Byun Baekhyun...aku mencintaimu dalam kenangan, dan merindukanmu dalam ingatan.
Adalah sepenggal kalimat yang selama beberapa hari ini terus terngiang dalam otak Chanyeol. Lelaki itu tidak habis pikir, bagaimana kalimat itu bisa terucap seminggu yang lalu, sedangkan besok adalah hari pernikahan sosok tersebut.
Lalu sialnya, hanya dengan sepenggal ungkapan itu, mood Chanyeol selalu berakhir memburuk. Tak ayal, selama seminggu ini pula Chanyeol bersikap dingin dengan pasangan hidupnya, bahkan hari ini saja Chanyeol sengaja tidak menjemput kekasih hatinya itu yang baru saja kembali dari Belgia.
Alhasil, malam ini Chanyeol hanya berbaring sendirian di kamarnya, tanpa ditemani oleh si cantik kesayangannya, yang biasanya merengkuh Chanyeol dengan tangan lentiknya. Semua itu memang karena ulahnya, namun bukan sepenuhnya salah Chanyeol. Ia hanya cemburu. Dan ia tidak siap untuk membawanya ke acara pernikahan itu esok hari.
...
Di tengah padatnya tamu undangan pernikahan, dua pria dewasa dengan tinggi badan yang sama, terlihat mencolok karena wajah tampannya dan juga karena tidak terlihat adanya pasangan di sekitar mereka. Yang satu berwajah datar, sedang yang satu memberikan senyuman mempesona pada siapa saja yang melihat ke arahnya. Tidak jauh berbeda ketika remaja.
"Dimana dia Yeol?"
Chanyeol mengedikkan dagunya asal. "Sedang mengantar Soyeon ke kamar mandi. Kau sendiri Hun?"
Belum sempat Sehun menjawab pertanyaan Chanyeol, sosok yang dimaksud oleh keduanya datang tiba-tiba dan menepuk bahu Chanyeol penuh semangat.
"Hey Yeol! Ah kau makin tua saja bung!" ejek lelaki itu, sambil melingkarkan lengannya secara posesif di pinggang Sehun. Membuat Chanyeol mendengus jengah melihatnya.
"Yeah...kau juga semakin hitam" balas Chanyeol.
Si lelaki hitam terkekeh kecil dan meninju pelan bahu Chanyeol. "Hey..hitam begini, aku pewaris utama Kim inc. dan suami dari seorang ice prince tampan, bung!" sombongnya.
Chanyeol memutar matanya. "Ya, baiklah tuan Kim Kai terhormat. Sampai jumpa di rapat besok pagi. Dan...jagalah pangeranmu ini baik-baik, karena sejak tadi banyak wanita dan pria yang menggodanya Tuan Kim" candanya sambil membuat gesture hormat pada sahabatnya itu.
Kai tertawa sekenanya, kemudian baru menyadari Chanyeol hanya sendirian di tempat ini. Penasaran akan hal tersebut, Kai bertanya pada Chanyeol. "Kau sendirian Yeol? Jangan bilang kau tidak mengajaknya? Hah...padahal sudah lama aku tidak bertemu denganya" siratan kecewa terkandung dalam ucapannya.
Chanyeol menggeleng cepat dan menoleh ke belakang. "Ada, sedang mengantarkan Soyeon ke kamar mandi. Sebentar lagi mungkin-ah ini dia"
Baik Kai dan Sehun, serempak mengikuti kemana arah pandangan Chanyeol. Dan saat itu juga keduanya membelalak terkejut, melihat sosok pasangan hidup Chanyeol itu sedang melangkah mendekat sambil menggendong seorang gadis kecil yang sama manisnya dengan dirinya.
"Daaddd-oh? Uncle Kai! Uncle Sehun! Apa kabar?" sapa si gadis kecil dengan riang.
Sehun dan Kai hanya tersenyum kecil sebagai jawaban. Karena atensi keduanya lebih terfokus pada sosok manis di depannya, yang datang bersama si gadis kecil.
"Kaaaaiii~ Sehunnnn~!"
Dengan wajah berseri-seri, Kai dan Sehun merentangkan tangan mereka sambil memekik lantang.
"Baekhyunniee!"
.
.
End of 'I Dare You'
(For beloved readers who still keep support me)
...
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
Oh Sehun
Kim Jongin
.
.
.
Flashback
Suasana tegang dan mencekam menyelimuti seisi ruangan ini. Khususnya untuk Kai, rasanya ia berharap sofa yang sedang ia duduki saat ini mampu menelannya ke dalam. Ditatap tajam oleh kedua orang tua Sehun selama kurang lebih setengah jam, membuat dirinya tenggelam dalam kegugupan.
"Jadi kau kekasih anakku?" Tuan Oh akhirnya membuka suara.
Kai mendongak sesaat dan mengangguk yakin. "Ya, paman" , dalam hati ia bersyukur karena suaranya cukup lantang.
"Tapi bukankah kalian sesama lelaki?" tanya Tuan Oh kembali.
"Ayah!"
"-sstt. Tidak apa-apa Sehun" Kai mencoba menenangkan sang kekasih, dengan menggenggam erat tangan kanan lelaki itu. Setelah dirasa Sehun mulai tenang dan diam , fokus Kai kembali lagi pada sosok paruh baya di depannya. Ia menunduk singkat sebagai tanda hormat, dan mengambil tarikan nafas panjang sebelum membuka suara.
"Sebelumnya, maafkan aku jika aku lancang paman. Tapi bagiku...cinta bukan hanya tentang bagaimana latar belakang seseorang dan apa jenis kelaminnya, melainkan tentang semua yang ada pada dirinya, yang sama berharganya dengan semua yang aku punya, dan mampu membuat jantungku berdegup begitu cepat hanya dengan memikirkan wajahnya" ungkap Kai panjang lebar. Sebelum melanjutkan ucapannya kembali, ia menoleh singkat pada sang kekasih yang sedang merona menatapnya, kemudian kembali menatap tuan Oh.
"Dan itulah yang kurasakan pada putra anda, paman"
Dalam hati Kai bersorak lega, karena ucapannya begitu lantang, tidak ada getar keraguan di dalamnya. Itu adalah ungkapan hatinya, yang bahkan tidak pernah diketahui oleh Sehun sampai detik ini. Kai bukanlah seorang yang pandai berucap cinta. Tapi demi memantaskan diri di depan Tuan dan Nyonya Oh, apapun akan ia usahakan.
Tidak adanya tanggapan yang berarti dari sosok dewasa di depannya, membuat Kai mulai dilanda ras was-was. Hanya anggukan singkat saja serta tatapan tajam yang ditujukan oleh Tuan Oh padanya. Benaknya terus bertanya-tanya, Apakah kata-katanya berlebihan? Apakah dia salah mengucapkan sesuatu?
"Sehun adalah putra kesayangan kami" ucap Tuan Oh tiba-tiba.
"Ya paman"
"Dan ia satu-satunya pewaris keluarga Oh"
Kai mengangguk lemah, mulai paham kemana arah pembicaraan ini. Satu hal yang selalu dianggap begitu penting bagi para keluarga sendok emas. Keturunan, pewaris tahta keluarga. Yang tidak akan bisa didapatkan oleh pasangan sesama jenis.
Dengan senyuman tegar, Kai menjawab. "Aku mengerti paman, tapi aku-"
"-berhenti memenggilku paman!"
Kai menutup rapat mulutnya ketika mendengar hardikan dari Tuan Oh. Hatinya berdenyut miris, merasakan tidak adanya tanda-tanda merestui dari kedua orang dewasa di depannya. Mungkin ia harus segera berlatih berbesar hati, kalau-kalau sesaat lagi hubungan mereka terpaksa harus berakhir.
Namun nampaknya dugaan lelaki itu salah besar, kala kekehan kecil terdengar dari mulut Tuan Oh. Sambil tersenyum geli ia berkata, "Panggil aku ayah, Kai"
Kedua mata Kai melebar sempurna hingga nyaris keluar. Tidak jauh berbeda darinya, Sehun juga nampak pucat pasi di sebelahnya. Termasuk juga seorang gadis yang duduk tak jauh dari Nyonya Oh.
Gadis itu berdiri, nampak tidak terima dengan keputusan Tuan Oh. "Ta-tapi paman, bukankah itu menjijikkan? Menjalin kasih dengan-"
"-putraku terlalu banyak diam dan selalu murung di masa kecilnya" Tuan Oh memotong, seolah tidak mendengar ucapan protes gadis itu. "Ketika ia bertemu Nana pada saat usianya 10 tahun, perlahan-lahan Sehun mulai terbuka dan sering berinteraksi dengan kami" terang lelaki tua itu. Sementata yang lain menyimak dalam diam. "Namun sayangnya...kondisi Sehun kembali seperti semula, ketika Nana memutuskan untuk pindah dan meninggalkan Sehun. Bahkan semakin memburuk, hingga beberapa kali kami membawakan psikiatris untuknya, agar ia mau berbicara kembali" raut wajah Tuan Oh menyiratkan kepedihan terpendam. Sementara sang gadis yang namanya baru saja disebut, hanya bisa menunduk malu, dan perlahan-lahan melangkah mundur, pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Namun ketika ia mulai memasuki jenjang sekolah menengah pertama, Sehun kami mulai membaik seperti dulu. Dan semakin baik, seiring bertambah usianya" Tuan Oh tersenyum sesaat. "Kami pun memutuskan untuk diam-diam mencari tahu penyebabnya, dan ternyata... itu adalah kau nak" ucapnya lugas, kembali membuat Kai terbelalak.
"Aku sudah menunggu datangnya hari ini, ketika akhirnya aku bisa berbincang dan melihat dari dekat...sosok calon pendamping putraku" Tuan Oh memberikan senyuman hangat di akhir ucapannya.
Entah sudah berapa kali, Kai dibuat terkejut hari ini. Namun tidak dipungkiri, kelegaan luar biasa menjalari sekujur tubuhnya ketika akhirnya hubungan mereka direstui oleh ayah Sehun. Karena selama ini keduanya memang sudah menunggu saat yang tepat untuk mengatakan perihal hubungan mereka pada orang tua Sehun, sedangkan keluarga Kai, sudah merestui keduanya sejak jauh-jauh hari sebelumnya.
Kai menoleh pada sang kekasih, mendapati mata lelaki itu nampak berkaca-kaca penuh haru menatap sang ayah. Merasa diperhatikan begitu intens dari sampingnya, Sehun pun mengalihkan pandangannya ke samping, hingga keduanya saling bersitatap penuh damba.
Salahkan suasana haru yang terjadi saat ini, hingga keduanya mulai mendekatkan wajah masing-masing, seolah melupakan keberadaan orang lain di sekitarnya. Ketika sedikit lagi kedua bibir itu saling bersapa..
"Ehemm!"
Tuan Oh berdeham keras, membuat keduanya menjauh dengan wajah memerah matang.
"Jangan senang-senang dahulu" ucap Tuan Oh dengan nada suara dan raut keseriusan. Ia tatap tajam keduanya dengan tangan terlipat di dada. "Aku beri kalian waktu sampai akhir tahun ini untuk menyelesaikan kuliah kalian. Jika lebih dari itu maka...selamat tinggal"
"Ta-tapi ayah, kami saja baru memulai menulis skripsi" protes Sehun.
Sang ayah memberikan gelengan tegas pada putranya. "Patuhi atau akhir saat ini"
Maka baik Sehun maupun Kai, hanya bisa mengangguk lemah pada sang ayah.
.
.
.
"Ayah~~bantu aku ya? Ayah 'kan punya banyak relasi penting di Amerika yah~~?" bujuk Baekhyun dengan manja.
Byun Baekhyun memang angkuh dan bermulut pedas terhadap orang lain. Namun jika itu dengan kedua orang tuanya, musnah sudah kedua sifat itu, digantikan oleh sifat penurut, manja dan kekanak-kanakan. Salah satu hal yang terkadang membuat Chanyeol ingin menjadi ayah Baekhyun ketimbang menjadi kekasihnya.
"Chanyeol kehilangan motornya karena kemauannya Baekhyun" ucap sang ayah.
Baekhyun mengerucutkan bibirnya, sambil menghentak-hentakkan kakinya di lantai. "Tapi ayah, Yeollie melakukan taruhan itu demi kebaikanku, demi menjaga diriku. Pokoknya ayah harus membantuku!" rajuknya.
Tuan Byun berdecak sambil geleng-geleng kepala. "Dasar anak muda, bisa-bisanya menyelesaikan masalah dengan taruhan. Baiklah ayah akan membantumu!" Baekhyun sudah ingin bersorak girang, sebelum "-tapi kau harus meminta putus darinya" sambung sang ayah.
"A-ayah? Kenapa ayah?"
Nyonya Byun yang sedang tadi duduk tak jauh dari ayah dan anak itu, mulai angkat bicara ketika melihat Baekhyun mulai berkaca-kaca. "Sayang, jika tidak mau membantu Baekhyun tidak apa, tapi jangan menyuruhnya untuk mengakhiri hubungannya dengan Chanyeol" sahut sang ibu, begitu bijak. Dan disambut anggukan setuju dari putra mungilnya.
Tuan Byun memandangi kedua orang di depannya bergantian, dan terkekeh kecil setelahnya. "Aku tidak memintanya mengakhiri hubungan mereka, hanya ingin menantang Baekhyun untuk mengucapkan kata putus pada Chanyeol. Anggap kau sedang bertaruh dengan ayah" ucap Tuan Byun sambil tersenyum jahil.
Baekhyun menepuk keningnya, tak percaya pada tindakan sang ayah. "Tapi ayaahh, bagaimana kalau Yeollie menganggapnya serius dan hubungan kami benar-benar berakhir" protesnya.
"Tenang saja, ayah akan menghubungi Tuan Park untuk menyeret putranya kemari dan menikahkan kalian saat itu juga" jawab Tuan Byun enteng.
Kedua mata Baekhyun membola dan menganga heboh. "T-tuan Park sudah mengetahui hubungan kami?" tanyanya tak percaya.
"Tentu saja. Bahkan jika saat ini kalian tidak berpacaran, kelak kami akan menikahkan kalian"
Baekhyun membisu, masih terlalu terkejut untuk mengeluarkan suaranya.
"Ayah dan Tuan Park sudah menjalin persahabatan dan relasi bisnis sejak lama. Jadi kami memutuskan untuk menyatukan hubungan kedua keluarga ini, dengan menikahkan kalian setelah lulus kuliah nanti nak"
"Ta-tapi yah, aku belum siap menikah!" tolak Baekhyun. Entah mengapa tiba-tiba ia merasa gugup membayangkan dirinya tinggal satu rumah bersama Chanyeol.
Tuan Byun menghela nafas panjang melihat sikap manja sang anak. "Chanyeol sudah menunggumu selama kurang lebih 12 tahun. Kau tidak takut ia bosan menunggumu?" tanyanya.
Baekhyun merenung, meresapi kata-kata yang dilontarkan oleh sang ayah. Benar juga, pikirnya. Selama ini begitu banyak wanita dan pria menawan yang selalu mendekati Chanyeol terang-terangan, meski kekasihnya itu telah menolak dengan tegas. Sementara dirinya yang notabene adalah kekasih Chanyeol sesungguhnya, tak jarang bersikap acuh dan ketus pada Chanyeol. Sedikit banyak, perkataan sang ayah tadi cukup mempengaruhi dirinya.
"Keputusan berada di tanganmu anakku, kau sudah besar, sudah mampu memilih mana yang terbaik untukmu" bijak sang ayah.
"Baiklah ayah...aku mengerti"
Sang ayah tersenyum bangga, kemudian bangkit dari sofa dan beranjak menuju ruang kerjanya. Namun sebelum sosoknya menghilang dari balik pintu, Tuan Byun berhenti dan menoleh pada putranya.
"Jangan lupakan tantangan dari ayah tadi!"
Dan Baekhyun hanya bisa mendengus sambil geleng-geleng kepala.
.
.
.
Tak terasa, hari berganti minggu, minggu berganti oleh bulan dan tibalah saatnya hari kelulusan. Rasanya seperti baru kemarin menjalani hari-hari sebagai mahasiswa baru, disibukkan oleh berbagai tugas dan ujian, dan bertemu sahabat-sahabat baru.
Itu juga yang dirasakan oleh Kai dan Sehun. Rasanya baru kemarin mereka masuk di jurusan yang sama dengan Chanyeol dan Baekhyun, membolos bersama, dan menjadi langganan di meja pojok kantin. Dimana tempat itu biasanya dijadikan sebagai tempat untuk membahas taruhan yang mereka lakukan.
Dari keempat lelali tersebut, hanya Sehun dan Kai yang berada di aula kelulusan ini, dengan memakai jubah khas untuk kelulusan. Tidak disangka, usaha keras keduanya selama ini mampu membawa mereka berada di tempat ini.
Berbulan-bulan sebelumnya, tiada hari yang mereka lewatkan untuk menyelesaikan skripsi masing-masing. Bahkan keduanya sepakat untuk melewati liburan, dan lebih memilih melanjutkan pengerjaan skripsi mereka. Dan lihatlah hasilnya sekarang, keduanya mampu meraih kelulusan sesuai batas waktu yang ditetapkan oleh ayah Sehun.
Bagi Kai, awalnya ia hanya memfokuskan diri untuk mencapai kelulusan secepat mungkin, sesuai perintah dari Tuan Oh. Namun seiring berjalannya waktu, fokusnya mulai sedikit bertambah. Yakni lulus dalam waktu singkat, dengan nilai indeks prestasi yang fantastis. Oleh sebab itu, di sela-sela pengerjaan skripsinya, Kai juga disibukkan dengan memperbaiki nilai-nilai mata kuliah yang cukup buruk sebelumnya, dengan mengambil semester pendek.
Dan di sinilah Kai berada.
Di depan podium, dimana hanya para mahasiswa berprestasi saja yang diberikan kesempatan untuk berbicara di depan para hadirin.
"Selamat pagi kepada seluruh hadirin yang saya hormati" mulainya dengan sedikit gugup. Namun ketika netranya bertemu dengan milik sang kekasih di depan sana, rasa gugup itu perlahan mulai menguap.
Tak banyak yang diungkapkan olehnya, hanya kesan dan pesan semasa ia menjalani masa kuliahnya dan beberapa nasihat untuk para mahasiswa yang masih berjuang dengan skripsi atau tugas-tugas kuliah. Selesai dengan itu, tibalah saatnya bagi Kai untuk mengungkapkan apa yang telah ia siapkan sejak lama, yang menjadi alasannya berdiri di panggung ini.
"Semasa kuliah, aku bukanlah seorang yang rajin atau seseorang yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Nilaiku saat itu terbilang pas-pasan bahkan banyak sekali nilai C di setiap semester yang kujalani" Kai terkekeh kecil, diikuti oleh beberapa mahasiswa yang turut hadir di aula tersebut.
"Namun terima kasih pada kekasihku di ujung sana, karena dirinya aku bersemangat untuk memperbaiki nilai-nilaiku, hingga aku mampu menjadi mahasiswa berprestasi" Kai menjeda sesaat, untuk melempar senyuman manis pada sang kekasih. "Bukan tanpa alasan, aku menggebu-gebu menjadi seorang mahasiswa berprestasi"
"Alasannya hanya satu. Agar aku bisa berdiri di sini, dan menyampaikan sesuatu di depan semua orang..."
Kai tersenyum kembali, lebih menawan dari sebelumnya.
"Menikahlah denganku Oh Sehun"
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Sehun menangis haru di depan publik.
.
.
.
"Sudahlah tidak usah iri, dua bulan lagi kelulusan kita. Salahmu selalu menggodaku ketika kita sedang mengerjakan skripsi"
Baekhyun mendengus kemudian melangkah cepat melewati sang kekasih. "Aku bukan iri karena mereka sudah lulus bodoh! Aku iri pada Sehun yang dilamar oleh Kai di depan semua orang! Romantis sekali uhh~~"
Kali ini Chanyeol yang mendengus dan menyamakan langkahnya di samping Baekhyun. "Apanya romantis? Menurutku itu justru memalukan" ucapnya asal.
"Dasar tidak peka! Aisshh kenapa aku tidak pacaran dengan Kai saja 'sih" keluh Baekhyun.
"Yasudah sana kejar dia. Toh pada akhirnya kau akan tetap menjadi milikku"
Baekhyun mengumpat kecil dan kembali melangkah cepat sambil menghentakkan kakinya. Sementara Chanyeol di belakangnya, hanya tersenyum seperti orang gila melihat tingkah menggemaskan kekasihnya itu.
"Kau membawa mobilmu? Bukankah kita akan berkencan hari ini?"
"Aku sedang ingin membawa mobilku" jawab Baekhyun sekenanya.
Chanyeol menghela nafas, berupaya menahan sabar. "Baiklah. Langsung ke bioskop saja, aku sudah membeli tiketnya" ucap Chanyeol. Keningnya berkerut dalam ketika melihat Baekhyun hanya berdiri mematung di depan mobilnya."ada apa lagi?" tanyanya.
"Tiba-tiba aku tidak ingin menonton. Kita ke game center saja ya?"
Chanyeol berdecak dan menggeleng tegas. "Tidak. Aku bosan bermain game. Kau pergi saja sendiri" kesalnya, kemudian hendak beranjak menuju motornya, sebelum jemari lentik menahan lengan kekarnya.
"Baiklah baiklah. Ayo ke bioskop, tapi kita menonton film yang lain ya?"
Sekali lagi Chanyeol menggeleng tegas. "Tidak. Aku sudah lama ingin menonton film ini" tolaknya.
"Ck baiklah! Tapi temani aku makan di restoran Jepang dulu ya?"
"Kemarin kita sudah makan di tempat itu, cari tempat lain!" tolak Chanyeol lagi.
"Yak!" Baekhyun meledak dalam emosi. Ia mendongak dan menatap tajam Chanyeol. "Kenapa kau selalu menolak keinginanku hah?!" hardiknya.
Chanyeol hanya menyeringai tampan dengan kedua tangan terlipat di depan dada. "Kau sendiri bagaimana? Aku lelah mengalah padamu terus pendek!" cela Chanyeol sambil memandang Baekhyun dengan tatapan meremehkan.
Baekhyun membelalak lebar. "Kau bilang apa tadi?"
"Kau tuli? Aku bilang p-e-n-d-e-k. Itulah mengapa kau tidak suka pergi naik motor denganku, karena kakimu yang pendek itu kesulitan untuk menaiki motorku 'kan? Ckckck" ejek Chanyeol.
"Kau yang kelebihan kalsium! Mengendarai mobil itu lebih keren bodoh!"
Chanyeol mengapit dagunya sambil memicingkan matanya pada Baekhyun. "Aku penasaran. Apakah kaki pendekmu ini sampai di pedal gas? Ah...atau jangan-jangan kau memakai bantalan tambahan di kursimu?"
Bagaikan api disiram bensin, seperti itu pula amarah yang membakar habis diri Baekhyun. Wajahnya merah padam, begitu emosi mendengarkan hinaan Chanyeol yang tak ada habisnya. Kedua tangannya terkepal erat dengan gigi yang saling bergemurutuk, menahan diri untuk meladeni lelaki itu. Karena ia tahu, membalas ejekan Chanyeol hanya memperparah emosinya saja.
Baekhyun maju selangkah dan mengangkat dagunya angkuh. "Kau meremehkanku Park? Bagaimana kalau kita bertaruh saja? Yang kalah harus menuruti segala permintaan yang menang"
"Dengan senang hati. Apa permainannya?"
"Siapa yang paling cepat sampai di rumahku, maka dialah pemenangnya. Deal?"
Chanyeol menjulurkan tangannya ke depan. "Deal!"
Keduanya saling melempar seringai angkuh, sebelum beranjak menuju kendaraan masing-masing. Chanyeol dengan motor Harleynya, sementara Baekhyun dengan mobil Audinya. Selesai memakai jaket kulit cokelat dan helm di kepalanya, Chanyeol mengetuk kaca mobil Baekhyun di sebelahnya.
"Kau boleh mulai duluan sayangku" goda Chanyeol, yang dibalas dengan kepulan asap dari sang kekasih, karena si mungil itu melaju tidak lama setelah Chanyeol selesai berucap.
Bukannya marah akan perlakuan Baekhyun, Chanyeol justru terkekeh kecil melihatnya. Kemudian ia tutup kaca helmnya, dan mulai menarik gas motornya maksimal.
...
Saat itu, Baekhyun sudah bersorak penuh kemenangan di dalam mobilnya. Alasannya karena Baekhyun mengetahui jalan pintas tercepat untuk sampai ke rumahnya. Dan benar saja dugaannya, ketika ia sampai di pagar rumahnya, tidak ada tanda-tanda kehadiran Chanyeol.
Dengan langkah penuh percaya diri, Baekhyun turun dari mobilnya. Berbagai ide untuk mengerjai Chanyeol, mulai tercetus di benaknya seiring langkahnya mendekati pintu masuk. Namun naas...ketika ia membuka pintunya-
"Hai sayang"
-wajah tampan Chanyeol menyambut dirinya.
"Kenapa? Kau pikir aku tidak tahu jalan pintas itu? Jangan lupakan rumah kita satu kompleks Byun" ucap Chanyeol sambil mencubit pelan hidung sang kekasih.
Sementara Baekhyun sendiri mengumpati dirinya dalam hati karena telah melupakan fakta itu. Dan ia juga mulai menyesali ajakan taruhannya, ketika melihat Chanyeol melangkah mendekat dengan senyuman yang biasanya ditampilkan oleh lelaki itu di ranjang.
"Kemarikan tanganmu" perintah Chanyeol.
"M-mau apa kau?" tanya Baekhyun gelagapan.
Chanyeol berdecak malas, kemudian segera menarik tangan kiri Baekhyun, tak peduli bocah itu meneriaki dan memukulinya secara barbar.
Sampai akhirnya Chanyeol mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Lalu menyematkan barang itu di jemari manisnya.
Saat itulah Baekhyun membisu.
"Aku pemenangnya, jadi kau harus menikah denganku"
Flashback End
.
.
"Sayang?"
Sapaan lembut dari sang terkasih menyadarkan Chanyeol dari lamunannya. Ia menoleh ke arah sosok cantik yang duduk di sebelahnya, dan memberikan senyuman tipis. Ia masih marah omong-omong.
"Teringat masa lalu, hmm?"
"Tidak" jawab Chanyeol singkat.
Sosok di sebelahnya menghela nafas melihat suaminya yang masih setia merajuk padanya. "Hey..kau masih marah padaku?" , melihat Chanyeol tetap membisu, ia menghela nafas kembali. "Itu hanya ucapan selamat tinggal saja Chanyeol. Aku bahkan tidak pernah bertemu dengannya lagi hingga acara pernikahan tadi pagi" jelasnya.
"Hanya? Kau bilang hanya? Ada kata-kata cinta di ucapan itu Baekhyun!"
Baekhyun memutar matanya, masih mencoba sabar. "Demi Tuhan, Yeri sudah menikah dan sudah resmi menjadi milik sahabatmu Yeol. Kau 'kan lihat sendiri tadi?" ucapnya.
Sudah bertahun-tahun terlewati, namun Chanyeol masih dibayang-bayangi kekhawatirannya akan Yeri. Padahal gadis itu tidak pernah lagi kembali ke Korea, tidak juga menemui Baekhyun ketika lelaki itu sedang melakukan dinas keluar negeri.
Lalu setelah sekian tahun lamanya, Chanyeol dan Baekhyun bertemu lagi dengan Yeri, ketika gadis itu datang ke rumah mereka membawa sebuah undangan pernikahan. Yeri tidak sendiri, ada calon suaminya yang menemaninya. Si informan yang dulu dipekerjakan olehnya, yang entah bagaimana caranya menjadi sahabat Chanyeol.
Dan ketika Yeri beserta calon suaminya hendak pamit pulang, gadis itu menyempatkan diri memberikan sebuah bingkisan untuk Baekhyun. Sebuah dasi, dengan kartu ucapan di dalamnya, berisikan ucapan cinta yang beberapa hari ini membuat Chanyeol merajuk pada Baekhyun.
"Baiklah, kau mau aku bagaimana Chanyeol?" Baekhyun mulai lelah. Hingga tak menyadari seringai licik di bibir suaminya.
"Cium"
Baekhyun mendengus malas melihat Chanyeol mengerucutkan bibirnya. Namun ia tetap memajukan wajahnya, meraih bibir tebal suami kesayangannya. Sedang Chanyeol, bersorak kemenangan dalam hati. Sudah sekian tahun lamanya sejak mereka berucap janji di altar, saling berbagi perasaan hingga berbagi sperma. Namun rasanya tidak pernah ada kata bosan dalam kamus Chanyeol, apabila itu tentang Baekhyun.
Tanpa memperhatikan dimana keberadaan mereka saat ini, posisi keduanya semakin intim, dimana Baekhyun duduk di atas pangkuan Chanyeol. Baekhyun menarikan lidahnya menggelitik di bibir Chanyeol, mengajak sang lawan untuk turut mengeluarkan lidahnya. Dengan senang hati Chanyeol menjulurkan lidahnya, saling memagut dengan lidah yang saling bertemu dan mulut keduanya yang menganga lebar. Tak mempedulikan saliva yang mulai mengalir melewati dagu masing-masing.
"Unghh"
Baekhyun melenguh, kala bibir dan lidah Chanyeol menyesap dan mengikuti sisa saliva yang mengalir di dagu dan lehernya. Bibir penuh dosa itu berhenti di perpotongan lehernya, memberikan tanda cinta di atas bercak kemerahan yang nampak sudah pudar.
"Ahh!"
Baekhyun melonjak kala Chanyeol menggigit putingnya yang masih terbalut pakaian. Ia tatap suaminya dengan tatapan sayu sambil menggigit bibir bawahnya menggoda. Chanyeol tersenyum angkuh sesaat, sebelum memagut kembali bibir Baekhyun lebih dalam. Sementara tangannya mulai menggulung piyama Baekhyun ke atas. Ketika Chanyeol sedang menarik turun celana Baekhyun-
"Lakukan itu di kamar! Jangan lupa ada anak kecil di rumah ini bodoh!"
-sepupu Chanyeol yang sudah seperti kakak kandungnya sendiri, datang menginterupsi kemesraan mereka berdua.
Baekhyun merona malu dan segera memakai kembali bajunya, kemudian turun dari pangkuan Chanyeol. Sementara yang lebih tinggi, memutar mata dan mendengus kesal pada wanita yang sedang berdiri sambil bersedekap di dekat tv.
"Kau harus cepat-cepat cari pasangan noona, berhenti mengganggu kami" kesal Chanyeol.
"Tidak. Aku akan terus mengawasi kalian berdua. Kalau aku memergoki kalian seperti ini lagi, aku tidak akan segan-segan membawa Soyeon kembali ke panti" ancam wanita yang bernama Sunbin ini.
Sunbin adalah salah satu sepupu wanita yang usianya tidak terlalu jauh dengan Chanyeol. Karena perbedaan usia yang dekat inilah, membuat keduanya sudah seperti kakak adik. Sunbin terlibat aktif dalam program-program pengabidan, dan saat ini memiliki beberapa panti di Korea.
Saat itu, Chanyeol dan Baekhyun diundang olehnya dalam rangka peresmian panti asuhan yang baru di bukanya di daerah Busan. Kedua lelaki itu memang menyukai anak kecil dan biasa bermain dengan mereka setiap mengunjungi panti-panti milik Sunbin.
Namun seorang gadis kecil dengan bola mata sipit persis seperti Baekhyun, hidung mancung dan lesung pipi seperti Chanyeol, mencuri perhatian keduanya. Ditambah lagi sifatnya yang sopan, penurut dan ceria, membuat Chanyeol dan Baekhyun tidak pikir dua kali untuk mengadopsinya dan membawanya pulang ke rumah.
"Daddy! Mommy! Eomma!"
Dan inilah si gadis kecil yang mencuri hati Chanyeol dan Baekhyun. Melangkah dengan senyuman manis seperti milik Baekhyun, menyapa ketiga orang dewasa ini penuh ceria.
"Eomma juga disini?" tanya Soyeon pada Sunbin. Wanita itu memang membiasakan anak-anak asuhnya untuk memanggilnya dengan sebutan eomma.
"Tentu saja. Eomma kemari untuk mengajakmu ke taman bermain!"
Bukan. Bukan Sunbin yang menjawab, melainkan Chanyeol yang sedang tersenyum licik.
Mata puppy Soyeon membola berbinar. "Wah asyiikk! Ayo eomma aku sudah siap kok! Ppali!"
Sunbin hanya bisa menghela nafas dan mau tidak mau mengikuti Soyeon keluar dari rumah. Mana tega ia menolak permintaan gadis manis tersebut.
Setelah suasana mulai lengang kembali, atensi Chanyeol beralih pada suami mungilnya. Ia ambil tangan lentik Baekhyun, mengecupnya penuh kelembutan.
"Mau lanjutkan yang tadi?" goda Chanyeol sambil mengedipkan mata. Namun ia mengernyit, kala mendapati Baekhyun terfokus pada sesuatu di belakangnya. Sebuah figura poto, yang menampilkan Chanyeol sedang berpose di atas motornya.
"Kenapa hmm?"
Baekhyun tersenyum kecil. "Sudah lama aku tidak melihatmu membawa motor itu Yeol"
"Ya sudah lama. Semenjak ada kau yang bisa 'kutunggangi' "
Baekhyun memutar matanya, dan memukul pelan bahu sang suami. "Aku serius Yeol. Kapan-kapan aku ingin melihatmu menaiki motor itu lagi!" pinta Baekhyun sambil mengerucutkan bibirnya. Membuat Chanyeol tak tahan untuk menguraikan bibir itu dengan bibirnya sendiri.
"Iya sayang" jawab Chanyeol setelah melepas bibir keduanya. "Huh! Dulu saja kau sering menghina motorku"
"Memang motormu itu menyebalkan, terlalu besar dan lelet sekali"
"Hey bahkan kecepatan motorku mampu menyaingi mobil kebangganmu itu. Dan jangan salahkan ukuran motorku, tapi salahkan ukuran tubuhmu yang begitu minimalis hingga kau kesulitan menaiki motorku" ucap Chanyeol.
Sedetik kemudian Chanyeol baru menyadari kesalahan pada ucapannya, ketika melihat wajah Baekhyun yang sudah berubah merah padam. Tanda bahwa lelaki mungil itu sedang dilanda emosi. Dengan seringai mematikan Baekhyun mendekati wajah Chanyeol.
"Kau mau menantangku lagi hmm?"
"Kenapa tidak?"
Chanyeol pun mendekatkan wajahnya sambil tersenyum angkuh.
"Yakin? Karena jika aku menang...tidak ada kehangatan ranjang untukmu Yeol"
Chanyeol mengangkat kedua bahunya, nampak tidak gentar akan ancaman suami mungilnya. "Tidak masalah. Karena aku juga akan meminta sesuatu padamu jika aku menang nanti"
"Apa itu?"
Chanyeol mengecup lembut bibir Baekhyun, sebelum memandangnya dengan tatapan penuh cinta.
"Live with me for another thousand years.."
.
.
END
...
END yah END pake capslock biar jelas.
Tadinya mau post chap ini seminggu lagi, tapi setelah membaca kolom review beserta kritikan pedas sepedas bon cabe di chat line, akhirnya aku putusan untuk up hari ini.
Jadi ini penjelasannya:
1. Adakah tulisan END di chap kemarin? Aku hanya nulis thanks for reading, dan biasanya juga nulis begitu. Chap kemarin hanya end of sekuel yang judulnya 'Your Ex', bukan end of this story.
2. Di akhir chap kemarin Soyeon manggil chanyeol daddy, manggil wanita yang satunya eomma. Tidakkah kalian merasa janggal antara daddy dengan eomma?
3. Padahal di note kemarin aku udah nulis : "see you on? Hahahaha"
4. Ya sudah mungkin memang aku yang salah karena sok mau ngetease kalian, walaupun banyak juga kulihat yang paham kalo cerita yg kemarin bukan final chap. Hanya saja tolong jangan ngegas yah, cukup di ff Battle aja yang ngegas.
Well, akhirnya ff ini bener-bener berakhir. Karena dari awal aku udah bilang ini ff ringan maka kuakhiri juga dengan cerita ringan.
Last, sampai bertemu di FF ku yang lain :)
