Drapp..Drapp..Drapp..Brakk.

Bunyi langkah kaki beradu dengan lantai menggema di lorong Rumah Sakit itu dan diakhiri dengan bunyi pintu dibuka (baca: dobrak) paksa oleh seorang pemuda berhelaian pasir, manik crimsonnya bergerak gelisah ketika melihat orang yang tadi menelponnya tengah duduk di sofa ruang rawat Kagura. Sougo langsung menghampiri pemuda bersurai vermelion itu dengan langkah tergesa, diikuti anggota keluarganya di belakang.

"Apa yang terjadi Kamui-Nii? Ada apa dengan Kagura?" cerocos Sougo dengan napas tersegal. Nampak raut wajahnya panik. Begitu pula 4 orang yang mengikutinya di belakang tadi.

"Tenanglah bocah, Kagura baru istirahat kembali, dokter baru saja memberikan obat penenang kepadanya," jawab Kamui dengan pandangan sendu ke adiknya. Di dalam ruang tersebut nampak Kankou yang tengah menggenggam tangan putrinya lembut, serta yuuka dan Nobume yang tengah duduk di sebelah Kamui.

"Eh?" kelima orang yang baru datang itu nampak tak mengerti.

"Apakah Kagura sudah sadar?," kini Gintoki yang bertanya, seraya berjalan ke arah Kankou diikuti Tsukuyo. Toshiro dan Mitsuba juga ikut duduk berhadapan dengan Kamui, sementara Sougo tetap pada tempatnya.

"Tadi dia sempat siuman Ji-San," jawab Kamui.

"Yokatta," jawab mereka berlima merasa lega.

"Tapi..," Kamui menggantungkan kalimatnya. Keempat orang yang sejak awal berada disana semakin menunduk.

"Tapi kenapa, Kamui-Nii?" tanya Sougo tak sabaran.

Menghela napas berat sejenak kemudian, Kamui menceritakan kondisi Kagura tadi.

ooOoo

Kokoro Nokori

Disclaimer : Gintama By Sorachi Hideaki a.k.a Gorilla-Sensei. Story By Me

Warning : OOC, Kerajaan Versi Modern, AU, Rated T, and for the last Typo mungkin bertebaran. DLDR. OKIKAGU Slight OKINOBU, HIJIMITSU, SAKATSUU, KOUKANOC, OC: Imai Yuuka. Gintoki dan Tsukuyo ganti marga menjadi Okita.

ooOoo

Flashback

Kamui tengah berdiri disamping ranjang pasien adiknya seraya menggenggam erat tangan Kagura. Dia berharap adiknya dapat segera bangun jika hal itu dilakukan. Beberapa hari terakhir ini, Kamui sering membaca artikel tentang orang koma dan kemungkinan cara membangunkannya. Walaupun, dia sendiri sebenarnya ragu. Toh, apa salahnya jika dia lakukan.

Nobume tengah merangkai bunga untuk menghiasi kamar Kagura. Walaupun, mereka berdua tidak akrab, nobume tetap merasa bertanggung jawab atas kondisi kagura saat ini. Setiap hari Nobume akan membawa rangkaian bunga yang berbeda, seperti hari ini Nobume membawa rangkaian tulip putih. Katanya, tulip putih berarti lambang permohonan maaf. Ya, Nobume selalu inign mengucapkan maaf kepada Kagura.

Mereka berdua tetap dengan aktifitasnya sampai Kamui merasakan pergerakan dari tangan adiknya. Awalnya Kamui mengira dia berhalusinasi, namun Kamui semakin merasa itu nyata ketika Kagura membalas genggaman tangannya. Nobume yang turut melihat menjadi beku di tempat.

"Nngghh," lenguh kagura. Perlahan tapi pasti kelopak mata yang selalu tertutup itu terbuka sebagian.

"Kagura!" seru Kamui. Perasaan lega hinggap di hati Kamui setelah, adiknya itu membuka kedua matanya.

Kankou dan Yuuka yang saat itu tepat baru tiba di kamar kagura ikut mematung. Kagura menatap sekelilingnya. Tatapan matanya kosong.

"Kagura!" Kankou segera menghampiri putrinya dan begitupun dengan Nobume. Yuuka segera memanggil dokter.

"Kagura syukurlah kau sudah sadar sayang! Yokatta..yokatta..," Kankou mengucapkan syukur berkali-kali seraya memeluk tubuh Kagura.

"Yo..Baka Imouto," sapa Kamui. Kini senyum lebar tertoreh jelas diwajahnya.

"Kagura..," Nobume mengguman nama kagura seraya mengelap air mata yang tiba-tiba saja muncul dengan sudut tangannya.

Kagura hanya diam. Tatapan wajahnya tampak kosong. Bahkan cahaya dari kedua manik Sapphire-nya redup. Melihat tak ada reaksi dari Kagura, Kankou melepaskan pelukannya. Dia mengamati wajah putrinya. Kamui dan Nobume pun turut memperhatikan wajah Kagura yang nampak bingung.

Lama mereka semua terdiam. Kamui dan Nobume berinisiatif menyusul ibu mereka, karena Dokter yang di panggil tak kunjung datang.

"Kagura?" tanya Kankou heran.

"P..a..p..i..?" akhirnya Kagura mengeluarkan suaranya.

Mendengar suara pertama dari putrinya membuat Kankou tersenyum. Akhirnya putrinya bicara.

"Ya, sayang?" jawab Kankou.

"Tem..pat..i..ni?" Kagura nampak kesulitan menyusun kalimatnya.

"Rumah Sakit. 3 bulan yang lalu kamu kecelakaan, kamu ingat?".

Kagura menggelengkan kepalanya pelan. Melihat jawaban Kagura, Kankou menghela napas berat. Ditepuknya pelan puncuk kepala putrinya itu.

"Tak apa jika kamu tak ingat, tak usah di paksakan," Ujar Kankou.

Kagura diam. Dia masih memandang sekelilingnya dengan tatapan aneh dan kebingungan.

"Ma..mi..?" Kankou terperajat saat Kagura menyebut kata 'mami'.

"Ma..mi.. di.. ma..na?" lanjut Kagura.

Kankou mendadak membatu.

"Apa yang kau katakan, Kagura. Mami sudah tidak ada, sayang," jawab Kankou hati-hati.

Sontak hal itu membuat Kagura membelalakan matanya. Tidak ada? Apa maksud papinya itu. Batin kagura mulai heran.

"Tidak ada?" Kagura semakin bingung.

"Sayang, Mami sudah meninggal 10 tahun yang lalu. Kau ingat, kan?" Kankou semakin heran dengan perkataan putrinya itu. Batinnya bertanya ada apa dengan Kagura.

"U..so," balas Kagura tak percaya. 'Meninggal? Sepuluh tahun yang lalu? Bohong? Bukankah hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ketujuh? Papi pasti bercanda' batin Kagura bingung.

Sejenak dia menolehkan kepalanya kearah lemari stainless di sisi kirinya. Matanya terbelalak kaget melihat tampilannya saat ini. Rambut panjang, tubuh tinggi dan wajah remaja. 'Itu diriku?' batin Kagura tak percaya.

Kagura berusa bangkit dari posisi tidurnya. Kankou yag melihat langsung mencegahnya. Kagura mulai berontak dan Kankou semakin memperkuat pegangannya.

"Lepaskan papi!" jerit Kagura.

"Kagura tenanglah!" Kankou berusaha menenangkan gadis vermilion itu.

Kagura memperhatikan wajah papinya. Wajah itu sudah nampak berumur dan berbeda dengan yang Kagura ingat. Pikiran Kagura kacau. Ketika Kagura hendak kembali bertanya terdengar suara pintu terbuka dan munculah seorang dokter muda bersurai coklat ber-tag-kan, 'Shimura Otae', masuk keruang tersebut dan diiringi dengan 3 orang yang tadi keluar memanggilnya.

Kagura mengeryitkan alis ketika melihat dua orang bersurai biru gelap yang tak di kenalnya dan bertambah heran ketika dia mengamati sosok Kamui. Kakaknya itu terlihat dewasa. Sejenak Kagura terdiam.

"A..ne..go?" Kagura berguman ketika dokter muda itu memeriksa tubuh Kagura.

"Ha'i, ada apa, Kagura-chan?" tanya Otae.

Oke, ada yang salah dengan semua ini. Jika orang didepannya ini adalah Shimura Otae, kakak perempuan dari sahabatnya di SD, Shimura Shinpachi, harusnya kakaknya itu masih SMA.

Menyadari kebingungan Kagura, Otae meminta mereka semua keluar karena ingin memeriksa Kagura lebih lanjut. Dengan berat hati mereka semua keluar meninggalkan Kagura dan Otae.

-0-

Diluar ruangan tersebut, Kamui berinisiatif untuk memberitaukan kabar Kagura ke Sougo. Dia mengeluarkan Smartphone dari saku jeansnya dan mencari nama pemuda bersurai pasir itu, lalu menghubunginya.

Tut..tut..tut..

"Moshi..Mosh," terdengar suara diseberang telpon sana. Sebelum kalimat pemuda yang ditelpon itu selesai, Kamui langsung memotong,

"Sougo.. Cepat Kemari.. Kagura..Kagura..,"

Piip..piip..piip..

Bunyi sambungan telpon terputus. Kamui membatin keki. Rencananya untuk membuat kejutan ke Sougo gagal karena telponnya langsung diputus begitu saja.

"Cih," Kamui berdecih jengkel. Tanpa Kamui sadari, sang papi segera menjitak kepalanya seraya berucap,

"Jangan membuat panik Sougo, Kamui. Bagaimana jika dia panik disana? Ah.. pasti mereka semua panik sekarang," desah Kankou yang dibalas dengan senyuman andalan Kamui. Biar saja, toh itu memang keinginan Kamui. Melihat wajah Sougo frustasi menjadi hiburan baru baginya. Ya hobi baru Kamui sejak pemuda bersurai pasir itu telah mencuri perhatian dan hati adiknya.

-0-

1 jam berlalu, sejak terakhir Otae memeriksa Kagura. Dokter muda itu belum keluar juga. Hal itu membuat mereka semua bertambah cemas. Kamui bahkan mondar mandir di depan ruang rawat adiknya itu sementara, Nobume duduk gelisah disamping ibu dan ayahnya.

Krekk

Pintu ruang rawat Kagura terbuka. Otae muncul dengan desahan pelan yang lolos dari mulutnya. Seakan mendapat firasat buruk. Kankou dan Kamui segera menghampirinya.

"Bagaimana Kondisinya, Otae?" Kamui langsung bertanya. Tatapan Otae berubah menjadi sendu. Menghela napas sejenak, Otae menjawab,

"Ini baru prediksi saja. Nampaknya, Kagura-Chan mengalami amnesia. Dilihat dari beberapa pertanyaan yang saya berikan tadi nampaknya, ingatan Kagura-Chan kembali ke waktu 10 tahun yang lalu," jelas Otae.

Kankou dan Kamui terdiam, begitu pun dengan kedua perempuan yang tengah duduk itu.

"Jangan khawatir. Saya akan meminta bantuan teman Saya yang seorang psikiater untuk memeriksa ulang kondisi Kagura-Chan. Untuk saat ini biarkan Kagura-chan beristirahat. Saya sudah memberikan obat penenang tadi. Sekarang Kagura-Chan sedang tertidur. Mungkin besok pagi efek dari obat itu hilang. dan Untuk Kondisi Kagura-Chan saat ini, nampaknya kondisinya sudah mulai stabil hanya tinggal melihat perkembangan lagi besok," jelas Otae lagi. Kamui dan Kankou nampak lega bercampur syok mendengar penjelasan Otae. Otae tersenyum singkat kepada keduanya.

"Kankou oji-sama, Kamui-kun, Saya permisi mengecek pasien yang lain dulu," Otae berpamitan kepada mereka unuk kembali bekerja. Tak lupa dokter muda itu meminta Kankou datang keruangnya nanti untuk penjelasan lebih lanjut tentang kondisi Kagura.

Sepeninggal Otae, mereka berempat kembali masuk kedalam ruang rawat inap Kagura. Kamui membimbing Nobume masuk karena nampaknya gadis itu terlihat Syok. Mereka mendudukan diri di Sofa ruangan itu, sementara Kankou mendekat kearah Kagura seraya berguman "kenapa jadi seperti ini?" berulang kali.

Dan tak lama dari itu, Sougo datang seraya mendobrak pintu dengan diikuti keluarganya.

End of Flashback

.

.

.

Sougo nampak tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Mitsuba dan Toshiro juga nampak sama. Sementara, Gintoki dan Tsukuyo hanya diam. Gintoki menepuk pelan pundak sahabatnya itu.

"Kagura akan baik-baik saja," ujarnya memberi Semangat Kankou. Kankou menangguk Singkat. Di benaknya sekarang ini adalah bagaimana cara dia menjelaskan kembali tentang kematian Kouka. Bagaimana cara dia mengenalkan Nobume dan Yuuka kembali. Mengingat Kagura sangat membenci keduanya. Kankou yakin gadis itu pasti tidak akan menerimanya lagi. Kankou menghela napas berat sekali lagi.

"Kau membuat kita semua panik bocah," Toshiro memecahkan keheningan diantara mereka. Tatapannya tajam dan menusuk dilayangkan kearah Kamui.

"are.. kenapa kalian menyalahkanku?," Kamui menunjuk dirinya sendiri "harusnya kalian salahkan bocah ini yang tidak mendengarkan penjelasanku sampai akhir," kini Kamui menunjuk hidung Sougo.

Sementara yang ditunjuk hanya bisa merasa jengkel. Bagaimana dia tidak panik. Suara Kamui tadi benar-benar seperti orang yang ketakutan.

""itu kaerna suaramu lebay, Baka Aniki!" Sougo membela diri.

"siapa yang kau sebut Baka Aniki, nee.. Kuso gakki?" Kamui mulai emosi.

"Harusnya kamu jangan gegabah tadi Sougo," Toshiro membela Kamui.

"Diam Kau, Mayora!"

"apa kau bilang!?" Toshiro mulai ikut emosi.

"maa..maa..," Mitsuba mencoba menenangkan mereka bertiga.

"ssssstttt," kini suara Nobume yang menghentikan mereka semua "Kalian berisik," sambung Nobume.

Perkataan Nobume membuat ketiga pria itu terdiam. Namun tetap melemparkan aura listrik tanda permusuhan. Pemandangan yang biasa sebenarnya. Seperti rantai, Kamui kesal kepada Sougo karena Sougo berhasil mencuri adiknya, sementara Sougo kesal kepada Mayora yang telah berhasil mencuri kakaknya. Cocok. Mereka selalu bertengkar setiap kali bertemu. Namun akan Kompak jika sudah membahas Kagura ataupun Mitsuba.

"sebaiknya kita pulang," kata Gintoki yang akhir buka suara. Dia menguap sejenak karna merasa sangat mengantuk. Ketika sougo panik tadi, Gintoki baru tidur selama 15 menit. dan tanpa aba-aba pria tersebut langsung berganti pakaian dan bergegas kemari. dan sekarang gintoki merasa sangat mengantuk. walaupun ekspresi lega dan sedih dapat terlihat diwajah ngantuknya.

Tsukuyo, mitsuba dan Toshiro memutuskan untuk pulang dan akan kembali esok hari. Begitupun Kankou, Yuuka, Nobume dan Kamui. Sougo meminta mereka semua pulang dan membiarkan dirinya menjaga kagura. Sougo tau, ayahnya itu sedang sangat lelah dan butuh ibunya. Sementara kakaknya harus melayani si Mayora yang besok akan dinas keluar kota. Kamui harus ke Kyo esok untuk urusan bisnis keluarganya. Dan Sougo tak ingin membuat kedua calon mertuanya kelelahan. Kini dirinya mulai membatin bahwa dia adalah menantu idaman yang baik hati.

Gintoki mengelus pelan surai vermilion Kagura seraya berpamitan kepada gadis itu, disusul oleh satu persatu dari mereka. Ketika giliran Nobume yang berpamitan, Nobume membisikkan sesuatu di telinga Kagura,

"Cepat bangun, pangeranmu menunggu," bisiknya lalu menyusul kedua orang tuanya. Kankou dan kamui mencium pipi Kagura singkat dan membisikkan hal yang serupa dengan Nobube tapi tanpa kalimat 'pangeranmu'.

Setelah semua pulang Sougo mendekati Kagura dan mencium kening Kagura.

"Jikapun itu benar. Walaupun, kau melupakan kenanganmu yang sekarang. Aku akan tetap menjadi milikmu dan kau tetap milikku," bisik Sougo.

"Cepatlah kembali seperti semula, Kagura," lanjut Sougo seraya mengecup pipi kiri Kagura.

t.b.c

wuah.. tak terasa sudah nulis sampe 4 chapter ^^

Author senang sekali karena ada yang menanti fic ini.

Yups.. ini lanjutan ceritanya minna ^^
silahkan review dan memberikan kritik serta saran ke author ya..

Arigatou minna ^^