Happy reading

.

.

Kyuhyun duduk menopang dagu. Menatap Changmin yang sedari tadi mondar mandir dengan sibuk sementara bibinya tampak mengarahkan dan sedikit memberi komando.

Matanya mengikuti pergerakan namja yang sudah hampir dua minggu ini menjadi butlernya itu. Pikirannya kembali menerawang. Jika dipikir-pikir lagi, selama beberapa hari ia mengamati orang itu, ia tak mendapati ada yang aneh.

Changmin itu, pekerjaannya sempurna. Ia cekatan, pandai dan sangat berbakat seperti yang pernah dikatakan oleh bibinya. Selain lambang Faustus yang tiba-tiba muncul di dahinya itu, benar-benar tak ada hal yang janggal tentang Changmin menurutnya.

Butlernya itu juga tak pernah lagi menyinggung soal apapun tentang iblis, kontrak atau apapun. Benar-benar seperti tak pernah terjadi apa-apa. Seakan-akan mereka benar-benar hanya pelayan dan majikan.

Membuat Kyuhyun sedikit meragu sebenarnya. Rasanya semua yang terjadi beberapa hari lalu, dapat dikatakan terlalu konyol untuk menjadi sebuah kenyataan. Namun di saat yang sama juga terasa terlalu nyata jika dikatakan sekedar mimpi.

"Kyunnie, kau tidak ikut mengantar ke bandara?"

Teguran dari Leeteuk membawa Kyuhyun kembali ke alam sadarnya.

"Tidak, Imo. Aku-"

"Kau harus ikut."

Kyuhyun diam ketika perkataan yang terdengar menuntut itu terdengar dari bibinya, membuat ia akhirnya memilih menurut dengan pasrah.

'Lalu untuk apa bertanya jika akhirnya juga dia memaksaku harus ikut?', sungutnya dalam hati.

"Cepatlah bersiap."

"Ne, Imo."

Dan tanpa banyak protes, Kyuhyun segera berdiri dari posisinya. Pergi ke kamarnya untuk bersiap, mengikuti perintah sang bibi.

#

Kyuhyun mematut dirinya di hadapan cermin.

Terbersit di pikirannya tentang sesuatu di dahinya, ia kemudian menyibak poninya dan kembali mengamati simbol itu.

Tanda itu tak hilang. Itu artinya ia bukannya lalai hingga jatuh tertidur di atas stempel bertinta seperti yang biasa ia lakukan. Bukan. Lagipula ia tak pernah memiliki stempel dengan bentuk seperti itu.

Yah, tentu ia tahu. Sejak beberapa hari lalu ia memang memikirkan hal itu, tapi meskipun ia menggosok kuat hingga dahinya terasa panas, tanda itu memang tak hilang. Jadi sudah jelas, bukan?

Tok. Tok.

Ia sedikit teralih ketika mendengar pintu kamarnya diketuk.

"Masuk."

Dan kemudian, dari pantulan cermin ia bisa melihat Changmin masuk dan mendekatinya.

"Anda sudah selesai, nona?"

"Ne. Kajja."

Ia menatap sedikit heran ketika Changmin tak bergeming dari tempatnya dan masih tampak mengamatinya.

"Mwo?" tanyanya datar.

"Anda akan tampak berantakan jika pergi keluar dengan rambut terurai seperti itu," Changmin mengeluarkan pendapatnya. Di luar dugaan, butlernya yang satu ini adalah orang yang sangat perfeksionis.

"Lantas?" balas Kyuhyun acuh.

"Duduklah. Saya akan merapikan rambut anda."

"M-mwo?! Jangan bercanda!" suara Kyuhyun sedikit meninggi dengan wajahnya yang kini dirambati serabut kemerahan karena malu.

"Aku bukan anak kecil!"

"Memang bukan. Tapi anda akan terlihat berantakan jika pergi keluar dengan kepala seperti itu, dan saya juga tidak bisa membiarkan anda mengepang rambut sendiri karena itu akan membuat anda terlihat semakin memalukan," balas Changmin dengan senyum simpulnya yang menyebalkan.

"Saya tidak bisa membiarkan majikan saya terlihat seperti berandalan di luar rumah. Jadi ikutilah saran saya dan biarkan saya merapikannya untuk anda."

Kyuhyun menatap kesal wajah yang masih saja tersenyum menyebalkan itu. Meskipun pada akhirnya ia mendengus dan memilih untuk mengalah.

"Ya sudah. Cepat!" cetusnya kesal.

Kyuhyun duduk di kursi riasnya dengan sedikit menghentak, sementara sang butler sedikit terkekeh melihat tingkah nonanya itu.

Beberapa lama, Changmin tak juga mulai mengerjakan apa yang seharusnya ia lakukan, membuat yeoja di hadapannya kembali menoleh dengan kesal.

"Kenapa tidak mulai juga? Cepatlah! Kita bisa dimarahi Leeteuk imo!"

'Yah… setidaknya itu lebih baik daripada ia salah sangka seperti dulu sih. Itu lebih memalukan.' sambungnya dalam hati, melupakan fakta bahwa Changmin, butlernya, dapat mendengar apapun yang ia katakan di awang-awangnya.

"Maaf sebelumnya, Nona. Tapi bisakah anda melepas penutup mata anda lebih dulu? Benda itu akan mengganggu, dan bisa berbahaya jika benangnya terkena mata anda."

Kyuhyun terdiam sesaat mendengar permintaan itu.

"Tidak," jawabnya kemudian, telak.

"Tapi no-"

"Kubilang tidak!"

Hening menguasai mereka sejenak ketika Kyuhyun tiba-tiba membentak. Changmin tersenyum maklum kemudian.

"Saya tidak akan menanyakan apapun tentang apa yang anda sembunyikan di sana. Saya janji."

Oh, dan sekarang Kyuhyun tahu. Selain perfeksionis, butlernya ini juga benar-benar keras kepala.

Kyuhyun menghela napas. Percuma berdebat, hal itu akan membuat mereka semakin lama saja. Akhirnya, dengan berat hati ia melepaskan eye-patch yang selalu menutupi mata kanannya itu. Sang butler kembali tersenyum, menyampaikan terima kasih yang tersirat di sana.

Yeoja itu tak dapat menyembunyikan rona di wajah kesalnya ketika ia menatap pantulan bayangannya sendiri bersama butlernya yang kini tengah mengepang rambutnya. Ini memalukan! Ia terlihat seperti seorang balita yang sedang didandani oleh kakaknya.

Sementara Changmin, di wajahnya terlukis raut heran yang kemudian dapat ia sembunyikan dengan baik. Sedikit aneh menurutnya. Mata milik majikannya itu sama sekali tidak cacat atau terluka sedikitpun. Namun mengapa yeoja itu selalu menyembunyikan obsidian-nya di balik penutup mata?

Changmin bisa saja menguak paksa ke dalam ingatan masa lalu yeoja itu dengan kekuatannya, namun ia merasa, ia sedang tidak ingin membaca majikannya itu saat ini. Ia lebih ingin sang majikan menceritakan sendiri hal itu kepadanya suatu saat nanti.

Ah, iblis itu terhenyak karena pemikirannya sendiri. Entah apa yang ia pikirkan, tapi terkadang ia merasa ada sesuatu yang lain yang ia rasakan ketika bersama yeoja yang baru dua minggu ini menjadi majikannya ini.

Sesuatu yang membuatnya merasa ingin melindungi yeoja itu. Bukan karena estetika, tapi lebih karena ingin. Ya, hanya ingin.

Sejak awal ia memang merasa Kyuhyun itu menarik. Ia berbeda dengan orang-orang yang pernah terikat kontrak dengannya. Yeoja ini punya banyak sisi miterius, juga kejutan.

"Selesai. Seperti ini saja tak apa kan, Nona? Kita tak punya banyak waktu."

"Hm," gumam Kyuhyun yang langsung berdiri, memakai kembali eye-patch miliknya dan melangkah mendahului Changmin tanpa mengatakan apapun lagi.

#

"Sudah siap? Kenapa lama sekali?" tegur Leeteuk ketika Kyuhyun menghampirinya.

"Ayo pergi," jawab Kyuhyun mengacuhkan pertanyaan bibinya, ia melewati bibinya begitu saja menuju mobil.

"Ada apa dengan anak itu? Rasanya mood-nya baik-baik saja sebelum ini…?" gumam Leeteuk sedikit heran mendapati keponakan manisnya yang terlihat makin judes.

"Kau tahu sesuatu, Changmin?" tanyanya kemudian ketika sang butler lewat sembari menenteng koper besar miliknya. Yang hanya dijawab Changmin dengan gelengan tanda ia pun tak tahu.

Yang jelas, sejak keluar dari kamar, aura yang dipancarkan yeoja itu makin berat dan suram saja. Dan haruskah saya mengulangi bahwa iblis itu sedang tak ingin membaca sang majikan saat ini?

Mungkin Kyuhyun hanya sedang tersinggung karena perlakuannya barusan. Ah, siapa peduli? Mau sedang senang atau marah sama saja, yeoja itu memang selalu terlihat judes. Raut aristokratnya, juga sifatnya yang arogan serta pembawaannya yang tenang dan dingin benar-benar membuatnya melekat dengan image itu.

"Sebaiknya kita segera pergi, Mrs. Park. Anda tidak ingin ketinggalan pesawat bukan?" tegur Changmin sopan, namun kemudian ia sedikit heran ketika yeoja yang ia sebut Mrs. Kim itu tak juga bergeming dari posisinya.

Ia justru menatap mobil yang kini 'menelan' sosok keponakannya itu dengan raut sulit terbaca.

"Changmin…."

"Ya, Mrs. Park?"

"Aku percaya padamu. Tolong jaga anak itu selama aku pergi. Aku tidak begitu menginginkan sesuatu yang buruk terjadi padanya."

Dan Changmin menangkap sesuatu yang janggal dari kalimat yang terdengar seperti permohonan itu, namun ia memilih untuk tidak berkomentar.

"Kau sanggup bukan?"

Sang butler tersenyum ketika kalimat itu kini berubah menjadi sesuatu yang lebih menuntut. Ia membungkukkan tubuhnya dengan sopan.

"As your wish, Mrs. Park."

#

"Imo pergi. Jaga dirimu, oke."

Kyuhyun tersenyum tipis ketika Leeteuk menariknya ke dalam pelukan hangat.

"Jaga dirimu di sana, Imo."

"Seharusnya itu kata-kataku," Park Leeteuk melepas pelukannya.

"Changmin, aku titip anak ini. Jaga dia, mengerti?" ia melirik sang butler.

Changmin tersenyum dan membungkuk, "Saya mengerti."

Sementara itu, Kyuhyun kembali merengut. Hei, ia bukan anak kecil, tapi perlakuan orang-orang ini seakan mereka sedang mengasuh bocah 5 tahun. Namun ia memilih untuk tidak berkomentar.

Leeteuk melambai memberi salam perpisahan untuk terakhir kali sebelum sosoknya hilang ditelan badan pesawat. Kini hanya Kyuhyun dan Changmin yang berdiri di sana.

"Kita pulang, Nona? Atau anda mau pergi ke suatu tempat lebih dulu?"

"Aku haus."

Changmin tersenyum, "Ingin pergi ke suatu tempat?"

"Aniyo, beli saja apapun yang bisa diminum. Kita langsung pulang."

"Baik. Mohon tunggu di sini, saya segera kembali."

Kyuhyun menatap punggung butlernya yang semakin menjauh. Ia kemudian memilih untuk duduk dan menunggu di kursi yang disediakan di sekitar bandara, sampai tiba-tiba sebuah tangan yang membekapnya membuatnya tersentak.

Yeoja itu sedikit meronta, namun menyadari usahanya sia-sia, akhirnya ia lebih memilih untuk diam. Ia melirik ke arah orang yang masih membekapnya itu dengan tatapan tajam. Ada dua orang yang berdiri di belakangnya, menatapnya dengan senyum jahat.

"Sendirian saja, nona? Bagaimana jika ikut kami?" bisik lelaki berbadan tambun yang masih membekapnya.

"Kami bersenjata, lho…," tambah rekannya yang berkepala plontos, "anda tentu tak ingin sampai terjadi keributan disini bukan? Tenang saja, kami hanya minta tebusan kok. Kami tak akan membunuhmu."

Bermaksud menculikku, heh? Merepotkan sekali. Tapi… mereka benar-benar nekat. Atau mungkin terlalu bodoh? Berani sekali mereka menyergap seseorang ditengah keramaian seperti ini?,Kyuhyun sibuk dengan pemikirannya sendiri. Atau jangan-jangan… mereka bukan orang biasa?

Yeoja itu tetap berdiri tenang tanpa membuat keributan yang berarti. Yahh, bisa dibilang, ia sudah terlalu terbiasa menjadi korban penculikan seperti ini.

Ingat, dia pewaris tunggal dari perusahaan yang nyaris terbesar di negaranya saat itu. Ia sering diliput oleh majalah maupun tv, dan itu membuatnya cukup mudah dikenali.

Kyuhyun juga suka jalan sendirian tanpa dikawal oleh siapapun. Jelas saja jika dirinya menjadi target penculikan.

Saking seringnya, ia jadi terbiasa. Karena itulah ia mampu bersikap setenang itu. Dan seandainya tidak ada yang menyelamatkannya pun, ia cukup percaya diri dengan kemampuannya untuk menyelamatkan diri. Namun…

'Jika seandainya aku menghilang, apa yang akan dilakukan orang itu, ya? Sepertinya ini akan menarik.'

Kyuhyun sedikit menyeringai ketika teringat pada butlernya.

Sementara kedua orang yang menyergapnya itu melihat 'korban' mereka tak banyak bereaksi, mereka segera menggiring yeoja itu keluar dari kawasan bandara.

Kyuhyun sendiri memilih mengikut saja. Ia tak ingin sampai ada keributan, apalagi mereka bersenjata. Lagipula…

'Aku tidak sabar melihat bagaimana kekuatan seorang iblis…'

Dan seringai kembali menghiasi wajah manisnya.

To be continued

Annyeong yeorobun...kamsahamnida untuk yang sudah nyempetin review ff remake ini #BOW