Happy reading
.
.
"Tapi jika perkiraan saya benar, maka berurusan dengan mereka adalah sesuatu yang berbahaya bagi anda, nona..."
Kata-kata yang terakhir kali diucapkan Changmin pagi ini terus terulang di pikiran Kyuhyun. Memaksanya untuk berpikir namun di saat yang sama, semakin jauh ia mencoba memikirkannya, ia justru semakin kebingungan.
Ia merasa hal ini berhubungan dengan sesuatu... entahlah. Mungkinkah sesuatu tentang orang tuanya? Atau mungkin tentang kedudukannya? Beberapa orang dari masa lalu? Ini dan itu, semuanya membuatnya bingung.
Kyuhyun hanya merasa ada sesuatu yang berhubungan, entah apa. Yang bisa ia dapati sejauh ini... tak ada. Belum.
'Kalau benar yang dikatakan Changmin, sebenarnya se-berbahaya apa orang-orang ini? Jika dipikir-pikir lagi... 'orang itu' juga memiliki tatto itu. Sampai saat inipun, secara tak lansung aku 'dikelilingi' oleh mereka. Tapi aku tidak pernah merasa terancam sesuatu...'
"...na?"
'...Atau mungkin itu karena aku belum menyadarinya?'
"...Nona?"
"Ah. Ehh?"
Kyuhyun tersentak dari lamunannya sedari tadi ketika suara Changmin akhirnya berhasil 'menembus' pendengarannya. Ia menoleh, menatap sang butler yang duduk di sebelahnya. Di belakang setir.
"Kita sampai."
Ia menatap Changmin yang lebih dulu keluar kemudian membukakan pintu untuknya.
"Jadi, apa rencana anda, nona?"
"Aku hanya ingin melihat-lihat... juga memastikan sesuatu. Kajja."
Changmin hanya diam mengikuti langkah sang nona. Begitu memasuki gedung kantor, beberapa karyawan yang melihat sosok 'calon pemimpin' mereka itu segera memasang sikap hormat. Beberapa menunduk dan memberi salam yang hanya dibalas Kyuhyun dengan anggukan ataupun senyum tipis.
Seorang namja paruh baya tampak mendekat, menghampiri mereka.
"Kyuhyun, ada apa? Kenapa tiba-tiba berkunjung?"
Kyuhyun menoleh ketika merasa dipanggil. Ia tersenyum melihat siapa yang datang, namja berusia 40-an tahun itu orang yang ia kenal cukup baik. Dulunya, namja itu adalah rekan kerja sekaligus sahabat dari ayahnya, jadi sejak kecil ia cukup sering bertemu dengannya.
"Tak apa, ahjussi. Hanya ingin melihat-lihat saja." Jawab Kyuhyun ramah.
"Begitukah. Kalau begitu, aku akan melanjutkan pekerjaanku lagi. Selamat datang, sajangnim." Candanya dengan sikap sopan yang sengaja dilebih-lebihkan.
Kyuhyun terkekeh, "Terima kasih."
Ia kemudian melanjutkan kembali langkahnya, sedikit melirik Changmin yang sedari tadi mengikutinya dengan diam, namun ia tahu mata butlernya itu 'mengatakan' sesuatu ketika menatapnya.
"Ada yang ingin kau katakan?" celetuk Kyuhyun tiba-tiba.
Changmin tersenyum, senyum simpulnya yang -menurut Kyuhyun- menyebalkan. Ia mempersilahkan sang nona memasuki lift lebih dulu. Memencet tombol lantai sebelum akhirnya pintu tertutup dan ia angkat bicara.
"Saya tidak tahu kalau ternyata anda orang yang ramah, nona."
Kyuhyun menghela napas, ia sudah menduga jika makhluk di sebelahnya ini akan mengatakan hal itu.
"Cih. Jangan menyindir." Kyuhyun melipat tangannya di dada dan bersandar santai, "Bagaimanapun, aku adalah orang yang suatu saat akan menjadi atasan mereka. Apa jadinya jika para karyawanku tidak merasa nyaman dengan keberadaanku?"
"Asal kau tahu, jaman sekarang, senyum itu bisa menghasilkan uang." Kyuhyun menyeringai di akhir kalimatnya.
"Whoaah, nona. Seperti yang dikatakan Mrs. Park, anda sangat berbakat dalam hal ini. Benar-benar pembohong licik yang baik."
"Berbohong adalah bakatku. Tapi kurasa tak ada yang istimewa. Toh, semua manusia adalah makhluk pembohong. Aku hanyalah salah satu dari mereka." Kyuhyun tampak tak tersinggung dengan ucapan sang iblis yang jelas-jelas menyindirnya. "Lagipula, business is business. Semua orang di dunia itu akan melakukan apapun demi mendapat keuntungan."
"Dalam beberapa hal, manusia bisa menjadi sangat busuk. Bahkan lebih buruk dari makhluk sepertimu. Kejahatan yang dilakukan manusia itu rumit. Selalu berbohong, mengharapkan orang lain, berjuang dengan bodohnya. Mencuri dan dicuri, dan selalu membuat alasan..."
"Mereka hanya ingin mencapai apa yang mereka inginkan, meski dengan cara apapun. Pada akhirnya, ketika cara busuk mereka tak berhasil, mereka akan lari. Berdalih karena khilaf, atau karena... bisikan iblis? Cara mereka untuk menghindar dari kesalahan benar-benar monoton."
Changmin tak lagi menyahut. Ia hanya sedikit terkekeh mendengar penjelasan panjang dari sang nona. Bagaimana bisa seorang remaja berusia 17 tahun berpikir seperti itu?
Yah, tapi sebenarnya tak ada yang salah dengan hal itu. Bagi Changmin, bagaimana Kyuhyun menjelaskan pandangannya terhadap manusia benar-benar hal yang menarik. Ia berkata seolah dirinya sendiri bukan manusia.
Ahh, bukan.
Ia justru mengatakan hal itu, seakan ia sadar benar betapa buruk dirinya. Bagaimana ia bermain sebagai tokoh antagonis dalam hidupnya sendiri. Dan itu... menarik.
Changmin bukanlah manusia, tapi bagaimanapun, ia bisa menilai.
Baginya, manusia seperti nonanya, makhluk buruk yang menyadari kebusukannya, itu jauh lebih baik dibanding manusia lain yang selalu berusaha untuk bersikap baik, berusaha menunjukkan betapa suci hatinya tanpa pernah menyadari keburukannya.
Atau manusia lain yang berusaha untuk menembunyikan segala kejahatannya dengan dalih ingin berubah menjadi lebih baik meskipun sebenarnya tak pernah ada yang berubah.
Munafik, jika boleh dikatakan begitu.
Suara denting lift membuat keduanya yang semula terhanyut dalam obrolan mereka kini kembali terfokus pada tujuan awal.
Changmin kembali mengikuti langkah sang nona dalam diam.
#
"Nona... sebenarnya apa yang anda lakukan?"
Changmin tak bisa menahan dirinya untuk tak bertanya ketika telah hampir sepuluh menit ia melihat Kyuhyun yang hanya berputar-putar di sekitar ruang kerja pribadinya sembari menghentak-hentakkan kakinya di atas lantai keramik.
Changmin hanya ber-facepalm-ria melihat gelagat aneh sang nona yang tidak dapat dikatakan normal itu.
Apa Kyuhyun mengajaknya kemari untuk menari tap dance?-_-
Dan kenyataan bahwa Kyuhyun tak berniat untuk menjawabnya membuat Changmin terpaksa hanya diam, menunggu sampai sang nona bicara. Atau setidaknya mengatakan sesuatu tentang apa yang harus ia lakukan.
Tuk. Tuk.
Sang butler menatap serius ketika telinganya mendengar lantai yang diketuk Kyuhyun dengan kakinya menimbulkan suara yang terdengar berbeda, cukup untuk menunjukkan jika ada ruang kosong dibalik keramik putih itu.
"Changmin." Kyuhyun akhirnya bersuara.
"Ya, nona?"
"Hancurkan bagian ini."
Kyuhyun menunjuk sebuah keramik yang terletak di salah satu sudut ruangan dan tanpa banyak bicara, Changmin menghancurkan bagian itu dengan tinjunya.
Benar dugaannya, ada sedikit ruang kosong di balik lantai itu. Hanya ruang kecil, berukuran 20x20 cm dan sedalam sekitar satu jengkal. Di dalamnya, ia bisa melihat ada sesuatu, seperti kunci untuk mengakses sesuatu atau apalah.
Kyuhyun menghampirinya dan berjongkok, ia tampak mengutak-atik tombol-tombol tersembunyi itu selama beberapa lama sebelum akhirnya berdecih putus asa.
"Nona, maaf jika saya lancang. Tapi sekali lagi saya bertanya. Apa yang anda lakukan sejak tadi? Mungkin saya bisa membantu."
Kyuhyun mendengus.
"Ini dulunya ruang kerja appaku, sejak kecil aku sering bermain disini dan aku pernah tak sengaja menemukan ini. Aku ingat appa sangat marah ketika itu. Melihat bagaimana gelagatnya, ia mungkin menyembunyikan sesuatu yang ia tak ingin aku terlibat. Dan aku yakin berhubungan dengan ini."
"Jika melihat dari tata ruang gedung ini, seharusnya ada sebuah ruangan lain di balik tembok itu." Kyuhyun menatap dinding metal di hadapannya, "Tapi aku tak pernah menemukan pintu ataupun semacamnya. Mungkin tombol-tombol ini semacam kode akses untuk membuka jalan kesana. Tapi aku tak pernah tahu password yang ia gunakan."
Changmin diam sejenak menyimak penjelasan Kyuhyun.
"Ini hanya asumsi, tapi menurut saya, ayah anda tak mungkin akan membuat kode yang begitu rumit hanya untuk kunci sebuah ruangan. Terlebih jika ia menyimpan sesuatu yang penting disana. Dalam keadaan darurat, hal itu tentu akan menyulitkannya."
"Itu juga yang kupikirkan, tapi..." Kyuhyun tiba-tiba terhenyak, seakan mendapat pencerahan. Ia kembali berjongkok dan mengutak-atik tombol-tombol itu selama beberapa saat.
Changmin menoleh, sedikit kaget ketika tiba-tiba dinding ruangan itu terbuka, menunjukkan sebuah ruangan lain di balik pintu tembok itu. Kyuhyun tampak tersenyum puas.
"Jadi, apa kodenya?" celetuk Changmin, sedikit penasaran.
Kyuhyun menatapnya dengan seringai tipis yang tersungging di bibir, "Tak perlu tahu. Kau akan kecewa jika mengetahui jawabannya."
Yeoja itu bangkit dari posisinya, memasuki ruangan gelap itu lebih dulu. Meninggalkan Changmin yang masih menatapnya penuh tanda tanya.
Kyuhyun sendiri sebenarnya sedikit merutuki bagaimana ia membuang-buang waktu hanya untuk memecahkan kode yang sebenarnya sangat sederhana. Sebuah tanggal.
8-8-3-0-2
Tahu maksud dari kode itu? Sederhana bukan?
#
"Tempat apa ini?" gumam Changmin ketika memasuki ruangan itu dan menekan tombol lampu.
Ia bisa melihat ruangan yang tak begitu luas, mungkin hanya sekitar 7x7 meter yang dipenuhi oleh rak-rak berisi buku dan dokumen-dokumen berdebu.
Kyuhyun menutup hidungnya ketika ia menarik sebuah map dari rak dan debu yang beterbangan menggelitik hidungnya. Ia membuka-buka sekilas. Tak ada yang penting disana. Mungkin hanya dokumen lama kantor yang sudah tak berguna? Entahlah.
"Nona, saya menemukan sesuatu yang menarik."
Ia melirik Changmin yang berdiri di sisi meja yang terletak di salah satu sudut ruangan, tampak menggeledah isi laci meja itu. Tanpa banyak bicara, Kyuhyun menghampirinya.
Ia tak bisa menyembunyikan keterkejutannya ketika melihat apa yang ditemukan sang butler, sebuah buku tua. Yang menarik adalah lambang yang tergambar di sampul buku itu.
Melihat keterkejutan Kyuhyun, Changmin bisa menarik sebuah kesimpulan.
'Berarti dugaanku tidak salah...'
.
TBC
