Happy readig

.

Kyuhyun membuka lembar-lembar usang itu dengan hati-hati agar tak merusaknya. Buku itu memang tampak rapuh, mungkin karena terlalu tua.

Ia berdecih ketika mendapati isi dari buku itu adalah bahasa latin yang ia sama sekali tak tahu apa artinya. Hei, setidaknya, bisakah seseorang menuliskannya dalam bahasa Korea?

"Nona. Lambang yang pernah kau katakan itu, apakah sama dengan yang ada di sampul buku ini?" tanya Changmin menginterupsi nonanya.

Kyuhyun mengangguk, "Kau tahu sesuatu?"

"Ne. Lambang itu... milik sebuah kelompok yang berisi orang-orang yang berbahaya."

"Berbahaya? Maksudmu seperti mafia, begitu?"

Changmin menggeleng, membuat Kyuhyun semakin serius menatapnya.

"Bukan, nona. Gambar ini adalah lambang milik Phoenix." Changmin bergumam pelan, nyaris seperti bicara pada dirinya sendiri.

"Phoenix?"

"Phoenix, semacam perkumpulan keagamaan yang mengajarkan aliran sesat. Mereka telah ada sejak beberapa dekade lalu dan sampai saat ini, meskipun terdengar hanya seperti mitos, tapi mereka benar-benar ada. Mereka hanya menyamarkan keberadaan mereka dari mata dunia. Namun mereka tak akan pernah musnah."

"Sama seperti lambangnya, simbol keabadian." Kyuhyun berguman. "Bagaimana bisa ayahku memiliki buku seperti ini? Mungkinkah... ia terlibat?"

"Itu salah satu dari banyak kemungkinan yang ada. Atau bisa jadi, beliau justru mencoba untuk mengungkap mereka."

"Kenapa kau berpendapat begitu?"

"Saya cukup tahu tentang organisasi ini. Mereka sangat menjaga rahasia tentang segala hal menyangkut organisasi, jadi rasanya tak mungkin ayah anda memiliki benda ini." Changmin menimbang-nimbang buku itu di tangannya. "Kecuali beliau adalah anggota yang berkhianat, atau..."

"Ada 'orang dalam'?"

Changmin mengangguki kesimpulan yang ditangkap Kyuhyun.

"Selain itu, saya juga menemukan ini bersama dengan buku itu."

Changmin menyerahkan map berisi lampiran biodata yang ia dapatkan.

"Ini?" Kyuhyun membolak-balik lampiran-lampiran itu.

"Kemungkinan itu adalah data orang-orang yang terlibat dalam organisasi. Hal ini membuat segala kesimpulannya menjadi mungkin. Pertanyaannya adalah, hal apa yang menjadikan beliau berurusan dengan mereka?"

Kyuhyun menggeleng pelan, "Aku juga tidak mengerti, tapi jika semua itu benar, maka artinya penyebab kematian orang tuaku bukan hanya pembunuhan berencana berdasarkan persaingan bisnis seperti yang selama ini kukira. Tapi lebih berbahaya dari itu..."

Srekk!

Keduanya memasang sikap waspada ketika terdengar suara seperti sesuatu yang bergeser. Changmin memasang sikap protective di depan sang nona.

Namun keduanya hanya bisa mendengus ketika mendapati penyebab keributan itu ternyata hanyalah tikus menyebalkan yang numpang lewat tanpa tahu situasi dan kondisi. -_-

"Sebaiknya kita pulang. Terlalu beresiko jika membahasnya disini, nona."

"Ne. Changmin, bawa semua datanya. Kita harus memecahkan ini lebih dulu."

"Yes, My Lady."

Keduanya pergi meninggalkan kantor setelah Kyuhyun mengunci kembali pintu ruangan itu dan menutup lubang yang tadi mereka buat dengan pot tanaman hias yang ada di dalam ruangan.

#

Keheningan menyelimuti mereka selama perjalanan pulang. Changmin memfokuskan pandangannya kearah jalan, sesekali melirik Kyuhyun yang sedari tadi hanya diam.

"Memikirkan sesuatu, nona?" tegurnya, yang membuat Kyuhyun sedikit tersentak.

"Bukan hal penting. Dari pada itu..." Kyuhyun menatap serius kearah kaca spion mobil, "Tidakkah kau merasa kalau kita diikuti?"

Changmin ikut melirik kearah spion, "Ah, mobil hitam itu? Bisa jadi."

"Jawaban macam apa itu?"

Kini lirikan tajam Kyuhyun berpindah kepada sang butler di sebelahnya. Nada bicaranya yang santai barusan terdengar sedikit menyebalkan.

"Yah, jika dipikir-pikir lagi, tak ada alasan yang membuat mereka harus mengekori kita. Kecuali orang disana adalah penculik bodoh seperti tempo hari." Ujar Changmin, "Atau mungkin jika mereka adalah orang-orang tertentu yang mengetahui kalau kita membawa 'sesuatu yang berbahaya'..."

Kyuhyun tercekat mendengar kalimat yang terakhir keluar dari mulut butlernya.

"Changmin! Percepat laju mobilnya!"

Changmin menuruti perintah nonanya tanpa bertanya. Kini mereka melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi. Beruntung mereka tengah berada di jalur satu arah.

Kyuhyun berdecih ketika kembali melirik spion dan mendapati mobil di belakang mereka turut menambah kecepatan.

"Kita memang diikuti."

"Ohh..."

"Bisakah kau serius sedikit?"

Ah, tampaknya Kyuhyun mulai jengah dengan sikap santai Changmin sedari tadi.

"Cobalah menghindar sejauh mungkin dari mereka. Mereka mungkin telah mengetahui bahwa kita membawa sesuatu." Ujar Kyuhyun cepat, "Kita telah ceroboh..."

"Maksud anda?"

"Semua ruangan di kantor dipantau oleh CCTV. Bukan tak mungkin 'mereka' yang membaur dengan pegawai kantor di sana memantau yang kita lakukan sedari tadi."

"Ahh... anda benar."

Kyuhyun kembali melempar deathglare untuk yang kesekian kalinya kepada Changmin. Entahlah, biasanya dia biasa-biasa saja menyikapi hal itu. Tapi hari ini, entah kenapa sikap santai Changmin membuatnya sedikit kesal.

"Oya." Kyuhyun kembali menatap tajam, "Pastikan kau tidak merusak yang satu ini."

"Eh?" oke, kali ini Changmin dibuat bingung oleh kalimat sang nona yang sedikit ambigu.

Kyuhyun mendengus, ia bersandar di kursinya sembari melipat tangannya di depan dada.

"Kau lupa? Kurang dari 48 jam yang lalu, kau baru saja menyulap sebuah mobil menjadi onggokan sampah."

Ah, Changmin mengerti sekarang.

"Jika kau melakukannya lagi, kau akan melihat Leeteuk imo yang berubah wujud menjadi iblis." Gumam Kyuhyun, melirik butlernya sembari menyunggingkan seringai tipis, bermaksud menakuti Changmin.

Mrs. Park memang sangat menyeramkan ketika marah. Kyuhyun sendiri bahkan mengakuinya.

"Oh, tapi, nona... saya kan juga iblis?"

Krik

Krik

"Oiya, aku lupa."

Masih dengan raut stoic-nya, Kyuhyun membuang tatapannya kemudian. Senyum simpul menyebalkan yang disunggingkan Changmin ketika mengatakan kalimat barusan membuatnya merasa... err... konyol.

Ia merasa seolah senyum Changmin mengatakan "Ciee, udah pikun yaaa~? :v"

PRANGG!

Keduanya tersentak ketika tiba-tiba saja sesuatu menembus kaca mobil dan membuatnya pecah. Apa itu tadi? Sebuah peluru?

"Cih!"

"Changmin, cepat!"

"Saya tahu."

Dug!

Kepala Kyuhyun terantuk kaca mobil ketika Changmin membelokkan mobil secara mendadak demi menghindari peluru lainnya.

"Nona, anda baik-baik saja?"

"Akan kuurus mereka!" ucap Kyuhyun dengan tiba-tiba.

Aura gelap mendadak menyelimuti yeoja itu, tampaknya kejadian kepalanya terantuk barusan membuat emosi yang sedari ia tahan akhirnya meledak.

Changmin bahkan bisa merasakan aura menyesakkan yang menguar di sekitar nonanya. Hawa membunuh itu hampir sama seramnya dengan hawa iblis miliknya, ia rasa.

Oke, itu berlebihan.

Tapi catat, Kyuhyun itu memang sama sekali bukanlah anak manis yang menyenangkan.-_-

Yeoja itu mengambil pistol yang disimpan di dalam dashboard mobil sebelum menyembulkan tubuhnya ke luar dari jendela dan kemudian duduk disana dengan posisi yang tidak bisa dikatakan aman.

"Ckck. Anda nekat, nona." Komentar Changmin melihat apa yng dilakukan Kyuhyun.

"Pastikan kau tidak membuatku tertabrak atau terlempar." Pesan Kyuhyun yang hanya diangguki oleh sang butler.

Ia kemudian mulai menembak. Beberapa tembakan yang ia lontarkan selalu dapat dihindari, membuatnya berdecih tak sabar.

Lagipula, ia tak bisa sembarangan menembak. Ingat, ini jalur umum. Akan sangat berbahaya jika sampai orang lain menjadi korban. Namun beruntung, tak lama setelah itu, mereka keluar dari jalur satu arah.

Changmin yang mengerti situasi itu kemudian memancing mobil di belakang mereka ke jalan yang lebih sepi.

"Cih. Pelurunya habis."

Gumaman sang nona membuatnya menoleh sesaat, kemudian kembali terfokus menatap jalan. Sesuatu yang ia lihat tak begitu jauh di depan memberinya sebuah ide. Changmin menambah kecepatan mobilnya hingga batas yang berbahaya.

"Nona! Cepat masuk!"

Bersamaan dengan ucapannya itu, ia menarik pinggang Kyuhyun dengan sebelah tangannya. Sesuatu yang berbahaya, tentu saja. Mengingat bagaimana posisi yeoja itu sebelumnya, dan Changmin melakukannya tanpa mengurangi kecepatan mobil yang dikendarainya.

Dugh!

Ah, dan kepala Kyuhyun terantuk lagi.

Percayalah. Yang kali ini lebih menyakitkan.

Tak ada waktu baginya untuk membiarkan sang nona duduk dengan benar dan memakai sabuk pengaman. Ia membelokkan mobil dengan sebelah tangan yang masih memeluk pinggang Kyuhyun. Dan...

CKIIITTTTT... BRAKK!

Senyum puas tersungging di bibirnya ketika melihat mobil yang sedari tadi mengekori mereka kini terlempar ke luar jalan. Tentu saja, dengan kecepatan setinggi itu, juga tikungan tajam nyaris 90 derajat di depannya pasti akan membuat siapapun terlempar jika tak benar-benar berkonsentrasi.

Changmin menghentikan mobilnya di sisi jalan tak lama setelah itu.

"Nona, anda baik-baik saja?"

Ia menatap Kyuhyun yang masih tak bergerak dari posisinya, masih diam dalam posisi pinggangnya dalam pelukan sang butler.

Ah, Changmin ingat. Tadi kepala yeoja itu sempat terbentur cukup keras. Mungkinkah ia pingsan? Namun, baru saja ia hendak mengecek keadaan sang nona-

Duagh!

-tinju yeoja itu lebih dulu menyapa kepalanya.-_-

"TAK BISAKAH KAU LEBIH BERHATI-HATI?! DAN LEPASKAN TANGANMU DARI PINGGANGKU!"

Ah, Kyuhyun benar-benar meledak kali ini.

Changmin hanya menatap sang nona yang tengah mengamuk sembari mengelus kepalanya yang sedikit berdenyut karena pukulan yang tidak main-main dari yeoja itu.

"Maafkan saya, tapi jika tidak cepat, anda bisa terlempar keluar tadi."

"Huft..."

Kyuhyun mendengus, ia membuang tatapannya kearah lain.

Memang, yang dikatakan Changmin itu benar. Ia hanya tak suka cara sang butler yang dirasanya agak serampangan. Apalagi, yang tadi itu juga membahayakan mereka sendiri.

Diluar itu, posisi mereka barusan benar-benar memalukan. Berpelukan seperti itu dalam keadaan seperti tadi... ah, tunggu.

'Apa yang kupikirkan!?'

Kyuhyun tercekat oleh pemikirannya sendiri. Wajahnya sedikit memerah.

'Itu bukan berpelukan! Itu hanya... hanya... akh! Aku tak peduli! Ada yang aneh dengan otakku. Mungkin karena terantuk tadi?'

Namun pikirannya segera teralih ketika matanya melihat ke luar dan mendapati mereka berada dimana saat ini.

Pemakaman.

Mungkin itu yang ia butuhkan saat ini.

"Nona? Mau kemana?" tegur Changmin ketika melihat Kyuhyun membuka pintu mobil dan melangkah menjauhinya begitu saja tanpa menjawab.

Ia melihat sang nona berjalan memasuki area pemakaman, dan akhirnya memutuskan untuk mengikuti langkah sang nona.

Kyuhyun berhenti di depan sebuah nisan. Ia menunduk dan berdiam cukup lama disana. Ekspresi wajahnya tampak tenang.

"Apa yang anda lakukan?"

Tegur Changmin begitu ia mengangkat pandangannya, ia melirik sekilas sang butler yang kini berdiri di sampingnya sebelum kembali mengalihkan tatapannya kearah nisan bernamakan 'Cho Hanna' itu.

"Berdoa." Jawabnya, "Ini eommaku." Ucapnya tanpa menatap Changmin, seakan tengah mengenalkan Changmin pada sosok ibunya.

"Yang di depanmu itu, appaku." Lanjutnya lagi, Changmin menatap nisan di depannya.

"Mereka meninggal 5 tahun lalu. Dan sejak itu, terkadang ketika aku merasa sedih atau mempunyai masalah, aku akan 'mengunjungi' mereka disini. Itu membuatku merasa tenang."

"Ohh..." gumam Changmin.

Ia menunduk dan memejamkan matanya kemudian, membuat Kyuhyun sedikit tertarik dan kini menoleh padanya, menatapnya.

"Sedang apa kau?"

"Berdoa untuk mereka." Jawab Changmin kalem.

Deg.

"Berdoa? Kau? Jangan bercanda." sela Kyuhyun dengan nada dinginnya yang khas, mencoba menenangkan jantungnya yang mendadak berdetak sedikit lebih cepat mendengar jawaban itu. Hanya sedikit.

Melihat seseorang yang dapat dikatakan belum sepenuhnya mengenalmu, bahkan sama sekali tidak mengenal kedua orang tuamu, namun berdoa untuk mereka...

Bukankah itu hal yang manis?

Changmin balas menatap sang nona dengan tatapan serius.

"Apakah salah?" ia bertanya balik, "Meskipun iblis, kami tetaplah makhluk yang Dia ciptakan. Sama seperti makhluk lainnya, kami pun punya hak untuk meminta. Kami hanya dianggap makhluk hina karena pendahulu kami adalah makhluk mulia yang membangkang. Di luar dari semua itu, kita sama."

Changmin menjelaskan dengan senyum yang masih melekat di wajahnya, membuat Kyuhyun tanpa sadar tak bisa mengalihkan tatapan darinya. Entah mengapa...

"Lantas apakah salah jika saya mendoakan kedua orang tua anda, nona?"

Deg. Deg.

Kyuhyun tak lagi dapat menahan laju jantungnya yang kini berdetak cepat. Sangat cepat.

Ia merasakan sesuatu yang hangat merasuki hatinya, mendorongnya untuk menyunggingkan segaris senyum meskipun ia sedang tak ingin.

Hanya senyum tipis.

Sangat tipis.

Namun tulus.

Hal yang sudah lama tak lagi dapat ia lakukan.

Dan kini ia melakukannya tanpa bisa ia tahan.

"Gomawo..."

Hanya itu yang bisa ia ucapkan, bersamaan dengan usahanya menetralkan debaran jantungnya.

'Ternyata memang ada yang salah denganku...'

To be continued...