YOUR EX
(Sekuel of 'I Dare You')
...
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
Oh Sehun
Kim Jongin
...
"Aargh..Baekhh!"
"Yes baby?..hhh"
Bulir-bulir keringat membasahi sekujur tubuh polos nan kekar milik Chanyeol. Setengah jam lebih berbaring telentang di atas ranjang, dengan kedua tangan terikat dan mata tertutup kain, ditambah sosok mungil bertubuh polos menggoda di atasnya, sukses membuat kejantanan Chanyeol berdiri begitu tegaknya.
Chanyeol hanya mampu menggeram berulang-ulang dengan suara seraknya. Tak peduli telah berapa kali kalimat permohonan penuh putus asa keluar dari bibir tebalnya, si mungil kesayangannya tetap gencar melakukan aksinya. Seperti saat ini-
"Ahh!"
-ketika dengan sengaja Baekhyun menggesekkan bokongnya menekan ereksi Chanyeol. Sedang bibir tipisnya mengecupi sepanjang rahang hingga dada bidang Chanyeol. Dan sialnya ini telah berlangsung selama setengah jam.
"Kenapa hmm?" tanyanya sambil memasang wajah kepolosan.
Belum sempat Chanyeol menjawab, Baekhyun terlebih dahulu membungkam bibirnya. Menggigit belahan bibir kekasih tingginya dengan erotis. Menggelitik dengan lidah panasnya yang membelai dari sudut ke sudut. Dan tentu saja dibalas oleh sang kekasih tak kalah kasarnya. Seakan-akan ingin memakan seluruh bibir mungil itu.
Di sela-sela tautan bibir mereka, Baekhyun merasakan sesuatu yang keras bergerak menusuk-nusuk bokongnya, mencoba memasuki lubang berkerut miliknya. Maka saat itu juga Baekhyun menarik wajahnya menjauh, menampilkan senyum polos setelahnya.
"Sudah cukup Baek.." kembali Chanyeol memohon
"Chanyeolliee~~" Baekhyun menopang dagunya di atas dada Chanyeol. "Kau pikir...hanya kau yang bisa memberi hukuman hmm?" berbeda dengan Baekhyun yang berucap dengan tenang, Chanyeol justru berdebar waspada. Terlebih ketika lelaki itu perlahan-lahan menuruni tubuhnya. Hingga dapat Chanyeol rasakan deru nafas Baekhyun di sekitar kejantanannya.
"Ingat baik-baik..." seringai nakal menggantikan senyum polos di wajah Baekhyun. "...apa yang akan kau dapatkan-
"Ngghh!"
-jika sekali lagi meladeni para wanita itu!" ucapnya datar namun sarat akan ancaman. Tak disangka, Chanyeol justru terkekeh di bawahnya.
"Aku akan melakukannya lagi" Baekhyun mengernyit tak suka mendengar jawaban dari Chanyeol. "Ah. Kalau perlu setiap hari aku akan meladeni mereka" lanjutnya lagi.
"...agar aku bisa menerima hukumanmu terus menerus..."
"Hah!" Baekhyun mendengus kesal mendengarnya. "Kalau begitu mari kita lihat. Apakah kau masih menginginkan hukumanku..." kedua tangan Baekhyun mulai menggengam penis tegang milik Chanyeol.
"...setelah apa yang akan kulakukan padamu Chanyeol..."
Dan itu adalah kalimat terakhir yang terucap oleh Baekhyun. Sebelum mulut mungilnya terisi penuh oleh kejantanan Chanyeol. Desisan penuh nikmat mulai terdengar dari atas. Sementara Baekhyun dengan sengaja mengeluarkan kembali penis itu dari mulutnya.
"Astaga Baek..ssshhh"
Dengan menjulurkan lidahnya, Baekhyun menyentuh penis tegang itu kembali, dari pangkal hingga ujungnya yang berbentuk seperti jamur, terus berulang seperti itu beberapa kali. Dan dilakukan dengan sangat amat pelan, hingga membuat Chanyeol nyaris gila.
"Kumohon Baek..lebih cepat enghh"
Baekhyun menarik kembali lidahnya dan terkikik mendengar raungan protes dari si tinggi. Tanpa berlama-lama ia memulai aksinya kembali. Membawa mulutnya mendekat, mengecupi bagian kepala jamur itu, kemudian menggigiti lubang kecil yang sudah mengeluarkan beberapa tetes cairan precum. Seakan tuli atas pekikan dan umpatan dari Chanyeol, Baekhyun tetap melanjutkan gigitannya, sambil sesekali memainkan bola kembar dengan tangannya. Menambah penyiksaan penuh kenikmatan bagi Chanyeol.
"Berhenti menyiksaku Baekhyun..argh!" ucapnya sedikit emosi. "Penisku sudah sesak Baek!" nampaknya nafsu Chanyeol sudah berada di ujung tanduk.
Maka, masa bodoh dengan hukuman dari lelaki mungilnya itu, Chanyeol berupaya memajukan pinggulnya ke depan. Agar penisnya dapat melesak ke dalam mulut hangat milik Baekhyun.
Dan untung saja, Baekhyun nampaknya sudah iba melihat keadaan kekasihnya itu. Ia membuka mulutnya lebar-lebar, mengizinkan penis kekasihnya masuk lebih dalam pada mulutnya.
"Mmhhh..yahh..lebih dalamhh Baekhh"
Chanyeol semakin gencar menghentakkan pinggulnya, lebih cepat, lebih dalam hingga membuat Baekhyun tersedak sesekali. Namun nampaknya ia sudah tidak peduli lagi, karena saat ini nafsu telah membakar akal sehatnya.
Mulut Baekhyun mulai kewalahan membalas gerakan pinggul Chanyeol. Penis itu semakin membesar, dan semakin kasar pula gerakan sang pemiliknya. Maka agar kekasihnya itu segera mencapai klimaksnya, kedua tangan Baekhyun merayap di bawah bokong keras Chanyeol, mengangkatnya ke atas, hingga membuat setengah lebih penis itu tertelan dalam mulutnya.
"Aaahhh..."
Kelegaan menguar dari mulut Chanyeol. Merasakan sperma dalam jumlah banyak menyemprot dari penisnya, dan mengalir ke dalam mulut Baekhyun. Sesekali Chanyeol masih mendesah pelan merasakan Baekhyun menghisap kuat sperma dari lubang penisnya.
Chanyeol memang tidak pernah salah memilih kekasih.
Baekhyun bangkit dari tubuh bagian bawah Chanyeol, dan membawa dirinya duduk kembali di atas perut Chanyeol.
"Suka akan hukumanku?"
"Kau benar-benar..." Chanyeol berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya yang masih terengah-engah. "Really..I swear. I will fuck you hard after this baby..."
"So.." kain penutup di mata Chanyeol telah dilepas. Menampilkan seringai nakal juga menawan di wajah Baekhyun yang hanya beberapa senti di atasnya.
Chanyeol tersenyum miring melihat tangan Baekhyun yang kemudian bergerak melepas tali yang mengikat kedua tangannya selama ini. Dan setelah tali itu terlepas, Baekhyun menurunkan bokongnya ke bawah, sambil menatap Chanyeol penuh arti.
"...why don't we start now?.."
"Shit!"
Bruk!
Posisi keduanya telah berubah. Dimana Baekhyun tengkurap di atas ranjang, dengan Chanyeol yang menindihnya dari atas.
Kedua tangan Chanyeol mencengkeram paha Baekhyun, mengangkatnya ke atas, meminta agar si mungil menungging untuknya.
"Angkat pantatmu!"
Plak!
"Aanghhh!"
Rasa sakit bercampur nikmat dirasakan oleh Baekhyun, ketika tangan besar Chanyeol menampar bokongnya.
"Angkat lebih tinggi!"
Plak!
"Aahhh! Just fucking me pleasehhh" pintanya sudah tak sabar.
Seakan belum puas dengan posisi pantat sintal Baekhyun, ia mengangkatnya lebih tinggi lagi, sampai lutut si mungil tidak menyentuh ranjang lagi. Kedua bokong itu sejajar dengan kejantanannya sekarang, dan kemudian masing-masing tangannya menarik pipi bokong Baekhyun, menampilkan lubang berkedut yang menantang untuk dimasuki.
"Kau menginginkan ini hah?!"
"Nghhhh" Baekhyun mendesah geli merasakan penis Chanyeol yang sudah menegang kembali, bergerak di sekitar lubangnya "Come in Yeolhh..."
Chanyeol memejamkan matanya, dan konsentrasi memasukkan penisnya perlahan-lahan. Dan sampai saat ini, Chanyeol masih menobatkan lubang Baekhyun sebagai lubang ternikmat di dunia, karena benar-benar menjepit kuat penisnya.
"Move Yeolhh!"
Chanyeol berdecak melihat Baekhyun tak sabaran. Ia tarik kembali penisnya, kemudian memasukkannya kembali dalam satu hentakan. Membuat keduanya hilang akal bersamaan.
"Ahhh deeper pleasehh"
Jiwa Baekhyun serasa melayang merasakan penis Chanyeol menumbuk keras prostatnya. Ia angkat pinggulnya, dan mulai membalas gerakan pinggul lelaki itu.
"Ahhkh!"
Baekhyun mengaduh ketika Chanyeol menggigit punggungnya. Meninggalkan bekas kemerahan yang kontras dengan warna kulitnya
"Baekhyun aku-
~~I'm creeping in your heart babe~~
Alunan musik terdengar dari ponsel milik Chanyeol. Menandakan ada sebuah panggilan masuk untuknya.
"Aku-
~~come in girl you call me monster~~
"Angkat saja dulu ponselmu Yeol!"
Chanyeol mengangguk setuju. Kemudian tanpa melepas tautan tubuh mereka, tangannya berupaya menggapai ponselnya di atas meja di samping ranjang.
"Ya..ini Chanyeol. Kau siapa?"
Sambil berbicara di telepon, Chanyeol menggoda kekasihnya dengan mencubit kedua pucuk dadanya bergantian. Yang segera dibalas oleh Baekhyun dengan cara menyempitkan lubang anusnya hingga menjepit kuat penis Chanyeol.
"Nggh..ah ya..siapa tadi?"
Baekhyun terkikik melihat Chanyeol kewalahan mengatur suaranya.
"Siapa? Yeri?!" Pekik Chanyeol heboh. "Ya! Aku bisa! Aku akan menjemputmu sekarang. Tunggu aku oke? Bye"
Seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya, Chanyeol mencabut penisnya begitu saja, dan memakai bajunya terburu-buru.
"Chanyeol...jangan bilang kau akan pergi?!"
"Aku harus pergi Baek" Chanyeol masih sibuk merapikan penampilannya. Kemudian baru mendekati Baekhyun yang masih di atas ranjang dengan wajah kecutnya. "Anggap itu balasan hukuman dariku."
"Sialammhh!"
Chanyeol tersenyum geli, kemudian mengusap bibir Baekhyun yang basah karena ulahnya baru saja. Dan benar-benar meninggalkan Baekhyun setelahnya.
Tentu saja setelah meninggalkan satu lagi kecupan manis untuk si mungil.
.
.
.
Seperti hari-hari biasanya, kantin di Fakultas Ekonomi menjadi tempat yang paling ramai dikunjungi oleh para mahasiswa. Selain karena citarasa makanannya, para penghuni tetap di meja pojok kantin adalah alasan utama dari keramaian di kantin ini.
Suasana hari ini sedikit berbeda, karena sejak beberapa jam yang lalu hanya ada dua lelaki saja yang duduk di meja tersebut. Yang satu si lelaki mungil nan manis, dan yang satu lagi lelaki tinggi berkulit tan.
"Hahahahahaha" tanpa peduli dirinya yang sedang diperhatikan orang lain, pria berkulit tan ini tetap melanjutkan tawanya. Sementara yang lebih mungil semakin menekuk bibirnya ke bawah.
"Jadi...ini pertama kalinya dalam hidup seorang Byun Baekhyun pfftt." lagi-lagi ia berupaya menahan tawanya. "ehem! Baekhyun sang penakluk wanita di ranjang...kini harus bermain solo? Hahahaha"
"Diamlah Kai!"
Baekhyun mulai menyesali keputusannya untuk menceritakan malam mengenaskannya bersama Chanyeol beberapa waktu lalu. Dimana berakhir dengan dirinya menyentuh miliknya sendiri. Dan itu memang benar-benar pertama kalinya ia lakukan.
"Oke. Oke. Maafkan aku" Kai berdeham sejenak. Lalu mengerlingkan matanya pada lelaki mungil di sampingnya. "Harusnya kau hubungi aku. Aku sangat bersedia untuk membantumu tentunya" ucapnya sambil tersenyum miring.
"Bagaimana kalau kita lakukan sekarang?" Baekhyun tersenyum sambil menaikkan sebelah alisnya. Sementara Jongin memucat dalam duduknya.
"B..bbaek..kau kau serius?"
Baekhyun mengangguk dengan manisnya.
"Bagaimana? Kau mau? Kebetulan aku sedang ingin..." Baekhyun mendekatkan wajahnya perlahan, membuat Jongin berulang kali meneguk air liurnya. "...'menusuk' lubang seseorang"
Jongin mendengus kesal dan memutar matanya. Sesekali ia bergidik geli karena membayangkan jika Baekhyun benar-benar membobol bokongnya.
"Hah! Mungkin rasanya sama seperti dimasuki lidi"
Cetak!
"Aw! Sakit bodoh!"
"Rasakan itu!" Baekhyun mengalihkan pandangannya ke depan kembali, sambil menopang dagunya dengan kedua tangannya. "Sekali lagi kau menghina penisku, aku tak segan-segan memasukimu detik itu juga" ancamnya yang tentunya bukan candaan semata.
"Huh. Selalu berakhir dengan ancaman!" Jongin mendengus kesal sambil terus mengusap kepalanya. "Pantas saja Chanyeol lebih memilih menghabiskan waktu bersama mantan kekasihnya daripada dengan Byun si mulut pedas" ketus Kai.
"Ap..apa katamu?! Kau ini!...aishh sudahlah!" Baekhyun meniup poninya kesal. Tangannya bersedekap di atas meja, sementara kedua matanya menatap tajam lelaki di sebelahnya. "Aku doakan kau bernasib sama sepertiku!"
Kai terkekeh meremehkan. "Sayang sekali Sehun tidak punya mantan kekasih Baek. Jadi aku tidak perlu bermain solo dan..Baek? Baekhyun?" Kai mengernyit melihat Baekhyun membeku dengan pandangan terkunci ke arah lapangan di sebelah kantin. Dan ia semakin dibuat keheranan, karena bukan hanya Baekhyun saja, melainkan seluruh penghuni kantin, yang juga membeku seperti Baekhyun.
Maka saat itulah Kai membalikkan tubuhnya ke belakang. Menampilkan Sehun yang sedang melewati kantin dengan seorang wanita di sampingnya, ditambah tangan lelaki itu yang berada di pinggang sang wanita.
Jelas saja semua orang ternganga. Jika itu Chanyeol atau Baekhyun, semua orang mungkin terbiasa. Namun ini Oh Sehun, sosok lelaki dingin, pelit berbicara, dan tidak pernah berdekatan dengan seorang wanita selain ibunya. Tapi kini, lelaki berkulit pucat itu tampak mesra sambil bersenda gurau dengan sang wanita.
"Hei..hei! Mau apa kau?!" Baekhyun sedikit waspada melihat Kai tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya dengan kedua tangan mengepal.
"SEHUUN! HEY SEHUUNNN!" pekik Kai dengan hebohnya, membuat semua yang ada disana beralih menatap dirinya. Sementara sosok yang dipanggil sama sekali tidak menolehkan kepalanya.
"YAK OH SEHUUN! BABY AKU-"
Pekikan Kai teredam seketika disaat Sehun menoleh singkat ke arahnya. Dengan tatapan dingin menusuknya. Dan lebih menyesakkan lagi, kekasihnya itu justru terus melanjutkan langkahnya bersama si wanita yang tak jelas asal usulnya itu.
Drrrtt Drrrt
Suara getar dari ponsel di atas meja, mampu membuat Kai terduduk kembali di bangkunya. Sebuah pesan masuk, yang ternyata berasal dari Sehun.
'Dia Nana, sahabat kecilku. Dan dia tidak tahu hubungan kita. Semoga kau mengerti.'
.
.
.
"Haaahh/haaahh"
Sudah dua jam lebih semenjak kejadian menghebohkan tadi, dan selama itu pula baik Baekhyun maupun Kai terus menerus menghela nafas.
"Aish! Lebih baik kau pergi saja cari wanita Baek" Jongin mendengus kecil dengan kedua tangan yang menopang dagunya. "Kau kan masih bisa, tidak seperti aku yang..yeaah gay seutuhnya" ucap Kai lesu.
"Aku sudah mencobanya, tapi..." Baekhyun menghela nafas keras kemudian secara tiba-tiba menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "...tapi penisku bahkan tidak mau 'berdiri' melihat mereka..."
Hening. Baekhyun masih tampak malu dengan pengakuannya. Sementara Jongin masih dalam proses mencerna kalimat yang diucapkan Baekhyun. Sampai akhirnya...
"Baekppfftt HAHAHAHAHAHAHA"
Baekhyun memutar matanya melihat Kai tertawa dengan puasnya. Diam-diam ia merutuki dirinya yang lagi-lagi telah ceroboh menceritakan kisah ranjangnya dengan seseorang seperti Kai.
"Jangan lupakan ancamanku yang tadi Kai"
Hanya dalam hitungan detik setelah Baekhyun berbicara, tawa Kai berhenti saat itu juga. Ia berdeham keras dan sekuat tenaga mengatupkan bibirnya menahan tawa.
"Tapi sungguh aku prihatin padamu sobat" ucap Kai sambil menepuk pelan pundak Baekhyun. "Chanyeol yang sudah merubah orientasi seksmu, namun si bodoh itu justru sibuk dengan mantan kekasihnya"
"Sudahlah. Membahas dirinya hanya membuatku kesal. Chanyeol memang bodoh dan-
-dan kenapa denganku?"
Untuk kedua kalinya di hari ini, ekspresi Kai dan Baekhyun membeku. Bukan pada Chanyeol yang memakai hoodie barunya, tapi pada seorang wanita yang berada di belakangnya. Catat: dengan tangan mereka yang saling bertautan!
Melihat Chanyeol berhenti, wanita itu melirik ke depan dan tersenyum senang mendapati siapa sosok yang sedang duduk di sana.
"Hay Baekhyuunnnn!" sapanya penuh ceria.
"Hey Yeri" yang dibalas singkat padat dan dingin oleh Baekhyun. Tentu saja ia mengenal gadis itu. Seorang gadis yang menjadi awal penyebab Chanyeol dan Baekhyun melakukan taruhan. Dan gadis itu juga kekasih pertama Chanyeol.
Yeri tetap tersenyum melihat reaksi tak ramah dari Baekhyun. Kemudian ia beralih pada sosok di sebelahnya, dan turut memberikan senyum manis untuknya.
"Hai Kai, senang bertemu denganmu"
"Ah? Umh ya hehe aku juga Yeri" Kai tertawa canggung sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Suasana begitu kaku saat ini, dimana Baekhyun dengan wajah juteknya, Chanyeol yang memandang intens pada kekasih mungilnya, sementara Yeri hanya berdiam diri di posisinya.
"Hey duduklah disini. Bergabung saja dengan kami" ucap Kai mencoba mencairkan suasana.
Drrtt Drrtt
Ponsel Kai bergetar, menunjukkan sebuah pesan masuk.
'Kita tukar posisi'
Kai berdecak sambil melirik tajam ke arah Chanyeol yang pura-pura tidak mengetahui apa-apa. Ia baru saja hendak berdiri, ketika Baekhyun menarik kuat tangan kirinya.
"Ancamanku tadi masih berlaku Kai" bisiknya tenang namun mematikan. Sukses membuat Kai kembali duduk dengan patuh di bangkunya.
Melihat itu, Chanyeol berdecih pelan, kemudian mengambil posisi duduk di depan pria mungilnya, diikuti Yeri yang duduk di sampingnya.
"Kai. Mungkin kau bisa membantu Yeri memilih makanan di stand depan?" Chanyeol memanggil Kai tapi pandangannya justru terpaku pada lelaki di depannya.
Kai mendengus kesal dengan perintah Chanyeol yang tentunya memiliki niat terselubung itu. Namun ia tetap berdiri bersama Yeri, dan sekali lagi Baekhyun menahan tangannya.
"Kubilang jangan-
-ada masalah Baekhyun?" Chanyeol tiba-tiba menyahut dengan tatapan tenang, namun tentunya memiliki makna terselubung dari ucapannya.
Baekhyun mencibir kesal, kemudian melepaskan tangan Kai, membiarkan sahabatnya itu pergi meninggalkan dirinya berdua dengan Chanyeol. Ia memilih memandang ke lapangan di sebelah kiri, ketimbang wajah Chanyeol yang begitu sumringah di depannya.
"Hai cantik"
Baekhyun memutar matanya. "Aku ini lelaki, bodoh! Apa aku-
-menunjukkan bukti bahwa kau lelaki? Mau dimana? Di mobilmu? Ayo lakukan sekarang" potong Chanyeol telak.
"Aishh! Percuma bicara dengan orang bodoh" cibir Baekhyun sambil menjebikkan bibirnya.
"Jangan mengujiku Baek.." si mungil tertegun mendengar suara Chanyeol merendah dan sedikit serak. Dan ia hanya bisa geleng-geleng kepala menyadari bibir tipisnya yang menjadi penyebabnya.
"Cium saja mantanmu itu!" ketus Baekhyun.
"Haruskah kulakukan?"
"Silahkan saja. Tapi.." Baekhyun memajukan wajahnya, kemudian menatap Chanyeol dengan tatapan menggoda sambil menggigit bibir bawahnya. "...jangan pernah menyentuh bibirku lagi setelahnya" bisiknya pelan, diakhiri jilatan sensual di bibirnya.
Kedua tangan Chanyeol mengepal, sedang kedua matanya berkilat tajam. Demi apapun ia dalam masa rindu dengan kekasihnya karena sudah 2 minggu tidak menghabiskan waktu bersama. Dan ketika akhirnya bertemu, si mungilnya ini justru menggodanya.
"Baek...berhenti atau aku benar-benar akan menyeretmu ke dalam mobil"
"Kenapa Yeolhh?" Bisik Baekhyun diiringi desahan yang disengaja. Belum puas menggoda sang kekasih, Baekhyun sengaja mendongakkan kepalanya, sambil melebarkan kerah kemejanya. Membuat leher mulusnya terpampang sempurna.
Chanyeol merasa udara semakin sesak dan kerongkongannya serasa mengering karena pemandangan di depannya saat ini. Ditambah lagi sesuatu di bawah sana yang mulai terbangun. Chanyeol baru saja memutuskan untuk menarik Baekhyun sampai-
Cetak
"Aw!"
-tangan lentik kekasihnya itu menyentil keras dahinya. Sambil terus mengusap dahinya, Chanyeol mengerucutkan bibirnya.
"Sakit Baekhyunn~~" rajuknya manja. Sementara Baekhyun seakan ingin muntah melihat tingkah laku kekasihnya itu.
"Hey ini benar-benar sakit! Lihat ini lihat..merah bukan?" Chanyeol mengibaskan poninya dan bekas kemerahan akibat sentilan Baekhyun tadi terpampang di sana. Membuat si pelaku sedikit merasa bersalah.
"Baiklah, maafkan aku" ucap Baekhyun sambil mengelus dahi Chanyeol yang memerah dengan tangannya.
"Masih sakit Baek...tiup~~"
Baekhyun mendecak kesal, namun tetap memajukan wajahnya menuju dahi Chanyeol.
"Fiuhh-
Cup
-yak!" Baekhyun mengusap bibirnya sambil memandang sekitar mereka. Beruntungnya karena posisi mereka di pojok, tidak ada yang sadar akan kegiatan mereka tadi. "Kau tidak takut orang lain dan mantan tersayangmu itu mengetahui hubungan kita hah?!" gerutu Baekhyun yang justru semakin membuat Chanyeol gemas melihatnya.
"Aku tidak peduli dan ah...aku ingin sekali lagi Baek"
Chanyeol sudah memajukan wajahnya kembali, ingin meraih bibir Baekhyun, namun si mungil lebih gesit menutup bibir tebal Chanyeol menggunakan tangannya. Lalu ia dorong kepala Chanyeol agar mundur kembali ke belakang, membuat si tinggi melengkungkan bibirnya le bawah.
"Sudah kubilang cium saja mantanmu itu"
"Dia juga mantanmu, jika kau lupa"
"Ya, sebelum kau mengambilnya"
Skak. Chanyeol dibuat bungkam oleh pernyataan Baekhyun. Ia menarik nafas panjang sebelum kembali menatap Baekhyun dengan intens.
"Yeri tidak akan lama di Korea. Hanya mengurus beberapa surat rekomendasi dan setelahnya kembali lagi ke London" Chanyeol mengalihkan topik pembicaraan. "Aku tidak pernah berniat untuk menghabiskan waktu berdua dengannya. Aku selalu mengajakmu, tapi kau tidak pernah sekalipun menerima ajakanku"
"Membuatku harus menahan rindu selama beberapa minggu"
"Hah! Omong kosong"
Baekhyun gagal. Gagal untuk menahan senyuman yang merekah di wajahnya. Dan nampaknya senyuman itu pun turut menulari Chanyeol di depannya.
"Serahkan kunci mobilmu"
"Untuk apa?"
"Ck. Sudah cepat kemarikan"
Meskipun masih tidak mengerti apa tujuan Chanyeol, Baekhyun tetap merogoh kunci mobil dari dalam ranselnya. Kemudian ia serahkan pada sang kekasih yang sedang tersenyum puas. Baekhyun hanya bisa mengernyit ketika Chanyeol justru memencet sesuatu di ponselnya.
"Halo paman Jung" kerutan di kening Baekhyun semakin bertambah, ketika Chanyeol menghubungi supir pribadi keluarganya.
"Tolong datang ke kampusku dengan taxi. Aku ingin kau membawa mobil Baekhyun ke rumahnya. Terima kasih"
Pip
Baekhyun hanya bisa terpaku, baru memahami maksud tindakan kekasihnya, sementara si pelaku hanya tersenyum lebar.
"Pulang denganku ya? Aku rindu..." bisik Chanyeol sambil perlahan-lahan meraih tangan Baekhyun untuk ia genggam. Sementara ekspresi Baekhyun sendiri mulai melembut, dan memberikan senyuman manis diiringi anggukan pasti untuk ajakan sang kekasih.
"May I kiss you once again?"
"Ya..."
Baekhyun tersenyum kecil, kemudian ikut memajukan wajahnya, hingga hidung keduanya nyaris bersentuhan.
"...tapi nanti"
Sementara sepasang insan ini saling bersitatap penuh damba, di belakang sana Kai hanya bisa mengumpati mereka dalam hati.
.
.
.
"Tidak ingin menjelaskan sesuatu?"
Sehun hanya melirik sekilas pada Kai yang muncul tiba-tiba di sebelahnya, kemudian atensinya kembali pada dosen mereka yang sedang menjelaskan di depan.
"Wah. Apakah aku sedang berbicara dengan sebuah patung lilin?" sindir Kai ketus.
"Ck. Kurang-kurangi bermain bersama Baekhyun. Berisik sekali" ucapnya datar, masih dengan tatapan kedepan.
Merasa jengah akan sikap acuh Sehun, ia tarik ujung dagu Sehun menghadap ke arahnya.
"Daripada membahas Baekhyun..." Kai berbisik sambil mendekati Sehun yang nampak sedikit gugup. "...bagaimana jika kita membahas tentang gadis yang bernama Nana itu?" desisnya.
Sehun berdecak kesal, kemudian menghempas kuat tangan Kai dari dagunya.
"Nana teman kecilku" sahutnya tiba-tiba. Tepat disaat Kai hendak membuka mulutnya kembali. "Sejak SMP dia pindah ke Amerika, dan saat ini Nana sedang berlibur ke Korea"
"Lalu?"
"Dia tidak punya banyak teman di Korea, maka tentu saja sebagai teman lamanya aku harus menemaninya. Hanya itu saja" jelas Sehun.
"Tidak punya banyak bukan berarti tidak ada!" Kai berdecih pelan sambil memberikan tatapan mencela pada sang kekasih. "dan tadi apa kau bilang? hanya menemani? lalu bagaimana dengan rangkulan mesra itu?" tanyanya lagi, dengan intonasi penekanan pada ujung kalimat.
"Entahlah. Hanya terbawa kebiasaan lama mungkin" jawab Sehun asal sambil mengangkat kedua bahunya.
"Cih. Kebiasaan atau-
-dia sudah memiliki kekasih, Kai. Tidak ada apa-apa di antara kami" tambahnya lagi.
Kai memicingkan matanya, menelusuri kejujuran dari ekspresi datar Sehun. Dan kebersamaan selama 7 tahun, tentunya membuat ia mampu menemukan sesuatu yang ditutup rapat oleh lelaki itu.
"Kau pernah memiliki perasaan padanya?"
Meskipun ekspresi Sehun nampak tenang, namun pandangan matanya yang tak fokus, serta kedua tangannya yang saling bertaut, menandakan lelaki itu sedikit gugup. Dan semuanya tentu tak luput dari perhatian lelaki di sebelahnya.
"Sudah, tidak perlu dijawab. Kau pernah menyukainya. Ah tidak. SANGAT menyukainya"
Sehun membelalak dan refleks menoleh ke arah Kai. Melihat tatapan tajam penuh curiga yang masih melekat di kedua mata lelaki itu, Sehun hanya bisa menghela nafas panjang, kemudian kembali membawa pandangannya ke depan.
"Apa artinya masa lalu jika sekarang aku sudah menjadi milikmu"
Kali ini Kai yang dibuat terbelalak oleh ucapan lugas Sehun.
"Jika saat itu aku bertemu denganmu terlebih dahulu, maka tidak akan pernah ada nama Nana yang singgah di hidupku"
Sebuah senyuman hangat yang sangat langka ditampilkan oleh seorang Oh Sehun, menjadi penutup kalimat yang dilontarkan olehnya. Membuat Kai hanya bisa terpaku tanpa berkedip, bahkan sampai lupa menarik nafas.
"Bernafas Kai"
Sehun tersenyum geli melihat Kai terengah-engah. Tangan kirinya terangkat menuju surai cokelat lelaki itu, merapikan beberapa helai rambut yang menutupi matanya.
"Aku hanya berucap apa adanya, kau sudah lupa bernafas. Harusnya aku yang menjadi sememu" ejek Sehun, dengan tangannya yang terus bergerak di surai kekasihnya.
Mendengar ejekan Sehun, Kai mendengus dan mendekatkan wajahnya menuju telinga lelaki itu.
"Lalu siapa yang lupa bernafas ketika sedang berbaring di bawahku?" balasnya dengan sebuah bisikan sensual. Membuat rona kemerahan, samar-samar menghiasi wajah pucat Sehun.
Melihat itu, Kai tertawa kecil, dan menarik kepalanya menjauh. Sama seperti Sehun, ia juga mengalihkan pandangannya ke depan. Sebelum sang dosen yang sejak tadi memperhatikan ke arah mereka, benar-benar akan mendatanginya.
"Aku akan mengantarmu pulang nanti"
Dan Kai pun tersenyum senang melihat Sehun menganggukkan kepalanya.
.
.
.
Drrtt Drrtt
'Aku harus menemani Nana. Lain waktu kita pulang bersama'
Senyuman di wajah Kai sirna begitu saja ketika membaca isi pesan dari sang kekasih. Padahal ia sudah merencanakan untuk kencan di game center, makan malam bersama, menghabiskan malam dengan cumbuan dan ah sudahlah lupakan sebelum sesuatu di bawah sana meronta untuk dibebaskan.
Kai sudah mulai menghidupkan mesin mobilnya, sampai getaran terasa dari sakunya. Sebuah pesan dari Sehun kembali. Dan kali ini mau tidak mau, senyuman kembali merekah di bibirnya.
'Jangan marah. Hati-hati di jalan. Love you.'
Setelah memasukkan kembali ponselnya di saku jaketnya, ia pun mulai melajukan mobilnya menuju pintu gerbang. Tepat ketika kedua obsidiannya menangkap sosok mungil yang begitu dikenalinya di depan gerbang, lagi-lagi ponsel di sakunya bergetar.
"Ck! Si bodoh ini!"
Setelah puas mengumpati seseorang yang baru saja mengiriminya pesan, ia masukkan kembali ponselnya, kemudian mengarahkan mobilnya menuju sosok mungil di sana, yang merupakan kekasih dari si pengirim pesan tadi.
Tiinn Tiinn!
Si mungil tersebut hanya mengenyitkan dahi melihat mobil sahabatnya berhenti di sebelahnya. Ia beranjak dari tempatnya berdiri, menuju salah satu kaca pintu mobil yang terbuka.
"Lihat ini"
Kedua mata puppy itu bergulir menuju layar ponsel yang disodorkan oleh Kai di depan wajahnya. Sebuah pesan, dengan nama Park Chanyeol di kolom pengirimnya.
'Kai ada sesuatu yang perlu kukerjakan. Aku titip Baekhyun padamu dan antarkan dia sampai rumah. Voucher clubku untukmu. Thanks.'
Setelah memastikan sahabat mungilnya ini telah membaca isi pesannya, Kai menarik kembali ponselnya lalu dimasukkan kembali ke sakunya. Sebersit rasa iba muncul di benaknya melihat tatapan redup dari sang sahabat.
"Ayo, masuklah Baek" sahutnya lembut.
Baekhyun menggeleng pelan tanpa menyahut, kemudian perlahan-lahan menarik diri dari posisinya saat ini.
"Hey Baek tunggu dulu!" pekik Kai dari dalam mobil. Dan untungnya sukses menghentikan langkah Baekhyun.
"Aku bisa pulang sendiri" sahutnya dingin.
"Ck! Tanpa diminta Chanyeol pun aku tidak akan membiarkanmu pulang sendiri Baek. Ayo masuklah!"
Baekhyun masih diam dalam posisinya, nampak menimang-nimang keputusan apa yang akan diambil olehnya. Hingga akhirnya beberapa detik kemudian, kaki mungilnya melangkah masuk ke dalam mobil, tepat di samping sang pemilik.
"Baek, kau ada acara setelah ini?"
"Tidak, ada apa?"
"Bagaimana kalau kita mampir dahulu ke beberapa tempat?"
"Kemana?"
"Kemana saja. Game center, mall, taman, atau...club mungkin?" Seringai kecil muncul di wajah Kai ketika ia menyebutkan tempat terakhir. Membuat Baekhyun menggeleng kecil melihatnya.
"Game center saja. Bagaimana?"
"Ayay captain!" sahut Kai kegirangan. Kedua matanya berkilat penuh semangat, sementara kakinya menekan pedal gas lebih dalam, membawa mobilnya melaju pada kecepatan tinggi.
"Kita tunjukkan bahwa kita bisa bersenang-senang tanpa dua pria bodoh itu Baek"
Baekhyun mengangguk setuju akan pernyataan itu. Maka kemudian senyuman angkuh perlahan tercetak di wajah mereka masing-masing.
.
.
.
Kehadiran matahari telah digantikan oleh rembulan sejak tiga jam yang lalu. Disaat yang lain mulai kembali ke rumah masing-masing, lain halnya dengan Kai dan Baekhyun. Seakan belum puas mereka menghabiskan waktu di berbagai tempat selama berjam-jam, saat ini mereka nampak asyik mengelilingi sebuah mall di tengah kota.
Hingga akhirnya pada satu jam kemudian, cacing di dalam perut mereka berdua mulai meronta untuk diperhatikan. Terjadi perdebatan di sini, dimana Baekhyun ingin menyantap masakan Jepang, sementara Kai tertarik pada ayam McD. Perdebatan itu selesai pada menit kesepuluh, dengan Baekhyun menjadi pemenangnya. Tentunya menggunakan sebuah ancaman mengerikan sebagai andalannya.
"Cepatlah! Aku sudah lap-
Bruk!
-Chanyeol? / Sehun?"
Baekhyun terpaku mendapati sosok yang ia tabrak ternyata adalah Chanyeol, kekasihnya. Tak jauh beda dari Baekhyun, Kai pun nampak terkejut karena sorot matanya menangkap Sehun sedang melangkah dari arah sebelah kanan. Dan keduanya sama-sama mencelos melihat masing-masing kekasih mereka, bersama seorang wanita di sampingnya.
"Yeriiii! / Nanaaa" pekikan dari kedua wanita itu memecahkan keheningan canggung yang terjadi saat ini. Keduanya saling berpelukan hangat, karena nyatanya mereka adalah sepasang sahabat di Amerika.
Namun sepertinya para lelaki tidak tertarik dengan fakta tersebut. Keempatnya nampak masih sibuk memandangi pasangan masing-masing. Mungkin Chanyeol yang sedikit berbeda, karena pandangannya lebih tajam, mengarah pada tangan Baekhyun yang bertapak di atas tangan Kai.
"Ehem!" Kai berdeham untuk mencairkan suasana. "Aku dan Baekhyun ingin makan malam disana, kalian mau ikut?" tawarnya.
"Ini sudah larut dan kalian baru akan makan malam?!" bukannya menjawab Chanyeol justru kembali bertanya dengan nada meninggi. "Dan aku yakin kau melewatkan makan siangmu!" tuduhnya mengarah pada Baekhyun.
"Kami keasyikan bermain Yeol. Kalau kau khawatir ikut saja dengan-
-tidak. Aku pulang duluan" potong Chanyeol tegas. Lalu pergi begitu saja bersama Yeri setelahnya.
Baekhyun hanya bisa mengumpati lelaki itu dari kejauhan. Demi apapun ia belum sempat mengucap sepatah katapun, tapi Chanyeol sudah pergi dengan seenaknya begitu saja.
"Sudahlah, ayo kita pergi Kai. Kau mau ikut Sehun?"
Sehun menggeleng pelan, tak berani membalas tatapan Kai di sebelahnya. "Aku harus mengantarkan Nana-
-ayo Baek!"
Tanpa peduli Sehun yang memaku di posisinya, Kai pun segera menarik Baekhyun dalam genggamamnya, dan bersama-sama meninggalkan tempat tersebut.
...
Kiranya sudah puas memanjakan perut, yang diselingi umpatan mengenai kekasih masing-masing, Kai dan Baekhyun pun memutuskan untuk pulang. Canda tawa antara keduanya mengiringi di sepanjang jalan menuju tempat parkir. Namun keduanya serempak terdiam begitu melihat sosok tinggi di atas motor, tepat di samping mobil milik Kai.
"Hah. Lama sekali" sungut lelaki itu.
"Kau sudah sejak tadi disini Yeol? Menunggu kami?" tanya Kai sedikit tak percaya.
"Ya dan ya" jawabnya singkat sebelum beranjak turun dari motornya, kemudian melangkah mendekati kedua pria berbeda tinggi badan di depannya. "Aku ambil Baekhyunku kembali. Terima kasih sudah menjaganya" dengan tiba-tiba Chanyeol menarik Baekhyun berpindah ke sebelahnya. Kemudian mendorong tubuh Kai untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Tapi Yeol-
-sampai jumpa Kai. Jangan lupa besok pagi kita ujian"
Kai hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Chanyeol. Bahkan lelaki itu sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk sekedar mengucapkan sebuah ucapan selamat malam pada Baekhyun. Maka mau tidak mau pun ia mulai membawa mobilnya meninggalkan mereka berdua.
"Ayo kita pulang" ucap Chanyeol tiba-tiba, mendahului Baekhyun yang hendak bersuara. "Lihat! tanganku sampai membeku karena berjam-jam menunggumu disini" keluhnya sambil menyodorkan kedua tangannya di depan wajah Baekhyun.
"Lalu? Itu salahku? Memangnya aku yang menyuruhmu menunggu?" ia dorong telapak tangan Chanyeol dari depan wajahnya, kemudian memberi tatapan nyalang pada lelaki itu, lengkap dengan kedua tangan yang menyilang di dada. "Bukannya tadi kau yang pergi begitu saja dengan mantan tersayangmmhhh"
Chanyeol menyambar cepat bibir tipisnya. Bukan kecupan singkat seperti biasanya, tapi juga bukan sebuah ciuman yang terburu-buru. Salahkan rindu, hingga Baekhyun pun memasrahkan dirinya, membiarkan bibir sang kekasih melumat miliknya. Hanya 1 menit saja, dan Chanyeol yang pertama menarik wajahnya.
"Aku doakan bibirmu membusuk!"
"Tak apa. Aku masih punya lidah untuk kau sesap"
Baekhyun mencibir kesal, membuatnya tampak menggemaskan hingga Chanyeol tak tahan untuk mencubit bibirnya.
"Aku pergi untuk membeli ini, bukan untuk mengantarkan Yeri pulang"
Sebuah bingkisian dengan kotak putih di dalamnya, yang sudah Baekhyun lihat sejak tadi, disodorkan oleh Chanyeol kepadanya. Semerbak aroma manis strawberry menguar begitu saja memasuki indera penciuman Baekhyun, ketika kotak itu berada di dekat wajahnya.
Itu adalah cake strawberry kesukaannya, dan Baekhyun tahu pasti bahwa cake itu dibeli di tempat langganannya. Yang hanya dibuka pada hari rabu dan kamis, serta letaknya sangat jauh dari tempat mereka kini berada.
"Dasar bodoh! Kau 'kan bisa mengantar ini kerumahku!"
"Aku ingin pulang bersamamu"
Niat Baekhyun untuk menyerukan protes, teredam begitu saja mendengarnya. Sambil mencibir pelan, Baekhyun menangkup kedua tangan Chanyeol yang membeku tadi, lalu digosok-gosokkan hingga menghangat. Membuat sebuah lesung pipi hadir di wajah Chanyeol.
Jika bukan karena waktu yang semakin larut, serta adanya security yang mengingatkan mereka bahwa mall segera tutup, mungkin mereka berdua akan tetap berdiri disini sampai pagi. Chanyeol yang lebih dahulu menarik tangannya, kemudian membuka jaket miliknya untuk dipakaikan di tubuh Baehyun.
"Yeol, ini dingin sekali. Kau saja yang pakai jaketnya" ucap Baekhyun ketika mereka berdua sudah berada di tengah perjalanan.
"Aku baik-baik saja, asal bukan kau yang kedinginan"
"Ck. Aku tidak selemah itu! Kau mau mati-
-peluk aku" potong Chanyeol tiba-tiba. "Jika kau memang khawatir padaku, peluklah aku. Itu lebih hangat dari apapun"
Kehangatan benar-benar menjalari sekujur tubuh Chanyeol, ketika sepasang tangan mungil perlahan melingkari perutnya. Bahkan kehangatan itu sampai ke dalam hatinya.
"Lebih erat"
Baekhyun berdecak tak suka, tapi kedua tangannya tetap memeluk tubuh Chanyeol lebih erat. Dinginnya malam bahkan kalah telak oleh kehangatan yang diciptakan oleh mereka berdua.
.
.
.
Hingga hari-hari berikutnya, lelaki itu masih jarang menghampiri Baekhyun, dan lebih memilih menemani mantan kekasihnya. Dan sama seperti hari-hari sebelumnya, saat ini pun Kai hendak menjalankan perintah Chanyeol. Yaitu menjaga baik-baik titipannya. Byun Baekhyun.
Jika bukan karena iming-iming menggiurkan yang ditawarkan oleh Chanyeol, ia tidak akan mau membawa si mungil itu bersamanya, apalagi di jadwal kencannya bersama Sehun.
Demi apapun rasanya Kai ingin sekali mendorong Baekhyun ke Sungai Han, karena sejak tadi lelaki tersebut melarangnya bermesraan bersama Sehun, bahkan menarik nafas bersamaan dengan Sehun pun tak boleh. Lalu yang lebih menjengkelkan, si anak singa ini tidak mau diantarkan pulang, dan meminta Kai beserta Sehun untuk menemaninya makan siang di sebuah restoran Jepang.
Tepat ketika tiga sosok yang tak asing masuk dalam penglihatan Sehun, secepat kilat ia menahan Baekhyun untuk masuk ke dalam restoran itu. Yang tentunya dibalas dengan pelototan tajam dari si mungil.
"Ada restoran yang lebih enak dari ini Baek. Ayo kita pindah" bujuk Sehun.
"Tidak. Aku sudah lapar" jawab Baekhyun.
"Kita bisa kesana lain waktu. Aku juga sudah..hey ada apa dengan matamu? Kelilipan?" tanya Kai.
Sehun menghela nafas putus asa melihat kedua sahabatnya, terutama sang kekasih. Sungguh rasanya ia ingin sekali menendang kekasihnya ini karena salah mengartikan isyaratnya.
"Ayolah, kita pindah sa-
-Sehun?"
Dan Sehun hanya bisa menggeleng pasrah karena semuanya sudah terlambat.
...
Kecanggungan masih tetap menyelimuti, meski sudah satu jam lebih keenam insan muda ini duduk bersama. Entah bagaimana caranya, Baekhyun, Sehun dan Kai berakhir bergabung di satu meja dengan Nana, Yeri, dan tentunya Chanyeol.
Hanya kalimat basa basi saja yang bisa diucapkan oleh para lelaki. Selebihnya, pembicaraan mereka lebih didominasi oleh para wanita.
"Tapi sungguh, popularitas kalian memang luar biasa. Hampir di setiap sudut kampus selalu membicarakan kalian" seru Yeri kagum dan berapi-api.
"Mereka terlalu berlebihan. Kami juga bernafas, tidur, makan, minum seperti mereka. Yah..mungkin wajah kami saja yang berbeda"
"Ck / Aishh!"
Baik Sehun dan Baekhyun serempak berdecak dan mendengus keras mendengar ucapan sombong dari Kai. Sedangkan Chanyeol justru menjulurkan tangannya, melakukan tos sebagai tanda setuju akan lelaki itu. Sementara para wanita, hanya tersenyum geli melihat interaksi keempat sahabat ini.
"Hmm aku yakin kalian memiliki kekasih dimana-mana. Bagaimana denganmu Kai?" tanya Nana tiba-tiba.
Kai nampak sedikit terkejut akan pertanyaan Nana padanya. Namun ia tetap berusaha tersenyum tenang, dan menjawab wanita itu dengan lantang.
"Aku hanya punya satu. Sejak dulu. Dan tidak pernah ada niat untuk mendua darinya." jawabnya lugas, sambil melirik ke arah Sehun, hingga keduanya saling bertemu pandang.
"Wah..pasti wanita itu cantik sekali ya?" tanya Nana lagi.
"Dia tidak cantik"
"Ah? Tapi pasti ia wanita yang-
-bukan. Dia bukan wanita. Aku gay"
Sehun tercekat, Baekhyun tersedak, Chanyeol membantu Baekhyun yang tersedak, sementara Kai sendiri tetap tenang mengabaikan reaksi dari yang lain.
"Yeah..tak apa kalau kalian jijik melihatku. Aku sudah biasa" lanjutnya lagi, ketika melihat Yeri dan Nana terus menerus menatapnya tanpa bersuara.
Nana yang pertama kali berdeham setelahnya. "Tidak masalah Kai haha" tawanya sungguh terasa hambar. "Jadi..apakah dia...kekasihmu?"
Kai membelalakkan matanya ketika Nana melihat dirinya dan Baekhyun bergantian. Menandakan bahwa wanita itu menduga ia menjalin cinta dengan si mungil.
"Bukan! Aku tidak sudi menjalin kasih dengan setan cilik seperti dirinya"
"Yak!"
Baekhyun memekik tak terima, dan memberikan pukulan terbaiknya pada punggung Kai. Namun sayangnya Kai tidak bisa membalas, karena sosok tinggi di depannya terlebih dahulu memberi tatapan mengancam padanya.
"Syukurlah. Aku kira kau akan mengajak teman-temanmu menjadi gay sepertimu"
Untuk kesekian kalinya suasana melengang kembali. Baekhyun mengepalkan kedua tangannya dibalik meja. Ia sudah akan bersuara sebelum Kai menoleh ke arahnya dan menggeleng kecil sambil tersenyum. Menandakan bahwa ia baik-baik saja mendengarnya.
"Haha kau ini bicara apa Nana" Yeri mencoba untuk mencairkan suasana. "Yang lain tentu saja sudah memiliki kekasih. Apalagi Baekhyun, benar 'kan Baek?" tanyanya sambil menoleh pada lelaki itu, dan diikuti oleh yang lain.
"Ya aku punya.." dapat Baekhyun lihat senyuman samar di wajah Chanyeol. "...tapi mungkin akan segera kuakhiri. Aku bosan padanya" dan senyuman Chanyeol menghilang seketika.
Yeri menggeleng sambir mencibir. "Kau sungguh tidak berubah Baek. Bahkan kudengar kau dan Chanyeol masih sering melakukan taruhan hingga saat ini. Benar bukan?" tanyanya lebih mengarah pada Chanyeol. Dan dibalas anggukan singkat oleh lelaki itu.
"Bagaimana kalau kita melakukan sebuah taruhan?" tawar Yeri pada Chanyeol dan Baekhyun.
"Apa yang akan kudapat?" jawab Baekhyun cepat
"Apa yang kau mau?"
"Bermalam bersamamu?"
Yeri tertawa canggung namun tetap menganggukkan kepalanya.
"Dan jika kalah maka-
-Baekhyun yang akan ikut denganku" potong Chanyeol begitu saja. Mengabaikan tatapan tajam dari temannya yang lain, ia berikan senyuman angkuh pada satu-satunya lelaki mungil di depannya. "Deal?"
Dengan senyum tak kalah angkuhnya, Baekhyun pun menjawab. "Deal!"
"Katakan tantangannya" sahut mereka bersamaan pada Yeri.
"Aku sudah memikirkannya, tapi aku belum menemukan seorang wanita yang tepat disini"
"Bagaimana dengan wanita di sebelah kanan itu?" usul Kai tiba-tiba. "Ia penyendiri, tak ramah dan nampaknya susah ditaklukkan"
Keempat orang lainnya mengikuti arah pandang Kai, dan setuju akan pendapat lelaki itu. Namun sedikit berbeda dengan yang lain, kekehan kecil terdengar dari mulut Sehun, sementara senyuman misterius berkembang di wajah Chanyeol. Ketiganya saling bersitatap kemudian, dan saling mengangguk penuh arti.
"Baiklah, ayo kita mulai"
Semuanya kembali fokus pada Yeri, dan menanti-nanti kalimat yang akan dilontarkan olehnya.
"Well, I dare you..."
Hening.
"..to kissing her...right here right now"
Beragam reaksi segera menyambut sesaat tantangan itu disuarakan. Kai bertepuk tangan heboh menyambutnya, Sehun hanya manggut-manggut sambil tersenyum kecil, Chanyeol nampak tenang dalam duduknya, begitu pula Baekhyun yang tak gentar akan tantangan tersebut.
"Silahkan princess" ejek Chanyeol ketika ia dan Baekhyun telah sama-sama berdiri dari bangku mereka. Baekhyun hanya memutar mata sebagai balasan, kemudian melangkah menuju wanita itu penuh percaya diri.
Decakan kagum dibunyikan oleh Yeri dan Nana, ketika melihat wanita itu nampak nyaman berbincang dengan Baekhyun hanya dalam hitungan menit. Disaat Baekhyun mulai melancarkan aksinya untuk mendekati wajah wanita itu, saat itulah-
"Hay Sujin!"
-Chanyeol menyahut keras dari tempatnya. Sujin, sang wanita yang tengah tenggelam dalam rayuan Baekhyun, tersadar seketika dan wajahnya begitu sumringah melihat sosok yang memanggilnya. Chanyeol mendekat perlahan, dan berdiri di samping Baekhyun yang terpaku.
"Kau disini Yeol?" tanya Sujin ceria.
Chanyeol mengangguk sambil tersenyum tampan. "Aku baru saja masuk, dan mataku langsung terpaku melihat wanita cantik di sebelah sini"
Baekhyun berdecih sementara Sujin merona dan salah tingkah dibuatnya. Melihat reaksi positif dari wanita itu, Chanyeol pun melangkah lebih dekat padanya.
"Sujin..senang rasanya, mendapat pernyataan cinta darimu" Chanyeol berbisik dengan suara rendah nan seksinya. "Seorang wanita yang baik, cantik dan...sexy" tangan Chanyeol mulai teangkat membelai tiap inci wajah si gadis, membuatnya terpejam akan sentuhan Chanyeol. "Tapi maaf..." Chanyeol mendekatkan wajahnya, hingga berhenti di depan bibir Sujin.
"Aku sudah punya kekasih. Dan lelaki mungil inilah orangnya"
Tepat ketika Sujin membuka lebar kedua matanya dan membeku dalam posisinya, Chanyeol mencuri kecupan singkat di bibir wanita itu.
"Sampai jumpa!"
Chanyeol melambaikan tangan seadanya, tak peduli dengan Sujin yang masih terpaku. Ia genggam tangan Baekhyun untuk melangkah bersamanya.
"Prepare for tonight Byun" bisiknya pada sang kekasih.
Baekhyun hanya berkedip-kedip tak fokus, sementara dirinya terus ditarik oleh Chanyeol menemui yang lain. Hingga akhirnya ia melihat Chanyeol dan Kai saling bertos ria, Baekhyun baru menyadari adanya bau-bau persengkokolan di belakangnya.
Tentu saja dugaan Baekhyun benar, karena Sujin adalah seseorang yang gencar mengejar cinta dari Chanyeol, bahkan selalu mengikuti kelas yang diambil oleh lelaki itu. Dan kebetulan Kai beserta Sehun mengetahuinya, ketika mereka akhirnya mengambil kelas yang sama dengan Sujin.
"Kami duluan" pamit Chanyeol sambil tetap memegang Baekhyun, sementara sebelah tangannya mengambil tas dan kunci motornya.
"Have fun Yeol!" Seru Kai berseri-seri, lalu terlihat membisikkan sesuatu pada Chanyeol.
Dan Baekhyun benar-benar meledak dalam emosi ketika melihat seringai mesum yang tercipta di wajah keduanya.
"KEMARI KAU KIM KAI!"
"AWH! YEOL TOLONG AKU YEOLL!"
Merasa jadi tontonan, Chanyeol memilih diam, dan menarik Baekhyun keluar. Tentunya dengan tangan si mungil yang masih berpijak erat di kepala Kai, ikut menariknya keluar.
Sehun nampak khawatir melihat nasib sang kekasih. Maka ia pun memutuskan berdiri dari tempatnya. "Aku harus menyusul mereka. Sampai jumpa Nana, Yeri" lalu iapun segera melangkahkan kakinya keluar.
"Sepertinya kita gagal" Nana menghela nafas, siratan putus asa terdengar dari ucapannya.
Melihat itu, Yeri menepuk pelan bahu gadis di sebelahnya, kemudian memberikan senyuman penuh semangat.
"Jangan khawatir. Aku sudah menyiapkan sesuatu untuk mereka" seringai licik dan menakutkan, perlahan tercetak di wajah cantik Nana. "Kita harus mendapatkan kembali apa yang pernah menjadi milik kita Nana"
...
Keributan masih tetap berlanjut diluar restoran. Dimana Kai masih melolongkan minta ampun pada Baekhyun yang masih setia menarik kuat surai hitamnya, sementara Chanyeol nampak tidak memberikan bantuan yang berarti baginya.
"KAU BERLEBIHAN BAEKHYUN!"
Sehun memekik menggelegar, dan sekuat tenaga mendorong Baekhyun menjauh dari Kai. Membuat si mungil terhuyung ke belakang, yang segera ditangkap oleh Chanyeol tepat waktu.
"Kai yang selalu menemanimu ketika Chanyeol tidak ada. Memastikan kau sudah makan dengan baik, mengantarmu pulang dengan selamat!"
"Se-"
"-lalu lihat apa yang kau lakukan? Selalu menyakitinya, membuatnya malu-"
"-Sehun sudahlah aku tidak-"
"-berhenti membelanya Kai! Aku muak melihat Baekhyun selalu merendahkanmu!"
"Lalu mengapa tadi kau bungkam hah?!" Kai terengah-engah mulai terbawa emosi. "Wanita itu juga 'memukulku' dengan kata-katanya. Mengapa kau diam saja?!" Sehun benar-benar kehilangan kata-kata untuk diucapkan.
"Aku tahu kau malu Sehun. Kembali saja padanya, aku tidak pantas untukmu"
"Kai! Tunggu aku Kai!"
Baekhyun dan Chanyeol hanya bisa melongo melihat adegan kisah percintaan di depannya.
...
"Strawberry cake?"
"Tidak"
"Yoghurt strawberry?"
Baekhyun menggeleng.
"Bibirku?"
Baekhyun mendelik tajam. Sementara Chanyeol terkekeh kecil sambil mencubit pelan pipi gembil si mungil.
"Ish! Aku mau pulaaanggg!"
"Ini 'kan sudah di rumah. Rumah masa depan kita nanti" goda Chanyeol. Namun nampaknya Baekhyun terlalu kesal meladeninya, hingga membuang mukanya ke samping. Kekesalan Baekhyun pada Chanyeol sudah bertumpuk, hingga puncaknya ketika ia minta diantar pulang, lelaki tinggi itu malah membawa Baekhyun ke apartemen pribadinya.
Chanyeol mengalah, kemudian duduk di atas lantai, tepat di depan Baekhyun yang duduk di atas sofa. Ia genggam kedua tangan Baekhyun sambil menatapnya dengan lembut.
"Baekhyun...tatap aku"
Meskipun enggan, Baekhyun tetap menolehkan wajahnya, membalas tatapan berbinar milik Chanyeol.
"Aku minta maaf oke? Maaf karena aku jarang menemuimu, selalu menggodamu, dan maaf juga untuk yang tadi" ucapnya dengan nada dan raut keseriusan. "Meskipun itu bukan Sujin, aku tetap akan berusaha untuk menang, agar aku bisa membawamu pulang bersamaku" jelasnya lagi.
"Aku merindukanmu...jangan marah lagi ya?"
"Hn" Baekhyun menggumam seadanya
"Ayolah Baek, cepat katakan kau mau apa? Aku akan mengabulkannya"
Chanyeol sedikit waspada menanti kalimat yang akan keluar dari mulut Baekhyun. Namun sepertinya ia salah, ketika Baekhyun justru tersenyum manis dan mengalungkan tangan lentiknya di leher Chanyeol.
"Kiss me"
Hanya dalam hitungan detik, bibir keduanya saling bertaut erat. Dimulai dengan lembut dan perlahan, menyiratkan rasa rindu dari keduanya. Baekhyun memejamkan matanya, memasrahkan dirinya ketika Chanyeol mendorong pelan tubuhnya berbaring di sofa.
Tubuhnya menghangat, ketika lidah mulai bermain, dan tangan mulai bergerak kesana kemari. Tak ada seincipun dari bagian tubuhnya, yang terlewat dari sapuan tangan dan bibir Chanyeol. Tanpa menghentikan gerakan bibirnya, Chanyeol mulai mengangkat kaos si mungil, menampakkan tubuh mulus yang menggoda birahinya.
"Chanhhh"
Baekhyun menggeliat tak karuan ketika Chanyeol mulai menjelajahi tubuh polosnya. Memberikan tanda kemerahan mulai dari bagian dadanya sampai tubuh bagian bawahnya. Dan ketika Chanyeol sudah kelepasan kendalinya dan membuka lebar kaki Baekhyun...
"Yeol aku..aku..."
Chanyeol mengacuhkannya, mengira Baekhyun terlena akan sentuhan bibirnya di dada lelaki itu. Ia sudah memposisikan kejantanan besarnya di depan bokong sintal si mungil, sampai akhirnya.
"Aku mau ke toilet Yeol!"
Mari salahkan Kai yang telah diam-diam memasukkan 5 sendok wasabi di ramen milik Baekhyun tadi
.
.
.
Pagi-pagi sekali, mobil Kai telah terparkir di lobi sebuah rumah sakit. Sosok Baekhyun yang masih nampak lemas, muncul tak lama setelahnya. Sudah 5 hari ia harus dirawat disini, akibat ulah lelaki di sebelahnya. Malam itu Baekhyun tak hentinya bolak balik dari toilet, hingga ia tak sanggup berdiri, membuat Chanyeol panik setengah mati.
Setiap harinya Chanyeol selalu berada di samping Baekhyun, sejak pagi hingga pagi kembali. Hanya hari ini saja ia berhalangan hadir, hingga akhirnya Kai yang diminta untuk menjemput Baekhyun.
"Hati-hati Baek"
Kai benar-benar memperlakukan Baekhyun bak seorang raja. Ia papah Baekhyun masuk ke dalam mobil, sambil memegangi kepalanya agar tidak terbentur. Setelah memastikan sahabatnya itu telah duduk nyaman, ia pun ikut masuk ke mobil.
Tidak banyak ucapan yang terjadi antara keduanya. Baekhyun nampak irit bicara, masih merasa bersalah karena yang ia dengar, Sehun dan Kai masih perang dingin sejak saat itu. Sama halnya dengan Kai, dirinya juga tidak tahu harus berkata apa selain kata maaf. Sungguh ia tidak memiliki niat untuk mencelakai sahabat mungilnya ini. Maka dalam diam, ia terus melajukan mobilnya menuju kampus mereka, sesuai permintaan sang sahabat.
Sama seperti sebelumnya, Kai juga memapah Baekhyun penuh kehati-hatian ketika ia hendak keluar dari mobil. Mereka melangkah bersamaan, dengan Kai yang tidak melonggarkan genggamannya pada tangan Baekhyun.
Kerumunan kecil mahasiswa di depan gerbang parkir, tidak terlalu menarik perhatian keduanya. Hanya ketika suara yang tak asing ditangkap oleh telinga mereka, saat itulah keduanya memutuskan untuk mendekati kerumunan tersebut.
Dan disanalah lelaki tak asing itu berada. Chanyeol dengan wajah yang menegang, bersama sosok Yeri yang berlindung dibalik punggungnya. Di depannya nampak sosok lelaki yang juga dikenal oleh Baekhyun. David, kekasih baru Yeri. Dari luka lebam yang nampak dari wajah para lelaki, menandakan perkelahian sempat terjadi sebelumnya.
"Bagaimana jika kita menyelesaikan ini dengan taruhan? Aku dengar kau sering melakukannya" sahut David tiba-tiba.
Chanyeol tersenyum miring sambil menyilangkan kedua tangannya. "Apa maumu?"
"Apa yang kau pertaruhkan?"
"Ini" Chanyeol menyodorkan kunci motornya. "Hanya ada satu di seluruh dunia" Baekhyun dan Kai tertegun pada keputusan Chanyeol. Itu adalah motor kesayangannya, hadiah terakhir dari mendiang kakeknya ketika ia berumur 16 tahun.
"Cukup menarik" David mengangguk puas melihatnya. "Jika aku menang, ini akan menjadi milikku. Jika kau yang menang, aku akan melepaskan gadis itu dan kau bebas melakukan apapun yang kau mau padanya"
"Apa tantangannya?"
"F1 race?"
Chanyeol terdiam sejenak. Adu balap F1 sama sekali bukan keahliannya. Ia memang pernah sesekali mencobanya, namun tidak pernah berakhir di garis finish dengan baik. Tapi hanya inilah satu-satunya cara yang bisa ia lakukan, untuk menjaga kelangsungan hubungannya.
"Deal!"
Aura permusuhan memancar ketika keduanya bersitatap. Hanya sesaat, karena David beserta beberapa temannya memilih pergi terlebih dahulu. Hingga kerumunan mulai memudar, saat itulah netra Chanyeol menangkap kekasihnya yang sedang menatapnya penuh kekecewaan.
"Baek.."
Chanyeol tahu ia salah, dan ia tidak memiliki keyakinan untuk mengejar Baekhyun yang berlari menjauh. Ia lebih memilih mendekati Kai, meminta lelaki itu untuk menjaga Baekhyun kembali. Tak disangka penolakan tegas justru diberikan oleh sahabatnya.
"Kejar dia. Sebelum aku benar-benar akan menjadikannya pengganti Sehun"
Sepotong kalimat, yang diucapkan dengan lugas tanpa adanya kesan main-main, menjadi alasan bagi Chanyeol untuk melangkahkan kakinya. Ia segera bergegas, mengikuti jejak pelarian Baekhyun.
Tidak terlalu sulit untuk menemukannya, dimana lelaki itu diketahui sedang duduk menyendiri di kantin. Kelegaan dirasa oleh Chanyeol saat itu, dan ia bersyukur Baekhyun tidak kabur kembali ketika ia dekati. Sebaliknya lelaki mungil itu hanya berkekspresi datar, sambil terus menyesap minumannya.
"Aku minta maaf, tapi aku belum bisa menjelaskan alasan dari tindakanku" sesal Chanyeol.
"Memangnya aku peduli?" balas Baekhyun ketus. "Urus saja kekasih barumu. Aku sudah lelah padamu. Juga pada hubungan ini"
"Jangan gegabah Baekhyun"
"Tidak. Sudah kuputuskan. Aku ingin-"
"-jangan. Kumohon jangan diteruskan-"
"-Aku ingin normal kembali!"
Hening. Chanyeol masih memproses kalimat Baekhyun dalam otaknya. Ketika ia mulai memahami arti dari kalimat tersebut, decihan meremehkan terdengar dari mulutnya.
"Coba saja Baekhyun"
Chanyeol memajukan wajahnya, dan menarik dagu Baekhyun dengan dua jemarinya. Membuat pandangan keduanya saling mengunci.
"Karena aku punya segala cara untuk membuatmu kembali kepadaku..."
Belahan bibir saling menyapa, seiring dengan jarak yang semakin dikikiskan oleh Chanyeol.
"...Dan memohon akan sentuhanku"
.
.
.
TBC
.
.
.
Yeah..akhirnya keluar juga sekuelnya hehehe. Niatnya mau dijadiin oneshoot tapi terlalu panjang, jadinya untuk sekuel ini aku bikin twoshoot.
Nah, yang minta enaena difrontalin, yang minta kaihun ditambahin, yang minta dilanjutin, sudah aku laksanain semua kan?
Kalau gitu sekarang aku yang minta review, oke? Aku buatnya sambil ingusan lho ini hahaha curhat abaikan saja.
Last, terima kasih untuk yg fav, follow dan review sebelumnya. Dan malem ini aku update oneshoot bareng Byun Jaehyunee jugaaaa. Yg mau baca oneshoot, atau lagi nyari yg angst, silahkan mampir ke ff nya teman-teman :)
See you on next chap :)
P.S : Sudahkah kalian membaca analisis chanbaek yang ramai beredar hari ini? Lelah akutuh huuu :")
