Happy reading
"Jadi... bisa jelaskan alasan mengapa kita terdampar di sini?"
"Karena-"
"Aku memintamu untuk mengantarku ke Seoul dan mendaftar ke sekolah itu!"
"Masalahnya, no-"
"Kau sedang bercanda atau apa?!"
"Nona... bagaimana saya menjelaskannya jika anda terus memotong kalimat saya?"
Kyuhyun kembali melempar deathglare kearah sang butler yang masih saja menampakkan raut wajah tak bersalah. Namun akhirnya ia mendengus dan mengalah, membiarkan Changmin bicara.
Changmin yang melihat nonanya tampak tak lagi berniat menginterupsi ucapannya akhirnya kembali bersuara.
"Baiklah, pertama, bukankah saya sudah menanyakan hal ini tadi pagi? Tentang anda yakin untuk berangkat hari ini?"
Kyuhyun tak menjawab, ia masih menatap tajam sosok di hadapannya.
"Dan anda memutuskan tanpa membiarkan saya menjelaskannya lebih dulu."
"To the point saja!"
"Ini hari Minggu, nona."
Krik.
"Kalau saya tidak salah ingat, di dunia manusia, hari Minggu itu libur."
Krik.
Krik.
"Berarti sekolah juga tutup. Jadi kita tak bisa mendaftar hari ini. Tak ada gunanya kita jauh-jauh pergi kesana."
Krik.
Krik.
Krik.
"Jadi saya sarankan, lain kali sebelum berpergian, sebaiknya anda mengecek kalender lebih dulu, nona."
'I-iblis menyebalkan iniii...!'
Kyuhyun tak bisa mengatakan apapun lagi, malu dan kesal yang bercampur membuatnya tak lagi bisa memikirkan apapun.
Ia memalingkan wajahnya yang kembali memerah dari tatapan sang butler yang masih saja tersenyum mengejek.
"Yah, saya rasa ini menjadi pelajaran bagi anda, nona. Anda perlu belajar untuk mendengarkan orang lain." Changmin menghampiri sang nona, "Lagipula, kita sudah jauh-jauh datang kemari. Mengapa anda tidak mencoba untuk menikmatinya saja?"
Kyuhyun menoleh ketika Changmin mengulurkan tangannya. Menghela nafas, akhirnya ia melangkah melewati sosok itu tanpa menghiraukan uluran tangannya. Yah, setidaknya itu sudah dapat menjadi satu tanda positif bahwa ia tak menolak.
"Ngomong-ngomong, nona..."
Suara Changmin membuatnya kembali menoleh.
"Apakah saya perlu berperan menjadi kekasih anda selama disini?"
"Kubunuh kau!"
Changmin terkekeh melihat Kyuhyun yang melangkah cepat mendahuluinya.
Ingin tahu mereka berada di mana sekarang?
Mereka tengah berada di sebuah taman bermain di tengah kota.
Dari sekian banyak tempat, ini adalah tempat terkonyol yang bahkan Kyuhyun tak pernah bayangkan akan mengunjunginya lagi di usianya saat ini. Dan sekarang, Changmin membawanya kemari entah dengan alasan apa. Kyuhyun sendiri tak habis pikir.
'Iblis menyebalkan. Dia benar-benar berniat mengerjaiku, heh!?'
Ah, tapi ini sudah terjadi. Sebenarnya juga Changmin tak sepenuhnya salah. Kyuhyun sendiri yang sembarangan mengambil keputusan tanpa memperhatikan situasi dan kondisi pada awalnya, bukan? Jadi ia tak bisa banyak berkomentar.
#
"Nona, tidak adakah sesuatu yang membuat anda tertarik?"
Changmin akhirnya memutuskan untuk bertanya setelah hampir setengah jam mereka berputar-putar di sekitar taman bermain dalam diam dan tanpa melakukan apapun.
"Aku mau pulang."
"ckck, nona, anda tak perlu sekeras itu. Lagipula kita sudah terlanjur berada di sini, mengapa anda tak mencoba untuk menikmatinya saja?"
Kyuhyun melempar death-glare untuk yang kesekian kalinya, "Kau bercanda?"
"Tidak. Mengunjungi tempat seperti ini masih hal yang normal untuk manusia seusia anda, bukan?" ujar Changmin dengan senyum simpulnya, "Lagipula akhir-akhir ini anda terlihat murung. Tak ada salahnya untuk beristirahat barang sejenak."
Kyuhyun menatap Changmin untuk beberapa saat, ia tak bisa membaca senyum simpul yang selalu disunggingkan oleh butlernya itu. Senyum sederhana itu seakan memiliki ribuan makna yang begitu rumit dan tidak dapat ia pahami.
"Cih. Kau jadi perhatian? Apa ini salah satu estetikamu sebagai seorang pelayan?"
"Begitulah."
"Hmm."
Kyuhyun kemudian mengalihkan pandangannya ke segala penjuru. Sesuatu yang ia rasa menarik terlintas di kepalanya. Ia melirik Changmin sekilas, kemudian kembali mengamati sekitar.
"Baik. Aku ikut. Tapi dengan syarat." Yeoja itu kembali buka suara.
"Ya?"
"Kau harus ikut semua wahana yang kunaiki." Cetusnya sembari menunjuk Changmin tepat di wajah.
Changmin tersenyum, "As your wish, My Lady."
Kyuhyun menyeringai penuh arti mendengar jawaban patuh itu.
'Sejak dulu aku penasaran, apa makhluk ini memiliki kelemahan? Mungkin kali ini kesempatanku untuk bisa mengalahkannya?' batinnya sumringah. Tampaknya Kyuhyun telah melupakan kekesalannya beberapa saat yang lalu.
Yah, sekarang telah berganti dengan tekad penuh dendam, sepertinya.-_-
Changmin ber-facepalm-ria menatap sang nona yang mendadak terlihat sangat bersemangat. Terlebih ketika ia menangkap apa yang tengah dipikirkan di otak yeoja itu.
'Aku melihat kobaran api...' (_ _") Changmin sweatdropped.
Ya, kalau aku melihat ombak.-" (*author ikutan ngeksis. XD #plakk!)
#
"Aish..."
Kyuhyun menjatuhkan dirinya dengan kasar di atas sebuah kursi taman.
"Anda lelah, nona?"
Ia melirik Changmin yang menghampirinya sembari tersenyum dengan tatapan kesal. Gagal sudah rencananya untuk mengusili butlernya itu.
Iblis di hadapannya ini tampaknya benar-benar tak memiliki rasa lelah.
Hampir dua jam Kyuhyun membawanya berkeliling dan mencoba wahana ini dan itu, namun hasilnya? Sebulir keringat jatuhpun tak ada. -_-
Yang ada malah Kyuhyun sendiri yang kini dibuat setengah mati. Ia bahkan hampir jantungan ketika menaiki roaller coaster, sementara Changmin di sampingnya hanya menatapnya dengan raut yang kentara sekali jika ia sedang mengejek. Menyebalkan.
Ah, bukan, miris lebih tepatnya.-_-
Menghela nafas untuk kesekian kalinya, Kyuhyun hampir putus asa ketika sesuatu yang ia lihat tepat di hadapannya membuatnya kembali melirik sang butler.
"Hei, Changmin. Kau pernah masuk rumah hantu?"
"Tidak."
"Kita kesana."
"Tidak ingin istirahat dulu?"
"Tidak. Ayo."
Kini ganti Changmin yang menghela nafas pasrah, menghadapi nonanya yang egois memang butuh kesabaran tinggi. Yah, meskipun sebenarnya Changmin bukanlah orang yang bisa bersabar.
Kyuhyun sendiri, sebenarnya ia sudah kehilangan niat untuk mengusili butlernya. Ia hanya penasaran dengan yang namanya rumah hantu karena ia tak pernah memasuki tempat itu. Ia hanya pernah melihat di TV ataupun dari apa yang didengarnya dari orang-orang yang mengatakan tempat itu menakutkan.
Suasana gelap yang kontras sekali dengan keadaan di luar menyambut pasangan butler-master itu begitu mereka memasuki pintu.
Dengan suasana temaram seperti ini, Kyuhyun hampir tak bisa melihat apapun. Segalanya tampak samar. Ia hanya merasa beberapa pasang mata mengamatinya sejak ia memasuki tempat ini.
'Dimana letak seramnya? Ini sama sekali tidak menarik.' Keluhnya dalam hati.
Entah berapa lama ia berjalan, Kyuhyun terlalu asik memperhatikan sekitarnya. Namun ia tercekat ketika tiba-tiba saja seraut wajah menyeramkan dengan luka menganga tepat berhadapan dengan wajahnya ketika ia menoleh.
Tep!
Kyuhyun tersentak ketika merasa tangannya yang tanpa sadar melayang ditangkap oleh sesuatu. Matanya mengikuti tangan yang menangkapnya dan mendapati Changmin lah pelakunya.
"Nona, sebaiknya anda lebih berhati-hati. Refleks anda itu berbahaya, apalagi jika benar-benar memukul orang karena itu. Anda bisa dituntut. Pukulan anda biasanya tidak main-main." Ucap Changmin.
Kyuhyun menghela nafas, ia menarik tangannya dari genggaman sang butler. Yah, ia memang hampir saja memukul seseorang barusan. Kyuhyun kan kaget. Salahkan tubuhnya yang memang terlatih untuk memberi refleks semacam itu.
"Kau jalan di depan." Perintah Kyuhyun kemudian.
Changmin menurutinya tanpa komentar, ia segera maju selangkah lebih depan dari sang nona yang kini tampak kembali asik mengamati sekitarnya.
Dekorasi tempat ini lumayan bagus menurut Kyuhyun, hantunya juga lumayan meskipun tak cukup seram untuk bisa menakutinya.
Percayalah, bagi Kyuhyun, Heechul sepuluh kali lebih menakutkan dibanding hantu-hantu ini.
Bugh.
"Eh?"
Kyuhyun kembali tersentak ketika ia menabrak punggung Changmin yang tiba-tiba berhenti.
"Kenapa berhenti?"
"..."
"Changmin?"
"Ah, tak apa nona. Barusan ada sesuatu." Jawab Changmin tanpa menoleh, "Pintu keluarnya ada di depan sana. Kita hampir selesai."
"Hmm..." Kyuhyun hanya bergumam menanggapi.
Sampai akhirnya mereka keluar dari tempat itu, Kyuhyun tak merasakan adanya sesuatu yang menarik. Ternyata wahana yang satu ini membosankan. Ia melirik Changmin yang masih saja melangkah di depannya tanpa menoleh.
"Kau kenapa? Sejak masuk tadi kau jadi agak diam?" tegur Kyuhyun, ia mempercepat langkahnya hingga berhadapan dengan Changmin. Terus melangkah mundur mengikuti pergerakan butlernya.
"Nona, anda bisa jatuh jika berjalan seperti itu."
"Kau kenapa?"
"Kenapa?"
"Kau agak pucat."
"Warna kulit saya memang pucat dari asalnya."
"Wajahmu tampak tegang."
"Biasa saja, nona."
Langkah Kyuhyun terhenti, membuat Changmin mau tak mau ikut menghentikan langkahnya karena memang sejak awal posisi yeoja itu tepat di hadapannya.
Kyuhyun menatap lekat sang butler.
Hei, jangan bilang...
"Kau takut hantu, ya?" tanya Kyuhyun penuh selidik.
"Tidak ada alasan yang membuat saya harus takut pada manusia." Jawab Changmin kalem.
"Kau takut, ya?"
"Tidak."
"Kau takut kan?"
"Tidak."
"Kau takut."
"Nona...-_-"
Changmin meringis. Jika di komik, mungkin kau akan melihat perempatan siku-siku yang besar di dahi iblis itu kini. Sifat keras kepala Kyuhyun benar-benar mengalahkannya.
"Baik, biar saya luruskan. Saya sama sekali tidak takut. Saya hanya sedikit terkejut tentang bagaimana manusia mendeskripsikan rupa setan dan iblis. Ayolah, kami para iblis tidak sejelek itu. Kami ini makhluk elegan yang bersikap berasaskan estetika dan tata karma. Seandainya kami berada dalam bentuk iblis yang sesungguhnya pun, rupa kami jauh lebih baik dari itu. Saya tidak bisa menerima ini, nona."
Kyuhyun berkedip takjub beberapa kali mendengar cerocosan Changmin yang seakan tanpa henti. Ia baru tahu kalau seorang iblis juga bisa memiliki sisi seperti ini.
Kekanakkan.
"Pfffftt..."
Dan perempatan siku-siku yang lebih besar kembali muncul di dahi sang iblis ketika Kyuhyun tiba-tiba memalingkan wajah dan terkekeh. Kekesalannya semakin menjadi ketika dilihatnya pundak sang nona sedikit gemetar. Kentara sekali jika yeoja itu tengah menahan tawanya yang bisa kapan saja meledak.
"Nona, dengan sangat rendah hati saya meminta anda untuk tidak tertawa." Ucap Changmin menahan geram.
"Hhi... hhihi... Ahhahahahahahaha! Konyol sekali! Kau... Aku tak percaya! Hhahahahaha!"
Yah, dan tawa Kyuhyun akhirnya meledak juga.
"Nona, itu tidak lucu. Saya serius."
Changmin menatap datar kearah Kyuhyun yang kini berjongkok memegangi perutnya. Namun tak lama kemudian, kekesalannya perlahan berkurang ketika ia melihat tawa yang masih saja menghiasi wajah yeoja itu. Membuat wajah manisnya terlihat semakin manis.
Jika dipikir lagi, sejak pertama kali mereka bertemu. Baru kali ini ia melihat sang nona bisa tertawa seperti itu.
Changmin tersenyum simpul ketika akhirnya tawa Kyuhyun mereda.
"Seharusnya anda lebih sering tersenyum seperti itu."
"Eh?" kalimat itu membuat Kyuhyun kini mendongak menatap sang butler.
"Akhir-akhir ini anda tampak muram dan semakin muram. Bukankah sebaiknya anda sedikit lebih santai? Anda perlu menyayangi diri anda sendiri, nona."
Kyuhyun tersenyum ketika Changmin mengulurkan tangan dan menariknya berdiri kemudian.
"Sejujurnya, aku tak berpikir bahwa aku akan menikmati hari ini." Ujar Kyuhyun sembari merapikan pakaiannya, "Sudah lama sekali aku tidak datang ke tempat seperti ini, terakhir kali yang bisa kuingat, aku pergi ke taman bermain bersama kedua orang tuaku ketika usiaku 6 tahun."
"Dan aku tak pernah membayangkan bisa menikmati diriku di tempat seperti ini diusiaku yang sekarang. Tapi ini menyenangkan. Terima kasih."
Changmin tersenyum lagi, lantas membungkukkan tubuhnya sembilan puluh derajat di hadapan sang nona.
"Kita pulang sekarang. Sudah hampir larut."
"Yes, my lady."
#
"A-apa apaan ini..."
Kyuhyun terdiam ketika ia membuka pintu dan mendapati seisi rumahnya tampak seperti habis tersapu badai. Vas pecah dan benda-benda yang berserakan. Beberapa pintu yang tampak dibuka paksa. Ini benar-benar keterlaluan.
Kyuhyun menatap kesal buku-buku dan kertas yang berserakan di meja ruang tamu.
"Ahh... tampaknya ada yang bertamu ketika kita pergi, nona." Ucap Changmin yang baru saja memasuki ruangan, ia mendekati Kyuhyun dan sedikit berbisik.
"Mereka masih di sini. Berhati-hatilah."
"Cih."
Dor!
Suara tembakan mengejutkan keduanya.
Kyuhyun sedikit terkejut ketika entah sejak kapan Changmin telah berdiri di hadapannya. Menghalangi peluru yang nyaris menembus kepala yeoja itu dengan punggungnya.
Ia bisa melihat sosok yang menembak mereka turun tergesa melalui tangga bersama dengan seorang lagi yang tampak membawa sesuatu di tangannya.
Dengan cepat Kyuhyun melompat melewati sofa dan mengejar sosok yang sudah hampir keluar dari pintu.
"Changmin! Kau urus yang satunya!" perintahnya sebelum ikut menghilang di balik pintu.
Namja yang tadi menembak menghentikan langkahnya ketika Changmin mendekatinya dengan langkah yang amat tenang.
"Minggir atau kutembak kau!" ancam namja itu, namun Changmin tak bergeming.
Sang butler masih saja mendekatinya dengan langkah tenang, membuat namja itu sedikit panik karena sikap Changmin yang terlewat santai.
"Menjauh kau! Aku benar-benar akan menembak!"
Namun lagi-lagi sang butler tak bergeming. Sampai akhirnya suara tembakan terdengar beberapa kali.
Keheningan menguasai mereka untuk beberapa saat. Si namja penembak menatap waspada kearah sang butler yang tak juga rubuh meskipun ia yakin telah melubangi kepalanya dengan peluru. Namun kekehan yang terdengar kemudian membuat lututnya lemas seketika.
"Khekhekhe... Kau pikir bisa membunuhku dengan benda ini?"
Changmin memuntahkah beberapa butir peluru dari mulutnya, diikuti mata merahnya yang kini menatap tajam lengkap dengan seringai menyeramkan.
"Anda tahu? Meskipun ini tak membunuh saya, tapi tetap saja rasanya sakit dan itu membuat saya kesal. Saya bukan orang yang sabar,jadi..."
CRAKK!
"AAAAAAARRGHH!"
#
Kyuhyun yang masih mengejar orang yang melarikan diri itu menghentikan langkahnya ketika tiba-tiba saja sosok di hadapannya berhenti berlari dan kini justru berbalik sembari menodongkan pistol tepat kearahnya.
Kyuhyun menatap tajam sosok yang kini berdiri tepat di hadapannya. Dari yang ia lihat, dia adalah seorang yeoja.
"Aku hanya diperintahkan untuk membawa kembali buku dan dokumen ini tanpa membunuhmu. Tapi tampaknya kau terlalu keras kepala, ya? Jadi-"
Prakk!
Yeoja itu terdiam ketika dengan sekali tepis, pistol itu terlepas dari tangannya dan terlempar sejauh beberapa meter. Di hadapannya, Kyuhyun masih menatapnya tajam tanpa ekspresi.
"Akh!"
Dan yeoja itu meringis ketika dengan cepat Kyuhyun memutar tubuhnya dan mengunci pergerakannya.
"Aku sudah tak lagi tertarik dengan benda itu." Ucap Kyuhyun dingin. "Aku hanya ingin tahu, siapa yang mengirimmu kemari."
"Cih. Kau kira aku akan mengatakannya?"
"Mungkin?" yeoja itu tersenyum licik kemudian.
Kyuhyun mengeluarkan pisau lipat yang selalu ia simpan di dalam sakunya dan kini menempelkannya ke ceruk leher yeoja itu.
Dor!
Suara tembakan yang terlontar beberapa kali membuat keduanya teralihkan untuk sesaat.
"Hh. Kau lengah, bocah!"
Yeoja itu menyeringai. Dengan sekali gerakan, ia memutar posisinya dan balik memojokkan Kyuhyun yang kini terkunci karena posisinya yang ditindih oleh yeoja itu. Tangan Kyuhyun coba menahan sang yeoja yang coba menusuknya dengan pisaunya sendiri.
"Sebenarnya aku tak diminta untuk membunuhmu, tapi kau terlalu berbahaya, bocah. Jadi kurasa sebaiknya kita akhiri di sini saja."
"Oya? Tapi sebelum itu, tidakkah anda tertarik untuk bermain dengan saya lebih dulu?"
Yeoja itu tercekat ketika entah sejak kapan, seseorang berdiri tepat di belakangnya sembali menempelkan moncong pistol ke kepalanya.
"Se-sejak kapan kau-"
"Kapan dan bagaimana, itu tak penting. Saya ingin anda menjauhkan tangan kotor anda itu dari majikan saya." Ucap Changmin tenang.
"AAAKKH!"
Yeoja itu kembali berteriak ketika Changmin memutar lengannya, mungkin mematahkannya.
"Tunggu." Sela Kyuhyun tepat sebelum Changmin mematahkan leher yeoja itu. Ia berjalan mendekat.
"Kau salah satu anggota organisasi bukan? Aku akan membiarkanmu hidup jika kau menjawab pertanyaanku."
"Cih." Yeoja itu memalingkan tatapannya.
"Siapa yang mengutusmu kemari?"
"..."
"Kenapa dia tidak memerintahkan untuk membunuhku? Bukankah aku pengganggu yang seharusnya dilenyapkan? Ataukah ia seseorang yang kukenal?"
"..."
"Ini pertanyaan terakhir. Dimana tempat persembunyian kalian?"
"..."
"Cih! Tidak mau bicara ya? Ini tidak berguna!" Kyuhyun menggumam kesal, "Changmin, aku serahkan padamu. Terserah mau diapakan. Dibunuh juga tak apa."
Changmin menyeringai, "Anda memang kejam, nona. Bukankah itu sebuah perintah?"
"Apapun itu, terserah kau." Ucap Kyuhyun tanpa menoleh lagi. Ia terus melangkah menjauh.
Changmin masih menyeringai menatap punggung sang nona. "Yes, my lady."
Kyuhyun melangkah pelan melewati pintu. Sesuatu yang basah dan lengket membasahi kakinya tepat ketika kakinya memasuki rumah. Ia menatap datar genangan merah di bawah kakinya.
"Maaf, nona. Saya akan segera membereskannya." Ucap Changmin yang entah sejak kapan telah berdiri di belakangnya. Kyuhyun menghela napas.
"Oh God... apa yang terjadi disini? Berantakan sekali."
Sebuah suara membuat Kyuhyun tersentak, sebulir keringat dingin mengalir dari dahinya. Ekspresinya tampak tak jauh berbeda dengan Changmin yang mendadak memasang raut gak nyante(?)
'Suara ini...' Kyuhyun menoleh perlahan...
"Ahh! Apa yang terjadi di sini, bocah?"
'Sudah kuduga... Sejak kapan dia disini?' wajah yeoja itu memucat kini.
'Orang ini... dari sekian banyak orang kenapa aku harus bertemu dengannya lagi? Padahal aku sudah berusaha menghindarinya selama 10 episode!' (*Oi, bukannya dia baru nongol di chapter 8? Dan Kyuhyun, mohon kembali ke narasi!-_-")
Kyuhyun tampak tak banyak bereaksi, ia menatap datar pada Heechul yang kini tengah bergelayut manja di lengan butlernya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Changmin -berusaha- sopan.
"Entahlah, kebetulan aku lewat sini dan aku memutuskan mampir. Mungkin kita berjodoh?"
Bulu kuduk Kyuhyun meremang mendengar kata-kata indah itu terlontar manis disertai suara manja dari bibir Heechul.
"Sayang sekali, tapi kami sedang banyak urusan sekarang." Sahut Changmin masih mempertahankan sikap sopannya, "Ayo, nona! Saya akan menyiapkan air hangat untuk anda. Dan kau, pintu keluarnya ada disebelah sana." Lantas ia mendorong Kyuhyun menjauhi Heechul yang kini merengut imut(?).
"Hhh... kukira anak itu sedang tidak baik sekarang..." gumam Heechul ambigu, "Yah, bagaimanapun, hal semacam ini pasti berat untuknya." Kini matanya ganti menatap genangan darah yang membanjiri lantai.
" 'Dia' pasti cemas jika mendengar ini. Padahal dialah penyebab semuanya. Dasar bodoh." Heechul menyeringai tipis sebelum akhirnya melangkah keluar rumah dan menghilang begitu saja.
#
"Hei, Changmin."
"Iya, nona?"
"Tidakkah kau merasa ada sesuatu yang aneh dengan makhluk itu?"
"Makhluk? Ah, maksud anda, iblis jadi-jadian itu?"
"Umh. Entah hanya perasaanku saja atau bagaimana, tapi dia selalu muncul di sekitar kita ketika kita sedang mengalami sesuatu yang berbahaya, bukan? Dia seperti mengawasi kita..."
Changmin tersenyum simpul, "Anda tak perlu memikirkan itu untuk saat ini, nona. Ah, silahkan, air hangatnya sudah saya siapkan."
"Saya akan membersihkan rumah, nanti saya akan memanggil anda ketika makan malam siap. Setelah itu, anda bisa beristirahat. Anda punya jadwal yang sangat sibuk untuk besok, jadi sebaiknya anda tak terlalu lelah."
"Hmm..." gumam Kyuhyun yang sudah menenggelamkan tubuhnya dalam bathtub.
#
Changmin menatap kosong genangan darah di bawah kakinya. Gumaman sang nona kembali terlintas di benaknya.
"... Entah hanya perasaanku saja atau bagaimana, tapi dia selalu muncul di sekitar kita ketika kita sedang mengalami sesuatu yang berbahaya, bukan? Dia seperti mengawasi kita..."
"Mungkin aku perlu menyelidiki tentang yang satu ini nanti..." gumam Changmin lirih.
To be continued...
