Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya pesanan lelaki itu dihidangkan dimejanya. Matanya yang bulat mulai menatap kue tteok itu dalam-dalam tanpa berkedip. 5 detik, 6 detik, 7 detik, lelaki mungil itu masih tetap menatap kue tteok itu. Mengapa ia tidak kunjung memakannya ? Bukankah tadi matanya berbinar ketika kue tteok dihidangkan dimeja sebelahnya ? Tapi mengapa sekarang lelaki itu malah diam menatap kue tteok yang masih mengeluarkan asap panas diatasnya ? Bahkan sekarang matanya mulai menatap sayu ke arah kue tteok itu. Menatapnya dengan tatapan yang menyedihkan. Lalu didetik berikutnya, tes-tes-tes. Air mata mulai mengalir dari matanya lalu turun ke kedua belah pipinya, membuat suatu aliran disana. Aku benar-benar bingung dengan lelaki ini. Beberapa saat yang lalu dia sangat bersemangat, tetapi didetik berikutnya tiba-tiba lelaki ini menangis. Benar-benar seperti lelaki yang baru mengalami masa pubertas. Memiliki emosi yang naik-turun tanpa ketentuan apapun. "Eomma. Eomma." Lelaki itu menangis sambil memanggil Eomma-nya ? Apa terjadi sesuatu dengan Eomma-nya ? Tangannya mulai bergerak mendekati piring yang berisi kue tteok dalam porsi besar. Tangannya mengambil satu kue tteok lalu mendekatkannya ke depan mulut mungilnya. Perlahan dia membuka mulutnya. Dan akhirnya kue tteok itu sudah berada didalam mulutnya. Lelaki itu mulai mengunyah dan mengunyah. Tapi bukan berarti air matanya terhenti saat ia makan kue tteok itu. Air matanya masih mengalir deras di pipinya seiring kunyahan pada kue tteok itu. Sebenarnya apa yang terjadi ? Mengapa aku masih belum mengerti kejadian ini ? Aku yang terlalu bodoh untuk memahami kejadian ini atau kejadian ini yang terlalu rumit untuk dipahami ? Entahlah. Tapi masih ada perkataan yang tertanam dipikiranku 'Tidak salah lagi. Lelaki itu memang lelaki gila yang aneh.'
"Ahjusshi. Tolong bungkus sisa kue tteok ini." Lelaki itu berteriak -dengan suara khas orang habis menangis- setelah menghabiskan waktu sekitar satu jam penuh untuk menangis sambil mengunyah kue tteok dimulutnya. Tapi mungkin waktu satu jam tidak akan cukup untuk menghabiskan kue tteok dalam porsi besar sendirian sambil menangis. "Baiklah." Ahjusshi pemilik tempat makan itu segera menyuruh asistennya untuk membungkuskan sisa kue tteok lelaki itu dan segera menyerahkannya. Lalu lelaki itu langsung membayar seharga kue tteok tersebut. Setelah melakukan semua itu, dia segera berjalan keluar dari tenda tempat makan itu. Di tengah malam yang dingin seperti ini masih banyak orang yang berlalu-lalang. Termasuk di tempat makan tadi, disana juga masih banyak pelanggan yang membutuhkan asupan hangat untuk mengisi perut mereka yang sudah berbunyi-bunyi. Dan saat keluar dari tenda tempat makan tersebut, aku bisa melihat masih banyak pasangan yang berjalan sambil bergandengan tangan yang entah sedang membicarakan apa ditengah dinginnya malam ini.
Dengan mata yang masih sembab, lelaki itu mulai menajamkan penglihatannya. Jari telunjuknya tangan kanannya terus berputar kekiri dan kekanan. Tidakkah lelaki itu ingin pulang ? Sepertinya lelaki itu belum memutuskan ingin kemana setelah ini. Sambil berpikir, lelaki itu membuka tas gendongnya lalu memasukkan bungkusan kue tteok disana. Setelahnya lelaki itu menutup kembali tas gendongnya dan segera ia kenakan dipunggungnya. Kakinya mengetuk-ngetuk aspal seperti membuat alunan lagu dan dia langsung berjalan ke arah kanan.
