asing?
Tidak, Ia tak boleh berfikiran seperti itu dan Ia tak boleh egois, Ia harus bisa lebih bersabar menunggu agar hati yang tertutup itu terbuka dengan sendirinya. Dan saat itu tiba barulah Ia dapat mengahuncarkan dinding pembatas tersebut dan dapat melangkah lebih tenang ke tahapan hubungan Mereka.
"Um, Baiklah... Ngomong-ngomong apa Kau sudah makan?"
Akeno mulai merasa tak enak saat merasakan Aura canggung yang merayap keluar mengusik diantara Mereka, lanjut untuk membahas topik bukanlah hal baik untuk saat ini, dan Ia putuskan saja untuk mengganti pembicaraan yang jauh dari topik sebelumnya yang berhubungan dengan waktu jam makan siang.
"Be-..."
Belum selesai Ninja pirang tersebut untuk menyelsaikan satu kata dari kalimatnya sebuah suara lain terdengar keluar dari cacing-cacing dari dalam perutnya mewakili apa yang akan Naruto utarakan.
Membuat laki-laki tersebut memposisikan salah satu tanganya dibelakang kepala dan menggaruknya, taklupa disertai kekehan dengan cengiran lebar yang terlihat manis untuk wajah seperti Naruto, dan mungkin hanya Naruto-lah yang memiliki senyuman manis tersebut.
"Fufufu... Sepertinya Iya, ayo kita keruang makan."
"Um!"
.
.
.
.
.
Hujan masih turun dengan derasnya, awan kelabu tebal masih tampak terlihat betah berlama-lama untuk tetap menutup semua birunya langit membuat sang Mentari merasa terusik untuk melakukan tugasnya dan tak dapat menjatuhkan cahayanya kebumi secara sempurna dan hanya dapat memberi cahaya remang untuk menerangi kehidupan dibumi.
"Woaah...! Ramen...!"
Udara yang dingin membuat Akeno berinisiatif untuk memasak sesuatu yang hangat dan juga lezat tentunya, di dalam otaknya muncul berbagai Opsi untuk membuat menu apa yang pas diwaktu seperti ini. Hingga Ramen lah yang menjadi pilihanya, sebelumnya Ia ingin membuat Soup namun itu akan memakan waktu sedikit lama, kasihan Naruto yang sepertinya telah kelaparan, terbukti saat taksengaja pandanganya melihat Ninja pirang tersebut telah terkulai lemas diatas meja dengan mata yang berputar bagai pusarang Air.
"Mmmm...! Oishi! Ramen buatanmu ternyata enak juga Akeno."
"Fufufu... Terimakasih Naruto-kun."
Akeno cukup merasa senang karna baru kali ini ada seseorang yang memuji masakan buatanya, biasanya para Anggota klub hanya memuji teh yang biasa seringkali Ia suguhkan namun kali ini rasanya berbeda saat sosok Naruto-lah yang memberikan pujian kepadanya, Yah meskipun untuk sebagian orang menganggapnya sebagai hal yang biasa saja.
"Aku tak menyangka Iblis dapat membuat makanan seenak buatan Malaikat-ttebayou...!"
"Ara-ara... Memang nya kamu pernah memakan masakan Malikat sebelumnya?"
"Um? Bukan begitu! maksutku itu hanya ungkapan."
"Fufufu... Iya Aku juga mengerti kok, Sepertinya Kamu menyukai Ramen Naruto-kun."
"*Sluuupr...* Iya Aku sangat, sangat, sangaaaaat menyukainya!"
Dan itu memang sudah terlihat dari lahapnya Ninja pirang tersebut untuk menghabiskan semangkuk Ramen yang terhidang di hadapanya.
"Kenapa tidak dimakan Akeno? Ayo makanlah...!"
"Um, Baiklah... Huh Aku sampai lupa..."
Dengan gemulai tangan putih Akeno mengambil sumpit yang tersedia di atas meja yang tak jaih dari mangkuk dihadapanya namun gerakanya terhenti saat kedua matanya beralih fokus pada kain kasa yang terlilit dijari telunjuknya. Ia tersenyum saat mengingat kejadian tadi. Kejadian yang membuat kedua pipi-nya kembali di hiasi oleh rona merah.
...
Saat itu Akeno tak sengaja melukai salah satu jarinya sendiri karna Ia terlalu terburu-buru untuk memotong beberapa sayuran sebagai pelengkap ramen buatanya. Fokusnya terganggu menjadi dua, Mengejar waktu dan tempo untuk mengolah bahan makanan.
SEET!
"Ah...!"
Ia memekik secara spontan saat tajamnya pisau tersebut merobek kulitnya sendiri menciptskan luka, darah secara perlahan muncul dari sobekan luka tersebut. Akeno membuang pisau yang melukainya itu dan dengan segera Ia menekan luka tersebut agar menghentikan sedikit aliran darah yang keluar.
"Kau tidak apa-apa?"
Pekikanya tadi sepertinya cukup keras sehingga membuat Ninja pirang tersebut datang menghampirinya dan melihat apa yang terjadi, diambilnya tangan yang terluka tersebut oleh Naruto.
"Kau terluka-ttebayo!"
Wajah dari laki-laki pirang tersebut berubah panik saat melihat darah yang keluar dari luka di jari telunjuknya, Ia merasa lucu saat melihat perubahan ekspresi dari Ninja pirang tersebut, Naruto menuntunya untuk duduk disebuah bangku dengan tangan tan tersebut yang masih setia menggenggam luka tersebut.
"Pendarahan ini harus dihentikan!" Ujar laki-laki tersebut, dengan perlahan tangan tan tersebut mendekatkan luka di jarinya pada bibir Naruto, Ia bisa menebak apa yang akan dilakukan Ninja pirang tersebut.
"Akh...!"
Dan benar apa yang difikirkanya terjadi... Ia merasakan geli dan sensasi yang aneh saat jari telunjuknya dikulum oleh bibir dari Ninja pirang tersebut, rasanya seperti kejutan listrik yang merambat dan menggelitik dari ujung jarinya ke seluruh tubuh, tanpa sadar Ia memejamkan kedua kelopak mata-nya, tanpa disadari pula Akeno mulai menikmatinya saat dimana jari-nya yang terluka merasakan sensasi asing dari hisapan-hisapan kecil pada rongga mulut tersebut, rona merah mulai muncul menghiasi kedua pipi putihnya, butiran keringat mulai keluar dari pori-pori wajahnya dan salah satu tangan-nya bergerak menuju dada besarnya kesadaranya mulai menghilang saat Ia meremas sendiri aset miliknya dengan lembut seolah terlihat takseperti melakukan remasan, Hanya memegang. Tubuhnya mulai meremang dan memanas hingga...
"Sepertinya Pendarahanya sudah berhenti."
Hingga Naruto si Ninja dengan Permata Biru tersebut membuka Suara yang membuat dirinya tertarik kembali ke Alam sadarnya yang semula. Ia mendesah didalam hatinya kecewa karna buaiyan yang sedang Ia nikmati dengan fikiran liar yang mulai mengotori fikiranya mendadak menguap seketika.
Naruto tidak paham apa Arti dari rona merah dipipi Akeno dengan disertai ekpresi wajah yang menurut sebagian laki-laki menyebutnya dengan Hot Face (meringis). Yang Ia tahu dari otak polosnya hanyalah respon alami saat seseorang sedang kesakitan menahan luka. Jadi beruntung bagi Akeno karna Ia tak ketahuan jika Ia sedang mengalami penaikan libido pada dirinya, sungguh memalukan namun baginya itu tak masalah.
Secara perlahan Akeno mulai mengatur nafasnya kembali setelah saat sebelumnya sirkulasinya tak teratur yang sama halnya dengan degup jantungnya.
Di hadapanya terlihat Naruto kali ini sedang sibuk melakukan pengobatan tipe pertolongan pertama dengan wajah yang terlalu amat serius.
"Fufufu...!"
"Sudah deh... Kau jangan tertawa terus!"
"Habisnya Kamu terlalu serius untuk mengobatiku Naruto-kun."
"Luka di jarimu itu luka sobekan tahu...! Bisa berbahaya jika dibiarkan saja!"
Akeno terkejut dengan wajah Sweatdrop tak menyangka sama sekali jika Ia akan terkena omelan dari Naruto, baginya ini hanyalah luka kecil untuk ukuran seorang Iblis seperti dirinya, mungkin beberapa menit kedepan luka tersebut akan sembuh dan lenyap kembali kesedia kala tanpa meninggalkan bekas.
Dengan serius dan hati-hati Ninja pirang tersebut nampak sibuk berkutat dengan kain kasa untuk menutupi luka diujung jarinya, beberapa kali Naruto harus memotong di beberapa bagian tertentu yang menurutnya tak perlu itu.
"Haaah... Selesai...! Dengan begini Kau hanya perlu menunggu beberapa hari untuk sembuh-ttebayou..."
Dengan seksama Akeno memperhatikan hasil dari kerja keras Naruto untuk mengobatinya, meskipun hasilnya tidak rapi namun Ia tetap menghargainya. Baginya itu sudah cukup membuktikan jika Naruto adalah Orang baik yang peduli dengan orang sekitar.
"Ara-ara... Terimakasih Naruto-kun..."
"Sama-sama, lain kali Kau harus lebih berhati-hati, jangan Kau melamun memikir-kan cowok tampan sepertiku... Hehehee...!"
Akeno mulai tergelitik hatinya untuk tertawa setelah mendengar kalimat yang penuh akan kepercayaan diri itu terlontar dari bibir Ninja pirang dihadapanya.
"Fufufuu... Kau tidak tampan Naruto-kun."
"Iya sih... Jika dibandingkan dengan si cowok ganteng itu Aku tidak ada apa-apanya."
"Maksutmu Kiba?"
Naruto mengangguk.
"Kiba memang tampan, dibandingkan denganmu ada satu hal yang membuatku tertarik Yaitu kebaikanmu Naruto-kun."
Akeno tanpa Ia sadari telah mengucapakan apa alasan ketertarikan khususnya terhadap Naruto, Ia melihat bibir itu tersenyum simpul yang seolah menyihirnya untuk ikut menarik bibir keatas. Perasaan asing itu kembali muncul di lubuk hatinya.
"Emmm... Apa Kau masih bisa untuk memasak kembali?"
Batu shafir itu mengalihkan pandanganya pada kain kasa dijarinya yang terluka. Ia sudah bilang jika ini hanyalah luka kecil biasa dan tentu hal ini bukan alasan untuk berhenti melakukan pekerjaan yang sebelumnya.
"Ara-ara... Tentu saja Naruto-kun, Nah.. Terimakasih telah mengobatiku dan sekarang tunggulah di ruangan makan biar Aku disini yang menyelesaikan tugasku. Fufufu..."
"Serius nih? Aku bisa kok memotong sayuran."
"Tidak perlu, lagi pula semua bahan-bahan yang harus dipotong sudah terselesaikan semua."
"Baiklah kalau begitu..."
Setelah Naruto pergi, Ia kembali melanjutkan pekerjaanya yang tertunda dengan degup jantungnya yang masih belum berdetak secara normal.
.
.
.
.
.
"Ummm, Naruto-kun tolong kamu bawakan bubur ini pada Bochou dan sekalian kamu periksa keadaanya."
"Ya... Baiklah."
"Maaf ya, Aku akan mencuci piring kotornya."
Dengan berhati-hati Naruto mulai membawa nampan dengan semangkuk bubur tersebut menuju ruangan kamar yang Akeno perintahkan tadi.
"Aduh?"
Ia agak sedikit kesulitan untuk membuka pintu geser pada kamar tersebut karna kedua tangan yang saling bekerja sama untuk menjaga keseimbangan Nampan tersebut dari kedua sisi. Hingga akhirnya Ia berhasil mengakali pintu ruangan ini dengan menggunakan sebagian jari Kaki yang Ia masukan dari celah kecil Antara sisi pintu dengan dinding kayu dan menggesernya kesamping.
"Gelap sekali perasaan tadi lampunya menyala deh."
Diletakanya Nampan tersebut pada meja yang tersedia tak jauh dari sebelah Ia berdiri. Setelah itu Ia memeriksa kondisi dari Rias seperti yang diminta Akeno. Dari balik cahaya yang temaram Kedua matanya melihat gundukan dibalik selimut dengan perlahan Ia menurunkan sedikit Kain tebal berwarna putih tersebut agar tak mengganggu sang putri tidur dibaliknya.
"Rias, Ak... Eh?"
Sebuah Tanda tanya dan seru besar muncul di atas kepala kuning Naruto, seharusnya di balik selimut ini sedang terbaring Iblis perempuan berambut merah tersebut namun yang didapatinya hanyalah sebuah tumpukan guling dengan beberapa pakaian jersey yang tercecer. Tunggu dulu! Pakaian?
"Hah?! Inikan..."
KRIET
Tiba-tiba saat Ia sedang sibuk dengan pemikiran ngaco miliknya Suara pintu terdengar olehnya, namun kali ini bukanlah pintu kamar yang sebelumya Ia lewati namun melainkan Suara itu terdengar pada sebuah pintu kamar mandi yang tersedia pada kamar ini.
Dengan perlahan cahaya lampu dari kamar mandi tersebut keluar dan jatuh pada lantai kayu pada ruangan ini yang kemudian meluas secara teratur seiring bertambah lebarnya pintu yang terbuka, melenyapkan sebagian kegelapan Ruangan ini.
Kedua mata Naruto melebar saat pandangan-nya menangkap bayangan dengan bentuk lekuk tubuh sempurna seorang Perempuan yang membelakangi cahaya. Naruto merasakan tubuhnya mulai membeku saat bayangan itu melangkah mendekat kearahnya, semakin dekat hingga wangi tubuh itu tercium masuk pada hidung mancungnya. Ia semakin takbisa bergerak saat merasakan tangan dari sosok dihadapanya menyentuh pipi kirinya, lembut dan sedikit basah itulah yang Ia rasakan saat jari-jari lentik dari tangan itu bergerkak.
Namun Ia mulai merasa Aneh saat jari-jari lentik tersebut mulai berhenti bergerak, tiba-tiba Naruto merasa sakit saat Jari dari perempuan itu secara tiba-tiba mencubitnya.
"Aaaw...!"
"Khi khi khi... Kau berfikir sedang menjumpai seorang hantu lagi heh?"
Hei, Ia kenal dengan suara tawa menyebalkan Itu. Secara perlahan kedua matanya dapat kembali fokus seiring dengan degup jantungnya yang kembali normal. Kedua matanya kembali dapat menangkap objek dihadapanya dari balik cahaya yang temaram. Wajah oriental dengan Surai merah yang menjadi bingkainya dan juga tak lupa dengan senyum manis tapi terlihat menyebalkan baginya.
"R-rias?"
"Fufufuu... Ya ini Aku"
Dan benar Ia mengenali sosok dihadapnya. Ia mulai merasa lega saat sebelumya yang ada didalam otaknya hanyalah kumpulan pemikiran yang berbau Horor. Namun pemikiranya tak langsung menjadi jernih seketika. Di hadapanya memang bukanlah hantu melainkan seorang gadis yang hanya... Menggunakan pakain dalam saja sebagai penutup tubuh indahnya. Kulit putih mulus tersebut terlihat bercahaya saat di terpa lampu dibelakanya, dan ditambah oleh suguhan pemandangan dari dua gundukan itu semakin membuat Naruto kembali keringat dingin. Dan lagi-lagi Otaknya kembali mengalami konsleting kecil pada bagian tertentu.
"R-rias...?"
"Yaa?"
"R-rias...?"
"Yaa, Apa Naruto?"
Rias, Gadis Iblis pewaris dari klan Gremory ini mulai merasa bingung saat Ninja Pirang dihadapanya ini hanya terus terusan memanggil namanya. Mungkin kah Ia sakit? Terlihat dari sorot matanya yang kosong dan bulir-bulir keringat yang mulai mengalir turun dari pelipisnya.
"Naruto apa Kau sakit?"
Dengan lemah Naruto menggelangkan kepalanya dan mulai bicara dengan gugup.
"Err, K-kauu..."
"Yaaaa...?"
"K-kaau..."
"Yaaa... Aku?"
"K-kenapa t-tidak memakai b-baju?"
Dan Ia mengerti apa yang menjadi penyebab pemuda tersebut menjadi seperti ini, sungguh unik sekali Rias dapat menjumpai seorang Laki-laki yang masih polos akan pengetahuan yang berbau mesum. Ini jepang looh... Salah satu Negara sebagai industri Film porno terbesar didunia. Jadi sangat amat langka jika masih ada manusia khususnya laki-laki yang berotak suci. Bahkan Rias bisa yakin jika Orang Alim seperti Yuuto Kiba mungkin akan langsung menjadi pemeran Pria dadakan dalam film porno jika dalam stuasi seperti ini.
"Oooh..."
Rias sudah mulai merasa Bosan jika hanya dapat menggoda Orang mesum seperti Issei saja. Dalam hati Iblisnya yang Nakal mulai terdengar bisikan jahat di kedua telinganya untuk melakulan suatu kejahilan, mungkin dengan begitu Ia dapat memperbaiki Moodnya.
"Naruto no Ero... Kenapa Kau terus-terusan melihat dadaku? Apa kau suka? Fufufu..."
Rias mulai tertawa dalam hati saat Ninja pirang dihadapanya ini mulai gelagapan dan salah tingkah ketika Ia mulai mengeluarkan kata-kata 'provokatif'.
"A-apa? Lagian s-siapa yang melihat dadamu?"
Munafik, laki-laki tersebut mengatakan itu sembari menunjuk dada miliknya dan juga fakus mata yang juga menuju kearah yang sama.
"Hohohoo... Jangan tunjuk-tunjuk, jika Kau ingin menyentuhnya... Silahkan...!"
Kedua Shafir Naruto terbelalak seketika, degup jantungnya mendadak berhenti persekian detik dan otaknya mulai kembali mengalami Blank saat jari telunjuknya tenggelam secara penuh dan terjepit pada belahan montok milik Gadis Iblis berambut merah dihadapanya. Pelecehan? Tidak Ini bukanlah salahnya. Salahkan Rias yang dengan sengaja memajukan tubuhnya saat mengahiri perkataanya dengan sedikit penekanan diakhir kalimatnya. Sungguh Ia sangat terkejut dengan tindakan dari teman Iblis-nya yang satu ini, bagaikan disambar petir yang tepat mengenai ubun-ubunnya Ia merasa Isi otaknya menjadi hangus dan takdspat berfikir secara jernih.
"Akh...! Jangan digerakan itu membuatku geli..."
Sudah cukup, Naruto mulai tak tahan, dengan wajah yang memerah Ia bangkit berdiri dan berlari keluar Ruangan neninggalkan Rias sambil berteriak.
"PETAPA GENIT SIALAAAAAN...!"
Ia merasa terkena kutukan semenjak mendiang gurunya wafat meninggalkan kenangan-kenangan berbau Ero yang bagaikan mantra yang mulai meracuni fikiranya, itu lah alasan kenapa Ia berteriak demikian.
"Kenapa Dia?"
Akeno yang sempat melihat Naruto berlari keluar hanya dapat bertanya pada dirinya sendiri, hingga rasa penasaran membawanya berjalan menuju kamar dimana sebelumnya Naruto berlari.
"Ara-ara Bochou...?"
"Hai Akeno?"
Dan Ia akhirnya tau apa yang membuat Ninja pirang tersebut berteriak sedemikian Rupa namun Ia tak mengerti. Apa yang salah dari seorang Gadis yang telanjang bagi Ninja pirang tersebut? Hmmm... Mistery...
.
.
.
.
.
"Ara-ara... Bochou, sepertinya kesehatanmu Sudah mulai membaik."
Hujan mulai reda saat intensitas Airnya tak sederas seperti sebelumnya. Namun meski demikian udara bersuhu dingin masih setia untuk membuat para penduduk kota Kuoh merapatkan jaket dan selimut mereka.
Himejima Akeno beserta Rias Gremory merupakan salah satu siswi yang populer dikalangan sekolah. Hingga para Siswa memberi mereka gelar dengan sebutan Two Great Onee-sama karna kecantikan disertai tubuh yang sempurna membuat para Laki-laki bertekuk lutut mengidolakan mereka berdua.
Saat ini mereka berdua tengah berbincang diruang utama dengan disuguhi teh hangat beserta beberapa keping biskuit sebagai pelengkapnya untuk menghangatkan tubuh mereka dicuaca dingin seperti sekarang ini.
"Yah begitulah terimakasih telah merawatku Akeno..." Ujar Rias sembari merapatkan selimut yang melingkari tubuhnya.
"Fufufuu... Aku tak mengerti kenapa Iblis kuat sepertimu bisa terkena Flu?"
Tentu ini merupakan sebuah tanda tanya besar kenapa sahabatnya yang menjabat sebagai King-nya ini dapat jatuh sakit layaknya manusia. Bagi Akeno Ini merupakan hal yang pertama kali Ia jumpai semenjak Ia dilahirkan kembali sebagai seorang Iblis dari Klan Gremory.
"Ini mungkin karna Aku selalu memikirkan rencana perjodohan itu."
Rias belakangan ini didalam otaknya selalu dipenuhi oleh masalah keluarga yang melibatkanya, perjodohan merupakan hal yang menyenangkan tapi baginya Tidak sama sekali jika yang menjadi mempelai Prianya bukanlah sosok yang Ia cintai. Hal Ini sangat membuatnya mengalami Stres yang berdampak pada kondisi fisiknya.
"Kau tahu Akeno? Aku sungguh merasa campur aduk antara marah, kesal, sedih dan... dan Aku merasa seperti terkekang oleh rantai yang bernama Ahli waris."
Sebagai Ahli waris dari Klan yang dihormati di Meikai, sudah menjadi hal yang lumrah jika para Iblis berdarah murni melahirkan generasi penerus yang benar-benar terlahir dari dua Iblis berdarah Murni. Itu dilakukan karna saat Perang Besar yang terjadi telah menelan banyak korban yang gugur dalam jumlah besar khususnya bangsa Iblis yang banyak kehilangan Iblis berdarah murni.
"Rias... Aku pun taktahu apa yang akan aku lakukan jika dalam masasalah yang seperti ini." Akeno berkata dengan Nada sendu, tak lagi memanggil sahabat berambut merahnya dengan panggilan 'Presiden' sarat akan formalitas yang biasa Ia pergunakan saat diperkumpulan namun saat ini situasinya berbeda. Baginya Rias saat ini membutuhkan seorang teman curhat yang mau mendengarkan keluh kesah masalahnya.
"Aku pun juga demikian, haruskah Aku menerimanya?"
Rias mengalihkan pandanganya pada jendela ruangan yang menampilkan rintik-rintik hujan yang masih mengguyur kota Ini. Rias merasa masalah inilah yang menjadi titik berat dalam hidupnya. Ia layaknya tanah yang terus tertimpa oleh Rintikan hujan yang terus menerus menjatuhinya hingga tanah yang sebelumnya keras berubah menjadi lembek. Seperti Hati miliknya yang Kuat menjadi lemah dan membuatnya putus asa.
"Tidak, Aku yakin ini pasti ada jalan keluarnya meskipun itu sangat Krusial.
Dan saat Akeno mengatakan hal itu tanpa Ia ketahui, genggaman tangan Rias pada cangkir teh yang digenggamnya mengerat. Sebuah Ide dari keputusasa-an muncul didalam kepala yang berhiaskan rambut merah tersebut.
"Akeno?"
"Ya...?"
"Dimana Naruto?"
Dan tanpa mereka ketahui jika ternyata Ninja pirang dengan goresan kumis kucing tersebut tengah membenturkan kepala kuningnya berkali-kali pada dinding kayu dikamarnya. Kedua bibir miliknya takhenti-hentinya meracau. "Petapa genit sialan... Petapa genit sialan... Petapa genit sialan..." dan terus berulang-ulang hingga akhirnya dia merasa lelah sendiri dan jatuh terbaring diatas lantai kayu yang lembab.
Pelajaran yang tak dapat Naruto pahami dan Ia kuasai dari mendiang Guru mesumnya selama Dua setengah tahun mengembara Ialah... Wanita.
Shinobi Kuat yang merupakan salah satu dari tiga Sanin legendaris ini tak jarang mengingatkanya jika suatu saat nanti hal ini akan sangat berguna jika dapat Ia pahami. Gurunya sering mengajaknya untuk melakukan Hal-hal yang berbau mesum dengan kedok sebagai penelitianya. Namun Ia terlalu cuek untuk meladeni gurunya itu dan lebih memilih acuh untuk ikut dengan-nya lagi pula Ia sama sekali tak mengerti Ilmu apa yang Ia peroleh dari Hal Ero seperti ini? Yang ada didalam fikiranya hanyalah berlatih dan terus berlatih untuk dapat membuatnya meraih cita-citanya sebagai seorang Hokage dan juga menepati janjinya terhadap Sakura untuk membawa Sasuke kembali ke Konoha. Bukannya sebagai Penerus dari Sanin dengan hobi mengintip ini.
Hingga sekarang Naruto tersadar jika Ia terkena karma dari Guru mesumnya. Semenjak Naruto tinggal didunia ini hidupnya tak jauh dengan yang namanya... Perempuan, mahluk rupawan yang sulit dimengerti dan juga berbahaya. Belakangan ini organ tubuhnya dibuat seperti mengalami keruksakan khususnya dibagian Otak dan jantung saat kasus yang baru-baru ini disebabkan oleh Iblis gila dengan rambut merah tersebut yang membuatnya serasa seperti tersambar petir jutaan Volt saat ujung jarinya terjepit diantara dua gundukan besar tersebut. Dan juga beberapa minggu yang lalu Ia tanpa sengaja menyentuh benda kenyal yang sama namun dengan pemilik yang berbeda.
Ia pandangi jari telunjuk miliknya yang setelah Ia hitung jumlahnya ternyata masih utuh, sensasi hangat dan lembut dari benda kenyal dan berbahaya itu masih terasa ditanganya. Seketika kedua matanya membeliak saat Ia menyadari jika otaknya mulai tercemar.
"Tidak...! Apa yang Aku pikirkan?!"
Dan lagi, Naruto kembali membenturkan kepala kuningnya berkali-kali dengan dinding, berharap hal tersebut dapat mengenyahkan pikiran kotor yang mulai mencemari isi otaknya yang tumpul akan Wanita.
.
.
.
.
.
Bersambung...
A/N : sedih banget File ini adalah satu-satunya File yang bisa diselamatkan. Entah kenapa tiba-tiba suatu hari Wps di Androit saya mengalami Eror. Semua File enggak ada yang bisa dibuka dan hanya inilah yang terselamatkan.
Oke lupakan, Saya Mengucapkan banyak-banyak terimakasih dari kalian yang mau meluangkan waktu berharga kalian hanya untuk membaca Fic Mainstream ini. Review kalian membuat Mood saya kembali Naik saat Saya baca berkali-kali. Yah meskipun banyak yang kecewa Karna di Chap kedua Humornya enggk berbobot tapi yah begitulah saya, Author abal-abal yang mencoba berimprovisasi didalam karya saya kali ini.
Sekian... See You...!
