Chapter 2
Beberapa minggu sudah berlalu setelah hari pertama masuk sekolah, aku berusaha sebisa mungkin untuk menghindari mereka. Namun susah sekali rasanya. Bagaimana tidak? Selalu ada makhluk bergigi kelinci yang mengikutiku kemana-mana, Doyoung maksudku. Sudah sekelas, sebangku pula.
Aku tidak ingin terbawa perasaan saat bersama mereka, aku takut rasa nyaman dan hangat yang kurasakan saat bersama mereka akan terus tumbuh.
Hari ini sepulang sekolah mereka mengajakku ke tempat karaoke, aku sudah menolak mereka dengan menggunakan beberapa alasan. Namun, mereka tetap kekeuh mengajakku hangout bersama. Kami ke tempat karaoke dengan mengendarai mobil Doyoung.
Aku tidak terkejut dia mempunyai mobil yang besar dan bagus, karena sebelumnya dia pernah mengajakku ke rumahnya. Rumahnya sangat mewah dan luas, sudah pasti dia anak orang kaya.
Mobilnya seperti van, dengan deret pertama ada dua bangku, sedangkan deret kedua dan ketiga ada tiga bangku. Aku dan Doyoung duduk di deretan paling depan dengan dia yang mengemudi, Jaehyun dan Haechan duduk di deretan tengah, Yuta, Winwin, dan Taeil berada di deretan paling belakang. Entah mengapa sejak pertama kali bertemu dengan Yuta dan Winwin, mereka selalu berdua kemana-mana.
Di sepanjang perjalanan, kami tidak memutar musik. Tanpa memutar musik pun suasana tidak hening karena Jaehyun dan Haechan selalu membuat keributan.
"JAEHYUN HYUNG JANGAN MENARIK BAJUKU TERUS MENERUS, KAU BISA MERUSAKNYA BODOH!", teriak Haechan sambil mengarahkan ponsel Jaehyun ke tempat yang sulit dijangkau Jaehyun. "KEMBALIKAN PONSELKU ATAU AKU AKAN MEROBEK BAJUMU", Jaehyun membalas teriakan Haechan sambil berusaha merebut ponselnya.
Doyoung, Yuta, Winwin, dan Taeil hanya tertawa melihat tingkah mereka berdua. Aku hanya menghela nafas melihat tingkah dua idiot ini. Banyak sekali energi yang mereka miliki untuk berteriak tidak jelas seperti itu.
"MEMANGNYA ADA APA DI PONSELMU? APAKAH KAU MENYIMPAN BANYAK VIDEO PORNO?!", kata Haechan sambil berusaha mengutak-atik ponsel Jaehyun. Jaehyun tetap berusaha merebut ponselnya tanpa membalas tuduhan Haechan kepadanya.
Merasa sulit untuk mengutak-atik ponsel Jaehyun dengan posisi seperti itu, Haechan memberikan ponsel itu kepada Yuta yang duduk di belakangnya. Lalu Haechan menahan tangan Jaehyun agar tidak dapat merebut ponsel itu dari Yuta.
"Apa ini? Kau mengambil foto Taeyong secara diam-diam?!", heboh Yuta saat ia melihat isi ponsel Jaehyun dan menunjukkannya kepada kami. Seketika suasana menjadi hening dan aku merasa semua tatapan mereka mengarah kepadaku. Lalu kembali menatap ponsel Jaehyun untuk melihat-lihat foto yang ditunjukkan oleh Yuta.
Foto pertama memperlihatkan bahwa aku sedang makan hotdog di kafetaria, foto yang kedua memperlihatkan aku sedang bermain dengan anak kecil saat bertemu mereka di jalan, foto ketiga memperlihatkan saat aku sedang duduk menyendiri di taman sekolah.
Sebentar, apakah dia paparazzi yang selalu mengikutiku kemana-mana dan mengambil fotoku diam-diam? Pantas saja selama ini aku merasa ada yang mengikutiku.
Ada banyak foto yang ditunjukkan Yuta kepada kami, hanya Doyoung yang tidak bisa melihatnya karena dia sedang mengemudi. Sementara kami fokus melihatnya, Jaehyun hanya menundukkan kepalanya dengan wajah yang memerah sampai ke telinganya. Apakah dia malu atau marah?
Selesai melihat semua foto, suasana menjadi hening beberapa saat. "EHEM ADA YANG MENYUKAI TAEYONG NIH", goda Doyoung kepada Jaehyun. Aku hanya menatapnya datar tanpa memberi respon. Jaehyun terus menundukkan wajahnya tanpa berani melihatku. Lucu juga tingkah makhluk manis yang satu ini.
Apakah dia menyukaiku? Haha, menggemaskan sekali. Kami tetap melanjutkan perjalanan dengan suasana yang ramai. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Haechan yang terus menggoda Jaehyun?
Sesampainya di tempat karaoke, mereka bernyanyi seperti orang gila. Namun harus kuakui walau seperti itu suara mereka lumayan bagus. Terkadang Jaehyun menunjukkan kemampuan menyanyinya, dia juga lumayan berbakat.
Aku hanya duduk melihat tingkah mereka, terkadang aku tak tahan menahan senyum saat melihat tingkah idiot mereka.
Aku melihat Winwin berjalan ke kepadaku ragu-ragu dan menunduk "Taeyong hyung, kau tidak ingin bergabung dengan kami? Rugi jika kau sudah datang kesini tapi tidak bernyanyi", katanya mencuri pandang ke arahku lalu menundukkan kepalanya lagi.
Aku hanya menggelengkan kepala sebagai respon. Namun dia tidak menyerah untuk mengajakku bergabung "Ayolah Taeyong hyung, aku ingin kau bergabung dengan kami. Kumohon", dia memohon kepadaku dengan sesekali melirik Yuta yang tersenyum lembut kepada kami.
Melihatnya seperti itu, aku hanya menghela nafas dan mengabulkan permohonannya. Apakah Yuta menyuruhnya untuk memohon padaku? Melihat usahanya itu, akhirnya aku jadi tidak tega. Aku tidak bisa bernyanyi, dan terpaksa aku menunjukkan kemampuan rapku yang selama ini kusembunyikan dari orang lain.
(Taeyong's rap part – Baby Don't Like it)
You've really got no patience I'm gonna harass you
Until the sun comes up
Come closer and show me your fantasy
I'm gonna adore you so much right
You have to fear me, that's what I want
You want to hit me and beat me and you want to ruin me
I will act as your drawing, I'm freaking honest
My body, my body reacts on its own, I can't be satisfied
I try to play with your heartbeat
I want you to know my heartbeat
Make it faint so I can barely hear it Cospres Snow White
I like it, let me be your hobbit
Be more rude to me, I feel it babe
I love it, love it, love it, love it, love it too
I'm gonna throw so you catch Beach Volleyball
That's why we're going, going so high, we may fill our stomatch
But we party all night, forget about your fatique
(Maaf saya tulis liriknya jadi English trans, soalnya disini mereka bukan di Korea).
Selesai rap, semua tatapan mereka mengarah padaku. Apa ada yang salah? Apa rapku sejelek itu? Bahkan Haechan matanya berkaca-kaca.
Hhhh apa lagi yang salah denganku. "R-rapmu sungguh keren sekali. Aku bahkan sampai tidak bisa berkata-kata", kata Haechan menatapku dengan kagum. "Bukankah baru saja kau sudah berkata-kata?", timpal Doyoung membalas perkataan Haechan.
"Wah rapmu bagus sekali! Sungguh!", Yuta memberiku pujian sambil tersenyum dan merangkul pundak Winwin.
Dengan interaksi mereka yang terlalu dekat itu, aku yakin mereka sedang pendekatan atau sudah menjalin hubungan. Lalu aku mengalihkan pandanganku kepada Jaehyun.
Jaehyun menatapku dengan wajah kagum dan malunya. Ada apa lagi dengan anak ini "Ak-aku sangat menyukai style rapmu", dia berkata sedikit gagap. Apakah dia gugup?
Aku menatapnya dan tersenyum kepadanya, ternyata anak ini tidak semenyebalkan yang kupikir. Tak selang beberapa lama ada suara yang menginterupsi kegiatan kami.
"KAMI MASIH DISINI PUHLEASE", teriak Doyoung untuk mengganggu kami, aku mendengar yang lainnya tertawa. Aku langsung mengalihkan pandanganku ke kakiku. Kenapa aku merasa malu seperti ini? Apa yang salah denganku?
"Aigooo Taeyong sedang merasa malu teman-teman. Lihatlah wajahnya yang memerah haha", timpal Yuta sehingga menambah tawa yang lain. Terkadang aku heran, beberapa dari mereka ada yang menghargaiku dengan memanggilku hyung, dan terkadang ada yang menganggapku teman sebaya, kecuali Taeil yang lebih tua dariku. Tak apalah, disini bukan Korea yang harus menjunjung tinggi rasa hormat terhadap orang yang lebih tua.
.
.
.
Doyoung mengantarku sampai ke rumah. Sebelum keluar dari mobilnya, ia menahan tanganku "Taeyong, maukah kau lain kali bermain dengan kami lagi? Kami akan merasa senang jika kau mau bergabung dengan kami", dia berkata sembari tersenyum. Anak ini tidak mempunyai rasa lelah untuk tersenyum.
Tak perlu memakan waktu yang lama untuk berpikir, aku menganggukkan kepalaku mengiyakan ajakannya. Sepertinya hatiku mulai luluh dengan kebersamaan mereka.
Aku memasuki rumah dengan sedikit senyuman, mengingat waktu yang seharian ini aku habiskan bersama mereka. Aku melihat sekeliling rumah, kosong. Tidak ada siapapun, mungkin ayah belum pulang dari kerjanya. Sebentar, apa peduliku?
Sebelum masuk kamar, aku ke dapur untuk mengisi kerongkonganku yang sangat kering ini dengan air putih.
"Kau habis darimana saja Lee Taeyong sehingga pulang selarut ini?", suara seseorang dibelakang membuatku berhenti meneguk air putih yang menyegarkan.
"Apa urusanmu?", kataku lanjut meminum air putih. Kudengar dia menghela nafas sebelum berbicara lagi, "Setidaknya ijinlah kepadaku jika kau akan pulang selarut ini. Aku ini ayahmu, aku sangat khawatir kepadamu".
"Apakah aku terlihat seperti seorang anak yang menganggapmu sebagai seorang ayah?", setelah berkata seperti itu aku langsung pergi memasuki kamarku.
Entah kenapa aku bisa berkata sekasar itu kepada ayahku, rasa kecewa dan benci sudah menguasai diriku selama bertahun-tahun.
Rasanya sulit sekali untuk memaafkan dia di masa lalu.
Aku segera mandi untuk membersihkan tubuhku yang lengket ini. Setelah beberapa saat mandi, aku keluar kamar mandi dengan memakai piyama biru dongker. Rasanya segar setelah tubuhku terkena siraman air yang dingin.
Walaupun hanya bermain seharian ini, aku merasa tubuhku sangat lelah. Aku menidurkan diriku dikasur, sambil menatap jendela. Aku selalu melakukan ini saat akan tidur. Hanya dengan hal ini aku akan terus mengingat ibuku.
Setelah sikat gigi, Taeyong kecil segera bergegas ke kamarnya yang bercat biru penuh dengan hiasan dinosaurus disekitarnya. Ia menuju ke tempat tidur sembari menunggu ibunya.
Saat ibunya tiba, senyum manis merekah dibibir Taeyong kecil. Ia ingin mendengarkan cerita ibunya. Ibunya menuju jendela yang berada tepat disebelah kasur Taeyong kecil dan membuka tirainya.
"Coba kau lihat banyaknya bintang yang bertaburan di langit, Taeyong. Bukankah mereka sangat indah? Cahaya mereka yang sangat terang menandakan roh-roh orang yang sudah meninggal sedang tersenyum di surga. Pola mereka yang bertaburan dengan bebas menandakan bahwa roh-roh itu bahagia dan merasa bebas di surga.", Ibu Taeyong mulai menceritakan cerita yang sama setiap hari sebelum Taeyong kecil tidur.
"Mengapa mereka disana, Bu?", tanya Taeyong kecil penasaran. Walaupun sudah mendengar cerita ini berkali-kali, ia tidak pernah bosan dan selalu mendengarkan cerita ibunya.
Setiap bertanya seperti itu, ibunya selalu tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Taeyong kecil. "Tidurlah sayang, mimpi indah. Ibu sangat menyayangimu", ucap ibu Taeyong sambil mengecup pipi putra kecilnya dan menyelimutinya.
Taeyong yang masih kecil tidak ambil pusing dengan kelakuan ibunya yang selalu seperti ini. Lalu ia terlelap dengan nafas teratur yang damai.
Melihat banyaknya bintang bertaburan di langit dengan indahnya. Apakah ibuku ada diantara mereka? Ibu, aku sangat merindukanmu. Aku membutuhkanmu untuk selalu berada disisiku.
Sampai sekarang aku masih belum mengerti maksud dari ceritamu yang selalu kau ceritakan padaku sebelum tidur saat aku masih kecil. Aku sangat penasaran dengan hal itu. Aku menyesal, sudah terlalu terlambat untuk menanyakan lagi hal itu padamu.
Bagaimana caranya agar aku bisa mengetahui maksud perkataanmu, Bu? Aku harap ibu bahagia di surga. Tak lama kemudian akupun memejamkan mata dan terlelap. Dengan harapan tidak mengalami mimpi buruk yang selalu kualami.
To be continued
Author's Note :
Terimakasih sudah membaca chapter yang ke dua! Maaf kalau tidak memuaskan, mood saya tidak terlalu bagus untuk menulisnya. Saya harap kalian memberi saya semangat untuk menulis dengan memberikan vote dan comment. Jangan jadi silent reader.
