ooOoo

Kokoro Nokori

Disclaimer : Gintama By Sorachi Hideaki a.k.a Gorilla-Sensei. Story By Me

Warning : OOC, Kerajaan Versi Modern, AU, Rated T, and for the last Typo mungkin bertebaran. DLDR. OKIKAGU Slight OKINOBU, HIJIMITSU, SAKATSUU, KOUKANOC, OC: Imai Yuuka. Gintoki dan Tsukuyo ganti marga menjadi Okita.

ooOoo

Kagura tengah duduk di Gazebo halaman belakang Istana Edo. Tangannya membuka lembar demi lembar, halaman album foto di tangannya. Dia mendapatkan album foto tersebut dari Kamui. Berbicara tentang Kamui dan keluarganya, membuat Kagura menghela napas pelan. Sejak keluar dari Rumah Sakit tadi Pagi, Kagura mendapatkan kabar bahwa Papi dan Kakaknya akan mengurus cabang perusahaan mereka yang berada di Kyo. Hal tersebut tentu saja membuat Kagura kecewa karena jujur saja, Kagura membutuhkan mereka sekarang.

Dengan kondisi ingatannya yang kacau, ditambah ketidakhadiran dua orang yang saat penting bagi Kagura saat ini, membuat gadis itu takut walaupun, saat ini dia tengah berada di kediaman sahabat baiknya, Okita Sougo. Jujur, walaupun, sudah dua minggu menjalani terapi dan mencoba mengingat serta memahami kondisinya saat ini, Kagura masih canggung dengan mereka semua. Mengingat, dirinya tetap tak mengingat kejadian apapun selama sepuluh tahun belakangan ini.

Kagura menutup album foto itu kemudian, kepalanya menengadah menatap langit yang nampak cerah,"mami." Gumannya pelan. Tanpa gadis itu sadari, air mata kembali turun di wajahnya. Kagura sedikit merutuki dirinya yang menjadi cengeng seperti sekarang. Tapi untuk saat ini saja, izinkan dirinya menangis sepuasnya.

-0-

Sougo nampak setangah berlari mengitari setiap sudut ruangan Istananya. Raut wajahnya nampak tidak tenang. Pemuda itu nampak seperti kehilangan sesuatu. Tak dihiraukannya pertanyaan dari beberapa pelayan dan penjaga di sana yang menanyakan, ada apa kepadanya. Bahkan Mitsuba yang sedari tadi memanggilnya nampak tak didengarkan.

"Jika kau mencari Kagura, dia tengah berada di halaman belakang." Kata Toshiro yang sedari tadi berdiri di samping Mitsuba.

Sougo nampak menoleh sebentar ke arah Mitsuba dan Toshiro-yang baru dia sadari keberadaannya-saat Toshiro mengatakan tentang keberadaan Kagura. Ya, sedari tadi, Sougo tengah mencari keberadaan gadisnya itu. Setelah tadi, salah seorang pelayan memberitahunya bahwa Kagura datang mencarinya, namun hal itu diurungkan saat melihat Sougo yang nampak sibuk dengan beberapa dokumen di ruang kerjanya. Pemuda itu langsung menghentikan pekerjaanya dan mencari keberadaan Kagura, namun hingga saat ini, dirinya tak menemukan sosok gadis bersurai vermilion itu.

"ah.. Sankyuu Mayora Nii-sama." Sahut Sougo seraya melengos meninggalkan kedua orang itu.

"Siapa yang kau panggil Mayora. Oy, Kuso gaki!' teriak Toshiro yang tentu saja tak di dengarkan oleh Sougo. Mitsuba hanya terkekeh pelan mendengar suaminya yang selalu di pangil 'Mayora' oleh adiknya itu.

-0-

Sougo segera berlari menuju halaman belakang Kediamannya. Langkahnya terhenti ketika, dia melihat gadis yang dicari tengah duduk di Gazebo halaman belakang rumahnya. Sougo berjalan mendekati Kagura dengan langkah pelan. Dipeluknya tubuh Kagura dari belakang.

"Kau menangis lagi?" tanya Sougo,"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanyanya lagi. Wajahnya dia benamkan di pundak Kagura. Ah, Sougo benci ini. Dia benci saat melihat Kagura menangis sementara, dirinya tak mampu melakukan apapun untuk gadisnya itu. Mengingat klaim dirinya atas Kagura, membuat Sougo tersenyum miris. Masih bisakah dia menyebut Kagura sebagai gadisnya sementara, gadis itu tak mengingat apapun tentang dirinya, kecuali status sahabat baik.

"S..Sougo Nii-Sama..?" Kagura terperanjat kaget saat Sougo memeluk dirinya dari belakang. Dengan cepat gadis itu menghapus air matanya dengan tangannya yang bebas namun, gerakan gadis itu kalah cepat dengan Sougo, yang sekarang tengah memegangi kedua tangannya itu.

Sougo membalikan tubuh Kagura agar menghadap ke arahnya. Tanganya yang tadi memegangi kedua tangan Kagura, beralih menjadi menangkup wajah gadis itu. Diamatinya wajah gadisnya itu dalam diam. Kedua ibu jarinya mengelap sisa air mata di wajah Kagura. Sapphire dan Crimson bertemu, membuat mereka berdua terhanyut dalam pandangan masing-masing. Tanpa Sougo sadari, kini wajahnya maju mendekati wajah Kagura kemudian, dia menjilat sudut mata Kagura yang nampak berair.

Kagura sendiri memejamkan kedua matanya, saat dia merasakan lidah Sougo menyentuh wajahnya. Rasa geli dan malu menyergap Kagura. Wajah gadis itu nampak memerah. Sougo nampak mengeluarkan seringainya saat melihat wajah Kagura.

"Kau belum menjawab pertanyaanku, Kagura." ujar Sougo tepat di depan wajah Kagura. Sougo menempelkan kedua hidung mereka.

Mendengar perkataan Sougo, membuat Kagura langsung membuka kedua matanya. Wajah Kagura nampak terkejut dan bertambah merah saat, menyadari bahwa jarak mereka berdua begitu dekat.

"Aa..aaku..hanya ingat Mami." Jawab Kagura dengan suara yang terbata karena gugup.

Mendengar jawaban Kagura sontak membuat Sougo menjauhkan wajahnya. Kedua matanya nampak melebar. Hatinya sedikit mencelos saat Kagura mengutarakan jawabannya tadi. Sougo lalu membenamkan wajahnya di pundak Kagura.

"Gomen." Ujarnya pelan, namun Kagura masih dapat mendengarnya.

"Eh, ini bukan salah Nii-Sama, kok." Balas Kagura. Tangan gadis itu mengelus lembut surai pasir pemuda itu.

"Harusnya, aku tidak langsung membawamu ke makam Kouka Oba-sama,"lanjut Sougo, "Harusnya aku tau, bahwa saat ini, bukannlah waktu yang baik bagimu untuk datang ke sana."

"eehhhmm," Kagura menggelengkan kepalanya, "Aku sangat berterima kasih, karena Onii-Sama sudah mau menemaniku ke makam Mami. Nii-Sama juga sudah sering meluangkan waktu untuk menemaniku terapi, bukan?" Lanjut Kagura.

Sougo tertegun, mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Kagura. Dia tersenyum miris, mengingat bahwa kondisi Kagura saat ini adalah akibat kesalahannya dulu. Kedua tangan Sougo mencengkram erat bahu Kagura. Perasaannya saat ini tak menentu.

"Gomen..Gomen..Gomen.. Kagura, Gomennasai," Ucap Sougo berulang kal.

Kagura memeluk Sougo yang masih menenggelamkan wajah di Pundaknya. Sesekali tangannya mengelus bahu pangeran muda itu.

"Sudah kukatakan, ini semua bukan salah Sougo Nii-Sama." Kagura mencoba menenangkan Sougo, "Justru, aku sangat berterima kasih, karena Sougo-Nii selalu menemaniku." Lanjut gadis itu.

Hening, Sougo tak membalas ucapan Kagura. Mereka berdua tengah terhanyut dalam pikiran masing-masing. Lima belas menit berlalu, mereka tetap berada di posisi yang sama namun bedanya, kini Sougo tengah tidur di pangkuan Kagura dengan Kagura yang mengelus pelan surai pasirnya.

"Nee.. Ceritakan padaku tentang hubungan kita," Kagura memecahkan keheningan di antara mereka berdua.

Sougo merubah posisinya menjadi duduk menghadap Kagura. Digenggamnya kedua tangan mungil gadis vermilion itu,"Kau dan Aku adalah sepasang kekasih, lebih tepatnya kita sudah bertunangan," jelas Sougo. Dia meraih album di tangan Kagura kemudian, membuka salah satu halaman yang menampakan foto mereka berdua.

"Ini adalah foto-foto saat acara pertunangan kita." Sougo menunjuk salah satu foto dimana, dirinya dan kagura tengah berdiri di ballroom Istana. Dalam foto tersebut, terlihat Sougo tengah mencium tangan kiri Kagura dengan sebuah cincin yang melingkar tepat di jari manis gadis itu. Wajah mereka nampak bahagia dengan semburat merah menghiasi wajah keduanya. Kagura tengah mengenakan gaun panjang berwarna Dark red dan begitupun Sougo yang mengenakan jas berwarna sama.

Kagura memperhatikan setiap foto yang ada di halaman album tersebut. Dibukanya halaman selanjutnya yang menampakan foto mereka berdua di sebuah pantai, sedang liburan sepertinya. Kagura tersenyum tipis melihat foto-foto dirinya bersama Sougo. Diperhatikannya setiap foto yang berada di lembar-lembar berikutnya. Senyum Kagura menghilang ketika menyadari bahwa tak satupun dari moment di foto tersebut yang dia ingat. Tatapannya berubah sendu.

Menyadari perubahan raut wajah Kagura, Sougo segera menarik kepala gadis tersebut untuk bersandar di dadanya, "Tak masalah jika kau tidak mengingatnya, Kagura. Dengan adanya dirimu sekarang di tempat ini, itu sudah cukup," ucap Sougo lembut, "Karena, apapun kondisinya, kau tetap milikku dan aku tetap milikmu." Lanjutnya yang dibalas anggukan kecil dari Kagura.

"Apakah Sougo Nii-Sama mencintaiku?" tanya Kagura.

Sougo terdiam kaku. Mendengar pertanyaan Kagura membuat dirinya merasa de javu. Pertanyaan ini sama sepert pertanyaan terakhir Kagura saat itu. Raut wajahnya seketika menegang. Suhu tubuhnya mendadak turun.

"Nii-Sama?" Kagura menengadah kepalanya menatap wajah Sougo yang berubah pucat, "ada a-," belum sempat gadis itu melanjutkan kalimatnya, tubuhnya kembali di rengkuh erat oleh Sougo.

Sougo memeluk erat tubuh Kagura, pertanyaan gadis itu tadi bagai mantra sihir yang membuat pikirannya tak tenang. Andai saat itu, dia langsung menjawab tanpa, harus mempertanyakan maksud pertanyaan gadisnya itu, kejadian waktu itu mungkin tidak akan terjadi dan Kagura akan terus mengingat moment-moment kebersamaan mereka. Gadisnya itu juga mungkin tak akan merasakan rasa sakit, sedih, dan yang terpenting, gadisnya itu akan tetap bisa berada di rumahnya sendiri.

Jujur, Sougo sangat senang karena Kagura tinggal bersamanya, namun dia juga merasa bersalah di waktu yang bersamaan.

Kagura mencoba lepas dari pelukkan Sougo karena pemuda itu tak kunjung menjawab pertanyaannya namun, Sougo semakin mengeratkan pelukannya. Rasa penasaran kembali muncul kebenak Kagura. Dia yakin, ada yang disembunyikan oleh mereka semua, tentang dirinya.

"Aku sangat mencintaimu, Kagura. Lebih dari siapa pun. Kau adalah perempuan yang paling aku sayangi setelah, Haha-Ue dan Mitsuba Ane-Ue," Jawab Sougo setelah lama dirinya terdiam. Sougo semakin mengeratkan pelukannya, seakan tak ingin melepas Kagura pergi lagi. Sudah cukup, dia hampir kehilangan gadisnya sekali. Dia tak ingin kehilangan sosok vermilion ini lagi.

Hati Kagura menghangat mendengar jawaban Sougo. Perasaan senang dan sedih bercampur menjadi satu. Dia senang mendengar Sougo yang begitu mencintainya namun, hatinya tak berbohong jika dia sedih karena tak mengingat apapun tentang mereka.

"Aku senang," balas Kagura seraya membalas pelukkan Sougo, senyum Sougo terkembang, "Tapi, aku masih ragu akan perasaanku," lanjut Kagura yang membuat Senyum sougo memudar.

"Onii-Sama tau, dari dulu, aku ingin sekali menjadi pendamping Nii-Sama. Mungkin, aku akan belajar kembali untuk mencintaimu. Melihat wajah ceriaku yang tercetak di sini, aku pasti sangat mencintai Sougo Nii-Sama." Lanjut Kagura panjang. Dia membenarkan posisi kepalanya yang bersandar di dada bidang Sougo.

Sougo tersenyum cerah,"Aku pasti akan membuatmu kembali jatuh cinta kepadaku." bisiknya. Kagura hanya menangguk singkat sambil tersenyum samar. Mendadak kepala terasa sedikit sakit ketika, melihat sosok gadis bersurai biru di salah foto itu. ntah kenapa, dirinya merasa pernah melihat gadis itu.

"Ngomong-ngomong, Nii-Sama, Siapa gadis berhelaian biru ini? Sepertinya, dia juga berada di Rumah Sakit saat aku dirawat kemarin, bukan?" tanya Kagura seraya menunjuk siluet gadis berhelaian biru sepunggung, yang turut foto bersama di acara pertunangan mereka.

Wajah Sougo kembali pucat saat, matanya beralih melihat gadis berhelaian biru yang di tunjuk Kagura. Sougo nampak panik. Dia bingung untuk menjelaskan siapa gadis itu kepada kagura.

"Dia itu..,"

t~b~c


Terima Kasih untuk semua yang telah membaca karya Author ^^