Happy reading
.
.
DOR!
"CHA… CHANGMIN?!"
Kyuhyun menatap tajam namja tambun yang kini terkekeh mengejeknya, ia lah yang tadi menembak ketika Changmin tampak lengah.
"Sayang sekali, tapi tampaknya pelayanmu yang hebat itu tidak bisa lagi menolongmu, no-AKHH!"
Kata-katanya terputus ketika tiba-tiba Kyuhyun menarik jempol dari tangannya yang menyekap yeoja itu, memataknya ke belakang hingga ia merasakan jarinya hampir patah.
Tepat saat pegangannya melonggar, Kyuhyun mencengkram lengan itu dengan kuat dan memutarnya. Membuat pistol yang dipegangnya jatuh begitu saja ke tanah, kemudian ia menendang lelaki berbadan besar itu tepat di tengah (*Uuh yeah, if you know what I mean.= ̄ω ̄=), dan seketika itu pula namja tambun itu meringkuk di tanah dengan menahan sakit di selangkangannya.
Kyuhyun menyeringai, ia kemudian menatap sinis pada dua orang lain yang masih tampak terperangah menatapnya, dan memungut pistol yang teronggok begitu saja di dekat kakinya. Pistol yang tadi dijatuhkan oleh namja berbadan tambun yang menyekapnya.
"A-apa itu!? Aku bahkan tidak melihatnya bergerak!"
"Kaget?" balas yeoja itu dengan senyum meremehkan yang masih tersungging dengan manis di bibirnya. Ia tampak memainkan pistol di tangannya dengan santai.
"Kalian tahu? Harga yang harus kalian bayar untuk setiap tetes darah dari 'orang'-ku sangatlah mahal."
"Cih! Bocah sialan!"
DORR!
Untuk kesekian kalinya, suara ledakan pistol kembali terdengar. Tetapi kali ini berasal dari Kyuhyun yang melontarkan timah panas itu tepat ke tangan namja yang mengacungkan senjata kearahnya. Namja tambun yang tadi ia jatuhkan.
Yeoja itu berkelit menghindar ketika salah seorang dari penculik itu berlari menerjangnya, dengan cepat ditangkapnya lengan yang hampir mengenainya itu sebelum ia kembali melakukan gerakan memutar dan menguncinya. Baginya, menghadapi orang yang sama sekali tidak bisa beladiri seperti mereka bukanlah hal yang sulit.
Namun yeoja itu tiba-tiba tersentak ketika matanya menangkap sesuatu di tengkuk belakang lelaki berkepala botak itu. Sebuah tatto. Ia tak bisa melihatnya dengan jelas, tapi hal itu benar-benar membuatnya kehilangan fokus. Dan tepat disaat ia lengah itulah-
Bugh!
Lelaki itu berbalik dan menendangnya dengan kuat. Membuat tubuh Kyuhyun yang memang mungil terlempar beberapa meter sebelum akhirnya terseret di tanah.
Kyuhyun hanya bisa meringis menahan sakit di perutnya. Ia menatap tajam si plontos yang kini menyeringai sadis, mendekatinya sembari mengacungkan pistol ke arahnya.
"Kau benar-benar merepotkan, bocah. Padahal tadinya kami tak ingin menyakitimu. Tapi setelah kupikir-pikir lagi, sepertinya akan lebih menyenangkan jika aku membunuhmu disini. Kau bisa tetap sangat mahal meskipun tanpa organ, kau tahu? Jadi… selamat tinggal."
Kyuhyun menutup rapat matanya ketika suara tembakan beberapa kali terdengar. Namun setelah beberapa saat, ia tetap tak merasakan apapun. Penasaran, yeoja itu kemudian membuka matanya perlahan. Dan ia benar-benar terkejut ketika mendapati apa yang ada di hadapannya.
Di sana, tepat di depannya, tampak sang pelayan yang berdiri tegap. Menangkap peluru yang ditembakkan kearahnya dengan jari-jarinya.
"Nona. Tampaknya mereka tidak memperlakukanmu dengan baik, hmm…"
Changmin melirik nonanya yang balik menatapnya dengan tatapan tak percaya.
"Changmin?"
"Ba-bagaimana mungkin?! Kau sudah…"
Bukan hanya Kyuhyun yang terkejut, ketiga penjahat itu juga menunjukkan reaksi yang sama. Bagaimana mungkin orang yang sudah mati kini berdiri di tengah-tengah mereka seperti tak pernah terjadi apapun?
Namja yang tadi hampir menembak Kyuhyun melangkah mundur ketika Changmin melangkah santai mendekatinya.
"Sayang sekali, tadinya aku ingin bermain-main lebih lama dengan kalian. Tapi melihat bagaimana kalian memperlakukan nona-ku benar-benar membuatku tak tahan, jadi…" Changmin menyeringai, "Aku akan bunuh kalian semua."
Obsidian merah darah itu berubah menjadi merah cerah, Changmin mengeluarkan sosok demonic-nya. Dengan santai ia mencekik dan mematahkan leher orang yang berada di hadapannya, kemudian melemparkan tubuh yang tak lagi bergerak itu ke tanah.
Ia melirik si tambun, tidak butuh waktu lama baginya untuk membuatnya tak lagi bernapas. Dan terakhir, ia menatap sisa seorang lagi yang tampak tengah berlari menjauhi tempat kejadian.
Bugh!
Garis yang sarat akan ketakutan tergambar jelas di wajah lelaki itu ketika ia menabrak sosok sang butler yang berdiri tegap di hadapannya entah sejak kapan. Ia beringsut mundur ketika Changmin lagi-lagi menyunggingkan senyum simpulnya yang khas.
"Kau ingin pergi? Sayang sekali, aku tidak bisa membiarkanmu."
"A-aku hanya disuruh. Aku…"
"Kau pikir aku peduli?"
Crash!
"UKHH!"
Namja itu berhenti bersuara ketika akhirnya dengan tangan kosong Changmin merobek perutnya, menembusnya hingga ke belakang.
"Membosankan sekali. Aku tidak tertarik pada manusia yang cepat mati." Decih Changmin, mengibaskan darah yang mengotori tangannya dengan santai.
Kyuhyun menatap datar sang butler yang kini melangkah mendekatinya sembari tersenyum dan membersihkan 'noda' di tangannya. Changmin menunduk, mensejajarkan posisinya dengan sang nona.
"Anda baik-baik saja, My Lady?"
"Seperti yang kau lihat." Jawab Kyuhyun, dingin. "Jadi kau tidak mati, huh? Percuma saja aku mencemaska-"
Kyuhyun memilih tidak melanjutkan ucapannya. Ia memalingkan wajah dari sang butler yang kini tersenyum semakin lebar.
"Jeongmal, anda mencemaskan saya, hmm? Saya tersanjung."
"Diam."
"Saya bahkan masih bisa mengingat dengan jelas ucapan anda tenta-"
"Kubilang diam!"
Changmin terkekeh melihat majikannya yang tampak benar-benar kesal sekarang. Nonanya yang pemarah itu benar-benar menyenangkan untuk digoda.
"Maaf, maaf." Ucapnya kemudian, "Sebenarnya saya mau langsung menghajar mereka tadi. Tapi saya lihat anda begitu bersemangat, jadi saya pikir tak ada salahnya membiarkan anda sedikit 'bergerak'. Apalagi anda malas olahraga begitu."
"Anda benar-benar penuh kejutan. Siapa sangka dengan lengan sekurus itu anda bisa membidik tembakan anda dengan akurat? Juga teknik beladiri anda tadi, benar-benar mengejutkan. Bukankah itu baritsu?"
"Biasa saja. Aku belajar beladiri itu ketika usiaku 10 tahun. Orang tuaku selalu cemas karena aku terus-menerus menolak untuk dijaga oleh bodyguard. Jadi aku dikirim ke tempat latihan agar setidaknya aku bisa melindungi diri. Kurasa itu cukup berguna."
Well, tampaknya itu adalah kalimat terpanjang yang pernah diucapkan Kyuhyun kepada butlernya.
"Nah, kalau begitu, kurasa sudah saatnya kita pulang. Sebentar lagi hari akan gelap."
"Y-YAK?! Apa yang kau lakukan?! Turunkan aku!"
Kyuhyun tak bisa menyembunyikan rona wajahnya yang memerah ketika tiba-tiba saja Changmin mengangkat tubuhnya dan menggendongnya ala tuan putri. Bridal style.
"Tidak bisa, nona. Sebagai pelayan, saya sudah melakukan kesalahan dengan membuat anda terlihat seperti berandalan."
"Kau ini memang tidak sopan."
Ah, tampaknya Kyuhyun tersinggung dengan ucapan Changmin yang mengatakan bahwa ia seorang berandalan.
"Selain itu, saya tak akan membuat kesalahan lagi dengan membuat anda yang sedang terluka berjalan kaki sampai ke rumah. Jadi silahkan anda santai saja."
"Cih."
Kyuhyun memilih diam dan mengalah kemudian. Ia memalingkan wajahnya dari sang butler. Entahlah, menatap pemuda itu dengan posisi seperti ini membuatnya sedikit merasa aneh. Apalagi jika benar-benar diperhatikan, wajah butlernya itu ternyata memang tampan.
'Aish! Apa yang kupikirkan!'
Kyuhyun berusaha menepis pikiran-pikiran aneh itu dari dalam kepalanya.
"Ngomong-ngomong, nona."
Panggilan itu membuat Kyuhyun mau tak mau kembali menatap pemuda yang tengah menggendongnya. Ia menatap Changmin dengan pandangan bertanya.
"Saya melihat, seharusnya tadi anda memiliki peluang yang besar untuk menang. Anda lebih unggul, tapi kenapa anda menghentikan serangan anda?..."
"…"
"Apa yang membuat anda lengah?"
"…"
Changmin mengerutkan dahinya ketika Kyuhyun bukannya menjawab, tapi malah kembali membuang tatapannya. Melihat gelagat majikannya itu, Changmin tahu tampaknya ia tak berniat untuk menjawab.
"Saya tidak memaksa jika anda-"
"Aku melihatnya."
Ucapan Changmin terpotong oleh jawaban Kyuhyun yang terdengar ambigu.
"Ne?"
"Lambang itu. Aku melihatnya. Tatto yang ada di tengkuk namja botak itu, lambang yang sama dengan orang yang dulu hampir membunuhku. Orang yang membuatku harus menutup mata kananku seumur hidup."
"Maksud anda?"
"Aku tidak suka membicarakannya." Kyuhyun mengakhiri obrolan itu secara sepihak, "Aku lelah. Bangunkan aku jika sudah sampai."
Dan Changmin tak bisa melakukan apapun lagi ketika tak berapa lama kemudian, Kyuhyun menutup rapat matanya seiring dengan nafasnya yang menjadi lebih teratur.
Ia tersenyum menatap wajah lembut Kyuhyun ketika tertidur dengan tenang di gendongannya, seakan tak pernah terjadi apapun. Lepas dari segala perangai buruk dan kasarnya, yeoja ini memang memiliki rupa yang menawan. Sangat manis.
Namun bukan hanya itu yang membuatnya tak lepas menatap sang majikan. Satu lagi misteri yang ia temukan dalam diri yeoja ini. Hal yang selalu menarik rasa inginnya untuk mengetahui manusia ini lebih jauh.
Senyum lembutnya itu perlahan berubah menjadi sebuah seringai tipis.
'Well… Kau memang menarik, My Lady…'
To be continue...
