Happy reading
.
.
Seorang yeoja yang tengah terbuai dalam mimpinya menggeliat gelisah ketika merasakan hangat dan silaunya mentari pagi yang menyilaukan matanya yang masih terkatup sempurna.
"Sudah waktunya bangun, Nona."
"Umhh... 5 menit lagi, Imo...," gumamnya di antara sadar dan tidak.
"Tapi Nona, ini sudah lewat dari waktu yang seharusnya. Anda harus bersiap sebelum guru anda datang," ucap –sosok entah siapa- yang membangunkannya itu, masih dengan nada sabar namun tegas.
Sementara sang yeoja yang masih di ambang kesadaran mulai dapat menangkap sesuatu yang dirasanya janggal.
Sejak kapan Park imo membangunkanku dengan cara setenang ini? Biasanya dia selalu berteriak-teriak heboh seperti akan tersapu tsunami, bukan? Dan apa itu tadi? Dia memanggilku nona? Ehh, tunggu... nona?! NONA?!
SRAAKK!
Dan seketika yeoja itu terbangun. Ia langsung duduk tegak dari posisi awalnya, diabaikannya kepalanya yang terasa pening karena gerakannya yang mendadak itu. Ia menatap tajam sosok pemuda berseragam pelayan yang kini tengah tersenyum simpul.
"Ahh. Akhirnya anda bangun. Selamat pagi, Nona...," sapa pemuda itu dengan senyum -sok- ramah, menurutnya.
"Nuguya?!" tanya yeoja itu dengan suara rendah menyeramkan, matanya masih menatap tajam sosok di hadapannya, seakan siap membunuhnya kapan saja.
"Ah, maafkan saya. Saya lupa memperkenalkan diri. Shim Changmin imnida, saya adalah butler pribadi sekaligus bodyguard anda mulai hari ini."
Ahh. Pasti ini ulah Imo lagi. Dia benar-benar keras kepala! Tunggu, siapa namanya tadi? Rasanya terdengar familiar.
"Daripada anda bergelung dengan pemikiran anda sendiri, lebih baik anda segera mandi, Nona. Saya sudah siapkan bak mandinya, dan juga... anda tahu, Nona?"
Kalimat berbunyi pertanyaan yang terakhir terlontar itu membuat sang yeoja kini menatap penuh tanya ke arah pemuda di hadapannya, meskipun raut wajahnya nyaris tak berubah. Tetap datar tanpa ekspresi.
"Penampilan anda benar-benar buruk, sama sekali tidak mencerminkan penampilan seorang bangsawan. Lagipula, anda tidak terlihat begitu menarik meskipun dengan baju seperti itu, karena anda terlalu 'datar', Nona," ujar sang butler dengan wajah innocent-nya.
Butuh beberapa saat lamanya bagi yeoja itu untuk berpikir...
Berani sekali dia mengata-ngatai majikannya. Dan apa katanya tadi? Tidak menarik? Datar? Ehh, tunggu, tunggu... DATAR?!
Ia menunduk, menatap seluruh bagian tubuhnya sendiri yang -pastinya- masih sangat berantakan dengan hanya berbalut piyama tipis nyaris transparan. Seketika itu wajahnya memerah dengan sempurna.
"KELUAR KAU DARI SINI! PELAYAN SIALAN!"
Dan suara indahnya yang bisa memecahkan kaca jendela itu membuka paginya yang damai.
#
"GYAHHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!"
Yeoja itu menatap bosan ke arah yeoja paruh baya yang masih saja tertawa tak berhenti di hadapannya. Ia benar-benar kesal sekarang.
"Imo! Apa-apaan kau ini?! Aku sudah bilang aku tidak ingin memiliki bodyguard ataupun semacamnya! Dan kalaupun harus, mengapa harus orang itu?!" yeoja itu mulai kehilangan kesabarannya. "Berhentilah tertawa! Itu tidak lucu!" pekiknya lagi.
"Ohh... my, my, Kyunnie sayang, aku hanya... dia... hhahahahahahaha!"
"Imo!" yeoja itu, Kyuhyun, memekik untuk yang kesekian kalinya.
"Baik, baik, imo minta maaf...," ujar sang yeoja paruh baya yang merupakan bibi dari Kyuhyun itu setelah berhasil menetralisir tawanya, ia sedikit mengusap sudut matanya yang berair.
"Dia adalah salah satu orang yang melamar pekerjaan beberapa hari lalu. Aku sudah melihat kemampuannya, dia butler yang sangat kompeten. Dia berbakat, pandai, cepat belajar, dan yang terpenting... dia tampan. Coba bayangkan jika ia melayanimu dengan kekuatan penuh~"
"Ehh... kekuatan penuh?"
JREEEENGGG~ (*Langkah-langkah menjadi orang dewasa. :v)
Kyuhyun merinding seketika sementara bibinya kembali terbahak melihat reaksi dari keponakannya yang kini berwajah horror.
"Jangan bercanda! Itu bukan alasan! Imo memilihnya hanya karena dia tampan?! Sudah kubilang aku tak butuh!" Kyuhyun menurunkan suaranya setelah merasa emosinya sedikit mereda.
"Masalahnya, Kyunnie sayang, dua minggu lagi aku akan pergi ke Perancis untuk waktu yang cukup lama. Aku tak mungkin membiarkanmu sendirian di rumah sebesar ini."
Kyuhyun, yang dipanggil 'Kyunnie' oleh bibinya itu hanya bisa mendengus mendengar alasan yang keluar dari bibir yeoja yang kini menjadi walinya itu.
Park Leeteuk, atau yang kerap ia panggil Leeteuk imo itu memang memegang hak asuh penuh atas dirinya sejak kedua orang tuanya meninggal 5 tahun yang lalu. Leeteuk adalah bibi yang baik. Sangat baik. Dan Kyuhyun sangat menyanyanginya meskipun ia tak begitu menunjukkannya.
Hanya saja, terkadang Kyuhyun merasa bahwa bibinya itu terlalu over protective padanya, bahkan ia seringkali merasa diperlakukan seperti bayi. Dan itu menyebalkan. Contohnya saat ini.
"Tapi Imo, aku sudah dewasa. Sebentar lagi umurku 18 tahun dan aku akan bergabung bersama khalayak ramai dengan status sebagai orang dewasa. Aku tak perlu diawasi terus-menerus."
"Tapi tetap saja aku khawatir, Kyunnie. Apalagi jika kau sendirian. Baik, kuakui kau memang memiliki otak yang cerdas, pemikiran yang tajam dan bakat yang sangat besar untuk meneruskan perusahaan. Tapi... kau itu benar-benar calon istri yang buruk, Kyunnie."
"Aku bahkan masih tidak mengerti bagaimana caramu meledakkan kompor hanya dengan merebus air! Bahkan menghangatkan makanan di microwave saja kau tidak bisa. Bagaimana aku bisa meninggalkanmu sendiri? Kau ingin mati kelaparan? Perlu kau ingat, aku pergi hampir 3 bulan lamanya, dan selama itu, apa kau ingin hidup hanya dengan air dan susu?"
"Aku kan bisa membeli makanan. Di luar sana banyak orang yang menjualnya, kan?"
"Makanan di luar itu tidak sehat. Lagipula, mansion kita lumayan jauh dari keramaian kota. Delivery tak akan mau mengantarkan ke mari dan kau tidak bisa mengendarai mobil. Lalu kau akan bagaimana? Jalan kaki, begitu? Dan berakhir dengan disergap dan diculik orang seperti biasa? Dengan pengawalan ketat saja kau masih sering menjadi korban penculikan.
"Dan lagi, aku akan berangkat dalam waktu yang tidak lama lagi. Kurang dari dua minggu. Tidak ada waktu untuk mencari yang lain, meskipun kau tidak suka."
Kyuhyun tidak bisa membantah lagi. Telinganya panas mendengar ocehan bibinya sedari tadi, tapi mau tak mau ia harus mengiyakannya karena semua itu benar adanya...
"Jadi, tidak ada bantahan, oke?"
Kyuhyun mau tak mau akhirnya mengangguk meski dengan ekspresi penuh ketidak-relaan.
"Good girl, sekarang cepat habiskan sarapanmu. Lalu bersiap-siaplah. Gurumu akan datang tak lama lagi."
#
Kyuhyun sedang menyiapkan bukunya ketika ia mendengar ketukan di pintu.
"Masuk." Ujarnya tanpa mengalihkan tatapannya dan menghentikan kegiatannya.
"Permisi, Nona."
Dan tanpa menolehpun, Kyuhyun tahu siapa yang datang. Orang yang mengacaukan paginya hari ini. Butlernya, Changmin.
"Sedang apa kau?"
"Saya mengantarkan cemilan dan teh."
"Ohh..."
"Ngomong-ngomong, kau masih belum mengingat siapa aku?"
Nada dan cara bicara Changmin yang mendadak berubah membuat Kyuhyun terdiam, ia menghentikan kesibukannya dan berbalik menatap sang butler yang ternyata kini telah berdiri di belakangnya.
"Apa maksudmu?"
"Kau tentu tidak lupa dengan kontrak yang telah kita sepakati, bukan?"
"Ehh..."
Kyuhyun mencoba berpikir keras. Kontrak? Kontrak apa? Ia tidak ingat pernah menandatangani kontrak apapun kecuali... tunggu, mimpi itu! Dalam mimpinya semalam, ia mengingat bahwa ia berkata bersedia membuat kontrak dengan iblis bernama Changmin dengan jiwanya sebagai jaminan. Mungkinkah...
"Kau benar, itu bukan mimpi. Nona."
Kyuhyun tersentak ketika Changmin dengan tepat membaca apa yang ia pikirkan. Dan yeoja itu menjadi semakin waspada ketika obsidian di hadapannya kini menatapnya tajam dengan seringai yang menurutnya memberikan simbol bahaya.
"Atau kau masih menginginkan bukti?"
BRAKK!
Dengan sekali dorong, Changmin menyudutkan yeoja di hadapannya tepat di depan cermin meja rias. Dengan mudah ia memutar tubuh yeoja itu dan memenjarakannya dengan lengannya. Membuat Kyuhyun menatap kaku bayangannya di cermin dengan posisi yang... err... author malas menjabarkannya. (#digebukpembaca)
Jemari ramping Changmin meraih dagu Kyuhyun, memaksanya tetap tegak memandang bayangan mereka di depan sana. Sementara tangan sebelahnya menyibak anak rambut yang menutupi dahi yeoja itu.
"Lihat?" ujarnya sembari menyeringai.
Kelopak mata Kyuhyun melebar ketika menangkap sesuatu di dahi kanan bagian atasnya yang tertutup poni. Lambang Faustus. Simbol kontrak yang mereka lakukan.
Sejak kapan tanda itu disana? Kenapa aku tak pernah sadar?
"Tanda itu ada sejak semalam. Tepatnya sejak kontrak telah sah dibuat dan sekarang... kau tidak akan pernah bisa lari dariku," ujar Changmin dengan seringainya yang makin melebar, "Jadi, kau menyesal... Nona?"
Kyuhyun tertunduk dan diam beberapa saat sebelum akhirnya terkekeh pelan, membuat kini ganti Changmin yang menatap pantulan bayangannya di cermin dengan tatapan penuh tanya.
"Menyesal? Aku? Jangan bercanda," jawabnya sembari tersenyum sinis, Kyuhyun balas menatap obsidian changmin di cermin itu dengan doe eyes-nya yang jernih. Membuat mereka saling tatap melalui perantara cermin.
"Justru bagus jika itu bukanlah mimpi. Itu artinya, sesuai perjanjian. Kau adalah pelayanku mulai hari ini. Pelayanku yang setia, melindungiku sampai akhir dan melakukan perintahku tanpa syarat. Jangan khawatir, kau akan dapatkan apa yang kau mau setelah itu. Lagipula bagiku, jiwa ini memang tidak begitu berharga."
Changmin tertegun beberapa saat sebelum akhirnya terkekeh lirih, membuat Kyuhyun kembali menatapnya tajam.
"Apa yang lucu?"
"Tidak. Hanya saja... kau menarik," Changmin menyeringai, "sangat menarik."
"Apa yang-"
Krieeett...
"Kyunnie, kau di dalam? Imo-"
Hening...
3 detik...
5 detik...
10 detik...
Now, loading...
Loading...
Load-
"Ohh, maafkan aku. Aku pasti mengganggu ya? Silahkan, lanjutkan saja. Kyunnie, imo akan menemuimu lagi nanti. Daaach~"
Blam.
Pintu tertutup. Namun kemudian-
"Aku mengerti, tapi jangan sampai jadi bayi sebelum waktunya yaach~"
BRAKK!
-dan pintu kembali tertutup.
Kyuhyun dan Changmin saling pandang selama beberapa saat sebelum-
"IMOOO! KAU SALAH PAHAAAAAAMMM!"
-suara pekikan cempreng itu terdengar entah yang keberapa kalinya hari ini.
Kalian tentu ingat bahwa posisi awal mereka yang amat sangat dapat menyebabkan kesalahpahaman itu tadi belum berubah, bukan?
To be continued
