Ini sudah yang kelima kalinya. Orang bilang sangat menyenangkan jika kita bisa keliling dunia. Tapi, bagiku itu tidak. Kenapa? Karena di setiap tempat yang aku tinggali, aku tidak pernah hidup tenang. Sungguh, aku lelah dengan keadaan seperti ini.

Hidup hanya untuk dikejar-kejar oleh lintah darat. Sangat memuakkan. Ayahku dulunya adalah seorang pengusaha, namun usaha yang di dirikannya bangkrut. Padahal dia mempunyai hutang pada lintah darat yang digunakan untuk modal usahanya.

Ibuku sakit-sakitan. Uang sisa perusahaan semakin lama habis untuk biaya rumah sakit dan makan. Sementara kondisi ibuku semakin buruk dan kami tidak memiliki uang untuk biaya pengobatannya, akhirnya ibuku meninggal.

Aku dan ayah hidup berdua, kondisi keuangan kami semakin terpuruk. Saat itu, ayah mulai melakukan perjudian dan meminjam uang lagi pada lintah darat untuk berjudi dengan jaminan ia akan mengembalikan uang lebih banyak jika menang judi.

Aku sangat kecewa padanya, apakah tidak ada cara yang lebih baik untuk mendapatkan uang? Tapi, pada saat itu aku tidak bisa apa-apa, karena umurku masih 14 tahun.

Namun apa? Keberuntungan tidak berpihak padanya, ia selalu kalah berjudi sementara hutang dan bunganya semakin menumpuk. Rumah kami disita, namun belum cukup untuk membayar hutang.

Mulai saat itulah kita dikejar-kejar oleh lintah darat. Kita selalu berpindah-pindah negara. Dan mulai saat itu juga aku bersikap dingin dengan ayahku. Aku lelah beradaptasi dengan lingkungan, terutama lingkungan sekolah.

Di sekolah yang sebelumnya aku pernah mempunyai teman, bernama Kim Il Wook, dia sangat baik kepadaku. Kami dimana-mana selalu bersama, sampai orang-orang menatap kami aneh dengan anggapan jika kami berdua gay. Sejak saat itu Il Wook menjauhiku.

Aku selalu pindah sekolah, namun setelah itu aku tidak mempunyai teman. Karena aku memang sulit beradaptasi dengan lingkungan baru. Tak jarang mereka membullyku, mungkin mereka menganggapku seorang yang antisosial dan menyedihkan. Namun aku tak peduli, mungkin itulah cara mereka untuk mendapatkan perhatianku? Haha.

"Ayah!", aku sangat takut melihat ayahku disiksa oleh sekumpulan lintah darat yang juga merupakan gangster itu. Namun aku tidak bisa berbuat apa-apa, tubuhku diikat oleh sekumpulan lintah darat itu, aku hanya bisa menangis melihat keadaan ayahku penuh memar dan berlumuran darah.

"Segera kemasi barang kalian dan pergi dari sini! Rumah ini kami sita!", kata salah satu dari mereka. Aku menangis sekencang-kencangnya setelah mendengar kami harus meninggalkan rumah yang penuh kenangan dengan ibu.

Ayah tidak bergegas, dia terlalu lemah untuk berdiri. Untuk berbicara saja dia mungkin tak sanggup. Aku hanya terus menangis hingga tiba-tiba ada yang memukulku. Sakit. Sekujur tubuhku rasanya nyeri. "Hei diamlah bocah! Kau ini laki-laki, kenapa menangis seperti perempuan haha. Apakah kau terlalu senang melihat ayahmu remuk seperti itu? Haha", mereka mengejekku sambil tertawa terbahak-bahak.

Namun aku tak bisa mendengar suara mereka dengan jelas. Tubuhku terlalu sakit, aku tak kuat menahan lebih lama. Tiba-tiba penglihatanku menjadi gelap.

"Taeyong, bangunlah", aku membuka mataku dan melihat ayah sedang menatapku. "Apakah kau bermimpi buruk lagi? Jangan menangis, ini hari pertamamu masuk sekolah kan?", dia berkata sambil tersenyum dan menepuk-nepuk kepalaku.

Setiap hari aku selalu mengalami mimpi buruk yang sama, dan berakhir dengan aku yang selalu bangun dengan posisi memeluk tubuhku sambil menangis. Aku hanya menatapnya dan langsung pergi ke kamar mandi.

Huh, sekolah? Apa peduliku. Disana hanya ada segerombolan manusia yang hanya mementingkan nilai.

Selesai mandi, aku sudah siap dengan memakai dark jeans dan kaos putih yang bertuliskan "I'm The Motherfucking Top Man". Simpel? Ya, itulah aku.

"Taeyong, keluarlah dan makan sarapanmu! Segera bergegas jangan sampai telat!", ayahku berteriak dari dapur.

Aku menuju dapur untuk sarapan, kami hening untuk beberapa saat. Namun keheningan tidak berlangsung lama saat ia memulai percakapan untuk memecah keheningan.

"Rajinlah belajar, aku sudah mendapatkan pekerjaan. Yah, walau penghasilannya tidak terlalu banyak, tapi setidaknya bisa untuk memenuhi kebutuhan kita sehari-hari. Aku akan bekerja lebih giat agar bisa membayar hutang dan kita bisa hidup dengan tenang", dia berbicara setelah menyelesaikan sarapannya dan tersenyum kepadaku.

"Apakah kau berbicara tentang hidup tenang? Kau tak lelah berkata seperti itu setiap kita pindah? Memuakkan sekali, apa yang bisa aku percaya dari perkataan seorang penjudi?", aku membalasnya sarkastik sambil tersenyum meremehkannya.

"Dengar Taeyong, aku tahu kau kecewa padaku. Namun ka—". "Aku selesai" aku memotong perkataannya, aku sudah sering mendengarnya dan itu hanya membuatku semakin kecewa dan benci kepadanya.

Bisa dikatakan aku bukanlah anak yang baik, namun aku punya alasan tersendiri untuk melakukan itu padanya.

Aku berangkat ke sekolah, tak lupa memakai sepatu vans hitam kesayanganku. Sekolahku tak terlalu jauh, hanya memakan waktu 15 menit dengan berjalan kaki.

.

.

.

Aku tidak memperdulikan tatapan orang lain saat aku berjalan di koridor, aku hanya mempunyai satu tujuan ke kantor guru untuk mengetahui kelasku. Namun, mencari kantor guru tidaklah mudah, sekolah ini terlalu luas dan banyak ruangan.

Seseorang menepuk pundakku "Hei, ada yang bisa kubantu?", aku terkejut namun aku segera mengembalikan ekspresi semulaku untuk menutupi fakta bahwa aku terkejut lalu membalikkan badan.

"Aku tak perlu bantuanmu", aku berkata pada pemuda bergigi kelinci yang sedang tersenyum ini. "Hei ayolah, sepertinya kau anak baru. Jangan sungkan-sungkan, aku hanya ingin membantumu", balasnya tetap tersenyum dan merangkul pundakku.

Ia menuntunku menuju kantor guru tanpa persetujuanku, aku hanya bisa menghela nafas. Apa boleh buat, tidak ada pilihan lain selain menerima bantuannya. Aku harus ke kantor guru sebelum pelajaran dimulai, akan sangat memalukan bukan kalau telat di hari pertama saat masuk sekolah baru?

Dalam perjalanan ke kantor guru, dia selalu mengoceh tentang sekolah ini dan apa saja ekskulnya. Padahal aku tidak bertanya apapun dengannya, aku hanya diam sambil menganggukkan kepalaku, bahwa aku mendengarkan apa yang ia katakan.

Dia menemaniku masuk ke kantor guru. Dia menyapa seorang guru yang kebetulan dia adalah guru yang mengurus administrasiku.

"Hallo, saya Lee Taeyong", aku memperkenalkan diri sambil membungkukkan badanku, hanya untuk formalitas saja. Padahal aku tahu jika disini tidak diharuskan membungkuk kepada orang yang lebih tua.

"Ahh hallo Mr. Lee. Semoga kau senang sekolah disini. Dan ini adalah formulir pendaftaranmu jangan lupa diberikan kepada orang tuamu. Kau bisa menuju ke kelasmu dengan diantar oleh Mr. Kim", katanya sambil tersenyum dan menyerahkan beberapa lembar kertas padaku, kertasnya masih hangat aku yakin kalau kertas ini baru saja keluar dari print.

Selesai berbasa-basi dengan guru itu, aku dan pemuda kelinci ini berjalan menuju kelas. Dan dia tetap merangkulku seperti tadi. Sebentar, siapa itu Mr. Kim. Bukankah aku ke kelas harus diantar dengan seseorang yang bernama Mr. Kim?

Sadar akan ekspresiku yang terlihat bingung, pemuda hitam ini berkata "Hai perkenalkan namaku Kim Doyoung panggil saja aku Doyoung. Dan dengan mengetahui namamu, sepertinya kau juga orang Korea, Lee Taeyong-ssi?", dia terkekeh dan mengulurkan tangannya kepadaku.

Aku hanya melihat uluran tangannya dan diam. "Panggil aku Taeyong, dan aku pikir kita tidak terlalu dekat untuk sekedar merangkul", kataku sambil menatap tangannya yang bertengger di pundakku.

Dia semakin mengeratkan rangkulannya padaku "Hei, kita adalah teman sekelas. Kita akan menjadi dekat. Tak masalah jika merangkul haha". Oh ternyata aku sekelas dengan makhluk aneh ini. Semoga hidupku tenang seperti sebelumnya.

Kami masuk kelas tepat setelah bell berbunyi, Doyoung menuntunku untuk duduk di kursi kosong yang terletak di belakang sendiri, disebelahnya ada satu kursi yang sudah ada yang menempati. Ternyata itu adalah tempat duduknya. Haruskah aku duduk sebangku dengan makhluk ini?

Guru masuk dan menyuruhku untuk memperkenalkan diri dan tersenyum kepadaku. Uh, haruskah aku memperkenalkan diri? Seperti mereka akan memperdulikanku saja.

"Saya Lee Taeyong, kalian bisa memanggilku Taeyong. Senang berkenalan dengan kalian", kataku sambil membungkuk. Aku hanya menatap ke arah jendela, aku tak peduli reaksi teman-teman sekelasku seperti apa.

"Wah perkenalan yang sangat simpel ya. Baiklah, kau bisa duduk di bangkumu lagi" guruku memulai pelajaran. Aku membuka buku dengan tenang namun, seorang makhluk bergigi kelinci disebelahku menggangguku dengan menusuk-nusukkan bolpoinnya ke lenganku.

Awalnya aku tak menghiraukan dia, namun semakin lama aku kesal juga. Aku menoleh kepadanya dengan "bitch face" terbaik yang aku miliki. Dia hanya tersenyum dengan gembira dan berkata "Hei aku akan memperkenalkanmu dengan teman-temanku saat makan siang nanti. Aku yakin mereka akan menyambutmu dengan baik lalu—"

"MR. KIM, BISAKAH KAU DIAM DAN MEMPERHATIKAN PELAJARANKU? AKU TAHU KAU INGIN BERKENALAN, TAPI JANGAN SEKARANG. PAKAILAH WAKTU MAKAN SIANG UNTUK BERKENALAN", sebelum Doyoung menyelesaikan perkataannya, guru memotong perkataannya sedikit marah.

Teman sekelas menertawakan tingkah Doyoung, namun ia tak terlihat malu atau apa tapi hanya tersenyum jenaka dan menampilkan V sign. Dasar makhluk ini.

Akhirnya waktu istirahat tiba, Doyoung dengan semangat menarik tanganku menuju kafetaria. Lagi-lagi, tanpa persetujuanku. Hhh harus kuapakan makhluk yang satu ini.

Kami tiba di kafetaria dan duduk saling berhadapan, namun tidak hanya kami saja. Ada lima orang lain yang duduk bersama kami sambil menatapku dengan pandangan "siapa orang ini". Lalu aku memandang Doyoung dengan maksud meminta dia saja yang memperkenalkan aku pada mereka. Dia paham maksudku dan memperkenalkanku dengan mereka.

Aku melihat mereka satu persatu, dimulai dari pemuda yang mempunyai dagu tajam dan senyum manisnya, yang ternyata bernama Yuta. Pemuda disebelahnya yang sangat pendiam dan terlihat mencuri pandang kepadaku, apakah dia takut denganku? Dia bernama Winwin. Lanjut dengan pemuda yang memiliki kulit tan dan sangat berisik, bernama Haechan. Tak lupa dengan pemuda yang duduk paling ujung, yang sangat pendiam, bernama Taeil. Terakhir, pemuda yang daritadi menatapku intens, aku tak tahu kenapa tatapanku berhenti lama saat melihat matanya. Bukan terpesona atau apa, wajahnya yang paling bersinar diantara mereka membuatku tak bisa mengalihkan pandanganku darinya. Entah kenapa wajahnya lucu sekali. Dia bernama Jaehyun. Dan menurutku, mereka ini semacam squad, kelompok siswa keturunan Korea.

Saat makan, mereka tak henti-hentinya berbicara dan tertawa. Sejujurnya aku tidak terlalu suka dengan suara yang berisik, aku tidak terbiasa. Aku hanya melahap makananku dengan tenang. Memang kebiasaanku.

Aku terlalu fokus dengan makananku dan ingin segera kembali ke kelas. "Hei apakah kau terlalu mencintai makananmu sehingga tidak mau berbaur dengan kami?", seseorang dengan suara lembut mengagetkanku, ternyata Jaehyun. Namun aku bisa mengontrol ekspresiku dan menatapnya "Apa urusanmu?", balasku singkat.

"Yaya! Menyebalkan sekali dirimu, kan aku hanya bertanya", Jaehyun mengacak-acak rambutku dan membuat rambutku yang tadinya rapi menjadi berantakan.

"Ya! Apa-apakan kau ini!", aku membalasnya dengan sedikit berteriak. "Kau ini yang apa-apaan!", Jaehyun membuat gesture ingin mengacak-ngacak rambutku. Namun dia kalah cepat denganku sehingga aku bisa menghentikan tangannya sebelum menyentuh rambutku.

Yang lainnya tertawa setelah melihat tingkah konyolku dan Jaehyun, dia terlihat kesal. Kelihatan sekali, wajahnya ditekuk dan melihat ke arah ku dengan mata melotot yang sangat tidak pantas untuk mata coklatnya yang lembut. Aku tak tahan untuk tersenyum melihat tingkahnya.

"Kau bisa tersenyum!", Haechan berteriak dengan heboh, lalu dengan segera aku berekspresi biasa. Ya jelas aku bisa tersenyum, aku masih manusia.

Mereka tertawa lagi melihat tingkahku, apa yang salah denganku? Doyoung merangkul pundakku dan berkata "Wah wah aku kira kau hanyalah seorang manusia es yang sedikit berbicara dan susah senyum", aku hanya memutar bola mataku dan melepaskan rangkulannya.

Kami melanjutkan makan dan tak lupa dengan teriakan gila Haechan dan Jaehyun yang memulai keributan. Entahlah, aku hanya merasa aneh dengan perasaanku sekarang. Aku merasa sedikit hangat saat bersama mereka.

Pikiranku berkata untuk tetap berjaga jarak dengan mereka. Namun hatiku berkata lain, aku merasa nyaman dengan mereka. Akankah hidupku akan berubah setelah ini?

To be continued

Author's Note:

Don't like please don't read. Maaf kalau cerita ini membosankan, dan jika ada persamaan itu ketidaksengajaan. Saya hanya mencari referensi saja, namun ide murni hasil otak saya sendiri. Tolong jangan jadi silent readers, saya harap kalian menyampaikan pikiran kalian setelah membaca ff ini. Saya menerima saran dan pendapat, selama itu tidak kasar. Terimakasih sudah membaca.