Happy reading
.
.
Changmin menengok ke sana ke mari ketika ia kembali dan tidak mendapati nonanya berada di tempat ia menunggu sebelumnya. Matanya menangkap sesuatu, tas yang dibawa Kyuhyun teronggok begitu saja di atas sebuah kursi.
"Kemana anak itu? Apa mungkin ke toilet?" gumamnya.
Ia kembali menatap sekitar, dan akhirnya memutuskan untuk bertanya kepada seorang wanita yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Orang itu tampaknya sudah berada di sana sejak tadi karena ketika ia pergi, wanita itu juga disana.
"Maaf, nyonya," panggilnya sopan, yeoja itu menoleh lantas tersenyum.
"Ada yang bisa kubantu?"
"Apa kau tahu ke mana perginya orang yang duduk di sana?" tanya Changmin menunjuk kursi tempat ia menemukan tas milik Kyuhyun.
"Ah, yeoja itu? Tadi kulihat ia duduk sendirian di sana, kemudian ada dua orang lelaki yang menghampirinya lalu ia pergi bersama mereka."
"Kau tahu mereka pergi ke mana?"
Yeoja itu menggeleng, "Aku tidak memperhatikan, tapi mungkin mereka pergi ke luar area bandara," jawabnya tak yakin.
Ah, mungkinkah diculik?, pikirnya tak yakin.
Tentu saja, penjahat bodoh mana yang nekat menyergap seseorang di tengah keramaian seperti ini? Tapi, bukan berarti itu tak mungkin.
"Kalau begitu. Terima kasih banyak."
"Sama-sa..."
Senyum yeoja itu memudar, berganti dengan ekspresi syok ketika secepat kilat pemuda di hadapannya berlari menjauhinya begitu saja.
"Ce-cepat sekali...?"
#
"Masuk!"
Dengan tenang, Kyuhyun menurut dan mendudukkan dirinya di jok belakang mobil. Di dalam mobil itu ternyata telah ada seorang rekan mereka yang menunggu di kursi pengemudi.
"Hooo, lihat apa yang kalian dapat? Manis sekali," komentar namja yang duduk di belakang setir itu. "Dia akan sangat mahal jika dijual."
"Jangan sembarangan," sahut namja berkepala plontos yang kini duduk di sebelahnya. "Kau tidak tahu anak ini? Dia anak orang yang sangat kaya, Cho Kyuhyun. Kita akan dapat masalah jika pemberitaan hilangnya dia tersebar."
Aahh, ternyata mereka mengenalku?
Kyuhyun menoleh ketika namja berbadan tambun yang tadi membekapnya membuka pintu mobil dan duduk di sebelahnya.
"Dia benar. Sebaiknya kita hanya minta tebusan, jadi tidak perlu berurusan dengan polisi. Yaah, itupun jika mereka cukup pandai untuk tidak melapor," tambah lelaki yang duduk di sebelah Kyuhyun, "karena kami tak akan segan-segan berlaku kasar jika orang-orangmu itu tidak menuruti apa yang kami katakan, nona manis."
Kyuhyun hanya menatap dingin ketika lelaki tambun itu meraih dagunya dan tersenyum menjijikan kepadanya.
"Sebaiknya kita segera pergi," komando si plontos, kemudian mobil itu segera melaju meninggalkan area parkir.
#
"Di mana mereka?"
Changmin menoleh ke sana ke mari, mencoba menemukan keberadaan sang nona. Ia tahu bahwa yeoja itu masih ada di sekitar tempat ini, ia bisa merasakan hawa milik sang majikan.
Ia melirik sebuah mobil yang baru saja meninggalkan area parkir, bersamaan dengan hawa milik Kyuhyun yang ia rasakan menjauh dan perlahan menghilang.
Sang butler tersenyum simpul kemudian, obsidian-nya menampakkan warna merah cerah untuk sesaat. Mata milik sosok iblisnya.
"Tidak salah lagi."
Ia kemudian segera melangkah ke mobil yang dibawanya. Mengejar mobil yang membawa sang nona sebelum semakin menjauh.
#
"Hei, sepertinya kita diikuti."
Si namja tambun beberapa kali menoleh ke belakang, memastikan sebuah mobil yang ia rasa mengikuti pergerakan mereka sedari tadi. Hal itu semakin jelas ketika mereka keluar dari kawasan kota yang ramai menuju tempat yang lebih sepi.
Mobil berwarna silver itu memang membuntuti mereka.
Kyuhyun yang sedikit penasaran ikut menoleh ke belakang. Lantas yeoja itu tersenyum.
"Itu pelayanku," gumamnya, membuat ketiga namja itu menatapnya. "Dia pasti sudah menyadarinya."
"Heh, secepat itu? Hebat juga dia," komentar namja yang berada di kursi pengemudi, kemudian ia meningkatkan laju mobilnya. "Kita lihat apa dia bisa mengejar."
"Sehebat itukah pelayanmu? Mungkinkah karena itu kau bersikap sangat tenang sedari tadi, nona? Sedikit mengherankan melihatmu bersikap seperti itu dalam keadaan seperti ini."
"Hhh!" Kyuhyun kembali duduk menghadap depan, dengan santai bersandar di jok mobil, menyilangkan kakinya dan melipat kedua tangannya di depan dada.
"Lantas apa? Kau ingin aku menangis dan berteriak minta tolong, begitu?" ia menatap namja di depannya itu dengan tatapan sinis merendahkan.
"Keberanianmu itu patut dipuji," balas namja itu, menyeringai.
"Sial. Dia mendekat!" namja tambun di sebelah Kyuhyun terlihat sedikit cemas ketika mobil silver yang tadi di belakang mereka kini hampir menyusul.
Kyuhyun yang awalnya duduk dengan santai segera mencari sesuatu untuk berpegangan ketika mobil yang ia tempati mulai melaju di luar batas demi menghindari mobil yang dikendarai Changmin.
"Aku akan menembaknya!"
Kyuhyun sedikit terkejut mendengarnya, terlebih ketika lelaki plontos yang duduk di depannya itu mencondongkan tubuhnya keluar dari jendela mobil sembari mengacungkan pistolnya. Sedikit berharap butlernya itu bisa mengatasi ini.
Ia menoleh ke belakang ketika namja itu melepaskan peluru beberapa kali, dan bernafas lega setiap kali Changmin tampak berhasi menghindarinya.
Namun kemudian ia tercekat ketika salah satu peluru tampak memecahkan ban mobil di belakangnya. Kemudian satu lagi peluru menembus kaca depan mobil, dapat dipastikan mengenai orang yang duduk di kursi kemudi. Mobil itu oleng sebelum akhirnya menabrak pohon besar di tepi jalan.
Changmin... apa dia baik-baik saja?, ia sedikit cemas, namun segera menepis rasa cemasnya itu. Cih, dia kan bukan manusia. Benar-benar tidak lucu jika langsung mati begitu saja hanya karena itu.
Namun perasaannya memang tidak bisa berbohong. Ia cemas. Terbukti karena ia masih saja tak melepaskan tatapannya pada mobil yang kini teronggok bak sampah di tepi jalan.
"Sayang sekali, Nona," Kyuhyun kembali menatap ke depan ketika namja plontos kembali bersuara. "Tampaknya kau harus menunggu sedikit lebih lama untuk diselamatkan."
"Cih."
Kyuhyun hanya berdecih ketika namja itu terkekeh menyebalkan.
"He-hei... Di-dia masih mengikuti kita! Orang itu mengejar kita!" pekik namja tambun, sedikit takut ketika melihat sosok seseorang yang mengejar mereka.
"Tidak mungkin! Kita melaju dalam kecepatan penuh, mana mungkin dikejar dengan berlari!" jawab namja dibelakang kemudi, sedikit panik.
"Aku akan menembak lagi!"
Kyuhyun sedikit tercengang ketika ia benar-benar melihat Changmin yang berlari mengejar, dengan mudah menghindari peluru yang dibidikkan kepadanya. Namun ia tersenyum kemudian, diam-diam ia mengakui kehebatan butlernya itu.
Beberapa kali mobil itu sedikit oleng karena melaju dengan kecepatan di atas normal sembari menghindar. Namun Changmin terus mengejar, membuat para pelaku penculikan itu semakin panik.
"Sial! Pelurunya habis!"
Changmin menyeringai, setelah cukup dekat dengan mobil itu, ia kemudian melompat. Membuat gerakan memutar sebelum mendarat dengan mulus di kap depan mobil dan-
PRANGG!
Mobil itu akhirnya berhenti tak lama setelah kaca depannya pecah oleh tinju sang iblis berpakaian butler. Tak hanya ketiga namja itu yang syok, Kyuhyun bahkan ikut terperangah kali ini.
Namun ia segera tersentak kembali ke alam sadarnya ketika lelaki tambun di sebelahnya menarik kerah baju yang dikenakannya dan menyeretnya keluar dari mobil.
"Ber-berhenti disana! Atau kulubangi kepala anak ini!" pekik lelaki itu sembari mengarahkan moncong pistol ke pelipis yeoja yang terkurung di lengannya. Changmin menghentikan langkahnya dan menatap datar.
"Changmin. Sedang apa kau disana? Cepat tolong aku. Orang ini bau," Kyuhyun menatap tajam sang butler yang balik menatapnya dengan segaris senyum.
"Sayang sekali Nona, tapi saya tak bisa mendekat. Saya tentu tak ingin anda terluka," jawab Changmin dengan senyum simpulnya.
"Cih. Jangan bercan-"
DOR!
Kyuhyun terbelalak ketika di depannya, sebuah peluru tepat menembus kepala Changmin. Tubuh butlernya itu kemudian ambruk dengan darah yang mengalir deras dari kepalanya.
"CHA... CHANGMIN?!"
TBC
