ooOoo

Kokoro Nokori

Disclaimer : Gintama By Sorachi Hideaki a.k.a Gorilla-Sensei. Story By Me

Warning : OOC, Kerajaan Versi Modern, AU, Rated T, and for the last Typo mungkin bertebaran. DLDR. OKIKAGU Slight OKINOBU, HIJIMITSU, SAKATSUU, KOUKANOC, OC: Imai Yuuka. Gintoki dan Tsukuyo ganti marga menjadi Okita.

ooOoo

Sougo baru saja bangun dari tidurnya yang kurang nyaman di sofa. Diliriknya jam tangan yang dia kenakan.

"Sudah pagi ternyata," gumannya saat jam tangannya menunjukkan pukul 6 pagi. Sougo kemudian beranjak duduk dan merenggangkan otot-otot tubuhnya yang pegal, sembari melirik Kagura yang masih tertidur. Dengan langkah perlahan, ia pun mendekat dan kembali memposisikan tubuhnya untuk duduk di samping ranjang Kagura saat ini.

Diamatinya wajah Kagura yang tertidur, 'Damainya' batin Sougo saat melihat wajah Kagura. Tangannya terangkat untuk membelai pipi Kagura. Ntah sudah berapa kali hal itu Sougo lakukan saat Kagura tertidur. Dia menghela napas berat.

"Kagura," gumannya lirih. Untuk beberapa saat mata Sougo fokus kearah bibir Kagura dan itu membuatnya teringat akan dongeng Putri Salju yang dulu ia sering ceritakan untuk menemani Kagura tidur. Sougo terkekeh pelan ketika mengingat akhir cerita dongeng tersebut, Sang putri yang terbangun karena kecupan pangeran cinta sejatinya.

"cinta sejati kah?" Sougo mulai berguman lagi. Mengingat akhir cerita dongeng itu, juga mengingatkan tentang kisah cintanya dan Kagura. Kalau di ingat-ingat selama ini mereka belum pernah berciuman, kecuali cium kening dan pipi tentunya. Sougo menghela napas lagi, tapi kini dia teringat akan mimpinya dimana Kagura menciumnya. Muka Sougo mendadak memerah mengingat mimpinya tersebut.

Menggelengkan kepalanya singkat, di liriknya lagi wajah Kagura yang tertidur. Senyum Sougo mengembang. Dia mulai berdiri dan mendekatkan wajahnya ke wajah Kagura. Mata Sougo terpejam. Sedikit lagi, wajah Sougo akan menghapus jarak antara mereka berdua. Tiba-tiba, terdengar suara lenguhan dari Kagura. Gerak Sougo terhenti, dengan cepat ia membuka matanya.

Kini dia melihat kelopak mata Kagura mulai bergerak terbuka dan menampilkan manik biru yang selalu Sougo rindukan. Terbius dengan tatapan mata itu, Sougo melupakan posisinya.

"Siapa?" guman Kagura lemah. Dia mengerjapkan matanya. Sougo yang mendengar gumanan Kagura mendadak beku di tempat, ekspresi wajahnya berubah panik. Ia kembali menjauhkan tubuhnya dan kembali ke posisi berdiri.

"Kagura! Kau tidak ingat aku?" tanya Sougo panik.

Kagura menggulirkan matanya mengamati sosok yang ada di sampinya itu. Surai coklat pasir dengan manik crimson yang sangat kagura kenal. Teman masa kecilnya yang lebih tua dua tahun darinya, cowok sadist yang selalu memiliki cara untuk menjahilinya dan pemuda itu merupakan pangeran muda kerajaan Edo, Okita Sougo. Kagura sangat yakin kalau itu adalah Sougo, tapi dengan tampilan dewasa. Raut wajah bingung tercetak jelas di wajah Kagura. Diulurkannya tangannya yang bebas kearah pipi pemuda tersebut.

"So..ugo.. Onii-Sa..ma?" gumannya. Sougo membalas menangkup tangan Kagura. Senyumnya mengembang cerah. Kagura tak melupakannya.

Sementara Kagura sendiri menatap kaget. Pikiranya kacau. Kini dirinya tengah melihat Sougo dengan tampilan dewasa. Seingat Kagura tubuh Sougo yang dia kenal tak setinggi saat ini dan wajahnya pun tak sedewasa sekarang. Sougo yang dia ingat merupakan pemuda yang memang lebih tinggi darinya, wajahnya imut dan senyuman sadist tanpa dosa yang selalu hinggap di wajahnya. Kagura kembali menggulirkan pandangannya. Kini dia menatap lemari Stainless di sebalah Sougo. tatapannya makin kaget ketika melihat Wajah dan surai vermilionnya kini telah berubah.

Tanpa kagura sadari air mata sudah mengalir di kedua pipinya. Batinnya saat ini panik. Pikirannya kacau. Dia terus menanyakan apa yang terjadi. Seingatnya saat ini dia baru akan merayakan ulang tahunnya yang ketujuh. Mendadak ia ingat akan kejadian kemarin. Rasanya deja vu. Dengan liar dia mengedarkan pedangannya untuk mencari sang kakak dan papinya. Tidak ada. Hanya ada Sougo sekarang. Kagura semakin frustasi.

"Kagura ada apa?" tanya Sougo panik saat melihat Kagura menangis, bukan hanya itu saja tatapan Kagura saat ini seperti orang yang kebingungan. Sedetik kemudian kagura menjerit histeris seraya meremas rambutnya seperti orang frustasi.

"DOKTER..SUSTER!" teriak Sougo panik. Dengan segera Sougo keluar dari ruangan tersebut sambil terus berteriak memanggil Dokter ataupun perawat yang berjaga disana. Sesekali matanya mengawasi Kagura yang masih histeris.

-0-

Sougo duduk disebelah ranjang Kagura seraya mengamati gadisnya itu. Kini Kagura sudah nampak tenang. Dengan hati-hati Sougo menggenggam erat tangan kagura lembut dengan tangan kanannya. Tatapannya kini tak dapat diartikan. Dia senang kagura sudah terbangun dari tidur panjangnya, dia senang kagura masih mengingatnya, namun batinnya sakit melihat kagura seperti saat ini. Tatapan gadisnya itu kosong.

Sougo terus menggenggam tangan kagura sambil sesekali mengelusnya. Tadi Sougo sudah menelpon keluarga Kagura dan Keluarganya untuk memberitahukan kondisi kagura sekarang. Kankou bilang dia akan segera datang, sementara Kamui tengah di perjalanan ke Kyo dan baru akan pulang tiga hari lagi. Kedua orang tuanya juga tengah dalam perjalanan kemari.

"Nee.. apa yang terjadi padaku?" tanya Kagura dengan suara lemah.

"Tiga bulan yang lalu kamu kecelakaan, kamu ingat?" jawab Sougo sambil terus mengelus pelan tangan Kagura.

Kagura menggelengkan kepalanya lemah. Kini isakan kecil kembali terdengar, "apa yang terjadi padaku, Nii-sama?" isak Kagura.

Sougo memandang Kagura miris. Kini tangan Kirinya yang bebas mengelus surai vermelion gadisnya itu.

"Kamu mengalami amnesia saat ini. Ingatanmu mungkin terkunci saat kamu masih berusia tujuh tahun," jawab Sougo lagi, "Jangan khawatir Kagura, ingatanmu pasti akan kembali," lanjutnya, kini Sougo tengah menatap lembut wajah Kagura.

Kagura kembali terdiam. Isakan kecil masih terdengar dari bibirnya. Mendengar isakan Kagura, Sougo berinisiatif memeluk Kagura untuk menenangkannya.

"sssttt.. Aku ada disini Kagura, aku akan selalu berada disampingmu apapun yang terjadi, aku janji!" ucap Sougo. Kagura yang mendengarnya merasa lebih tenang. Dia membalas pelukan Sougo dengan menggenggam Kaos bagian depan yang dikenakan pemuda itu. Ntah kenapa Kagura merasa pernah mendengar kalimat Sougo, tapi tidak tau kapan dan siapa yang mengatakannya.

Sepasang manusia itu berpelukan tanpa menyadari bahwa sedari tadi sudah ada kedua orang tua mereka ditambah seorang gadis bersurai biru di belakangnya. Keempat orang tersebut tersenyum memandang interaksi kedua sejoli didepan mereka, sementara sang gadis bersurai biru hanya menatapnya dengan perasaan sedih.

"Eheem." suara dehaman Gintoki, membuat Sougo reflek melepaskan dekapannya dan menoleh kearah sang ayah.

"Chichi-Ue!" Sougo kaget melihat kedua orang tua mereka di tambah Nobume sudah berada didalam ruangan tersebut.

"Apa yang sedang kau lakukan, Sougo Ouji-Sama?" Kankou bertanya suara dingin yang dibuat-buat.

"Tunggu Kankou Ji-San, aku bisa jelaskan," jawab Sougo kalem tapi dia tak bisa bohong kalau detak jantungnya saat ini sudah mulai menggila.

-0-

"Jadi begitulah..," Sougo mengakhiri penjelasannya tentang kondisi Kagura saat ini. Gintoki dan Tsukuyo terdiam. Begitupun dengan Yuuka, Nobume dan Kankou yang tengah menghela napas berat. Penjelasan dari Otae kemarin dan penjelasan dari Sougo saat ini membuatnya frustasi. Putrinya terkena amnesia. Kini dia tengah melirik kearah Istri dan putrinya satu lagi yang tengah duduk dihadapannya. Yuuka yang mengerti tatapan Kankou hanya tersenyum lembut.

Saat ini Kagura tengah menjalani pemeriksaan lanjutan. Jadi mereka semua menunggu didepan ruang pemeriksaan Kagura.

"Apa yang harus aku jelaskan nanti?" Kankou mendesah frustasi.

"Kita sudah membicarakan ini semalam bukan? jika Kagura bertanya katakan saja bahwa kami adalah saudara jauhnya," balas Yuuka. Perasaannya sedih memang, namun dia tak ingin membuat Kagura membencinya untuk yang kedua kali.

"Kau dan Nobume sudah banyak menderita karena aku," balas Kankou.

"Namun, sekarang kedatangan kami yang membuat Kagura menderita, bukan?" Yuuka memandang ruang pemeriksaan Kagura dengan tatapan Sendu.

"Aku dan Nobume akan kembali tinggal di apartemen kami yang dulu. Aku rasa memang seharusnya aku tidak datang menggantikan Kouka," sambung Yuuka seraya tersenyum. Bukan senyum bahagia tetapi senyum sedih yang ada diwajah saat ini.

Mendengar jawaban Yuuka, keempat orang dewasa itu terdiam. Mereka berempat terhanyut dalam pikiran masing-masing. Bukan rahasia umum memang. Mereka semua tau kalau Kagura sangat membenci Ibu dan Saudara tirinya itu. Nobume dan Sougo yang sedari tadi mendengar pembicaraan orang tua mereka pun turut terdiam.

"Aku rasa hal itu tak perlu dilakukan," Tsukuyo memecah keheningan diantara mereka. "Yuuka kamu sudah berjanji kepada Kouka untuk menjaga Kagura dan Kamui, bukan?" tsukuyo tersenyum kearah Yuuka.

"Begitupun aku dan Gintoki," sambungnya lagi. Gintoki tersenyum paham akan maksud istrinya itu, sementara Yuuka dan Kankou nampak tak mengerti.

"Kagura mungkin akan tetap tinggal di Rumah Sakit ini untuk beberapa Saat," gintoki melanjutkan perkataan istrinya.

"Ketika Kagura sudah diizinkan pulang, Izinkan aku membawa Kagura tinggal di Istana edo sambil melanjutkan terapinya nanti," sambung gintoki.

"Dengan begitu Yuuka dan Nobume akan tetap tinggal bersama Kankou, dan mereka tidak akan bertemu Kagura untuk sementara waktu. Hingga kagura nanti siap menerima kenyataannya kembali atau ingatan Kagura nanti sudah kembali," Tsukuyo mengakhiri rencananya dan Gintoki.

Yuuka terdiam, sedangkan Kankou nampak berpikir. Awalnya Kankou ingin menolak, namun akhirnya dia setuju karna itu mungkin jalan yang terbaik bagi Kagura dan juga Yuuka beserta Nobume. Sougo yang mendengarnya langsung berdiri dari duduknya dengan wajah senang, sementara Nobume nampak menunduk. Rencananya untuk mendapatkan hati pangeran sadist itu pupus sudah.

Bertepatan dengan pembicaraan mereka tersebut, seorang dokter berambut panjang dengan hewan aneh yang membawa plakat disampingnya keluar. Dokter yang bernama, Katsura Kotaro, itu meminta Kankou untuk keruangannya dan menjelaskan kondisi Kagura saat ini.

.

.

.

Ini adalah hari ketiga Kagura menjalanin terapi. Dimulai dari terapi berjalan, menulis dan beberapa keterampilan dasar yang Kagura lupakan. Sifat gadis tersebut juga kembali seperti anak perempuan yang berusia tujuh tahun. Namun satu hal yang mereka syukuri, Kagura sudah kembali tersenyum sedikit demi sedikit.

Saat ini Kagura tengah duduk di taman Rumah Sakit untuk menghilangkan rasa jenuhnya. Dirinya sudah sering berteriak bosan karena berada di dalam kamar sepanjang hari. Beruntung hari ini cerah, jadi Sougo memutuskan untuk mengabulkan permintaan gadis tersebut.

Ketika mereka tengah asyik berada di taman menikmati udara segar,tiba-tiba muncul sebuah kotak Sukonbu dihadapan Kagura. Gadis itu menatap makanan di depannya dengan mata berbinar. Di raihnya makanan kesukaanya itu. ketika Kagura hendak berterima kasih, matanya terpaku pada sosok pemuda bersurai sama dengannya tengah tersenyum disampingnya.

"Kamui-Nii?" guman gadis itu pelan.

Kamui tersenyum lebar ketika adiknya itu mengingat dirinya. Di acaknya pelan surai vermilion sang adik yang senada dengan punyanya itu, "apa kabar Imouto-Chan?" sapanya riang.

"Baik Kamui-Nii," Jawab Kagura dengan senyumnya. Walaupun, Kamui dapat melihat raut kebingungan dari wajah Kagura. Nampaknya adiknya itu kaget ketika melihatnya dengan rupa yang sekarang. Kamui hanya mampu menelan kekecewaan dalam hatinya. Adiknya itu terlihat rapuh.

Kagura tengah menikmati hadiah Sukonbu dari kakaknya itu. Sementara, tak jauh dari Kagura berada sekarang, Sougo dan kamui tengah berdebat sengit perihal kabar yang Kamui dapatkan bahwa adiknya itu akan tinggal di Istana Edo ketika sudah diizinkan pulang nanti. Lama mereka berdebat hingga suara Kagura menghentikan mereka. Kagura merasa lelah ternyata dan meminta untuk kembali kekamarnya.

Sougo mendorong kursi roda Kagura di ikuti Kamui di sampingnya menuju kamar rawat Kagura. Setelah sampai Kamui membantu adiknya untuk berbaring kembali ke tempat tidurnya dan Sougo menarik Selimut untuk menutupi tubuh Kagura. Tak beberapa lama kemudian Kagura kembali tertidur meninggalkan kedua orang berbeda usia itu terdiam di sofa ruang tersebut.

"Kau sudah mengatakannya?" tanya Kamui memecah keheningan diantara mereka berdua setelah memastikan bahwa Kagura sudah benar0benar terlelap.

Sougo menggelengkan kepala, "Ku rasa saat ini bukan waktu yang tepat," jawabnya.

Kamui menangguk paham. Kini perhatiannya kembali ke adiknya, "apa kamu sudah menemukan benda itu?" tanya Kamui lagi.

"Belum," jawan Sougo singkat, " Tapi aku sudah meminta Toshiro-Nii untuk mencarinya. Aku juga meminta Zakki yang ada disana juga untuk mencari benda itu," lanjut Sougo.

Kamui mengangguk paham, " Semoga benda itu segera ditemukan bocah, karena itu merupakan hal yang penting bagi Kagura".

"Aku pasti menemukannya," kini Sougo menunjukkan ekspresi serius, "bukan hanya bagi Kagura, namun bagiku juga." Sougo mengakhiri kalimatnya. Dan kini mereka berdua duduk dengan bertemankan keheningan.

t.b.c

hai.. bertemu lagi sama author di cerita yang sama ^^

yosh ini adalah lanjutan dari chapter kemarin.

Kayaknya ceritanya belum ketemu titik terang ya hehehehe ^^

terima kasih buat para pembaca yang sudah mau mereview cerita author.

jangan lupa review kembali ya, Arigatou Minna~ ^^