"Ja-jangan mendekat! Jangan mendekat!"

Kyuhyun mundur perlahan. Ia terjerembab karena tidak memperhatikan langkahnya, namun, dengan tubuhnya yang gemetar ia masih mencoba untuk menjauh dari sosok seseorang yang kini menjadi begitu menakutkan di matanya.

Kyuhyun tak bisa melihat dengan jelas sosok itu, hanya saja ia merasa bahwa ia mengenalnya. Sangat mengenalinya.

Yeoja itu tersentak ketika akhirnya punggungnya menyentuh tembok, mencoba tetap bergerak mundur meskipun ia sadar bahwa ia tak bisa bergerak lagi sementara sosok di hadapannya kini telah berdiri tepat di depannya. Mengangkat pecahan cermin yang tampak memantulkan raut wajah Kyuhyun yang ketakutan.

Hal terakhir yang ia lihat adalah tatto bergambar phoenix yang terikat oleh duri mawar yang tampak di lengan atas sosok di hadapannya, juga tangan sosok itu yang tampak gemetar menggenggam pecahan cermin.

Kyuhyun mencoba menghindar sebisanya ketika pecahan cermin itu hampir menikamnya, namun ia gagal, dan-

CRAKK!

-cermin itu melukainya.

Tepat di mata kanannya.

Kyuhyun tersentak dari tidurnya dengan nafas memburu. Keringat dingin mengaliri seluruh tubuhnya yang gemetar, sementara matanya menatap kosong.

Takut.

Kyuhyun sangat takut.

Ia selalu ketakutan setiap kali memimpikan hal itu. Meskipun hanya mimpi, tapi hal itu terasa sangat nyata. Bahkan matanya selalu berdenyut nyeri setiap kali mimpi itu datang.

Kejadian sehari setelah kematian kedua orang tuanya, saat mata kanannya ditusuk dengan... pecahan cermin?

Kyuhyun tertegun kini. Kenapa pecahan cermin? Selama ini dalam mimpinya yang selalu sama, yang ia lihat adalah pisau. Lantas mengapa tiba-tiba ia melihat pecahan cermin?

Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan yeoja itu, disusul Changmin yang masuk tanpa meminta izin terlebih dahulu.

"Maaf jika saya lancang karena masuk tanpa izin." Ucapnya sembari menyalakan lampu, kemudian melangkah mendekati Kyuhyun yang masih tampak tertekan..

"Anda bermimpi buruk lagi?"

Kyuhyun hanya menjawab dengan anggukan, matanya masih memandang dengan tatapan kosong.

"Anda keberatan menceritakannya pada saya?"

Kalimat itu membuat Kyuhyun menatap sang butler kini, yeoja itu kemudian beringsut mendekati sisi ranjang dan duduk di sana dengan kaki menjulur ke lantai.

Melihat sang nona yang kali ini tampaknya bersedia membuka diri, Changmin kemudian mendekat dan duduk dengan tenang di lantai, berhadapan dengan sang nona, siap mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibirnya.

"Aku tidak mengerti..." ucap Kyuhyun dengan suara lirih, "Akhir-akhir ini aku semakin sering memimpikannya. Malam saat dimana aku mendapat luka di mata kananku."

"Aku tidak pernah melihat sosok itu dengan jelas, aku juga tidak pernah bisa mengingat siapa dia. Hanya saja, aku merasa, sosok yang menikamku itu adalah orang yang sangat dekat denganku. Mungkin terdengar aneh, tapi aku merasa bahwa ia adalah seseorang yang berharga untukku. Aku menyayanginya. Dan karena itulah aku selalu menjadi sangat takut."

"Baik mimpi itu maupun kejadian sesungguhnya, aku tak pernah bisa benar-benar mengingatnya. Aku juga tidak mengerti, kenapa aku tak pernah memiliki bekas luka di sini."

Kyuhyun menyentuh kelopak mata kanannya yang kali ini sedang tak ditutupi oleh eyepatch.

"Padahal aku yakin sekali, saat itu dia berhasil melukai mata kananku. Bahkan hingga saat ini, rasa sakitnya terkadang masih terasa. Tidak perih, tapi ngilu. Seperti ada sesuatu yang menusuk."

"Karena itulah aku selalu menutupnya, selain mengingatkanku pada hal-hal yang buruk, mata ini lebih sering berdenyut sakit ketika aku membuka penutup mataku."

Sang iblis pelayan diam mendengarkan setiap kata yang diucapkan Kyuhyun, matanya menatap lurus obsidian milik nonanya yang masih saja tampak kosong. Binar matanya tampak meredup.

Changmin mencoba 'membaca' sang nona lewat matanya. Mencoba menguak paksa masa lalu yeoja itu dari dalam ingatannya. Namun ia tak mendapatkan apapun. Segalanya tampak buram, membuat garis yang sarat akan kebingungan kini terlukis di wajah sang iblis.

'Aneh... kenapa aku tidak bisa melihat ke dalam masa lalunya? Memorinya benar-benar buram...'

Ia hanya bisa membatin dalam kebingungannya. Ini aneh. Seharusnya meskipun seorang manusia telah melupakan ingatan masa lalunya, Changmin tetap bisa menguak paksa memori itu. Karena ia adalah iblis yang mampu membaca jiwa manusia, bahkan hingga sisi terdalamnya.

Suara isakan yang tiba-tiba melewati telinganya menyentaknya dari lamunan.

Menangis. Kyuhyun yang selalu tampak kuat dengan sifat dingin nan arogannya. Sang nona yang selalu tampak tegar di matanya...

Menangis.

Changmin menatap nonanya yang kini tampak kacau, menangis sembari menjambak pelan rambutnya sendiri. Tatapan matanya semakin redup dan sayu, menggambarkan dengan jelas ketakutannya saat ini.

Lupakan tentang apa yang ia pikirkan barusan, keadaan nonanya saat ini jauh lebih penting.

Changmin bangkit dari posisinya untuk beringsut lebih mendekat dan duduk di sisi ranjang, tepat di sebelah sang nona.

"Mohon maafkan kelancangan saya, nona."

Bersamaan dengan kata-katanya, Changmin merengkuh tubuh Kyuhyun selembut yang ia bisa. Menarik sosok yang kini tampak amat rapuh itu ke dalam pelukannya.

Kyuhyun sedikit tertegun ketika Changmin memeluknya, namun ia tak melawan.

Yeoja itu menutup matanya perlahan, menyembunyikan iris kecoklatan itu bersamaan dengan emosi yang seakan terbawa oleh kristal bening yang menganak sungai dari sudut matanya.

Ia tak pernah ingat bahwa dipeluk seseorang rasanya senyaman ini. Jemari milik Changmin yang mengusap lembut rambutnya terasa dingin, namun membuatnya merasa tenang.

Meskipun ia tak mendengar adanya degupan jantung dari dada sang iblis, meskipun ia tak merasakan adanya hembusan nafas dari sosok di hadapannya itu, meskipun debaran aneh yang sesekali muncul di dadanya kini mulai mengganggu, Kyuhyun tak bisa memungkiri...

Ia merasa nyaman.

Sangat nyaman.

Begitu nyaman hingga tanpa ia sadari, dirinya kembali jatuh tertidur. Menyisakan Changmin yang kini menatap wajahnya dengan beribu tanda tanya.

"Saya benar-benar tidak bisa mengerti anda, nona. Anda penuh dengan hal-hal yang tidak dapat saya pahami..." gumam Changmin, sembari mengusap sebulir air mata yang mengalir dari sudut mata sang nona.

Ia menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Kyuhyun. Wajah yang kini tampak tenang itu membuatnya menyunggingkan segaris senyum.

"Anda selalu terlihat kuat dan tegar. Bersikap seolah tak memiliki rasa takut, meskipun pada akhirnya semua itu hanyalah topeng yang anda gunakan untuk menyembunyikan kenyataan bahwa anda begitu rapuh dan lemah."

"Diri anda yang penuh intrik dan kebohongan begitu sulit untuk dipahami, bahkan bagi saya..."

Senyum itu berubah menjadi seulas seringai. Binar obsidian ruby-nya berubah menjadi lebih cerah. Kilat mata sang iblis.

"Karena itulah, anda sangat menarik..."

#

Kelopak mata yeoja yang tengah terlelap itu perlahan terbuka ketika merasakan cahaya pagi. Siluet sang butler yang tengah menyibak tirai menjadi hal yang pertama kali tertangkap oleh matanya.

Merasa ada yang menatap, Changmin kemudian menoleh lantas menyunggingkan senyum simpulnya ketika iris bambi eyes-nya bertatapan dengan doe eyes milik sang nona.

"Selamat pagi, nona? Tidur anda nyenyak? Sudah merasa lebih baik?"

Blush.

Sapaan pagi hari itu sontak membuat wajah Kyuhyun memerah, lantas mengalihkan tatapannya.

Tak ada yang aneh dari kalimat itu, sebenarnya.

Ya, tak ada yang aneh jika saja kejadian semalam tidak terjadi.

Mengingat semalam dirinya begitu ketakutan dan menangis seperti anak kecil kemudian berakhir dengan dirinya yang tertidur dalam pelukan pelayannya...

Bagi Kyuhyun, sang nona muda dengan arogansi dan harga dirinya yang tinggi, dilihat dari sisi manapun...

Itu memalukan.

Yah, tapi tak ada salahnya kan? Bukankah semua orang juga memiliki sisi kekanakkan dalam dirinya? Tak terkecuali Kyuhyun.

Ayolah, dia hanya yeoja biasa berusia 17 tahun yang bisa membanting ahjussi-ahjussi yang besar tubuhnya dua kali dirinya.

Ah, lupakan itu.-_-

Intinya, dia hanya yeoja biasa.

Entah dari sisi mananya, tapi anggap saja itu biasa.-_-

Melihat sang nona hanya diam, Changmin berinisiatif untuk memastikan keadaannya.

"Nona?"

"Go-gomawo."

"Eh?" ucapan yang tiba-tiba itu membuat langkahnya terhenti.

"Untuk yang semalam. Gomawo."

Changmin menatap Kyuhyun yang masih tak mau memandangnya. Namun ia bisa melihat yeoja itu semakin menyembunyikan wajahnya ketika mengatakan kalimat barusan, membuatnya kembali menyunggingkan senyum simpulnya yang khas.

Jarang sekali nonanya yang ganas itu bersikap manis seperti ini, bukan?

Kyuhyun sendiri, sebenarnya ia merasa heran.

Dirinya yang biasa, dengan harga dirinya yang selangit itu pasti tak akan sudi untuk mengucapkan 'terima kasih' hanya untuk hal sepele semacam ini.

Namun kali ini, ia hanya merasa ingin melakukannya.

Ada sesuatu entah apa yang seakan mendesaknya untuk mengatakan kalimat itu.

Ah, bicara tentang sesuatu yang mendesak, Kyuhyun jadi teringat sesuatu.

"Changmin."

"Ya?"

"Kita pergi ke Seoul hari ini."

"Mendaftar sekolah?"

"Ya."

"Hari ini?"

"Ya."

"Anda yakin?"

"Ya."

"Bukan, maksud saya-"

"Sudah, lakukan saja!"

Changmin tak lagi bicara kemudian. Nonanya ini memang egois, dan ia memakluminya. Hanya saja, setidaknya lihat situasi dan kondisi dulu, bisa kan?

Tunggu...

Sesuatu yang menarik terlintas di benak sang iblis kemudian.

Kyuhyun hanya bisa menatap dengan raut bertanya ketika dilihatnya Changmin tampak menyembunyikan seringai di wajahnya.

#

Kyuhyun tak dapat berkata apapun ketika melihat sekelilingnya, sementara Changmin tampak santai berdiri di sampingnya dengan raut innocent.

Ini sama sekali bukan tempat yang ia bayangkan.

"Jadi..."

"Ya?"

"Bisa kau jelaskan alasan konyol apa yang membuat kita terdampar di tempat ini?!" geram Kyuhyun dengan suara nyaris tercekat di kerongkongan.

Ia melempar death-glare terbaiknya kearah sang iblis yang kini tersenyum menyebalkan.