Chapter 2

Sudah tiga bulan sejak Kagura Koma akibat kecelakaan yang menimpanya. Selama itu pula Sougo terus berada di sisi gadis vermilion itu, berharap gadis itu akan segera membuka matanya. Sougo terus menunggu dengan penyesalan dan pikiran bahwa dialah yang membuat Kagura jadi seperti ini.

ooOoo

Kokoro Nokori

Disclaimer : Gintama By Sorachi Hideaki a.k.a Gorilla-Sensei. Story By Me

Warning : OOC, Kerajaan Versi Modern, AU, Rated T, and for the last Typo mungkin bertebaran. DLDR. OKIKAGU Slight OKINOBU, HIJIMITSU, SAKATSUU, KOUKANOC, OC: Imai Yuuka. Gintoki dan Tsukuyo ganti marga menjadi Okita.

ooOoo

Kreek..

Terdengar suara bunyi pintu terbuka. Sougo yang semula masih tetap menenggelamkan wajahnya di tangan Kagura yang terasa dingin baginya menolehkan kepala kesumber suara. Dari balik pintu tersebut munculah Umibozu dan diikuti Tsukuyo di belakangnya.

"Haha-Ue!" Sougo nampak kaget ketika melihat ibunya, Okita Tsukuyo, masuk ke dalam Ruang tersebut.

"Bagaimana Kondisi Kagura-chan sekarang, Sou-kun?" tanya Tsukuyo yang hanya di balas dengan gelengan kepala dari Sougo.

Kedua orang yang baru datang tersebut nampak kecewa. Tidak ada perkembangan berarti dari Kagura. Kondisinya tetap sama seperti 3 bulan yang lalu. Umibozu menghembuskan napas pelan kemudian, berjalan mendekati Sougo dan menepuk pundaknya pelan.

"Sougo-Ouji, terima kasih karena telah menemani Kagura selama ini. Sebaiknya sekarang Ouji-Sama pulang dan beristirahat sebentar," kata Umibozu.

Sougo menggelengkan kepalanya, "Biarkan aku tetap disini menemani Kagura, Kankou Ji-Sama," balas Sougo seraya kembali menggenggam tangan Kagura.

"Pulanglah dulu, Sou-kun. Kamu sudah berada dari sini sejak semalam bukan? Beristirahatlah dahulu, biar Haha-Ue dan Kankou Ji-San yang menjaga Kagura," titah Tsukuyo.

"Demo, Haha-Ue..,"

"pulanglah dulu, Sou-kun. Lihatlah penampilanmu yang sudah berantakan itu. Kagura pasti akan sedih ketika melihatmu seperti sekarang." potong Tsukuyo. Mendengar perintah dari ibunya itu, membuat Sougo mau tak mau beranjak pulang ke rumahnya.

"Baiklah, Haha-Ue." jawab Sougo menyerah. "Saya pamit dulu Kankou Ji-Sama, Haha-Ue." pamit Sougo seraya membungkukan badannya. Sebelum Sougo meninggalkan ruangan tersebut, Sougo sempat mencium kening Kagura singkat.

"Aku pulang dulu, cepat bangun." pamit Sougo yang dia tau pasti Kagura tak dapat mendengarnya.

Sougo membungkuk singkat sekali lagi kepada kedua orang tua tersebut lalu, keluar dari ruang rawat inap Kagura. Umibozu yang melihat sikap Sougo hanya bisa tersenyum kecil walaupun, dia ingin sekali menjitak kepala Sougo yang telah berani mencium kening anaknya tepat di depan matanya.

"Anakmu itu nampaknya sangat mencintai anakku, nee.. Tsukuyo Joo-Heika?" kata umibozu.

"Tidak usah terlalu formal begitu umibozu, kita sedang berada di luar Istana sekarang," balas Tsukuyo sambil membelai lembut surai vermilion Kagura.

"dan tentu saja dia mencintai anakmu. Karena, anakku itu calon suami Kagura," sambung Tsukuyo sambil menatap lembut wajah Kagura, "cepatlah bangun Kagura," lanjutnya lagi.

Umibozu hanya terkekeh pelan mendengar jawaban Tsukuyo, "ya, dia memang calon menantuku."

.

.

.

Tepat pukul 1 sian,g Sougo tiba di rumahnya, Istana Edo. Sedikit informasi, Sougo adalah pangeran dari kerajaan Edo. Dia merupakan putra bungsu dari pasangan, Okita Gintoki, sang Raja Edo saat ini dan Okita Tsukuyo. Sementara kakaknya, Okita Mitsuba, sudah menikah dengan seorang pria bangsawan dari wilayah Shinsengumi, Hijikata Toshiro. Walaupun, demikian mereka tetap tinggal di Kerajaan Edo karena, sang ayah masih tidak mau menjauh dari putrinya itu.

Setelah memarkirkan mobilnya dengan rapi di Garasi, Sougo segera menuju ke kamarnya. setelah sebelumnya, dia menghampiri Sang Ayah diruang kerjanya dan mengabarkan kondisi Kagura yang tidak ada perubahan sampai saat ini. Sougo dapat menangkap raut sedih ayahnya ketika dia mengatakan bahwa tak ada perkembangan berarti dari kondisi Kagura. Sougo sedikit mengerti kenapa ayahnya sangat menyayangi gadis ketururan Yato tersebut. Karena, baik bagi dirinya maupun keluarganya, keberadaan Kagura sangatlah penting bagi mereka.

.

.

.

Setelah menyelesaikan mandinya, Sougo segera merebahkan dirinya ke tempat tidur, dan menerawang kearah langit-langit kamarnya. Pikirannya jauh melayang kembali mengingat detik-detik kejadian yang membuat kondisi Kagura jadi seperti sekarang.

ooOoo

FLASHBACK:

Cuaca yang sangat terik di wilayah Kabuchiko, salah satu wilayah yang cukup luas di Edo. Tempat dimana yang menjadi penguasanya adalah keluarga Kagura dan tempat dimana, Kagura serta Sougo, sekolah dan kuliah. Ya saat ini gadis vermilion itu tengah berada di tahap akhir masa SMA-nya. Sedangkan Sougo sendiri, kini tengah memasuki akhir semester 4 di bangku kuliah Ilmu Pemerintahan, di EU atau Edo University.

Saat itu, Sougo tengah memutuskan untuk mengunjungi sebuah toko buku di distrik Yoshiwara, distrik yang dekat dengan SMA Kagura, untuk membeli beberapa buku tambahan kuliahnya serta berniat menjemput gadis yang statusnya sekarang adalah tunangannya itu.

Ketika Sougo sampai di toko buku "MADAO", atensinya menangkap siluet gadis berambut biru gelap sepinggang dengan manik crimson yang hampir sama dengannya, tengah berada di ujung toko tersebut. Imai Nobume atau sekarang adalah Yato Nobume, nama gadis yang Sougo lihat di pojok toko tersebut. Gadis itu merupakan kakak tiri dari Kagura. Ntah apa dan bagaimana ceritanya sehingga gadis dengan muka datar itu menjadi bagian dari keluarga Yato, yang jelas Sougo kurang tau.

Sougo memutuskan untuk menyapa gadis itu. Walaupun, hubungan Nobume dan Kagura nampak sangat kurang bersahabat tetapi, beda cerita dengan Sougo. Sougo dan Nobume bersahabat baik. atau lebih tepatnya, Sougo yang menganggap Nobume adalah sahabatnya sedangkan, Nobume selalu berharap lebih ke Sougo.

Setelah selesai membeli apa yang mereka butuhkan, Nobume dan Sougo keluar dari toko tersebut bersama. Pemuda bersurai pasir itu kemudian ikut mengantar Nobume sampai ke halte bis terdekat karena, jarak kediaman Yato dan daerah tersebut cukup jauh. Setelah sampai di Halte tanpa sengaja kaki Nobume tersandung yang menyebabkan dia terjatuh tepat menabrak tubuh Sougo. Beruntungnya pemuda bersurai pasir tersebut tidak ikut terjatuh dan dengan reflek menangkap kedua bahu Nobume.

Pemandangan klise seperti yang ada di manga shoujo memang. Tapi hal itu tetap membuat cewek bersurai vermilion yang baru tiba di tempat kejadian juga menatap kaget sekaligus kesal.

"APA YANG KAMU LAKUKAN SOUGO-NII!" ucap cewek itu atau lebih tepatnya Kagura dibelakang tubuh Sougo.

Sougo yang mendengar suara Kagura reflek melepaskan tangannya dan segera berbalik menatap suara tersebut.

"Kagura! Sejak ka-,"

"APA YANG KAU LAKUKAN DENGAN TUNANGANKU DASAR ANAK PERUSAK RUMAH TANGGA ORANG!?" teriak kagura penuh emosi memotong perkataan Sougo dan menghampiri Nobume seraya mendorong tubuh gadis itu.

"kagura tenanglah!" Sougo mencoba menjauhkan tubuh Kagura dari Nobume.

"Tenang?" ucap kagura dengan suara berat, "BAGAIMANA AKU BISA TENANG KETIKA MELIHAT KAU," tunjuk kagura ke Sougo, "TUNANGANKU, TENGAH MEMELUK SEORANG PEREMPUAN LAIN DI TEMPAT UMUM, APALAGI ORANG ITU ADALAH ANAK SIALAN PERUSAK KEHIDUPAN ORANG!" sungguh apapun yang berhubungan dengan gadis bersurai biru itu selalu membuat kagura emosi. Kedatangan gadis itu beserta ibunya yang sekarang menjadi ibu tiri Kagura, sungguh membuat emosi Kagura tak terkontrol.

"DENGARKAN AKU KAGURA!" kini Sougo ikut berteriak. Sougo tau jika, menghadapi Kagura yang sekaranng memang harus mengeluarkan tenaga yang lebih agar gadis itu mau mendengarkannya. Kagura terdiam ketika Sougo membentaknya.

"Semua ini salah paham, aku hanya menangkap Nobume yang secara tidak sengaja hampir terjatuh tadi." jelas Sougo.

"Ho-oh, lalu, kenapa Nii-Sama bisa bersama dengan perempuan itu? Ingin mengatakan bertemu secara tidak sengaja? Basi!" sergah Kagura emosi. Sementara, Nobume hanya diam saja. Dia tak tau harus berkata apa untuk sekedar membenarkan apa yang dikatakan Sougo dan Kagura adalah benar.

"DENGAR KAU ANAK PEREMPUAN SIALAN, MENJAUHLAH DARI TU-NA-NG-AN-KU!" hardik kagura dengan penekanan kata "tunangan" di akhir kalimatnya. Beberapa warga yang melintas menyempatkan diri untuk melihat kejadian langka bak Opera Sabun gratis di pinggir jalan.

"HENTIKAN KAGURA!" bentak Sougo ikut emosi, "BERHENTILAH MENGATAKAN HAL ITU KEPADA NOBUME! APA MASALAHMU? KENAPA KAU SELALU SAJA MENYEBUTKAN 'ANAK PEREMPUAN SIAL' ATAU APALAH ITU KEPADA NOBUME! DIA SAUDARAMU!" hardik Sougo panjang lebar. Sungguh Sougo tidak mengerti permasalahan mereka sehingga membuat gadisnya itu begitu membenci gadis di depannya saat ini.

"saudara? Aku tidak memiliki saudara perempuan manapun! saudaraku hanyalah Kamui si Baka-aniki itu saja! Aku tak mau mengakui kau," Kagura menunjuk wajah Nobume, "sebagai saudaraku!" tandasnya.

suasana mendadak tegang. hampir saja, semua orang yang ada disana trus berkumpul. Seandainya saja, Sougo tidak mengeluarkan tatapan bahaya dengan aura mengancam yang jika di terjemahkan maka akan berbunyi 'apa yang kalian lihat bodoh! cepat pergi dan anggap semua tidak terjadi atau aku akan menembakan bazooka kemuka kalian!'. berkat tatapan mengintimidasi itu, semua warga yang ada disana langsung membubarkan diri. Takut dihukum mati oleh sang pangeran muda.

"Sougo Nii-sama, apakah kau benar menganggapku sebagai tunanganmu? Apakah kau benar-benar mencintaiku?" rancau Kagura. Kondisi emosinya saat ini benar-benar tak bisa di kendalikan. Bagaimana tidak, pemuda yang dia cintai tengah berpelukan di depan sebuah halte bis dan tepat didepan matanya, dan lagi perempuan yang di peluk oleh tunanganmu sendiri adalah anak dari wanita yang merusak kebahagianmu. Apa yang akan kau rasakan? Kesal dan marah, tentu pasti.

"Apa yang kau katakan Kagura?" jawab Sougo tak mengerti.

"tou-sama, baka aniki, bahkan kau, Sougo Nii-Sama, selalu saja membela Nobume, Nobume dan Nobume," guman kagura namun, masih dapat di dengar baik oleh Sougo, "JIKA KAU MEMANG MENYUKAI NOBUME MAKA PUTUSKAN SAJA AKU!"

Plakk

bunyi tamparan keras mendarat dengan mulus tepat di pipi kiri kagura. Gadis itu mebelalakan matanya terkejut, begitu juga dengan Nobume dan orang disekitar mereka yang sedikit curi-curi pandang dengan kejadian tersebut. Sougo sendiri menatap tangan kanannya tak percaya, pikirannya kacau. Dia benar-benar reflek melakukannya tadi. 'BODOH!' batinnya kepada diri sendiri.

"Kagura, maaf, aku..," ucap Sougo setelah sadar akan perbuatannya namun, kata-katanya terhenti ketika Kagura menyilangkan kedua tangannya pertanda dia tak ingin mendengar apapun.

Mengambil beberapa langkah mundur dari hadapan Sougo, Kagura berkata seraya menahan air mata yang mau terjun bebas dari sarangnya, "Moo ii, aku tak ingin mendengar apapun." ucap kagura dengan suara berat seraya berlari meninggalkan mereka berdua.

"KAGURA MATTE!" ucap Sougo namun, langkahnya terhenti ketika melihat Nobume yang masih pada posisi terduduknya seraya menangis. Sougo membantu Nobume untuk berdiri seraya merapikan beberapa bukunya yang terjatuh tadi.

'setelah ini aku akan mengejar Kagura' batin Sougo. Setelah membantu Nobume berdiri, Sougo hendak berpamitan kepada Nobume untuk menyusul Kagura. Akan tetapi, hal itu terhenti ketika banyak warga disana yang berlarian kesisi jalan satunya sambil berteriak, "ada perempuan tertabrak mobil!" seru salah satu warga.

DEG

Detak jantung Sougo absen satu ketukan. Pikiran mendadak kacau dan suasana hatinya mendadak panik. Dengan segera Sougo dan Nobume ikut berlari untuk melihat kejadian tersebut.

-0-

Buku nobume terjatuh, kedua tangannya menutup mulutnya seraya menatap tak percaya dengan hal yang ada di depannya sekarang Dan begitupun, Sougo. Mata merahnya menatap nyalang ketika melihat surai vermilion panjang yang sangat ia kenal, telah bercampur dengan cairan pekat berwarna merah di tengah jalan tersebut.

"KAGURA!" teriaknya panik dan dengan segera berlari menerobos orang-orang di sana kemudian, memeluk tubuh Kagura yang terkapar di tengah jalan.

"KAGURA..KAGURA..," ucapnya seraya menepuk pelan kedua pipi gadis tersebut berharap gadis tersebut kembali sadar.

"APA YANG KALIAN TONTON BODOH! CEPAT HUBUNGIN AMBULAN!" teriak Sougo penuh emosi.

"Ambulannya sedang dalam berjalanan kemari, Okita-Ouji," jawab salah satu warga pemilik kedai makanan dan sake, 'Otose' tersebut.

"KAGURA.. KU MOHON BERTAHANLAH!" seru Sougo seraya menepuk pelan pipi Kagura. Nobume yang sadar dari keterkejutannya segera mengubungi orang tua mereka dan Kamui, kakak mereka.

"Ma..mi..," ucap Kagura dengan suara lemahnya seraya mencoba membuka kedua matanya.

"Sougo Nii-Sama..," ucapnya lagi ketika mata biru cerah itu terbuka sebagian "gomenne..," sambungnya seraya mencoba menggapai pipi Sougo namun, sebelum tangan itu sampai kesadaran Kagura kembali hilang. Melihat tangan Kagura yang jatuh lunglai dan matanya yang kembali tertutup, dengan cepat sougo meraih tangan tersebut dan meletakkannya di pipinya

"Ku mohon bertahanlah Kagura," lirihnya dan bersamaan dengan itu mobil Ambulan tiba, membawa tubuh Kagura dengan Sougo yang mendampinginya ke Rumah Sakit. Sementara, Nobume baru menyusul ketika mobil ayah mereka sampai disana.

FLASHBACK END

ooOoo

Sougo memijit pelipisnya yang berdenyut sakit setiap kali mengingat kejadian tersebut. Perasaan bersalah kembali muncul kepermukaan. Seandainya, hari itu dia bisa lebih bersabar seandainya, hari itu dia tidak ikut termakan emosi. Pasti saat ini, Kagura akan tetap tersenyum bersamanya.

"Andai hari itu aku langsung mengejarnya," lirih Sougo yang kemudian terlelap menuju alam bawah sadarnya.

t.b.c

Terima kasih buat para pembaca yang telah mau meluangkan waktu untuk membaca fic ini.

Ini merupakan fic pertama author di dunia FFN. Maaf kalau ceritanya rada aneh dan disini karakter mereka semua OOC.

Author lagi galau dan butuh asupan OKIKAGU moments, walaupun sayangnya Sougo tidak muncul di gintama season ini.

Yup terima kasih yang spesial buat firufiru-san yang sudah mau mereview cerita author

Di tunggu review lainnya Minna.. Yoroshiku ^^