YOUR EX

(Sekuel of 'I Dare You')

...

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

Oh Sehun

Kim Jongin

...

"Hey hey kalian tahu tidak? Kabarnya Byun Baekhyun berpacaran dengan Hera saat ini"

"Benarkah? Tapi kemarin aku melihatnya pergi ke bioskop bersama Minah"

"Ck kalian berdua ini seperti tidak tahu Baekhyun. Aku saja baru melihatnya di taman bersama Luna"

Ketiga gadis itu serempak menggelengkan kepala sesaat, kemudian melanjutkan kembali pembicaraan mereka tentang salah satu pria populer di kampus, yang akhir-akhir ini mulai menunjukkan aura cassanovanya kembali.

Tanpa mereka ketahui, ada seorang pria dibelakang mereka turut mencuri dengar. Kedua tangannya mengepal serta rahangnya mengeras kaku. Wajar jika ia bereaksi seperti itu, karena sosok yang menjadi pembicaraan ketiga gadis itu tidak lain tidak bukan adalah kekasihnya sendiri. Sialnya obrolan macam ini sudah ia dengar sejak kakinya menginjakkan pintu gerbang, selama lima hari berturut-turut!

Dan nampaknya kesabaran lelaki itu kini sudah benar-benar habis, ketika dengan tiba-tiba ia melangkah cepat mendekati ketiga wanita tersebut.

"Hey kalian!" panggil lelaki itu.

Ketiga wanita tadi menoleh, dan terbelalak melihat sosok lelaki yang baru saja memanggil mereka. "Oh? P-park Chan-yeol ? A-ada apa?" tanya sang gadis yang bernama Sunny dengan terbata-bata.

Chanyeol hanya memutar mata melihat ketiga wanita itu merona karena dirinya. Atensinya kemudian lebih terfokus pada gadis yang berambut pirang. "Tadi kudengar kau melihat Baekhyun, kapan tepatnya?" tanya Chanyeol tanpa basa-basi pada gadis tersebut.

Sementara si gadis pirang yang bernama Hyuna itu masih membeku, hingga kedua temannya harus menyenggol lengannya untuk membuatnya sadar. "A-ah iya oppa. Baru saja aku melihatnya di taman bersama-"

"-terima kasih atas informasinya. Bye" sela Chanyeol dengan cepat, lalu segera meninggalkan ketiga wanita yang masih terpaku di tempatnya dengan wajah berseri-seri.

Tidak butuh waktu lama bagi Chanyeol untuk sampai di taman yang dimaksud oleh wanita tadi. Suasana di taman cukup sepi, mengingat jarum jam menunjukkan masih pukul delapan pagi. Beruntung bagi Chanyeol, karena ia dapat dengan mudah menemukan kekasih mungilnya, yang saat ini berada tak jauh darinya, sedang berpagutan mesra dengan seorang wanita.

Chanyeol hanya menatapnya datar, tidak menunjukkan adanya emosi di raut lelaki itu. Pelan-pelan ia melangkah mendekati kedua insan tersebut, dan mengambil posisi di belakang bangku yang mereka duduki.

"Opphmm nghhh"

Chanyeol menyeringai melihat betapa lihainya lidah kekasihnya menyapu permukaan bibir sang wanita, hingga membuat gadis tersebut terbuai dan terpejam pasrah. Sesekali Chanyeol melihat tubuh bagian bawahnya, memastikan tidak ada gundukan yang terbentuk di bawah sana. Karena demi apapun, wajah Baekhyun yang memerah dengan peluh yang membasahi, justru terlihat sexy di mata Chanyeol. Belum lagi gerakan dari bibir nakal miliknya, yang sudah beberapa hari ini tidak dirasakan oleh Chanyeol.

"Ckckck. Hanya sebatas itukah kemampuanmu dalam berciuman?" Chanyeol akhirnya menyahut, membuat pagutan panas kedua orang di depannya terlepas begitu saja. Sang gadis nampak salah tingkah, sementara Baekhyun justru menampilkan sebuah seringai angkuh di bibirnya. Sambil bersedekap, ia mendongak dan menatap lelaki di depannya. "Mencoba menantangku Park?"

"Tidak sayangku" Chanyeol menggeleng dan menundukkan wajahnya hingga sejajar dengan Baekhyun. "Aku hanya ingin menunjukkan padanya..." ia menatap sejenak gadis yang berada di sebelah Baekhyun, kemudian kembali mengunci pandangannya pada sang kekasih. "...bagaimana cara kita berciuman..."

Dalam hati Chanyeol bersorak bahagia, ketika Baekhyun tidak melakukan apapun disaat ia mulai memajukan bibirnya. Chanyeol sudah tidak sabar untuk meraup bibir candu itu, yang kini hanya berjarak beberapa centi dari bibir tebalnya. Dan ketika hanya tinggal satu senti lagi jarak bibir keduanya-

"Hmmph"

-jari telunjuk Baekhyun terangkat menahan bibir Chanyeol. Mengabaikan raut protes dari kekasih tingginya, Baekhyun menampilkan sebuah senyuman polos untuk lelaki itu.

"Simpan saja itu untuk mantan tersayangmu"

.

.

.

Ketika langit mulai berwarna kuning keemasan, dan sebagian besar penghuni kampus mulai memadati jalan keluar menuju pintu gerbang, Park Chanyeol justru nampak duduk manis di atas motor Harley miliknya.

Setelah sekitar 15 menit berada dalam posisi tersebut, senyuman kecil akhirnya mulai mengembang di bibir pria berlesung pipi itu. Sosok kekasih mungilnya yang sedang berjalan menuju parkiran adalah alasan dibalik senyumnya.

Senyuman itu perlahan-lahan tergantikan oleh sebuah seringai licik, ketika sang kekasih di depan sana nampak terkejut melihat keadaan mobilnya. Sungguh mengenaskan, karena seluruh ban mobilnya dalam keadaan bocor, seperti dilakukan secara sengaja oleh seseorang. Dan melihat ekspresi Chanyeol dengan seringai yang semakin lebar, sudah bisa ditebak bukan siapa pelakunya?

Dengan tampang cool seolah tidak mengetahui apa-apa, Chanyeol menyapa sang kekasih, "Mobilmu kenapa Baek? Perlu kubantu?" tanyanya dengan nada yang dibuat khawatir.

"Tidak perlu dan tidak usah berpura-pura tidak tahu. Ini pasti ulahmu 'kan ?!" ketus Baekhyun, membuat Chanyeol sedikit terkesiap karena lelaki mungil itu menebak dengan tepat. Namun Chanyeol berusaha untuk setenang mungkin, dan berpura-pura memberikan ekspresi kecewa pada Baekhyun. "Kau menuduhku? Apa kau pikir aku tega melakukan hal buruk seperti ini pada lelaki yang kusayangi?" Chanyeol mendramatisir ucapannya.

"Haihh hentikan! Sudah sana pergi!"

Bukannya menuruti perintah Baekhyun, Chanyeol justru turun dari motornya, berdiri berhadapan dengan si mungil sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak akan. Aku tidak bisa pulang dengan tenang sementara kekasihku sedang dalam kesulitan dan sendirian disini"

"Tidak usah berlebihan! Aku bisa menghubungi sopirku, sudah sana pergi!" usir Baekhyun, mulai jengah akan ucapan Chanyeol yang terlalu berlebihan sejak tadi.

Chanyeol masih kukuh bertahan di tempatnya, kemudian memberanikan diri menggengam satu tangan Baekhyun. "Jalanan Seoul begitu padat di sore hari Baek, mungkin sopirmu baru tiba disini pada malam hari" ia mencoba meyakinkan Baekhyun. Sekuat tenaga ia menahan senyum ketika melihat Baekhyun yang nampak sedang mempertimbangkan ucapannya. Merasa umpannya telah ditangkap, Chanyeol pun mengutarakan niat tersembunyinya, "Sudahlah daripada kau menunggu sendirian disini, bagaiman kalau pulang dengan- "

-Tin Tin

"Ada masalah ap-Astaga ban mobilmu Baek! Kenapa bisa seperti itu?"

"Aku juga tidak tahu Kai, sepertinya ada seseorang yang sengaja melakukan ini padaku" terang Baekhyun sambil menoleh dengan pandangan menuduh kearah Chanyeol yang sedang menatap datar Kai di depannya.

"Ada-ada saja" Kai menggelengkan kepala, prihatin melihat kondisi mobil Baekhyun bak sebuah rongsokan. Tak lama kemudian, ia membuka pintu mobilnya dari dalam. "Masuklah Baek, aku akan mengantarmu pulang. Sudah mulai gelap disini" dan ketika pintu mobilnya terbuka, Kai baru menyadari ada Chanyeol di sebelah Baekhyun. "Oh..kau ingin pulang bersama Chanyeol?"

"Tidak!" jawab Baekhyun cepat. Ia mendekati mobil Kai dan memandang lelaki itu dengan wajah dibuat memelas. "Aku pulang denganmu ya?"

Kai terkekeh kecil, dan dalam hati bersyukur telah memiliki Sehun. Karena sungguh, ekspresi puppy andalan Baekhyun itu terkenal ampuh melemahkan siapapun yang melihatnya, termasuk dirinya.

"Tentu saja Baekhyun, ayo masuk"

Baekhyun tersenyum ceria dan segera masuk ke dalam mobil Kai, duduk di sebelah lelaki itu. Sepertinya Baekhyun sepenuhnya telah melupakan sang kekasih, jika saja Kai tidak menurunkan kaca mobil di sampingnya, dan memberikan ucapan selamat tinggal pada lelaki itu. Chanyeol hanya tersenyum singkat pada Kai, karena netranya lebih terfokus pada kekasih mungilnya yang sama sekali tidak menoleh ke arahnya. Chanyeol tersenyum maklum, "Hati-hati di ja-

Slap

-lan Baek"

Chanyeol menggelengkan kepala ketika Baekhyun menutup kaca jendelanya, disaat Chanyeol bahkan belum selesai berbicara. Kedua matanya berganti sendu, karena saat ini Chanyeol masih ingin melihat wajah manisnya, masih ingin berbicara dengannya meskipun hanya makian yang ia dapatkan. Tapi lagi-lagi ia memakluminya, karena semua ini ulahnya dan inilah resiko yang harus ia terima.

"Hahh" / "Hahh"

Secepat kilat kepala Chanyeol menoleh ke samping, ketika mendengar helaan nafas yang sama di sebelahnya. Dan entah sejak kapan, sosok Sehun yang sedang menaiki motornya, sudah berada di sampingnya.

"Kekasihmu benar-benar...dasar pengganggu!" gerutu Chanyeol.

"Kau pikir siapa yang membuat mereka menjadi dekat seperti itu?"

Chanyeol memilih bungkam, tertegun mengetahui fakta bahwa dirinyalah jawaban dari pertanyaan Sehun. Ia menghela sebuah nafas panjang, sambil memijit keningnya dengan mata terpejam. "Kau tahu persis alasan dari tindakanku Sehun"

"Yeri mantan kekasih Baekhyun Yeol, harusnya dia yang mengetahuinya, bukan aku"

"Tentu saja dia akan segera mengetahuinya" Chanyeol membuka matanya kembali dan menatap Sehun dengan pandangan berkilat penuh makna. Sudut bibirnya mulai terangkat perlahan, kala teringat akan rencana yang telah disusunnya selama ini.

"Tepat setelah balapan itu berakhir, Baekhyun akan mengetahui segalanya"

.

.

.

Terhitung sudah seminggu, hubungan Chanyeol dan Baekhyun tak kunjung membaik. Selama dua hari sebelumnya Chanyeol sudah mencoba berbagai cara untuk mengambil hati kekasihnya kembali, namun tak pernah berakhir memuaskan.

Seperti di hari pertama. Chanyeol semalaman merekam sebuah lagu romantis berbahasa inggris yang ia ciptakan sendiri, kemudian mengirim rekaman tersebut untuk Baekhyun. Namun bukan sebuah pujian yang ia dapatkan, melainkan makian dan umpatan kejam dari lelaki itu. Ternyata Chanyeol lupa mengganti lirik 'She' dalam lagunya, membuat Baekhyun mengira lagu yang dibuat oleh Chanyeol itu diperuntukkan untuk Yeri.

Lalu di hari kedua. Entah bagaimana caranya, Chanyeol berhasil menyembunyikan tugas jurnal milik Baekhyun, yang wajib dikumpulkan pada hari itu sebagai syarat wajib untuk membuat skripsi. Dengan penuh percaya diri, Chanyeol bersikap layaknya seorang pahlawan karena satu hari sebelumnya, ia telah menyiapkan rencananya matang-matang dengan membuat dua jurnal untuknya dan Baekhyun. Namun naas...ketika Chanyeol hendak mengambil jurnal dari ranselnya, ia baru menyadari bahwa ransel yang ia bawa saat ini berbeda dengan ransel yang berisi jurnal. Salahkan Sehun yang mengajaknya bermain video game sampai larut malam, hingga membuatnya bangun kesiangan lalu berangkat kuliah terburu-buru, dan tidak memperhatikan ransel yang ia bawa. Alhasil Chanyeol harus menggunakan kuasa sang ayah selaku pemilik Yayasan kampusnya, agar ia dan Baekhyun diizinkan untuk menyusul mengumpulkan jurnal mereka.

Dan pada hari ini...Chanyeol telah memutuskan. Dibanding menggunakan berbagai cara licik untuk memperbaiki hubungannya dengan Baekhyun, ia memilih untuk menemui pria itu dan meminta maaf secara gentle.

Dengan tekad sekeras baja, Chanyeol melangkah menuju tempat Baekhyun berada. Di sanalah ia, di taman tempo lalu, namun kali ini bukan dengan seorang wanita melainkan dengan seorang lelaki. Sahabat mereka.

Chanyeol hanya bisa menggeleng dan sekuat tenaga menahan diri untuk tidak menarik Kai lalu memukulinya habis-habisan. Siapa yang tidak panas? Melihat kekasihmu bersandar di pundak orang lain, hanya berdua saja. Namun lagi-lagi Chanyeol memaklumi.

Hanya sesaat lagi pikirnya.

Semoga saja.

"Baekhyun"

Kedua lelaki yang sedang duduk di bangku taman itu serempak menoleh ke belakang.

"Hey Chanyeol!" Bukan. Bukan Baekhyun yang menjawab, melainkan Kai di sebelahnya. Si mungil itu sendiri hanya bersikap acuh, seolah tidak ada sosok Chanyeol di belakangnya.

Melihat tatapan Chanyeol yang terpaku pada sosok di sebelahnya, Kai menyenggol pelan lengan Baekhyun, yang dibalas dengan decakan malas dari lelaki itu. Setengah hati ia menoleh ke arah Chanyeol, "Ada apa hah?!" ketusnya.

"Aku ingin bicara berdua denganmu, bisakah?" ucap Chanyeol penuh keseriusan.

Mendengar kata 'berdua' yang baru saja ditekankan oleh Chanyeol, tentunya Kai tahu diri dan mulai beranjak dari duduknya. Sampai sebuah tangan lentik dari sosok sebelahnya, menahannya untuk melangkah. Ia menoleh dan mendapati wajah Baekhyun memelas padanya. "Jangan pergi, aku tidak mau berdua saja dengan dia" Baekhyun menunjuk Chanyeol dengan dagunya, layaknya lelaki itu tak berharga baginya.

Dilema melanda diri Kai, di satu sisi ia tidak tahan jika Baekhyun sudah mengeluarkan senjata andalannya, sementara di sisi lain ia tidak ingin mengganggu privasi Chanyeol. Maka ia menoleh pada lelaki tinggi itu dengan pandangan penuh tanya.

Chanyeol menghela nafas sesaat kemudian mengangguk pelan, "tidak apa-apa Kai" ucapnya pasrah. Setelah melihat Kai duduk kembali, Chanyeol memutari bangku dan berhenti tepat di depan Baekhyun. Dengan bertumpu pada kedua lututnya yang menempel pada rerumputan, Chanyeol menatap dalam pada Baekhyun.

"Aku minta maaf Baek. Jangan seperti ini lagi hmm?"

"Aku rindu Baekhyunku..." sela Chanyeol dengan cepat, menyurutkan niat Baekhyun yang ingin membuka suara. Kedua tangan Chanyeol terangkat, menangkup pipi Baekhyun dengan lembut, kemudian mengelus perlahan dengan ibu jarinya.

Baekhyun terpaku sesaat, nyaris terbuai akan sentuhan lembut serta pandangan penuh kasih sayang dari lelaki di depannya ini. Namun sayangnya, kejadian sepuluh hari yang lalu masih menghantui pikirannya. Dan setiap mengingatnya, kekesalan Baekhyun terhadap sang kekasih semakin meningkat. Maka dengan alasan itu, Baekhyun menghempas kasar kedua tangan Chanyeol dari wajahnya dan menatap lelaki itu dengan pandangan tak suka.

"Aku akan memaafkanmu asal kau membatalkan taruhan itu" ucapnya lugas tanpa basa-basi. Dan melihat Chanyeol menutup rapat mulutnya, Baekhyun sudah tahu jawabannya. Bahwa Chanyeol tidak akan pernah membatalkan taruhan itu.

Sepenting itukah Yeri bagi Chanyeol, pikirnya.

"Tidak bisa 'kan? Ya sudah sana pergi saja temui Yeri!"

Chanyeol mengusap wajahnya kasar, termangu sejenak nampak mempertimbangkan sesuatu dan setelahnya menarik sebuah nafas panjang. "Baiklah aku akan menjelaskan alasanku melakukan itu" ucapnya yakin, mulai lelah berjauhan dengan Baekhyun. "Aku dan Yeri-"

"-maaf memotong" kai tiba-tiba angkat suara sambil tersenyum kaku. "Silahkan lanjutkan obrolan kalian, aku harus pergi sekarang" pamitnya. Namun ketika ia sudah bangkit dari duduknya, lagi-lagi Baekhyun menahan lengannya, bahkan ikut beranjak dari bangku. "Aku ikut Kai" ucap Baekhyun.

Kai menggelengkan kepalanya, "hey...Chanyeol masih ingin bicara denganmu Baek, tetap disini oke?" bujuknya. Namun Baekhyun tetap menggeleng yakin. "Tidak mau, aku mau ikut denganmu saja!" kukuhnya tak mau kalah.

Helaan nafas dihembuskan oleh Kai. "Baek...jangan seperti ini" bujuknya sekali lagi. Namun memang pada dasarnya Baekhyun keras kepala, ia pun tetap menggelengkan kepalanya, dan menjawab "Tidak! Memangnya kenapa kalau aku- "

"-baiklah cukup" Chanyeol menyela dan ikut bangkit dari posisinya. Ia tatap Baekhyun dengan kesungguhan, "pergilah dengan Kai. Tapi temui aku nanti sore disini hmm?" nada memohon mengalun dari ucapan Chanyeol.

Baekhyun hanya mengangguk sekenanya, "Aku sibuk, lihat nanti" sahutnya acuh. Kemudian tanpa mengucap pamit pada kekasihnya, ia tarik lengan Kai dan melenggang bersama meninggalkan tempat tersebut.

Sebelum keduanya benar-benar menghilang dari pandangan, Chanyeol membuka mulutnya kembali. "Aku benar-benar akan menunggumu Baek!"

...

Nampaknya ucapan atau janji yang dilontarkan Chanyeol untuk Baekhyun tidak pernah main-main. Seperti ketika Chanyeol berkata akan menunggu sang kekasih, maka ia benar-benar menunggu lelaki itu, tak peduli sudah berapa jam ia berada di tempat ini, sendirian.

Bahkan hingga rintik hujan mulai membasahi sekujur tubuhnya, Chanyeol tetap bersikukuh pada posisinya, menunggu kehadiran sosok mungil kesayangannya. Meski rintik hujan mulai berganti menjadi bulir-bulir air yang jatuh begitu deras, tidak meruntuhkan pertahanan diri Chanyeol.

Sampai akhirnya samar-samar Chanyeol mendengar langkah kaki dari arah belakang, ia membalikkan tubuhnya penuh semangat.

"Chanyeol? Sedang apa kau disini?"

Senyuman di wajah Chanyeol menghilang melihat siapa sosok yang menyapanya.

"Oh Yeri. Aku sedang menunggu seseorang" jawabnya lesu.

Yeri sedikit membelalak, dan mengangguk kecil setelahnya. Tetesan hujan mulai membasahi kepalanya, ketika ia menyodorkan payung yang ia bawa kearah Chanyeol. "Pakai ini, hujannya deras Yeol"

Chanyeol mendorong kembali payung itu pada Yeri sambil menggeleng kecil "Tidak perlu, kau saja yang-"

"-sst! Sudah pakai saja, kau sudah sering membantuku" Payung itu kembali disodorkan oleh Yeri, dan gadis itu tersenyum puas ketika Chanyeol menerimanya. Sambil melindungi kepalanya dengan tas jinjingnya, Yeri mulai melangkah mundur ke arah mobilnya. "Aku duluan Yeol!" sahutnya keras. Chanyeol hanya diam, membalas wanita itu dengan sebuah lambaian tangan.

Sayang sekali...Chanyeol melewatkan seringai licik dari wanita itu.

Karena netranya saat ini terpaku pada sosok lain yang tak jauh darinya.

Payung milik Yeri tadi terjatuh begitu saja ketika kedua mata Chanyeol melihat dengan jelas di ujung sana. Baekhyunnya...sedang menatapnya dengan pandangan terluka. Tanpa pikir panjang Chanyeol segera berlari mendekati kekasihnya, ingin menjelaskan bahwa apa yang ia lihat tidak seperti yang lelaki itu pikirkan.

"Baekhyun dengarkan aku dulu, aku tidak-"

"-mundur. Jangan dekati aku" sela Baekhyun tajam. Namun Chanyeol tetap bersikeras mendekat, membuat Baekhyun semakin terbakar emosi. "Aku bilang mundur!" pekiknya mengalahkan derasnya hujan.

Seolah tidak gentar, Chanyeol tetap melangkah maju. "Baek tolong dengarkan aku dulu. Kau salah- "

"-Yeol, sudah cukup" Kai tiba-tiba datang dan berdiri di tengah keduanya.

"Minggir. Ini urusanku dengan kekasihku" desis Chanyeol.

"Dan Baekhyun juga sahabatku. Aku berhak melindunginya" balas Kai tak kalah tajamnya.

Keduanya saling bersitatap dan aura permusuhan menguar mengelilingi mereka. Jika bukan karena sosok Baekhyun yang gemetaran karena kedinginan akibat terkena hujan, Chanyeol mungkin akan menyelesaikan debat ini secara jantan.

Dengan berat hati Chanyeol mundur perlahan, merelakan Kai membawa Baekhyun pergi. Chanyeol hanya bisa tersenyum miris melihat Baekhyun yang nampak tenggelam dalam balutan jaket kulit milik Kai, dan bergelung nyaman di rangkulan lelaki itu.

.

.

.

Sudah tiga hari, sosok jangkung nan rupawan yang mampu melemahkan wanita-juga pria- tidak terlihat di lingkungan kampus. Mendapat jawaban ketus dari kekasih si lelaki jangkung tersebut, membuat Kai memutuskan untuk mencari tahu sendiri keberadaan sang sahabat.

Tuut Tuut

Panggilannya tersambung, tapi tak kunjung diangkat oleh lelaki itu. Kai pun memutuskan untuk memasukkan kembali ponselnya, sampai ia merasakan getaran dari ponsel tersebut. Sebuah pesan masuk dari seseorang yang ia hubungi tadi.

'Aku sedang tidak enak badan, tenggorokanku sakit, tidak bisa mengangkat telepon'

Kai menggeleng kecil, sedikit khawatir akan kondisi sahabatnya. Jemarinya menari-nari di layar ponsel, mengetikkan balasan untuk si pengirim.

'Aku segera kerumahmu. Kau ingin kubawakan sesuatu?'

Hanya beberapa detik berselang, ponsel milik Kai bergetar kembali. Dan senyuman geli terlukis di bibirnya ketika ia membaca balasan pesan dari lelaki itu.

'Bawakan aku Baekhyun :( '

Setelah memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jaket, kai menghidupkan mesin mobilnya dan mulai melaju ke luar parkiran. Ketika ia melewati pintu gerbang, sosok Sehun tertangkap oleh kedua matanya. Atas dasar desakan rindu di hatinya, Kai memutuskan menepi di dekat lelaki pucat tersebut.

"Sehun.." sapa Kai lembut.

Sementara sang pemilik nama, nampak terkejut ketika namanya dipanggil. Namun ketika mengetahui sosok yang ada di depannya, kedua netranya berbinar cerah. "Kai...kau sudah mau pulang?" tanyanya masih dengan raut berseri.

Kai menggeleng dan tersenyum kecil melihat ekspresi Sehun. "Aku ingin menjenguk Chanyeol, kau mau ikut?" dapat ia lihat, Sehun nampak sedang mempertimbangkan sesuatu. Kai sepertinya paham dengan gerak-gerik sang kekasih. Pasti ia sudah memiliki janji dengan teman wanitanya. Maka dengan berbesar hati Kai membuka mulutnya kembali, "Tidak apa-apa kalau tidak bisa, aku mengerti kau-"

"-aku ikut" sela Sehun seketika. Lalu dengan segera ia memutari mobil Kai, dan masuk di sebelah lelaki itu.

"Kau tidak bawa motor?" tanya Kai sedikit penasaran karena sejak tadi ia tidak melihat Sehun bersama motornya.

Bukannya langsung menjawab, Sehun justru menggeleng kecil dan menoleh ke jendela sambil meremat kedua tangannya. Dengan wajah merona samar, Sehun berbisik "aku sudah menunggumu sejak tadi. Aku... ingin pulang bersamamu" cicitnya malu-malu.

Tidak adanya sahutan balasan dari sang kekasih, membuat Sehun mengernyit dan menoleh perlahan ke arah lelaki tan itu. Dan ketika ia baru saja menolehkan kepalanya...

Cup

Wajah pucat sehun memerah matang, sementara Kai di sebelahnya mengusap bibirnya sendiri sambil tersenyum miring.

.

.

.

Baekhyun yang sedang bersantai dan sibuk mengunyah camilan cokelat di ruang tengah, harus terganggu ketika kedua lelaki tinggi tiba-tiba berada di depannya.

"Apa? Mau pamer kalian sudah berbaikan kembali?" tuduh Baekhyun ketus pada kedua lelaki tersebut.

Tanpa bangkit dari posisi berbaringnya, Baekhyun melempari beberapa camilan pada mereka, agar kedua lelaki itu bergeser dan tidak menutupi layar televisi. Dan dengan cepat Kai tergerak untuk menahan lengan Sehun yang ingin menerjang Baekhyun, karena jika dibiarkan maka perang dunia ketiga akan terjadi di depan matanya.

"Kami hanya ingin mengajakmu ke tempat Chanyeol, sudah dua hari dia tidak berangkat kuliah Baek. Ayo?" bujuk Kai lembut, sementara Sehun mendengus di belakangnya. Antara geli bercampur cemburu.

"Paling dia sibuk berlatih untuk memenangkan taruhan itu. Kalian saja, aku tidak ikut" Baekhyun menggeleng yakin dan melanjutkan acara mengemilnya. Melihat Sehun dan Kai tidak beranjak dari tempatnya, ia kembali melemparkan camilannya sambil melambaikan tangannya. "Sudah sana pergi, mau apa lagi disini?!"

Bagai disiram oleh aliran bensin, emosi Sehun tersulut membara. Ia rebut toples di tangan Baekhyun dan membalas pelototan lelaki itu dengan pandangan mata yang tak kalah tajam dan menusuk.

"Heh pendek! Kau pikir siapa yang membuat Chanyeol menunggu berjam-jam di tengah guyuran hujan hingga akhirnya ia jatuh sakit hah? Dan kau marah padanya karena taruhan itu? Kau pikir untuk siapa dia berbuat seperti-"

"-Chanyeol sakit?"

Ucapan panjang Sehun terhenti seketika, saat ada seseorang yang menyelanya. Para lelaki itu serempak menoleh ke belakang, kemudian mendapati sosok wanita paruh baya di belakang mereka. Dan Baekhyun sendiri hanya bisa pasrah, karena kedatangan ibunya di saat seperti ini sama saja bencana baginya. Alasannya sederhana, karena ia tahu ibunya akan berkata:

"Baekhyun, cepat jenguk Chanyeol dan antarkan bubur untuknya!"

Dan jika sang ibu sudah memberi perintah, tidak ada yang bisa Baekhyun lakukan selain menjalankan perintahnya, jika tidak mau kehilangan pundi-pundi di dompet dan kartu atm miliknya.

.

.

.

Tok Tok Tok

"Ehem! Masuk-uhuk-saja!" susah payah Chanyeol berucap, akibat radang tenggorokan yang dideranya. Ketika melihat sosok yang membuka pintunya, kerutan tercipta di keningnya. "Sehun? Aku kira Kai datang sendiri, dimana dia?" tanyanya heran.

Dengan ekspresi datar dan senyuman misterius, pelan-pelan Sehun menggeser tubuhnya. "Kai membawa titipanmu"

Tepat setelah Sehun melontarkan ucapannya, bola mata Chanyeol yang sudah bulat semakin membesar tak elit. Alasannya satu, yakni sosok lelaki mungil di dekat pintu, yang begitu manis meski hanya terbalut dengan sepasang piyama motif kelinci di tubuhnya. Salahkan Nyonya Byun yang mengusirnya tanpa sempat mengganti bajunya.

Baekhyun masih bersikukuh mematung di depan pintu, hingga Kai harus bersusah payah menyeretnya ke dalam. Ketika melihat kondisi Chanyeol yang benar-benar terbaring lemah di ranjangnya, raut ekspresi Baekhyun berubah. Tak terbaca, bercampur antara benci rindu dan penyesalan.

"Hey Yeol! Kau bisa sakit juga ternyata ckckck" canda Kai, mencairkan suasana. Chanyeol hanya terkekeh kecil sambil menggelengkan kepalanya. Terlalu lemah untuk membalas candaan sahabatnya.

Sehun yang sejak tadi hanya diam mengamati ketiga orang di depannya, tiba-tiba tersenyum licik melihat sesuatu yang dibawa oleh Baekhyun. Suatu ide jahil nan cemerlang segera merasuki pikirannya.

Sehun berdeham sejenak, kembali memasang wajah datar andalannya. "Yeol, kau sudah makan?" tanyanya. Dan ketika Chanyeol menggeleng sebagai jawaban, dalam hati ia bersorak penuh kemenangan. "Kebetulan sekali, Baekhyun membawakan bubur untukmu Yeol" cetusnya, mengabaikan pelototan tajam dari si mungil.

Chanyeol menoleh ke arah Baekhyun dan ternyata memang benar lelaki mungil itu membawa bungkusan di tangannya. "Terima kasih Baek, taruh saja di meja. Aku belum kuat memakannya saat ini"

"Kau harus makan Yeol, tenang aku akan menyuapimu" sahut Sehun. Ia melangkah mendekati Baekhyun, mengambil bungkusan bubur di tangannya. Namun baru saja ia hendak berbalik ke arah Chanyeol, "ah aku lupa ada janji dengan temanku! Kai tolong antarkan aku sekarang!" ucapnya tiba-tiba. Dalam hati ia terus-terusan berdoa semoga Kai mengerti isyarat dari kedipan matanya.

Dan untungnya doanya terkabul, ketika Kai menganggukkan kepala sambil tersenyum miring padanya.

Sehun kembali mendekati Baekhyun, lalu memberikan bungkusan itu padanya. "Ini Baek, tolong suapi Chanyeol ya, kasihan ia belum makan" ucap Sehun. Kemudian setelah mengucapakan salam perpisahan pada Baekhyun dan Chanyeol, sepasang kekasih beda warna kulit itu segera menghilang dari ruangan.

Ditinggal berduaan seperti ini, membuat keduanya salah tingkah. Baekhyun hanya bisa berdiri sambil meremas plastik bungkusan, sementara Chanyeol hanya memandangi selimutnya.

Mungkin dikarenakan rasa bersalahnya, atau perasaan rindu yang dirasakan, membuat Baekhyun melangkahkan tungkainya mendekat, kemudian duduk di sisi ranjang di dekat Chanyeol. Dalam diam ia membuka bungkusan buburnya, menyendokkan bubur itu untuk kemudian ia sodorkan ke depan mulut Chanyeol.

"Makanlah..." ucap Baekhyun lembut. Sementara Chanyeol, seperti bocah 5 tahun yang penurut, ia buka mulutnya dan melahap bubur itu dengan patuh.

Satu suap

Dua suap

Dan di suapan ketiga, Chanyeol menahan tangan Baekhyun.

"Sudah tidak usah dipaksakan, kau boleh pulang Baek. Aku bisa makan sendiri nanti" ucap Chanyeol. Sejak tadi ia memperhatikan raut datar Baekhyun. Tentu saja kekasihnya itu masih memendam benci padanya, dan ia tidak mau memaksakan lelaki itu tetap menemaninya di sini.

Chanyeol mengira Baekhyun benar-benar akan beranjak ketika ia menaruhkan mangkuk bubur di atas meja. Namun tak disangka-

Greb

-si mungil ini justru mendekap tubuh Chanyeol erat. Kedua tangannya melingkar di pinggang Chanyeol, sementara wajahnya ia sembunyikan di dada sang kekasih. Jangan tanya bagaimana kabar Chanyeol saat ini. Penyakit yang menyerang tubuhnya serasa hilang tak bersisa.

"Aku merindukanmu..." lirih Baekhyun. Membuat hati Chanyeol menghangat mendengarnya. Perlahan tangannya menapaki punggung Baekhyun, mengelusnya dengan penuh kasih sayang.

"Aku juga sayang. Dan kau tahu? Jika bukan karena aku tidak ingin kau tertular penyakitku, mungkin aku sudah menelanjangimu saat ini" goda Chanyeol, yang segera dihadiahi pukulan ringan di dadanya. Baekhyun mendongak, memicingkan matanya pada Chanyeol. "Mungkin satu kecupan saja tidak apa-apa" balasnya sambil tersenyum penuh arti.

Chanyeol membelalak sesaat, kemudian mendengus geli sambil mulai mendekatkan wajahnya. Sementara Baekhyun segera memejamkan matanya, ketika bibir Chanyeol menyapa miliknya. Awalnya memang hanya sebuah kecupan, namun atas dasar rindu yang mempelopori keduanya, kecupan singkat itu berganti menjadi sebuah lumatan basah. Chanyeol yang lebih mendominasi, menginvasi segala sudut bibir Baekhyun, mengisapnya kuat layaknya sebuah manisan candu baginya. Dan ketika lenguhan kecil mulai terdengar dari si mungil, Chanyeol tahu diri melepaskan bibirnya sebelum keduanya berakhir di ranjang tanpa busana.

"Chanyeol..."

"Hmm?"

Baekhyun terdiam sesaat dan membiarkan Chanyeol mengelap bibir tipisnya yang basah akibat kegiatan mereka sebelumnya. Ia tatap kekasih tingginya itu, dengan pandangan memohon.

"Aku mohon batalkan taruhan itu Yeol. Aku janji akan menjadi kekasih yang penurut. Kau boleh menciumku kapanpun kau mau, yang penting batalkan taruhan itu Yeollie~~" bujuknya manja.

Chanyeol terkekeh kecil, kemudian membelai surai hitam Baekhyun dengan lembut. Sesungguhnya tanpa perlu berjanji seperti itu, Chanyeol pasti akan mengabulkan apapun yang diminta oleh Baekhyun.

Namun tetap saja...taruhan itu selalu menjadi pengecualian untuknya.

"Maafkan aku Baek"

.

.

.

Tak terasa, tibalah hari dimana balapan itu berlangsung. Bukan mendukung sang kekasih memenangkan lomba, Baekhyun justru terlihat asyik bermain basket di lapangan komplek rumahnya. Si mungil ini tidak sendirian, ada Kai yang setia menemaninya di belakang.

Sudah berjam-jam lebih Baekhyun menghabiskan waktunya di tempat ini, untuk menghilankan kekalutan yang melanda hatinya. Tidak bisa dipungkiri, ia begitu mencemaskan keadaan lelakinya saat ini. Namun mengingat lelaki itu bersikeras melakukan balapan demi seorang wanita yang pernah mengisi hatinya, membuat hati Baekhyun mencelos dan meningkatkan rasa benci yang ia miliki pada Chanyeol.

Kesal mengingat momen dimana beberapa waktu lalu, Chanyeol bersikukuh menolaknya meski ia telah memohon, Baekhyun pun mengahantam bola basketnya ke arah ring sekuat tenaga. Membuat bola itu terpantul jauh melewati dirinya. Baekhyun terlalu malas mengambilnya, dan menunggu Kai yang biasanya akan memberikan bola itu kembali padanya. Namun bukan sosok Kai yang datang membawa bola, melainkan-

"Payah sekali"

-sosok lelaki tinggi bertubuh atletis dengan sebuah lesung pipi yang timbul karena senyumannya. Dengan langkah pasti, sosok tersebut mendekati Baekhyun sambil membawa bola basket di tangannya.

"Mau apa kau kesini?" sahut Baekhyun malas.

Lelaki itu tetap tersenyum dan menyodorkan bola itu pada sang pemilik, sambil mengerlingkan matanya. "Untuk menantang kekasihku"

Baekhyun menarik nafas dalam, menjaga agar emosinya tidak terpancing. Ia dorong kembali bola basket yang disodorkan padanya, kemudian melangkah menjauh tanpa berucap sepatah kata pun.

"Hey! Kau mau kemana? Tidak berani melawanku?" sahut lelaki itu dari belakang.

Baekhyun berpura-pura tuli dan melanjutkan kembali langkahnya.

"Cih! Jadi Byun Baekhyun yang angkuh itu ternyata seorang pengecut?"

Baekhyun berhenti mendadak, kemudian menolehkan kepalanya ke belakang sambil melotot tajam. "Tutup mulutmu sialan!" desisnya.

"Kau hanya bisa mengumpat dibanding melawan diriku secara langsung, apakah itu bukan pecundang?" si lelaki tinggi menaikkan sebelah alisnya dan memberi tatapan remeh pada Baekhyun. Berusaha memprovokasi si mungil agar tidak meninggalkan tempat ini.

Dan sepertinya usaha lelaki itu berhasil, ketika Baekhyun mulai mendekat bak sebuah banteng yang lepas dari kandang. Sambil terengah-engah, Baekhyun mendongak dan menatap tajam lelaki di depannya. "Aku bukan pecundang. Aku tidak takut padamu!"

"Kalau begitu tetap disini dan terima tantanganku"

Tanpa berpikir lebih lama Baekhyun mengangguk menyetujui. "Apa maumu hah?!"

Lelaki itu mengusap dagunya sambil memperhatikan sekitarnya, terlihat sedang memikirkan sesuatu. Dan seringai lebar tercetak di bibirnya kala ia teringat sesuatu.

"Berhubung ini adalah tempat pertama kali kita melakukan sebuah taruhan, maka mari kita lakukan seperti saat itu"

Baekhyun termangu sesaat, kemudian ikut menyeringai setelahnya.

"Kali ini aku tidak akan kalah darimu...Park Chanyeol"

Masih dengan seringai di bibirnya, Chanyeol mendekatkan wajahnya. "Kita lihat saja, Byun"

Dengan itu, keduanya bersama-sama menuju tengah lapangan untuk memulai permainannya. Sederhana saja, siapa yang pertama kali mampu memasukkan bola ke ring, dialah pemenangnya.

Bola dilempar ke atas sebagai tanda mulai permainan. Beruntung bagi Chanyeol, karena dengan postur tubuhnya, ia dapat dengan mudah mendapatkan bola tersebut. Sambil mendribel bola tersebut, Chanyeol bergerak maju menuju ring di belakang Baekhyun.

Tentunya Baekhyun tidak tinggal diam. Kemanapun Chanyeol bergerak, Baekhyun selalu menghalanginya. Chanyeol memutar tubuhnya, mencoba mengelak dari hadangan Baekhyun. Namun naas...sepasang tangan mungil segera melingkari dirinya dari belakang. Bukan menyentuh perutnya, melainkan-

"Sshh..sialan!"

-meremas penisnya.

Chanyeol mendesis emosi-sekaligus nikmat-dan melepaskan bola di genggamannya begitu saja. Keadaan kini berbalik, dimana Baekhyun yang mendribel bola sementara Chanyeol yang menjaga ringnya. Dengan tubuhnya yang mungil, pergerakan Baekhyun lebih cepat dan beberapa kali hampir berhasil melewati Chanyeol.

Keduanya kini mulai terengah, berdiri berhadapan, saling mengamati pergerakan satu sama lain. Tidak ada satupun dari mereka yang ingin mengalah.

Duk Duk Duk

"Kenapa kau bisa kemari huh?" tanya Baekhyun di sela-sela mendribel bolanya.

"Kenapa tidak bisa?"

Baekhyun mendengus kecil. "Yah..aku pikir kau sedang merayakan kemenangan dengan Yeri"

Duk Duk Duk

"Aku kalah"

Duk Duk

"Mengemudikan mobil F1 saja aku tidak bisa. Lagipula sejak awal aku tidak berniat memenangkan balapan itu" tambah Chanyeol lagi.

Duk

Pantulan bola berhenti, karena si mungil yang memegangnya tadi sedang terpaku. Melihat keadaan Baekhyun, Chanyeol mengambil kesempatan untuk merebut bola dari genggamannya. Kemudian...secepat hembusan angin, secepat itu pula Chanyeol telah berdiri di dekat ring dan-

-Sleb

Chanyeol lah pemenangnya.

Lelaki itu memutar tubuhnya menghadap Baekhyun kembali, menyisir poninya ke belakang dengan tangannya, sambil menunjukkan seringai angkuh andalannya. Membuat Baekhyun susah payah menahan diri untuk tidak melemparkan sendal selopnya di wajah tampan pria itu.

"Cepat katakan apa maumu!" ketus Baekhyun ketika Chanyeol sudah di hadapannya.

Dalam diam Chanyeol menekan kedua pundak Baekhyun, mengisyaratkan lelaki itu untuk duduk di lantai lapangan. Tak lama setelahnya, Chanyeol menyusul dan duduk di hadapan kekasihnya. Ia tatap Baekhyun dengan pandangan teduh. "Dengarkan aku"

Hening. Tidak ada lagi ucapan yang terdengar dari keduanya.

Baekhyun membisu, menunggu Chanyeol melanjutkan kalimatnya. Sementara Chanyeol sendiri terkekeh geli dan tidak tahan untuk mendaratkan tangannya di pipi Baekhyun, karena gemas akan wajah polos Baekhyun yang sepertinya salah mengartikan ucapannya. Lalu, ketika Baekhyun tetap membisu sambil mengerjapkan matanya berulang-ulang, kali ini Chanyeol tidak tahan untuk memajukan wajahnya, dan mencuri satu kecupan singkat di bibir mungil itu.

"Ish! Apa 'sih maumu?" ketus Baekhyun.

"Hanya dengarkan apa yang akan kukatakan. Itu keinginanku" jelas Chanyeol.

Baekhyun mengganguk kecil, dan sedikit mengernyit melihat ekspresi Chanyeol yang berubah begitu serius. Membuatnya menerka-nerka apa kiranya yang ingin diungkapkan oleh lelaki itu.

"Kau ingat berapa kali aku merebut kekasihmu?"

"Tak terhitung" jawab Baekhyun sekenanya. Membuat Chanyeol berdecak dan memandang Baekhyun begitu intens, hingga yang ditatap menjadi salah tingkah. Baekhyun memutar matanya, kemudian menjawab. "Empat kali. Yeri, Hana, Sora dan Lily"

Chanyeol mengangguk puas, kemudian bertanya kembali. "Ingatkah kau apa yang terjadi padaku setelah menjadikan Hana, Lily dan Sora sebagai kekasihku?"

Kerutan di kening Baekhyun semakin bertambah seiring pertanyaan yang diajukan oleh Chanyeol. Ia sama sekali tak memiliki petunjuk, kemana arah pembicaraan ini sesungguhnya. Namun meskipun begitu, Baekhyun tetap mencoba menggali informasi di otaknya, berusaha mengingat kejadian di masa lalu.

"Ketika dengan Hana, wanita itu memanfaatkan kekayaanmu hingga semua kartu atm yang kau miliki harus dibekukan oleh ayahmu karena pengeluarannya yang fantastis. Bahkan kau saat itu harus bekerja paruh waktu selama beberapa bulan" kenang Baekhyun.

"Benar sekali Baek, selanjutnya?"

Baekhyun mencoba mengingat kembali, dan raut wajahnya semakin meredup seiring ingatan yang muncul di otaknya. "Lalu dengan Lily...kau hampir diringkus ke penjara karena faktanya Lily adalah seorang pecandu narkoba sekaligus pemimpin jaringan pengedar narkoba di kalangan mahasiswa. Hanya karena kau adalah kekasihnya, polisi mencurigaimu dan menginterogasi selama seminggu penuh" ucap Baekhyun, merasakan pilu di hatinya kala mengingat hal tersebut. Saat itu, kondisi Chanyeol begitu memprihatinkan, karena menerima perlakuan tak layak selama diinterogasi.

Chanyeol tetap tersenyum tegar, dan mengelus surai hitam Baekhyun dengan lembut. "Tidak apa. Dan yang terakhir?"

Bagi Baekhyun, untuk wanita yang ketiga ini, menjadi kisah yang paling menyayat hatinya. "Kau...Kau nyaris mati saat itu Yeol..." Baekhyun tak punya kuasa yang kokoh, untuk menahan sesuatu yang mendesak keluar dari matanya. "Hanya selang satu jam setelah Sora menjadi kekasihmu, mantan kekasihnya datang padamu bersama kelompoknya, membawamu ke suatu tempat, dan...dan..." racaunya disertai genangan air mata yang semakin berlomba-lomba membasahi wajah Baekhyun. Sambil terisak-isak, ia mencoba melanjutkan kalimatnya. "...dan mereka menyiksamu selama tiga hari penuh. Hingga kau...sekarat"

Baekhyun benar-benar tak mampu lagi melanjutkan ucapannya. Saat itu, Chanyeol ditemukan tergeletak dengan nafas terputus-putus di tempat sampah sekitar sekolah. Sekujur tubuhnya penuh lebam, tangan kiri dan kaki kanannya patah. Dan yang lebih mengerikan...jika terlambat 1 menit saja menemukannya, mungkin saat ini tidak ada lagi sosok yang sedang menghapus air mata di pipi Baekhyun.

Sambil tetap mengusap pipi Baekhyun dengan ibu jarinya, Chanyeol mendongakkan wajah sang kekasih untuk menatap dirinya. "Baekhyun...tidakkah kau menyadari sesuatu?" tanyanya lembut. Sedang Baekhyun masih membisu, mulai menduga-duga sesuatu di balik pembicaraan ini. "Sadarkah kau apa yang akan terjadi jika aku tidak merebut mereka darimu?" tanyanya sekali lagi.

Baekhyun mengetahuinya. Jawaban dari pertanyaan Chanyeol. Yang entah mengapa setelah sekian tahun lamanya, baru ia sadari kini. Namun mulutnya tetap enggan terbuka, sampai akhirnya Chanyeol bersuara kembali.

"Kau...yang akan merasakan semua kepahitan dan kesakitan yang menimpaku saat itu Baekhyun"

Tepat sekali. Persis seperti apa yang ada di benak Baekhyun.

"Setelah semua yang kulakukan...masihkah kau meragukanku?"

"Bagaimana dengan Yeri? Dia seorang wanita baik-baik, berbeda dengan ketiga wanita tadi?" bukannya menjawab, Baekhyun malah balik bertanya.

Dengan sebuah senyuman miring layaknya seorang psikopat dan kilatan tajam di kedua matanya, Chanyeol menjawab lantang.

"Karena dia ingin menjauhkanmu dariku. Dan sialnya ia mencoba lagi untuk kedua kalinya"

Baekhyun membola dengan hebatnya. "Ap-apa maksudmu?!"

Bukannya langsung menjawab, Chanyeol justru nampak sibuk merogoh sakunya, untuk mengeluarkan ponsel miliknya. Jemarinya sibuk mengetikkan sesuatu di layar ponsel, dan tidak lama setelahnya ia sodorkan ponselnya ke depan wajah Baekhyun.

Baekhyun memicingkan matanya, untuk melihat dengan jelas isi di layar tersebut. Ada tulisan 'Yeri' di judul folder, dan Baekhyun perlu waktu beberapa saat untuk memahami maksud dari tindakan Chanyeol ini.

"Ini kamar Yeri" sahut Chanyeol.

Dan memang benar, terdapat ranjang, lemari pakaian, dan apa itu?

"Itu fotoku?"

Chanyeol mengangguk. "Ya, dan bukan hanya itu. Lihat ini baik-baik" Chanyeol memperbesar ukuran gambarnya, dan memfokuskan pada bagian meja.

Saat itulah Baekhyun tercekat. Di atas meja dan di dinding dekat meja tersebut, berbagai foto Baekhyun mulai dari masa mereka kanak-kanak hingga yang terbaru, terjajar rapi disana. Bahkan bantal di atas ranjang gadis itu juga dilapisi sarung berwajah Baekhyun.

Satu yang menjadi pertanyaan di benak Baekhyun. Mengapa tidak ada poto Chanyeol disana?

"Yeri dan aku tidak pernah saling menyukai. Dia terobsesi padamu Baek" ucap Chanyeol tiba-tiba, seolah mendengar suara pikiran Baekhyun. "Gadis itu mengirimkan seseorang untuk memata-mataimu selama beberapa tahun ini, dan Sehun lah yang pertama memergokinya" Chanyeol menjeda sesaat, menunggu jika Baekhyun ingin berkata sesuatu. Namun ketika melihat lelaki itu nampak serius menyimak, Chanyeol melanjutkan ucapannya kembali.

"Singkat cerita, aku dan Sehun berhasil bekerja sama dengan orang tersebut. Kami merubah informasi, bahwa ia harus meyakinkan diriku dulu jika ingin mengambil hatimu dengan mudah. Itulah alasan mengapa aku sering pergi dengannya selama beberapa hari kemarin. Karena ia terus menghubungiku dan juga...aku ingin menghindarkan ia darimu"

Baekhyun tidak tahu harus berkata apa selain, "lanjutkan"

Chanyeol menjilat bibirnya yang kering, sebelum melanjutkan ucapannya kembali. "Dua minggu yang lalu, sang informan menyampaikan sesuatu pada kami. Yeri mulai merasa bahwa aku hanya mengulur waktunya saja, hingga ia mulai menyusun rencana licik" , ekspresi Chanyeol mengeras dengan kedua tangannya mengepal. "Berbagai rencana telah ia susun. Mulai dari membuatmu mabuk dan bercinta dengannya hingga rencana untuk menculikmu"

Baekhyun tercengang dan bergidik mendengarnya.

"Aku sempat putus asa, tidak tahu cara menghadapi Yeri. Namun untungnya, si informan tadi menyampaikan padaku bahwa Yeri memiliki seorang kekasih yang begitu posesif padanya di Amerika. Dan...ide menarik segera muncul di benakku saat itu"

"Taruhan itu?" tanya Baekhyun.

Chanyeol tersenyum kecil. "Aku meminta si informan untuk mengompori kekasih Yeri bahwa gadisnya berselingkuh denganku selama ia di Korea. Dan benar saja...tidak sampai satu hari, lelaki itu segera datang kemari, lalu terjadilah taruhan itu"

Hening. Chanyeol menunggu Baekhyun mengatakan sesuatu, namun si mungil memerlukan beberapa saat untuk mencerna seluruh fakta yang diungkapkan oleh Chanyeol sejak tadi. Dan satu kesimpulan yang dapat ia tarik dari keseluruhan ucapan lelaki itu.

Chanyeol selalu mengorbankan dirinya, tak peduli sesakit apa itu, betapa mengerikannya itu, asal Baekhyun bahagia.

"Kau...sengaja mengalah? Kau menyerahkan motormu yang sangat berharga begitu saja?" lirih Baekhyun.

Chanyeol menggeleng kecil sambil tersenyum. "Itu hanya barang rongsokan. Aku tidak ingin Yeri merebutmu lagi dariku"

"Lagi?" Baekhyun mengernyit.

Chanyeol tersenyum kembali. "Kau pikir apa alasanku menantangmu saat itu hingga membuat hubunganmu dan Yeri berakhir hum?"

Baekhyun menggeleng, tak berani menjawab.

"Karena aku menyukaimu dan sialnya Yeri mengetahuinya"

"Ta-tapi Yeol...saat itu kita masih berumur 14 tahun. Ap-apakah kau..." entahlah, Baekhyun sepertinya kehilangan kata-katanya.

Chanyeol menarik nafas sesaat, kemudian menangkup wajah Baekhyun dengan kedua tangannya. Dengan pandangan penuh damba, ia berkata. "Byun Baekhyun...sejak pertama kali Nyonya Byun membawa putra mungilnya datang ke rumahku sebagai tetangga baruku, saat itu juga aku yakin..." Chanyeol menjeda sesaat untuk mendekatkan wajahnya dan mengunci kedua mata Baekhyun dalam pandangannya.

"...bahwa itu adalah cinta pandangan pertama, pandangan terakhir dan pandangan selamanya..."

Hening.

Hanya suara hembusan angin dan degupan jantung masing-masing yang menggelitik telinga keduanya. Untuk Baekhyun, jika bukan karena gen angkuh yang masih melekat dalam dirinya, mungkin saat ini pipinya telah dibajiri air mata haru seperti wanita. Jangan katakan ia berlebihan, memangnya siapa yang tidak terharu dicintai oleh seseorang selama kurang lebih 12 tahun? Hmm...sekuat tenaga Baekhyun menahan diri untuk tidak melemparkan dirinya ke pelukan Chanyeol.

"Kenapa terdiam? Kagum padaku?"

Hilang sudah letupan-letupan di hati Baekhyun kala melihat senyuman angkuh dari lelaki itu. Ia berdiri dengan cepat, dan menatap nyalang yang lebih tinggi dengan berkacak pinggang.

"Lalu bagaimana dengan wanita-wanita yang kau tiduri selam ini hah?!"

Chanyeol mengedikkan bahunya, "Hanya untuk pelampiasan hasratku ketika melihat bokong sintalmu yang selalu bergoyang di depanku" jawabnya santai. Namun sukses membuat wajah Baekhyun merah membara. "Apa? Rindu dengan tubuhku?" goda Chanyeol.

Meski tubuhnya memanas, Baekhyun tetap berdecih mengejek. "Sayang sekali aku sudah tidak tertarik lagi dengan lelaki. Aku normal" kilahnya. Dan Baekhyun mulai menyesali ucapannya, ketika Chanyeol mulai berdiri dan memandang dirinya layaknya seorang pemburu yang ingin menerkamnya. Baekhyun meneguk ludahnya, dan mundur perlahan seiring langkah kaki Chanyeol yang maju mendekatinya.

"Ap-apa yang ingin kau lakukan?! Jangan mendekat!"

Chanyeol tetap mendekat, bahkan mulai mengeluarkan seringai mengerikan di wajahnya.

"Hanya ingin membuatmu melupakan apa itu 'normal' Baekhyun..." desisnya.

Baekhyun meringsut mundur, namun Chanyeol lebih cepat menangkapnya dan-

"Turunkan aku sialaannn! Tolong aku tolooonggg"

-memanggul Baekhyun di bahu kirinya layaknya karung beras.

Baekhyun tentu tidak tinggal diam. Kakinya menendang-nendang udara, tangannya memukul punggung Chanyeol secara brutal, namun Chanyeol sama sekali tak bergeming, dan justru membalas Baekhyun dengan cara meremas kedua bokongnya.

"Hey Hey, mau kau bawa kemana Baekhyun?!"

Baekhyun mengangkat kepalanya ketika mendengar pekikan tak asing di belakang sana. Mengetahui siapa sosok di sana, Baekhyun mulai meronta kembali.

"Kaaiii~~ tolong aku kai~~" melas Baekhyun.

Kai yang sejak tadi diminta Chanyeol dan Sehun untuk bersembunyi, segera keluar ketika melihat Baekhyun berada dalam gendongan Chanyeol. Tentu saja ia khawatir, mengingat apa yang terjadi terakhir kali ketika Chanyeol membawa sahabat mungilnya itu ke rumahnya.

"Yeol turunkan Baekhyun!" sambil meneriaki Chanyeol yang pura-pura tuli, Kai terus berlari mendekat. "Yeol aku serius lepaskan Baekmmpht!"

Sapuan lembut dari bibir seseorang, membungkam ucapan Kai. Pelakunya adalah kekasihnya sendiri, yang saat ini masih terus memagut bibirnya. Setelah meninggalkan satu sesapan kuat, Sehun pun melepaskan tautannya. Ia usap bibir Kai yang basah karena ulahnya, sambil tersenyum pada lelaki itu.

"Aku juga ingin menyampaikan sesuatu padamu"

.

.

.

"Le-lepaskan aku sial-Ahhk!"

Chanyeol menarik mulutnya dari dada Baekhyun, kemudian memberi decihan remeh padanya. "Apa itu? Kau mendesah? Bukankah kau sudah normal?" ejeknya.

Bagi Chanyeol, meski di luar turun bongkahan emas sekalipun, ia tidak akan pernah beranjak dari tempat ini. Kekasih mungilnya yang sedang berbaring di ranjangnya dengan tubuh polos dan tangan terikat, adalah sebab utamanya.

Jangan pikir Baekhyun diam saja. Sejak tadi ia memberontak dan kakinya menendang ke segala arah. Namun sialnya di mata Chanyeol, kekasihnya itu tampak seperti sedang menggeliat menggoda.

"Hmm...dari manakah aku harus memulai?"

Baekhyun menggigit bibirnya kuat, mati-matian menahan lenguhan ketika tangan panas Chanyeol meraba sekujur tubuhnya. Dan sengaja menekan lebih lama di tempat-tempat yang dapat membuat Baekhyun menggila.

"Bagaimana dengan bibir ini?"

Tanpa menunggu Baekhyun menjawab, Chanyeol sudah mendaratkan bibirnya. Menghisap kuat belahan bibir itu bergantian, merasa rindu akan rasa manis di dalamnya. Chanyeol berdecih kecil di sela-sela kulumannya, karena Baekhyun kukuh terdiam seperti patung, tidak membalas pergerakan bibir Chanyeol. Namun tak masalah bagi Chanyeol, ia mencari kenikmatannya sendiri dengan menarik bibir bawah Baekhyun dengan giginya, kemudian mendorong lidahnya masuk untuk bertemu milik sang lawan. Berkali-kali Chanyeol menggelitik lidah Baekhyun, menghisapnya kuat hingga Baekhyun mulai lengah dan terbuai. Ketika dirasakan Baekhyun mulai membelit lidahnya, Chanyeol menarik kembali mulutnya.

"Aku bosan. Selanjutnya kemana lagi ya? Ah...bagaimana dengan ini?"

Baekhyun membeliak horror ketika Chanyeol mulai merunduk kembali, bergerak menuju dadanya. Dan benar saja...gigitan di bibirnya menguat, kala lidah Chanyeol bergerak melingkari pucuk dadanya, sengaja membuat kedua tonjolan itu mengeras. Seolah belum selesai penderitaan Baekhyun, Chanyeol mengulum dan mengggigiti puting kirinya hingga memerah, beserta puting kanannya yang dicubit kuat oleh Chanyeol dengan kukunya. Membuat Baekhyun tak sadar membusungkan dadanya. Chanyeol menarik kembali mulutnya, namun masih dengan posisi mengukung Baekhyun.

"Kemana lagi hmm..." gumamannya mulai bernada serak, sarat akan gairah. Mulut dan lidahnya mulai menjalar turun ke bawah, membuat tubuh Baekhyun berkilat karena liurnya, dan sialnya pemandangan itu semakin membuat sesak kejantanannya.

"Apakah ini?"

Baekhyun menggeliat hebat ketika Chanyeol mengecup kepala penisnya. Sialnya, si bajingan tampan ini mengikutsertakan kembali lidahnya, dan bergerak membasahi dari pangkal hingga ujungnya bergantian. Baekhyun sampai mengangkat pinggulnya, ketika Chanyeol menggigiti lubang kencingnya sambil meremas bola kembarnya. Namun seperti sebelum-sebelumnya, ketika Baekhyun mulai terbuai akan sentuhan Chanyeol, lelaki itu segera menghentikannya.

"Bagaimana dengan ini ya?"

Baekhyun terus menerus menggelengkan kepalanya ketika sudut bibir Chanyeol terangkat mematikan, dengan kedua tangannya yang mulai bergerak membuka lebar kaki Baekhyun. Chanyeol merendahkan kepalanya kembali, hingga Baekhyun dapat merasakan hembusan nafas hangat lelaki itu di lubang pinknya. Semakin lama semakin dekat hingga-

"Nghhh"

-Baekhyun mendesah dengan kerasnya. Tidak mampu lagi meredamnya ketika dirasa olehnya sapuan lidah mematikan milik Chanyeol menerobos dinding rektumnya.

"Canhhh"

Desahan lain mulai menyusul, terdengar lebih keras dan terkesan penuh memohon, kala lidah Chanyeol digantikan oleh jemari lelaki itu. Tidak tanggung-tangung, tiga jari langsung ia masukkan. Tanpa menunggu jemari itu bergerak, Baekhyun menggoyangkan pinggulnya sendiri, melecehkan jemari itu agar terus-menerus mengenai prostatnya. Ia tidak peduli lagi betapa kacaunya penampilannya kini, yang ia ingin hanya mendapatkan kenikmatan dan mendesahkan nama Chanyeol seperti jalang. Penis mungilnya mulai membesar, dan Baekhyun semakin semangat menggerakkan pinggulnya, namun dengan kurang ajarnya Chanyeol menarik kembali jemarinya.

"Sudah cukup. Sepertinya kau benar-benar telah menjadi normal. Pulanglah" ucap Chanyeol, yang tentunya berniat mengerjai lelaki itu. Sambil berpura-pura memasang raut kecewa, Chanyeol mencoba membuka ikatan di tangan Baekhyun. Dan tepat ketika tali itu sudah terbuka-

Bruk

-Baekhyun membalik posisi mereka, dimana Chanyeol setengah berbaring di ranjang dengan dirinya yang duduk di pangkuan lelaki itu. Keduanya saling bertatapan penuh hasrat dan seringai menggoda terlukis di bibir masing-masing.

Dengan lincahnya, jemari lentik Baekhyun bergerak membuka pengait celana Chanyeol, menariknya beserta dalaman hitam lelaki itu sampai ke dengkul. Penis tegak, kokoh dan berurat milik sang kekasih, menyambut Baekhyun setelahnya.

"Tidakkah kau butuh bantuanku untuk menidurkan ini?" tanya Baekhyun menggoda. Sementara Chanyeol mendesis sambil terpejam merasakan usapan lembut di penis tegangnya. Hanya sesaat saja, karena dengan cepat ia membuka matanya kembali dan menyingkirkan tangan mungil itu dari penisnya.

"Aku bisa menyelesaikan ini sendiri"

"Chanyeollieeee~~" Baekhyun merajuk manja, masih dalam mode menggoda lelaki itu.

Chanyeol terkekeh kecil, kemudian mengecup kilat bibir yang sudah bengkak itu. Ia tatap Baekhyun dengan pandangan sensual.

"Cari kenikmatanmu sendiri sayang"

Baekhyun mendecih kesal namun emosinya dikalahkan oleh gairahnya yang sudah di ujung lidahnya. Ia angkat bokongnya sesaat, kemudian pelan-pelan memposisikan lubangnya untuk dimasuki penis Chanyeol. Kepalanya mendongak ke atas, begitu penis besar itu telah merobek anusnya dan langsung membentur prostatnya. Dengan semangat dan penuh nafsu, Baekhyun menggerakkan pinggulnya naik turun, sementara Chanyeol hanya duduk diam dan mendesis sesekali.

"Aahh...ahhh...Chanhh bantuh akuhhh~~" Baekhyun merengek sambil mempoutkan bibirnya. Membuat Chanyeol gemas dan menciumnya dalam.

"Baiklah...tapi jangan menyesal. Karena aku tidak akan berhenti setelah ini..."

Bukannya takut, Baekhyun justru mengangguk imut.

"Aku akan membuatmu menggila malam ini Baek"

.

.

.

Tidak jauh berbeda dengan Chanyeol dan Baekhyun, kedua insan berbeda warna kulit ini juga nampak sedang bercumbu mesra di dalam mobil, seolah tidak peduli dimana mobil ini terparkir.

"Ssshh...kau memang yang terbaik babyhh!"

Kepala Kai mendongak ke atas, peluh sudah membasahi keningnya hingga rautnya yang berekspresi penuh kenikmatan. Sementara Sehun, sedang melakukan tugasnya di bawah sana, menaik turunkan mulutnya melingkupi kejantanan milik sang kekasih. Entah bagaimana mereka memulai, yang pasti sudah setengah jam lebih mereka saling memuaskan masing-masing. Di sela-sela kulumannya itu Sehun melenguh kecil hingga tersedak, karena tangan sang kekasih yang merayapi tubuhnya dan berakhir meremas bokongnya.

"Ahh.."

Lenguhan kepuasan didendangkan oleh Kai, ketika sperma menyemprot dari penisnya, mengalir deras menuju mulut Sehun. Tangan Kai masih menahan tengkuk Sehun di bawah sana, agar kekasihnya itu menelan habis spermanya.

"Jadi apa yang ingin kau sampaikan hum?" tanya Kai terengah-engah, masih sibuk menetralisir nafasnya.

Sehun terdiam sesaat, sibuk mengusap sisa sperma di bibir pucatnya. Ia tarik nafas sejenak dan memandang Kai sambil tersenyum kecil. "Aku sudah menceritakan semuanya pada Nana" ucapnya bangga.

"Maksudmu?" Kai mengernyit bingung.

"Aku sudah mengatakan padanya tentang hubungan kita, dan memintanya untuk berhenti mengharapkan diriku, karena aku..." Sehun menjeda sesaat untuk mendekatkan kembali wajah mereka berdua. "...hanya menjadi milikmu..." Sehun tersenyum teduh. Begitu pula dengan sang kekasih. Keduanya mulai terpejam dan mendekatkan wajah masing-masing, hingga akhirnya...

Tok Tok Tok

"Jadi selama ini kau berpacaran dengan seorang lelaki?"

Kai dan Sehun segera menarik diri masing-masing, dan keduanya membeku di tempat melihat beberapa orang yang berdiri di samping pintu mobil.

Bagi Sehun...bencana adalah saat Nana tersenyum licik di samping kedua orang tuanya.

.

.

.

Di suatu pagi yang sedikit berawan, Chanyeol mengira saat itu dirinya sedang mengalami sebuah bunga tidur yang indah. Bagaimana tidak? Di hari yang masih sedikit gelap karena berawan, sosok lelaki mungil yang disayanginya sudah berdiri di depan gerbang rumahnya. Yang lebih mengejutkan dirinya lagi, kekasihnya itu membawa sesuatu di belakangnya. Motornya. Motor miliknya yang diambil karena taruhan saat itu.

Jika bukan karena kecupan lembut di bibirnya, mungkin Chanyeol benar-benar mengira dirinya masih di alam mimpi.

Sayangnya..terlalu gembira dengan itu, membuat Chanyeol tidak menyadari raut berbeda dari lelaki mungil itu.

"Astaga Baek! Aku...aku tidak tahu lagi harus bagaimana membalas kebaikanmu. Terima kasih Baek" seru Chanyeol bersungguh-sungguh, karena demi apapun motor ini memang memiliki nilai penting untuk dirinya.

Baekhyun menggeleng tersenyum dengan manisnya. "Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasihku untuk semua yang telah kau lakukan untukku Yeol. Aku akan merindukan itu..."

Chanyeol terkekeh kecil dan mengusak surai kekasihnya dengan sayang. Kemudian menyadari hawa udara begitu dingin, ia mengajak sang kekasih untuk masuk, namun lelaki itu menggelengkan kepalanya.

"Aku ingin menyampaikan sesuatu Yeol..."

"Apa itu?" tanya Chanyeol.

'Keputusan berada di tanganmu anakku, kau sudah besar, sudah mampu memilih mana yang terbaik untukmu'

'Baiklah ayah aku mengerti'

"Baekhyun?"

Baekhyun mendongak dengan mata berkaca-kaca.

"Mari kita akhiri hubungan ini Chanyeol..."

.

.

.

Epilog

"Nah..seperti itulah kisah daddy ketika remaja"

"Menakjubkan sekali. Apakah aku juga bisa seperti daddy nanti?"

Chanyeol tersenyum kecil, sambil merapikan poni gadis kecil di pangkuannya. "Tentu saja, makanya putri kesayangan daddy ini harus rajin ke sekolah, jadi bisa punya banyak teman seperti daddy" ucapnya.

Gadis kecil itu menggangguk lucu "eung! Baiklah daddy!"

"Soyeon? Sudah malam, jangan ganggu daddymu lagi" sahut seorang wanita di dekat pintu.

Gadis kecil itu mengangguk kecil, kemudian menyempatkan diri mencium pipi sang daddy sebelum turun dari pangkuannya. "Bye daddy, bye eomma!"

Setelah si kecil menggemaskan itu keluar dari ruangan, keheningan melanda kedua orang dewasa ini. Si wanita yang pertama mendekat ke arah Chanyeol, dan mulai membuka suaranya.

"Besok adalah hari pernikahannya. Kau akan datang?"

Chanyeol terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Seolah mengerti akan perasaan lelaki itu, si wanita menepuk bahunya pelan, untuk memberi semangat padanya.

"Tidak apa, aku mengerti perasaanmu. Aku keluar dulu Yeol"

Chanyeol hanya mengangguk singkat sebagai jawaban. Netranya kini terfokus pada sebuah amplop emas di atas mejanya. Sebuah undangan pernikahan. Dengan nama sahabatnya disana.

Byun Baekhyun...aku mencintaimu dalam kenangan, dan merindukanmu dalam ingatan.

.

.

Thanks For Reading

.

*ketawa setan bareng Baekhyun*

No words for this chapter.

Cuma mau infoin, malem ini aku up bareng Byun Jaehyunee lagi yeaay. Silahkan mampir ke akunnya karena kakak Byun bikin oneshoot yang cukup memanaskan malam kalian hihi.

Last, see you on? on apa yah? Hahahahaha